Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ Girl-(friend) ~

[ Chapter 22 ]

.

.

.

.

Trriinngg...~

Trriinngg...~

Trriinngg...~

Ponsel Sakura sedikit berisik, dan setelah dia mengangkatnya aku bisa mendengar suara yang ribut.

"Kau dimana Sakura! Seharusnya kau pergi bersama kami!"

"Kau ada dimana?"

"Sakura aku akan menjemputmu! Kita liburan bersama."

Meskipun sangat ribut aku bisa menebak siapa saja yang sedang menghubunginya, mereka tengah video call dan aku sedang sibuk mengecek kamar ini.

"Kalian diamlah! Bagaimana aku bisa mendengar ucapan kalian? Bicaranya satu-satu." Ucap Sakura, dia pun kesal.

"Chouji mengajak kita ke resort milik keluarganya, apa kau mau ikut? Kami akan menjemputmu." Ucap Kiba.

Akhirnya mereka tidak ribut lagi seperti anak ayam yang mencari induknya.

"Maaf teman-teman, aku sudah pergi liburan lebih dulu." Ucap Sakura. aku senang mendengar ucapan Sakura dan membuat mereka kecewa.

"Kau ada dimana? Itu seperti kamar hotel." Ucap Naruto, mereka pasti akan heboh jika melihatku.

Berjalan ke arah Sakura dan aku bisa melihat wajah mereka yang sangat terkejut di layar ponsel Sakura.

"Itu Sasuke!" Teriak Kiba.

"Kau bersama Sasuke!" Ucap Chouji.

"Apa yang kalian lakukan di hotel bersama!" Teriak Naruto.

"Apa yang kalian pikirkan!" Teriak kesal Sakura, mereka sudah memikirkan hal yang tidak-tidak pada kami.

"Kalian tidak liburan?" Ucapku.

"Jangan menyentuh Sakura seenaknya!" Protes Kiba.

"Kalian kenapa satu kamar!" Protes Naruto.

Hanya Chouji yang menatap malas pada mereka berdua.

"Kami melakukan apapun, itu bukan urusan kalian." Ucapku, cuek. Aku pikir mereka setuju saja jika aku bersama Sakura, nyatanya mereka juga akan protes jika hanya ada kami, kalian masih ingin melindungi Sakura?

"Ja-jangan katakan seperti itu!" Kini Sakura yang protes padaku.

"Ha? Bukannya itu yang akan kita lakukan di sini?" Ucapku, sedikit menggodanya.

"Sakuraaa! Lariiii!

"Sakuraaa!"

"Sakuraaaa!"

Merampas ponsel Sakura dan mematikannya, mereka sangat berisik.

"Kenapa mematikannya!"

"Jika meladeni mereka, kita tidak akan jalan-jalan." Ucapku.

Gadis itu menghela napas pasrah, mengikuti kemana aku pergi dan kami hanya akan berjalan melihat seluruh isi resort ini.

Ibu calling.

Kali ini ponselku yang berdering.

"Ada apa, bu?"

"Bagaimana disana?"

"Uhm, tempatnya sangat bagus, sayang sekali ibu dan ayah tidak liburan." Ucapku dan tidak mengatakan jika hanya ada satu kamar, tapi apa yang akan ibu pikirkan jika kami hanya berdua dalam satu kamar? Atau mungkin ibu bahkan tidak peduli, lagi pula ibu sangat menyukai Sakura.

"Ayahmu masih sibuk, kami akan liburan kapan-kapan saja, dimana Sakura?"

Memberikan ponselku pada Sakura. "Ibu ingin bicara denganmu." Ucapku.

"Halo, bibi."

Menatapnya sedang berbicara pada ibuku, dulunya aku benci padanya karena kasih sayang ibuku pun terbagi padanya, sekarang jika ibu senang pada Sakura, aku tidak keberatan, wajah Sakura tiba-tiba merona dan mengembalikan ponselku.

"Ada apa?" Tanyaku.

"Bu-bukan apa-apa." Ucapnya gugup, wajahnya masih merona, aku penasaran apa yang ibu katakan padanya.

Memicingkan mata ke arahnya, aku semakin curiga dengan pembicaraan singkat mereka, Sakura hanya terus mengatakan 'iya' dan 'iya', sebelum pembicaraan mereka berakhir gadis itu seakan terkejut dan wajahnya sangat merona.

"Apa yang ibuku katakan padamu?" Tanyaku.

"I-itu, selamat bersenang-senang." Ucapnya dan terdengar asal-asalan.

"Kau tidak bisa berbohong padaku." Ucapku, aku sudah sangat mengenalmu Sakura.

"Sungguh!" Ucapnya dan sengaja meninggikan nada suaranya. Berharap aku percaya saja padanya, ini cukup lucu, sedikit menggodanya dan dia sudah panik seperti ini.

"Baiklah, kita jalan-jalan ke pantai." Ucapku, tujuan awal dari liburan ini karena Sakura sangat ingin melihat pantai.

Mengajaknya pergi ke belakangan bangunan hotel, di sana ada pantai dengan pasir putih dan lembut, laut yag berwarna biru muda, ombak kecil dan cukup ramai, berjalan-jalan di tepi pantai, sedikit menikmati musim panas ini, kami tidak akan berenang, aku tahu Sakura takut tenggelam dan aku tidak begitu suka air laut yang asin.

Oh iya, hubungan kami, sejak pembicaraan saat itu, kami belum bisa berubah, tetap pada hubungan 'pertemanan', tapi aku rasa sudah cukup untuk memberi Sakura waktu, aku hanya tidak ingin egois, di saat Sakura telah putus dan malah menjalin hubungan dengannya, aku tidak perlu terburu-buru, lagi pula tidak akan yang bisa menghalangi hubungan kami lagi.

Kami sempat bertemu Sasori saat berjalan bersama di area kampus sebelum liburan semester, Sakura seakan ingin kabur, menggenggam tangannya dan menahannya untuk tidak pergi, bukan seperti itu caranya saat kau ingin masalah ini benar-benar berakhir, dia harus tetap melawan apa yang ada di hadapannya. Kami hanya berpapasan, Sasori menatap tidak peduli pada kami dan seakan tidak mengenal Sakura, dia pun sedang berjalan dengan seorang gadis yang dengan senang hati merangkul lengannya. Aku cukup puas melihat pemuda itu tidak perlu mengganggu Sakura lagi.

Menatap Sakura, dia sedang memandang laut lepas, anginnya sangat sejuk padahal sedang musim panas, sebuah senyum di wajahnya, dia senang akan liburan kami.

"Sasuke." Panggilnya.

"Hn?"

"Aku ingin melihatmu menjadi princess lagi."

Seketika masa lalu yang sangat ingin aku lupakan kembali terlintas, masa TK yang benar-benar memalukan, aku sampai marah pada kakakku jika dia berani mengambil foto.

"Apa kau sedang mencari masalah denganku?" Ucapku, sedikit kesal dia mengungkit masa lalu.

"Tidak, aku tidak sedang mencari masalah. Kau tahu, kau sangat cantik saat menjadi seorang putri, tapi kau cukup lucu, seharusnya kau melawanku, kenapa kau tidak melawanku saja?" Tanyanya.

Melawannya? Saat itu, dia hanya mengancamku jangan protes pada sensei, dia jauh lebih kuat dari padaku, aku tidak bisa melawannya dan memilih pasrah saja.

"Kau tahu sendiri, saat itu aku terlalu lemah melawanmu, saat aku melawanmu tidak akan ada yang membela dan bahkan aku di salahkan, aku merasa tidak cukup adil saat itu." Ucapku, itulah kenyataannya.

Dia tertawa, mau mengaduh bagaimana pun pada ibuku, ayahku, atau kakakku, mereka akan lebih peduli padanya, dulunya tidak ada yang ingin mendengarkanku dan lebih senang terhadap Sakura, semuanya lebih ingin melindungi gadis ini. Sekarang, malah aku yang sangat berharap bisa melindunginya, kenyataan yang memalukan, aku sudah sulit untuk membencinya lagi.

"Katakan padaku, sejak kapan kau mulai menyukaiku?" Tanyanya, lagi.

Apa ini? Semacam acara tanya-jawab untuk mengenang masa lalu? Dia terus bertanya tentang hal yang sudah lewat, berjalan sedikit cepat darinya, aku tidak mau menjawab apapun sekarang.

"Hey, katakan, aku penasaran." Ucapnya dan mengikutiku.

"Aku tidak ingin mengatakannya." Ucapku.

"Uhk, kalau begitu kau tanyakan padaku." Ucapnya.

Menatapnya, menanyakan hal yang sama, sejak kapan Sakura menyukaiku? Ini membuatku sedikit penasaran, tapi aku tidak ingin melakukan sesi tanya-jawab konyol itu.

"Tidak." Tolakku singkat.

"Sasuke, katakan." Rengeknya, sampai merangkul lenganku dan menahanku untuk tidak kembali berjalan.

Sejak kapan? Aku jadi mulai berpikir tentang rasa suka ku padanya, sejak kapan aku mulai menyukainya? Perasaan benci yang berubah, seharusnya aku harus tetap membencinya hingga sekarang, masa lalu yang buruk, aku hanya ingin dia menjauh, terbiasa bersama dan kami akan selalu dekat, karena sikapnya dan rasa peduli yang terlalu berlebihan, akulah yang mengubah perasaan benci itu.

"Mungkin sejak melihatmu bersama orang lain, aku kesulitan mengontrol diriku sendiri." Ucapku.

Rangkulannya terlepas, ada apa? Apa dia kembali merasa bersalah padaku? Sejujurnya ini cukup memalukan bagiku, aku harus mengaku jika benar saat itu aku cemburu jika dia memiliki pacar.

"Aku pikir kita sudah sepakat untuk tidak membahasnya lagi, kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri." Ucapku, saat kami berbicara di taman, semuanya sudah aku anggap selesai.

Sesi tanya-jawab ini sebaiknya di hentikan, jika setiap ucapan yang tidak ingin di dengar akan kembali terdengar.

"Maaf, hanya saja aku benar-benar jadi benci pada diriku sendiri." Ucapnya.

"Mau sampai kapan seperti itu? Kau tidak mau berubah?"

"Aku pikir saat aku sudah membuat masalah denganmu, seharusnya kau menjauh saja dan mencari gadis yang memiliki sikap yang lebih baik."

"Tidak, sejak dulu aku kesulitan untuk bersama seorang gadis, selain pola pikir mereka yang kacau aku tidak tahu bagaimana watak asli mereka, berbeda dengan kau yang sejak kecil aku tahu." Ucapku, aku sudah terbiasa dengannya, perasaan nyaman ini akan sulit aku dapatkan jika akan membangun sebuah hubungan baru dengan seseorang, sejujurnya aku tidak peduli pada gadis lain, karena selama ini hanya dia yang akan terus ada di dalam pikiranku.

"Oh-hoo..~ jadi aku begitu berbeda dan berharga untukmu, aku jadi tersanjung." Ucapnya dan memperlihatkan wajah menyebalkannya itu.

"Apa kau sudah puas mengejekku?" Ucapku, sedikit kesal.

Dia kembali tertawa lepas.

"Tanya jawab selanjutnya." Ucapnya.

"Sudah, hentikan, aku tidak ingin menjawab pertanyaan konyolmu lagi." Ucapku.

"Hee..~ jangan seperti itu, aku ingin tahu Sasuke bagaimana dulunya." Ucapnya.

"Aku tidak akan menjawabnya apapun pertanyaanmu." Ucapku.

Sudah cukup untuk mengenang masa lalu yang buruk, hari ini kita harus benar-benar liburan dan menenang diri tanpa mengingat masa lalu.

"Bagaimana jika, apa aku bisa menjadi pacarmu?" Tanyanya.

Menatapnya, wajahnya terlihat ceria dan malu.

"Bagaimana?" Tanyanya lagi dan berharap aku segera menjawabnya.

"Apa kau sudah move on dari mantanmu itu?"

Bught!

"Ahk! Apa yang kau lakukan!" Teriakku, kesal.

Sakura menendang kakiku, sial, apa dia semarah itu saat aku menyinggung mantannya?

"Kau mengungkitnya lagi!"

"Lalu, siapa yang sejak tadi mengungkit masa lalu." Balasku.

"Maaf." Ucapnya dan pupil hijau itu tak menatap ke arahku, ya seharusnya kau yang merasa bersalah karena kau yang memulainya.

"Ya sudah, kita ke sana." Ucapnya, berhenti dengan sesi tanya-jawab dan kembali berjalan.

Menggenggam tangannya dan menahannya pergi, gadis itu kini menatapku bingung.

"Bagaimana jika kau jadi pacarku?" Ucapku, aku yakin dia sudah puas dengan pertanyaan itu.

"Tidak, aku tidak mau menjadi pacarmu." Tegasnya dan menarik tangannya dari genggamanku.

Eh? Tidak mau? Jadi belum move on ya. Dia hanya membuatku pusing, sejak tadi memutar-mutar pertanyaannya dan malah bertanya sesuatu yang memalukan.

Sakura mulai berjalan perlahan, mengikutinya dan kembali angin sejuk bertiup.

"Jika sudah pacaran, apa akan putus?" Tanyanya.

"Tergantung bagaimana kau bisa bertahan denganku." Ucapku.

"Apa tidak seharusnya aku yang bertanya, apa kau akan bertahan denganku?"

"Aku akan bertahan, sampai kapan pun dan mungkin saat kita telah lulus dan aku mendapat pekerjaan, aku akan mela-" Ucapanku terputus, Sakura segera berbalik dan menutup mulutmu.

"Ja-jangan katakan sekarang! A-aku belum siap." Ucapnya, wajahnya sampai merona.

Aku hanya sedang mengucapkan rencanaku kedepannya, dia sampai terkejut, memegang tangannya dan melepaskannya dari mulutku.

"Hn, akan ku katakan saat itu, jadi kita sebut apa hubungan kita sekarang?" Tanyaku.

Sebuah senyum di wajahnya.

"Sahabat?" Ucapnya dan mengulurkan tangan ke arahku seakan ingin berjabat tangan.

"Tidak, aku tidak ingin bersahabat dengan gadis kasar sepertimu." Tolakku dan Sakura berwajah cemberut.

"Cih, menyebalkan." Ucapnya.

Kali ini aku yang sedang membalasnya, tersenyum dan menggenggam tangannya, mengajak berjalan bersama.

"Baiklah, kita akhiri saja pembicaraan konyol ini, mungkin aku harus menentukan waktu yang tepat saat akan mengungkapkan perasaanku." Ucapku.

Sakura terdiam, tapi wajahnya nampak sangat bahagia, senyum tipis di wajahnya tak bisa di tutupinya.

Kembali ke kamar kami.

Menatap sedikit tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang.

"Oh, jadi sekamar yaa, padahal tidak ada hubungan." Sindir Kiba.

"Untung saja kami datang tepat waktu." Ucap Naruto.

"Ka-kalian! Bagaimana bisa masuk ke kamar ini?" Ucap Sakura, dia cukup panik melihat teman-temannya datang.

"The power of orang tajir." Ucap Naruto dan Kiba, kedua tangan mereka kompak menunjuk Chouji.

Ah, anak konglomerat itu, tidak ada hal yang tidak mungkin bisa di lakukannya.

"Para pengganggu muncul." Sindirku.

"Ba-bagaimana mungkin kalian sekamar!" Protes Naruto.

"Aku pikir kalian tidak ada masalah denganku." Ucapku, baru saja mereka memaksaku memiliki hubungan dengan Sakura, sekarang mereka bahkan seperti tidak rela membiarkan Sakura bersamaku.

"Ta-tapi-"

"-Sudah-sudah, kita akan berlibur bersama." Ucap Sakura, dia segera memotong ucapan Naruto.

Teman-teman uniknya akan bersama kami, kamar ini jadi terasa sesak, mereka bahkan tidak ingin menginap di hotel lain, apa mereka tidak pikirkan Sakura? Hanya seorang gadis dalam kamar dan bersama empat orang pemuda, konyol.

"Kalian sungguh akan menginap di sini juga? Jika ini termasuk resort milik keluarga Akemichi kenapa tidak meminta kamar tambahan?" Ucapku, aku ingin mengusir mereka segera.

"Semua kamar penuh dan kita akan bersama, oh ayo lah Sasuke." Ucap Kiba, merangkulku. Aku tahu kamar di resort ini penuh, mungkin saja mereka punya kebijakan lain jika Chouji bersama mereka.

"Jangan sok akrab denganku." Ucapku dan melepaskan rangkulannya.

"Ini yang namanya liburan bersama teman!" Ucap Naruto, semangat.

"Kalian, ayo ke suatu tempat, aku sudah memesannya." Ucap Chouji.

Kali ini anak kaya itu yang akan mengambil alih.

"Tidak apa-apa jika kita bersama mereka?" Tanya Sakura padaku, mungkin dia hanya ingin memastikan aku bisa menerima teman-temannya dan tidak terpaksa dengan keadaan ini.

"Hn, tidak masalah." Ucapku, mungkin akan lebih baik jika banyak orang, meskipun tidak bisa hanya berdua dengan Sakura, lain kali saja kami akan menikmati waktu bersama.

Sebuah tempat, di lantai atas hotel, ada sebuah kolam dan kosong, aku pikir tempat ini sedang ramai? Kenapa hanya ada kami dan beberapa pelayan di atas, mereka sedang menyiapkan jamuan makanan dan memanggang barbeque.

"Semoga kalian senang dengan sedikit jamuanku ini." Ucap Chouji.

Anak kaya memang beda, dia membuat semua ini jauh lebih mudah. Kami benar-benar menikmati liburan bersama.

Naruto dan Kiba seperti anak kecil yang tak tahan melihat kolam renang, hanya membuka kaos mereka dan melompat ke dalam kolam, kami di layani beberapa pelayan, mereka terus memanggil Chouji dengan panggilan 'tuan muda', terasa berbeda jika orang lain memperlakukannya seperti itu.

Menatap ke arah Sakura, kedua pemuda itu berlari ke arahnya dan menariknya ke kolam, bergegas ke arah mereka dan menjitak keduanya. Mereka meminta maaf dan baru saja mengetahui jika Sakura tak bisa berenang, aku yakin gadis ini hanya tidak ingin terlihat lemah di hadapan teman-temannya.

Pesta kecil bersama hingga langit menjadi gelap dan kami bisa melihat sunset yang begitu indah dari ketinggian di bangunan hotel ini.

"Kapan-kapan liburan bersama lagi." Ucap Naruto.

"Setuju! Kita harus sering melewati liburan bersama!" Ucap Kiba penuh semangat.

Walaupun terasa aneh, aku dan mereka beda fakultas, bukan teman yang akrab dan mereka lebih menganggapku teman mereka, hanya aku yang sedikit tidak mengakrabkan diri dengan mereka.

Hingga malam tiba.

Mereka benar-benar tidur di kamar ini, Sakura menempati ranjang, dan kami akan menempati sofa, terlalu banyak orang dan terlalu berisik dengan suara dengkuran Naruto dan Kiba, mereka seperti adu dengkuran.

.

.

.

.

.

Esok paginya.

Sebelum matahari terbit, membangunkan Sakura dan memintanya untuk tidak bersuara, mengajaknya pergi di saat teman-temannya itu sibuk tertidur pulas, mereka bermain kartu hingga tengah malam dan sekarang tidak akan ada yang bangun cepat.

"Dingiiiin...~" Ucap gadis itu, memeluk tubuhnya sendiri dan sedikit menggigil, suasana di pagi hari saat musim panas akan sangat dingin, aku mengajaknya keluar di pagi buta, sebentar lagi matahari akan terbit. "Maaf yaa, jika teman-temanku suka berbuat seenaknya padamu, tapi mereka hanya ingin akrab denganmu." Ucap Sakura.

"Aku tahu, lagi pula aku tidak masalah akan hal itu." Ucapku, aku jadi mulai terbiasa dengan mereka, mereka benar-benar mirip Sakura, mau bagaimana pun aku mengusir mereka, mereka akan tetap berada di dekatku.

"Mataharinya akan terbit!" Ucap Sakura, dia menjadi heboh sendiri, hal ini cukup jarang kami lakukan, melihat matahari terbit bersama.

Menatap gadis itu, dia sangat senang dengan melihat hal kecil ini. Ini bukan sebuah takdir, kami hanya tetangga yang berhadapan rumah, para ibu-ibu sangat senang jika anak mereka punya teman main di masa kecil.

Dia, anak kecil yang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa, walaupun sudah merebut kasih sayang seluruh orang yang ada di rumahku, sempat membuatku benci padanya dan banyak hal yang membuatku ingin menyingkirkannya dariku, tapi dia juga membuatku luluh padanya, perasaan ini, akan sulit jika kami hanya sebatas teman, bertahun-tahun bersama yang di lewat membuatku banyak belajar dan mengerti apapun tentang dirinya, sedikit egois dan rasa cemburu yang berlebihan.

"Hey, kau harus jadi pacarku." Ucapku.

"Eh? Apa-apaan itu! pernyataan tiba-tiba." Ucapnya dan wajahnya terlihat terkejut.

"Sampai kapan aku akan menunggu lagi?" Ucapku, aku sudah bosan memberinya waktu.

"Kau yakin mau pacaran denganku?"

Terdiam, mengalihkan tatapanku darinya, kenapa ada begitu banyak alasan untuk tidak menjawab? Hanya mempersulit keadaan, padahal sudah mengetahui perasaan masing-masing.

"Baiklah, tidak perlu pacaran." Ucapku.

Tatapannya kembali terkejut, mendekat ke arahnya dan mencium pipinya.

"Ayo kita menikah, dengan begini tidak perlu ada hubungan yang terputus bukan? atau kau ingin segera bercerai dariku setelah kita menikah?" Ucapku, ini langkah yang lebih baik.

Sakura terdiam dan masih terkejut dengan segala pikiran di kepalanya, wajahnya sangat merona dan dia terus menatapku, jangan seperti itu Sakura, aku jadi tidak tahan melihatmu seperti ini, kembali mendekat ke arahnya, terkejut, gadis itu segera menahan wajahku dan kecupan di bibirnya tak bisa aku lakukan.

"Ma-ma-mau apa kau Sasuke!" Ucapnya, marah, malu, bingung.

Tertawa, dia benar-benar lucu saat di goda.

"Jangan tertawa!" Kembali marah padaku dan memukul lengan atasku.

"Maaf, kau benar-benar lucu." Ucapku.

"Kau-"

"-Jadi?" Ucapku, aku sangat berharap hubungan ini benar-benar berkembang.

Hanya sebuah anggukan tanpa ucapan darinya.

"Apa itu? Aku tidak mengerti." Ucapku.

"Aku mau kita pacaran." Ucapnya, malu dan mengalihkan tatapannya dariku.

"Sayangnya aku sudah sangat ingin menikah denganmu." Ucapku, kembali menggodanya.

Bught!

Itu pukulan yang cukup sakit, dia memukul perutku begitu saja.

"Baik-baik, aku tidak akan bercanda lagi." Ucapku, aku tidak bisa menahan diri, Sakura sampai kesal dengan setiap ucapanku, meskipun perutku sedikit sakit setelah di pukulnya, aku merasa sangat senang.

Mendekapnya perlahan dan memeluknya erat.

"Terima kasih telah menerimaku." Ucapku, aku senang akan keputusannya.

"Se-seharusnya aku yang berterima kasih, kau mau dengan gadis sepertiku." Ucapnya.

"Terserah saja, kita sama-sama berterima kasih kalau begitu."

Hening.

"Hey, sampai kapan kita akan seperti ini? O-orang-orang akan melihat kita." Ucapnya dan mulai tidak nyaman, bergerak gelisah dan ingin segera melepaskan pelukan ini.

"Sebentar saja." Ucapku, menahannya lebih lama, hanya sebentar saja aku tidak ingin melepaskannya lagi dari sisiku.

Ending Sasuke Pov.

.

.

.

.

Normal Pov.

"Haruskah kita teriak pada mereka?" Ucap Kiba.

"Matahari terbitnya jadi terhalangi oleh mereka." Ucap Naruto, hanya pandangannya saja yang tertuju pada Sakura dan Sasuke, matahari terbit itu masih bisa di lihat di area lain.

"Kalian jangan berisik." Tegur Chouji.

Ketiga pemuda ini sejak awal hanya menjadi penonton setia, saat Sakura dan Sasuke keluar kamar, mereka mengikutinya diam-diam, sedikit menyaksikan ucapan gombal-konyol Sasuke dan pemuda berwajah dingin bak tembok itu tertawa lepas, hal yang sangat jarang mereka lihat dan hanya di perlihatkan pada Sakura.

Seketika ketiga pemuda ini merona dan segera mengalihkan tatapan mereka, pemandangan yang lebih berbeda lagi, Sasuke sudah berani mencium bibir sahabat mereka.

"Me-mereka harus di hentikan sekarang!" Ucap Naruto.

Kiba dan Chouji segera menarik pemuda itu menjauh sebelum mengganggu mereka.

Sementara itu, Sasuke kembali mendapat pukulan.

"Jangan melakukannya di tempat umum!" Protes Sakura, wajahnya sudah sangat merona.

"Aku akan menciummu lagi jika masih memukulku." Ucap Sasuke, dengan nada sedikit mengancam.

Suasana kembali tenang.

"Oh iya, apa yang di katakan ibuku padamu." Tanya Sasuke, masih penasaran akan ucapan ibunya hingga membuat gadis ini merona-malu.

"Ha-hanya bersenang-senanglah." Ucap Sakura. gugup.

"Lalu?"

Sakura terdiam cukup lama, gadis itu tidak menatap Sasuke nada suaranya terdengar sangat pelan. "Semoga kalian pacaran." Ucapnya pelan, melirik ke arah Sasuke dan kembali menatap ke arah lain.

.

.

TAMAT

.

.


update...!

akhirnya fic ini benar-benar kelar, sempat bingung entah mau di buat ending bagaimana, XD pas baca review kalian jadi sempat kepikiran beberapa ide XD, terima kasih untuk para reader yang udah tanpa sengaja menyumbang ide untuk auhtor. XD

fic ini sudah tamat, mungkin tidak ada akan ada chapter tambahan lagi atau sequel yaa, jangan bikin author mikir lagi *marah* :D

Fic TBC tumbang lagi, untuk berikutnya, author akan mulai konsisten lagi menyelesaikan "Sweet Blood" meskipun dengan jadwal update yang nggak secepat fanfic-fanfic sebelumnya. author juga masih punya beberapa request yang hingga sekarang belum selesai, wkwkwkw, author lupa, wkwkwkwkw.

ya baiklah. author balas beberapa review yang terakhir kalinya untuk fic "Girl(friend)"

Guest : apapun itu, kami setia menunggu

J : terima kasih untuk tetap setiap menunggu fic author *senang*

sitilafifah989 : Kapan mereka resmi pacaran? Semoga secepatnya

J : di chapter ini seharusnya mereka udah resmi pacaran.

Lacus Clyne 123 : bukan tbc di fic kamu heheXD tapi d reviuw aku XD slalu ku tunggu oneshoot kamu dan pasti kubaca

J : hoalaah..~ sampai cari semua fic, hahahah ternyata, entahlah, kadang ada beberapa kata yang saat di ketik, setelah di publis tiba-tiba menghilang, *ikut penasaran*. terima kasih telah membaca oneshoot author, berharap benar-benar suka dengan fic oneshoot itu.

mantika m : ingat pesan om Kizashi ya Sas, lakukan apapun yg kalian sukai wkwkwk

J : maunya lakukan apa yang di sukai, tapi pengganggu muncul, wkwkwkwkwkw!

Evy Bestari Putri : oalah ternyata karena itu toh makanya sikap saku jadi aneh, jadi sekarang sasusaku udh tau perasaan masing2 kalo mereka tuh saling suka tapi masih sahabatan ya? dan skrng lagi liburan nginepnya sekamar berdua single bed lagi XD chapter berikutnya sasusaku bakal pacarankah? :D

J: di chapter ini mereka akhirnya pacaran. :)

Nejes : langsung nikah aja lah kak..kan udah saling kenal lama jadi gak usah pacaran..hihi.

J: Benar, langsung nikah aja, biar nggak putus, wwkwkw, terima kasih idenya yaa... *Jempol*

Saskey Saki : Udh pd mengakuii perasaan tp blm jadian..sakura nunggu sasuke sdgkan sasuke nunggu sakura .kapan kelasnya klo gt..sas km maju duluan lah

J: Sasuke udah ngomong tuh, mereka harus jadian... XD

DCherryBlue : ooòw..

J : Oww juga XD review yang paliiing singkat XD

.

.

hanya itu saja.

sekali lagi cuma mau bilang, selamat tahun baru dan semoga tahun ini pun akan menjadi tahun yang lebih baik lagi, bagi author dan untuk para reader-reader yang rajin membaca fic karya Sasuke fans XD amin.

.

.

[ Sasuke Fans ]