MY LOVELY BRONDONG

.

.

Present by IchiOchaMocha

...

Disclaimer : ©Masashi Kishimoto

Pairing : Uchiha Sasuke & Yamanaka Ino

Warning : Fic ini berisi kegajean yang di ciptakan author karena saking frustasinya terhadap real life-nya, Typo, Au, OOC, de el el. Alur cerita di percepat. Ide datang dari novel yang pernah saya baca, judulnya Brondong. Novelnya bagus. So sweet pake banget.

Summarry : Tua, muda. Usia tak bisa terelakkan jika sudah menyangkut cinta. Oh, mungkinkah berbedaan usia membuat mereka mengerti bahwa cinta tak terbatas pada usia? Special fic for SasuIno lover... Happy reading minna.

...

Apartemen Blue Orchid nomer 1327

Sudah dua hari Ino tinggal di apartemen Sasuke, selama itu pula tak jarang Sasuke mengabaikannya. Ya, sang pemuda berambut emo itu masih sangat kesal terhadap dengan Ino yang dengan sengaja melempar Emilio dari atas ketinggian tujuh puluh meter dari atas gedung.

Sasuke kesal, dan disinilah puncaknya. Sasuke berbuat ulah demi membalaskan dendam Emilio. Childish memang, tapi apapun itu demi melampiaskan rasa kekesalannya, Sasuke menyusun rencana menjahili Barbie tercintanya sekaligus malaikat maut Emilio.

"Sasuke! Apa yang kau lakukan dengan laptopku, ha!" teriak Ino frustasi.

"Ya ampun, santailah. Aku hanya pinjam sebentar," ucap Sasuke enteng. Sasuke memulai rencana balas dendamnya pada Ino. Ia masih bersikukuh ingin memberi Ino pelajaran.

"Berikan padaku sekarang juga, bocah. Aku harus mengerjakan tugas kuliahku. Sekarang!" perintah Ino seakan mutlak. Gadis itu mengeram kesal mana kala Sasuke tak bergeming dari aksinya mengutak-atik laptop milik Ino.

"Berisik."

Ino tertegun. Sasuke yang ia lihat saat ini berbeda dari biasanya. "Please, tolong berikan laptopnya padaku, Sasuke."

"Tidak ya tidak."

Baik Sasuke dan Ino saat ini sama-sama tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Ino sangat membutuhkan laptopnya, sedangkan Sasuke ingin memberi Ino sedikit pelajaran. Kesal dengan sikap Sasuke yang tak juga mau mengerti keinginannya, Ino langsung saja menyambar laptop di tangan Sasuke dengan paksa.

"Kembalikan Ino."

"Tidak akan, Sasuke. Aku butuh laptop ini sekarang."

"Tidak bisa. Aku juga sedang mengerjakan tugasku, Barbie."

"Tidak boleh. Kau pakai saja laptopmu sendiri, bocah."

"Laptopku sedang di service. Berikan padaku Ino."

"Tidak mau. Ini punyaku, Sasuke." Adegan tarik menarik pun terjadi beberapa saat hingga-

Brakk pyarrrrr

Laptop itu terjatuh. Ino dan Sasuke terbengong sesaat. Mereka baru sadar perbuatan mereka ketika melihat laptop milik Ino terbelah menjadi beberapa keping. Ino tertunduk lesu. Sasuke tersenyum puas.

"Hiks. Kenapa malah berantakan seperti ini. Huaaaaaaaa... Hiks..hiks," tangisan itu terdengar keras di apartemen milik Sasuke. Sasuke yang niat awalnya ingin memberi pelajaran pada Ino, akhirnya menyerah setelah melihat wajah Ino yang tertunduk lesu.

"Maaf." Satu kata dari Sasuke membuat Ino menoleh dan menghentikan tangisnya seketika itu. Pasalnya, Sasuke gengsi sekali meminta maaf pada orang lain selain dengan keluarganya. Ya, meski ia baru mengenal Sasuke, ia tahu bahwa pemuda di hadapannya itu tulus meminta maaf padanya.

"Sudahlah. Itu tak peting lagi sekarang. Sudah puas kan kau membalas kematian Emilio. Nah, ku anggap itu impas," ucap Ino sambil sesekali menatap puing-puing laptopnya.

Sasuke serba salah. Dalam hati keinginannya balas dendam sudah terbalas, namun saat melihat Ino menangis, ia merasa sangat bersalah pada gadis incarannya. "Ino. Ini tidak seperti yang kau pikirkan."

"Aku tahu. Sudah lupakan. Aku tak ingin membahasnya, Sasuke."

Ino segera membereskan laptopnya yang pecah. Gadis itu kemudian pergi meninggalkan Sasuke yang masih mematung di tempatnya.

.

.

Dua jam kemudian

Sasuke menunggu dengan gelisah di apartemennya. Sejak dua jam lalu, Ino belum juga kembali dari apartemennya. Ia mencoba menghubungi Ino sejak tadi, namun tidak satupun telepon yang di angkat oleh Ino.

Sasuke frustasi. Pemuda itu sangat cemas dengan keadaan Ino. "Kau dimana Barbie. Kenapa sudah jam sembilan malam kau belum juga pulang," ucap Sasuke bermonolog. Sasuke semakin tidak tenang. Sejak tadi ia berjalan mondar-mandir menunggu kedatangan Ino.

"Sebaiknya aku segera membawanya pulang." Sasuke pun segera menyambar jaket dan mengambil kunci mobilnya untuk mencari keberadaan sang gadis Yamanaka itu.

.

.

Setengah jam memutari area apartemen dan sekitar kota Konoha, pencarian Sasuke belum menemukan hasil yang memuaskan. Ia kembali mencari Ino. Perasaannya semakin tak tenang ketika entah mengapa ada perasaan sesak di dadanya yang sulit sekali ia gambarkan.

"GOD, please. Semoga Barbie baik-baik saja." Seolah seperti mantra, perlahan Sasuke menemukan titik terang dimana keberadaan sang gadis itu berada. Sasuke tersenyum sumringah ketika ia berhasil menemukan Ino yang sedang duduk sambil menenggelamkan kepalanya pada tumpuan tangannya, di taman tak jauh dari tempatnya mencari.

"Barbie. Akhirnya aku menemukanmu. Syukurlah kau baik-baik saja," ucap Sasuke senang.

Ino mengangkat kepalanya perlahan. "Sasuke," ucapnya lirih.

"Hei, kenapa wajahmu. Siapa yang menyakitimu?" tanya Sasuke panik. Melihat reaksi yang di tunjukkan Sasuke, Ino semakin terisak. Entah apa yang di alami gadis itu, yang pasti ia terlihat sangat berantakan.

"Hiks.. maaf membuatmu cemas," ucap Ino dengan suara parau. Gadis itu terisak. Ia lega akhirnya Sasuke menemukannya.

"Kita sebaiknya pulang. Ayo masuk ke dalam mobil, Barbie." Sasuke kemudian berjalan di depan Ino. Ia tidak tahu jika sejak tadi Ino merasakan sakit di bagian kakinya. Gadis itu pun memberanikan berdiri namun di detik kemudian ia tersungkur. "Aww. Ini sakit sekali," rintih Ino.

Sasuke lantas menoleh ke belakang. Ia berjalan cepat untuk menghampiri Ino yang tersungkur di lantai semen taman itu. "Kau tak apa? Biar ku gendong. Bertahanlah, Barbie."

"Tidak perlu repot-repot. Aku masih sanggup berdiri kok," ucap Ino meyakinkan Sasuke.

"Apanya yang tidak apa-apa! Kakimu terluka, wajahmu juga lebam. Demi Tuhan, Barbie, jangan berusaha sok kuat dengan kondisimu seperti itu."

"Sasuke, aku tidak ingin merepotkanmu."

"Dasar wanita. Pria itu diciptakan untuk direpotkan juga oleh wanita. Jadi dengar ya, Barbie. Aku akan membawamu ketempat kakakku. Dilarang protes."

Ino hanya diam. Jika Sasuke berkata demikian itu artinya ia harus menurut. Sasuke kemudian membopong Ino menuju mobil sedannya. Entah kenapa ada desiran aneh yang di rasa kedua insan itu. Ini seperti de javu bagi Ino, sedang bagi Sasuke ini pertama kalinya ia melakukan hal di luar kuasanya. Oh, tahukan mereka jika telah merona akibat perlakuan satu sama lain. Mungkin hanya Tuhan dan mereka yang tahu bagaimana gugpnya mereka ketika bersentuhan sedekat ini.

.

.

"Lukanya akan segera membaik, Sasuke. Kau tak perlu cemas," ucap seorang pria berpenampilan seperti dokter. Ia Uchiha Itachi, kakak kandung Sasuke. Uchiha Itachi adalah seorang dokter umum di salah satu rumah sakit terkenal Konoha. Pria berparas tampan itu dengan hati-hati mengobati luka memar Ino.

"Enghh, pelan-pelan Itachi-san. Ini sedikit perih," ucap Ino menunjuk kakinya. Itachi mengangguk. Ia masih sibuk mengobati luka Ino.

"Kau yakin dia baik-baik saja, nii-chan? Periksa lagi yang teliti. Kalau perlu beri dia obat agar cepat sembuh."

Berhenti sejenak mengobati luka Ino, Itachi menatap datar adik kesayangannya yang kelewat cerewet dari biasanya. "Ck, ini juga sudah kulakukan baka-otouto."

"Lakukan dengan hati-hati, jangan sampai dia kesakitan big bro."

"Hei, jangan berlebihan seperti itu, Sasuke. Kau dengar sendiri apa kata kakakmu. Aku akan sembuh dalam beberapa hari," ucap Ino memotong pembicaraan duo Uchiha itu.

"Hahaha, ya ampun. Baru kali ini adikku yang manis ini mengkhawatirkan seorang gadis cantik sepertimu, Ino-chan," ucap Itachi geli.

Pipi Ino bersemu. Pujian cantik yang ia terima tak pelak membuatnya sedikit merona. "Itachi-nii kau membuat gadisku malu. Awas saja jika kau mebutanya terpesona," ucap Sasuke posesif.

"Heh, siapa yang kau sebut gadismu. Aku bukan milikmu, bocah. Ingat ya, aku nggak tertarik sama bocah sepertimu," ucap Ino kesal.

Itachi semakin tertawa terbahak-bahak. Kedua orang di dapannya membuatnya sedikit melupakan stress akibat padatnya jadwal pemeriksaan pasien hari ini. "Wah, selamat ya Ino-chan. Adikku ini jarang sekali mengakui perasaannya terhadap wanita. Kau gadis yang beruntung. Aku akan menjadi orang pertama yang merestui hubungan kalian."

"Hehe, tuh kan, nii-chanku saja merestui kita," ucap Sasuke dengan penuh percaya diri.

Dan sepertinya ini adalah hari tersial Ino. Pertama, laptop rusak dan alhasil ia harus berakhir di warnet. Pulang dari warnet juga ia harus berhadapan dengan Sakura yang tiba-tiba melukainya. Setelahnya berakhir di rumah sakit bersama duo Uchiha aneh bin nyentrik. Oh, rasanya Ino butuh obat tidur supaya ia bisa terlelap dan melupakan masalahnya.

"Sudah selesai, Ino-chan. Kalau ada keluhan, datanglah kemari." Itachi lantas membersihkan seluruh peralatan medisnya. Ino sangat lega, ia tak harus berlama-lama berada di tempat itu.

"Um, terima kasih banyak Itachi-san," jawab Ino lega.

Sasuke lantas berdiri menghampiri Ino. Ia kemudian menggendong Ino agar tidak terjatuh lagi. "Ayo pulang." Itachi yang melihat tingkah adiknya seperti itu hanya mengendus geli. 'Ini kejadian langka,' pikir Uchiha sulung itu dalam hati.

Kedua insan itupun memutuskan untuk kembali ke apartemen Sasuke malam itu juga. Selama perjalanan, baik Ino maupun Sasuke memilih diam. Mungkin suasana yang canggung membuat mereka enggan membuka suara satu sama lain.

.

.

Esok harinya,

Pagi ini entah mengapa badan Ino kurang sehat. Ia ingin pergi ke acara di rumah Mei, namun sepertinya tubuhnya tak bisa di ajak kompromi saat ini. Ino kemudian menyambar ponsel pintarnya yang terletak di atas meja. Ia kemudian mencari nkontak di ponselnya dan menekan nomor telepon tersebut. "Moshi-moshi Mei-chan. Maaf aku tak bisa datang. Aku sedang tidak enak badan nih."

"Ino-chan, kau sakit? Aku akan kesana untuk menjengukmu," ucap Mei dengan nada khawatir.

"Tidak usah. Aku tak ingin menggangu acaramu. Lagi pula, kau tau sendiri kalau seminggu ini aku harus tetap berada di apartemen bocah itu," ucap Ino meyakinkan.

"Hihihih.. ya baiklah kalau begitu. Hati-hati disana ya. Juga semoga cepat sembuh. Aku akan segera menemuimu setelah acaranya selesai." Mei tersenyum lega, meski ia khawatir, tapi ia tahu Ino gadis yang kuat.

"Tidak perlu. Kumohon saat ini sebaiknya kau tidak berada di apartemen Sasuke. Oke."

"Baiklah kalau itu keinginanmu, Ino-chan."

"Sampai jumpa, Mei."

Percakapan via telepone berakhir. Ino terpaksa berbohong pada temannya mengenai keadaan yang sebenarnya. Seratus persen tidaklah bohong mengenai dirinya yang harus menjaga Sasuke, namun jika mengenai perbuatan Sakura terhadapnya, Ino tak ingin membuat sahabatnya cemas.

Ino tidak ingin Mei dan Tenten semakin khawatir. Oleh sebab itu, sebisa mungkin mereka tidak boleh mengetahui tentang apa yang terjadi padanya.

"Barbie, kau di dalam?" tanya seseorang dari luar kamar Itachi.

"Hn, masuklah."

Setelah dipersilahkan masuk, Sasuke lantas membawakan sarapan untuk Ino. "Makanlah. Aku harus segera berangkat sekolah. Kau baik-baik sajakan jika ku tinggal?" tanya Sasuke khawatir. Pemuda berambut emo itu lantas meletakkan sarapan dan segelas susu di atas meja, terletak di samping ranjang Itachi.

"Tentu saja. Terima kasih sarapannya. Aku jadi merepotkanmu, Sasuke." Gadis itu tersenyum lembut. Ia tak menyangka pemuda itu sangat perhatian kepadanya.

"Kau memang merepotkan Barbie." Ino menatap sendu Sasuke. Ia menyadari sesuatu di di balik ucapan Sasuke. Ia memang sangat merepotkan.

" Maaf." Gadis itu merunduk sedih. Dari dulu ia tidak ingin merepotkan orang lain. Entah kenapa Ino berpikir kalau akhir-akhir ini banyak merepotkan orang lain.

Gadis itu masih di posisinya merunduk. Ia tak berani menatap wajah Sasuke yang berdiri di depannya. "Tapi khusus dirimu, aku bersedia kok untuk kau repotkan, Ino," ucap Sasuke menenangkan.

"Terima kasih banyak, Sasuke." Ino tersenyum. Perlahan ia mulai bisa menerima kehadiran Sasuke. Sasuke sendiri ikut tersenyum ketika Ino bersikap manis saat ini dan hal itu membuat Sasuke semakin tak bisa untuk tidak melindungi Ino.

"Baiklah, aku harus berangkat. Jaa nee."

Sasuke keluar dari apartemennya menuju ke sekolahannya. Sebelum sampai di parkiran, ia mendapatkan email dari orang suruhannya. Sasuke tersenyum puas. Ia lantas segera menuju mobilnya dan berangkat ke sekolahnya.

.

.

"Ah, jadi kau yang bernama Haruno Sakura?" tanya Sasuke ketika ia menghampiri orang yang telah melukai gadis pujaannya.

"Ada urusan apa mencariku, bocah?" ucap Sakura angkuh.

Pemuda itu tesenyum licik. Ia lantas mendekati Sakura dengan tatapan mata yang mengerikan. "Kau tak perlu tahu, Haruno. Akan aku sampaikan hal penting ini padamu. Jangan pernah mendekati Ino ataupun sampai melukainya."

Sakura hanya tertawa sinis menanggapi pemuda di depannya. "Cih, gadis bodoh itu ternyata punya body guard tolol sepertimu," ucapnya meremehkan.

Melipat kedua tangannya. Sasuke seolah tak terpengaruh dengan ucapan Sakura yang angkuh itu. "Terserah kau saja, pink. Satu hal yang pasti, seujung jari kau melukainya, nasib ayahmu, serta karir akademikmu akan berakhir."

"Memangnya kau siapa ha!" Beraninya menggertakku?" gertak Sakura emosi. Memang awalnya Sakura tak menghiraukan pemuda di depannya, namun ketika Sasuke menyinggung Ino barulah ia tampak emosi.

"Aku Uchiha Sasuke. Ayahmu berhutang banyak pada keluargaku, Haruno."

"APA? Ini mustahil." Sakura schock. Hal ini tak mungkin baginya. Ayahnya tak mungkin berhutang pada keluarga pemuda itu.

"Tidak ada yang mustahil, Haruno." Sasuke kemudian menyerahkan sebuah amplop berisi dokumen penting. Pemuda berambut emo tersebut lantas menyerahkannya pada Sakura.

"Apa ini?"

"Baca saja, pink. Semuanya ada di situ."

Sakura kemudian membuka amplop tersebut. Matanya meneliti dengan detail apa yang tertera di kertas itu. Di kertas tersebut, di sebutkan bahwa ayahnya berhutang pada Uchiha Fugaku. Sakura juga tampak terkejut ketika membaca surat perjanjian yang dibuat ayahnya dan Uchiha Fugaku.

"Ini mustahil. Ayahku tak mungkin berhutang pada keluargamu, bocah!"

"Kau boleh tidak percaya, tapi coba saja kau tanyakan sendiri pada ayahmu. Sekali lagi ku peringatkan. Kau melukai Ino, nasibmu dan ayah kesayanganmu akan berakhir di jalanan. Ingat itu baik-baik. Aku punya kartu As mengenai semua rahasia keluargamu, Haruno." Sasuke lantas meninggalkan Sakura. Pemuda itu memilih meninggalkan gadis berambut pink itu. Ia puas membuat Sakura terpukul. Ya, demi Ino, Sasuke mungkin akan melakukan hal itu untuk melindungi pujaannya.

.

.

Sore hari di apartemen Sasuke

"Barbie. Boleh aku bertanya sesuatu?"

Ino menoleh ke arah Sasuke. Sedikit heran ketika pemuda emo itu mengajaknya berbicara serius. "Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Ino sembari meletakkan cangkir tehnya di atas meja.

"Aku penasaran mengenai siapa yang menyerangmu kemarin malam," ucap Sasuke to the point.

Ino menghentikan aktivitas membacanya. Gadis itu kemudian memutar otaknya untuk tidak menjawab pertanyaan Sasuke. "Tidak usah kau pikirkan. Itu bukan hal penting. Sudah ya, aku mau kedapur. Aku haus," ucap Ino mengelak.

"Apa Sakura yang melakukannya itu padamu?" tebak Sasuke secara spontan.

Deg

Seolah waktu berhenti sejenak, Ino tersentak ketika Sasuke mengetahui yang sebenarnya. "D-dari mana kau tahu?" tanya Ino tergagap. Ia membalikkan tubuhnya dan memandang wajah Sasuke dengan penuh tanya.

"Aku tahu dan aku akan selalu mencari tahu, Ino."

"Sebaiknya kau tak usah ikut campur dengan masalahku, Sasuke. Ini tidak ada hubungannya denganmu. Aku permisi." Seketika, raut wajah Ino berubah menjadi dingin. Sasuke yang melihat perubahan ekspresi Ino, memilih diam. Gadis Yamanaka itu kemudian meninggalkan Sasuke yang masih ingin tahu masalahnya dengan Sakura.

.

.

Ting

Tong

"Ck, siapa sih yang datang semalam ini. Mengganggu saja," gerutu Sasuke ketika tengah sibuk mengerjakan tugas sekolahnya.

Ting

Tong

Bel itu berbunyi lagi. Sasuke lantas berjalan keluar untuk membukakan pintu. "Kau lama sekali Sasuke." Suara itu tak lain adalah Mikoto. Mikoto yang tampak lelah setelah menempuh perjalanan jauh, kemudian dia masuk kedalam apartemennya.

"Ibu? Kenapa tidak mengabariku jika akan pulang lebih cepat?" ucap Sasuke terkejut.

"Ayahmu sudah sembuh, Sasuke. Maka dari itu ibu langsung memesan tiket pulang ke Konoha. Oya, Ino-chan dimana?"

"Sedang tidur di kamar Itachi. Dia kurang sehat."

"Ya ampun. Pasti dia kecapekkan menjagamu. Ibu akan menemuinya besok pagi. Kau tidur saja. Sekarang sudah larut malam."

"Um, nanti aku tidur, sekarang aku harus menyelesaiakan tugasku."

"Oyasumi, Sasuke."

.

.

To be continued.

.

.

Maaf update lama... huhuhu... lagi banyak kesibukan di RL... hihihi... thanks for reading and i love u all my suporterrrrr...

Balesan yang belum login:

Guest : thanks so much. Makasih udah RnR

Ros rosmiati : hehhehe. Iya. Disini saya bikin dia OOC. Thanks for RnR

Hana : Xihihi,, iya kasian ya si emilio..plakkkkk Thanks for RnR

Noor wahdah : Thanks for RnR.. ini sudah update ficnya. Slmat membaca..hihihi

Ramada : Thanks for RnR.. ini sudah update ficnya. Slmat membaca..hehhehe

Anna : Thanks for RnR.. ini sudah update ficnya. Oh soal itu. nggak ada cinta segitiga kok.. hehhehe

Amay : Thanks for RnR.. ini sudah update ficnya. Slmat membaca..hihihi. thank u.