COMPLICATED

CAST : Jung Yunho,Kim Jaejoong, Kim Mingyu, Jeon Wonwoo and other seventeen member

YUNJAE/MEANIE/other couple/GS

.

.

.

.

Mingyu merasa kemarin seperti mimpi, hari yang indah dia lewati dengan keluarga dan sahabatnya, tapi hari ini ia sadar dia tidak boleh bermimpi terlalu jauh, dia harus sadar siapa dirinya

'Anak pungut'

Beribu kali pun Mingyu mengelak. Tapi fakta berkata lain, sesayang Yunho dan Jaejoong padanya akan kalah dengan anak kandung mereka, sudahlah apa yang Mingyu harapkan lagi? Semua sudah terlalu jelas, dia harus pergi mencari kehidupan baru, terlalu lama jika menunggu ia lulus SMA, tapi dia mau kemana? Anak 14 tahun sepertinya yang tak pernah jauh dari rumah bisa apa, dia tak tahu kejamnya dunia luar

Mingyu masih menangis memikirkan nasib nya akan seperti apa nantinya, dia sedih sekali untuk pertama kalinya Jaejoong berkata seperti itu padanya, padahal dia sudah ingin berdamai dan membuka hatinya untuk Jaejoong

Diluar kamar Mingyu, Jaejoong menangis mendengar suara isakan Mingyu, dia refleks berkata seperti itu karena tadi dia begitu lelah dan melihat kejadian mengerikan tadi, sungguh dia tidak bermaksud menyalahkan Mingyu, dia sadar saat anak itu mulai menangis dan pergi meninggalkan mereka ke kamar

Ini pertama kalinya Mingyu menangis lagi didepannya terakhir saat anak itu masih Sekolah Dasar, berarti Jaejoong membuat putranya begitu kecewa

Tok

Tok

Jaejoong tak kuat mendengar isakan terus keluar dari bibir putranya, tak ada respon, Mingyu tak berniat membukakan pintu

"Ini Um...ma" suara Jaejoong bergetar berharap Mingyu mau membukakan pintu kamarnya

Tok

Tok

Yunho hanya melihat dari jauh, dia juga kaget akan respon Mingyu, putranya menangis, sudah lama sekali anak itu itu didepan nya, saat dia hukum pun Mingyu hanya mengeluh tak menangis, tapi hari ini sepertinya perkataan nya dan Jaejoong begitu menyakiti hati Mingyu, membuat perasaan bersalah membucah

"Gyu...hiks" tangis Jaejoong pecah karena tak kunjung dibuka kan, apalagi isakan Mingyu masih terdengar ditelinga Jaejoong, karena sebenarnya Mingyu bersender dibelakang pintu, menelungkupkan wajahnya di kedua lututnya, dia masih terisak membiarkan rasa kecewanya terobati

"Mianhae...hik...hiks"

Tok

Tok

Jaejoong menyerah dia duduk didepan pintu sambil terisak merutuki kebodohannya, Yunho datang mengajak Jaejoong ke kamar tapi tidak digubris

CKLEK

Jaejoong buru-buru berdiri, apalagi saat melihat tubuh putranya menyembul dari balik pintu, dia segera memeluknya, mengucapkan beribu maaf, tapi tangis Mingyu masih berlanjut, membuat hati Jaejoong hancur

"Maafkan Umma" Jaejoong terisak tangisnya sudah reda, dia mencoba membujuk putranya untuk berhenti menangis, wajah Mingyu sudah merah karena anak itu tidak berhenti menangis dari tadi

Tangan Jaejoong memegang pipi Mingyu yang basah air mata, dia mengadahkan wajah itu untuk menatapnya, karena Mingyu terus menunduk

"Hei, jagoan Umma"

Yunho memeluk Mingyu mengucapkan maaf kepada putranya, dia tidak tahu akan sefatal ini jadinya, dia terlalu pusing karena tadi kliennya meminta ganti rugi karena proyek nya gagal yang sepenuhnya bukan salah Yunho sebenarnya, dia jadi kelepasan saat melihat kejadian menyeramkan tadi, dia sadar sudah salah tempat meluapkan semua itu ke Mingyu

"Maafkan Appa sayang"

.

.

.

==0604==

.

.

.

Mingyu sudah tertidur, anak itu lelah menangis, Jaejoong menemaninya, memeluk putra kesayangannya

"Taeyong sudah siuman" ucap Yunho mendekat ke istrinya yang sedang memeluk Mingyu

"Hmm besok saja aku melihatnya"

Yunho mengangguk lalu mengajukan pertanyaan lagi "kau ingin disini?" Jaejoong mengangguk, Yunho pun merebahkan tubuhnya disamping Mingyu jadi sekarang Mingyu ditengah, sudah lama mereka tidak tidur bertiga.

.

Pagi hari

Mingyu merasa pegal karena dia tidak merubah posisinya dari semalam, saat ingin meregangkan tubuhnya dia malah terkena tubuh seseorang dia melihat kesamping ternyata itu Appanya, lalu di sebelahnya ada Ummanya pantas saja dia merasa sempit sekali, Mingyu bergegas ke kamar mandi, pergerakan Mingyu itu membuat Jaejoong bangun

"mau kemana?"

Mingyu masih tak merespon, tak lama Mingyu keluar dari kamar mandi

"Umma minta maaf untuk yang kemarin" Mingyu diam saja. Dia berjalan mengambil seragam sekolahnya dan berjalan keluar kamarnya

"Umma sayang sekali dengan kau Gyu, jangan seperti ini hiks, maafkan Umma" Jaejoong memeluk tubuh Mingyu dari belakang, Mingyu melepaskan pelukan Jaejoong dan berjalan keluar

Jaejoong menangis lagi, kesalahan nya membuat putranya menjauh lagi, padahal dia sudah berusaha untuk membuat anak itu dekat dengannya, Jaejoong merutuki kebodohannya, Mingyu pantas marah dengannya

.

.

Sekolah

Mingyu diam saja suasana hatinya sedang tidak bagus, dia juga tidak ikut bermain dengan sahabatnya, dia cuma melihat saja, dan dia memilih tidur saat waktu istirahat

Wonwoo tidak mau ikut ke kantin, dia memilih di kelas, dan saat tiba disana dia melihat Mingyu tertidur, dia tersenyum senang, dia buru2 mengeluarkan buku gambarnya, ya Wonwoo diam-diam menggambar Mingyu sejak mereka jalan berdua waktu itu, mungkin sudah lebih dari 5 sketsa Mingyu dibukunya

"Wonwoo...dicari Seungcheol hyung" ucap salah satu temannya dan Wonwoo memberhentikan aktifitasnya dia segera berlari keluar, saat mendengar langkah kaki menjauh Mingyu membuka matanya, sebenarnya ia tak tidur, dia melihat Wonwoo menjadikan dirinya model untuk gambarnya, Mingyu berjalan ke meja Wonwoo melihat hasil gambar Wonwoo

"Wah...dia menggambarku" ucap Mingyu senang, penasaran dia membuka lembar lainnya, Mingyu takjub Wonwoo berbakat sekali dalam menggambar

"Eh...ini kan aku" ya selain sketsa yang tadi baru digambar ada sketsa Mingyu lainnya, Mingyu buru-buru pergi keluar kelas sambil menyembunyikan senyumnya

"Apa dia punya rasa yang sama?" Mingyu tersenyum sendiri membayangkan itu "ah...molla"

Semoga ini titik terang bagi kisah dia dengan Wonwoo, tapi di pikir-pikir Mingyu tidak pernah mendekati Wonwoo lagi sejak mereka jalan berdua, ah...Mingyu harus cari cara untuk itu

.

.

Malam Hari

Dari tadi sore Mingyu dirumah sakit, bukan untuk berobat tapi dia menemui Jungsoo, karena wanita tua itu menyuruhnya datang setelah pulang sekolah, dia kira ada hal penting sampai Mingyu ijin tak latihan ternyata dia suruh membantu salah satu acara yang diadakan oleh nya

"Cepat ganti seragammu" Mingyu menerima baju untuk para staf entah dia disuruh untuk apa, setelah selesai dia menghampiri Jungsoo lagi

"Kau bertugas sebagai pelayan" Mingyu mengangguk, dia bergabung dengan beberapa staf lainnya

Mingyu awalnya tidak tahu ini acara apa, tapi saat membaca banner yang terpampang dia akhirnya tahu ini acara ulang tahun rumah sakit ini, ada beberapa tamu undangan, lalu anak-anak.

"Yak cepat bagikan ini" Mingyu mengangguk membagikan minuman ke semua tamu

Sang MC membuka acara, lalu Jungsoo memberikan sambutan singkat, Mingyu baru tau ternyata wanita tua itu pimpinan utama rumah sakit, pantas Appa nya tajir.

Mingyu membagikan makanan dan minuman ke anak-anak, sepertinya mereka bukan anak dari para tamu undangan, dilihat dari baju yang sama semua, sepertinya mereka anak-anak yang kurang beruntung.

"Oppa tampan" ucap salah satu anak tertawa

"Iya benar"

"Hyung tinggi sekali"

Mingyu hanya tersenyum mendengar itu, lalu dia ingat punya beberapa snack dari penggemar dadakannya kemarin. Mingyu berlari ke loker tasnya mengeluarkan beberapa makanan.

"Igo..buat kalian semua" ucap Mingyu setelah tiba di depan anak-anak itu

"Wah...coklat"

"Gamsahamnida hyung/oppa"

Mingyu merasa senang melihat mereka tertawa

"Kalian darimana?"

"Hmm kami dari panti asuhan.."

Mingyu tersenyum miris, nasibnya sama seperti anak-anak itu

"Yak Mingyu cepat kerja lagi" teriak salah satu rekannya, Mingyu berpamitan dan kembali bekerja

Dia mengantarkan ke meja tamu undangan, mereka berpakaian formal, sepertinya bukan orang biasa

"Aigoo...Shua ya" dia melihat Jungsoo berbicara lembut dan memanjakan remaja seusianya, iri? Tentu saja, dia ingin seperti itu.

"Mingyu" Ya Mingyu kenal orang itu suami Jungsoo. Dia yang menolong nya waktu itu.

"Kenapa kau menjadi pelayan?" Kangin menarik tangan Mingyu ke tempat sepi, Mingyu bungkam takut salah jawab, tapi Kangin tau itu kerjaan istrinya.

"Ini sudah pukul 9 malam, gantilah pakaianmu, kau naik apa kesini?"

"Bus"

"Yasudah ganti pakaianmu, akan ku antar kau pulang" Mingyu mengangguk lalu menuju lokernya

Setelah memakai seragam sekolah nya lagi, Mingyu menghampiri Kangin, tapi disitu ada Jungsoo

"Siapa yang menyuruhmu pulang?" Bentak Jungsoo, Mingyu menunduk takut

"Yeobo Ini sudah malam, dia besok harus sekolah"

"Jangan membela anak ini, lalu kau mau kemana?"

"Mengantarnya"

"Jangan diantar dia bisa naik bis" Kangin menggeleng, tega sekali dia menyuruh anak 14 tahun pulang sendiri malam hari, apalagi jarak rumah sakit ke rumah anak ini sekitar 2 jam

"Sudah ku bilang kan kau harus menerimanya, bukan malah mengerjainya" ucap Kangin kesal, Jungsoo membuang mukanya

"Ayo Gyu" Jungsoo diam saat Kangin menarik Mingyu pulang

.

.

.

==0604==

.

.

.

Pagi hari

Jaejoong tak melihat Mingyu, dia khawatir anak itu tidak memberinya kabar, untuk Taeyong dia sudah beraktifitas kembali hari ini

Tut

Tut

Tidak ada jawaban, hati Jaejoong gusar. Tak lama ponselnya berbunyi, dia menerima pesan baru, itu dari Mingyu

'Aku menginap dirumah temanku'

Jaejoong lega, anak nya aman.

.

Dilain tempat

Kangin memegang ponsel Mingyu dan membalas pesan dari Jaejoong, karena Mingyu belum bangun. Kemarin malam anak itu sudah tertidur di mobil akhirnya Kangin memilih membawanya kerumah. Jungsoo tak tahu ada Mingyu dirumahnya.

Wanita itu mencari suaminya, dia melihat kamar Yunho terbuka, sudah lama sekali kamar itu tidak dibuka, karena sang pemilik sudah lama meninggalkannya

"Yak apa-apaan kau" Jungsoo kesal melihat Mingyu dirumahnya, dia melirik kesal kearah suaminya

"Suruh dia pulang"

"Sssttt" Kangin menyuruh Jungsoo diam "dia demam, ini salahmu menyuruhnya bekerja hingga malam tapi tidak memberi nya asupan"

"MWO?" Jungsoo tidak terima, kemarin sore memang hujan, sepertinya anak itu kehujanan untuk sampai kerumah sakit, tapi itu bukan salahnya

"Cepat berikan ia obat"

"Tidak mau" ungkap Jungsoo "Yak, dia bisa setep" Jungsoo mendengus kesal, dia mengambil peralatannya, lalu dia memeriksa Mingyu terpaksa.

"39 derajat" Jungsoo membaca angka dari termometer "ini kompresnya" Kangin memberikan itu pada istrinya, kenapa Jungsoo nurut karena Kangin janji bakal beliin dia tas baru.

"Dia dehidrasi juga" Mingyu memang seharian kemarin tidak makan lalu minum hanya sedikit, masalahnya itu membuat hilang nafsu makannya.

"Yeobo aku ada rapat" Kangin bingung tapi dia tidak mungkin tidak datang

"Pergilah" ucap Jungsoo tapi dia khawatir sama Mingyu

"Tapi Min..."

"Aku akan merawatnya, tapi jangan lupa janjimu itu" Kangin bernafas lega setidaknya Jungsoo mau merawat Mingyu, daritadi anak itu belum bangun mungkin karena panasnya masih tinggi

"Aku berangkat"

Jungsoo beberapa kali mengganti kompres Mingyu, hingga panas itu sedikit turun, wajah tidurnya sangat polos.

"Nyonya ini buburnya"

Jungsoo segera membangunkan Mingyu agar dia bisa mengisi perutnya, dan meminum obat setelahnya. Dan agar anak itu cepat kembali ke rumahnya.

"Yak bangun"

Mingyu membuka matanya karena merasakan guncangan di tubuhnnya, dia kaget saat melihat Jungsoo dan dia tidak tahu ini dimana

"Ak...u di..mana"

"Jangan banyak tanya cepat makan ini, dan minum obat mu, setelah itu kau pulang kerumah" Mingyu mengangguk memakan bubur itu lalu setelahnya dia meminum obat pemberian Jungsoo.

"Jam 10 ku tunggu di bawah" ucap Jungsoo meninggalkan Mingyu

Setelahnya Mingyu memilih untuk mandi. Kini dia merasa tubuhnya sangat gerah dan kepalanya berdenyut sakit sekali, dia kira setelah mandi tubuhnya enakan tapi tidak dia merasa kedinginan sekarang, tubuhnya benar benar tidak enak, tadi juga dia sudah memuntahkan makanan yang ia makan, tapi sekarang masih terasa mual. Kepalanya pening sekali seperti ditusuk tusuk sesuatu. Dia tak yakin kuat naik bus sampai rumah.

"Yak cepat aku mau ke rumah sakit" teriak Jungsoo dari lantai bawah, Mingyu menyambar tasnya dan berlari menghampiri Jungsoo, tapi baru saja dia menginjakan kakinya ke beberapa anak tangga, dia merasa tubuhnya seperti melayang setelahnya semua nya gelap

PRANKK

BRAKK

Jungsoo yang sedang mengisi bekal makan siang nya segera berlari menghampiri sumber suara itu, dia kaget melihat gucinya pecah tapi dia lebih kaget saat melihat genangan darah di sekitar situ dan melihat tubuh Mingyu tergeletak.

"Yak..." Jungsoo dengan cekatan menolong anak itu, dia memeriksa Mingyu

"Aniya, dia harus kerumah sakit" Jungsoo buru2 menelpon ambulance, selama menunggu dia mencoba menghentikan pendarahan itu sebisanya, tak lama ambulance datang, Jungsoo membawa ke rumah sakit tempat ia bekerja, agar dia lebih leluasa.

Sesampainya di rumah sakit, Mingyu langsung dibawa keruang UGD, Jungsoo bergegas mengganti pakaiannya, dia adalah dokter penyakit dalam. Dia dan tim dokter lainnya menangani Mingyu. Anak itu kehilangan banyak darah dan membutuhkan transfusi.

"cepat ambilkan kantong darah B"

"Uisa nim stok darah nya kosong" Jungsoo menghela nafas, dia melihat wajah pucat anak itu, sekilas dia seperti melihat Yunho di dalam diri anak itu, dia akui ada perasaan berbeda jika dia dekat dengan Mingyu.

"ambil darahku" ucap Jungsoo

.

.

.

==0604==

.

.

.

Jaejoong merasakan dadanya seperti terhimpit sesuatu, entah perasaan nya tidak enak sekali, walaupun Mingyu sudah bilang dirumah temannya tapi dia masih khawatir

"Perasaan apa ini" Jaejoong menelpon suaminya dan Yunho bilang ia baik-baik saja, lalu menyuruh istrinya itu tenang

"Semoga putra ku baik baik saja"

.

.

Rumah sakit

Jungsoo merasa tubuhnya lelah sekali, dia merapihkan selimut Mingyu, anak itu masih terkena efek obat bius, setelahnya dia duduk di sebelah Mingyu dan menelungkupkan wajahnya. Tubuhnya masih lemas efek donor darah.

6 jam kemudian Mingyu sadar, dia merasa kepalanya sakit, dia melihat baju yang ia kenakan belum lagi ruangan yang serba putih, kenapa ia disini? Dia mencoba mengingat...ah tadi dia tergelincir dari tangga. Dia mendengar suara dengkuran lalu dia melirik kesebelahnya dan ternyata ada Jungsoo yang tertidur pulas.

Drrtt

Drrtt

Mingyu mencari ponselnya, dia melihat itu ada di sofa. Mingyu ingin mengambil sendiri, tapi baru duduk saja dia sudah merasakan pusing, dia tak berani membangunkan Jungsoo. Karena pergerakan Mingyu tidur Jungsoo terusik, dia melirik Mingyu yang sudah sadar

"Yak jangan turun dari ranjang" cegah Jungsoo dia sebagai dokter harus memperhatikan pasiennya

"aku mau ambil ponselku" Jungsoo mendengus dan memberikan itu pada Mingyu

"gamsahamnida" karena Mingyu sudah sadar Jungsoo mau kembali keruangannya tapi baru 2 langkah, dia mendudukan dirinya lagi, dia tak tega meninggalkan anak itu sendiri. Sudah dibilang dia kadang tidak tega berbuat jahat pada anak itu.

'Kau dimana?' Ini Yunho yang menelpon Mingyu

'Rumah sakit'

'MWO? Cepat katakan alamatnya'

"Ahjumma ini rumah sakit apa?" Tanya Mingyu

"Seoul Hospital center" jawab Jungsoo, dia sekarang menonton televisi karena bingung harus berbicara apa dengan Mingyu

.

.

Benar setengah jam kemudian Yunho datang dengan wajah panik dan baju yang acak-acakan, dia cemas sekali dengan kondisi putranya itu.

"Pasien bernama Mingyu" tanya Yunho ke resepsionis

"Dia diruangan VVIP no 6"

Yunho mau kesana tapi dia ingat belum membayar biaya administrasi Mingyu

"Ini untuk administrasinya" Yunho memberikan black cardnya

"Maaf tuan, tapi semua sudah lunas" Yunho bingung siapa yang membayarnya

"nde, terima kasih" Yunho segera menuju putranya, dia sampai membatalkan rapatnya.

.

.

"Mingyu"

Yunho segera menghampiri Mingyu, memeluk anak itu, dia sangat sedih melihat luka di kening putranya.

"Kau tak apa nak? Apa masih sakit?" Mingyu menggeleng

"kenapa bisa seperti ini?" Tanya Yunho lagi

"Aku tergelincir dari tangga"

"Oh...Gyu" Yunho mengusap kepala Mingyu sayang tak lama ada suara pintu terbuka dan ternyata itu Jungsoo. Jungsoo masuk kembali, ia kaget ada putranya disitu, ia kira Mingyu dihubungi temannya tapi ternyata Yunho

"Umma" panggil Yunho gugup, dia kaget karena ada Jungsoo. Karena panik, dia sampai lupa jika rumah sakit ini adalah tempat ibunya bekerja sekaligus pimpinan.

"Sedang apa kau disini?" tanya Jungsoo langsung, Yunho menggaruk tengkuknya

"eungh...menjenguk anak ini" jawab Yunho gugup, Jungsoo cuma memberika tatapan datar setelahnya

"tumben kau mau mengorbankan waktu mu demi seseorang selain istrimu itu" sindir Jungsoo, Yunho kehabisan ide, dia menyerah.

"Ini putraku Mingyu" ucap Yunho akhirnya karena melihat gelagat aneh ibunya, dan setelahnya tanggapan Jungsoo biasa saja

"Umma kau tak marah ?" Tanya Yunho heran

"untuk apa toh dia cuma anak pungut mu" ucap Jungsoo, perkataan Jungsoo membuat Mingyu menunduk sedih, Yunho melihat perubahan wajah putranya.

'Mianhae Gyu ya'

Sebenarnya Jungsoo tadi memberikan sample Mingyu ke lab, dia melakukan tes DNA, bodoh memang padahal dia sudah tahu anak itu bukan cucu nya tapi agar anak itu lebih percaya dia melakukan tes itu.

.

.

.

==0604==

.

.

.

Jaejoong memikik histeris saat Mingyu pulang malam hari, anak itu merengek tidak mau dirawat dirumah sakit.

"Min...gyu"

Dia melihat perban dikening putranya, Mingyu di ijinkan pulang, karena tidak ada tanda tanda serius, hanya tinggal menunggu lukanya kering saja

"Apa terasa sakit?" Mingyu hanya menggeleng "kau ingin apa sayang?" Tanya Jaejoong lagi

"Tidur" Jaejoong buru-buru merapihkan selimut Mingyu, dia mengusap rambut Mingyu sayang, tak lama anak itu sudah tetidur mungkin efek dari obat nya

"Yun, bagaimana keadaannya?"

"Baik-baik saja, tidak ada luka dalam yang serius 2 hari lagi dia harus control"

"Biar aku yang mengantarnya"

"Baiklah, untuk surat sakit sudah aku titipkan temannya"

"Hmm, aku ingin disini saja, kau tidurlah dikamar kita" ucap Jaejoong

.

.

Jaejoong membatalkan jadwal pemotretan nya hari ini, untuk dramanya tinggal beberapa adegan saja karena sudah akan selesai, jadi dia baru kesana sore hari, tadi Taeyong sudah pergi duluan karena masih ada jadwal maklum dia pendatang baru.

Hari ini dia ingin merawat Mingyu, karena anak itu masih pemulihan. Sekarang pukul 8, Jaejoong sudah membawa nampan makanan beserta susu untuk putranya itu

"Gyu..."

Jaejoong menepuk pelan tubuh Mingyu untuk membangunkannya, Mingyu menggeliat lalu membuka matanya

"Makan dulu nanti minum obat" bujuk Jaejoong, tapi anak itu menggeleng karena masih mengantuk

"Ayo sayang, kau belum makan" bujuk nya lagi, akhirnya Mingyu mendudukan dirinya, Jaejoong langsung menyuapkan bubur ke putranya itu, beruntung Mingyu tak protes.

.

.

Sore Hari

Jaejoong pergi dan Yunho datang, mereka berdua tidak berani meninggalkan Mingyu sendiri saat seperti ini

"Gyu"

Mingyu menoleh ke arah Yunho, ayahnya masuk ke kamarnya sambil membawa plasik besar

"Buka lah"

Mingyu menerima paper bag itu dan melihat kotak besar di dalamnya, saat buka itu matanya langsung membesar takjub, karena isinya adalah sepatu basket dari brand ternama dan stoknya terbatas

"Apa kau suka?" Mingyu mengangguk lalu memeluk Yunho

"Gomawo Appa"

"Cepat sembuh jagoan, pakai saat pertandingan"

Yunho tersenyum putranya menyukai hadiahnya, karena Mingyu dari kecil tidak pernah meminta sesuatu yang aneh.

"Sudah makan?" tanya Yunho, tapi Mingyu menggeleng sebagai jawaban.

"Ayo kita makan diluar" ajak Yunho.

akhir-akhir ini Yunho khawatir karena Mingyu terlihat lebih kurus, entah itu efek dia sakit atau dia bertambah tinggi entalah tapi Yunho sangat

khawatir akan hal itu.

.

.

Pukul 8 malam mereka baru tiba, tadi Yunho mengajak Mingyu ke arena permainan dulu.

"Darimana kalian?" Tanya Jaejoong khawatir, Yunho kaget istrinya sudah pulang.

"kau sudah pulang boo?" tanya Yunho

"jawab pertanyaanku" bentak Jaejoong

"Jalan-jalan saja"

"Kau tahu kan putramu masih pemulihan, kau malah mengajaknya keluyuran , dia harus istriahat Yun" murka Jaejoong

"Ayo Gyu, kau harus istirahat, sudah minum obat?" Mingyu menggeleng, membuat Jaejoong kesal sekali

"Bahkan kau lupa menyu..."

Jaejoong diam karena Mingyu memeluknya sambil mengucapkan kata "jangan marah, aku yang mengajak Appa"

Kalo seperti ini Jaejoong tidak akan marah lagi

"Jangan ulangi nde, Umma tidak mau kau sakit" Jaejoong memeluk putranya itu, Mingyu mengangguk sebagai jawaban. Jaejoong memutuskan untuk meliburkan diri, hatinya resah meniggalkan Mingyu saat kondisi seperti ini. Maka nya dia membolos kerja dengan alasan sakit.

.

.

.

==0604==

.

.

.

Setelah 3 hari bolos akhirnya Mingyu masuk sekolah, banyak yang menanyakan dirinya kemana dan sakit apa tapi setelah mereka melihat perban di kening Mingyu mereka jadi penasaran karena apa.

"Yak Gyu, ini apa" Seokmin menekan perban Mingyu

"Myowa...appo" Mingyu menyingkirkan tangan Seokmin "wah itu sungguhan" ucap Seokmin takjub, karena biasanya dia menonton di drama saja.

"Bagaimana bisa kau mendapat luka ini?" Tanya Hoshi penasaran

"Tergelincir tangga" ucap Mingyu, tak lama dia melihat Wonwoo dengan Seungcheol, Mingyu buru-buru mengejar Seungcheol

"Hyung...cheol Hyung" panggil Mingyu

Seungcheol menoleh kearah Mingyu "Yak kau hilang kemana bocah"

"Hehehe aku sakit hyung" tidak perlu dijelaskan, luka di kening nya sudah terlihat

"Maaf, aku tidak ijin" sesal Mingyu

"Tak apa, semoga lekas sembuh Gyu, kasihan ada yang khawatir kau tidak masuk" Wonwoo buru-buru mencubit pinggang Seungcheol sebagai kode peringatan

"Siapa?" Tanya Mingyu penasaran, Wonwoo menginjak kaki Seungcheol menyuruh dia tutup mulut

"Hmm tent...tu saja pelatih" Wonwoo tersenyum mendengar jawaban Seungcheol "ah...benar juga" jawab Mingyu, memangnya siapa lagi coba?

"Sudah sana masuk, ajak Wonwoo juga"

"Eh..ada Wonu hehe" ucap Mingyu basa basi, Seungcheol pun meninggalkan mereka berdua

"Kau tak apa masuk sekolah?" tanya Wonwoo khawatir

"Hmm ini tinggal penyembuhan saja" ucap Mingyu menenangkan Wonwoo

"Kenapa bisa seperti itu?"

"Tergelincir tangga"

"Makanya hati-hati Gyu" Wonwoo memberi peringatan pada cowok itu

Mingyu senyum-senyum aja denger semua itu dari Wonwoo

.

.

Pulang sekolah

Jaejoong menjemput Mingyu, dia mau mengajak control luka anak itu, dia ijin datang terlambat bekerja. Kesehatan putranya yang utama untuk saat ini.

'Umma didepan sekolah mu' Jaejoong mengirim pesan tak lama Mingyu mengetuk kaca mobilnya

"Kajja"

Mereka tidak tahu ada yang sedang memperhatikan mereka

"Sepertinya anak itu punya ikatan khusus, sampai Jaejoong mau menjemputnya"

.

.

.

==0604==

.

.

.

Rumah sakit

Jaejoong turun duluan, dia berjalan masuk ke rumah sakit menggunakan masker dan kacamata lalu Mingyu menyusul setelahnya

"Anak ku ingin check up" ucap sang supir yang disuruh oleh Jaejoong, karena Jaejoong sekarang sedang berada diruang tunggu

"Siapa namanya?"

"Jung Mingyu"

"Silahkam ke ruangan ini"

Sang supir memberikan berkas Mingyu lalu menyerahkan ke Jaejoong, setelahnya Jaejoong masuk duluan disusul Mingyu ke ruangan dokter tersebut. Tapi Jaejoong tak tahu jika dokter yang akan ia temui adalah Jungsoo.

Dalam ruangan Jaejoong melepas masker dan kacamata nya setelah suster meninggalkan dia berdua saja diruangan itu, suster itu tadi bilang dokternya belum datang, 5 menit kemudian dokter itu datang

"Uisa ada pasien anda"

Jungsoo masuk dan menyapa pasiennya, saat mereka bertatapan

"UM...MA" kaget Jaejoong

"KA...U" Jungsoo pun tak kalah terkejut

Mingyu menatap mereka was-was, dia sangat mengerti Jungsoo sangat membenci Jaejoong

"cepat sini Mingyu" perintah Jungsoo

Jungsoo memeriksa Mingyu, sedangkan Jaejoong sedang perang batin, dia harus bersikap bagaimana, apalagi Jungsoo tau Mingyu, jangan-jangan Yunho juga bertemu seperti dia.

.

10 menit kemudian

"Tebus obat ini" perban Mingyu sudah dibuka tinggal plester saja

"Nde"ucap Mingyu "Gyu, kau tebus ini dulu nde,Umma ingin bicara sebentar" titah Jaejoong dia harus bicara dengan Jungsoo sekarang, mumpung ada kesempatan

Mingyu pun keluar ruangan,setelah dirasa aman Jaejoong langsung bersimpuh di kaki Jungsoo

"Yak apa yang kau lakukan" bentak Jungsoo

"Ijinkan aku bersama Yunho"

"Tidak ku ijinkan saja kalian hidup bersama" sindir Jungsoo

"Restui kami Umma, aku akan menurutimu" pinta Jaejoong, Jungsoo tersenyum meremehkan

"Kenapa harus aku? Yang salah adalah Junho" Jaejoong meratapi nasibnya, ini bukan salah nya, kenapa dia yang harus dibenci oleh Jungsoo

Jungsoo tertawa keras "ya semua berawal dari ibu mu yang menyalahakan putraku, apa dia tahu anakku menderita sekali? Dia gila karena kakakmu" bentak Jungsoo yang kesal jika sudah menyangkut masalah ini

"Nde, aku mewakilinya minta maaf Umma" ucap Jaejoong tulus

"Cih tidak semudah itu, aku sangat sakit hati camkan itu" bentak Jungsoo

"Mohon restui kami Umma hiks" Jaejoong memohon lagi

"Restu? Hahaha, jangan bermimpi" Jungsoo masih membentak Jaejoong

"Aku akan melakukan apapun" Jaejoong sudah putus asa sekali, karena tak kunjung mendapat restu mertua nya ini

"Tinggalkan Yunho, biarkan dia menikah lagi" jawab Jungsoo mutlak

"Tap...pi..."

"Jika kau tidak mau, berikan aku cucu kandung, harus dari rahimmu, tidak boleh menggunakan ibu pengganti" ucap Jungsoo meremehkan

"Aku tidak bisa hamil" jawab Jaejoong sedih

"Yasudah balik satu, dan aku akan merestui kalian"

Jaejoong bungkam, tak lama dia berbicara lagi

"Aku akan memenuhi salah satunya"

"Baguslah" Jungsoo tersenyum puas, Jaejoong tidak punya pilihan selain melepas Yunho, karena Mingyu adalah anak pungut mereka.

Dan Mingyu mendengar itu semua, dia mengumpat di balik pintu. Hatinya sedih mendengar itu semua. Bukankah Jungsoo sudah berjanji jika Mingyu pergi dia tidak akan memisahkan Appa dan Umma nya. Kenapa sekarang berbeda? Jika seperti ini sama saja, Mingyu menetap atau pergi, Jungsoo tetap memisahkan Appa dan Umma nya. Licik sekali wanita tua itu.

.

.

.

==0604==

.

.

.

"Siapa kau?" tanya wanita itu

"Aku disini untuk mengajakmu bekerja sama" tawar Junho kepada Hyosung, wanita itu terdiam bingung tak lama dia paham yang dimaksud

"Kau membenci Jaejoong juga?" Tanya wanita itu, dan Junho tertawa keras, tentu tidak dia mencintai Jaejoong

"Aku mencintai dia" jawab Junho jujur

Hyosung bingung kenapa dia mengajak kerjasama jika tujuan mereka saja berbeda

"Aku ingin melenyapkan harta berharganya" lanjut Junho lagi

Hyosung makin penasaran dengan Junho, sepertinya dia tahu banyak tentang musuhnya itu

"Aku tak mengerti"

Junho tersenyum sinis "aku tahu kau ingin menghancurkan karir Jaejoong kan? Kau tahu dia tak bisa punya anak, tapi sayang nya kau tidak punya bukti"

Hyosung tersentak kaget, bagaimana bisa lelaki didepannya ini tahu rencananya, dia sungguh berbahaya

"Aku punya yang kau inginkan"

"Lalu apa mau mu?"

Hyosung tahu di dunia ini tidak ada yang gratis bukan?

"Saat berita yang kau inginkan keluar, culik Taeyeong dan anak ini tapi sebelum itu teror mereka dulu" tawar Junho

Hyosung mengenal Taeyong, dia bertemu anak itu berkali kali. lalu untuk anak didalam foto itu, dia tidak tahu siapa.

"Untuk apa aku menculik dan meneror nya?" Tanya Hyosung penasaran

"Kau tidak perlu tahu terlalu jauh, jalankan saja tugasmu" perintah Junho lalu Hyosung pun mengangguk

"Aku akan memberikan ini, jika kau menjalankan tugas pertamamu untuk meneror nya" Hyosung mengangguk, Junho pun segera beranjak pergi

.

.

.

TBC


Holla i'm back dengan drama keluarga YunJaeMin, maaf lagi-lagi tidak bisa update cepet T_T

btw ini sudah mau akhir loh, tinggal beberapa chapter lagi hehe, ada yang mau nebak gimana selanjutnya?

.

seperti biasa makasih buat yang mau review ff ku ini hehe

SPECIAL THANKS FOR :

soufi park , xxbbiw06, Chiaka Angels , Shyoon17, Guest, neneseonjangnim, Guest, Teukie angel4 , Kameleea, Jaewoon, Shasae, priaanisa88.