Disclaimer: Masashi Kishimoto, seo kouji
Rating: T
genre: romence
Warning : Semi Canon, OOC, Absurd, typo, etc.
...
'Dilarang masturbrasi'
Naruto menatap kertas bertulisan larangan tersebut tanpa berkedip sekalipun. Dia diam disana cukup lama untuk berpikir, sampai dirinya mengetahui siapa orang yang berani menempelkan kata-kata itu didepan pintu kamar mandinya. Siapa lagi kalau bukan Fu.
Keinginan untuk mandi pagi seketika hilang. Tergantikan oleh rasa penasaran yang begitu besar. Okey, Naruto tau kalau dia melakukan hal itu. Tapi bagaimana Fu tau. Dan kenapa dia harus menulis larangan itu."Memangnya dia siapa melarang-melarangku
"yup, kau tak boleh melakukan itu lagi"Naruto mendapati gadis berkulit eksotis dibelakangnya. Dengan kedua tangan dipinggang, ia kemudian berkata"aku merasakannya, dan aku benci itu"ujar Fu sambil memalingkan wajahnya
"Sudah aku bilang, aku tak melakukan apapun" jelas Naruto dengan muka yang agak gelisah
Fu mengangkat tangan kanannya. Mempersiapkan telapak tangannya untuk dilayangkan ke pipinya sendiri. Tunggu apa...
PLAK
"kau merasakannya?" tanya Fu.
Naruto merasakan sakit dipipinya(juga). Dia menggaduh beberapa kali. Pipi putih milik Naruto terlihat memerah. Bukan karena merona akan tetapi rasa panas di pipinya begitu membara. Naruto hanya bisa menggaduh saat ini. Namun ia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"ya, terus apa maksudmu"
"aku menyimpulkan, selain kita tidak bisa saling meninggalkan. Kita juga tidak bisa saling melukai secara fisik"
"Hah, apa maksudmu" Naruto masih tak mengerti
"intinya, kita saling berbagi secara fisik"
Deng! Naruto membeku seketika. Dia tak melontarkan pertanyaan bodoh lagi. Dia hanya diam dan berkeluh dengan pikirannya"jadi, jika tadi malam aku membunuhnya. Akupun akan mati" benaknya berujar
"Kurasa ini adalah cara Tuhan agar kita tidak saling membunuh-hei, aku sedang bicara disini"Fu memajukan mulutnya. Ia kesal dengan Naruto. Ya lah, ia tengah berbicara panjang lebar dan Naruto terlihat tidak peduli sama sekali . Itu semua terlihat jelas dengan mata Naruto yang terpejam.
"ya aku rasa begitu-eh.." jawaban Naruto yang sangat telat sambil membuka matanya. Gadis yang menurutnya sangat cerewet itu sudah hilang entah kemana. Diwaktu yang sama, disaat ia masih terbingung dengan hilangnya Fu.Dia mendengar air mengalir di kamar mandi. Ini menandakan bahwa ada orang lain yang menggunakan kamar mandinya
"WOY BOCAH, CEPETAN KELUAR"
"HARUSNYA AKU DULU YANG MANDI"
"PUNYA HAK APA AND-"
"Berisk!!!"Naruto mengerinyitkan jidatnya. Naruto membalikan badan dan mendapati Fu tengah menatapnya dengan tajam. Naruto tak mengetahui sejak kapan Fu ada dibelakang punggungnya.
Naruto menyadari suatu hal. "lalu siapa yang dikamar mandi"Naruto segera mendobrak pintu kamar mandi. "HEI, BUKA PINTUNYA SIALAN" Pintunya berhasil terbuka. Namun tak ada seorang pun didalam kamar mandi. Tak ada yang hilang dikamar mandi Naruto. Tentu saja, maling mana yang mau mencuri dikamar mandi.
"Apa kau yang mengisi air di ember hingga sepenuh ini"
"tidak"jawab Fu atas pertanyaan yang di ajukan oleh 'teman' sekamarnya
Naruto merasa aneh dengan kejadian ini. Dan yang paling aneh lagi adalah ia menemukan sebuah shampo dan kondisoner ada diantara pelengkapan mandinya. Naruto sangat jarang atau bahkan tak pernah membersihkan rambutnya. Aneh rasanya bila ada kedua benda itu.
"ini milikmu?"
Fu menelisik benda-benda yang ada di tangan Naruto. Mata Fu berkilau seketika. Dan Dilanjutkan dengan teriakan histeris. "a-apa ini punyamu?"
"ITU TIDAK MENJAWABKU,BODOH"
Naruto menjauhkan shampo dan kondisoner itu dari jangkauan Fu"ini punyaku, aku yang menemukannya"ucap Naruto sambil mengindari gerak tangan Fu yang begitu lincah. Entah kenapa Naruto menginginkan barang-barang itu.
"ayo lah, sedikit saja"pinta Fu. Gadis bersurai melon itu meloncat-loncat. Berusaha menggapai benda yang sudah ia mimpikan."bagi sedikit saja"kaki Fu mulai pegal. Dan nafasnya pun mulai terasa sesak.
"baiklah, kau boleh meminjamnya"Naruto merasa kasian pada Fu dan ia juga mulai lelah dengan perebutan benda yang sebenarnya tak terlalu berguna baginya. Fu sedikit kaget, ia tak menyangka jika Naruto bakal menyerah. Saat Fu mengulurkan tangannya vuntuk mengambil kedua botol itu. Naruto dengan cekatan segera mengelak dan melarikan diri dari Fu.
Sambil memeletkan lidah, Naruto pergi keluar dari kamar mandi."Dasar bocah"diselangi gelak tawa yang keras, Naruto kembali berujar"kau terlalu mudah untuk di bohongi"
Kegembiraan Naruto tak berlangsung lama. Karena Fu bergerak cepat menabrak tubuh pemuda pirang tersebut. Naruto yang terkejut tak memiliki waktu untuk menghindar. Ia terpaksa merelakan punggungnya beradu dengan ubin. Akan tetapi sebelum badannya terpental jatuh. Dirinya masih sempat meraih pinggang ramping gadis yang mendorongnya itu. Dan membuat Fu ikut jatuh ke atas dadanya yang bidang. Fu Benar-benar tepat menindih badan Naruto
Keduanya menggaduh bersamaan. Mereka merasakan pilu yang sama dipunggungnya. Sungguh ini menyiksa Fu. Padahal bukan punggungnya yang berbenturan dengan lantai. Tapi dia juga terpaksa merasakannya. Namun ada hal aneh yang dirasakan Fu. Ia merasakan sensasi ganjil yang membuatnya merinding dari pinggangnya dan menyeruak keseluruh tubuhnya. Akan tetapi Fu masih bisa menyembunyikannya. Sayangnya hati nya tak bisa. Hatinya mulai menggebu tak biasa
"agh...Apa kau harus menabrakku"kata Naruto, yang masih merasa kesakitan
"ya makanya jangan pelit"jawab Fu sambil mendangakan kepalanya. Ia Langsung menatap manik pemuda itu dengan sinis. Sinis-sinis-tenggelam tiba-tiba di mata pemuda tersebut.
Keduanya saling menatap dalam hening tanpa ada sepatah kata yang terucap. Sampai...
"mukamu merah tuh"
EH!??
Kalimat tadi terucap begitu saja dari bibir Naruto. Melayang, berterbangan memasuki telinga gadis bermanik madu tersebut. Tentu Naruto sudah menyadari perubahan warna wajah Fu sejak tadi. Ucapan itu sukses membuat Fu salah tingkah. Dan ia merakan detak jantungnya berdebar semakin cepat tak karuan.
"GA!!!"Fu langsung bangun. Dia membelakangi Naruto. Berusaha menenangkan batinnya yang menggila. Gadis eksotis itu menarik nafas kuat-kuat. Dan melepaskan nafasnya dengan berat.
"hei muka mu masih merah tuh"kata Naruto menjaili Fu.
"ENGGAK"
Jarum jam baru saja menunjukan pukul 9 pagi akan tetapi keributan sudah memekikan telinga. Keduanya saling beradu dengan kata. Keduanya terlanjur sibuk dengan pertarungan mereka sampai lupa dari mana asal kondisoner, shampo serta secarcik kertas yang tertinggal di peralatan mandi Naruto.
...
Suara lirih khas dari Naruto memanggil namanya, mengganggu gadis itu yang tengah berimajinasi. Fu menengok ke arah asal suara. Ia menangkap pemandangan yang hampir membuatnya mimisan. Ia melihat Naruto tengah bertelanjang dada dengan tetesan air yang belum sempat dikeringkan. Fu mengakui Naruto sangat seksi.Ups, Fu gagal mengontrol dirinya. Dia tertangkap basah bengong, menatap tubuh Naruto.
"a-apa? aku tampan ya? Aku sudah tau itu"balas Naruto atas tatapan Fu dengan nada sombong yang begitu menybalkan.
"aku mau muntah"kata Fu sambil memalingkan wajahnya kearah yang berbeda.
Setelah berpakaian, Naruto kembali memulai pembicaraan.
"apa kau mau mandi?"tanya Naruto
"ya tapi nanti setelah aku membeli gembok dan baju. Jadi kau harus menemaniku berbelanja hari ini"
~ring~
~ring~
~ring~
Naruto lebih memilih mengakat telepon dari pada menjawab pertanyaan Fu. Ini telepon penting. Sangat penting malah
"halo"
HEI DIA TAK MEMPEDULIKAN AKU
Fu siap berkelakar hebat akan tetapi ia urungkan. Ia gagalkan niatnya karena wajah Naruto berubah tegang saat sehabis menjawab telepon.
...
"eh, aku lupa ga bawa dompet. Talangin dulu ya"Fu menyeringai. Berusaha mengeluarkan senyuman termanisnya. 'manis' Naruto mengerinyitkan alisnya. Ia menypitkan matanya, pertanda ia tidak mau.
Naruto menghela nafas dan mengangguk pelan dengan terpaksa"ya udah, cepet cari baju yang kau mau"
Bola mata Fu melebar. Di ikuti munculnya senyum merekah diwajahnya. Fu segera menyeret Naruto untuk menelusuri toko baju tersebut.
Naruto mengecek arlojinya. Untuk sekian kali lagi Naruto memperhatikan Fu yang masih saja memilih baju. "BISA LEBIH CEPET GA?"Amarahnya sudah tak bisa ia tahan lagi. Dia sudah terlalu lama menunggu Fu yang tak selesai-selesai
Sambil tertawa kecil Fu mendekati Naruto "maafkan aku, baju-baju disini bagus semua"
Bagus=mahal
Naruto mengingat-ngingat isi dompetnya sejenak. Belum juga terbenakan berapa uang yang ia punya, tangannya sudah ditarik Fu untuk pergi ke kasir
"segini ajah baju yang mau kubeli"
'Segini'... Persimpangan muncul disudut dahi pemuda pirang tersebut. Karena dibanding segini, belanjaan Fu lebih bisa dibilang segunung. Naruto mengorek saku belakang celananya untuk mengambil dompet. Seraya berdoa Naruto membuka dompetnya.
"Ehhhh...Bi-bisakah kau mengurangi belanjaanmu ini"pinta Naruto, ia sadar uangnya takan cukup untuk membayar ini semua.
"ini sudah sedikit tau"
"tapi harganya ga sedikit bocah"gerutu Naruto didepan Fu
Fu memajukan bibirnya. Dilanjutkan dengan kedua bolanya yang memutar"bilang ajah ga ada uang, lagipula semuanya tak akan sebesar utang negara"
Gadis itu menelisik belanjaanya. Tanganya ia gunakan untuk mencari baju yang paling cocok. Tentu, ia sangat kecewa harus mengurangi belanjaannya. Semua itu terlihat jelas dari aura masam diparasnya
"udah nih"ujar Fu setelah memilah pakaian dan celana yang kira-kiranya cocok untuk dia pakai.
"ini udah dikurangi? Hei, ini masih banyak"
Naruto mengerinyit sedikit. Belanjaan Fu terlihat tidak berkurang sama sekali dimata Naruto. Pemuda bersurai kuning itu siap memprotes namun ucapan kasir menggagalkannya
"beliin baju buat pacarnya ya, mas"
PACAR!!! MAMI LO KAYANG
Pertanyaan macam apa itu, pikir Naruto. Aura suram menyelimuti Naruto seketika. Tatapan rubah yang menyeramkan, menyerang kasir kurang ajar tersebut"Dia sepupuku" balas Naruto dengan nada datar.
"oh kirain, soalnya kalian cocok banget"tambah kasir tersebut
Naruto dan Fu saling melirik. Keduanya sama-sama berpikir"COCOK DIBELAH MANANYA". Fu mengalihkan bola matanya kearah kasir. "jadi semuanya berapa?"tanya Fu untuk segera menyudahi pembicaraan yang menjengkelkan ini.
"ohhh iyah, jadi segini semua"
"TUHKAN MASIH MAHAL"Naruto berkoar keras kepada Fu. Dan gadis berambut lemon itu hanya bisa menyengir tanpa dosa sebagai balasan. Keduanya tidak mempedulikan sikasir yang tengah menertawakan tingkah laku mereka yang seperti anak kecil.
...
"hei, apa kau masih marah?"tanya Fu . Disampingnya, Naruto tak bergeming sama sekali. Ia terus berjalan lebih cepat untuk meninggalkan Fu yang sangat ribet membawa belanjaannya. Suruh siapa belanja kebanyakan-_
"maafkan aku"Naruto sedikit kaget dengan ucapan Fu. Ia sempat menengok ke wajah Fu atau lebih tepatnya ke dahi Fu yang mulai berkeringat
Naruto menghela nafas kuatt"aghhh..."pemuda bermanik indah itu berputar, dan segera mendekati Fu. Naruto mengeluarkan sapu tangannya dari saku celana.
"Maaf"kata Fu sama dengan nada yang masih sama yaitu nada menyesal.
Sambil mengelap keringat di dahi Fu, Naruto kembali berujar"Sudahlah, kau tak perlu meminta maaf"sebuah tetesan tangis baru saja akan jatuh. Akan tetapi rasa sedih itu hilang dengan cepat. Dan senyumpun tiba di wajahnya seketika
"Itu aneh"lanjut Naruto
Fu mengembungkan pipinya. Ia memengadah ke atas, memperlihatkan kedua manik madunya yang sudah agak basah oleh air matanya."jadi, minta maaf itu aneh?"tanya Fu dengan nada menyentak
"jika kau yang minta maaf itu aneh"jawab Naruto simpel. Setelah habis keringat Fu. Tangan Naruto langsung bergerak mengambil belanjaan yang terlihat begitu berat.
"ke-kenapa, jangan dibuang!!!"teriak Fu pada Naruto. Tentu, teriakan itu membuat semua orang memperhatikan mereka
"ga bakal aku buang..."
"kau membawakannya untukku?"tanya gadis itu dengan agak malu-malu
"ayoo, cepet, aku mau cari makan nih"Naruto hanya berkata seperti itu dan kembali berjalan
"JANGAN TERLALU JAUH, BODOH"
...
Disanalah keduanya, diatas para pejalan kaki biasa melangkah. Naruto dan Fu melangkah seirama."kalian tak boleh saling meninggalkan". Itu lah alasan paling jelas kenapa mereka tak saling mendahului. Akan tetapi Selain ikatan dari tuhan, sebuah earphone pun memaksa mereka untuk tak saling meninggalkan
Menari... bersamaku
Temani... hingga akhir waktu
Jalani... bersamaku
Tak ada yang selamanya,Tapi aku 'kan ada
Di setiap perjalanan cinta
-Rizki Febian
"aku suka lagu ini"ekpresi Fu untuk lagu yang dia nyalakan di handphonenya
"aku jug- Sa-sakura!"Naruto sedikit terpental. Ia melihat kekasihnya di depan matanya langsung tengah berdua bersama orang lain. Dan biadabnya lagi 'orang lain' itu adalah komandannya di kepolisian
"kenapa kau disini- dan dia?"Naruto langsung bertanya membabi buta kepada sakura
"KAU YANG KENAPA DISINI!!!" Naruto semakin terpental dengan sentakan pacarnya
"kau bilang ditelepon kau sakit. Aku hanya khawatir dan ingin menjengukmu bersama Sasuke. Dan kau berjalan dengan wanita lain..."
"Da-dan mendengarkan lagu di satu earphone yang sama. Itu romantis.."Sakura sesak menjelahkan semua isi hatinya saat itu. Ia tak tau harus melakukan apa. Ia hanya bisa menagis dan menutupi mulutnya untuk meredam suara isakannya.
"aku tak melak-"
PLAK
"aku membencimu Naruto!"Itulah kata terakhir dari sakura sebelum dirinya pergi dari sana. Untuk pertama kalinya dia melakukan itu. Menangis-menampar-pergi. Sakura sudah terlanjur tersakiti untuk berpikir jernih dan mendengarkan penjelasan kekasihnya.
Bersambung...
A/n: hmm...Aku bakal berusaha menamatkan cerita ini entah bagaimanapun juga. Emang sih ga ada yang nungguin fic dariku tapi aku bakal berusaha semaksimal mungkin untuk menulis dan belajar menjadi seorang penulis yang baik... Makanya aku butuh banget komentar-komentar kalian
LAH CURHAT-_
ya segitu ajah cuap-cuapku kali ini. Jangan lupa riviewnya ya...
