He's Our Son?!
-
Chapter 4
.
.
.
.
.
Yoongi membuka pintu kamar Namjoon lebar-lebar, membiarkannya terbuka. Tampaklah kamar Namjoon yang gelap.
"Saklar lampunya disamping pintu hyung," Namjoon berucap di balik Yoongi. Dirinya masih setia menggendong Jihoon yang masih terlelap. Yoongi mengangguk dan melangkah masuk, mencari saklar lampu yang disebutkan dan menekannya sehingga lampu menyala. Menerangi kamar Namjoon.
Yoongi dan Namjoon masuk kedalam kamar dan berjalan kearah tempat tidur. Namjoon meletakan Jihoon ke tengah-tengah kasur. Jihoon sedikit menggeliat tak nyaman, tapi bocah itu akhirnya tetap terlelap. Napasnya naik turun dengan teratur.
Ya, Namjoon dan Yoongi akhirnya sepakat untuk tidur di kamar Namjoon. Beberapa pertimbangan dipikirkan- salah satunya adalah tempat tidur Namjoon yang lebih luas dibanding tempat tidur Yoongi -dan mereka akhirnya memutuskan untuk memakai kamar Namjoon saja.
Setelah Namjoon meletakkan Jihoon ke atas kasur, Namjoon berdiri memandangi Jihoon sambil tersenyum tipis. "Uh, akhirnya..." ujar Namjoon pelan sambil mengangkat tangannya ke atas. Meregangkan otot-otot tangannya yang terasa pegal setelah menggendong Jihoon sekian lama.
Yoongi memerhatikan ekspresi Namjoon dari tempatnya berdiri. Ekspresi Namjoon tampak lelah dan itu membuat Yoongi merasa tak enak karena membiarkan Namjoon menggendong Jihoon sendirian.
"Hyung, aku mau mandi dulu. Bagaimana denganmu?"
Pertanyaan Namjoon menyadarkan Yoongi bahwa sekarang dialah yang diperhatikan oleh Namjoon.
"Eh? Oh... Umm, aku juga akan mandi. Di kamarku tentu saja."
Namjoon mengangguk, "Oke, kalau begitu aku duluan ya hyung," ucap Namjoon.
"Ne, aku juga akan kembali ke kamarku."
.
.
.
Namjoon dan Yoongi sudah menyelesaikan mandi mereka masing-masing. Sekarang, mereka berdua tengah berbaring di atas tempat tidur Namjoon. Tentu saja bersama Jihoon yang tidur di tengah-tengah mereka.
Mereka berdua terdiam di posisi mereka masing-masing. Masing-masing sibuk bersandar sambil memainkan sesuatu di ponsel mereka. Tidak ada percakapan yang terjadi sampai Namjoon membuka suara, "Hyung," panggilnya.
Yoongi melirik kearah Namjoon.
"Ya?"
"Mau mengobrol?"
.
.
.
Namjoon menyodorkan secangkir kopi hangat ke arah Yoongi. Yoongi menerima cangkir tersebut, "Terima kasih," ucapnya pelan.
Namjoon mengangguk, "Aku harap itu sesuai seleramu hyung," ujar Namjoon sambil tersenyum tipis. Ia kemudian mendudukkan diri di samping Yoongi.
Mereka berdua masih terdiam, masing-masing memegang secangkir kopi di tangan mereka. Menggunakan panas dari minuman pekat itu sebagai sumber kehangatan bagi tangan mereka masing-masing.
"Hyung."
"Ne."
"Apa kau pernah berpikir tentang pernikahan?"
Yoongi menengok ke arah Namjoon, "Ne?"
Namjoon tertawa kecil, "Entahlah hyung, aku tidak pernah memikirkan tentang pernikahan. Pasangan hidup? Aku meragukan akan hal itu. Bahkan tidak pernah terlintas bahwa aku akan mempunyai seorang anak dan menjadi ayah," ujar Namjoon pelan.
Yoongi memerhatikan ekspresi Namjoon dalam diam. Membiarkan pria yang lebih muda setahun darinya itu melanjutkan kata-katanya.
"Tapi sekarang, tiba-tiba seorang anak kecil datang dan mengaku bahwa kita adalah orang tuanya. Bukankah ini aneh hyung? Jika dia datang dari masa depan, bagaimana mungkin itu terjadi? Kita bahkan tidak pernah memandang satu sama lain dengan perasaan cinta yang seperti itu, lalu bagaimana mungkin kita bisa menikah?" ungkap Namjoon panjang lebar.
"Bukannya aku meragukan foto yang ditunjukkan oleh Taehyung, hanya saja... Apakah itu mungkin terjadi?" lanjut Namjoon.
Yoongi menatap Namjoon dengan intens.
'Kita bahkan tidak pernah memandang satu sama lain dengan perasaan cinta yang seperti itu...'
Entah mengapa hati Yoongi merasa sedikit tercubit mendengar perkataan Namjoon.
"Ah, maaf aku berbicara terlalu banyak ya hyung?" Namjoon terkekeh.
Yoongi menggeleng, "Ani."
Namjoon masih terkekeh, "Lalu, kalau menurutmu bagaimana hyung?"
Yoongi terdiam. Tangannya masih memegang erat-erat cangkir berisi kopi hangat itu. Yoongi menghela napas.
"Aku, pernah terpikir untuk menikah, sekali."
Sekarang Namjoon balik menatap Yoongi serius.
"Tapi kemudian aku menyadari suatu hal. Kemungkinan aku menikah dengan orang itu... Rasanya tidak mungkin," Yoongi berujar pelan.
"Tidak mungkin?"
Yoongi menyeruput pelan-pelan kopinya sebelum menjawab.
"Ya. Tidak mungkin."
Namjoon masih memandang kearah Yoongi dalam diam, menunggu hyung-nya itu untuk berbicara lagi. Namun Yoongi tidak berucap apapun lagi.
"Apa, kau masih menyimpan keinginan untuk menikah dengan orang itu?" Namjoon akhirnya bertanya.
Terjadi hening yang cukup panjang, sampai akhirnya Yoongi pun menjawab pertanyaan Namjoon.
"Ne."
.
.
.
Namjoon dan Yoongi berakhir tidur saat matahari akan menerbitkan dirinya. Mereka berdua akhirnya bergabung dengan Jihoon di kamar Namjoon setelah berbicara banyak hal, kebanyakan tentang Jihoon pastinya.
Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Baru sekitar 3 jam Namjoon dan Yoongi mengistirahatkan tubuh mereka di ranjang yang empuk, Yoongi merasakan wajahnya ditekan-tekan oleh sesuatu.
Mencoba mengabaikan sentuhan itu, Yoongi mencoba menghalau sentuhan itu dengan tangannya.
"Papa... Papa..."
Sayup-sayup Yoongi mendengar suara seorang bocah laki-laki. Ia mencoba mengabaikannya lagi, berpikir bahwa mungkin itu hanya daya khayalnya saja.
"Pa... Papa..."
Yoongi mengerang, kenapa daya khayalnya mengganggu sekali?! Lagipula, kenapa suara bocah itu seperti Jihoon?
1 detik
2 detik
3 detik
TUNGGU! JIHOON?
Yoongi buru-buru membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya, menyesuaikan matanya dengan cahaya di dalam kamar. Sampai akhirnya, Yoongi dapat melihat Jihoon. Bocah itu duduk di menghadap kearahnya, menatapnya takut-takut.
"Papa?"
Yoongi menepuk dahinya sendiri. Bagaimana bisa ia melupakan bahwa dirinya sudah menjadi 'papa' dalam satu malam? Ia akhirnya bangun dan merubah posisinya menjadi bersandar di kepala tempat tidur.
"Ne? Ada apa Jihoon-ah?" tanya Yoongi dengan suara seraknya. Suara yang khas sekali ketika ia baru bangun tidur.
Jihoon memandang Yoongi dengan pandangan berbinar.
"Papa sudah ingat padaku?"
Yoongi memandang Jihoon yang terlihat sangat bahagia. Yoongi menghela napas pelan. Pada akhirnya, ia memang harus berkata jujur pada bocah itu bukan?
"Ani. Aku belum mengingatmu Jihoon."
Jawaban Yoongi berhasil meredupkan binar di mata Jihoon. Jihoon menunduk, tidak lagi menatap Yoongi.
"Maaf."
Yoongi memandang Jihoon yang mulai mengusap matanya.
"Hei.. jangan menangis..."
"Hiks... Tapi papa tidak ingat padaku... Appa pun juga... bahkan paman Taetae dan paman Kookie juga tidak..." isak Jihoon.
Yoongi memandang Jihoon iba. Ia kemudian menarik Jihoon kearahnya. Memeluk tubuh mungil Jihoon dan mengusap punggung Jihoon, mencoba menenangkannya.
"Hei... Maafkan aku karena tidak mengingatmu Jihoon-ah," ucap Yoongi masih memeluk Jihoon.
"Hiks... apa itu berarti... Aku tidak bisa memanggil papa dan appa sebagai orang tuaku lagi?" Jihoon bertanya dalam tangis.
Yoongi menggelengkan kepalanya. "Jihoon-ah tentu saja tidak. Walaupun aku dan Namjoon tidak bisa mengingatmu, tapi yang terpenting adalah ingatanmu akan kami. Dalam ingatanmu, kami adalah orang tuamu. Maka, sekarang pun kami adalah orang tuamu," Yoongi berkata lembut sambil mengusap lembut rambut Jihoon.
Yoongi menangkup wajah Jihoon dengan kedua tangannya dan mengangkatnya agar Jihoon melihatnya.
"Jihoon-ah, jangan sedih," Yoongi berucap sambil menghapus air mata Jihoon. Jihoon akhirnya berhenti menangis.
"Papa?"
Jihoon memanggil Yoongi takut-takut.
Yoongi mengangguk.
"Ne."
Binar di mata Jihoon kembali. "Papa!" panggil Jihoon sekali lagi dengan suara yang lebih keras.
Yoongi terkekeh, "Ne Jihoon-ah."
Jihoon ikut tertawa melihat Yoongi yang terkekeh.
"Berarti papa juga harus memanggil dirinya 'papa'! Papa kan selalu menyebut dirinya 'papa' jika berbicara padaku!
Yoongi menimbang-nimbang sebelum akhirnya tertawa kecil, "Ne."
Jihoon tersenyum lebar mendengar jawaban Yoongi.
"Nah, sekarang... kenapa tadi kau membangunkanku hmm?" Yoongi bertanya kepada Jihoon.
"Papa... Aku lapar."
Jawaban polos dari Jihoon membuat Yoongi kembali terkekeh.
Yoongi membatin, jadi inikah rasanya menjadi orang tua?
.
.
.
Yoongi memasakkan Jihoon sarapan seadanya. Hanya telur omelet yang ditambah beberapa potongan sayur kemudian dihidangkan dengan sedikit nasi. Tak lupa ia juga membuatkan susu hangat untuk Jihoon. Ia sendiri hanya membuat kopi untuk sarapannya.
Yoongi memandang Jihoon yang makan dengan lahap. Ada senyum tipis yang terukir dibibir Yoongi.
"Papa. Apa tidak apa-apa kita sarapan terlebih dahulu tanpa appa? Biasanya papa tidak pernah mengizinkanku untuk makan pagi tanpa appa..." Jihoon menatap Yoongi dengan pandangan bertanya.
"Apakah biasanya, kita selalu makan pagi bertiga Jihoon-ah?"
Jihoon mengangguk mantap, "Ne."
Yoongi balas mengangguk, "Baiklah, kalau begitu pagi ini adalah pengecualian Jihoon-ah," jawab Yoongi.
"Kenapa?"
Yoongi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Uhm itu karena..."
Tunggu, haruskah Yoongi memanggil Namjoon dengan nama atau dengan sebutan 'appa'?
"Karena...?" Jihoon menunggu lanjutan kalimat dari Yoongi.
"Itu karena... Karena appa benar-benar lelah semalam Jihoon-ah," Yoongi bersusah payah menyelesaikan kalimatnya. Lidahnya terasa geli saat menyebut Namjoon dengan panggilan 'appa'.
Jihoon mengangguk-anggukan kepalanya. Ia kembali melanjutkan makannya hingga habis. Jihoon meneguk susunya hingga habis pula.
"Sudah kenyang?" tanya Yoongi sambil tersenyum tipis.
"Ne!"
Jawaban bersemangat Jihoon membuat Yoongi terkekeh.
"Papa, sekarang aku mandi ya?"
Yoongi mengangguk, hendak menjawab iya saat ia tersadar akan satu hal. Ia tidak punya baju anak-anak untuk bocah berusia 5 tahun!
"Eh, tunggu sebentar Jihoon-ah. Papa tidak punya baju ganti untukmu," Yoongi berujar panik. Lupa sekali akan hal ini.
Jihoon mengerucutkan bibir, "Jadi aku tidak mandi, papa?" tanya Jihoon.
Yoongi menggeleng, "Tidak. Tentu kau akan mandi. Tapi papa perlu mencari baju ganti untukmu terlebih dahulu," ucap Yoongi.
"Baju ganti?"
Sebuah suara berat berhasil membuat Yoongi dan Jihoon menengok.
"Appa!"
Jihoon hampir berteriak saat melihat Namjoon yang masih mengantuk dalam balutan piyamanya.
"Hmm? Jihoon-ah?"
"Appa sudah bangun!"
Namjoon menganggukan kepalanya, "Ne..."
"Joon-ah."
Panggilan Yoongi mengalihkan perhatian Namjoon dari Jihoon.
"Waeyo hyung?" Namjoon memfokuskan matanya ke Yoongi.
"Baju ganti untuk Jihoon. Bagaimana?" tanya Yoongi bingung.
Namjoon terdiam sebentar, "Sudah coba hubungi Sejin hyung? Mungkin dia bisa membantu kita mendapatkan baju anak-anak dari coordi nuna," saran Namjoon.
"Baiklah."
.
.
.
Akhirnya Sejin sampai di dorm Bangtan sekitar pukul 8. Ditangannya, ia membawa banyak kantong plastik yang berisi baju anak-anak untuk Jihoon. Ia menyerahkan kantong-kantong itu kepada Yoongi. Yoongi akhirnya membantu Jihoon untuk mandi dan berpakaian.
"Kalian seperti pasangan yang benar-benar sudah menikah," celetuk Sejin. Saat ini ia dan Namjoon sedang duduk di ruang tamu milik Bangtan.
Namjoon terdiam, ia hanya menggumam tak jelas menanggapi komentar dari Sejin.
"Jadi bagaimana?"
Namjoon melirik kearah Sejin.
"Maksdumu hyung?"
"Apakah... Kau dan Yoongi akan berpura-pura menjadi orang tua dari Jihoon?"
"Tidak. Aku dan Yoongi hyung sudah sepakat akan mengatakan yang sejujurnya kepada Jihoon. Kenyataan bahwa kami tidak ingat akan dirinya. Dan juga mungkin kenyataan bahwa dia berasal dari waktu yang berbeda dari kami."
"Lalu?"
Namjoon menatap Sejin dengan pandangan bertanya. "Lalu?" ulang Namjoon.
"Apakah kalian akan tetap bersikap sebagai orang tua Jihoon?"
"Ne."
.
.
.
.
.
to be continued
