He's Our Son?!

-

Chapter 5

.

.

.

.

.

"Apakah kalian akan tetap bersikap sebagai orang tua Jihoon?"

"Ne."

"Kau yakin?"

Namjoon mengangguk singkat, "Ya, hyung."

"Sudah membicarakan ini dengan Yoongi?"

"Ne."

"Sudah siap dengan segala hal buruk yang mungkin terjadi?"

Keheningan menjawab pertanyaan dari Sejin. Namjoon masih diam dan tidak menjawab pertanyaan Sejin.

"Kau sadar bukan, jika Jihoon tertangkap oleh media, hal ini akan membahayakan karirmu dan Yoongi."

"Dan juga BTS," lanjut Sejin serius.

Namjoon mengangguk, "Aku dan Yoongi sadar akan hal itu, hyung."

"Lalu kalian tetap akan mempertahankan Jihoon walaupun sudah mengetahui konsekuensi terburuknya?"

Namjoon mengangguk yakin.

"Ya."

.

.

.

Sejin pulang setelah seluruh member Bangtan terbangun dari tidurnya. Bersamaan dengan pulangnya Sejin, Namjoon, Yoongi dan Jihoon ikut pergi untuk membeli pakaian anak-anak. Pakaian untuk Jihoon tentunya.

Jam dinding di ruang tamu milik Bangtan telah menunjukkan hampir pukul 10 pagi. Jimin, Taehyung, dan Jungkook tengah duduk derdempetan di sofa berwarna hitam yang terletak di tengah ruang tamu. Ketiga pemuda yang biasa dijuluki maknae line itu masih mengenakan piyama tidur mereka. Taehyung yang terduduk di tengah-tengah Jimin dan Jungkook menguap lebar dan mengusap matanya, masih mengantuk rupanya.

Tak lama, Hoseok dan Seokjin datang ke ruang tamu. Masing-masing di tangan mereka memegang sepiring nasi goreng sebagai sarapan mereka.

"Hei, sana sarapan dulu kalian..." ucap Seokjin yang sudah mengambil tempat di salah satu arm chair berwarna merah di ruang tamu. Hoseok mengambil tempat di arm chair berwarna merah lain yang terletak di sisi yang berbeda dari Seokjin.

"Ne hyung..." balas maknae line berbarengan dengan suara malas. Meskipun demikian, ketiga pemuda itu tetap bangkit dan melangkahkan kaki mereka ke arah meja makan untuk mengambil sarapan pagi mereka. Seusai mengambil piring mereka, ketiga pemuda berbeda warna rambut itu kembali duduk di sofa ruang tamu.

"Hyung, Namjoon hyung dan Yoongi hyung dimana?" tanya anggota termuda dari maknae line tersebut.

"Sedang pergi bersama Jihoon," jawab Seokjin dengan mulut yang penuh dengan makanan.

"Pergi kemana hyung?" sekarang Jimin-lah yang bertanya.

Seokjin bersusah payah menelan makanannya terlebih dahulu, kemudian baru dia menjawab pertanyaan dari Jimin. "Membeli pakaian anak-anak untuk Jihoon," ucap Seokjin singkat.

"Ahh..." ujar maknae line berbarengan.

"Aku harap mereka tidak akan menyebabkan keributan," celetuk Hoseok tiba-tiba.

Seluruh member Bangtan yang berada di ruang tamu reflek menengok ke arah Hoseok.

"Maksudmu Seokie?" tanya Seokjin kepada Hoseok.

Hoseok menggeleng, "Ani. Hanya saja, aku sedikit khawatir dengan paparazzi dan media," jawab Hoseok sambil mengambil segelas air putih yang tersedia di atas meja ruang tamu. "Kalian tahulah, media suka melebih-lebihkan suatu kejadian," lanjut Hoseok lagi.

Seokjin mengangguk-anggukan kepalanya, "Hmm.. ne, aku harap mereka akan baik-baik saja."

.

.

.

- Lotte Department Store, Seoul -

Yoongi menggandeng tangan mungil milik Jihoon. Ya, sekarang Namjoon, Yoongi dan Jihoon tengah berada di salah satu pusat perbelanjaan di kota Seoul. Jihoon berjalan di tengah-tengah Namjoon dan Yoongi. Tangan kanan milik Jihoon digenggam oleh Yoongi, sedangkan tangan kirinya di gandeng oleh Namjoon.

Ya, ini sesuai dengan permintaan bocah berumur 5 tahun itu. Jihoon meminta agar Yoongi dan Namjoon menggandeng tangannya selama mereka berjalan-jalan. Dan tentu saja, mana tega Yoongi dan Namjoon untuk menolak permintaan bocah kecil yang mengaku sebagai anak mereka itu. Untung saja Yoongi dan Namjoon memakai masker dan menutupi rambut mereka masing-masing dengan topi dan beanie. Setidaknya mereka tidak akan langsung dikenali oleh orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.

"Woah!"

Pekikan dari Jihoon membuat langkah Namjoon dan Yoongi terhenti. Kedua pemuda dewasa itu reflek menengok ke arah Jihoon.

"Waeyo Jihoon-ah?"

Yoongi menjadi orang pertama yang bertanya kepada bocah berambut hitam itu.

Jihoon balik memandang Yoongi dengan mata berbinar, "Papa! Ada es krim disana!" ucap Jihoon bersemangat. Bocah itu mengangkat tangannya dan menunjuk sebuah stand es krim yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. Yoongi mengikuti arah jari telunjuk Jihoon menunjuk.

"Kau ingin makan es krim Jihoon-ah?"

Namjoon sekarang menjadi orang yang bertanya kepada Jihoon.

Jihoon berbalik menatap Namjoon sekarang. Anak laki-laki itu menganggukkan kepalanya dengan cepat, "Ne!" jawab Jihoon setengah berteriak.

Namjoon terkekeh, "Ya sudah, sebentar ya, biar appa belikan," ujar Namjoon sambil mengacak rambut Jihoon. "Kamu tunggu di sini saja," lanjut Namjoon kembali. Jihoon mengangguk patuh.

Namjoon akhirnya berlari kecil ke arah stand es krim tersebut. Mengantri di belakang seorang ahjumma yang sedang menggandeng putri kecilnya.

Yoongi memperhatikan gerak-gerik Namjoon dari tempatnya berdiri bersama Jihoon. Ia memperhatikan Namjoon yang sekarang tengah memesan di depan stand tersebut. Ia melihat Namjoon yang mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya kepada orang yang berada di dalam stand tersebut. Uang di tangan Namjoon sekarang terganti dengan dua buah cone besar yang didalamnya terdapat beberapa scoop es krim berbagai rasa. Kemudian ia melihat Namjoon yang tengah berjalan ke arahnya dengan membawa satu cone es krim di masing-masing tangannya. Ia melihat senyum samar dibalik masker yang Namjoon kenakan.

"Jihoon-ah, ini untukmu," Namjoon menyerahkan cone es krim yang ia pegang di tangan kanannya untuk Jihoon. Ia sedikit berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Jihoon.

Jihoon menerima cone es krim itu dengan mata berbinar, "Woah! Terima kasih appa!" ucap Jihoon sambil tersenyum ceria. Namjoon mengganggukan kepalanya dan tersenyum, meskipun senyumannya harus terhalang oleh masker yang ia kenakan.

Namjoon kemudian bangkit berdiri. Sekarang ia berhadap-hadapan dengan Yoongi. Ia kemudian menyodorkan satu cone es krim lagi kepada Yoongi, "Ini hyung, untukmu," ujar Namjoon sambil tersenyum. Yoongi dapat melihat senyuman itu.

Yoongi mengambil cone es krim dari tangan Namjoon dengan ragu-ragu. "Umm, terima kasih Joon," balas Yoongi dengan suara yang hampir tidak terdengar.

"Sama-sama hyung."

.

.

.

Sesudah menghabiskan es krim yang Namjoon beli tadi, Namjoon, Yoongi dan Jihoon kembali melanjutkan acara 'jalan-jalan keluarga' mereka. Begitulah sebutan Jihoon bagi acara mereka hari ini.

'Keluarga' yang terdiri atas Namjoon, Yoongi, dan Jihoon itu telah berjalan keluar masuk dari satu toko pakaian ke toko pakaian lain untuk mencarikan baju anak-anak bagi Jihoon. Anak satu-satunya dalam 'keluarga' itu. Perlahan, kedua tangan Namjoon dan Yoongi mulai penuh dengan beberapa paper bag yang berisi baju untuk Jihoon.

Mereka baru saja keluar dari salah satu toko pakaian anak-anak saat suara Jihoon menginterupsi mereka.

"Appa, papa..." panggil Jihoon pelan.

"Ada apa Jihoon-ah?" Namjoon bertanya lembut kepada bocah itu.

"Lapar appa.. kita makan ya?" pinta Jihoon dengan wajah memelas.

Namjoon terkekeh, "Kenapa tidak bilang dari tadi, eh? Kalau begitu kita bisa berhenti dan makan saja terlebih dahulu," ujar Namjoon.

Jihoon mengerucutkan bibir mungilnya, "Habisnya papa terlihat bersemangat memilihkan baju untukku..." ucap Jihoon sambil melirik Yoongi.

Yoongi yang namanya disebut oleh Jihoon, membelalakkan matanya, "Eh, tidak kok!" sanggah Yoongi.

Jihoon menatap Yoongi dengan pandangan menyelidik, "Bohong! Buktinya papa berulang kali memintaku mencoba beberapa pakaian!" ucap Jihoon.

Rona merah samar mulai menyerang pipi Yoongi, "Y-ya.. i-itu supaya pakaian yang dibeli sesuai dengan pilihanmu Jihoon-ah!" Yoongi mencoba memberi alasan.

Mata Jihoon menyipit menatap Yoongi, "Huh, apa benar begitu pa?" tanya Jihoon penuh selidik sekali lagi.

Yoongi mengangguk cepat, "Tentu saja!" balasnya.

Namjoon menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Jihoon dan Yoongi. Sebenarnya, ia tahu bahwa apa yang dikatakan oleh Jihoon adalah yang benar. Dirinya sudah tinggal bersama Yoongi hampir tujuh tahun lamanya, dan ia paham betul bahwa Yoongi tengah menyanggah perkataan-perkataan Jihoon.

Walaupun terkesan tidak peduli, Yoongi sebenarnya adalah orang yang sangat peduli terhadap orang-orang di sekitarnya. Sedari tadi pun Namjoon sebenarnya juga ikut memperhatikan Yoongi. Hyung-nya itu tampak dengan hati-hati memilihkan pakaian untuk Jihoon. Terus menerus menawarkan beberapa model pakaian kepada Jihoon untuk dicoba dan memastikan bahwa Jihoon nyaman dengan pakaian yang akan dibeli.

"Papa yakin tidak mau berkata jujur saja huh.."

"Y-ya Jihoon-ah, papa sudah berkata jujur dari tadi.."

Baru Jihoon akan membalas perkataan Yoongi saat Namjoon memotongnya. "Hei, sudah.. sudah... Dari pada kalian berdebat seperti itu, lebih baik kita cari tempat makan, bagaimana?" tawar Namjoon kepada kedua insan berbeda tinggi di hadapannya.

Akhirnya perdebatan Yoongi dan Jihoon benar-benar berhenti setelah mereka sampai di sebuah restoran BBQ Korea. Mereka memesan beberapa daging untuk dibakar dan sekarang tengah menunggu pesanan mereka diantarkan.

Jihoon duduk disamping Namjoon. Diseberang Namjoon ada Yoongi yang duduk sendirian.

"Jihoon-ah, nanti kau harus tetap makan sayurannya ne," ucap Yoongi kepada Jihoon yang sibuk bermain dengan sumpitnya.

Bocah berambut hitam itu mengangguk dengan patuh, "Ne papa!" jawabnya.

Yoongi menghela napasnya lega. Bersyukur karena Jihoon bukanlah anak yang sulit untuk makan sayuran.

"Kau terlihat letih hyung," celetuk Namjoon tiba-tiba.

"Ne?"

"Lelah. Kau terlihat lelah hyung," ulang Namjoon sekali lagi.

Yoongi mencerna perkataan Namjoon, buru-buru ia menggelengkan kepalanya setelah mengerti maksud perkataannya.

"Ani! Ini.. kurasa karena aku kurang tidur saja," ucap Yoongi cepat.

Namjoon tersenyum tipis, "Jihoon yang membangunkanmu ya hyung?"

Bocah lelaki yang namanya disebut oleh Namjoon masih sibuk bermain dengan sumpitnya. Tidak memperdulikan namanya yang dibawa-bawa oleh Namjoon.

Yoongi tertawa kecil, "Mau bagaimana lagi. Dia kelaparan tadi pagi."

"Untunglah Jihoon tidak membangunkan orang yang salah," lanjut Yoongi lagi dengan nada bercanda.

"Ya. Maksudmu Jihoon salah jika membangunkanku, begitu?" tanya Namjoon tak terima.

Yoongi terkekeh, "Aku tidak bilang begitu.. kau sendiri yang mengatakannya," ujar Yoongi diikuti dengan suara tawanya.

Namjoon ikut tertawa, "Padahal aku juga bisa memasakkan sarapan untuk Jihoon."

"Tentu bisa Joon-ah.. bisa-bisa kau dimarahi Seokjin hyung karena dapurnya kotor. Dan Jihoon tidak jadi sarapan karena kau terlalu lama dimarahi," goda Yoongi sambil terkekeh.

Namjoon ikut tertawa mendengar perkataan Yoongi. Dan Jihoon masih sibuk bermain sendiri dengan sumpitnya.

.

.

.

Tanpa Namjoon, Yoongi dan Jihoon sadari. Ada sebuah kamera yang memotret kegiatan mereka di restoran itu. Menghasilkan sebuah jepretan foto dengan Namjoon, Yoongi dan Jihoon sebagai objek di dalamnya.

.

.

.

- Dorm Bangtan -

Jimin sedang bersantai di kamarnya. Dirinya sibuk bermain dengan smartphone-nya. Iseng, dirinya membuka aplikasi Twitter untuk melihat tweet dari para ARMY.

Saat sedang men-scroll timeline mention-nya, netranya tak sengaja menangkap sebuah tweet yang men-tag akun bts_tweet. Tweet itu tampaknya sudah di-retweet oleh sepuluh ribu orang dan di-like oleh lebih dari lima belas ribu orang. Ia membaca tweet yang ternyata dalam bahasa Korea tersebut, "Tak percaya aku melihat mereka secara langsung! Tapi, siapa anak di samping mereka?" gumam Jimin.

Penasaran, ia pun mengklik foto yang berada di dalam tweet tersebut. Sesaat sesudah foto itu ter-load, Jimin membelalakkan matanya.

"HYUNG!"

Jimin berteriak dan langsung turun dari tempat tidurnya. Buru-buru ia menghampiri member Bangtan yang sedang bersantai di ruang tv. Terdapat Jin, Hoseok, Taehyung dan Jungkook disana.

"Jangan teriak-teriak seperti itu Jimin-ah," Jin berkata kepada Jimin.

Jimin menggelengkan kepalanya, "Hyung! Namjoon hyung dan Yoongi hyung sudah pulang belum?" tanya Jimin buru-buru. Mengabaikan perkataan Jin tadi.

Jin memandang Jimin yang berdiri di pintu ruang tv, kemudian menggeleng. "Belum. Kau kenapa terlihat pucat begitu? Habis melihat hantu, eh?" canda Jin sambil terkekeh.

Jimin menggelengkan kepalanya cepat, "Hyung! Kau belum melihat Twitter ya?"

"Memangnya ada apa di Twitter, Jimin-ah?" Hoseok bertanya kepada Jimin.

Jimin menunjukkan layar ponselnya ke depan wajah Jin. "Hyung! Lihat ini!" seru Jimin kepada Jin.

Jin pun mengambil ponsel Jimin dan memfokuskan pandangannya kepada layar ponsel tersebut. Tak lama, dirinya membulatkan matanya memandangi layar ponsel pintar itu.

"APA?!"

Hoseok, Taehyung dan Jungkook yang penasaran akhirnya ikut mendekat ke arah Jin. Mereka bertiga ikut menatap layar ponsel Jimin.

1 detik

2 detik

3 detik

"LHO INI KAN..." ucap Taehyung tercekat.

"NAMJOON DAN YOONGI?!" Hoseok berteriak kaget.

"BERSAMA JIHOON PULA?!" Jungkook berteriak juga.

Kelima member Bangtan yang tersisa di dorm saling melempar pandang ke arah satu sama lain. Apa lagi sekarang?!

.

.

.

.

.

to be continued