Disclaimer: Karakter dalam cerita ini milik Masashi Kishimoto. Ceritanya punya saya.


Chapter 2

Tamago Ramen

Seluruh kejadian tersebut tentunya tidak lolos dari pengamatan Gaara Sabaku. Pemuda itu mengamati dengan seksama saat Hinata diseret masuk oleh seorang gadis berambut cokelat dengan apron putih menuju ke kedai ramen tujuannya. Sambil menyeret Hinata, gadis berambut cokelat itu tidak berhenti mengeluh berapa ratus kali ia harus bolak-balik mencuci piring, merebus mie, memotong daging, dan mengambil pesanan hari itu. Semuanya ia lakukan sementara Hinata bersenang-senang di akhir pekannya!

Ketika Gaara masuk ke kedai tersebut, si gadis berambut cokelat rupanya tidak bercanda akan kesibukan kedai itu di hari Sabtu. Tempat itu penuh dengan orang. Semua meja yang ada penuh dan tidak ada satu kursi pun yang terlihat kosong. Gaara beruntung ketika seseorang di meja bar berdiri dan membayar ramennya. Pemuda itu segera mengambil kursi kosong tersebut dan menunggu si gadis pelayan menghampirinya.

Beberapa saat kemudian, Hinata, si gadis berambut indigo yang sore itu menyemprot matanya dengan pepper spray pun keluar dari dapur. Rambut panjangnya yang tadi kusut dan berantakan setelah naik motor kini diikat rapi. Ia sudah melepas jaket hitamnya, dan mengenakan sebuah kaos tanpa langan berwarna ungu di bawah apron putihnya. Ia menghampiri Gaara dan dengan nada dongkol bertanya, "mau pesan apa?"

Sebelum Gaara bisa menjawab, dari dapur terdengar suara nyaring yang berseru, "Hinata! Kau belum mencuci piringnya!"

Gadis itu menggerutu di bawah napasnya, "Barusan aku disuruh mengambil pesanan, sekarang cuci piring. Yang mana yang benar?" Namun ia malah menyahut, "Sebentar! Aku akan segera kesana!" Ia berbalik ke arah Gaara lagi. "Jadi, kau mau pesan apa?"

"Tamago ramen... dan sake."

Hinata mengangguk, lalu berteriak ke jendela menuju dapur, "Satu Tamago ramen!" Lalu mengambilkan sake pesanan Gaara. "Silahkan," katanya saat menghidangkan meletakkan botol sake di depan lelaki itu.

Setelah itu dengan sigap ia langsung bergegas mengumpulkan semua piring kotor, membersihkan meja, lalu mengambil beberapa pesanan sebelum kembali lagi ke dapur untuk mencuci piring.

Gaara sedikit takjub melihat semua gerakan gadis itu. Tidak ada satu gerakan pun yang terbuang percuma. Semuanya begitu cepat. Gaara tidak percaya bahwa gadis itu adalah gadis yang sama dengan gadis penakut yang sore tadi menyemprotkan pepper spray padanya. Gadis yang tidak bisa mengucapkan satu kalimat tanpa gagap sedikitpun. Atau gadis cengeng yang menangis karena dipaksa naik motor dengan kecepatan tinggi.

Dia terlihat...percaya diri dan yakin dengan apa yang dilakukannya.

Gaara pun bertanya-tanya, bagaimana pembawaan seseorang bisa berubah begitu cepat?

Sepuluh menit kemudian Hinata kembali lagi membawa ramen pesanan Gaara. "Silahkan," katanya sebelum kembali mengambil pesanan orang lain, mengumpulkan mangkuk kosong, mengisi gelas-gelas kosong dengan teh hijau, membersihkan meja, dan kembali ke dapur lagi untuk mencuci piring.

Beberapa saat kemudian, Ayako dan seorang gadis lain keluar dari dapur dan melakukan semua yang dilakukan Hinata tadi.

Gaara memanggil Ayako lalu memesan seporsi gyoza serta meminta tambahan sake.

Tidak lama kemudian Hinata keluar membawa gyoza serta tambahan sake pesanannya. Gadis itu tidak berkata apapun, wajahnya terlihat lelah namun matanya mengawasi setiap meja yang ada di kedai itu. Begitu melihat seorang pelanggan yang hendak pulang ia mengucapkan terima kasih.

Gaara menemukan dirinya terduduk di kedai tersebut cukup lama.

Karena gadis itu menghadiri pertandingan final kejuaraan sepak bola tingkat daerah, Gaara berasumsi gadis itu pasti berasal dari Konohagakure atau Sunagakure. Namun karena gadis itu tinggal di daerah ini, Gaara langsung menyimpulkan gadis itu pasti sekolah di Konohagakure. Yang juga menjelaskan mengapa ia tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya.

Setelah kekalahan timnya tadi, Gaara merasa tidak mampu menatap timnya. Ia juga tahu bahwa tim-nya pasti tahu ia tak mau melihat mereka. Mereka pasti tahu bahwa jika Gaara menghadapi mereka, pemuda itu pasti tak akan bisa mengontrol emosinya. Dan mereka cukup tahu apa yang akan terjadi jika Gaara marah dan memastikan agar mereka tidak berada disana saat hal itu terjadi.

Gaara sendiri tidak bisa menjamin apa yang akan dilakukannya.

Yang pasti dia akan mencaci maki Setsu karena dengan tololnya membiarkan tiga gol memasuki gawang mereka. Kemudian ia akan meneriaki Peter karena dengan darah Irlandia-nya kecepatan lari si tolol itu kalah dengan si keparat Sasuke Uchiha yang orang Jepang. Namun di antara itu semua, ia yakin ia pasti akan mencekik Sasori karena sebagai kapten tim yang berkali-kali menjelaskan formasi permainan mereka, justru dia-lah yang dengan idiot membiarkan tidak hanya sekali, namun TIGA KALI bolanya direbut oleh si keparat Naruto Uzumaki dan EMPAT KALI ia sengaja mengabaikan Gaara dan tidak mengoper bola ke arahnya.

Saking marahnya, Gaara sampai tidak bisa berkata apapun ketika menerima gelar MVP-nya. Ya, ia tahu ia pantas mendapatkan gelar tersebut. Namun gelar itu tidak ada artinya jika timnya kalah. Oleh karena itu, segera setelah upacara penutupan selesai, Gaara langsung bersembunyi di bawah pancuran. Lagipula ia tahu timya pasti akan sengaja tidak berganti baju dan langsung pulang agar tidak bertemu dengannya.

Setelah semua orang pulang dan ia tinggal sendirian, Gaara mulai melampiaskan kemarahannya dengan melakukan push-up dan sit-up sampai dia tidak bisa menghitungnya lagi. Ketika sadar bahwa ia terlalu lelah untuk melanjutkannya, Gaara pun mencari mesin penjual minuman untuk membeli apapun yang dingin untuk mendinginkan amarahnya.

Hanya untuk disemprot dengan pepper spray oleh seorang gadis penakut yang cara berjalannya seperti seekor tikus.

Berkali-kali Gaara harus menahan diri agar tidak menghantamkan tinjunya ke muka perempuan itu ketika ia menjelaskan dirinya sambil tergagap. Untungnya dia tidak sok tahu dan merawat mata Gaara dengan caranya sendiri, dan mengusulkan untuk ke rumah sakit yang untungnya tidak terlalu jauh dari situ. Dalam hati Gaara bersyukur karena akhirnya bertemu dengan orang yang cukup pintar dan tidak memperburuk harinya.

Rasa syukurnya berlanjut ketika proses perawatan akibat terkena pepper spray tidak berlangsung lama dan rumit. Gadis itu pun bersikap tidak terlalu buruk dengan tidak bertanya terlalu banyak atau mengganggunya dengan kegagapannya. Setelah semuanya selesai Gaara langsung meninggalkannya, ia ingin langsung kembali ke rumah dan memukul sasak tinjunya.

Namun gadis itu malah mengikutinya.

Ketika mereka akhirnya benar-benar berpisah di depan stadion, dan Gaara sudah setengah jalan menuju motornya, dia mendadak mendapat ide yang sangat bagus. Dia pun menawarkan diri untuk mengantar gadis itu, dan bahkan memberikan helm-nya. Namun ia tahu bahwa gadis itu pasti belum pernah naik motor. Ia lagi-lagi bersyukur karena rumah gadis itu dekat dengan kedai ramen favoritnya waktu SMP. Dengan demikian ia bisa berbuat baik mengantar gadis itu, menghukumnya, sekaligus mengisi perut setelah pertandingan yang paling menguras emosinya.

Variabel yang tidak diperhitungkan Gaara dalam rencananya adalah fakta bahwa gadis itu berani memeluknya dan apa yang ia sadari ketika gadis itu memeluknya...dengan sangat erat. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, wajah Gaara...memerah. Dan kali itu bukan karena amarah, namun karena ia bisa merasakan bentuk dada gadis di belakangnya itu saat menempel padanya. Gaara bahkan tidak perlu mengerahkan imajinasinya untuk membayangkan bentuk tubuh gadis itu.

Ketika mereka sampai, Gaara melihat gadis itu dengan sudut pandang baru. Gadis itu adalah sebuah paradoks. Dia pemalu dan berpakaian seperti lansia, wajahnya biasa saja, dan rambutnya kusut berantakan, namun dibalik semua itu ia menyimpan sesuatu yang mungkin hanya Tuhan, dia, dan Gaara saja yang tahu. Kecuali bila gadis itu punya pacar, yang tentunya sangat Gaara ragukan.

Konstanta berikutnya yang tidak diperhitungkan Gaara adalah gadis itu ternyata bekerja di kedai ramen Ichiraku. Dan kenyataan bahwa saat bekerja gadis itu sama sekali tidak terlihat seperti gadis yang ia lihat sore tadi.

Gadis yang berjalan seperti tikus itu berubah menjadi gesit...seperti rubah.

Dan itu adalah hal yang sangat menarik bagi Gaara. Ia ingin melihat sampai sejauh mana gadis itu bisa mempertahankan kegesitan serta kepercayaandiri-nya.

Saat itu sudah hampir pukul sepuluh. Karena sedang mengendarai motor, Gaara tidak ingin mabuk dan oleh karena itu hanya membatasi sake-nya sampai botol ke tiga. Pengunjung kedai itu pun makin lama makin sedikit, hingga kini yang Hinata lakukan adalah menyapu lantai sambil merapikan meja dan kursi. Setelah ia selesai, Gaara memanggilnya.

"Hei."

Ketika gadis itu menghampirinya, saat itu Gaara bisa melihat bahwa Rubah Hinata telah pergi dan sekarang digantikan oleh Tikus Hinata.

Gadis itu menghindari matanya, menggigit bibir bawahnya, dan bertanya, "A-ada yang bisa saya bantu?"

"Kemana dua gadis yang lain?"

Ia menggumamkan jawabannya, "Mereka sudah bekerja dari sore, jadi mereka selesai lebih dulu. Aku...aku...harus menutup kedai...bersama Paman Ichiraku."

Paman Ichiraku adalah seorang pria tua pemilik tempat tersebut. Dulu Gaara sering kesini bersama orang tuanya waktu dia baru pindah ke Jepang. Waktu itu kedai ini hanyalah sebuah kedai sederhana yang dikelola oleh Ichiraku dan anaknya. Namun sekarang Gaara sudah jarang kesitu dan Ichiraku sudah tak mengenalinya lagi. Sepanjang malam itu Gaara hanya melihatnya dua kali karena pria itu sibuk menyiapkan pesanan di dapur.

"Kau sekolah dimana?"

"K-Konohagakure..." Dugaan Gaara benar, tentu saja.

"Kelas?"

"S-sebelas." Ia lalu terdiam, sebelum bertanya dengan malu-malu, "K-kamu?"

Belum lagi Gaara bisa menjawab, Ichiraku tiba-tiba muncul dari dapur dan berseru, "Sudah saatnya kita tutup, Hinata." Lalu ia melihat Gaara, "Oh, kami sudah tidak melayani pesanan lagi, Tuan."

Gaara mengangguk. "Aku tahu," katanya. "Aku baru saja mau bayar."

"Hinata..." Ichiraku memberi sinyal pada Hinata untuk menghitung pesanan Gaara.

Gadis itu hanya butuh waktu beberapa detik untuk menghitung sebelum berkata, "Umm, 680 yen."

Gaara mengeluarkan dompetnya dan menarik keluar lembaran seribu yen sebelum memberikannya pada Hinata. Gadis itu cepat-cepat berjalan ke kasir untuk mengambil kembalian Gaara. Namun lelaki itu sudah berdiri dan berjalan keluar. "Uh..G-Gaara!" Hinata memanggilnya untuk menghentikannya.

Dia berbalik, "Ya?"

"K-kembalianmu."

Gaara hanya memandanginya selama beberapa saat sebelum berkata, "Tidak. Itu tipmu," dan ia pun langsung berjalan keluar.


A/N: Chapter ini sebenarnya lebih mirip Interlude ya, haha. Anw, makasih banyak untuk teman-teman yang sudah mereview chapter sebelumnya. Sampai jumpa di chapter depan!