Disclaimer: applied.


Chapter 3

French Vanilla Latte

Beep. Beep. Beep.

Sepasang mata lavender tersebut perlahan-lahan terbuka. Sebelah tangan yang sebelumnya tersembunyi di dalam selimut keluar dan mencari-cari sumber suara yang memecah ketenangan pagi itu.

Ketika Hinata berhasil menemukan jam wekernya, ia menghela napas lalu berbalik terlungkup sebelum mengangkat tubuhnya dan merangkak keluar dari selimut. Ia berusaha menghilangkan kantuknya dengan menggosok-gosok kedua matanya sambil berdiri dan berjalan ke pintu kaca menuju balkon. Ia menguap saat membiarkan pintu tersebut terbuka untuk membiarkan udara pagi masuk ke kamar itu. Sedikit tersenyum karena melihat hari itu sangat cerah dan tidak terlalu dingin meskipun saat itu sudah mencapai akhir bulan September.

Setelah memasak nasi, ia mengambil handuk ungu yang ia jemur semalam sebelumnya lalu berjalan ke kamar mandi untuk bersiap-siap.

Pada hari dimana kedua orang tua Hinata meninggal dunia, yaitu pada ulang tahun-nya yang ke-14, pada hari itu juga Hinata tahu bahwa ia harus mencari cara untuk bertahan hidup sendiri. Tanpa orang tua dan tanpa saudara, gadis itu tahu bahwa ia tak akan bisa mempertahankan rumah atau mengerjakan sedikit tanah yang dimiliki oleh ayahnya di kampung halaman mereka di Hokkaido. Oleh karena itu Hinata pun menjual semua yang dimiliki oleh orang tua-nya dan membawa uang serta sedikit benda yang dimilikinya ke Tokyo.

Ia sangat beruntung karena menemukan sebuah kamar kosong di apartemen di daerah yang tidak terlalu jauh dari pusat kota, tepatnya di perfektur Konohagakure. Apartemen tersebut tidak terlalu besar, malah bisa dibilang sangat kecil. Gedungnya berada di dalam sebuah gang yang sangat sempit, tepatnya di belakang sebuah gedung hotel bintang tiga. Bangunannya sudah bobrok dengan pipa-pipa air yang seharusnya sudah diganti sejak lima tahun yang lalu. Apartemen Hinata sendiri berada di lantai dua. Apartemen itu hanya terdiri dari satu kamar, dan satu kamar mandi. Di kamar tersebut Hinata melakukan semuanya: tidur, makan, memasak, belajar, dan seterusnya.

Namun bagi gadis tanpa orang tua yang hidup sendirian di salah satu kota metropolitan terbesar di dunia, itu adalah sebuah kemewahan.

Hinata sudah berpakaian lengkap saat ia memasak sarapan dan makan siang-nya untuk hari itu. Karena sejak kecil ia sudah terbiasa memasak bersama ibunya, ketika ia akhirnya harus hidup sendiri ia bersyukur bahwa ia tahu cara memberi makan dirinya sendiri. Selain itu, karena hidup sendiri Hinata belajar untuk selalu berhati-hati dalam menggunakan uangnya, sehingga ia hampir sama sekali tidak pernah membeli makanan di luar. Ia selalu berbelanja, menyetok bahan-bahan makanan di lemari pendingin yang sudah tua, dan memasak makanannya sendiri.

Ia meninggalkan apartemennya tepat pukul delapan. Salah satu hal yang paling disyukuri oleh Hinata ketika ia tiba di Tokyo selain mendapatkan tempat tinggal yang sangat bagus (menurut seleranya), ia juga tidak menunggu lama saat mendapat panggilan dari program beasiswa yang diselenggarakan oleh SMA Konohagakure, SMA swasta yang sangat terkenal di perfektur tempatnya tinggal. Sekolah tersebut juga terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dengan melewati beberapa gang yang tepat, ia dapat tiba di sekolah tersebut hanya dalam waktu dua puluh menit dengan berjalan kaki.

Hanya saja satu hal yang tidak Hinata ketahui ketika ia menandatangani perjanjian penerimaan beasiswa-nya adalah ia tidak menduga bahwa SMA Konohagakure adalah sekolah dimana orang-orang kaya di antara yang terkaya menyekolahkan anak mereka. Hinata sangat bingung ketika hari pertama SMA-nya ia menemukan kemacetan luar biasa di jalanan menuju sekolahnya, dan ia sangat kaget ketika menyadari bahwa kemacetan tersebut disebabkan karena banyaknya jumlah mobil yang mengantri masuk ke SMA Konohagakure.

Beberapa hari kemudian Hinata tahu bahwa ia adalah satu-satunya orang yang berjalan kaki ke sekolah.

Seperti biasa pada pukul delapan lebih dua puluh menit ketika Hinata sampai di depan gerbang sekolah Konohagakure ia menemukan antrian mobil yang sangat panjang. Sebagian mobil-mobil tersebut masuk ke area parkir sekolah sementara sebagian yang lainnya hanya berhenti di depan gedung sekolah untuk menurunkan pemilik-nya.

Dua tahun yang lalu ketika Hinata pertama kali melangkah masuk ke gedung SMA tersebut, hatinya sangat dipenuhi harapan akan masa depan yang cerah. Bersekolah di salah satu sekolah terbaik di seluruh negeri serta kemungkinan mendapat teman-teman baru dari kota besar. Di kampung halamannya Hinata bukanlah gadis yang terlalu populer. Oleh karena itu, di sekolah ini Hinata sangat berharap ia akan mendapatkan teman baru. Tinggal sendirian di kota sebesar Tokyo terkadang membuat Hinata merasa sedikit kesepian. Kehadiran satu atau dua orang teman akan membawa dampak yang sangat besar bagi hidupnya.

Hanya saja, karena sebagian besar murid-murid Konohagakure berasal dari kalangan ekonomi atas, ketika Hinata mencoba berbicara dengan mereka, yang mereka bicarakan hanyalah tentang bagaimana liburan mereka di Eropa musim panas kemarin, tentang pertunjukan broadway yang mereka tonton ketika berlibur di New York, atau tentang bagaimana bagusnya pantai di Karibia atau Jamaica atau Hawaii. Hinata sama sekali tidak bisa berkata apapun dan diam-diam mengundurkan diri.

Beberapa hari kemudian setelah hari pertamanya di sekolah tersebut, Hinata sadar bahwa sampai seribu tahun pun dia tidak akan pernah bisa mengobrol dengan grup manapun di seluruh sekolah tersebut.

Sejak saat itu, si gadis berambut indigo itu pun belajar untuk menikmati kesendiriannya.


Fakta menarik dari Hinata Hyuuga adalah, ia merupakan gadis yang selalu suka mengikuti perkembangan teknologi.

Dia memang memiliki uang pas-pasan, ponsel yang sederhana dan tidak terlalu canggih, dan dia bahkan tidak mempunyai komputer-nya sendiri, sangat bertolak-belakang dengan sebagian besar remaja yang seumuran dengannya. Namun demikian, Hinata memiliki caranya sendiri untuk mengikuti perkembangan teknologi.

Dia selalu menghabiskan waktu luang yang ia punya, baik itu saat jam makan siang ataupun waktu di antara pulang sekolah dan kerja sambilannya, dengan menggunakan komputer dan internet gratis yang disediakan oleh SMA Konohagakure. Hobinya tersebut tentunya tidak lolos dari pengamatan guru IT-nya, Miss Toshiba. Status-nya sebagai murid penerima beasiswa serta sebagai anak yang memiliki minat tersendiri pada IT itu membuat Miss Toshiba sore itu memanggilnya ke ruangannya.

"Aku ingin kau membantu seseorang mengerjakan proyek programming yang kuberikan bulan lalu. Kau bisa melakukannya? Besok sore?"

Hinata yang kaget dengan permintaan itu terdiam sejenak sebelum menjawab dengan hati-hati. "Besok sore, Miss? Tapi saya ada kerja sambilan."

Miss Toshiba mengerutkan wajahnya. "Tidak bisakah kau memindahkan shift-mu besok sore ke hari lain? Anak ini adalah kasus spesial dan butuh perlakuan spesial."

Mungkin Hinata bisa melakukannya. Namun siapa orang yang begitu penting ini sampai-sampai Miss Toshiba menyuruhnya untuk memindahkan shift kerja sambilannya?

Dan itulah yang selanjutnya ditanyakan gadis itu.

"Kurasa kau mengenal Sasuke Uchiha?"


Jatuh cinta pada seorang Sasuke Uchiha bukanlah hal yang sulit.

Hal itu adalah alasan terbesar mengapa ada banyak sekali gadis-gadis yang diam-diam menyimpan perasaan padanya.

Sebagai cucu dari Grup Uchiha, keluarga yang menguasai produksi serta pasar semen di seluruh Jepang, seluruh sekolah tahu bahwa menikah dengan Sasuke Uchiha artinya kau tidak akan pernah kehabisan harta sampai keturunanmu yang ketujuh.

Namun, tidak hanya harta yang menjadi daya tarik utama dari Sasuke Uchiha. Pemuda itu merupakan playmaker dari tim sepakbola SMA Konohagakure, cerdas, memiliki banyak teman, dan tidak diragukan lagi tampan. Sangat, sangat tampan.

Sebagai seorang gadis dari desa yang belum pernah merasakan jatuh cinta seumur hidupnya, bagi Hinata bertemu dengan seorang Sasuke Uchiha rasanya seperti bertemu dengan seorang pangeran di kehidupan nyata. Tidak heran dia langsung jatuh cinta pada pemuda itu ketika pertama kali menonton pertandingan sepak bola.

Sejak saat itu, apabila ada kesempatan, kedua mata Hinata tidak pernah meninggalkan Sasuke Uchiha.

Oleh karena itulah ketika Miss Toshiba menugaskannya untuk mengajari Sasuke Uchiha kemarin, Hinata pun merasa sangat-sangat gugup.

Ia belum pernah merasa segugup itu. Ia bahkan tidak yakin ia pernah merasa segugup itu seumur hidupnya. Mungkin pernah waktu ia pertama kali menginjakkan kaki di kota Tokyo. Tapi rasa gugup yang itu berbeda dengan gugup yang ini. Gugup yang itu bercampur dengan rasa takut dan cemas bahwa ia tidak akan bisa bertahan hidup di ibukota yang keras. Sementara itu, gugup yang ini lebih seperti gugup yang bercampur dengan...semangat.

Dia sangat-sangat menantikan sesi tutoring tersebut. Ketika mengiyakan permintaan Miss Toshiba, Hinata berusaha sekuat tenaga untuk membuat wajahnya terlihat tidak terlalu antusias. Maksudnya, siapa gadis di seantero SMA Konohagakure yang tidak semangat bila diberikan tawaran menghabiskan waktu berdua dengan Sasuke Uchiha di lab komputer?

Hari itu Hinata sengaja menghabiskan waktu cukup lama di depan cermin di apartemennya. Ia memastikan bahwa seragamnya hari itu tidak kusut sama sekali, menyisir rambutnya dua kali, mengenakan bedak, serta lip gloss supaya bibirnya tidak kering. Ia tahu bahwa meskipun sudah berusaha berdandan seperti itu ia masih belum bisa menandingi Sakura Haruno. Namun ia tidak peduli, yang penting ia tidak terlihat memalukan di depan Sasuke. Lagipula bukan Sakura yang diminta Miss Toshiba untuk mengajari Sasuke.

Tapi dia, Hinata Hyuuga.

Sore yang ditunggu-tunggu itu pun tiba.

Hinata sudah meminta izin Paman Ichiraku untuk mengganti dua jam shift-nya hari itu ke hari Sabtu. Paman Ichiraku sebenarnya mengatakan tidak apa-apa kalau Hinata memang datang sedikit telat hari itu. Namun Hinata bersikeras untuk mengganti shift-nya, karena ia tidak ingin memakan gaji buta.

Hinata menarik napas dalam-dalam sebelum ia menggeser pintu lab komputer untuk menenangkan debaran jantungnya yang liar. Ini adalah saatnya, ini adalah kesempatannya. Ini adalah momen yang selalu ditunggu-tunggunya sejak pertama kali ia jatuh hati pada Sasuke Uchiha. Ini adalah momen dimana ia bisa mengenal Sasuke lebih jauh dan momen dimana lelaki itu juga bisa mengenalnya.

Pintu lab komputer bergeser dan Hinata melepaskan napas yang dari tadi ditahannya.

Sasuke duduk disana, di salah satu kursi di depan meja komputer. Lengannya tersilang sementara kedua kakinya terangkat ke meja. Perhatiannya terfokus pada sesuatu di layar ponselnya.

Hinata tersenyum melihatnya.

Ia mendekati Sasuke, dan ketika ia berada cukup dekat dengan lelaki itu, dia masih tidak menyadari keberadaan Hinata.

Gadis itu berdeham untuk menarik perhatiannya. Namun Sasuke masih mengabaikannya.

Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian, Hinata pun melambaikan tangan di depan wajah Sasuke, barulah akhirnya lelaki itu menoleh ke arahnya. Selama sesaat, dia terlihat kaget. Kemudian sebelah alisnya terangkat, seolah-olah ia tidak mengerti mengapa Hinata mau berbicara dengannya.

Ayo, katakan sesuatu, Hinata!

"Um...halo," sapa Hinata terbata-bata. "A-aku Hinata. Aku sekelas denganmu...sejak kelas satu." Sasuke masih memberinya pandangan kosong, dan Hinata mulai merasa wajahnya memanas. "Uh...aku tidak menonton banyak pertandingan olahraga, tapi menurutku kau adalah striker yang luar biasa, bukannya aku banyak menonton pertandingan sepak bola, tapi, uhh..kau...menurutku betul-betul tahu apa yang sedang kau lakukan...dan menikmati apa yang kau lakukan. Kau tahu, a-aku selalu menonton semua pertandinganmu. Aku biasanya duduk paling belakang, jadi mungkin kau tak pernah melihatku." Ya Tuhan, tutup mulutmu Hinata! Tutup mulutmu sekarang juga!

Hinata pun menutup mulutnya yang tak bisa berhenti mengoceh itu dengan kedua tangannya. Satu-satunya yang ia inginkan saat itu adalah menggali sebuah lubang dan meringkuk di dalamnya. Apa yang baru saja ia lakukan? Mengapa ia harus menyetujui permintaan Miss Toshiba? Bukankah lebih baik seumur hidup tidak dikenal oleh Sasuke daripada terlihat seperti orang tolol begitu? Apalagi di depan Sasuke!

Namun Sasuke hanya mengerjapkan mata beberapa kali, sebelum melepas earphones-nya. "Maaf," katanya dengan suaranya yang rendah yang merupakan melodi yang paling disukai oleh Hinata, "Aku tak mendengarmu." Dia lalu menyeringai, "Apa kau tutor-nya?"

"I-iya." Hinata menegakkan postur-nya, berusaha memperbaiki harga dirinya yang masih tersisa. "Namaku Hinata. Miss Toshiba memintaku untuk membantu tugas programming-mu."

Sasuke memperhatikannya dari atas ke bawah sebelum akhirnya berkata, "Aku Sasuke Uchiha," dia menyodorkan tangannya. Hinata mengambil tangannya. Lalu Sasuke berkata lagi, "Bukankah kau si gadis yang kerja di kedai ramen? Kau mengerti programming?" tanyanya dengan pandangan skeptis lalu melepas tangan Hinata.

Wajah si gadis memerah, dan ia langsung menunduk. Mungkin ia memang tidak punya komputer di apartemennya, tapi karena Hinata biasa menghabiskan waktu luangnya di lab komputer sekolah untuk mengerjakan PR atau hanya browsing di internet, akibatnya programming menjadi salah satu keahliannya selain memasak.

Lagipula, darimana Sasuke tahu bahwa dia kerja di kedai ramen? Sepanjang ingatannya tidak pernah ada murid SMA Konohagakure yang pernah berkunjung ke Kedai Ichiraku. Kedai itu terletak di area kelas menengah kota. Jarang sekali ada murid SMA Konohagakure, yang sebagian besar berasal dari kalangan atas, berkeliaran di daerah situ.

Namun demikian, menghadapi kritik Sasuke, Hinata hanya bisa menjawab dengan terbata-bata: "Y-ya. M-maksudku, aku tahu lumayan banyak."

Sasuke memberinya pandangan sangsi, dan Hinata merasa harga dirinya terluka. Dia pun bertekad untuk menunjukkan pada Sasuke bahwa gadis yang bekerja di kedai ramen pun bisa melakukan programming. "Sini, biar kutunjukkan." Ia pun mengambil kursi di samping Sasuke dan menyalakan komputernya.

"Bagaimana kau bisa sekolah di sini?" tanya Sasuke saat mereka menunggu komputer mereka loading. "Maksudku, aku tahu bahwa sekolah ini mahal dan yang kudengar kau pekerja full-time di kedai ramen itu."

"D-dengar dari siapa?" tanya Hinata hati-hati.

Sasuke mengangkat bahunya. "Dari sana-sini. Kau tahu bahwa orang-orang bergosip, 'kan?"

Wajah Hinata memerah. Selama ini ia selalu menganggap bahwa ia mengetahui semua gosip yang beredar di SMA Konohagakure karena ia tidak terlihat dan sering mendengarkan pembicaraan teman-teman sekelasnya. Namun ia sama sekali tidak tahu bahwa ia adalah bagian dari gosip itu juga!

"Katanya kau tinggal di sebuah apartemen bobrok yang bahkan tak pernah terkena sinar matahari. Bekerja sampai jam dua pagi, dan berjalan kaki kemana-mana. Orang-orang menggambarkan kau seperti orang hippie."

"A-aku tidak kerja sampai j-jam dua pagi," Mata Hinata berkaca-kaca mendengarnya. Kata-kata Sasuke sekarang benar-benar melukainya. Ia tidak menyangka bahwa fakta-fakta dalam kehidupannya yang semuanya sangat ia syukuri dianggap lelucon oleh orang-orang seperti Sasuke.

Setelah komputernya menyala, Hinata mulai membuka aplikasi yang diperlukan. Dengan kepercayaan diri yang baru saja diinjak-injak ia masih bisa memaksa dirinya untuk tersenyum dan pelan-pelan memandu Sasuke untuk menyelesaikan programming-nya.

Ia tidak tahu apakah setelah sesi tutoring itu selesai ia masih mampu tersenyum lagi atau tidak.


Dalam perjalanannya menuju ke Kedai Ramen Ichiraku, Hinata Hyuuga merasa hati-nya mati rasa.

Semua kata-kata Sasuke terus terngiang di telinganya.

"Bukankah kau si gadis yang kerja di kedai ramen? Kau mengerti programming?"

"Katanya kau tinggal di sebuah apartemen bobrok yang bahkan tak pernah terkena sinar matahari. Bekerja sampai jam dua pagi, dan berjalan kaki kemana-mana. Orang-orang menggambarkan kau seperti orang hippie."

Sekarang Hinata tidak akan pernah bisa lagi menatap teman-teman sekelasnya dengan pandangan yang sama. Selama ini ia memang selalu berpikir bahwa orang kaya biasanya sombong. Namun menurutnya teman-temannya di SMA Konohagakure adalah orang yang berbeda. Karena meskipun mereka tidak berteman, namun mereka juga tidak menjahatinya.

Tapi sekarang jelas alasannya mengapa mereka tidak mau berteman dengan Hinata.

Karena dia adalah gadis yang bekerja di kedai ramen yang tinggal di apartemen bobrok yang tak pernah terkena sinar matahari.

Di sesi tutoring-nya tadi, Sasuke bahkan menanyakan hal itu padanya.

Bagaimana rasanya tinggal di tempat yang tak terkena sinar matahari? Bagaimana kau menjemur pakaianmu? Tidakkah kamarmu lembap dan jamuran kalau tak terkena sinar matahari?

Hinata menghela napas panjang, lalu tersenyum pahit.

Mungkin mulai besok dan seterusnya ia harus menjaga jarak dengan teman-temannya di sekolah. Toh mereka tidak pernah menganggu atau menghinanya secara langsung. Selama Hinata tidak berurusan dengan mereka ia seharusnya akan baik-baik saja. Lagipula tinggal satu setengah tahun lagi sampai ia lulus dari sekolah itu. Apa hal terburuk yang bisa terjadi dalam waktu satu setengah tahun?

Hinata berhenti berjalan saat tiba di persimpangan jalan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri gadis itu bisa melihat sekelompok burung dara yang mematuk-matuk di atas trotoar. Ia berdiri di sana mengamati kegiatan burung-burung tersebut. Kemudian entah mengapa mendadak kelompok burung dara tersebut terbang dan mengagetkannya. Ia terkesiap dan mundur beberapa langkah.

Ketika sembuh dari kekagetannya dan burung-burung tersebut pergi, tidak jauh dari tempatnya berdiri ia menangkap sesosok pemuda yang keluar dari sebuah kedai kopi sambil membawa sebuah cup. Pemuda itu mengenakan seragam sekolah yang terlihat asing bagi Hinata. Namun bukan itu yang menarik perhatiannya.

Rambut lelaki itu-lah yang menarik perhatiannya, rambutnya yang semerah darah.

Kemudian mata mereka bertemu.

Karena lelaki itu nampaknya juga hendak menyeberang, ia pun menghampiri tempat Hinata berdiri. Ia berdiri di jarak yang wajar, jarak yang tidak aneh bila Hinata memutuskan untuk menegurnya.

Gadis itu pun tersenyum dan menyapanya. "Kita bertemu lagi, Gaara-san."

Lelaki itu hanya mengangguk.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Hinata lagi.

Dia mengangguk ke arah kedai kopi tempatnya keluar barusan, "Tempat itu menjual French Vanilla Latte terbaik," jawabnya dengan ekspresi datar.

Hinata tersenyum lalu mengangguk. "Sepertinya semua kesukaanmu berada di perfektur ini. Ramen, kopi, mungkin kau harus pindah kesini."

Gaara mendengus. "Dan bersekolah di sekolahmu? Tidak, terima kasih."

Hinata menghela napas ketika ia teringat kembali apa yang barusan terjadi di sekolah-nya. "Ya, kuharap juga aku tidak bersekolah di situ," ujarnya sambil melamun.

Mendengar kalimatnya Gaara pun menoleh dan mengangkat sebelah alisnya. "Apa?"

Namun baru saja Hinata hendak merespon, lampu berubah menjadi hijau, dan tepat pada saat yang sama, gadis itu mendadak merasakan sesuatu yang keras dan berat menghantam belakang kepalanya, diikuti tarikan menyakitkan pada lengan kanannya. Dari ujung matanya Hinata bisa melihat seseorang menarik tasnya.

Ia bahkan tidak sempat berteriak karena seluruh udara dalam paru-parunya mendadak menghilang, dan hantaman tersebut membuatnya jatuh terjerembab.

Hal terakhir yang dipikirkannya sebelum pingsan adalah...bisakah hari ini menjadi lebih buruk lagi?


A/N: Terima kasih atas review-review-nya. Kalian benar-benar membuat saya tersanjung. Semoga chapter ini menghibur! Ngomong-ngomong pair dari cerita ini adalah Gaara/Hinata. Dan jangan langsung berburuk sangka sama Sasuke. Semua orang punya alasan dan ceritanya masing-masing. Tidak terkecuali Sasuke :)

Sampai jumpa di chapter depan!