Disclaimer: applied
Terima kasih banyak untuk support-nya. Semoga kalian menikmati chapter ini :)
Chapter 4
A Can of Cold Milo
Hal pertama yang Hinata sadari ketika ia terbangun adalah rasa sakit yang luar biasa di belakang kepalanya. Rasanya ia kehilangan seluruh energi-nya hingga membuka mata saja butuh perjuangan keras. Suara-suara di sekelilingnya menandakan bahwa ia tidak sendirian di ruangan tersebut.
Ketika akhirnya kedua matanya benar-benar terbuka, yang bisa Hinata lihat hanyalah warna putih. Langit-langit putih dan tirai putih.
Ia mengernyit sambil melihat ke bawah. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya.
Dimana ini...?
Hinata mengerang saat rasa sakit di kepalanya makin menjadi-jadi. Ia melihat ke samping dan mendapati tangannya terhubung dengan sebuah selang infus. Ia pun makin bingung. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi padanya, namun makin keras ia mengingat, makin sakit pula kepalanya. Akibatnya ia pun menyerah dan berusaha memanggil seseorang.
Seorang suster mendadak muncul dari balik tirai dan tersenyum melihatnya. Namun berikutnya si suster meninggalkannya dan beberapa saat kemudian kembali lagi dengan sebotol cairan bening yang ia suntikkan isinya ke kantong infus di samping Hinata.
"Itu adalah penghilang rasa sakit," jelasnya dengan suara lembut. "Apa kau ingat siapa namamu?"
"H-Hinata," jawab Hinata dengan susah payah.
"Syukurlah. Itu artinya tidak ada luka fatal di kepalamu."
"A-apa yang terjadi padaku?"
"Kamu dicopet, dan pelakunya menghantam kepalamu dengan pemukul bisbol sebelum mengambil tasmu."
Kedua mata Hinata melebar mendengarnya dan ia pun sontak bangkit. Hanya saja, rasa sakit di kepalanya membuatnya terbaring kembali. "A-a-a-apa?" tanyanya tak percaya. Dan mendadak semua memori itu kembali lagi padanya bagaikan jutaan gambar berwarna-warni.
Sasuke. Burung dara berterbangan. Gaara. French Vanilla Latte. Dan rasa sakit yang luar biasa...
Hinata meringis saat mengingat sakit itu lagi. Dan ia pun menangis.
Semua hartanya ada di dalam tas tersebut. Dompetnya yang berisi uang cash serta semua tanda pengenal dan asuransinya. Buku pelajarannya. Ponselnya. Buku tabungannya. Ya, Tuhan...apa yang harus ia lakukan setelah ini.
Si suster berusaha menenangkan Hinata yang menangis tersedu-sedu.
Saat itu tiba-tiba Hinata teringat bahwa ia seharusnya sedang bekerja! Dengan panik ia bertanya pada suster jam berapa saat itu. Ketika si suster menjawab bahwa saat itu hampir pukul tujuh malam, tangis Hinata pecah lagi. Paman Ichiraku pasti marah besar padanya. Pertama ia meminta shift yang lebih pendek dan mengganti jamnya di hari Sabtu. Sekarang ia malah tidak datang.
"Hei, sayang, tenanglah..." Si suster dengan lembut mengelus lengan Hinata. "Ketika kau datang kemari, salah satu dokter jaga, Akira-sama, mengenali seragammu dan menelepon sekolahmu. Sekolahmu mengkonfirmasi bahwa kau adalah murid mereka dan tahu bahwa kau bekerja di sebuah restoran. Mereka juga sudah menelepon restoran tersebut untuk memberitahu keadaanmu."
Mendengar berita tersebut tangis Hinata berhenti sesaat dan dengan sesenggukan ia bertanya, "B-benarkah?"
"Ya, Akira-sama yang bilang padaku." Ia menawarkan senyuman lebar pada Hinata. Kemudian senyumnya memudar dan ia tampak khawatir, "Dan sebenarnya kau tidak perlu khawatir soal tasmu."
Hinata melihat secercah harapan saat mendengar hal tersebut. "M-maksudnya?"
"Polisi menangkap orang yang mencopet tasmu..." Si suster meringis, "Malah sebenarnya dua orang yang mencopet tasmu berada di sini juga," katanya.
Hinata mengernyit bingung. "A-a-apa yang mereka lakukan di sini?"
"Saat dibawa kesini mereka berada dalam keadaan setengah hidup dan...kehilangan banyak darah." Si suster menghela napas, "Karena dipukul berulang kali dengan pemukul bisbol. Salah satu dari mereka mengalami patah 5 tulang rusuk yang hampir menghancurkan paru-parunya. Yang satu lagi nyaris lumpuh total karena mengalami kerusakan di tulang belakang. Sampai sekarang kami belum tahu apakah mereka bisa selamat atau tidak."
Sekarang Hinata tidak tahu harus berkata apa. Apa yang terjadi pada dua orang itu? Apa mereka tertabrak truk segera setelah menjambret Hinata? Ya, mungkin saja mereka memang sesial itu. Karma memang selalu bekerja di saat yang tepat. "B-bagaimana bisa?"
"Aku mendengar ini dari polisi yang membawa kedua orang itu kesini. Sepertinya si pemuda yang berada di dekatmu saat mereka mencopetmu mengejar dan memukuli mereka dengan pemukul bisbol yang mereka gunakan untuk memukulmu. Orang-orang yang ada di tempat kejadian tersebut tidak ada yang berani menghentikan pemuda itu. Untungnya polisi segera datang sebelum ia membunuh kedua orang itu." Si suster kemudian mengangkat bahu, "aku sebenarnya tidak tahu apakah cerita itu benar, maksudku kedua orang itu mengendarai motor. Bagaimana bisa anak itu mengejar sepeda motor?"
Hinata terkesiap.
Pemuda yang berada di dekatnya...
Gaara Sabaku.
"D-dimana pemuda itu sekarang?" tanyanya panik.
Untuk pertama kalinya si suster terkekeh melihat kepanikan Hinata. "Apakah pemuda itu pacarmu?" tanyanya dengan senyum jahil.
Wajah Hinata sontak memerah dan ia gelagapan saat menjawab, "T-t-tidak. A-a-aku hanyalah..."
Si suster tertawa lagi. "Jangan khawatir, Nona. Pemuda itu sebenarnya juga diantar kesini karena ia mengalami beberapa luka. Namun tidak ada yang serius." Si suster kemudian mundur ke belakang dan menyibak tirai di samping ranjang Hinata.
Gadis itu terkesiap ketika menemukan si pemuda berambut merah duduk di ranjang sebelah. Wajah Hinata memanas ketika menyadari bahwa pemuda itu bertelanjang dada. Ia hanya mengenakan celana hitam selutut. Seorang perawat menunduk di depannya sambil memerban lengannya, sementara perawat yang lain sedang memerban bahunya.
Pemuda itu menahan pandangan mereka. Ia tidak berkata apapun meskipun ia melihat Hinata. Hal tersebut justru membuat Hinata makin gelisah. Apa yang dilakukan orang itu disini?
Hinata nyaris berteriak ketika ia melihat tasnya terduduk manis di samping lelaki itu. Ia sudah hendak menerjang ke arah tasnya, namun dihentikan oleh si suster yang mengingatkannya bahwa ia masih harus bergerak pelan-pelan serta ia masih terhubung dengan infus.
Gadis itu tidak melihat saat ujung bibir Gaara sedikit melengkung ke atas karena ia dengan malu-malu mematuhi si suster yang membantunya untuk menghampiri Gaara dan tasnya.
"Jangan melakukan gerakan mendadak terlalu banyak, oke Hinata-san? Aku akan meninggalkanmu sekarang. Kalau ada apa-apa jangan ragu untuk meminta bantuan suster yang ada di dekatmu," dengan itu si suster yang namanya masih belum diketahui Hinata itu pun meninggalkannya.
Hinata pelan-pelan duduk di atas ranjang di samping Gaara. Pemuda berambut merah itu pun mengembalikan tasnya dalam diam. Gadis itu memeluk tasnya erat-erat sebelum mengecek semua isinya. Ia menghembuskan napas lega ketika semua hartanya masih ada di dalam sana.
"Aku melihatmu dicopet," suara lelaki itu serak saat dia berbicara. "Hei, bisa aku minta air?" katanya pada perawat yang merawat bahunya. Perawat itu menaikkan sebelah alisnya, namun ketika Gaara memelototinya, ia langsung cepat-cepat menurut. Nampaknya berita tentang apa yang sanggup dan telah dilakukan oleh lelaki itu sudah santer di ruang UGD tersebut. Tidak lama kemudian perawat itu kembali dengan segelas air. Gaara langsung meminumnya dengan rakus. "Aku melihat saat dua keparat itu menghantam kepalamu dengan pemukul bisbol. Aku tidak tahu otak mereka berada dimana, memukul perempuan dengan pemukul bisbol seperti itu, lalu mengambil tasmu. Tentu saja aku marah dan mengejar mereka."
Hinata mengernyit. "T-t-tapi kudengar...mereka naik motor. Bagaimana kau bisa...?"
"Kau hanya perlu memotong lewat gang yang benar."
"Dan mereka menabrakmu," kata si perawat yang memerban lengannya. "Kau seharusnya bersyukur tidak ada tulangmu yang patah."
"M-m-mereka menabrakmu?" tanya Hinata penuh horor.
Gaara mengangguk. "Karena itu mereka terjatuh, dan saat itulah aku mengambil kesempatan dan menghabisi mereka." Gaara memejamkan mata, "lalu polisi datang dan menangkap kami. Well, menangkapku. Mereka membawa dua bajingan itu kesini. Setelah mereka tahu bahwa mereka juga menabrakku, aku dilepas dan dibawa kesini."
Hinata menghembuskan napas lega lalu tersenyum bahagia menatap Gaara yang masih memandanginya. Kemudian mendadak ia terisak. Karena malu ia menutupi wajahnya, "Oh, m-m-maafkan aku. K-kurasa ini air mata haru."
"Dasar cengeng," gerutu Gaara.
"T-terima kasih..." kata Hinata masih terisak.
Ia tidak tahu mengapa ia menangis, yang ia tahu adalah hantaman pemukul bisbol di bagian belakang kepala bisa mengakibatkan siapapun mati, dan ia sangat beruntung karena ia masih bisa duduk dan mengobrol dengan orang yang menyelamatkan tasnya serta nyaris mati karena tertabrak motor di hadapannya ini. Ia sangat lega.
"T-terima kasih, Gaara."
Hinata membereskan administrasi rumah sakit serta menebus obat menggunakan kartu jaminan sosialnya. Obat yang diberikan oleh Akira-sama hanyalah obat penghilang rasa sakit serta beberapa salep untuk mengobati bagian yang memar dan bengkak.
Saat itu sudah pukul delapan malam. Hinata sudah diizinkan pulang dari rumah sakit, meskipun dengan perban di kepalanya. Ia sangat lelah dan lapar. Yang ia inginkan hanyalah kembali ke apartemennya sesegera mungkin dan tidur sampai siang besok. Mungkin dia akan izin sekolah besok. Dia baru saja kecopetan dan dihantam pemukul bisbol hari ini. Ia yakin bahwa sekolah pasti akan mengerti.
Ketika menemukan Gaara duduk sendirian di salah satu bangku di pinggir koridor, mendadak Hinata teringat sesuatu. Ia pun bergegas menuju mesin penjual minuman dan mencari-cari sekaleng latte. Ia kecewa karena tidak menemukan latte dan akhirnya membeli dua kaleng milo dingin.
"Ini," kata Hinata yang duduk di samping Gaara sembari menyodorkan minumannya. "I-ini bukan French Vanilla Latte, a-aku tidak menemukan latte di mesin penjual minuman. T-tapi aku yakin ini sama enaknya."
Gaara mengamati kaleng itu sebelum menatap Hinata. Tanpa ragu ia mengambilnya. "Trims," katanya seraya membuka kalengnya.
Hinata juga melakukan hal yang sama.
"A-Aku ingin melakukan sesuatu sebagai ucapan terima kasih."
Gaara tidak menoleh ke arahnya saat berkata, "Mungkin kau harus tahu sesuatu."
"A-apa?"
"Aku tidak mengejar pencopet itu karena ingin menolongmu."
Hinata memberinya pandangan bingung, lalu wajahnya memerah. Selama beberapa saat tadi ia memang mengira bahwa lelaki itu pasti berniat menolongnya. Tapi ketika ia pikirkan lagi, mereka hampir tidak mengenal satu sama lain, dan dia bukan siapa-siapanya Gaara.
"L-lalu kenapa?"
"Aku marah." Kali ini dia menoleh ke arah Hinata. "Aku sangat marah." Bibirnya menipis lalu ia membuang muka. "Aku melupakanmu begitu aku melihat muka dua orang itu. Yang kutahu adalah aku harus mengejar dan membunuh mereka."
Hinata bergidik mendengar suara pemuda itu. Dia...serius?
"Jadi kau tidak harus berterima kasih padaku. Aku melakukannya untuk memuaskan diriku sendiri." Ia pun berdiri dan berjalan meninggalkan Hinata tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya.
Hinata berdiri dan mengejarnya. Ketika ia berjalan di samping lelaki itu, ia berkata, "A-aku tidak peduli."
Gaara menoleh ke arah Hinata, sebelah alisnya terangkat.
"Berniat ataupun tidak, kau tetap saja menolongku. S-seluruh hartaku ada d-di dalam tas ini, d-dan aku berhutang nyawa padamu. A-aku akan melakukan saja untuk membalasmu." Hinata tersenyum padanya.
"Sudah kubilang. Kau tidak perlu berterima kasih padaku karena aku tidak berniat menolongmu."
Hinata menggigit bibir bawahnya sambil berpikir keras. "K-kau suka ramen ichiraku, 'kan?"
Pertanyaan tersebut memancing perhatian Gaara. Ia pun mengangguk.
Hinata tidak percaya ia akan mengatakan ini. Ia tidak tahu apakah ini adalah keputusan yang bijak atau tidak. Yang ia tahu adalah jika lelaki ini dan amarahnya tidak berada di sini, ia mungkin kehilangan semua yang ia punya...dan mungkin juga tewas akibat luka di kepala.
Oleh karena itu...
"Umm...kalau kau mau...kau boleh makan kapan saja dengan gratis di...Ichiraku."
Gaara berhenti dan menghadapnya. Hinata pun ikut berhenti. "Tawaran yang menarik," katanya. "Tapi tidak, terima kasih. Aku masih sanggup membayar makananku sendiri."
Ia berbalik dan berjalan lagi.
Merasa terluka karena Gaara menolak satu-satunya tawaran yang bisa ia tawarkan pada orang lain, Hinata pun membiarkan pemuda itu berjalan meninggalkannya. Uang adalah sesuatu yang sangat berharga bagi orang yang hidup dan bekerja sendirian tanpa orang tua seperti Hinata. Membiarkan gajinya dipotong setiap lelaki itu makan di tempatnya adalah sesuatu yang luar biasa.
Tapi kemudian...mungkin hal itu memang tidak terdengar terlalu mewah bagi orang seperti Gaara.
Punggung lelaki itu sudah hampir menghilang di ujung koridor, ketika Hinata tiba-tiba memutuskan untuk mengejarnya. Kali ini dia-lah yang menarik lengan lelaki itu untuk menghentikannya. Hinata melihat ekspresi marah terlintas di wajah lelaki itu sebelum kembali normal ketika melihat siapa yang menghentikannya. Dengan nada jengkel ia bertanya, "Apa lagi?"
"S-setidaknya...setidaknya...biarkan aku memberimu makan."
Gaara menaikkan sebelah alisnya, sebelum pandangannya turun ke tangan Hinata yang masih memegang lengannya. Menyadari pandangan lelaki itu, Hinata langsung cepat-cepat melepaskan tangannya.
Ketika Gaara tak kunjung menjawab, ia pun melanjutkan, "D-datanglah ke rumahku Sabtu nanti..." Kepercayaan diri Hinata perlahan-lahan memudar saat melihat pandangan intens dan penuh perhitungan yang Gaara berikan, "Jam...jam...tujuh mungkin?" Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya lalu menunduk, seolah-olah berusaha bersembunyi dari lelaki itu. Entah mengapa Hinata merasa hanya dengan pandangannya lelaki itu mampu membuat siapapun berlutut di depannya. Karena ia merasa lututnya mendadak lemas karena lelaki itu tidak mengatakan apapun selama beberapa menit dan hanya berdiri di sana menatapnya.
"Tidak," katanya akhirnya.
Hinata menghela napas kecewa. Ya, itulah akhirnya. Ia tidak punya apapun lagi untuk ditawarkan. Mungkin ia harus belajar hidup dengan berhutang budi dengan orang asing ini. "B-baiklah...aku mengerti."
Hinata memberinya senyuman gugup. Ia membungkuk dengan sopan dan sudah akan mengucapkan selamat tinggal namun lelaki itu tiba-tiba berkata.
"Aku mau kau yang ke rumahku. Kau bisa menggunakan dapurku. Sabtu ini. Aku akan menjemputmu di halte bus depan stadion Sunagakure jam 5 sore."
Tanpa berkata apapun lagi ia langsung berbalik dan kali ini benar-benar meninggalkan Hinata yang beberapa saat kemudian khawatir bahwa kombinasi degup jantungnya yang kencang serta rasa sakit yang berdenyut-denyut di kepalanya bisa membuatnya pingsan lagi.
Sebelum hal itu terjadi, Hinata pun segera meninggalkan rumah sakit untuk pulang ke apartemennya.
A/N: Satu atau dua patah kata di kotak review akan sangat dinantikan. Sampai jumpa di chapter depan! :)
