Disclaimer: Applied
Terima kasih banyak atas support-nya! I'm so happy! Semoga kalian suka chapter ini!
Chapter 5
Roasted Chicken and The Proposal
Hinata bukanlah gadis yang modis. Tempatnya menyimpan pakaian bukanlah sebuah lemari kayu jati raksasa dengan dua pintu geser atau sebuah walk-in closet, melainkan hanya sebuah lemari laci sederhana berwarna biru yang terbuat dari plastik. Karena memang tidak pernah melakukan kegiatan di luar rumah selain sekolah, bekerja, atau berbelanja kebutuhan sehari-hari, gadis itu memang tidak pernah repot-repot mengisi lemari pakaiannya dengan sesuatu yang lebih bagus daripada beberapa kaos, kemeja, serta celana jins yang tidak sobek. Satu-satunya pakaian bagus yang ia miliki hanyalah sebuah dress berwarna hitam selutut yang dulu dibelinya setengah harga untuk menghadiri pesta ulang tahun Ayame, putrinya Paman Ichiraku.
Hanya saja pada hari Sabtu itu, Hinata berhararap ia memiliki lebih banyak pilihan di dalam lemari pakaiannya.
Saat itu masih pukul tiga sore. Setelah mandi dan menimbang-nimbang cukup lama tentang pakaian yang harus ia kenakan hari itu, Hinata akhirnya memutuskan untuk menggunakan kaos putih serta celana jins-nya yang paling bagus. Ia juga tak lupa menyisir rambut indigo-nya yang panjang, serta menggunakan sedikit bedak dan lipgloss. Setelah selesai, ia mengambil jaket serta daftar belanjaan yang sudah ia siapkan dan meninggalkan apartemennya.
Sebelum menuju stasiun, hari itu Hinata berencana untuk mampir di supermarket dan membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk makanan yang ia janjikan pada Gaara. Ia tidak tahu apa yang ada di dapur lelaki itu, namun karena Gaara membiarkannya menggunakan dapurnya itu artinya lelaki itu memiliki peralatan masak yang memadai.
Butuh waktu dua hari bagi Hinata sebelum ia menentukan menu makanan yang tepat. Pertama-tama, karena Gaara bilang akan menjemputnya pukul 5 sore, maka dia pasti mau makan malam. Selanjutnya, Hinata tidak tahu ada berapa orang anggota keluarga Gaara, dan ia juga tidak sempat bertanya. Oleh karena itu Hinata harus memasak sesuatu yang cukup banyak yang bisa dimakan bersama-sama. Kemudian, ini yang paling krusial, Hinata tidak tahu makanan apa yang Gaara suka! Tapi setelah ia menimbang-nimbang dan bertanya pada Ayako, Ayame, serta Paman Ichiraku, mereka setuju bahwa jarang sekali ada orang Jepang yang tidak suka hidangan umum seperti ayam. Maka ia pun berencana untuk membuat ayam panggang serta mashed potato. Untuk makanan pembukanya ia akan menyiapkan sup jagung dan untuk penutupnya, ia akan membuat puding cokelat.
Untuk Hinata, menu makanan yang ia rencanakan tersebut adalah menu yang sangat-sangat-sangat mewah. Namun ia tidak yakin apakah Gaara...dan mungkin keluarganya...akan menyukainya.
Separuh diri Hinata awalnya merasa takut datangnya hari Sabtu itu. Ia hampir tidak mengenal Gaara. Dan sekarang ia akan ke rumah lelaki itu, bertemu keluarganya, dan memasak untuk mereka. Hinata belum pernah berada dalam situasi seperti itu.
Hinata tidak punya saudara. Makan malam keluarga-nya yang terakhir adalah sekitar tiga tahun yang lalu. Sejak saat itu ia selalu makan malam sendirian. Dalam hati Hinata pun berusaha mengingat apa yang biasa dibicarakan orang-orang saat makan malam bersama.
Setelah mendapatkan bahan-bahan yang ia butuhkan, Hinata pun bergegas ke stasiun, naik kereta menuju Sunagakure, lalu turun dan mengambil bus menuju stadion.
Hinata adalah orang yang sangat menghargai waktu dan selalu memastikan bahwa dirinya datang tepat waktu atau lebih awal. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 4:55 saat ia turun dari bus. Namun ketika bus meninggalkan halte, Hinata menemukan Gaara sudah menunggu dengan motornya di seberang jalan.
Perhatian lelaki itu terfokus pada ponsel di tangannya. Namun ketika Hinata menyeberang jalan, lelaki itu mendongak ke arahnya. Ia tidak membalas Hinata yang tersenyum padanya. Pandangannya justru jatuh pada belanjaan di tangan gadis itu.
"Kau mau memberi makan berapa banyak orang?" tanyanya dengan nada datar saat Hinata sampai di dekatnya.
"E-eh...itu...aku tidak tahu berapa anggota keluargamu jadi aku hanya menebak-nebak."
Dahinya mengerut. "Aku tinggal sendirian," katanya. "Kurasa aku lupa memberitahumu," Ia menghela napas.
Wajah Hinata langsung memanas. S-sendirian? Meskipun tawaran memberi makan ini muncul di kepalanya seminggu yang lalu, namun saat itu pikiran bahwa ia akan melewatkan waktu berduaan saja dengan pemuda ini tak pernah terlintas di benaknya. Kendalikan dirimu, Hinata! Kalau tadi dia bersedia datang ke apartemenmu kalian tetap akan berduaan! Tapi tetap saja Hinata lagi-lagi tidak bisa mengendalikan debaran jantungnya serta perasaan aneh yang muncul di perutnya.
Gaara tidak memperhatikan wajah merah Hinata. Ia mengambil belanjaannya, lalu sebagai gantinya memberinya helm. Kali itu Gaara tidak mengebut seperti orang gila. Hinata pun bisa bernapas lega karena ia tidak perlu berpegangan pada tubuh Gaara.
Sesungguhnya perjalanan dari halte stadion ke rumah Gaara adalah perjalanan yang sangat singkat, bahkan tidak sampai lima menit. Mereka hanya melewati dua persimpangan sebelum berbelok ke kiri. Kemudian di sebelah kanannya, Hinata bisa melihat tembok yang sangat panjang dan tinggi. Tembok yang tak berapa lama kemudian ia ketahui adalah tembok yang mengelilingi properti milik keluarga Gaara.
Mulut Hinata menganga terbuka saat menyadari bahwa luas rumah Gaara meliputi satu blok sendiri.
Setelah melewati pintu gerbang megah berwarna hitam yang sangat tinggi, mereka melewati sebuah jalan yang bagi Hinata lebih mirip seperti lorong, karena diapit oleh pohon-pohon tinggi, sangat tinggi hingga cabang-cabang serta dedaunannya membentuk kanopi di atas mereka. Di balik deretan pepohonan tersebut Hinata bisa melihat taman yang didekorasi oleh rumput hijau serta bermacam-macam jenis bunga yang berwarna warni.
Mereka tiba di bangunan tiga tingkat bergaya Eropa yang Hinata asumsikan merupakan bangunan utama. Di depannya terdapat sebuah kolam berbentuk lingkaran dengan air mancur serta patung dewa Neptunus di tengahnya.
Hinata masih terbelalak dan menengok kesana-kemari untuk menangkap seluruh pemandangan rumah yang menurutnya adalah rumah terindah yang pernah dilihatnya, sehingga ia tidak sadar Gaara sudah menghentikan motornya di pintu depan.
"Kau tidak mau turun?" tanya Gaara, menyadarkan Hinata dari momen norak bersama dirinya sendiri.
Hinata, seperti baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah, langsung buru-buru turun dan melepas helm-nya. Setelah melepas helm, perhatian Hinata sekali lagi tertangkap oleh halaman di sekitarnya. Rumah itu benar-benar sangat indah! Sangat hijau dan sangat indah! Masih memegang helm-nya, Hinata tanpa sadar berjalan ke taman tempat terdapat deretan bunga tulip dan dafodil. Halaman rumah ini persis seperti halaman rumah-rumah para bangsawan Inggris yang selalu ia baca di novel. Ingin rasanya Hinata berbaring di rerumputan itu dan membiarkan sinar matahari mengelus wajahnya.
"Hei."
Hinata nyaris menjerit ketika mendengar Gaara yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Ia berbalik dan menemukan lelaki itu menatapnya dengan ekspresi tidak sabar dengan kantong belanjaan di kedua tangannya. Rentetan permintaan maaf pun meluncur dari mulut gadis itu dan ia langsung mengambil alih belanjaannya dari Gaara. "M-maafkan aku. Rumahmu sangat indah."
Gaara hanya mengangkat bahu.
Hinata kemudian mengikuti Gaara berjalan menuju pintu depan. Dalam hati gadis itu meyiapkan diri untuk melihat lebih banyak keindahan. Dengan bagian luar rumah yang sangat indah pastinya bagian dalam rumah tersebut juga tak kalah indahnya. Dan Hinata tidak bisa percaya bahwa orang ini tinggal sendirian!
"K-kamu pasti punya tukang kebun yang telaten untuk merawat taman seperti itu," puji Hinata saat mereka mendaki anak tangga menuju pintu depan.
"Ya, lumayan," jawabnya acuh tak acuh.
Setelah mereka melewati pintu depan, napas Hinata tercekat ketika melihat kemegahan lain. Jendela-jendela yang tinggi dengan tirai terangkat membiarkan sinar matahari sore itu memasuki ruangan. Lantainya terbuat dari kayu yang telah dipoles serta dilapisi oleh karpet-karpet bulu yang Hinata yakin tak akan pernah bisa ia beli meskipun ia menabung sumur hidup. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit. Hinata bisa membayangkan apabila malam hari tiba lampu tersebut akan dinyalakan dan cahayanya yang berwarna kuning lembut akan memandikan seluruh ruangan tersebut. Saat mereka berjalan Hinata bisa melihat perabotan mewah disana-sini, benda-benda artistik serta lukisan-lukisan yang nilainya jutaan yen, grand piano, serta perapian di dinding. Hinata bisa membayangkan di musim dingin Gaara akan bersantai di samping perapian tersebut sambil menikmati segelas cokelat panas.
Kemudian pertanyaan tersebut kembali lagi di kepalanya. "K-kamu benar-benar tinggal sendirian?"
Mereka melewati beberapa lorong dan banyak pintu yang Hinata duga membawa mereka ke bagian belakang rumah. Gaara tidak menjawab pertanyaan Hinata sampai mereka tiba di dapur terbesar dan terbagus yang pernah Hinata lihat dalam hidupnya.
Dan dalam seketika, Hinata pun langsung tidak peduli bahwa Gaara tak menjawab pertanyaannya.
Ia meletakkan belanjaannya di meja besar yang terletak di tengah-tengah dapur, sebelum dengan mata berbinar-binar mengelilingi dapur tersebut dan menyentuh setiap peralatannya dengan kehati-hatian seorang ilmuwan terhadap spesimen yang sangat berharga.
Gaara menyeringai melihat reaksi Hinata. Ia hanya berdiri di sana dan mengamati Hinata menyentuh setiap inci permukaan benda-benda yang ia tahu tak akan pernah bisa dibelinya.
"Aku hanya punya seorang pelayan. Karena tidak bisa memasak, dia hanya bersih-bersih di sini. Dapur ini tak pernah dipakai. Gunakan sesukamu."
Hinata berbalik ke arahnya, masih dengan kedua matanya yang besar dan berbinar-binar, ia mengangguk dengan penuh semangat. Kemudian perlahan-lahan ekspresi tersebut memudar, saat Hinata melihat seseorang muncul dari belakang Gaara.
Gaara berbalik dan orang tersebut membungkuk padanya. "Selamat datang kembali, Master Gaara."
"Nah, kebetulan. Matsuri, ini Hinata. Hinata, ini Matsuri."
Matsuri membungkuk ke arah Hinata dan memanggilnya, "Miss." Si gadis berambut indigo memerah mendengar panggilan tersebut. Itu adalah panggilan paling formal yang pernah ia dengar.
"Kalau ada apa-apa kau bilang saja padanya. Matsuri, kau bantu Hinata apapun yang ia butuhkan. Aku ada di bawah. Kalau makanannya sudah jadi panggil aku."
Matsuri, dengan rambut cokelat pendek serta seragam pelayannya yang apik, dengan lembut mengangguk lalu menjawab, "Baik, Master."
Tanpa berkata apapun lagi Gaara langsung meninggalkan mereka.
Segera setelah Gaara meninggalkan mereka Matsuri langsung menghembuskan napas, seakan-akan sebuah beban berat baru saja terangkat dari punggungnya. "Fiuh," katanya. Lalu ia berbalik dan dengan senyum lebar kembali memperkenalkan dirinya. "Miss Hinata, apa kabar? Aku Matsuri! Tadi kupikir aku berkhayal atau melihat hantu karena kupikir, "oh mana mungkin Master Gaara punya tamu", tapi lihat anda disini! Aku senang sekali! Tadi aku juga sempat berpikir Master Gaara akan marah padaku karena aku tidak di bawah menyambut kedatangannya."
Rumah Gaara tidak pernah gagal membuat mulut Hinata terbuka menganga. Ia terlalu takjub melihat perubahan sikap serta ocehan gadis itu sehingga ia tidak tahu harus merespon seperti apa.
"H-halo..."
Matsuri meraih tangan Hinata dan menggemgamnya erat-erat. "Jadi, apa yang anda lakukan disini? Master Gaara tak pernah memberitahuku apapun," Bibirnya lalu melengkung ke bawah selama beberapa detik, sebelum melengkung ke atas lagi, "Tapi tidak apa-apa yang penting anda sekarang disini. Jadi kapan kalian mulai berpacaran? Sudah berapa lama? Oh, aku sudah tak sabar mendengar semua detailnya. Kita bisa mmembicarakannya sambil melakukan...eh, apa yang anda lakukan disini?"
"T-tunggu...tunggu." Hinata melambai-lambaikan tangannya di udara. Ia paling tidak bisa menghadapi orang yang dengan cepat mengambil konklusinya sendiri seperti gadis ini. "Aku bukan pacar Gaara." Hinata menggeleng-geleng. "Apa yang bisa membuatmu berpikir seperti itu?"
Matsuri terdiam cukup lama. Ekspresi bahagianya barusan sirna. Ia mematung disana dengan pandangan bingung.
Seperti baru sembuh dari rasa syoknya, ia pelan-pelan berkata, "Fakta bahwa anda ada di sini, Miss."
Hinata baru akan menjelaskan pada Matsuri bahwa mereka hanya teman, namun gadis itu berkata lagi.
"Dan karena anda adalah orang pertama yang pernah Master bawa kesini."
Saat Hinata menjelaskan pada Matsuri bagaimana hubungannya dengan Gaara, ia nyaris tidak tega menyelesaikan ceritanya karena gadis itu terlihat seperti mau menangis.
Hinata juga sudah menjelaskan apa yang ia lakukan di situ dan menjelaskan menu apa yang akan dimasaknya. Karena Matsuri ternyata memang sama sekali tidak memiliki kemampuan memasak kecuali membakar seluruh dapur, Hinata pun memberi tugas termudah bagi gadis itu, yaitu mengaduk agar-agar di panci. Gadis itu baru terdiam lima menit melakukan pekerjaannya ketika dia tiba-tiba mengoceh lagi.
"Master pasti memiliki perasaan tersendiri pada anda, Miss. Kalau tidak, Master tidak akan membawa anda kesini."
Hinata hanya tersenyum lalu menggeleng-geleng saat berjongkok di depan pemanggang untuk memutar ayam panggangnya. "Aku bisa memastikan kalau itu tidak mungkin, Matsuri. Ketika aku pertama kali bertemu Gaara...well, kami tidak bertemu dalam kondisi yang cukup menyenangkan. Aku... tanpa sengaja menyemprotnya dengan pepper spray." Hinata terkekeh saat mengingatnya. Saat insiden itu terjadi ia nyaris pipis di celana saking takutnya, tapi sekarang dia sudah bisa menertawakannya. "Dia sangat marah. Tapi dia membalasku dengan menakut-nakutiku sambil kebut-kebutan dengan motornya. Kurasa kami impas. Lalu tempo hari ia menolong aku yang kecopetan. Dan disinilah aku sekarang, mencoba mengembalikan keseimbangan dunia."
Hinata mendongak untuk menatap Matsuri dan menemukan gadis itu memandangnya dengan penuh horor. "Anda...menyemprot...Master Gaara...dengan...apa?"
"Er...pepper spray?"
Matsuri terlihat seperti terkena serangan jantung. Ia nyaris menjatuhkan spatula yang ia gunakan untuk mengaduk agar-agar di panci. Namun sedetik kemudian ekspresinya berubah bingung. "Tunggu, Miss. Anda tahu kondisi Master, bukan?"
Hinata mengernyit. "Kondisi?" tanyanya menggunakan nada yang sama dengan nada yang digunakan Matsuri.
"Ya, anda tahu. Terkadang Master Gaara suka..." Ia membuat gerakan-gerakan aneh dengan tangan di dekat kepalanya.
"Suka...?"
Matsuri melihat ke kanan dan kiri seakan-akan takut seseorang mencuri dengar pembicaraan mereka, lalu ia membungkuk dan berbisik, "Marah."
"Marah?"
"Shhhhh!"
"Oh, m-maaf."
Pembicaraan mereka pun berlanjut dengan nada berbisik. Matsuri mematikan kompor, lalu berjongkok di sebelah Hinata. Wajah mereka begitu dekat hingga Hinata bisa mencium aroma shampoo gadis itu. "Ini adalah sesuatu yang kudengar dari pelayan yang dulu bekerja disini bersamaku. Master Gaara baru pindah ke Jepang bersama Mistress Karura ketika beliau berumur sepuluh tahun. Ayahnya Master tinggal di luar negeri. Setahun kemudian Mistress Karura jatuh sakit dan meninggal. Dulu di rumah ini masih tinggal banyak pelayan, dan mereka semua lah yang mengasuh Master Gaara. Namun tepat dua tahun yang lalu, Master Gaara...berubah."
Dua tahun yang lalu...Hinata pertama kali tiba di Tokyo. "Berubah...bagaimana?"
"Aku juga tidak tahu pasti ceritanya. Kudengar Master hampir...hampir...membunuh seseorang." Ia menggigit lidahnya lalu melihat kesana-kemari dengan panik seolah-olah ia barusan berbicara terlalu keras. "Sejak saat itu Master menjadi sangat pemarah. Hal sekecil apapun yang bagi orang biasa hanya terasa menjengkelkan bisa membuat Master murka. Para pelayan satu persatu mulai kabur karena tidak tahan dengan temperamen Master. Termasuk Nenek Chiyo." Matsuri mengernyit sedih.
"Nenek Chiyo?"
"Iya, nenek yang sejak Master tiba di Jepang senantiasa merawat Master. Nenek Chiyo jugalah yang menemukanku dan membawaku kesini."
"Apa yang terjadi pada Nenek Chiyo?"
"Master memukul Nenek ketika Nenek mencoba menenangkan Master..." Matanya berkaca-kaca, "Itu buruk sekali. Dokter-nya Master menyarankan agar Nenek pergi dari sini karena menurutnya Nenek memicu banyak memori Master yang membuat kondisinya makin memburuk. Aku adalah staff termuda dan paling baru di rumah ini, jadi aku adalah orang yang paling tidak sering menghadapi kemurkaannya. Tapi bukan berarti aku tidak pernah melihatnya..." Ia langsung bergidik.
Hinata tercengang saat berusaha memproses informasi tersebut. Mendadak di dalam pikirannya semuanya menjadi jelas. Ia bisa membayangkan Gaara yang melampiaskan kemarahannya sendirian di stadion sore itu lama setelah timnya meninggalkannya. Kemudian semua pukulan yang dilampiaskannya pada dinding saat Hinata menyemprotkan pepper spray padanya. Lalu...penjelasan Gaara tentang alasannya menolong Hinata tempo hari.
"Aku marah." Dia menoleh ke arah Hinata. "Aku sangat marah." Bibirnya menipis lalu ia membuang muka. "Aku melupakanmu begitu aku melihat muka dua orang itu. Yang kutahu adalah aku harus mengejar dan membunuh mereka."
"Apakah...apakah dia sudah ke...terapis?"
Matsuri mengangguk. "Bahkan terapi obat. Tapi tetap saja beliau mengalami kesulitan mengendalikan amarahnya. Dokter menyarankan agar Master menyalurkan amarahnya melalui olahraga. Namun sepertinya itu juga tidak cukup." Matsuri menghela napas sedih. Namun sedetik kemudian wajahnya kembali sumringah. "Tapi sekarang anda disini, Miss! Anda adalah secercah harapan yang pertama kali muncul dalam jangka waktu yang sangaaat lama! Master Gaara membawa anda kesini dan anda tidak mengetahui kondisi Master. Artinya...anda memiliki semacam...sihir terhadap Master?"
Hinata memekik, "Sihir? Tidak!"
Matsuri tertawa, lalu berdiri dan kembali pada tugasnya.
Hinata mengernyit. "Jangan mengada-ada, Matsuri." Hinata menggeleng lagi. "Menurutku Gaara juga sangat pemarah. Mungkin dia bersikap normal karena dia tidak terlalu mengenalku."
"Oh, anda bisa mengatakan itu pada semua orang-orang yang sudah habis babak belur dihajar Master."
Wajah Hinata memerah, ia mengabaikan Matsuri dan berdiri kembali agar bisa memotong-motong sayur untuk salad. "Matsuri?"
"Ya, Miss?"
"Rumah sebesar ini...kalian hanya tinggal berdua?"
Matsuri terkekeh. "Tentu saja tidak. Selain Master dan aku ada Ata juga."
"Ata? Apa dia yang menata semua taman itu?" tanya Hinata yang masih belum bisa berhenti mengagumi keindahan taman di luar.
"Bukan, Miss. Ata adalah penjaga. Dia bertugas di pagar depan. Bukannya anda bertemu dengannya tadi?"
Hinata menggeleng. "Tidak. Tunggu, kalau bukan Ata, lalu siapa yang memelihara taman di luar?"
Matsuri berbalik, lalu dengan bangga berkata, "Tentu saja Master Gaara!"
Meskipun ukurannya sangat besar, namun pintu ganda tersebut tidak berbunyi saat Hinata mendorongnya terbuka dan masuk ke dalam. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menuruni tangga batu melingkar yang berada di balik kedua pintu tersebut sambil berusaha menyeimbangkan nampan yang berisi makan malam hasil kerja kerasnya.
Setelah persiapan makan malam selesai tadi, Matsuri memekik bahagia seolah-olah itu adalah pertama kalinya ia melihat makanan dimasak di hadapannya. Air liurnya nyaris menetes saat Hinata menarik keluar ayam panggang dari oven. Hinata pun bertanya apa yang biasanya mereka makan apabila di rumah itu tidak ada juru masak, dan ia merasa kasihan ketika Matsuri menjelaskan bahwa setiap hari ia harus pergi ke toko roti untuk membeli roti untuk sarapan dan memesan makanan di restoran cina atau restoran thailand kesukaan Gaara dan memesan menu favorit lelaki itu.
Kemudian, sesuai instruksi Gaara, Matsuri pun memanggil tuannya itu dari 'bawah'. Namun kemudian gadis itu kembali naik ke atas lagi dan memberitahu Hinata bahwa si pemuda berambut merah, seperti malam-malam yang lain, ingin menyantap makan malamnya di ruang pribadinya di 'bawah'.
Hinata pun tak punya pilihan lain kecuali meletakkan semua hidangan yang ada di sebuah nampan dan membawanya ke bawah.
Hinata menghela napas saat menuruni tangga-tangga batu tersebut. Jika bukan karena lampu-lampu yang berderet menempel di dinding, tangga tersebut pasti terlihat seperti tangga menuju penjara bawah tanah. Namun di dasar tangga, bukannya menemukan penjara, Hinata malah menemukan pintu ganda yang lain.
Ia mengetuk dua kali dengan ujung sepatunya sebelum mendengar suara Gaara berkata, "Masuk."
Hinata mendorong pintu tersebut dengan bahunya. Ketika masuk ke dalam, mulutnya (lagi-lagi) terbuka menganga.
Ruangan tersebut mungkin berukuran dua kali dari ruang makan di atas. Fungsi utamanya adalah sebagai arena bersantai pribadi Gaara. Di sisi sebelah kiri terdapat sebuah meja rendah yang diapit beberapa sofa besar berwarna kulit. Selain itu ada juga beberapa rak buku yang penuh berisi buku-buku yang tersusun rapi serta sebuah TV raksasa yang dilengkapi sound system serta peralatan games yang hanya pernah Hinata lihat di televisi.
Tidak hanya semua hiburan itu, di sisi lain ruangan tersebut juga terdapat bermacam-macam peralatan olahraga, bahkan sebuah samsak tinju.
Namun bukan semua itu yang membuat Hinata ternganga, melainkan pemandangan seorang pemuda berambut merah yang hanya menggunakan celana trainingnya...
...tanpa baju.
Hinata merasa jantungnya berhenti sesaat.
Untuk pertama kalinya Hinata menyadari bahwa kulit Gaara sebenarnya agak kecoklatan. Dadanya bidang, dan lengannya berotot. Tubuhnya bersimbah keringat. Hinata bisa melihatnya dari butiran-butiran keringat yang bergulir di perutnya. Rambut merah lelaki itu menempel di dahinya. Kedua tangannya dililit perban putih. Ia terlihat seperti kehabisan napas.
"Apa?" tanyanya pada Hinata yang jelas-jelas dari tadi berdiri di sana dengan mulut terbuka dan mata jelalatan.
Di antara semua momen dimana Hinata menemukan dirinya tergagap, momen itu adalah yang paling parah. "Itu...eh...maaf...makanannya...sudah datang?" Hinata mengutuki dirinya yang malah mengakhiri kalimat tersebut dengan pertanyaan.
"Oh," katanya. "Masuklah." Ia lalu berbalik dan mengambil handuk untuk mengelap tubuhnya.
Dengan gugup, Hinata pun mendekati satu-satunya meja di ruangan itu. Dalam pikirannya ia berusaha menyingkirkan bayangan setengah telanjang Gaara yang entah mengapa terus menerus muncul. Ia berusaha menyebutkan nama Sasuke berkali-kali dalam pikirannya.
Gaara yang berkeringat...
Wajah Hinata memanas. Ia berlutut di sebelah meja rendah tersebut dan menyibukkan diri dengan menata piring-piring di meja. Meletakkan pisau, garpu, di tempatnya masing-masing. Ketika Matsuri datang dengan makanan pembuka, gelas, serta pot minuman, Hinata pun berusaha menyibukkan diri dengan menuangkan minuman ke gelas-gelas.
Ketika semua selesai, Hinata pun mendongak dan menemukan Gaara masih mengelap tubuhnya, ia secara otomatis melihat ke bawah dan kembali mengucapkan mantra Sasuke-nya.
"Kau masak apa?" Gaara tiba-tiba bertanya. Hinata mendongak lagi dan melihat lelaki itu melepas perban di tangannya. Perban tersebut terlihat lusuh dan...Hinata terkesiap, berdarah!
Dalam seketika Hinata pun berdiri.
"Kamu berdarah!" serunya. Gaara setengah telanjang terlupakan. Kini yang dilihat Hinata adalah Gaara yang berdarah.
Gaara mengangkat bahu. "Memang selalu seperti ini," katanya dengan nada tidak peduli. Ia mengambil handuknya dan mengelap tangannya dengan handuk tersebut, membuat warna handuk ungu tersebut menggelap di beberapa tempat. "Kau masak apa?"
Dengan pandangan terpaku pada tangan lelaki itu Hinata menjawab, "Ayam panggang."
Gaara mengendus aroma makanan yang menguar di ruangan itu. "Baunya enak."
"Mengapa setiap aku bertemu denganmu kau selalu saja terluka?" Pertanyaan tersebut keluar dari mulut Hinata sebelum ia menyadari betapa tolol kedengarannya.
Gerakan Gaara terhenti. Ia lalu melihat ke atas seperti mengingat-ingat kembali pertemuan mereka. Senyum kecil bermain di ujung bibirnya. "Mungkin kau membawa semacam kutukan?"
Hinata terkesiap, ekspresinya tersinggung. "Hei! Aku tidak menyuruhmu memukuli samsak itu."
Gaara menemukan kaosnya dan mengenakannya. Hinata senang melihat lelaki itu hanya berpakaian seadanya, karena Hinata sendiri tidak bisa dibilang berpakaian bagus.
"Kau menyemprotku dengan pepper spray, membuatku mengejar pencopet, kurasa itu cukup," katanya. Lalu berbalik dan berjalan menuju lemari laci. Ia mengeluarkan dua botol, yang satu besar yang satu kecil.
"Aku tidak membuatmu mengejar pencopet..."
"Kau tergeletak berdarah disana..." Ia mendesis saat menuangkan cairan di botol besar ke tangannya. Saat itu Hinata sadar kalau itu alkohol. "...kau membuatku mau mengejar mereka."
Hinata mengabaikannya dan malah berkomentar, "Bukan begitu cara memakai alkohol."
"Aku tahu, tapi ini cara yang praktis." Hinata melihat saat isi alkohol tersebut tumpah ke lantai.
Hinata menghembuskan napas, lalu menyeberangi ruangan dan mendekati Gaara. "Apa kau tidak punya kapas?"
Gaara melirik ke arahnya, lalu menggeleng. "Ada di atas, aku tidak tahu dimana Matsuri menyimpannya. Ini lebih cepat."
Hinata membuka laci yang tadi dibuka Gaara dan menemukan perban bersih. Ia merobek sedikit perban tersebut dan menggunakannya sebagai kapas untuk alkohol sebelum membersihkan luka Gaara dengan benar.
Tangan kiri Hinata memegang pergelangan tangan lelaki itu saat ia dengan lembut menepuk-nepuk bagian yang bernoda darah. Ia menyadari puluhan goresan dan bekas luka di tangan lelaki itu. Hanya satu kesimpulan yang bisa diambil Hinata dari luka-luka tersebut.
Lelaki ini sudah terlibat banyak perkelahian.
Hinata bergumam, "Kau harus membersihkannya dengan benar supaya tidak infeksi." Gaara tidak menjawab. Setelah lukanya bersih, Hinata mengambil botol yang lain yang tadi dikeluarkan Gaara dan menyadari itu adalah obat antiseptik. "Lebih baik kalau menggunakan salep geranium," kata Hinata sambil mengoleskan obat tersebut ke tangan Gaara. "Atau kau bisa memanfaatkan salah satu dari koleksi tanamanmu di luar."
Gaara terkekeh. Tawanya membuat dadanya bergetar. Saat itulah Hinata menyadari kedekatan mereka, dan gerakannya yang luwes saat mengobati Gaara mendadak berubah gelisah.
Setelah semua luka Gaara diolesi obat, Hinata langsung melepaskan tangannya lalu dengan gugup berbalik. Dari jarak sedekat itu tadi, Gaara pasti bisa melihat setiap inci wajahnya, serta rambutnya yang berantakan. Karena baru menghabiskan waktu di dapur, ia juga pasti berbau ayam panggang. Tanpa sadar Hinata pun berusaha merapikan baju dan rambutnya, berharap ia tidak terlihat terlalu jelek.
Hinata memainkan ujung rambutnya, mendadak ia kehilangan kepercayaandirinya. Gaara pasti tidak terlalu menyukai apa yang ada di depannya. Lagipula...apa yang bisa disukai darinya?
Ketika mendengar Gaara menutup laci di belakangnya, Hinata sudah hendak bergerak kembali ke meja ketika Gaara mendadak berbisik di telinganya. "Thanks."
Gadis itu menelan ludah dan mengangguk.
Tadinya Hinata pikir mereka akan duduk di sofa, namun ketika Gaara mengambil posisi duduk di lantai, Hinata pun langsung duduk di lantai di seberang lelaki itu.
Mereka makan dalam diam
Setelah menghabiskan makanan pembukanya, dan mulai menyantap ayamnya, Gaara tiba-tiba berkomentar, "Ini enak," katanya tanpa melihat Hinata.
Hinata tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih. Ia bersyukur Gaara menyukai masakannya.
Gaara tidak berkata apa-apa dan terus menyelesaikan makanannya dengan lahap.
Ketika mereka menyantap puding cokelat yang sudah didinginkan Matsuri, Gaara memanggil gadis itu dengan telepon dan menyuruhnya mengambil champagne dan dua gelas. Setelah Matsuri hilang untuk melaksanakan tugasnya, barulah ia melihat Hinata. "Kau punya talenta memasak."
Dengan malu-malu Hinata mengangguk. "Hanya...kebiasaan."
"Terima kasih. Itu masakan yang sangat enak. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku makan masakan yang dibuat di dapurku sendiri." Dia seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Matsuri tiba dengan sebotol champagne dan dua gelas kristal. Gaara menuangkan untuk dirinya dan untuk Hinata.
"Kita impas?" kata Hinata mengangkat gelasnya.
Gaara juga mengangkat gelasnya untuk melakukan tos, "Kita impas."
"Mmmh, ya Tuhan, ini enak sekali," kata Hinata dengan mata berbinar-binar. "Minuman terenak yang pernah kuminum!"
Gaara tersenyum.
Hinata membeku. Itu pertama kalinya ia melihat lelaki itu tersenyum. Tersenyum sungguhan. Senyuman yang mencapai matanya. Biasanya ia selalu melihat lelaki itu tersenyum sinis, menyeringai, atau tersenyum meremehkan.
Namun secepat kedatangannya, senyum tersebut hilang. Dan Hinata tidak berani menanyakannya.
"Kenapa kau bekerja di Ichiraku kalau kau bisa memasak seperti ini?" Gaara tiba-tiba bertanya. Ia sudah meletakkan gelasnya dan kini bersandar pada kursinya.
Hinata juga meletakkan gelasnya. "Dekat dari apartemenku, dekat dari sekolah, dan Paman Ichiraku membiarkanku bekerja di atas jam kerja anak SMA."
Alasan terakhir memancing perhatian Gaara. "Kau mencari full-time?"
Hinata mengangguk.
"Kenapa?"
Hinata menelan ludah. Ia merasa ragu-ragu untuk berterus terang. Biasanya ia tidak punya masalah saat bercerita tentang pekerjaannya. Namun sejak komentar Sasuke terhadap hidup dan pekerjaannya, Hinata langsung kehilangan kepercayaandirinya. Apalagi yang bertanya disini adalah Gaara Sabaku dengan rumahnya yang mewah serta taman bunga-nya yang seolah-olah keluar langsung dari buku dongeng.
Namun karena Gaara menunggu jawabannya, Hinata tak punya pilihan lain kecuali menjawab. "I-itu...karena aku tinggal sendiri."
"Aku juga tinggal sendiri."
Hinata menghela napas lalu meletakkan sendoknya. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. "Kau tinggal sendiri...di sebuah istana."
Gaara menaikkan sebelah alisnya.
"Kau...punya segalanya. A-aku tidak." Hinata kembali mengangkat sendoknya lalu memainkan pudingnya. Mendadak ia kehilangan selera untuk menghabiskan pudingnya.
Kini Gaara juga meletakkan sendoknya. Ia mengelap mulutnya dengan serbet kemudian bersandar pada sofa di belakangnya. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada gadis hadapannya. "Segalanya itu...apa?"
Pandangan Gaara yang intens serta wajahnya yang datar tanpa emosi membuat Hinata gelisah. Seolah-olah ia baru saja mengatakan sesuatu yang salah.
"Semua ini, Gaara. Semua yang ada di sekelilingmu. Aku...aku bertaruh kau pasti tak pernah sekalipun memikirkan tagihan listrikmu, kau pasti tidak pernah membayar tagihan laundry karena kau memiliki mesin cucimu sendiri, kau tidak pernah kedinginan saat musim dingin karena mesin pemanasmu rusak atau karena kau tidak mampu mengganti selimutmu yang sudah berlubang, dan kau pasti tak pernah terbangun tengah malam karena atapmu bocor dengan air hujan. Kau juga tidak perlu memikirkan uang untuk mengganti pipa di bawah bak cuci piringmu atau mengecat pagar balkonmu karena sudah berkarat." Hinata kemudian terkesiap dan menutup mulutnya sebelum ia membeberkan lebih banyak lagi fakta memalukan. Namun ketika Gaara tetap diam seperti menunggunya untuk melanjutkan kalimatnya, Hinata kembali berkata, "Itu adalah segalanya bagiku, Gaara. Kau...kau pasti tak pernah memikirkan apa yang harus kau makan besok, atau memikirkan darimana kau mendapat uang untuk membeli makananmu besok. Jadi, untuk menjawab pertanyaanmu, aku sangat membutuhkan pekerjaanku di Ramen Ichiraku agar aku bisa tetap bertahan hidup. Tidak semua manusia di dunia ini seberuntung kamu, Gaara. Ada orang di luar sana yang hanya bisa bermimpi untuk memiliki hidup sepertimu."
Gaara terdiam cukup lama. Pandangannya tak pernah meninggalkan Hinata. Sampai akhirnya ia bertanya lagi, "Kenapa kau tinggal sendiri?"
Hinata menghela napas. "Aku...tidak punya orang tua."
"Wali?"
Hinata menggeleng.
Sebersit emosi terlintas di kedua mata pemuda itu. "Sejak kapan?"
"Musim dingin tiga tahun yang lalu."
"Kau menghidupi dirimu sendiri sejak saat itu?"
Hinata mengangguk. "Orang tuaku meninggal karena gempa bumi. Rumah kami hancur. Aku tidak punya saudara, jadi aku menjual apa yang tersisa dan mencoba peruntunganku di sini. Dan menurutku aku benar-benar beruntung."
Gaara menaikkan sebelah alisnya.
"Aku bisa membeli apartemen, mendapat pekerjaan yang dekat dari rumahku, dan mendapat beasiswa di sekolah yang tak jauh dari tempatku tinggal."
"Di Konohagakure?"
Hinata mengangguk.
"Dan kau bilang kau tidak punya segalanya." Gaara menyeringai. "Menurutku kau adalah yang memiliki segalanya di sini. Rumah, pekerjaan, pendidikan, apa lagi yang kurang?" Gaara lalu kembali menyantap pudingnya yang sempat tertinggal.
Di seberangnya, Hinata tercengang dan tak mampu menjawab pertanyaannya.
Rumah, pekerjaan, pendidikan, apa lagi yang kurang?
Gaara kemudian menambahkan lagi sambil tetap menyendok pudingnya. "Satu-satunya yang kurang darimu hanyalah, kau belum punya cukup waktu. Kau sudah memiliki semua modal yang kau perlukan untuk sukses, kepintaran dan kerja keras, sepuluh atau dua puluh tahun lagi kau pasti akan mampu membeli sebuah kondo di pusat kota Tokyo."
Hinata menunduk malu. Wajahnya memerah. Dia tadi sempat berpikir setelah pidato yang memaparkan kemiskinannya, Gaara akan menertawakannya, dan ia mempersiapkan diri untuk bersikap defensif. Namun tidak. Lelaki itu malahan...menyemangatinya?
"Terima kasih, Gaara," ujar Hinata dengan suara berbisik.
"Berapa Ichiraku membayarmu?"
Hinata mengerjapkan mata beberapa kali, "Eh?"
"Berapa?"
"500 yen per jam."
Gaara menatap Hinata sambil mengernyit, "500 yen? Berarti seminggu berapa? Sekitar 28.000? Itu kecil sekali!"
Hinata mengangkat bahu dengan lemah, "Mau bagaimana lagi? Hanya Paman Ichiraku yang bersedia mempekerjakanku full-time."
"Apa kau menandatangani kontrak dengannya?"
"Eh?"
"Kau tahu, kontrak yang berisi besar gajimu, hak-hak yang kau dapatkan, atau kapan pekerjaanmu berakhir. Hal-hal seperti itu."
"Oh, tentu saja ada."
"Lalu kapan kontrakmu berakhir?"
"Tidak, tidak ada. Umh, pekerjaanku berakhir kalau aku memang sudah tidak mau lagi bekerja di situ."
Gaara mengangguk-angguk. "Menarik. Lalu bagaimana kalau kau tiba-tiba mendapat tawaran menjadi juru masak, full time, dengan gaji dua kali lipat dari gajimu yang sekarang. Apakah kau akan menerimanya?"
"Eh?"
"Bagaimana?"
"I-itu...aku...tidak tahu..." Hinata memainkan ujung-ujung rambutnya, hal yang biasa ia lakukan ketika sedang gelisah.
"Ya atau tidak?"
"Tergantung."
"Tergantung pada?"
"T-tempatnya. Aku tidak bisa bekerja di tempat yang terlalu jauh dari apartemen dan sekolah karena aku tidak mau membuang-buang waktu di jalan."
"Tempat, ya." Gaara nampak menimbang-nimbang. Pudingnya sudah selesai dan ia kini kembali bersandar pada sofa di belakangnya sambil menatap langit-langit.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Gaara yang sedang tenggelam dalam pikirannya tidak menjawab, jangankan menjawab, dia nampaknya bahkan tidak mendengar pertanyaan Hinata. Gadis itu pun menunggu sampai Gaara bersedia berbicara lagi.
Ketika Gaara kembali menegakkan tubuhnya, ia pun akhirnya berkata, "Aku mau kau kerja di sini, sebagai juru masak."
Hinata yang tidak siap mendengar hal itu membuatnya tersedak puding yang hendak di telannya. Ia pun terbatuk-batuk dan dengan panik meminum champagne-nya yang masih tersisa tadi. Ketika sudah tenang kembali, ia membelalak ke arah Gaara. "A-a-apa?"
"Reaksimu berlebihan untuk pertanyaan yang sederhana seperti itu."
Hinata tidak menjawab dan masih tetap terbelalak menatapnya.
Gaara menghela napas kemudian berdiri dan berjalan mondar-mandir, "Itu adalah ide yang bagus. Kau tinggal di apartemen yang membutuhkan banyak perbaikan dan menyita sebagian besar uangmu. Dengan bekerja di rumahku kau bisa tinggal disini, tidak perlu membayar listrik dan tagihan laundry, menabung semua penghasilanmu, dan nanti ketika tabunganmu sudah banyak kau bisa memperbaiki apartemen itu atau sekalian menjualnya dan pindah ke tempat yang baru. Rumah ini sangat besar, Matsuri sangat bodoh dalam memasak, dan aku sudah muak dengan semua makanan cepat saji itu. Aku butuh seorang juru masak." Gaara berhenti mondar-mandir lalu menatap Hinata, "Kurasa bukan kebetulan kita ketemu di stadion tempo hari."
Hinata masih berusaha mencerna kata-kata Gaara. Entah mengapa ketika Gaara mengatakannya, ide itu memang terdengar sangat bagus. Namun...
"Kenapa aku?"
Gaara mendekati Hinata dan duduk di sofa di belakang gadis itu, membuat Hinata harus berbalik untuk melihatnya. "Kau tahu tentang kondisiku."
"L-Lalu?"
"Tapi kau masih di sini."
Wajah Hinata memerah dan ia menunduk.
"Aku tahu semua yang Matsuri katakan padamu." Hinata terkesiap dan sudah siap meminta maaf serta melancarkan serentetan permintaan maaf, namun sebelum ia bisa melakukannya, Gaara mengangkat tangan menghentikannya. "Tidak masalah. Aku tahu Matsuri suka bergosip kalau ada kesempatan. Dan aku mau tahu sejauh apa yang sudah kau ketahui. Setelah mengetahui semua itu, kau punya pilihan untuk menolak untuk makan berdua denganku di ruangan yang tertutup ini." Dia meraih dagu Hinata kemudian mencondongkan tubuhnya dan berbisik di telinga gadis itu, "Ruangan dimana tak seorang pun bisa mendengar suaramu...kecuali aku."
Hinata terkesiap kemudian menjauhkan diri dari Gaara.
Gaara menyeringai kemudian menegakkan tubuhnya kembali. "Tapi, kau masih di sini, menemaniku." Dia kemudian bergabung dengan Hinata di lantai. "Kau tidak takut padaku. Kenapa?"
"K-kenapa aku harus takut padamu?" tanya Hinata dengan bingung.
"Kau tahu apa yang sudah kulakukan. Dan kau tahu apa yang bisa kulakukan."
"Kau menolongku, Gaara."
"Aku sudah bilang padamu kalau waktu itu aku..."
Hinata memotongnya, "Aku tahu. Tapi setelah kupikir lagi, kenapa kau marah? Kau marah karena kau tidak bisa melihat orang lain terluka di hadapanmu. Saat itu kau punya pilihan untuk membiarkanku tergeletak saja di sana sampai ada orang lain yang menolongku dan tidak merepotkan dirimu mengejar para pencopet itu. Tapi tidak. Kau malah mengejar mereka dan mengambil kembali tasku." Hinata tersenyum, "Kau mungkin tidak mau mengakuinya, tapi kau adalah orang yang baik, Gaara."
Gaara terdiam di sana. Dahinya mengernyit lalu ia membuang muka, menghindari Hinata.
"Aku tidak melihat alasan mengapa aku harus takut padamu."
Mendengar itu, mendadak Gaara menoleh ke arah Hinata. Pandangannya tajam. "Oh, kau punya alasan untuk takut padaku, Hinata." Perlahan-lahan Gaara bergeser dari tempatnya dan mendekati Hinata. Gadis itu menelan ludah dan bergerak mundur ke belakang. Namun Gaara terus mendekatinya bahkan setelah punggung Hinata menabrak sofa di belakangnya dan ia tak bisa bergeser lagi. Gaara mengurungnya dengan kedua tangannya. Dia menyeringai pada gadis yang gemetaran di bawahnya. Seringainya melebar saat mendengar napas gadis itu yang pendek-pendek dan cepat. Perlahan-lahan ia mendekatkan mulutnya ke telinga gadis itu dan berbisik, "Kau tahu, aku pernah mematahkan leher seseorang dengan tangan kosong."
Hinata merasa setiap rambut di permukaan kulitnya berdiri saat merasakan napas yang hangat itu menggelitik telinganya. "T-t-tidak. Tidak, a-a-aku tidak tahu." Saat Hinata menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, ia bisa mencium aroma maskulin lelaki di atasnya. Aroma yang sangat asing baginya. Namun entah mengapa...ia tidak membencinya.
"Sekarang kau tahu."
Hinata memejamkan mata, lalu mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan mulutnya ke telinga Gaara. "K-kau...kau tidak menakutiku, Gaara," bisiknya.
Hinata bisa mendengar Gaara menarik napas di sampingnya, kemudian lelaki itu menjauhkan diri darinya, namun wajah mereka masih cukup dekat. Dengan jarak sedekat itu, Hinata yakin bahwa Gaara pasti mendengar debaran jantungnya. Lelaki itu menyeringai. Meskipun dari kata-katanya gadis itu berusaha untuk kuat, tapi wajahnya tidak bisa mengkhianatinya.
Namun bagi Gaara itu saja sudah cukup.
"Karena itu, aku membutuhkanmu."
A/N: Aku suka review. Review membuatku tahu apa yang harus kuperbaiki dan apa yang harus kutambah. Satu atau dua patah kata di review akan sangat sangat sangat membuatku senang. Makasih banyak teman-teman. Sampai jumpa di chapter berikutnya :)
