Disclaimer: applied
Warning: GaaHina, if you are a die-hard fans of SasuHina and has a hobby to disregard other people's stories, please...get lost.
Chapter 6
Honey Lemon and Sunflower Seeds
Sasuke tidak pernah mengenal Hinata sebelumnya, seolah-olah gadis itu tidak pernah ada. Namun sejak kejadian di kedai ramen tersebut, mendadak ia bisa menemukan gadis itu dimana-mana.
Sore itu Sasuke membiarkan Naruto menyeretnya ke suatu kedai di lower downtown untuk makan malam lebih awal. Dari luar kedai tersebut terlihat kecil dan gelap. Papan namanya terlihat sangat tua dengan cat yang sudah pudar. Melihat paku yang menggantung papan tersebut, jika tidak segera diganti mungkin akan ambruk. Karena Naruto sudah memberitahunya nama kedai itu sebelumnya, maka Sasuke tidak perlu repot-repot membaca namanya.
Sasuke memberi kedai tersebut pandangan sangsi, kemudian menoleh ke arah pemuda di sampingnya.
"Kau yakin, Uzumaki?" tanyanya.
Pemuda berambut pirang di sebelahnya memutar mata, kemudian menepuk punggungnya dengan keras. "Jangan lihat penampilan luarnya. Lihat makanannya nanti, selain itu pelayan-pelayan di sini juga cantik-cantik," katanya kemudian terkikik, hal yang selalu si pirang lakukan saat sesuatu yang jorok sedang berada di pikirannya.
"Awas kalau tidak enak," Sasuke merengut namun membiarkan Naruto membimbingnya masuk.
Hari itu adalah hari Kamis. Sebelum latihan klub berakhir tadi, Naruto bertanya apa Sasuke ada acara lain nanti. Ketika ia menjawab tidak, si pirang itu secara sepihak langsung mengajaknya makan ke sebuah kedai yang katanya "menyediakan ramen terbaik seantero Republik Jepang". Karena memang tidak ada acara apapun hari itu, dan merasa dirinya tidak terlalu capek, Sasuke pun setuju. Toh, selama sepuluh tahun pertemanan mereka, Naruto tidak pernah mengajaknya ke tempat yang tidak enak, karena pada dasarnya selera makan sama. Apa yang Naruto anggap enak, pasti menurut Sasuke juga enak.
Ketika masuk ke dalam kedai, Sasuke merasa dirinya berada di sebuah scene film Jepang klasik era 70-an. Interior kedai itu menurut seleranya sangat kuno. Meskipun ukurannya kecil, namun pengunjung tetap menyesaki kedai tersebut. Mereka juga harus menunggu dulu sebelum mendapat tempat duduk. Untungnya orang-orang yang makan di situ tidak berlama-lama. Setelah perut mereka terisi, mereka langsung pergi dan tidak mengobrol panjang lebar, sehingga Sasuke dan Naruto tak perlu menunggu lama.
Setelah duduk, Naruto memanggil salah seorang gadis pelayan yang tampak sudah mengenalnya, karena gadis itu memanggil nama depan Naruto dan bergegas menghampiri mereka.
"Naruto-san! Selamat datang kembali!"
"Hai, Ayame! Kenalkan ini temanku Sasuke." Ayame tersenyum dan sedikit membungkuk pada Sasuke, yang dibalas pemuda itu hanya dengan anggukan. "Aku mau yang biasa dua porsi. Kau mau minum apa, Sasuke?"
"Kau tidak tanya aku mau makan apa," kata Sasuke.
"Kau akan makan makanan yang sama denganku," jawabnya enteng.
Sasuke hanya menggeleng-geleng. "Kalau begitu kenapa tidak sekalian kau samakan saja minumanku?"
Naruto tertawa mendengarnya, lalu memesan sake dua botol pada Ayame. Ketika gadis itu berbalik untuk menyampaikan pesanan mereka ke daput, Naruto menepuk bokongnya sambil tersenyum mesum. Gadis itu memekik, "Naruto-san!" serunya, kemudian ia juga ikut terkikik dan mengedipkan sebelah matanya sebelum kembali ke dapur.
"Pelayan kedai ramen?"
Naruto tersenyum puas, "Kenapa? Gadis-gadis di sini sangat manis dan mereka tidak marah kalau diganggu seperti itu."
"Kau seperti bapak-bapak hidung belang."
"Hei, memangnya kenapa? Toh mereka juga suka kalau kugoda."
Di antara semua teman-temannya, Naruto memang adalah yang hampir tidak pernah memberi komitmen pada gadis mana pun. Karena sifatnya yang ramah dan ceria, semua orang menganggap Naruto seperti orang yang mudah didekati. Kaum perempuan pun menganggapnya sebagai laki-laki yang tak mungkin menghancurkan hati wanita.
Sayang sekali mereka tidak tahu bahwa hal yang terakhir itu adalah hobi buruk si pirang.
"Kau ingat anak angkatan kita yang ikut program beasiswa?"
"Yang mana?"
"Yang waktu itu kau bilang jadi tutor-mu untuk programming."
Sasuke ingat si gadis pucat pemalu yang sering dibicarakan oleh teman-temannya kalau mereka tidak punya topik lebih baik untuk dibicarakan.
"Jangan-jangan kedai ini tempat anak itu..."
Naruto mengangguk-angguk.
"Makanya kau tahu kalau dia kerja di sini?"
Naruto nyengir. "Suatu hari waktu aku kesini aku tanpa sengaja melihatnya masuk ke sini juga. Setelah tanya sama paman pemiliknya ternyata dia kerja di sini dan tinggal di apartemen di seberang jalan," kemudian ia tertawa. "Gadis itu lucu sekali kalau digoda. Dia akan langsung berkeringat dingin dan wajahnya akan semerah tomat. Nanti kalau dia lewat akan kutunjukkan," Naruto kembali tertawa mesum.
Sasuke hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Naruto.
"Di sini bisa merokok?" tanyanya sambil mengeluarkan rokok dari saku celana-nya. Namun Naruto menepuk tangannya, membuatnya menjatuhkan kotak rokoknya.
"Kau gila, ya? Minggu depan Emperor Cup dimulai! Dan kau mulai merokok lagi sekarang?"
Emperor Cup adalah turnamen sepak bola tahunan yang diselenggarakan oleh Universitas Tokugawa setiap pertengahan musim gugur. Beberapa minggu terakhir ini mereka latihan rutin untuk mengikuti kejuaraan tersebut. Tahun lalu mereka hanya mendapatkan juara tiga karena di perempatfinal kalah oleh SMA Sunagakure. Tahun ini Sasuke ingin membalas kekalahan itu dan mempermalukan Sunagakure.
"Cuman sebatang. Aku sudah sebulan tidak merokok."
"Sebulan? Sebulan? Sebulan?" Naruto berseru dengan tidak santai. "Kau tidak tahu betapa sulitnya membuatmu berhenti merokok waktu itu! Dan sekarang kau mau mulai lagi?"
"Ayolah, Naruto."
Sebelum Sasuke bisa mengeluarkan rokoknya dari kotak, Naruto sudah merebutnya dan menyimpannya di dalam saku celananya. "Gaara Sabaku tidak merokok."
"Kenapa kau membawa-bawa nama si brengsek itu?"
Naruto menyipitkan matanya. "Karena si brengsek itu adalah MVP di kejuaraan daerah tahun ini. Dan karena si brengsek itu adalah orang yang berhasil merebut bola dari KAU saat final kemarin."
Sasuke memutar mata. Dalam hati mengutuki Naruto karena masih mengingat dan membahas hal tersebut. Meskipun tahun itu sekolah mereka keluar sebagai juara Kanto, namun Naruto bertekad tidak akan pernah membuatnya lupa bahwa di menit-menit terakhir sebelum pertandingan berakhir, Gaara Sabaku berhasil merebut bola darinya dan mencetak gol yang menyeimbangkan kedudukan mereka. Kalau bukan karena Naruto yang mencetak gol terakhir untuk mereka dan membalikkan kedudukan, mereka pasti akan masuk babak perpanjangan waktu dan siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada saat itu.
Poinnya adalah...meskipun Konohagakure menang melawan Sunagakure, namun antara Sasuke dan Gaara, pemenangnya adalah Gaara Sabaku.
Hal itu terbukti karena yang keluar sebagai MVP tahun itu bukanlah Sasuke yang merupakan MVP tahun lalu, melainkan Gaara.
Setelah mengingat seberapa besar rasa malu yang ia rasakan hari itu, akhirnya Sasuke pun kembali ingat hal yang membuatnya berhenti merokok. Ia pun berusaha menekan keinginan merokoknya.
"Wow, kebetulan sekali..." Naruto berbisik sambil melihat ke pintu masuk.
"Apa?" Sasuke menoleh ke belakang. Kedua alisnya terangkat saat melihat tak lain dan tak bukan adalah Gaara Sabaku sendiri melangkah masuk melewati pintu kedai. Naruto benar, itu sangat kebetulan, karena mereka baru saja membicarakan lelaki itu.
Sasuke menoleh kembali ke arah Naruto, "Kau tidak bilang kalau dia sering kesini."
"Aku tidak tahu! Aku baru beberapa kali kesini dan aku tak pernah bertemu dia! Lagipula dia 'kan bukan anak daerah sini. Apa yang dia lakukan di sini?"
Mereka kembali mengamati si pemuda berambut merah. Dengan tingginya, ia terlihat canggung berdiri sendirian di sana. Matanya beredar mencari-cari bangku di kedai yang penuh tersebut. Namun kemudian matanya berhenti pada suatu tempat, atau lebih tepatnya seseorang, dan ia pun bergegas menghampirinya.
Sasuke dan Naruto masih memperhatikan Gaara yang ternyata menghampiri salah seorang gadis pelayan di kedai ramen tersebut, kemudian menariknya.
Mereka berdua sama-sama terbelalak saat melihat gadis yang pemuda itu tarik adalah si gadis pucat yang bersekolah di sekolah yang sama dengan mereka.
Gadis pucat yang Sasuke tidak ingat siapa namanya.
Si gadis nampak kaget melihat Gaara yang mendadak menariknya, ia nyaris jatuh namun Gaara menangkapnya. Karena suasana kedai itu berisik, Naruto dan Sasuke tidak bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas. Namun dari gerak bibir serta ekspresi mereka, apapun yang mereka bicarakan sepertinya sesuatu yang sangat penting, karena wajah Gaara sangat serius. Beberapa saat kemudian si gadis mendadak membungkuk beberapa kali padanya kemudian membimbingya ke salah satu bangku kemudian meninggalkannya ke dapur. Masih tidak menyadari bahwa dirinya sedang diawasi oleh dua orang pemuda dari seberang ruangan, Gaara tidak repot-repot menyembunyikan wajah kesalnya.
Beberapa menit kemudian si gadis muncul dan meletakkan segelas teh di depan Gaara, kemudian berbalik dan berjalan ke arah mereka.
Sasuke dan Naruto cepat-cepat berbalik dan bersikap seolah-olah mereka tidak sedang memata-matai siapapun.
Gadis itu tiba di meja mereka dan menaruh sake pesanan mereka. "Silahkan," katanya tanpa melihat wajah mereka. Ketika dia hendak berbalik, Naruto menahannya.
"Ya?" katanya saat berbalik. Ketika mata mereka bertemu, gadis itu langsung terkesiap dan wajahnya berubah merah.
Gadis itu mengenali mereka.
"Kau kenal dengan Gaara Sabaku?" tanya Naruto tanpa basa-basi.
Sasuke menepuk dahinya dan menghela napas. Pertanyaan Naruto barusan sama saja dengan mengakui keras-keras bahwa mereka baru saja memata-matai gadis itu.
Perempuan itu tampak gelisah, ia menggigit bibir bawahnya kemudian memeluk nampan yang ia bawa. "Umh...y-ya. A-aku kenal."
"Bagaimana kau bisa kenal dengannya?"
"I-itu...eh..." Kedua matanya berpindah-pindah dari Naruto ke Sasuke sebelum kembali ke Sasuke lagi dan wajahnya kembali memerah.
"Kalian pacaran?" tebak Sasuke asal-asalan.
"Tidak!" jawabnya cepat. "M-maksudku..t-tidak. K-kami hanya...kenalan."
"Lalu bagaimana kau bisa kenal dengannya?" tanya Naruto yang kesal karena si gadis menjawab pertanyaan Sasuke duluan sebelum menjawab pertanyaannya.
"I-itu...eh...k-kami...a-aku..."
"Dan kenapa kau mau tahu soal itu?" Suara yang berat itu muncul dari belakang si gadis, sebelum pemilik suaranya berdiri di samping si gadis dan merangkul bahunya. Seolah-olah itu belum cukup, Gaara Sabaku juga menarik gadis itu hingga menempel padanya. Si gadis terbelalak kemudian mendongak melihat pemuda yang mendadak merangkulnya dengan posesif. Wajahnya makin memerah dan ia terlihat nyaris pingsan.
"Sabaku," ujar Naruto dan Sasuke bersamaan.
"Ah, ada kau juga, Uchiha. Apa ini semacam kencan sembunyi-sembunyi?" katanya lalu sambil menyeringai menatap mereka berdua bergantian.
Naruto nyaris berdiri dengan tangan terkepal, namun Sasuke mencegahnya. Dengan pandangan menghina ia memandang Gaara lalu gadis yang ada di rangkulannya. "Dan kau sendiri? Mengencani pelayan kedai ramen?"
Gadis itu menunduk, lalu berusaha melepaskan tangan Gaara darinya. "L-lepaskan aku, Gaara. K-kau membuat mereka salah paham."
Meskipun melarang Naruto berdiri, kini Sasuke sendiri berdiri. Ia menolak berdebat dengan dalam posisi duduk dengan Gaara yang sedang berdiri. Itu akan membuat lelaki itu merasa berada di posisi yang lebih tinggi darinya.
"Aku tidak tahu kalau tipemu adalah yang seperti ini." Ia mengangguk ke arah gadis itu. "Atau...ini cuman selinganmu saja?"
Sasuke tahu dari gosip yang beredar bahwa Gaara Sabaku memiliki suatu kondisi mental yang aneh. Ia sangat gampang terprovokasi, karena itulah di lapangan ia seperti binatang buas yang liar. Kini Sasuke ingin membuktikan gosip itu sendiri. Dan benar saja, karena tiba-tiba Gaara sudah melepaskan rangkulannya pada si gadis dan siap meninjunya.
Namun gadis itu menahan lengan Gaara dengan sekuat tenaga.
"K-kami tidak pacaran, Uchiha-san."
"Lepaskan aku, Hinata," kata Gaara yang berusaha melepaskan si gadis yang menenggelamkan kuku-kukunya pada kulit si rambut merah.
Sekarang Sasuke ingat siapa nama gadis itu. Hinata de coco. Itu adalah julukan yang diberikan teman-temannya pada gadis itu, karena mata dan kulitnya yang pucat seperti nata de coco.
"Jadi apa?" tanya Sasuke lagi.
Masih berusaha melepaskan tangan Hinata, Gaara menyeringai pada lelaki pucat itu. "Kenapa kau sangat penasaran? Kau suka sama dia?"
Mendadak cengkeraman Hinata pada Gaara melonggar. Si rambut merah mengambil kesempatan itu untuk melayangkan tinju persis ke wajah Sasuke. Karena datangnya mendadak, Sasuke tidak siap dan menerima tinju tersebut tepat di hidungnya.
"GAARA! Apa yang kau lakukan?!" Hinata mengambil posisi di depan Sasuke seolah-olah berusaha melindunginya. "Kau...kau...gila! Dia tidak melakukan apapun!" Kemudian Hinata berbalik untuk mengamati luka Sasuke. Ia meringis saat melihat hidung yang berdarah tersebut. "K-kau tidak apa-apa, Uchiha-san?"
Sasuke mendorong Hinata ke samping dan ingin membalas Gaara, namun kini Naruto menghentikannya. Naruto melakukannya karena kini mereka sudah menjadi pusat perhatian seluruh kedai.
"Dia menghina kita!" kata Gaara pada Hinata. Kemudian ia berbalik ke arah seluruh orang yang menonton mereka. "Dia menghina kami!"
Hinata menghela napas, kemudian membungkuk pada semua pengunjung, "Maaf kami sudah menganggu, silahkan lanjutkan makanan kalian lagi." Kemudian Hinata berbalik ke arah Sasuke lagi. "K-kau butuh kompres. M-mau ke belakang dulu?"
Sasuke menggeleng. "Tidak apa-apa. Bisakah kau batalkan saja pesanan kami? Aku mau pulang saja."
"T-tapi..."
"Tidak bisa, ya? Ya sudah tidak usah dikeluarkan saja." Ia lalu mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu yen dan memberikannya pada Hinata. "Maaf sudah buat keributan. Ayo pulang, Naruto."
"T-tapi..." Sebelum Hinata bisa berkata apapun, Naruto dan Sasuke sudah berjalan menuju pintu keluar.
Namun sebelum mereka keluar, mereka masih bisa mendengar Hinata yang dengan tegas berkata, "Kalau kau selalu seperti ini aku tidak akan pernah bisa bersamamu, Gaara."
Sasuke berhenti sesaat dan menoleh ke belakang untuk melihat Gaara dengan wajah murka menatap Hinata, sebelum kembali berbalik dan keluar bersama Naruto.
Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun bisakah ia menyimpulkan bahwa Gaara Sabaku baru saja ditolak oleh si gadis pelayan itu?
Gaara Sabaku meletakkan batu terakhir pada tempatnya dan mundur ke belakang untuk mengamati hasilnya. Ia tersenyum puas saat melihat teras batu yang baru saja di bangunnya di salah satu sisi tamannya. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh taman tersebut dan senyumnya makin melebar karena taman tersebut kini makin mirip dengan apa yang selalu ia bayangkan. Paving teras batu, jalan setapak dari bata-bata kecil, rumput hijau, serta bunga-bunga tulip dan dandelion yang mengapitnya.
Semuanya persis seperti apa yang diinginkannya.
Gaara membangun taman itu semua dengan tangannya sendiri. Ketika ia pertama kali didiagnosa dengan penyakit mental-nya, terapisnya menyarankan agar Gaara menyalurkan amarahnya melalui olahraga. Gaara mematuhinya dan melakukan segala macam olahraga mulai dari olahraga bela diri seperti taekwondo, karate, judo, kendo, hingga olahraga tim seperti sepak bola, basket, dan bisbol. Namun selain olahraga tersebut Gaara menemukan dirinya sangat tertarik dengan pekerjaan yang berhubungan dengan batu. Di waktu senggangnya, selain berolahraga Gaara juga menghabiskan waktu dengan membangun bermacam-macam patio di taman-nya. Jalan setapak, patio melingkar, gazebo, hingga air mancur.
Gaara menghembuskan napas ketika ia sudah puas mengamati taman-nya yang kini nyaris sempurna. Sambil membereskan peralatannya, Gaara memikirkan proyek apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Halaman rumahnya sangat luas, masih ada banyak lahan yang belum terjamah oleh karya tangannya.
Setelah kembali ke rumah, Gaara membersihkan diri, kemudian mengurung diri di basement -nya. Kegiatan membangun patio hari itu cukup menguras tenaganya hingga ia sama sekali tidak berniat untuk memukul samsak tinju. Ia pun hanya berbaring di sana sebelum meraih remote dan menyalakan televisi.
Saat melihat iklan minyak goreng, entah mengapa mendadak Gaara teringat kembali pada Hinata.
Seminggu sudah berlalu sejak malam Hinata datang ke rumahnya dan memasakkan makan malam pertamanya selama beberapa tahun terakhir.
Gaara tidak berbohong ketika dia berkata pada Hinata bahwa ia sudah muak dengan segala makanan cepat saji yang biasa Matsuri belikan untuknya, atau dimakannya di luar. Ia ingin sesuatu yang asli, sesuatu yang dimasak sendiri dari rumah. Sesuatu yang hangat yang langsung dari oven atau panci-panci miliknya.
Dan ia tahu bahwa Hinata adalah orang yang tepat untuk melakukan itu untuknya.
Malam itu dia dan Hinata bertukar telepon.
Setelah itu, Gaara mengantar gadis itu sampai ke depan gang menuju apartemennya. Gaara tidak kaget melihat kondisi apartemen gadis itu. Tidak heran bahwa apartemen gadis itu butuh sangat banyak perbaikan karena dari luar saja gedung itu tampak seperti hampir ambruk.
Ketika meninggalkan Hinata malam itu, Gaara sangat yakin bahwa gadis itu tidak akan menolak tawarannya.
Namun besok dan besok dan besoknya lagi, hingga seminggu kemudian, Gaara sama sekali tidak mendengar kabar apapun dari gadis itu.
Hal tersebut membuat Gaara menghabiskan waktu lebih lama memukul samsak tinju serta berlari. Ia tidak mengerti mengapa sikap pasif gadis itu begitu menganggunya secara emosional seperti itu.
Karena tidak sabar, akhirnya Gaara pun memutuskan untuk langsung menemuinya di tempat kerjanya. Sialnya hari itu Sasuke Uchiha dan Naruto Uzumaki sedang berkunjung ke tempat itu juga dan membuat kekacauan. Padahal itu bukan salahnya, namun Hinata sepertinya menganggap ia lah penyebab kekacauan itu.
Dan gadis itu pun menolaknya.
Malamnya Gaara memukul habis samsak tinjunya sambil membayangkan wajah Hinata.
Namun ketika akhir minggu tiba, ia memutuskan untuk mengerjakan proyek batunya, dan untuk pertama kalinya dalam minggu itu, Gaara merasa tenang.
Tetapi saat pikirannya kembali pada Hinata lagi, amarah yang ia rasakan kemarin kembali membuncah dalam dirinya.
Gaara menarik napas dalam-dalam lalu bangkit dan berjalan menuju laci mencari perban. Ia pun mulai melilitkan perban tersebut ke tangannya dan tanpa buang waktu langsung memukuli samsak.
Hanya saja, di tengah-tengah tinjunya, ketika Gaara memikirkannya lagi, tentu saja Hinata tidak akan mungkin menerima tawarannya, dengan alasan yang sama dengan alasan semua orang yang meninggalkannya sendirian di rumah yang terlalu besar itu.
Hinata pasti takut padanya.
Lagipula siapa yang tidak?
Bahkan orang tuanya saja takut padanya.
Sejak kejadian sore itu, mendadak Sasuke mulai menyadari keberadaan Hinata di sekitarnya.
Misalnya seperti ketika Sasuke akhirnya sadar bahwa Hinata ternyata sekelas dengannya di kelas programming, matematika, dan bahasa jepang. Gadis itu selalu duduk sendirian di belakang, kalau tidak sedang membaca buku atau mendengarkan sensei, ia pasti melamun menatap jendela.
Ketika jam istirahat, mata Sasuke dengan anehnya menemukan gadis itu duduk bersandar pada dinding bata yang berada di dekat lapangan basket. Tempat itu memang diketahui sebagai tempat makan siang bagi anak-anak penyendiri dan memang tidak ingin diganggu. Namun jumlah anak-anak seperti itu di Konohagakure bisa dihitung dengan jari. Dan selama ini Sasuke selalu menganggap kelompok anak-anak tersebut saling berteman.
Namun ternyata tidak, karena Hinata duduk dan makan sendiri. Berapa kali pun Sasuke menoleh ke arahnya, kepalan gadis itu selalu tenggelam pada apapun yang sedang dibacanya.
Sasuke bingung karena menemukan dirinya mendadak memperhatikan seorang lawan jenis tertentu. Apalagi lawan jenis ini adalah Hinatadecoco, gadis pelayan di kedai ramen yang dari gosip yang beredar tinggal di apartemen yang berjamur karena tak pernah terkena sinar matahari. Setiap gadis itu lewat, teman-teman Sasuke selalu berbisik-bisik sambil terkikik melihatnya, dan tentunya menghindar karena takut seragam gadis itu membawa jamur yang bisa menyebar ke orang lain.
Semua atensi berlebihan pada si natadecoco sepenuhnya karena kejadian di kedai ramen sore itu.
Seseorang seperti Hinata tidak seharusnya bersama orang seperti Gaara Sabaku.
Meskipun berbeda sekolah dan tidak berteman, namun Sasuke tahu gosip yang beredar tentang Gaara Sabaku. Sebagai seorang kapten tim, sudah semestinya Sasuke tahu siapa saja pemain andalan dari tim lawan, kekuatan, kelemahan, serta latar belakang mereka. Tidak terkecuali Gaara Sabaku.
Dari informasi yang didapat Sasuke, Gaara Sabaku adalah seseorang yang sangat jenius. Dia jarang menghadiri kelas-kelasnya, namun tidak pernah mendapat nilai lebih kecil dari seratus di semua ujiannya. Dia juga merupakan pewaris dari Sabaku Group, yakni holding company penguasa industri minyak dan gas bumi di Asia.
Dengan kombinasi yang menakjubkan seperti itu, seharusnya Gaara Sabaku menjadi pusat perhatian semua orang di sekitarnya. Namun kenyataannya malah orang-orang tidak ada yang berani mendekatinya. Mereka membicarakan Gaara seolah-olah dia adalah suatu fenomena yang misterius. Sasuke selama ini menyimpulkan bahwa kemisteriusan Gaara adalah karena latar belakang kekayaan serta status sosial keluarganya.
Namun kemarin setelah seorang gadis pelayan di sebuah kedai ramen kecil menolaknya, semua paradigma Sasuke terhadap Gaara Sabaku berubah. Tidak hanya itu, paradigma-nya terhadap Hinata juga berubah.
Ia tidak lagi melihat si pucat itu sebagai seorang gadis pelayan yang tinggal di apartemen bobrok jamuran, yang ketika lewat di depannya ia harus berhati-hati agar kulit mereka tidak bersentuhan. Tidak. Kini yang Sasuke lihat adalah seorang gadis misterius yang mempunyai hubungan tertentu dengan Gaara Sabaku yang juga tidak kalah misteriusnya, yang entah karena satu dan lain sebab, menolak pernyataan cinta pemuda tersebut.
Awalnya Sasuke memarahi dirinya sendiri karena menjadi orang yang terlalu mau tahu tentang urusan orang lain.
Namun ketika sedang istirahat di tengah-tengah pertandingan pertama-nya di Emperor Cup, Sasuke anehnya bisa menemukan si gadis pucat itu di antara kerumunan suporter Konohagakure. Sasuke jarang memperhatikan suporter tim mereka yang datang ke pertandingan mereka, karena mereka memang sangat sering bertanding. Fakta bahwa Sasuke bisa menemukan gadis itu yang sedang menaiki tangga tribun teratas merupakan suatu hal yang janggal baginya..
Begitu pertandingan selesai dan Sasuke memastikan mereka masih bertahan di kejuaraan itu, tanpa sadar mata Sasuke kembali mencari gadis itu dan masih menemukannya duduk di tempat yang sama.
Namun ketika hendak ganti baju, ia menemukan para pemain dengan seragam SMA Sunagakure yang berjalan menuju lapangan, termasuk Gaara Sabaku. Saat itu mendadak kehadiran si natadecoco menjadi jelas.
Tetapi kalau dia memang sudah menolak Gaara, mengapa dia masih datang ke pertandingannya?
Saat itu Sasuke juga mulai sadar bahwa ia tidak bisa mengabaikan keiingintahuan ini begitu saja.
Emperor Cup adalah suatu turnamen sepak bola yang merupakan acara tahunan dari Universitas Tokugawa.
Pesertanya adalah semua sekolah dari seluruh Jepang yang bersedia untuk membayar biaya pendaftaran dan ingin bertanding untuk merebut Piala Saigo Takamori. Karena SMA Konoha tidak mungkin melewatkan ajang seperti itu, seperti yang Hinata duga, mereka pun ikut serta.
Dari pengumuman di buletin sekolah, Hinata tahu bahwa hari itu adalah babak penyisihan grup dimana Konoha akan melawan SMA Iwa. Karena tempat pertandingannya di salah satu lapangan di dalam Universitas Tokugawa, dan letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya, Hinata pun memutuskan untuk mengambil hari libur hari itu dan menonton.
Mungkin ini kebiasaan, atau Hinata memang masih belum bisa melupakan Sasuke, sebab meskipun Sasuke sudah mengatakan semua hal yang jahat tentangnya, namun Hinata tetap ingin melihatnya bermain di lapangan. Hanya dengan melihat lelaki itu saja, membawa perasaan hangat dalam dirinya.
Seperti biasa, Hinata baru sampai di lapangan pertandingan sebelum babak kedua dimulai. Lapangan itu sangat ramai, karena rupanya yang memiliki jadwal bertanding hari itu bukan hanya SMA Konoha dan Iwa saja, melainkan banyak tim-tim dari SMA lain yang berada di grup yang berbeda.
Salah satunya termasuk SMA Sungakure.
Hinata menelan ludah saat ia melewati sekelompok laki-laki berseragam familiar khas SMA Sunagakure. Ia berjalan sambil menunduk, takut matanya jatuh pada seseorang yang ia kenal dari SMA tersebut.
Seseorang yang sejak dua minggu yang lalu wajah marahnya masih belum bisa ia lupakan dan bahkan berhasil menghantui mimpi-mimpinya.
Untungnya Hinata berhasil melewati grup lelaki itu dengan selamat. Meskipun saat itu sudah bulan Oktober, namun hari itu adalah hari yang cerah, dan meskipun cukup banyak suporter yang datang, tetap saja tidak sebanyak jumlah suporter ketika pertandingan final kejuaraan daerah tempo hari. Hinata bisa melihat orang-orang tersebut menggunakan kacamata hitam untuk menghalau sinar matahari, sementara ia sendiri malah membawa payung. Berdasarkan ramalan cuaca tadi pagi, daerah mereka hari itu akan hujan deras. Tidak ada ruginya membawa payung, bukan?
Pertandingan hari itu untungnya dimenangkan oleh SMA Konoha. Tidak ada sorak sorai berlebihan, dan karena pendukung SMA Konoha tidak terlalu banyak, akibatnya orang-orang lebih mudah menyadari keberadaannya.
Seperti biasa, Hinata menunggu sampai seluruh teman-temannya meninggalkan stadion sebelum ia sendiri beranjak dari tempatnya. Namun karena lapangan akan dipakai untuk pertandingan selanjutnya, tribun tempatnya berada pun perlahan-lahan kembali diisi oleh orang-orang, namun kali ini orang-orang yang tak ia kenal. Dari kejauhan ia bisa melihat bahwa yang akan bermain di pertandingan itu adalah SMA Suna melawan SMA Kumo.
Ketika tidak lagi melihat sisa orang-orang dari SMA Konoha, Hinata pun bergegas berdiri dan menuruni tribun. Namun sebelum meninggalkan tribun ia masih bisa melihat para pemain SMA Suna dan SMA Kumo yang berkumpul di pinggir lapangan.
Hinata tersenyum melihat para gadis yang dari balik pagar pembatas memberikan botol minuman dan kantong yang warnanya bervariasi kepada pacar-pacar mereka.
Hinata tahu bahwa itu adalah tradisi yang sudah berlangsung cukup lama di Jepang. Ketika masih SD, orang tua akan datang menonton pertandingan anak-anak mereka dengan membawa minuman berenergi serta sekantong biji bunga matahari. Kemudian sebagai gantinya di SMA sekarang yang membawakan minuman dan biji bunga matahari tersebut adalah pacar-pacar mereka.
Ketika pertama kali datang menonton pertandingan Sasuke, Hinata juga melakukan hal yang sama. Namun ketika tahu bahwa lima puluh persen gadis-gadis Konoha lainnya juga melakukan hal tersebut, maka Hinata pun tak pernah melakukannya lagi.
Meskipun demikian, diam-diam Hinata sebenarnya masih ingin melakukan hal tersebut pada seseorang.
Seseorang yang ia sayangi.
Ketika tiba di dasar tangga, mata Hinata menangkap sesosok yang berdiri kejauhan. Sosok berambut merah yang hanya berdiri di sana dengan wajah pasif menatap teman-temannya. Meskipun tak melihat wajahnya dengan jelas, namun Hinata tahu siapa lelaki tersebut.
Lama Gaara hanya berdiri di sana, sama seperti Hinata yang juga berdiri di sana menatapnya.
Akhirnya lelaki itu pun berbalik dan berjalan ke bangku para pemain.
Pemandangan tersebut membuat Hinata menyadari sesuatu.
Ia pun berbalik dan kembali mendaki tangga tribun serta mencari tempat duduk. Ia berubah pikiran dan mengurungkan niatnya untuk pulang.
Ini mungkin adalah hal termudah yang bisa ia lakukan untuk lelaki itu.
Tinggal sendirian, tanpa orang tua, tak punya teman, dan ditakuti orang-orang, Gaara Sabaku pasti menghabiskan kehidupannya di lapangan dengan melihat teman-temannya mendapatkan perhatian dari orang yang mereka sayangi. Sementara ia sendiri hanya bisa berdiri disana dan melihat, tanpa bisa melakukan apapun.
Sore itu, pandangan Hinata sama sekali tak meninggalkan Gaara.
Gaara tidak kaget dengan kemenangan yang timnya dapatkan di pertandingan itu. Manajer tim memberi tahu mereka bahwa pertandingan selanjutnya adalah minggu depan di stadion yang sama dan melawan SMA Shirayuki. Gaara sedikit bersyukur ketika pengundian grup kemarin, tim mereka berada di grup yang berbeda dengan SMA Konoha. Ia ingin membalas kekalahan mereka di kejuaraan daerah kemarin, dan ia tidak ingin mengalahkan Konoha di babak penyisihan grup.
Seperti biasa sehabis bertanding, timnya merencanakan untuk makan malam bersama di sebuah restoran cepat saji terdekat, dan seperti biasa pula Gaara tak pernah ikut acara tersebut. Ia lebih baik pulang ke rumahnya, menghabiskan potato chips sambil melihat-lihat katalog patio terbaru dan merencanakan apa yang ingin ia bangun selanjutnya.
Sehabis berganti baju, Gaara menelepon taksi. Hari itu ia tidak bawa motor karena tidak tahu dimana letak Universitas Tokugawa. Karena itu ia lebih baik menggunakan jasa taksi yang langsung bisa mencarikan alamat untuknya.
Ia menyumpah dengan keras ketika call center taksi yang ia telepon menyuruhnya menunggu karena saat itu sedang hujan maka hampir semua unit taksi mereka sedang beroperasi.
Dan benar saja ketika ia keluar dari ruang ganti, cuaca di luar sudah berubah seratus delapan puluh derajat dibandingkan dengan cuaca sebelum bertanding tadi.
Ia memaki sebelum berjalan menuju mesin penjual minuman.
Dahinya mengernyit saat menemukan orang terakhir yang ingin ia temui saat itu berdiri persis di depan mesin tersebut.
Gadis itu berbalik saat mendengar seseorang mendekat ke arahnya. Ia tersenyum pada Gaara, namun pemuda itu mengabaikannya. Ia membeli minumannya kemudian meninggalkan gadis itu untuk mencari tempat duduk.
Saat menemukan tempat duduk, Gaara langsung menyibukkan diri dengan ponselnya. Dari ekor matanya ia bisa melihat Hinata mendekati kemudian duduk di sampingnya.
"Permainan yang bagus," katanya dengan suara halusnya yang kini bagi Gaara merupakan ciri khas gadis itu.
Gaara mengabaikannya.
"Kau...tidak pulang?"
Gaara masih mengabaikannya. Namun gadis itu tidak menyerah.
"Ah pasti karena hujan?" katanya lagi. "Dan kau naik motor..."
"Aku tidak bawa motor," kata Gaara secara otomatis sebelum bisa menahan diri. Kerutan di dahi Gaara makin dalam ketika melihat gadis itu tersenyum karena ia akhirnya merespon.
"Kenapa kau tidak bawa motor?"
"Bukan urusanmu."
"Ini lumayan jauh dari rumahmu."
"Kenapa kau ada di sini? Sana pergi."
Gadis itu menggeleng, membuat rambut panjangnya bergerak-gerak dan Gaara bisa mencium aroma shampoo-nya. "Hujannya masih terlalu deras."
"Lalu itu membuatmu punya hak di sini menggangguku?"
Dia terdiam sebentar. "A-Apa aku mengganggumu?"
Tanpa berpikir Gaara langsung otomatis menjawab, "Ya."
Gaara mendengarnya menghela napas. "Maaf aku menolak tawaranmu. Aku...aku hanya belum siap meninggalkan...kau tahu."
"Meninggalkan apa?" Gaara menoleh ke arahnya dan menatapnya tajam.
Ia menggigit bibir bawahnya, lalu sambil memainkan ujung rambutnya ia menjawab, "Beradaptasi di tempat tinggalku sekarang selama dua tahun bukan hal yang mudah. Dan mendadak kau ingin aku beradaptasi dengan tempat baru lagi."
Gaara menunduk memandang ponselnya lagi. "Kau sudah membuat pilihanmu. Sekarang tinggalkan aku."
"Aku ingin kita berteman."
"Aku tidak ingin berteman denganmu. Aku tidak ingin punya teman." Gaara pun berdiri, kalau perempuan itu tidak mau meninggalkannya maka dia-lah yang akan pergi.
"Gaara, tunggu!"
"Berhenti menguntitku." Namun Hinata tetap berjalan di sampingnya.
"Kau pulang naik apa?"
"Bukan urusanmu."
Mereka berdua tiba di pintu stadion. Di luar masih hujan deras. Universitas Tokugawa merupakan sebuah komplek universitas yang luas. Stadion-nya terletak di tengah-tengah komplek tersebut. Untuk mencapai jalan raya tempat banyak taksi berlalu-lalang mereka harus berjalan keluar selama lima belas menit.
Namun bagi Gaara, daripada menghadapi Hinata saat itu, ia lebih memilih untuk hujan-hujanan.
"Kau tidak berpikir mau menembus hujan ini, 'kan? Kau bisa sakit!"
"Bukan urusanmu, 'kan? Berhenti pura-pura peduli seperti itu! Kau membuatku muak."
Ketika Gaara hendak melangkah ke derasnya hujan, Hinata mendadak menariknya mundur. Kemudian membuatnya menggenggam sebuah payung. Kemudian sebelum Gaara bisa menolak payungnya, gadis itu sudah berlari menembus hujan dan meninggalkannya.
Tanpa memakai payung, Gaara secara otomatis mengejar gadis itu. Dengan kecepatan larinya, hanya perlu beberapa detik bagi Gaara untuk mencengkeram lengan Hinata dan menariknya dengan kasar.
"KAU GILA?" Gaara berusaha berbicara di tengah derasnya hujan. "KENAPA KAU TIDAK PAKAI PAYUNGNYA?" Karena hujan membuat Gaara kesulitan berbicara dan bahkan melihat, akhirnya ia pun menyerah dan membuka payung di atas mereka berdua. Karena ukurannya tidak terlalu besar, Gaara harus berdiri begitu dekat dengan Hinata agar mereka berdua bisa terlindung di bawah payung. Gaara bisa melihat wajah gadis itu memerah karena nampaknya menyadari hal yang sama.
"Aku tidak bisa melakukan apapun untukmu kecuali ini." Hinata mundur sedikit untuk melihat Gaara dari atas ke bawah, dan ke arah tas olahraga lelaki itu. "Dan sekarang kau jadi basah kuyup."
"Perempuan bodoh," Gaara menggerutu. "Kau lihat hasilnya, 'kan? Kita berdua sama-sama basah. Dan payung ini jadi sia-sia."
"M-maafkan aku."
"Aku tidak butuh kebaikanmu. Ini ambil payungnya, aku sudah bilang dari tadi kalau aku bisa pulang sendiri." Gaara berusaha membuat Hinata menggenggam payungnya, namun gadis itu menolak.
"T-tidak. Aku...aku ingin kau mengambilnya. Rumahmu lebih jauh, a-apartemenku hanya beberapa blok dari sini."
"Dan saat kau sampai di apartemenmu nanti kau akan seperti spons yang dicelupkan ke air."
"Aku tidak keberatan."
Gaara memutar mata. "Kau pikir aku bisa dengan tenang pulang membawa payung orang lain yang mengalami nasib seperti itu?"
Kalimat tersebut membuat Hinata tercengang. Ia mengerjapkan kedua matanya berkali-kali sambil mendongak menatap lelaki di hadapannya.
Ketika Hinata tak kunjung memberikan respon, Gaara pun melambai-lambaikan tangannya di depan wajah gadis itu. "Hei, kenapa kau bengong?"
Suara lelaki itu membuat Hinata keluar dari lamunannya. "Oh, m-maaf. A-aku tiba-tiba teringat sesuatu."
"Bagaimana bisa kau tiba-tiba melamun di saat seperti ini?" Gaara meraih tangan Hinata dan kali ini dengan mantap membuat gadis itu menggenggam payungnya.
Hinata kehilangan kata-kata saat melihat Gaara melangkah mundur dan berbalik. Gaara menggertakkan gigi saat merasakan tangan gadis itu menahan lengannya.
"Apa lagi?" geramnya.
"A-aku...aku juga tidak bisa."
Gaara menoleh ke belakang. "Tidak bisa apa?"
"A-aku tidak bisa pulang dengan tenang k-kalau membiarkanmu basah kuyup seperti sekarang...s-sementara aku bisa menolongmu."
Meskipun Hinata menggengam lengannya dengan erat, namun gadis itu tetap tak berani menatap Gaara secara langsung. Pandangannya jatuh ke bawah, ke arah sepatu kets-nya yang butut. Dan meskipun tidak kentara, namun Gaara menyadari bahwa di balik jaketnya, gadis itu menggigil kedinginan.
Gaara melepaskan tangan Hinata dari lengannya kemudian berbalik dan menggenggam tangan gadis itu yang dingin. "Kenapa tidak?"
"A-aku dibesarkan seperti itu."
Gaara menghembuskan napas. "Kau ini benar-benar merepotkan." Ia menggeleng-geleng. "Oke, oke, aku akan memakai payung sialanmu ini."
Hinata mendongak, kaget karena sikap Gaara yang mendadak koperatif. "Eh?"
"Ya, tapi kita akan ke apartemenmu dulu."
"Eh, tapi..."
Gaara tidak membiarkan Hinata menyelesaikan kata-katanya. Ia mengambil payung dari tangan gadis itu kemudian menarik tangannya yang lain. "Aku juga tidak bisa membiarkanmu kehujanan, bodoh."
"Pasti suatu kemunduran yang luar biasa, 'kan?" adalah hal pertama yang diucapkan Hinata ketika mereka berdua masuk ke apartemen tersebut. Saat Gaara sedang berkutat membuka sepatunya, Hinata cepat-cepat mengambil handuk dan memberikannya pada pemuda itu.
Badai mengamuk ketika mereka tiba di apartemen Hinata. Karena merasa tidak mungkin untuk pulang dalam cuaca seperti itu, Gaara pun akhirnya memutuskan mengambil tawaran Hinata untuk berteduh sementara di apartemennya sampai badai berhenti.
"Apa yang kemunduran?" tanya lelaki itu sambil mengeringkan rambutnya.
Hinata merentangkan kedua tangannya.
"Oh." Gaara pun mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Pandangannya berpindah-pindah dari dapur, lemari pakaian, serta bath tub yang tergabung di dalam satu ruangan yang sama tersebut. Satu-satunya meja di ruangan tersebut adalah meja rendah yang berada di tengah-tengah ruangan. Dari tumpukan pakaian di dekat mejanya, Gaara menduga gadis itu juga menggunakan mejanya sebagai tempat untuk menggosok. "Kau mampu membiayai semua ini sendirian. Aku tidak bisa berkomentar apapun," kata lelaki itu sambil menggosok rambutnya.
Mengingat sifat lelaki itu dengan kejujurannya yang kejam, komentar seperti itu membuat Hinata berpikir Gaara berusaha menjaga perasaannya.
"S-silahkan duduk. Maaf aku tidak punya kursi. J-jadi kau bisa duduk di mana saja. A-aku akan menyiapkan sesuatu."
Ketika Gaara bergerak masuk, Hinata menyadari bahwa baju serta celana lelaki itu yang basah meneteskan air dan menciptakan jejak basah di lantainya. Hinata mengernyit melihatnya, dan Gaara juga nampaknya menyadarinya.
"Maaf," katanya.
"Tidak apa-apa, santai saja," kata Hinata yang bergegas mencari lap untuk membersihkan jejak air yang diciptakan Gaara. "K-kau mau mengeringkan pakaianmu dulu?"
Gaara mengangguk kemudian melepas kaos yang dipakainya dan memberikannya pada Hinata yang bergegas mengeringkannya di depan pemanas ruangan.
Ketika Gaara sudah duduk dengan handuk di kepalanya, ia mengamati Hinata yang kemudian berusaha mengeringkan lantai dengan lap. Di luar hujan deras membuat jendela dan dinding apartemen tersebut berderak mengerikan. Meskipun demikian, Gaara tetap berkomentar, "Apartemen yang bagus."
Mendengar itu, Hinata tersenyum. "Terima kasih, k-kau tidak perlu berbasa-basi seperti itu."
"Aku tahu tempat tinggal di Tokyo bisa sangat mahal. Dan ada banyak orang yang bersedia mendapatkannya dengan cara yang...tidak halal."
Hinata memeras hasil lapnya di sebuah ember. "Aku tahu. Terima kasih," kata Hinata lagi, ia tersenyum lagi, namun senyumnya tidak mencapai matanya. Gaara melihat hal tersebut. Kemudian gadis itu berdiri dan berjalan ke bak cuci untuk membuang airnya.
"Kenapa?" tanya Gaara tiba-tiba.
"Kenapa apa?" tanya Hinata sambil memunggungi Gaara.
"Kau terdengar tidak suka dengan apa yang barusan kukatakan."
Hinata terkesiap dan segera berbalik. "Oh, tidak, tidak. Tidak seperti itu. Aku...aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja..." Ia menggigit bibir bawahnya, "...aku sering mendengar itu, kau tahu. Terlalu sering."
"Lalu?"
"Bukannya aku tidak bersyukur, hanya saja terkadang aku berharap orang-orang berhenti berkata seperti itu dan langsung saja mengatakan apa yang sebenarnya yang ada di dalam pikiran mereka."
"Dan apa menurutmu yang ada di pikiranku sekarang?"
Hinata mengangkat bahu, kemudian kembali memunggungi Gaara. Kali ini ia menyibukkan diri memanaskan air dan berusaha mengalihkan pembicaraan. "Kau ingin teh? Kopi? Atau coklat panas?"
"Coklat panas. Dan jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan."
"Aku tidak mengalihkan pembicaraan, Gaara. Itu adalah hal yang tidak penting untuk dibahas. Jadi aku memutuskan untuk mengakhirinya."
"Well, menurutku itu tidak tidak penting."
Gaara berdiri kemudian menghampiri Hinata dan berdiri di belakang gadis itu. "Katakan saja."
Hinata menghela napas. "Aku tidak yakin orang sepertimu bisa mengerti."
"Sepertiku?"
"Ya, orang sepertimu."
Gaara kini mulai tidak sabar. "Orang seperti apa? Berhentilah membelakangiku seperti ini? Aku tidak bisa mendengar suaramu." Gaara memegang kedua bahu Hinata dan membuat gadis itu berbalik untuk menghadapinya.
Mereka berdua berdiri sangat dekat, seperti ketika di bawah payung tadi. Hinata menelan ludah ketika melihat dada telanjang Gaara persis di hadapannya, dan mendadak ia pun merasa kesulitan bernapas. Saat itu ia juga sadar bahwa itu adalah kali pertama seorang laki-laki―seorang lelaki dewasa bertubuh atletis dengan otot-otot di tempat yang tepat―mengunjungi apartemennya. Dan Hinata bisa merasakan darah di seluruh pembuluhnya berdesir.
Ketika ia tidak kunjung menjawab, Gaara mengguncang tubuhnya. "Hei, lihat aku!"
Hinata pun mendongak agar bisa menatap kedua mata Gaara, dan seketika ia lupa apa yang mau ia katakan. Ia merasa tenggorokannya mengering saat melihat wajah sempurna di hadapannya. Bagaimana ia bisa tidak memperhatikan betapa tampannya lelaki itu sebelumnya? Sepasang tulang pipi yang tinggi serta bentuk bibir yang sempurna itu...
...Ataukah mungkin itu hanya pikiran aneh seorang perempuan yang pertama kali bisa berada sedekat ini dengan laki-laki?
Ia pun berdeham dan membasahi bibirnya, berusaha menghapus semua fantasi jorok yang barusan terlintas di pikirannya. "Umm, a-apa yang tadi kau bilang?"
Gaara menghela napas. "Bajumu juga basah, bodoh. Kenapa kau tidak ganti baju dulu?"
"Eh? A-aku baik-baik saja." Hinata memang sangat kedinginan ketika berada di luar tadi. Namun setelah kembali ke apartemennya, dia merasa lebih baik. Selain itu karena apartemennya hanya terdiri dari satu ruangan, ia tidak mungkin berganti baju di depan Gaara.
Gaara menyipitkan mata. "Jangan berlagak kuat. Cepat ganti baju!" Gaara kemudian mendorong Hinata menjauhi kompor. "Aku akan berbalik," dan untuk membuktikan kata-katanya ia memang duduk di sisi terjauh ruangan sambil membelakangi Hinata.
Gadis itu menghela napas kemudian menghampiri lemarinya dan mengambil kaos serta celana yang bersih dan kering. Karena pakaian dalamnya juga ternyata ikut basah, Hinata pun ikut menggantinya. Ia menelan ludah dan melihat ke arah Gaara dengan gugup saat ia telanjang. Ketika memastikan pemuda itu masih memunggunginya, ia pun bergegas mengenakan semua pakaiannya.
"K-kau bisa berbalik sekarang," kata Hinata setelah selesai.
Gaara berbalik, kemudian menghampirinya. "Sekarang jelaskan padaku apa yang kau maksud tadi tentang orang-orang sepertiku. Memangnya kenapa dengan orang sepertiku?"
Hinata tersenyum karena teringat apa yang tadi hendak dikatakannya, lalu menggeleng. Ia bergegas menuju kompor lagi untuk memasak air. "Sudahlah, Gaara. Itu tidak penting. Lupakan saja."
"Tidak."
Hinata menghela napas dan menyerah, karena tahu dengan kekeraskepalaanya, lelaki itu tidak akan meninggalkannya begitu saja. "Aku tahu kau merasa iba padaku. Tidak apa-apa kalau kau mengatakannya langsung. Aku tidak akan tersinggung. Aku lebih menghargainya dibandingkan kau yang berusaha memujiku dengan semua kekuranganku, namun...merendahkanku di tempat lain."
"Merendahkanmu? Aku tidak pernah merendahkanmu."
Hinata berbalik untuk menatap Gaara. "Aku tidak tahu itu benar atau tidak, 'kan?"
"Kenapa kau berpikir seperti itu? Karena aku kaya sementara kau tidak? Apa kau pikir semua orang kaya berpikir seperti itu?"
Hinata mengerjapkan kedua matanya berkali-kali, seolah-olah itu adalah pertanyaan tersebut adalah pertanyaan paling retoris yang pernah ia dengar "Memangnya apa lagi yang kau pikirkan setelah kau keluar dari istanamu dan memasuki lubang tikus ini?"
Gaara berdiri dan menghampiri Hinata. "Kupikir luar biasa kau bisa membiayai ini dengan semua kekuranganmu, bukankah aku sudah mengatakannya tadi?"
"Benar, itulah yang dikatakan semua orang di depanku, Gaara. Tapi di belakangku? Pelayan kedai ramen. Orang hippie. Apartemen berjamur yang tak pernah kena sinar matahari." Hinata menghitung dengan jarinya satu persatu.
Gaara mengernyit. "Aku bahkan tidak pernah berpikir seperti itu! Apa kau dengar itu keluar dari mulutku?"
"Tidak, tapi..."
Gaara mendekati memegang kedua bahu Hinata, kemudian mengguncangnya. Suaranya meninggi saat berkata, "Kalau begitu kenapa kau sok tahu dan mengatakan itu semua?"
Hinata juga tidak mau kalah dan meninggikan suaranya. "Karena semua orang berpikir begitu!"
"Semua orang itu siapa?!" Gaara kini berteriak.
Sebelum Hinata bisa menahan mulutnya, ia pun juga berteriak, "Sasuke!"
Jawaban tersebut membuat Gaara terdiam dan mengernyit bingung. "Uchiha?"
"Ya, Sasuke Uchiha. Dia yang mengatakan itu padaku," kata Hinata dengan suara lebih tenang. Ia berusaha melepaskan cengkeraman Gaara pada bahunya. Namun pemuda itu tak membiarkannya. "Sasuke adalah...orang yang seperti matahari di sekolahku. Dia menyinari semua orang. Jika dia berpikir seperti itu, maka semua orang juga berpikir seperti itu."
Gaara menghela napas, kemudian melepaskan Hinata. "Jadi semua ini karena si brengsek itu?"
"S-S-Sasuke bukan orang yang brengsek. A-aku mengerti apa yang dia maksud. Aku tidak membencinya. A-aku juga tidak membencimu. A-aku paham kalau orang-orang seperti kalian pasti akan berpikir seperti itu. Aku sangat memahami dan menerimanya. Karena itu kubilang tidak apa-apa kalau kau mengatakan yang sebenarnya dan..."
Gaara berteriak saat berkata, "Jangan samakan aku...", namun kata-kata selanjutnya diucapkan dengan lebih tenang, "...dengan si bangsat itu." Sambil menggeram ia berkata, "Aku tidak ingin kau menempatkanku di kategori yang sama dengannya, kau mengerti?"
Hinata mengangguk.
"Apa ini alasanmu menolak tawaranku? Karena kau pikir aku akan menghinamu seperti Uchiha?"
Hinata menggeleng.
Gaara mengguncang tubuhnya lagi. "Jujur saja!"
"Y-ya, tapi selain itu kupikir juga aku tidak bisa beradaptasi, dan sekolahku, dan..."
"Dengar ya," Gaara menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri kemudian menyentuh dagu Hinata dan membuat gadis itu mendongak untuk melihatnya. "Aku tidak pernah minta pada siapapun untuk dilahirkan seperti ini. Aku juga tinggal sendirian. Aku menghabiskan sebagian besar waktuku di basement yang tak pernah kena sinar matahari. Aku makan lebih banyak potato chips dan gummy bears dibandingkan nasi atau lauk seperti orang normal. Kau pikir apa pendapat orang terhadapku? Aneh, gila, psikopat. Dan apakah itu menggangguku? Tidak. Jika ada yang berani mengatakan itu di depanku aku akan menghajar mereka sampai mati, dan aku tidak pernah ambil pusing." Ia menghela napas, kemudian mematikan kompor di belakang Hinata. "Aku mau pulang sekarang,"
Ia lalu berbalik dan mengambil bajunya yang sudah hampir kering kemudian memakainya. Tanpa suara ia lalu berjalan ke pintu dan mengenakan sepatunya. Hinata buru-buru menyusulnya.
"T-t-tapi di luar masih hujan."
"Tidak apa. Terima kasih sudah memberitahuku semua itu. Aku mengerti sekarang apa yang orang-orang sepertimu pikirkan tentang orang-orang sepertiku." Namun sebelum ia keluar, ia kembali berbalik, "Oh, dan asal kau tahu, hanya karena seseorang dilahirkan di tempat yang sama, bukan berarti mereka tumbuh dengan pikiran yang sama. Selamat tinggal."
Sebelum Hinata bisa berkata apapun, Gaara sudah meninggalkannya. Meninggalkan si gadis berkulit pucat yang tertunduk malu sendirian.
Setelah kejadian sore itu, Gaara berusaha untuk membenci Hinata dan melupakannya. Gaara sudah biasa melihat orang-orang menghindarinya karena temperamennya. Namun baru kali ini ada seseorang yang benar-benar menghindarinya karena...hartanya.
Harta yang bahkan tidak ia inginkan dan selalu ia kutuk setiap hari.
Hanya saja, dua hari kemudian setelah kejadian itu, Gaara malah menemukan dirinya berada di depan gerbang SMA Konoha dan menunggu gadis itu. Ia tidak tahu apa yang mendorongnya kesana, namun ada sebuah suara di dalam dirinya yang ingin meyakinkan gadis itu bahwa apa yang ia lakukan untuk menghidupi dirinya jauh lebih berharga dibandingkan semua anak-anak orang kaya bodoh yang bersekolah di sekolah itu.
Tetapi ketika melihat gadis itu keluar, Gaara mengurungkan niatnya dan malah tidak menyapa. Gadis itu juga tidak melihatnya, karena sepanjang jalan ia selalu berjalan menunduk. Gaara tidak tahu apa yang sudah dikatakan oleh orang-orang di sekolah itu padanya, namun apapun itu pasti membuatnya menjadi sangat rendah diri.
Si brengsek Uchiha pasti mengatakan semua hal itu padanya dengan cara yang membuat Hinata tak bisa melupakannya.
Sebenarnya melihat cara berjalan gadis itu yang seperti tikus juga membuat Gaara marah. Dari kata-katanya sore itu, Hinata terdengar seperti orang yang tidak punya harga diri. Ia menerima apa saja yang dilemparkan orang-orang padanya. Pantas saja orang-orang di Konohagakure menghinanya. Dia bahkan sama sekali tidak berniat untuk berdiri dan membela diri.
Gaara tidak mengerti mengapa gadis itu bisa membuatnya semarah itu. Sore itu ia pulang dan berlari sampai jam dua pagi dan bahkan kehilangan arah pulang. Ketika berhasil menemukan jalan pulang dan kembali ke rumahnya jam enam pagi, Gaara pun memutuskan untuk bolos latihan klub dan bermeditasi sampai malam.
Keesokan harinya Gaara sudah sedikit berhasil melupakan Hinata dan berkonsenterasi untuk persiapan pertandingan selanjutnya di Emperor Cup. Semakin dekat hari pertandingan, semakin jarang pikiran mengenai gadis itu terlintas di benaknya. Seluruh perhatiannya ia curahkan untuk pertandingan tersebut. Ia bahkan meninggalkan katalog-katalog patio-nya dan lebih banyak menghabiskan waktu di lapangan.
Ketika hari pertandingan tiba, untuk pertama kalinya selama seminggu tersebut, Gaara merasa bersemangat. Setelah melakukan pemanasan, ia menginstruksikan pada tim agar mereka berkumpul untuk mereview kembali strategi permainan yang akan mereka lakukan melawan SMA Shirayuki. Mereka belum pernah bertanding melawan tim SMA tersebut sebelumnya, sehingga Gaara merasa mereka perlu ekstra berhati-hati dan tidak menganggap enteng lawan mereka.
Namun anggota tim Sunagakure yang lain sepertinya tidak berpikir demikian.
Ketika waktunya tiba untuk berkumpul, Gaara nyaris meledak saat melihat semua anggota tim-nya malah berkumpul di pinggir lapangan untuk bertemu pacar mereka masing-masing. Nampaknya itu adalah tradisi yang sangat umum di setiap pertandingan sepak bola di Jepang. Menurut teman setim-nya sejak mereka masih bergabung di liga kecil, orang tua mereka sudah sering berdiri di pinggir lapangan dan memberikan sports drink sebelum bertanding.
Sama seperti yang dilakukan oleh pacar-pacar mereka sekarang.
Gaara selalu berkata bahwa itu adalah tradisi yang bodoh, dan selalu bersikap sinis pada setiap anggota tim-nya yang dengan gembira kembali ke bangku pemain dengan membawa minuman mereka. Namun sebenarnya diam-diam, jauh di dalam hati, ia merasa iri pada teman-temannya. Ia tidak punya orang tua yang cukup peduli padanya untuk datang ke pertandingan-pertandingannya. Bahkan saat itu, tidak ada yang sengaja repot-repot datang ke pertandingan itu hanya untuk menontonnya.
Selain itu, satu-satunya alasan Gaara berada di tim Sunagakure adalah karena ialah satu-satunya kesempatan yang dimiliki oleh Sunagakure untuk menang. Jika tidak, dengan sikap dan temperamennya, ia pasti sudah lama ditendang keluar dari tim itu.
Bukan untuk pertama kali kejadian yang berlangsung di depan matanya tersebut membuat Gaara menyadari bahwa ia hampir hidup seperti seorang pertapa.
Sendirian.
Gaara menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Di kejauhan ia juga bisa melihat pacar-pacar anggota tim Shirayuki juga melakukan hal yang sama.
Dan tepat saat itulah ia mendadak melihat sosok yang sangat familiar.
Sosok dengan rambut panjang serta cara berjalan yang seperti tikus.
Dia tampak sangat canggung berdiri di sana. Kepalanya menoleh kesana-kemari seolah-olah sedang mencari seseorang. Gaara mengernyit bingung. Pertandingan Konohagakure sudah selesai pagi tadi, jadi siapa yang dicarinya?
Dengan melihat gadis itu, Gaara tidak bisa mencegah diri untuk tidak teringat kembali pada penolakan serta kata-katanya. Amarah pun seketika kembali menggelegak di dalam dirinya. Namun saat itu tiba-tiba mata mereka bertemu, dan Gaara mengernyit ketika melihat gadis itu tersenyum ke arahnya.
Gaara tidak membalas senyumnya. Ia menaikkan sebelah alis saat melihat gadis itu melambai ke arahnya. Ia menoleh ke sekitarnya untuk melihat apa ada seseorang di belakangnya yang sedang dicari gadis itu.
Karena tidak ada satu pun orang di sekitarnya yang nampaknya mengenali gadis itu, Gaara pun yakin Hinata akan menghampirinya. Hinata terpaksa harus menghampirinya ke dekat bench, karena Gaara tidak membuat gerakan apapun untuk mendekati pinggir yang ia duga, gadis itu terlihat makin canggung ketika harus berjalan sendirian melintasi lapangan menuju ke arahnya. Apapun yang ingin si gadis lakukan padanya pasti begitu penting hingga ia mau melakukan itu.
Ketika mereka akhirnya bertemu, Hinata tersenyum malu-malu ke arahnya.
Gaara tidak membalas senyumannya.
Hari itu sebenarnya tidak terlalu panas, namun juga tidak terlalu dingin, tetapi rupanya cukup dingin bagi Hinata untuk mengenakan sebuah jaket tebal berwarna biru yang terlihat kebesaran untuknya. Seperti biasa wajah gadis itu bersih dari make-up dan rambut panjangnya yang lurus tergerai di belakangnya.
"Hai," sapanya malu-malu.
Saat itu seribu pertanyaan sebenarnya berseliweran di benak Gaara. Namun pemuda itu memilih untuk tetap diam.
"Eh, itu...umm...aku membawakanmu ini." Dari balik jaketnya ia mengeluarkan sebuah botol serta sekantong biji bunga matahari. "I..itu lemon madu. Semoga bisa memberikanmu tenaga saat bertanding nanti."
Gaara terdiam. Pandangannya terpaku pada botol di tangan Hinata, sebelum berpindah ke wajahnya dan menatapnya dalam-dalam. Sepasang mata gadis itu membesar dengan penuh harap. Namun ketika Gaara tidak kunjung menjawab ataupun menerimanya, sinar kepercayaan diri di wajah gadis itu perlahan-lahan meredup. "Umm..."
Namun sebelum ia bisa berkata apapun, Gaara tiba-tiba bertanya, "Kenapa?"
"K-kurasa kau tahu tradisi untuk menerima minuman berenergi sebelum bertanding..."
"Ya, ya, aku tahu tradisi bodoh itu. Maksudku kenapa kau memberinya padaku? Memangnya kau siapa?"
Gadis itu nampak gugup, dan sambil melihat ke bawah ia menjawab, "T-temanmu...mungkin?"
Kedua mata Gaara menyipit mendengarnya, "Omong kosong," kemudian ia berbalik. Gerakannya terhenti saat Hinata menangkap lengannya.
"M-maafkan semua perkataanku waktu kita terakhir bertemu. A-aku benar-benar memikirkannya, dan kau benar. Tidak seharusnya aku mengeneralisasi semua orang seperti itu. K-kuharap...kau belum berubah pikiran...s-soal..."
"Soal?"
"Menjadi juru masakmu?"
Gaara melepas tangan Hinata dari lengannya. "Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah pikiran?"
Hinata tersenyum malu-malu. "A-ada banyak hal. A-aku butuh uang, salah satunya. S-selain itu, A-aku sudah memberitahu Paman Ichiraku bahwa aku mau pindah, dan beliau sudah setuju. J-jadi aku tidak punya pekerjaan sekarang."
Gaara menghembuskan napas. "Jadi kau kesini berpikir mau menyogokku agar menerimamu kembali?" tanyanya.
Hinata menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk. "S-semacam itulah..."
"Lalu bagaimana dengan semua sampah soal kerendah-dirianmu yang kau bilang padaku waktu itu?"
"T-terlepas dari apa yang kau punya, dan apa yang kupunya, k-kita sebenarnya tidak jauh berbeda. A-aku sudah bersikap tidak adil padamu. J-jadi..."
"Kau kasihan padaku?"
"B-bukan begitu. A-aku ingin menolongmu. Aku ingin bersamamu. Bukankah kau bilang kau membutuhkanku?"
Gaara tidak menjawab.
Hinata mengernyit dan menggigit bibir bawahnya. "K-kenapa kau tidak jawab, Gaara? A-apakah kau sudah mendapatkan juru masak lain?" Ketika Gaara tak kunjung menjawab, Hinata pun terkesiap, "Oh, tidak. A-aku sudah tidak bekerja di Ichiraku lagi..." Kini dia benar-benar panik.
Mendadak seseorang menepuk bahunya dari belakang. "Hei, Gaara. Sudah tinggal lima belas menit lagi. Kita harus berkumpul sekarang."
Gaara menoleh ke belakang dan menemukan Sasori. Melihat wajah Gaara yang terlihat kesal karena tiba-tiba diganggu, pemuda itu langsung cepat-cepat menarik tangannya dan meninggalkannya.
"Oh, m-maaf aku menahanmu, Gaara." Hinata membungkuk, "Umh, k-kurasa aku akan memohon pada Paman Ichiraku agar ia mau menerimaku lagi. Maaf aku sudah merepotkanmu selama ini." Ia membungkik lagi, kemudian berbalik pergi.
Gadis itu terkesiap ketika Gaara tiba-tiba menahan lengannya dan membuatnya berbalik lagi. "K-kenapa?"
"Kau tahu masalahmu? Kau selalu saja mengambil kesimpulan sendiri sesuka hatimu. Aku tidak percaya aku mengatakan ini pada orang lain. Tapi bisakah kau tidak jadi orang yang begitu pesimis? Apakah kau dengar dari mulutku sendiri kalau aku tidak mau kau jadi juru masakku? Atau aku sudah punya juru masak baru? Atau aku menolak minuman yang kau bawa itu?" Gaara mengambil lemon madu dan biji bunga matahari dari tangan Hinata. "Jadi sebelum kau memastikan kebenarannya dengan mata atau telingamu sendiri, pastikan dulu. Jangan mengambil kesimpulan seenak jidatmu saja."
Hinata tercengang menatap pemuda di hadapannya. "A-apa artinya...?"
Gaara memutar matanya. "Telepon aku kalau kau butuh bantuan untuk memindahkan barang-barangmu." Tanpa berkata apa-apa lagi, ia pun langsung berbalik pergi.
Gaara tidak menoleh ke belakang lagi untuk melihat bagaimana reaksi Hinata. Bukan karena ia tidak peduli bagaimana ekspresi senang gadis itu. Namun karena ia tidak ingin menunjukkan senyuman yang saat itu sedang menghiasi bibirnya.
Author's Note: Terima kasih sudah membaca chapter ini! Pertama saya mau minta maaf karena chapter ini sedikit lebih lama dibandingkan sebelumnya. Saya sebenarnya sedang agak sibuk, dan sebagai gantinya chapter ini sedikit lebih panjang dibandingkan yang lain.
Kedua, saya agak merasa terganggu dengan review-review para fans SasuHina yang mengatakan kalau saya memasukkan Sasuke di sini hanya untuk mendapatkan popularitas dari para fans SasuHina. Untuk kalian, sebenarnya gini ya, saya adalah pecinta GaaHina 100% dan target pembaca saya hanyalah para pecinta GaaHina saja. Itu terbukti dari kejelasan pair dalam cerita ini, yaitu GaaHina. Hanya dengan unsur GaaHina saja saya sebenarnya yakin kalau cerita saya pasti akan banyak yang baca karena archive cerita GaaHina tidak sebanyak itu. Jadi, berhentilah menghina-hina cerita orang lain, and wake up, please! FFN bukan isinya cerita atau pecinta SasuHina aja. Ada yang lain juga. Dan mengenai keputusan saya untuk memasukkan Sasuke di sini adalah karena Sasuke memang akan jadi suatu karakter kunci di sini. Selain itu, seperti yang kalian lihat sendiri, Sasuke adalah love interest-nya Hinata yang pertama, oke? Jadi ga usahlah komen2 sampah yang sok belain SasuHina dengan bermaksud untuk ngerendahin cerita ini. Ini udah 2016, kalo mau komen yang berbobot lah, jangan melulu soal pair. Komen tentang kesalahan penulisan kek, atau ada alur yang ga logis. Kalo ga suka pair-nya ya ga usah baca.
Ketiga, maaf kalo saya agak sensi di paragraf di atas, karena saya emang ga suka kalo dibilang mau mendompleng popularitas pair lain. Saya ga benci SasuHina, dan saya ga pernah mencerca pair-pair lain. Tapi kalo cerita saya dihina, saya ga bisa tinggal diam.
Mohon pengertiannya ya teman-teman.
Dan untuk kalian yang terus mendukung saya, saya tidak bisa berkata apapun kecuali beribu terima kasih dan jangan bosan untuk baca cerita ini, ya. Mudah-mudahan chapter selanjutnya bisa selesai lebih cepat dari yang ini, ok?
Sampai jumpa di chapter berikutnya : D
