Disclaimer: Applied


Chapter 7

Korean BBQ and Hot Chocolate

Tapi Hinata tidak pernah meneleponnya.

Dan Gaara, dengan keangkuhannya, tidak berniat memberikan bantuan yang tidak diperlukan.

Namun seminggu kemudian, gadis itu masih belum juga muncul di pintu depan rumahnya. Sebaris pesan darinya pun tidak ada.

Gaara tahu dia seharusnya tidak peduli. Bukan dia yang membutuhkan gadis itu. Gadis itu sendiri yang bilang kalau dia yang membutuhkan Gaara. Dia membutuhkan uangnya.

Namun diam-diam Gaara pun mulai khawatir. Berbagai dugaan bermunculan di benaknya.

Mungkinkah Hinata berubah pikiran? Atau mungkin Ichiraku memohon padanya agar ia kembali lagi? Atau bisa saja ia lupa dimana rumahnya. Atau yang paling buruk, mungkinkah ia diculik?

Semakin Gaara berusaha tidak memikirkannya justru membuat dia semakin memikirkan gadis tersebut.

Oleh karena itu, pada hari ke sepuluh sejak ia meninggalkan Hinata di Stadion Universitas Tokugawa, Gaara pun menyerah pada keangkuhannya dan menemukan dirinya berkendara ke Distrik Konohagakure.

Tidak seperti dugaannya, ia tidak menemukan Hinata di kedai Paman Ichiraku. Pria tersebut mengaku ia sudah tidak melihat Hinata sejak gadis itu mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ichiraku juga sudah menemukan pengganti Hinata, jadi tidak ada alasan lagi bagi gadis itu untuk kembali kesana.

Gaara pun makin khawatir. Tanpa membuang waktu ia langsung menuju ke apartemen Hinata. Namun bahkan setelah Gaara menggedor pintu apartemen gadis itu seratus kali, yang akhirnya malah membuat tetangganya keluar dengan kesal, gadis itu tak kunjung keluar. Si tetangga dengan kesal memberitahu Gaara bahwa Hyuuga-san, yang ternyata adalah nama belakang Hinata, selalu kembali ke apartemennya sebelum tengah malam.

Dia tidak mungkin ada di rumahnya sore itu.

Keterangan tersebut membuat Gaara mengernyit. Apa yang dilakukan Hinata sampai tengah malam? Karena sudah tidak bekerja di Ichiraku lagi, seharusnya ia tidak lagi kembali ke rumah selarut itu.

Gaara kemudian berpikir untuk mencarinya ke SMA Konohagakure. Namun harga dirinya melarangnya. Lagipula apa yang akan ia lakukan di Konoha nanti? Berkeliling dan bertanya dimana Hinata Hyuuga? Tidak, terima kasih.

Namun dua puluh menit kemudian, Gaara malah menemukan dirinya berada di depan gerbang SMA Konohagakure. Hari itu hari Rabu dan saat itu sudah pukul empat. Sudah satu jam sekolah bubar, namun disana-sini masih terlihat beberapa orang dengan seragam khas Konohagakure.

Gaara mengutuki dirinya dan kebodohannya sendiri. Sebelum akhirnya ia mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Hinata di kontaknya.

Karena di pikirannya ia selalu menganggap bahwa Hinata yang membutuhkannya, Gaara pun membuat kebijakan agar tidak pernah menghubungi gadis itu duluan. Sehingga tidak terlintas dalam pikirannya untuk menelepon gadis itu dulu sebelum mencarinya ke rumah atau sekolahnya.

Dan sekarang ia baru saja melakukan apa yang seharusnya ia lakukan dari awal.

Gaara mendengar bunyi tunggu tiga kali sebelum suara lembut Hinata yang khas menjawab, "H-halo?"

Pemuda berambut merah itu menghembuskan napas lega mendengarnya. Namun cepat-cepat ia menyembunyikan rasa leganya di balik suaranya yang dingin, "Kau dimana?"

"Uhh...G-Gaara?"

"Memang siapa lagi?"

"K-kenapa kau tiba-tiba meneleponku?"

"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku dulu?"

"A-aku..." Dia berhenti sesaat, "...di sekolah."

"Kau belum pulang?"

"B-belum."

"Kemana kau selama seminggu ini?" tembak Gaara langsung.

Ia mendengar gadis itu terkesiap, kemudian dengan gagap menjawab, "...a-aku sedang mengurus sesuatu."

"Mengurus apa?"

"S-sekarang giliranmu menjawab pertanyaanku."

"Aku di depan sekolahmu. Kalau kau memang sedang di sekolah, keluar sekarang, aku ingin bicara denganmu."

Hinata terdiam cukup lama. "A-aku masih ada kelas."

"Sekolah sudah bubar sejam yang lalu."

"K-kelas tambahan."

"Apa kau sedang berusaha menghindariku?"

"T-tidak...a-aku..."

"Kalau begitu dimana kau sekarang?"

"A-aku ada di sekolah."

Gaara menggertakkan gigi. "Kalau kau bersikeras tidak mau memberitahuku dimana, aku akan masuk dan mencarimu di setiap sudut sekolah sialanmu ini. Dan kau lebih baik berdoa supaya aku tidak menemukanmu."

Gadis itu memahami ancamannya dan seketika nadanya berubah panik, "T-tidak, j-jangan. B-baiklah aku akan keluar. Umm...kau di depan?"

Gaara tidak menjawab.

"B-beri aku waktu lima menit."

Kurang dari lima menit kemudian, Gaara melihat gadis itu berjalan ke arahnya. Pandangan gadis itu hampir terlihat takut saat menemukan Gaara di sana. Dan di sini Gaara pikir akhirnya ia sudah menemukan seseorang yang tidak takut padanya.

"H-hai," sapa Hinata malu-malu. Kedua matanya menatap ujung sepatunya. Sepatu yang menurut Gaara gadis itu dapatkan dari toko bekas. "A-apa kabar?"

Gaara meraih dagu Hinata dan membuat gadis itu mendongak untuk melihat ke dalam matanya. "Ada apa lagi sekarang? Seminggu tidak bertemu dan sekarang kita kembali lagi ke awal?"

Wajah gadis itu nampak lebih tirus dan pucat dari terakhir kali mereka bertemu. Gaara juga menyadari kantong mata yang tebal di bawah mata abu-abu gadis itu. Dia terlihat seperti tidak makan dan tidur berhari-hari.

Hinata menggigit bibir bawahnya, kemudian kedua tangannya menggenggam tangan Gaara agar melepas dagunya. "M-maafkan aku."

"Jadi kau tahu kalau kau bersalah. Bagus. Aku mau dengar langsung dari mulutmu. Apa maksud semua ini?"

Hinata masih belum sadar bahwa ia masih menggenggam tangan Gaara. Ketika akhirnya ia sadar, ia langsung melepasnya. Namun pemuda itu malah balik menggenggam tangannya. "Hyuuga?"

Gadis itu terkesiap, kedua matanya melebar. Itu adalah pertama kalinya Gaara memanggilnya dengan nama keluarganya. "B-bagaimana...?"

"Dari tetanggamu."

"K-kau ke apartemenku?" Gaara tidak menjawab. Tatapannya yang intens menjawab semuanya. Hinata pun menghela napas kemudian membasahi bibirnya. "B-begini, a-aku tidak bisa lama-lama...mungkin akhir minggu ini aku akan k-ke rumahmu dan m-membicarakan semuanya, l-lalu.."

"Kau sedang sibuk apa sih?" tanya Gaara yang sekarang mulai gusar. Karena masih menggenggam tangan Hinata, ia menarik gadis itu hingga kaki mereka saling menempel. Seperti dugaannya Hinata langsung memerah, lalu berusaha menjauh. Namun Gaara tidak membiarkannya sampai gadis itu memberinya penjelasan.

Gadis itu mengedarkan pandangan panik ke sekitarnya, takut ada murid Konohagakure yang melihatnya dalam posisi seperti ini dengan lelaki lain. "A-ada banyak orang di sekitar sini. B-bisa-bisa mereka salah paham."

"Peduli setan sama mereka. Kalau kau mau ini segera selesai, beri aku jawaban yang jujur dan singkat."

"Aku...aku sedang mengerjakan PR," jawab gadis itu akhirnya.

"PR tidak membuat seseorang pulang tengah malam. Kau bisa mengerjakannya di rumah."

"A-aku tidak punya internet."

Sebelum Gaara bisa menahan apa yang keluar dari mulutnya sendiri, ia sudah berkata, "Kau bisa mengerjakannya di rumahku." Ketika kalimat tersebut menggantung di udara, barulah Gaara sadar betapa bodohnya dia. Gaara berdeham, kali ini dengan suara yang lebih tenang ia menambahkan, "Kalau kau mau."

Kalimat Gaara serta posisi mereka yang masih menempel seperti seorang kekasih rupanya tidak membuat Hinata menganggap itu ide yang bagus. "Ah, s-soal itu..." Hinata berdeham, "A-aku sebenarnya sangat ingin...p-pindah...ke rumahmu...s-sekarang. T-tapi...aku belum bisa."

Mendengar kalimat tersebut membuat Gaara bisa merasakan kemarahan perlahan-lahan merayap di dadanya, berbisik di telinganya untuk melukai gadis yang ada di hadapannya, dengan cara apapun, hingga gadis itu menarik kembali kata-katanya. Ia mengabaikannya, lalu mulai berhitung sampai sepuluh, sebuah trik yang diajarkan oleh terapisnya. Namun seluruh sel di dalam tubuhnya menjerit untuk meremukkan tangan yang ada dalam genggamannya. Karena tak percaya pada dirinya sendiri, Gaara pun langsung mendorong Hinata menjauh darinya.

Meskipun lega karena Gaara sudah melepasnya, namun Hinata khawatir melihat Gaara yang wajahnya terlihat seperti menahan rasa sakit. "G-Gaara...kau baik-baik saja?" Cara gadis itu membisikkan namanya membuat perhatian Gaara teralih dari pergulatannya dengan emosinya sendiri. Ia tidak tahu mengapa Hinata membuatnya tidak ingin menunjukkan episode kambuhnya di depan gadis itu. Sesuatu darinya, mungkin matanya, membuat Gaara tidak ingin terlihat seperti orang gila di depannya.

Ia pun mendongak, lalu menemukan sepasang mata abu-abu yang besar itu menatap khawatir padanya. Dengan suara yang berusaha menenangkan ia berkata, "Aku...aku benar-benar ingin pindah ke rumahmu. Tapi aku masih punya masalah sekarang. Dan aku akan menyelesaikannya. Begitu semuanya sudah selesai, aku akan segera ke tempatmu. Oke?"

Melihat wajah Hinata yang berusaha meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja itu membuat Gaara ingin percaya bahwa semuanya memang baik-baik saja. Namun ia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres, dan Hinata tidak ingin memberitahunya. "Aku ingin menolongmu."

Gadis itu tersenyum, senyumnya yang biasa, dan Gaara merasa hatinya melunak. "Terima kasih. Aku pasti akan meminta pertolonganmu begitu aku butuh pertolongan. Saat ini aku bisa melakukan semuanya sendiri."

Gaara mengangguk. "Telepon aku kalau kau butuh sesuatu."

"Pasti," bisiknya lagi dengan suara yang membuat Gaara ingin meraih gadis itu dan memaksanya untuk terus berbicara dengan suara seperti itu padanya setiap hari.

Gaara menyalakan motornya. "Hati-hati, ya," kata Hinata sebelum Gaara melaju dan meninggalkannya di sana.

Namun Gaara kemudian memutari satu blok dan kembali lagi ke Konohagakure. Kali ini ia berkendara masuk melewati gerbangnya dan menemukan tempat parkir untuk memarkir motornya. Setelah itu, ia masuk ke gedung SMA Konohagakure dan mencari Hinata.

Karena hari itu ia tidak ke sekolah, Gaara mengenakan pakaian standarnya sehari-hari yaitu kaos hitam, celana jeans, serta jaket kulit. Dengan penampilan seperti itu, ia menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Namun ia tahu, ia tidak akan semenarik perhatian apabila ia mengenakan seragam sekolahnya. Orang pertama yang ia temui ketika masuk ke gedung SMA adalah seorang pemuda pendek dengan potongan rambut seperti mangkok. Ia terus-terusan memperhatikan Gaara, bahkan ketika Gaara menghampirinya.

"Hei. Kau kenal Hinata Hyuuga?"

Pemuda itu nampak tak percaya Gaara berbicara padanya. Gaara harus bertanya sekali lagi sebelum dia menjawab, "Hinata? Siapa?"

"Kau tahu, kulit putih, rambut panjang, gagap."

Nampaknya ciri terakhir itu hanya dimiliki oleh satu orang saja di sekolah itu, karena si rambut mangkok langsung berkata, "Oh! Hinatadecoco!"

"Hinatadecoco?" tanya Gaara bingung.

"Matanya," si rambut mangkok menunjuk ke arah kedua matanya, "aneh. Seperti natadecoco."

Gaara tidak mengerti apa yang membuat pemuda itu membicarakan Hinata dengan nada yang merendahkan seperti itu, nada yang membuat Gaara ingin meremukkan lehernya dan menghantam kepalanya ke lantai. "Apa kau melihatnya hari ini?"

"Tidak. Sekolah sudah bubar dari satu jam lalu, bung. Dia pasti sudah berlari ke tempat kerjanya. Kudengar dia pelayan kedai ramen."

Gaara mengernyit ketika mendengar si rambut mangkok berusaha sok akrab dengannya.

"Apa yang kau butuhkan darinya? Apa dia berutang padamu? Kudengar ia punya utang dimana-mana. Maksudku dia agak aneh, dengan kondisi ekonomi seperti itu mau sekolah di sini. Bahkan dengan beasiswa pun tetap ada banyak biaya yang harus dibayar. Apa yang ia cari? Mungkin dia berharap salah satu pemuda kaya di sini ada yang akan memacarinya," lalu ia mendengus dan tertawa.

Namun tawanya tidak bertahan lama karena Gaara mencengkeram rahangnya. "Jangan pernah berkata seperti itu lagi soalnya." Sebelum Gaara kehilangan kontrol dan kemungkinan membuat dia (dan mungkin Hinata) kena masalah, ia pun mendorong si rambut mangkok tersebut ke dinding lalu kembali mencari Hinata.

Nampaknya Hinata bukanlah orang yang populer di antara anak-anak dengan seragam Konohagakure. Setelah si rambut mangkok, Gaara menemukan seorang gadis berambut pirang yang dari tas tangan serta tatanan rambutnya terlihat sangat kaya, namun membicarakan Hinata seolah-olah dia adalah seekor kecoa di toilet. Karena tak pernah memukul perempuan, Gaara pun langsung meninggalkannya tanpa berkata apapun.

Akhirnya Gaara menemukan seorang janitor yang sedang bergegas menuju toilet di lantai dasar. Ia menghampiri wanita paruh baya tersebut dan bertanya soal Hinata.

"Ah, Hinata Hyuuga. Saya tahu. Sepertinya dia tadi menuju ke arah perpustakaan. Dia sepertinya sering ke sana akhir-akhirn ini."

Setelah menjelaskan arah menuju perpustakaan pada Gaara, lelaki itu mengucapkan terima kasih pada si janitor dan bergegas ke perpustakaan. Konohagakure sepertinya menghabiskan cukup banyak dana sumbangan mereka untuk bangunan perpustakaan mereka yang memiliki arsitektur gothik yang sangat mirip dengan perpustakaan universitas Oksford. Perpustakaan itu sendiri hampir sama besarnya dengan gedung SMA, dan terdiri dari empat lantai. Tidak heran mereka sangat mahal. Dan dalam hati Gaara memuji Hinata karena berhasil mendapatkan beasiswa di sekolah mewah tersebut.

Gaara masuk ke dalamnya dan mulai menelusuri setiap lantai. Ia akhirnya menemukan Hinata di ruang belajar lantai tiga. Gadis itu duduk sendiri. Tangannya berkutat menulisi sebuah kertas folio. Sesekali kepalanya akan menoleh ke buku tebal yang terbuka di sampingnya. Padahal selain pustakawan wanita yang menjaga lantai itu, hanya ada mereka berdua di seluruh lantai tersebut, namun karena sangat serius, Hinata bahkan tidak menyadari keberadaan Gaara di sana.

Sampai Gaara akhirnya duduk di sampingnya.

Dari wajahnya Gaara tahu bahwa ia hampir membuat gadis itu terkena serangan jantung. Namun segera setelah sembuh dari kekagetannya, Hinata buru-buru membalik kertas folio di hadapannya lalu berbisik dengan panik. "A-apa yang kau lakukan di sini? Bukannya tadi kau sudah pergi?"

"Aku kembali lagi."

"K-Kenapa?"

"Apa yang sedang kau kerjakan?" Gaara mencoba melihat kertas folio-nya. Namun Hinata tak membiarkannya.

"Memangnya ini ujian? Kenapa aku tidak boleh lihat?"

"K-karena..." Hinata menelan ludah. "Karena tidak boleh," jawabnya tegas, lalu ia menyelipkan kertas folio itu di antara buku terbuka yang tadi dilihatnya dan menutupnya.

Karena sudah merasa kertasnya aman, Hinata tidak siap ketika tangan Gaara dengan cepat mengunci kedua tangan Hinata, sementara tangannya yang lain menarik keluar kertas folio-nya. Hinata menahan jeritannya saat Gaara membaca kertas folio tersebut. Karena sudah terlambat, Hinata akhirnya berhenti meronta dan berbalik memunggungi pemuda itu.

"Apa maksudnya ini?" tanya Gaara yang meletakkan kertas tersebut kembali di meja. "Kenapa kau mengerjakan tugas orang lain?" tanyanya bingung.

Hinata menghela napas. Posturnya membungkuk saat akhirnya mengaku, "Karena aku dibayar, Gaara."

Jawaban itu membuat Gaara gusar. "Dibayar? Berapa banyak uang yang sebenarnya kau butuhkan, Hyuuga?" Suaranya perlahan-lahan meninggi, "Apa yang sebenarnya yang kau butuhkan?" Tapi sebelum Gaara meledak, Hinata cepat-cepat meletakkan tangannya di lengan pemuda itu.

Penjaga perpustakaan, yang merupakan satu-satunya orang di lantai tersebut selain mereka, langsung menatap tajam ke arah Gaara dan ber-ssssttt! Hinata langsung gelagapan meminta maaf. Lalu pada Gaara ia berkata, "Tolong, jangan disini. Oke, oke, aku akan ikut denganmu kemanapun. T-tapi jangan buat keributan di sini."

Melihat wajah memelas Hinata, Gaara pun mengalah. Dan akhirnya membantu Hinata membereskan buku-buku serta kertas-kertasnya.

Ketika mereka di luar perpustakaan, Hinata sudah hendak memberi penjelasan padanya, namun Gaara menghentikannya, meraih tangannya dan menariknya menuju tempat ia memarkir motornya. "Temani aku makan."

"T-tapi..."

"Tidak ada tapi."

Dan benar saja, Hinata tidak berargumen apapun sepanjang jalan.


Nasi terakhir yang dimakan oleh Hinata adalah nasi ayam kung pao yang ia makan dua hari yang lalu. Setelah itu Hinata tak punya cukup uang untuk makan kecuali sepotong roti yang ia makan setiap sarapan. Oleh karena itu, saat Gaara mengajaknya ke restoran BBQ Korea, air liur-nya hampir menetes. Namun ia tahu ia tidak bisa memesan apapun.

Dari sekian banyak restoran BBQ Korea di Shinjuku, Gaara harus mengajaknya ke restoran termahal. Melihat harga makanan pendampingnya saja Hinata tidak sanggup, apalagi melihat pilihan dagingnya. Namun karena Gaara terlihat sangat lapar, Hinata tidak protes. Lelaki itu memesan banyak daging pada gadis pelayan ramah, sebelum ia kemudian bertanya apa yang Hinata inginkan.

"A-aku tidak lapar. Aku minum teh ginseng saja," katanya dengan senyum yang ia harap meyakinkan. Tapi Gaara menatapnya tidak percaya, lalu memesan porsi yang sama sepertinya untuk Hinata.

Namun Hinata langsung menyela. "T-tidak, tidak, jangan!" katanya pada si gadis pelayan. Namun Gaara memberinya pandangan yang menyuruhnya diam dan si gadis pelayan pun pergi untuk menyampaikan order mereka ke dapur.

"Apa yang sudah kau lakukan? Aku tidak punya uang, Gaara!"

"Berhentilah bersikap seperti itu. Selama kau bersamaku, kau tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun."

Hinata mengernyit. Kedua tangannya terkepal. "A-aku bukan peliharaanmu," bisiknya. Namun ia tahu ia sudah kelewatan, jadi ia langsung minta maaf. "M-maaf, aku...aku tidak bermaksud..."

Gaara tetap terlihat marah. Sambil menggertakkan gigi dia berkata. "Kau bukan peliharaanku. Anggap saja ini sebagai balasan ketika kau kemarin memasak di rumahku. Kau membayar untuk semua bahannya, 'kan?"

Mereka berdua diam sampai makanan datang. Hinata membiarkan Gaara memanggang semua daging sesuai seleranya. Hinata memakan apa yang diberikan olehnya. Mungkin karena sudah lama tidak makan daging, atau mungkin karena restoran itu adalah salah satu restoran BBQ terbaik di Tokyo, Hinata merasa makanan tersebut adalah makanan terenak yang pernah ia makan sejak lahir. Selama sesaat ia pun lupa kenyataan bahwa ia tidak perlu membayar untuk makanan tersebut.

Setelah makan, mood Gaara rupanya jauh lebih baik. Ia tidak lagi mengernyit atau terlihat marah. Mungkin dari tadi suasana hatinya yang jelek karena ia lapar, pikir Hinata.

"A-aku akan membayarnya segera setelah aku punya penghasilan," guman Hinata dari mulut teh ginsengnya.

"Terserah kau saja," kata Gaara sambil mengunyah.

Setelah makanan mereka habis, Gaara langsung membayar ke kasir dan mengajak Hinata keluar. "K-kenapa terburu-buru?"

"Kenapa kita harus berlama-lama di sana?" balas Gaara.

Mereka berjalan-jalan tanpa tujuan di daerah Shibuya selama beberapa saat. Gaara berjalan di depan, sementara Hinata mengikuti dari belakang. Itu adalah pertama kalinya Hinata pernah berjalan-jalan di pusat perbelanjaan Shibuya. Sejak ia datang ke Tokyo hingga sekarang, ia sama sekali tidak pernah keluar dari Distrik Konohagakure, karena semua keperluannya bisa ia dapatkan di situ. Ia sering mendengar dari pembicaraan teman-temannya di Konohagakure bagaimana akhir pekan mereka sering mereka habiskan dengan berbelanja di Shinjuku, atau menghabiskan waktu dengan bergosip di kafe-kafe mewah di Omotesando. Bagi Hinata dunia seperti itu hanya ada dalam bayangannya.

Namun sekarang ia sedang berjalan di dalam bayangan tersebut.

Dan ternyata Shibuya jauh lebih ramai dibandingkan bayangannya.

Sebuah toko pakaian menarik perhatian Hinata. Dari etalase-nya Hinata melihat manekin yang dipajang dengan fashion terkini di musim gugur. Pakaian yang berwarna-warni, mantel beludru dengan bahan yang bahkan belum pernah Hinata sentuh sebelumnya, tas-tas model trendi, serta sepatu-sepatu yang indah. Hinata berhenti di depannya untuk mengagumi keindahannya. Ia tahu ia mungkin harus menabung selama sepuluh tahun untuk mampu membeli selendang bermotif seperti itu. Namun ia tidak bisa mencegah diri untuk tidak membayangkan dirinya mengenakan pakaian tersebut.

Hanyut dalam fantasinya, Hinata bahkan tak menyadari Gaara yang berdiri di belakangnya. "Kenapa wajahmu sepert itu?" katanya membuyarkan lamunan Hinata.

"S-seperti apa?" tanya Hinata dengan wajah merah.

Gaara tidak menjawab. Dia malah balik bertanya, "Kau mau pakaian itu?" Ia mengedikkan kepalanya ke arah setelah yang dikagumi Hinata dari tadi.

Gadis itu menggeleng. "Tidak. Aku..aku hanya suka melihatnya saja. I-itu tidak akan cocok untukku." Ia berjalan lagi, dan kali ini Gaara berjalan di sampingnya.

"Kenapa?"

"Aku lebih cocok dengan kaos dan celana jins," gumam Hinata. "Yang seperti itu...mungkin lebih cocok untuk gadis-gadis di sekolahku yang lain." Ya, untuk gadis-gadis seperti Sakura Haruno.

Gaara mendengus. "Mereka kadang terlihat seperti badut, kau tahu?"

"A-apa? Seperti badut?"

Gaara mengangguk. "Dengan pakaian berwarna-warni, mantel warna-warni, syal warna-warni, kau akan berpikir ini karnival atau apa? Dan dengan semua make-up itu." Ia memutar matanya.

Hinata tersenyum, lalu tertawa kecil. "Mungkin...perempuan melakukan itu bukan untuk memamerkan kefiminiman mereka, atau memamerkan kekayaan mereka. Terkadang, mungkin mereka melakukannya agar mereka merasa cantik."

"Pakaian dan make-up tidak mendefinisikan diri seseorang, Hyuuga."

Hinata berhenti, dan melihat ke arah Gaara, "Lalu apa yang mendefinisikan seseorang, Gaara?"

Dengan pandangan yang intens, Gaara menjawab, "Apa yang orang tersebut pikirkan tentang mereka sendiri," kemudian ia berjalan di depan lagi, membiarkan Hinata mengikutinya dari belakang.


Mereka sampai di Starbucks. Karena tidak ingin memesan, Hinata langsung mencari tempat duduk dan menunggu Gaara yang mengantri untuk mengorder minumannya. Namun ketika lelaki itu akhirnya menghampirinya, dia membawa dua cup di tangannya dan menyodorkan salah satunya pada Hinata.

"A-aku sudah berutang cukup banyak padamu hari ini, Gaara. Aku bahkan tidak haus."

"Ini gratis. Sedang ada promo beli satu gratis satu," kata Gaara acuh sambil tetap meletakkan cup Hinata di depannya. "Lagipula memangnya alasan minum satu-satunya hanya karena haus?"

Hinata mengernyit tidak mengerti. Ia membuka tutup cup di hadapannya, membuatnya menghirup aroma cokelat yang lezat. "I-ini...hot chocolate?"

Gaara mengangguk. "Kalau kau tidak mau meminumnya, aku akan membuangnya."

Tentu saja Gaara mengatakan itu karena tahu Hinata adalah kaum yang sangat anti membuang-buang makanan.

Dan itu adalah cokelat terbaik yang pernah Hinata minum seumur hidupnya.

"Enak?" tanya Gaara pada Hinata yang sedang menghabiskan minumannya sepenuh hati.

Seperti tertangkap basah di tengah-tengah kerakusannya, Hinata dengan wajah memerah hanya bisa menjawab dengan malu-malu, "Sangat enak. Terima kasih."

"Sekarang, ceritakan padaku apa yang terjadi padamu seminggu ini."

Kemudian Hinata tiba-tiba terkesiap. "A-aku lupa! Aku harus melanjutkan PR-ku!"

Gaara tampak kesal. "Maksudmu PR orang lain yang kau kerjakan?"

Hinata mengeluarkan kertas-kertas serta bukunya dari dalam tasnya. "Kau tidak keberatan 'kan kalau aku mengerjakan ini di sini?"

"Aku keberatan."

Wajah Hinata langsung memelas. "Kenapa?"

"Kau sedang di sini bersamaku, dan kenapa kau mau mengerjakan ini? Ini bahkan bukan PR-mu!" Gaara menatap jijik pada kertas-kertas di hadapan Hinata. "Kenapa kau tak mengerjakannya di apartemenmu saja?"

Hinata tidak berani menatap Gaara saat menjawab dengan gugup, "Umm...a-aku butuh wi-fi..."

"Kau bahkan tidak pakai komputer atau laptop." Dan sebelum Hinata bisa menyembunyikan ponsel jadulnya, Gaara langsung menambahkan, "Dan kau tidak pakai smartphone!"

"Haruskah kau melukai ego-ku seperti itu?" tanya Hinata lemah.

"Ya, karena kau sedang tidak jujur padaku." Kemudian ia menambahkan dengan suara lebih pelan, "Kenapa kau tidak jujur saja?"

Hinata menghela napas kemudian mengemas kembali buku dan kertas-kertasnya. "Kau benar. A-aku lebih baik mengerjakan ini di apartemen. Ini sudah malam, Gaara. Kau sebaiknya juga pulang."

Gaara menatapnya dengan curiga. "Sekarang kau kabur dariku."

"A-Aku hanya mengikuti saranmu!"

"Aku tidak menyarankanmu supaya pulang! Aku hanya ingin duduk di sini bersamamu, berbicara, mendengarkanmu bicara, tanpa kertas-kertas terkutuk itu!" Meskipun Gaara berteriak padanya, namun Hinata tidak bisa mencegah wajahnya memerah. Mungkin lelaki itu tidak sadar, namun Hinata merasa senang mendengarnya berkata ia berada di situ karena ingin berbicara dan mendengarnya berbicara.

Gaara mengatur napasnya selama beberapa saat, kemudian melanjutkan. "Tapi kalau kau lebih memilih berbicara di apartemenmu, baiklah. Ayo!" Dengan membawa cup-nya, Gaara berdiri kemudian keluar.

Hinata mengejarnya. "A-apa? Gaara, tunggu! Kita mau kemana?

"Ke rumahmu," jawab Gaara tanpa menoleh ke arah Hinata.

"A-apa? Aku bisa pulang sendiri! Kau...kau pulang saja."

"Tidak."

Dengan kekeraskepalaannya, Gaara kembali menyeret Hinata menuju motornya untuk mengantarnya pulang.


Ketika pertama kali berkunjung ke apartemen Hinata, yaitu sore dimana badai mengamuk, lampu-lampu di koridor apartemen tersebut belum menyala sehingga Gaara tidak begitu melihat jelas kondisinya. Namun malam itu, ketika semua lampu menyala, Gaara sadar bahwa ada beberapa lampu yang memang tidak menyala. Cat-cat dinding yang mengelupas dan menampakkan plester, sarang laba-laba di langit-langit, dan bau pengap serta apak itu membuat Gaara bertanya-tanya bagaimana Hinata bisa bertahan hidup di situ setiap hari.

Sebenarnya Hinata tidak mengundangnya untuk naik, namun Gaara tidak menunggu sampai dia diundang.

Gadis itu berjalan seperti tikus di depannya. Sangat cepat dan dengan punggung membungkuk, seolah-olah dengan begitu Gaara akan kehilangan jejaknya dan meninggalkannya. Gaara tidak mengerti mengapa gadis itu begitu ingin berpisah dengannya. Padahal minggu lalu dia-lah yang repot-repot menemui Gaara di stadion dan membawakannya lemon madu serta biji bunga matahari. Karena itu adalah kali pertama seseorang melakukan itu padanya, Gaara pun tidak tahu harus bereaksi seperti apa, kecuali merasa senang.

Gaara senang dengan perhatian yang Hinata berikan padanya.

Dan ia menginginkannya lagi.

Namun sekarang malah ia yang mengikuti gadis itu kemana-mana dan terus bertanya-tanya mengapa ia sekarang bersikap menjauh. Dan Gaara bertekad akan menemukan jawabannya.

Ketika mereka sampai di depan pintu Hinata, gadis itu bergumam sambil mencari kunci apartemennya, "Lebih baik kamu pulang saja. Ini sudah malam."

"Ini masih pukul delapan."

"Sudah pukul delapan."

"Jangan jadi orang yang pesimis."

"A-Aku bukan pesimis, aku hanya menyatakan fakta." Ia menemukan kuncinya kemudian membuka pintu kamarnya. Ia tidak mempersilahkan Gaara masuk, namun hanya membuka pintunya lebar-lebar dan membiarkan lelaki itu masuk.

Gaara mengernyit melihat Hinata yang dengan lihainya mencopot sepatunya kemudian bergerak kesana-kemari di dalam kegelapan. Dengan cahaya dari koridor, Gaara melepas sepatunya, kemudian saat hendak masuk lebih dalam, Gaara tak bisa melihat apa-apa. "Kenapa kau tidak menyalakan lampunya?" tanya Gaara gusar.

Seperti hantu, mendadak Hinata muncul di hadapannya. "M-makanya kubilang kau pulang saja," bisiknya.

Ia kemudian meninggalkan Gaara lagi untuk menyalakan sebatang lilin. Cahaya dari satu lilin itu tidak cukup untuk menerangi seluruh ruangan tersebut. Namun cukup bagi Gaara untuk melihat kakinya sendiri.

Setelah meletakkan lilin di meja, Hinata kemudian bergerak untuk menutup pintu di belakang Gaara dan membereskan sepatu lelaki itu. "Kau bisa duduk dimana saja," kata gadis itu seperti kunjungan Gaara sebelumnya. Pemuda itu pun duduk di dekat meja. Padahal belum sampai semenit ia berada di ruangan itu namun ia sudah sangat kepanasan dan akhirnya melepas jaket kulitnya. Bila koridor apartemennya tadi pengap, bagian dalam apartemen itu dua kali lipat lebih pengap. Gaara tidak bisa membayangkan bagaimana cara Hinata tidur di ruangan sepanas ini.

Namun si gadis pemilik kamar nampaknya sudah biasa dengan suhu tersebut. Dengan lincah ia mengambil gelas di dapur dan menuangkan air, sebelum memberikannya pada tamunya. "Maaf aku hanya punya ini."

Gaara hanya terpana saat menerima gelas tersebut dan melihat wajah Hinata yang berbayang akibat cahaya lilin. "Kenapa kau tidak bilang padaku?" gumamnya.

"Bilang apa?"

Gaara tidak bisa menahan emosinya dan berteriak. "Kalau mereka memutus listrikmu!"

Hinata tersentak kaget dan mundur.

"Maaf," gumam Gaara lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sekarang Gaara mengerti mengapa gadis itu sangat bersikeras mengerjakan semua sampah itu di perpustakaan sekolahnya sampai larut, dan bukannya di rumahnya. Dia bahkan tidak punya lampu! "Ya Tuhan. Aku tidak percaya ini."

"Apa?" tanya Hinata pelan.

"Ini...yang terjadi padamu."

"Ini adalah kenyataan, Gaara," ujar Hinata dengan suara menenangkan. Dengan takut-takut ia meletakkan tangannya di bahu Gaara. Pemuda itu tak menyingkirkannya.

"Bagaimana bisa?"

Hinata menarik tangannya. Gaara juga menurunkan tangannya dan menatap gadis itu saat ia akhirnya mulai berbicara. "Sebelumnya kau harus tahu kalau beasiswaku di Konohagakure tidak mencakup kegiatan ekstrakurikuler...atau buku-buku yang kugunakan. Namun karena mengerti kondisi keuanganku, sekolah terkadang membiarkanku menunggak. Namun aku tetap harus membayarnya. Kemudian pada hari dimana aku pulang dari pertandinganmu minggu lalu, sebuah surat datang dari sekolah. Isinya bilang bahwa untuk meningkatkan kualitas sekolah, mereka akan menaikkan iuran bulanan serta biaya-biaya lain, yang ternyata sudah efektif sejak bulan lalu. Meskipun aku program beasiswa, namun beasiswaku tak menutupi kenaikan iuran tersebut. Oleh karena itu, s-sekolah meminta persetujuanku untuk membayar iuran bulan lalu...dan bulan ini. Selain itu, karena aku menunggak biaya ekstrakurikuler selama lima bulan, aku juga harus membayar itu. Setelah membayar utang ayahku, hampir tidak ada lagi yang tersisa untuk membayar tagihan-tagihan lain."

"Utang...ayahmu?"

Hinata mengangguk. "Warisan ayahku tidak hanya dalam bentuk uang, namun juga dalam bentuk utang. Rupanya dulu ayah pernah meminjam uang dalam jumlah tidak sedikit untuk memulai sebuah bisnis yang buruk. Dengan bunganya, aku harus bekerja keras untuk mengembalikannya." Gadis itu menarik napas, kemudian mendadak suaranya pecah, "Kau tahu, kadang aku berharap pada hari gempa itu aku juga ada di rumah sehingga aku tidak perlu menanggung semua ini. Ini...ini terlalu berat. Aku tidak ingin menyesali keputusanku masuk Konohagakure. Kau tahu betapa besar kemungkinanku untuk masuk Todai dengan ijazah dari Konohagakure. Namun kadang aku rasanya ingin mencekik diriku sendiri," Ia melakukan gerakan mencekik dirinya dengan tangannya sendiri, "Belum lagi cicilan apartemen ini..."

"Cicilannya belum selesai?"

Hinata menggeleng. "Tidak mudah punya rumah di Tokyo, Gaara." Ia menghela napas. "Ini lah yang membuatku belum bisa pindah ke rumahmu. Tidak akan ada orang yang mau menyewa tempat ini sebelum aku menyelesaikan tagihan listriknya. Kemudian aku tahu bahwa beberapa anak di Konohagakure yang...mengalami sedikit kesulitan dengan PR mereka dan bersedia membayar banyak untuk mereka yang mau mengerjakannya. Jadi aku mulai melakukannya...setidaknya untuk menutupi tagihan ini dulu. Kemudian setelah itu aku pindah ke tempatmu dan baru aku bisa menyelesaikan semuanya satu persatu."

Gadis itu terdiam setelah menyelesaikan ceritanya. Kemudian mendadak ia menangis. Gaara tidak ingat kapan terakhir kali ia berhadapan dengan gadis yang menangis, sama seperti ia tidak ingat apa yang harus ia lakukan jika berhadapan dengan gadis yang menangis. Oleh karena itu ia hanya menunggu di sana. Namun karena isakan Hinata tak kunjung berhenti, dengan takut-takut ia pun mendekat. Begitu jarinya menyentuh bahu gadis itu, secara otomatis Hinata langsung menghambur ke Gaara dan menangis di dadanya.

Gaara tidak tahu harus meletakkan tangannya dimana, namun akhirnya memutuskan untuk meletakkannya di bahu Hinata dan membiarkan gadis itu menangisi bagian depan kaosnya.

Setelah beberapa saat, Gaara bisa merasa tangisan Hinata mereda. Gadis itu kemudian menegakkan tubuhnya, ia nampak malu karena perbuataannya sendiri, lalu sambil mengusap wajahnya dengan lengan seragamnya, ia meminta maaf dengan terbata-bata. "A-aku tidak seharusnya begitu...m-maaf...hanya saja, k-kau orang pertama yang mendengar semua ini. A-aku sebenarnya merasa lebih lega setelah menceritakan ini. T-terima kasih."

Gaara tidak menjawab. Sampai akhirnya perlahan-lahan ia berkata, "Hyuuga, kau tahu kalau soal uang...aku punya banyak."

Hinata yang masih terisak menatap Gaara dengan pandangan bingung. "Umm...iya."

Gaara menaikkan sebelah alisnya, namun Hinata masih tidak menangkap maksudnya.

"Umm..l-lalu?"

"Lalu aku tidak melihat masalahmu."

Setelah itu, Hinata pun langsung paham. "T-tidak. Tidak bisa. A-aku tidak bisa membuatmu..."

"Tapi aku mau! Aku punya uang lebih banyak daripada yang bisa aku habiskan seumur hidupku. Kau disini jauh lebih membutuhkannya dibandingkan aku!"

"Tidak, Gaara. Aku menceritakan semua ini padamu bukan untuk mendapat belas kasihan darimu. Aku menceritakan ini padamu karena kupikir kita...kita...teman...dan kuharap kau memahami kondisiku dan tidak memaksaku untuk..."

"Aku memahami kondisimu dan aku ingin menolongmu!"

"Tapi..."

"Dengarkan aku." Gaara mengangkat tangannya ketika Hinata hendak berdebat lagi, "Dengarkan aku dulu!" bentaknya hingga Hinata akhirnya mengangguk. "Aku tidak akan memberikanmu uangku cuma-cuma. Aku akan memberimu pinjaman untuk melunasi utang ayahmu dan semua tagihan-tagihan yang belum kau bayar. Kau akan mengembalikannya sambil bekerja padaku. Bukankah itu perjanjian kita di awal? Kau bekerja untukku dan aku menggajimu lebih tinggi dari yang dibayar Paman Ichiraku? Anggap saja aku memotong gajimu setiap bulan, sisanya dapat kau gunakan untuk membiayai sekolahmu. Dan kalau kau bisa mendapatkan orang untuk menyewa kamar ini, kau bisa mencicil apartemen ini dengan uang dari situ 'kan?"

Gaara tahu itu adalah ide yang bagus. Hinata juga tahu itu. Namun di matanya masih terdapat keragu-raguan. Seolah-olah solusi tersebut terlalu bagus untuk jadi kenyataan.

"T-Tapi jumlahnya besar sekali, Gaara." Hinata menggeleng. "A-Aku mungkin harus bekerja untukmu seumur hidupku untuk membayarnya kembali."

"Aku tidak keberatan."

"Aku keberatan."

Gaara menghela napas. "Kau tahu bahwa aku adalah satu-satnya jalan keluarmu, 'kan?"

Hinata membuang wajahnya lalu bergumam, "Jangan menyanjung dirimu."

Gaara juga memalingkan wajahnya dari Hinata. Ruangan itu benar-benar sangat panas. Gaara pun meminum air yang diberikan Hinata padanya, berharap bisa mendinginkan tubuhnya, namun air tersebut ternyata sama panasnya. "Hyuuga," panggil Gaara.

Namun gadis itu tidak menoleh. Gaara memanggilnya sekali lagi.

"Apa?" sahut Hinata akhirnya.

"Lihat aku."

Hinata pun menoleh. "Aku tidak ingin kau tinggal disini." Kalimat itu membuat Hinata tersentak. "Ruangan ini sangat panas kau bisa mati sesak di dalamnya. Dindingmu sangat tipis dan aku yakin tetanggamu yang menyebalkan itu pasti mendengar setiap kata pembicaraan kita. Dan gang yang harus kau lalui untuk masuk kesini? Itu sangat berbahaya apalagi kalau kau pulang sendirian malam-malam. Aku hanya ingin menolongmu. Jadi, pindahlah ke rumahku."

Gaara memandangnya dengan serius, dan Hinata bisa melihat dari matanya bahwa lelaki itu tidak bermaksud menjelek-jelekkan tempat tinggalnya. Ia hanya mengungkapkan fakta yang ada. Dan sejujurnya...

Sejujurnya...

...Hinata juga sangat ingin menerima tawaran tersebut.

Ia sudah lelah dengan semua ini. Ia tahu bahwa dengan membiarkan Gaara membayar semua utangnya hanya membuatnya berganti kreditur dan tidak menghapus utangnya. Namun ia lelah dengan teror berkepanjangan dari debt collector apabila ia terlambat membayar utangnya seminggu saja. Kemudian belum pandangan sinis serta mencibir dari teman-temannya di sekolah yang melihatnya mengerjakan PR mereka demi uang. Seolah-olah ia mengkonfirmasi semua pendapat-pendapat mereka bahwa ia tidak pantas berada di sekolah itu. Dan sejujurnya...sejujurnya...ia juga lelah harus pulang ke apartemen yang gelap.

Mungkin sekali ini saja...ia akan membiarkan seseorang menolongnya.

"Kalau kau membantu Matsuri bersih-bersih dan membantuku di taman, aku akan membayarmu tiga kali lipat."

Kedua mata Hinata nyaris loncat keluar. "T-tiga kali? T-tidakkah itu terlalu banyak?"

"Asal kau mengerjakan tiga pekerjaan. Kurasa itu cukup adil."

Hinata menggigit bibir bawahnya, kemudian ia terdiam cukup lama sampai akhirnya ia berkata, "Kau tidak akan membiarkanku berkata tidak, 'kan?"

Kemudian, untuk pertama kalinya hari itu Gaara pun akhirnya menyeringai.


Author's Note: Terima kasih sudah membaca cerita ini dan memberi support kalian, teman-teman! Maaf kalau updatenya agak lama, karena saya sebenarnya sedang agak sibuk dan kurang sehat. Dan maaf kalau belum bisa membalas review-review indah dari kalian satu persatu. Sampai jumpa di chapter depan!

Love,

harlotkiss