Disclaimer: Applied


Chapter 8

Honey Milk

Karena mendapat tutor-nya sendiri untuk kelas programming, Sasuke pikir nilainya sudah aman. Namun sayang, Miss Toshiba rupanya masih belum mengubah nilainya mengingat catatan absensinya yang kosong. Dengan setengah hati, sang striker tim sepak bola Konohagakure pun menyeret langkahnya menuju kelas terakhirnya pada hari itu.

Awalnya ia mengambil mata pelajaran programming karena kelas tersebut kedengarannya keren dan mungkin akan membuatnya tertarik. Namun pada hari pertamanya ia sadar bahwa kelas programming ternyata 99% dihuni oleh populasi terpintar di Konohagakure; 1% sisanya adalah Sasuke Uchiha sendiri, yang keberadaannya bisa dikatakan merupakan sebuah anomali.

Ia masuk ke kelas dan mengambil bangku terdekat dengan jendela agar bisa melihat ke bangunan gothik perpustakaan yang megah bila matanya terlalu lelah menatap komputer. Setelah menyalakan PC-nya, Sasuke mengeluarkan iPod dan earphones. Hanya di kelas ini saja lah Sasuke memilih untuk duduk sendiri, karena semua orang yang ia kenal lebih memilih kelas seni, yang ternyata nilainya lebih gampang.

Ketika sedang tenggelam dalam musiknya, dari ekor matanya ia menangkap sosok perempuan dengan baju kebesaran masuk ke kelas. Perempuan berambut panjang itu berjalan menunduk dan cepat-cepat mengambil bangkunya yang terletak di pojok pada sisi seberang dari tempat Sasuke duduk. Ketika gadis itu menyalakan komputernya, ia menyelipkan rambut panjangnya di belakang telinganya sehingga Sasuke dapat melihat profil samping wajahnya.

Hinatadecoco.

Sasuke menyeringai, kemudian bangkit dari bangkunya, mengambil tasnya, dan bergegas menuju komputer di samping si natadecoco. Tak peduli bahwa PC-nya sudah dan masih menyala.

Gadis itu mengamati Sasuke meninggalkan bangku, kedua matanya perlahan-lahan melebar saat melihat lelaki itu berjalan ke arahnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dengan bingung saat Sasuke menempati komputer di sebelahnya.

"Umm, i-ini adalah bangku yang biasa ditempati Koizumi-san." Suara gadis itu agak kencang karena ia pikir Sasuke mendengarkan sesuatu di earphones-nya. Lelaki itu hanya menyeringai kemudian mencabut earphones-nya.

"Koizumi-san bisa duduk dimana saja. Komputernya lebih banyak dari jumlah kita, 'kan?"

Wajah gadis itu memerah, dan ia kembali menatap layar komputernya lagi. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain dan ia terlihat sangat gugup. "Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke.

Sasuke bukan orang yang sombong, namun ia sangat menyadari penampilan fisiknya serta bagaimana reaksi kaum perempuan di sekitarnya. Dengan tubuh atletis hasil rutinitas olahraga-nya sejak SMP, rambut gelap, dan hidung mancung, ia tahu bahwa jumlah perempuan yang tidak menyukai keberadaannya bisa dihitung dengan jari dan bahkan mungkin tidak ada. Ia tidak suka memanfaatkan penampilan fisiknya, namun ia harus mengaku bahwa ketampanannya adalah sebuah bonus yang membuatnya lebih mudah untuk bersosialisasi, terutama dengan perempuan. Ia senang bahwa penampilannya ternyata masih berefek pada orang sepemalu si natadecoco.

"A-aku baik-baik saja," jawab gadis itu dengan senyum malu-malu.

Sasuke kemudian mencoba untuk berbasa-basi, "Bagaimana kabarmu?" tanyanya sopan.

Hinata nampak terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Dia punya banyak alasan untuk kaget, karena tidak setiap hari seorang bintang sepak bola yang menempati lingkaran paling populer di Konohagakure mengajaknya berbicara di kelas programming. Dengan terbata-bata ia akhirnya menjawab, "B-baik. Bagaimana denganmu, U-Uchiha-san?"

Kecuali staf pengajar, ia sudah hampir tak pernah lagi mendengar orang memanggilnya dengan nama keluarganya. Karena ia sangat terkenal, serta berusaha mempertahankan reputasi sebagai sahabat semua orang, yang menurut Naruto baik untuk imejnya, Sasuke pun membiarkan semua orang yang mengenalnya memanggilnya dengan nama depan-nya. "Tolong, jangan panggil aku dengan nama keluargaku," katanya. "Kita ini seumuran. Kau bisa memanggilku Sasuke. Boleh aku memanggilmu Hinata?"

Wajah gadis itu makin memerah saat ia mengangguk dalam diam.

"Untuk menjawab pertanyaanmu, aku baik-baik saja. Agak sedikit lelah dengan semua persiapan Emperor Cup. Apa kau akan datang ke pertandingan minggu depan?"

Hinata menggigit bibir bawahnya yang berwarna pink hingga membuat perhatian Sasuke teralih ke sana. Ia sadar bahwa gadis itu tidak menggunakan lipstick atau berbagai macam jenis pemulas bibir lainnya, tidak seperti gadis-gadis lain. "M-mungkin tidak. A-aku harus kerja," jawabnya.

"Oh, sayang sekali. Padahal kita sudah masuk semi final. Mungkin ini akan sangat seru. Kalau kau ada waktu datang saja."

"T-tentu saja!" jawabnya cepat sambil mengangguk dengan semangat. "T-terima kasih sudah mengundangku. A-aku akan berusaha untuk datang, kalau bisa," katanya dengan suara yang seolah-olah berusaha meyakinkan Sasuke bahwa ia akan sangat berusaha untuk datang. Sebuah reaksi yang makin meninggikan ego lelaki itu.

"Ngomong-ngomong bagaimana pekerjaanmu? Apa kau mendapat masalah gara-gara kejadian waktu itu?"

Wajah Hinata mendadak berubah bingung. "K-kejadian kapan?" tanyanya.

"Yang di kedai ramen dengan Gaara Sabaku," ia mengingatkan.

Entah mengapa gadis itu terlihat makin gugup saat mendengar nama Sabaku. Namun ia kemudian menjawab, "Oh, a-aku baik-baik saja. S-setelah itu G-Gaara meminta maaf pada Paman Ichiraku dan pulang."

Jawabannya membuat Sasuke tertarik. "Dia membiarkanmu memanggilnya dengan nama depannya, ya?"

Dan gadis itu langsung gelagapan. "I-itu tidak seperti yang kau pikirkan, Sasuke-san. K-kami hanya...kenalan. Dan...dan ketika berkenalan pertama kali, dia tidak menyebutkan nama keluarganya. Jadi―"

"Well, sekarang kau tahu. Kau sudah lama kenalnya? Dimana kau kenal dengannya?"

Sasuke ingat kalau Naruto bertanya hal yang sama waktu itu di kedai ramen tepat sebelum Gaara menginterupsi mereka dan insiden tersebut terjadi. Sekarang interupsi itu datang dalam bentuk Miss Toshiba yang masuk ke kelas dan Hinata pun serta merta langsung mencurahkan seluruh perhatiannya ke depan, dan berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Sasuke.

"Aku belum selesai denganmu, Hinata," kata Sasuke yang perhatiannya sama sekali tidak teralih bahkan setelah Miss Toshiba memberi petunjuk apa yang harus mereka lakukan hari itu.

Hinata menoleh ke arahnya. Napasnya tercekat ketika Sasuke menyentuh lengannya. "T-tolong, Sasuke-san. Nanti saja. A-ada beberapa coding yang harus kita selesaikan hari ini," kata Hinata.

Gadis itu benar, dan bagi Sasuke Uchiha itu adalah pertama kalinya ada seorang gadis yang meminta agar menunda pembicaraan dengannya. Bagi si pangeran lapangan Konohagakure, hal tersebut seharusnya melukai ego-nya. Namun entah mengapa hal itu malah membuat ia makin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi antara Gaara Sabaku dan gadis ini.


Sasuke tidak mencapai prestasinya dalam sepak bola seperti sekarang dengan gampang menyerah, dan itu-lah yang ditunjukkan oleh lelaki tersebut saat itu; menunjukkan kegigihannya dalam mengungkap fakta di balik hubungannya dengan Gaara.

Hari itu adalah hari yang indah bagi Hinata. Ia naik kereta tepat waktu, tidak terlambat, mendapatkan 100 di kuis matematika, menyelesaikan semua percobaan Kimia-nya dengan mulus, makan siang dengan ditemani sebuah novel klasik yang bagus, dan diajak berbicara oleh seorang Sasuke Uchiha.

Hari itu bisa dibilang semua imajinasi remaja-nya baru saja menjadi kenyataan. Namun tentu saja Sasuke Uchiha tidak mungkin mengajaknya berbicara tanpa alasan tertentu. Dan tentu saja Sasuke cuman mau mengajaknya berbicara karena penasaran tentang rival sepak bola-nya yang misterius, yang kebetulan sekarang adalah majikan baru Hinata.

Namun ia tentu saja tidak akan mengungkapkan fakta tersebut pada Sasuke.

Sepanjang kelas, Sasuke juga menunjukkan kemampuan dalam komputer yang sangat bertolak belakang dengan kemahirannya di lapangan. Dari sesi tutoring-nya dengan Sasuke, Hinata sudah mengetahui hal ini. Ia sangat tergoda untuk bertanya pada lelaki itu apa yang membuatnya mengambil kelas tersebut kalau dia sama sekali tidak tertarik dengan komputer atau coding. Kemudian karena melihat mereka duduk bersebelahan, Miss Toshiba pun menginstruksikan Hinata agar menolong Sasuke dengan coding-nya, yang tentu saja dilakukan Hinata dengan senang hati apabila lelaki itu tidak menatapnya dengan pandangan yang seolah ingin membelah tengkoraknya dan menemukan semua jawaban yang membuatnya sangat penasaran tentang Gaara Sabaku.

Saat Hinata sedang memberitahunya petunjuk-petunjuk untuk coding, Sasuke tiba-tiba malah bertanya, "Apa kau waktu itu menolak pernyataan cinta Gaara Sabaku?"

Pertanyaan tersebut membuat jari-jari Hinata terpeleset di keyboard komputer Sasuke, dan membuat lelaki itu terkekeh. "A-apa yang kau bicarakan? T-tentu saja tidak."

"Kenapa tidak? Aku dengar kau bilang padanya kalau kau tidak bisa bersamanya."

Hinata terkesiap. Tentu saja ia ingat apa yang ia sendiri katakan. Namun ia tidak menyangka saat itu Sasuke masih dalam jangkauan pendengaran. Ia pikir Sasuke dan Naruto sudah pulang. "I-itu tentang hal lain, bukan tentang pacaran," jawab Hinata jujur. "T-tidak mungkin Gaara menyatakan cinta padaku," Ia lalu berusaha tertawa untuk membuatnya tidak terdengar terlalu menyedihkan, namun justru malah membuatnya terlihat makin menyedihkan.

Bagaimana mungkin majikan bisa jatuh cinta pada pelayan-nya, terutama pelayan yang punya utang hampir satu juta yen padanya?

"Kenapa tidak?" tanya Sasuke lagi, pandangannya tak meninggalkan Hinata.

Gadis itu balas menatapnya, lalu dengan nada bercanda berkata, "L-lihat saja aku."

"Ya, aku melihatmu."

Kalimat tersebut membuat Hinata tertegun dan selama sesaat lupa pada apa yang sedang ia kerjakan. Pandangan lelaki itu yang intens dan serius membuatnya seolah-olah dihipnotis dan enggan untuk berpaling. Namun sebuah suara dalam dirinya mendadak bertanya, suara yang selalu Hinata anggap sebagai suara rasional yang selalu mempertanyakan hal-hal yang logis dalam nuraninya, yang kali ini mempertanyakan tindakan Sasuke.

Benarkah? Apa yang dilihatnya?

Dan itulah yang terlontar dari mulutnya sedetik kemudian.

"A-Apa...yang kau lihat?"

Masih tidak mengurangi intensitas pandangannya, Sasuke menjawab, "Gadis yang bisa mempertahankan dirinya dari orang seperti Gaara Sabaku," Sasuke kemudian menyeringai. "Kau benar-benar menarik, Hinata. Benar-benar menarik."

Hinata merasa jantungnya berhenti selama sesaat, sebelum berdentum-dentum kencang. Bagi seorang Hinata Hyuuga, yang jarang mendapat perhatian atau pujian dari lawan jenis, kalimat tersebut adalah kalimat terindah yang pernah ia dengar. Saking senangnya, Hinata nyaris tidak mendengar pertanyaan Sasuke selanjutnya.

"...apakah itu benar?" tanyanya.

"M-maaf, apa?" tanya Hinata yang baru keluar dari fantasinya.

"Tadi pas makan siang ada yang bilang kalau ada yang melihatmu minggu lalu bermesraan dengan pengendara motor di depan sekolah dengan seseorang yang mirip Sabaku. Apakah itu benar?" ulang Sasuke lagi.

"A-a-apa? K-kapan? T-tidak!" Reaksi jijik Hinata nampaknya cukup meyakinkan Sasuke bahwa rumor tersebut memang hanya rumor. Dan itu memang hanya rumor. Ya, dia memang berbicara dengan Gaara Sabaku minggu lalu. Tapi orang gila mana yang menyangka kalau mereka bermesraan?!

Sejauh ini Hinata memang merasa sakit hati dengan rumor-rumor jahat yang menjelek-jelekkan kondisi finansialnya. Namun rumor yang kali ini membuatnya marah.

Sasuke hanya mengangkat bahu. "Kau tahu bagaimana gosip menyebar di sekolah ini, 'kan? Kudengar Lee bertemu dengan seorang pria berambut merah yang bertanya tentangmu. Katanya dia mirip Sabaku. Dan ada yang bilang kau bermesraan dengannya di depan sekolah. Kita bahkan tidak tahu lagi harus mendengarkan yang mana."

Hinata terlihat ngeri. Gaara membuatnya menempel pada lelaki itu, ya. Tapi mana mungkin ia dengan mudahnya mau bermesraan dengan lelaki itu, apalagi di tempat umum seperti sekolah!

"K-kuharap kau tidak sering mendengar rumor-rumor seperti itu, Sasuke-san."

"Terkadang mereka benar, tapi harus kuakui sering juga salah." Sasuke mengangkat bahu. "Kupikir juga yang itu pasti tidak mungkin, maksudku bagaimana mungkin kau bermesraan dengan Sabaku? Dia tidak terlihat seperti orang yang mau bermesraan di tempat umum."

Memangnya kenapa tidak mungkin? Tanya Hinata dalam hati. Namun ia tahu Sasuke pasti tidak bermaksud jelek dengan pernyataannya itu. Dan ia benar, bagaimana mungkin Gaara mau bercumbu dengannya?

Mustahil.

Mendadak suara dehaman muncul dari belakang mereka. "Maaf mengganggu diskusi yang mengasyikkan ini, Uchiha-san dan Hyuuga-san. Namun kulihat kalian belum membuat progress apapun, tidak seperti yang lain. Apa kalian mengalami kesulitan? Apa instruksi saya kurang jelas, Hyuuga-san?"

Hinata terkesiap dan menoleh untuk menemukan Toshiba-sensei menganalisis pekerjaan di layar komputernya. Wajahnya memerah dan ia terlihat malu. "M-maafkan saya, sensei. S-saya barusan mencoba membimbing Uchiha-san."

Toshiba-sensei mengangkat sebelah alisnya ke arah Sasuke. "Iya, dia dari tadi membantuku. Maaf kalau aku terlalu bodoh untuk kelasmu," ujarnya dengan sarkartis.

Wanita itu mengernyit, nampak tidak senang dengan nada bicara Sasuke padanya. "Ini adalah kelas programming, namun kuharap kau tidak melupakan pelajaran dari kelas tata krama-mu di kelas ini, Uchiha-san," katanya sebelum berbalik untuk memeriksa progress murid-muridnya yang lain.

Hinata terkesima melihat bagaimana Sasuke yang bisa dibilang mengusir Miss Toshiba. Namun lelaki itu nampak tak peduli, seolah-olah itu adalah hal yang sudah biasa ia lakukan. Miss Toshiba memang bukan termasuk guru senior, namun ia tetap seorang guru. Dan sepanjang pengetahuan Hinata, semua guru harus dihormati.

"Kau mau mengajariku atau mau terus-terusan menatapku? Yang manapun aku sebenarnya tidak keberatan," kata Sasuke setelah beberapa saat.

Hinata terlonjak kaget ketika sadar bahwa ia dari tadi tak berhenti menatap Sasuke. "M-maaf," gumamnya.

Sasuke tidak berbasa-basi lagi dengannya sampai kelas tersebut berakhir.


Hari itu Hinata membuatkan risotto daging dan sup udang untuknya. Sebagai makanan pembuka, Gaara tentu saja menikmati potato chips dengan mayonaisse. Setelah itu, Matsuri bilang Hinata sudah menyiapkan sorbet jeruk untuknya di kulkas.

Sejak Hinata tinggal bersamanya, Gaara merasa nafsu makannya lebih meningkat. Ia tidak pernah memuji gadis itu secara langsung. Namun harusnya gadis itu sadar kalau dia sangat berbakat.

Gaara sedang menikmati sorbet jeruk-nya ketika salah satu perempuan yang paling ia benci di dunia masuk ke dapurnya.

Perempuan itu berambut pirang, pirang alami yang Gaara duga ia dapat dari ayah kandung-nya. Ia masih mengenakan seragam sekolah-nya, seragam yang baru sekarang Gaara sadar ternyata sama dengan milik Hinata, yang artinya perempuan itu satu sekolah dengan Hinata. Namun tidak seperti Hinata yang mengenakan sepatu butut-nya, gadis itu mengenakan sepatu hak tinggi. Tangannya yang dihiasi kuku-kuku bercat merah menggenggam sebuah tas tangan mahal yang Gaara tahu pasti dibeli dengan uang ayah tiri-nya.

Yaitu uang ayah-nya Gaara.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Ini hari Jumat." Gadis itu mendekati meja makan dan mengamati piring-piring di hadapan Gaara dengan ingin tahu. "Kau seharusnya tahu apa yang kulakukan di sini. Dan kenapa kau masih pakai baju tidur? Kau belum mandi?" Ia merengut jijik, "Menjijikkan sekali."

Gaara menggertakkan gigi, berusaha menahan dirinya agar tidak menusuk mata gadis itu dengan sendok di tangannya. "Aku habis olahraga. Dan akan latihan di klub sore nanti," jawab Gaara berbohong. Karena hari itu hari Jumat, maka latihan selalu ditiadakan agar para anggota klub bisa menikmati akhir pekan mereka. Namun perempuan itu tidak tahu.

Gadis itu mencari sendok dari konter, lalu kembali ke samping Gaara dan menyendok sorbet-nya.

"Apa yang kau lakukan, Shion?" tanya Gaara jengkel.

"Hmm, ini enak sekali. Siapa yang membuat ini?" Lalu ia menyeringai, "Bukan Matsuri pasti 'kan? Karena dia tidak bisa memasak." Shion menyendok sekali lagi, namun Gaara menepis sendoknya hingga jatuh ke lantai. Gadis itu mengernyit melihat tumpahan sorbet di lantai, namun dia tidak kaget.

"Sudah kubilang aku baru akan ke terapis setelah Emperor Cup selesai."

Shion menyipitkan mata, lalu menarik keluar selembar sapu tangan dari dalam tas tangannya untuk membersihkan bibirnya. "Asal kau tahu," katanya dengan nada penuh kebencian, "Kalau bukan karena ayah yang menyuruhku, aku tidak akan pernah mau berada di dekatmu, pecundang. Kau pikir aku mau mengasuh anak umur 18 tahun yang bahkan tak bisa mengurus dirinya sendiri?"

Gaara serta-merta berdiri, mengagetkan Shion hingga gadis itu mundur beberapa langkah. "Keluar dari rumahku sekarang juga," Gaara membentaknya.

"Kalau aku keluar dari pintu itu tanpamu, ayah akan tahu."

"Kau tidak bisa mengancamku menggunakan ayah-ku."

"Oh, aku sangat bisa, Sabaku. Kau pikir siapa yang meneleponku dan menyuruhku ke sini? Apa dia meneleponmu? Tidak! Kau pikir siapa yang dia suruh untuk menghubungi terapis baru untukmu? Kau? Tidak! Dia tidak percaya padamu karena kau orang gila."

Gaara berjalan ke arah Shion, namun gadis itu tetap berdiri di tempatnya. "Dia sedang sibuk, makanya dia menyuruhmu. Jangan pernah berpikir kalau dia punya perasaan apapun padamu. Dia hanya membiayaimu dan ibumu yang pelacur itu hanya supaya kalian tidak menjelek-jelekkan keluarga kami di luar sana."

Shion tiba-tiba tertawa. "Kau masih berpikir kalau ayah sibuk? Kau benar-benar percaya itu? Kau memang lebih sakit dari yang kukira! Ayah malu punya anak sepertimu! Kutanya sekali lagi padamu, apa ayah pernah meneleponmu? Facetime denganmu? Menghadiri pesta ulang tahunmu? Tidak! Aku lebih seperti anak kandungnya dibandingkan kau!"

Gaara merasa sesuatu meledak di dalam dirinya. "DIA TIDAK PERNAH JADI AYAHMU! TIDAK PERNAH DAN TIDAK AKAN PERNAH!" Gaara mendorong Shion hingga terjengkang dan menjerit. "KELUAR DARI SINI! KELUAR! JANGAN PERNAH KAU DATANG KE RUMAH IBUKU LAGI!" Gadis itu menangis namun cepat-cepat merangkak menjauhi saudara tiri-nya yang mengamuk. Setelah Shion keluar dari dapur, Gaara menangkup kepalanya di kedua tangannya dan nyaris menarik lepas rambutnya dari kulit kepala. Dia berteriak sekali lagi. "AYAH! KAPAN KAU AKAN KESINI?" jeritnya lalu menangis. Setelah itu Gaara mulai menghancurkan melempar semua benda yang ada di atas meja, lalu dengan mudah membalik meja dapur. Ia juga mengangkat kursi dan menghantamkannya ke dinding; melempar panci, piring, gelas, apapun yang bisa ia temui, ia hancurkan.

Gaara ingin berhenti. Namun ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Inilah yang sangat ia takutkan. Ia takut pada emosinya sendiri. Inilah yang sangat ayah dan ibunya takutkan hingga mereka bahkan tak bisa tinggal bersamanya.

Sejak keluar dari Sou Fujimoto, Gaara bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia akan berubah. Ia akan menjadi anak yang baik, rajin belajar, rajin berolahraga, agar kedua orang tuanya bisa menjemputnya di rumah tersebut dan mereka tinggal bersama-sama lagi di Amerika. Namun kalau begini terus, kapan mereka akan datang?

Gaara menangis lagi.

Ia lalu keluar dan berlari ke gazebo di taman, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Sejak ayahnya membelikan ponsel tersebut untuk ulang tahunnya yang ke enam belas, Gaara hampir tak pernah berpisah dengan benda tersebut. Ponsel tersebut datang bersama selembar surat yang ditulis tangan oleh ayahnya, surat yang berkata bahwa pengobatan Gaara mengharuskan mereka agar hidup terpisah. Oleh karena itu Gaara harus menjalani pengobatannya dengan baik agar mereka bisa segera bertemu lagi. Waktu pertama kali mengaktifkannya, di dalam ponsel tersebut hanya ada dua nomor, yaitu nomor ayahnya dan nomor ibunya.

Dua nomor yang tak pernah mengangkat teleponnya.

Dua nomor yang sudah ia SMS ratusan, bahkan ribuan kali, dan tidak pernah membalas satu pun.

Jika ada satu hal yang sangat Gaara inginkan di dunia saat itu...itu adalah untuk mendengar suara kedua orang tuanya.

Gaara tahu bahwa mereka tak pernah mengangkat telpon atau membalas SMS karena itu akan menyalahi pengobatan yang sudah diatur oleh para dokter-nya di Sou Fujimoto. Namun Gaara tidak pernah lupa melaporkan setiap kejadian apapun yang ada di hidupnya pada kedua orang tuanya lewat SMS atau email agar saat mereka bertemu nanti, mereka tidak akan kaget dengan semua perubahan yang sudah terjadi pada Gaara.

Ia membuka aplikasi pesan lalu dengan cepat mengetik:

Jangan percaya apapun yang Shion katakan pada Ayah, aku menjalani pengobatanku dengan baik. Dr. Orochimaru bilang aku akan bisa segera bertemu Ayah dan Ibu. Kuharap kita bisa merayakan ulang tahunku bersama-sama nanti.

Dan menekan tombol send.

Setelah itu Gaara meletakkan ponsel-nya di meja, dan menunggu.


Perjalanan Hinata dari sekolah ke rumah yang dulu biasa ia tempuh hanya dengan berjalan kaki selama sepuluh menit, sekarang harus ia tempuh selama satu jam dengan kereta dan bus. Ia sadar bahwa ini memakan banyak waktu, dan membuatnya harus berdesak-desakan setiap pagi; namun ia juga sadar bahwa harus ada pengorbanan untuk setiap hal. Untungnya di perjalanan pulangnya hari itu, Hinata mendapatkan kereta yang lumayan kosong dimana ia bisa duduk.

Sudah seminggu Hinata tinggal di Sunagakure. Sudah seminggu juga ia mencoba beradaptasi dengan "keluarga" barunya. Ketika pertama kali datang ke rumah Gaara, dengan van sewaan dan barang-barangnya, yang kelihatan paling senang tentu saja Matsuri. Sejak datang ke rumah yang besar tersebut tiga tahun yang lalu, Matsuri selalu mengurusnya sendirian, bersama Ata yang berumur tiga kali lipat darinya, dan seorang Master yang pemarah. Gadis itu menggunakan confetti untuk menyambut Hinata, kemudian membantu gadis itu membereskan barang-barangnya di kamar barunya.

Gaara memberi Hinata sebuah kamar yang terletak di sayap para pelayan, tepatnya di samping kamar Matsuri. Bahkan di rumah tersebut, kamar untuk pelayan-nya saja yang lebih besar daripada apartemen Hinata sebelumnya. Ia sangat senang karena di kamar tersebut ia mendapat kasur dan bantal yang empuk, selimut yang tebal, meja tulis, serta sebuah televisi ukuran 21 inchi.

Sebelum membongkar semua barang-barangnya, Gaara sendiri memberi Hinata tur keliling properti miliknya. Ia menunjukkan lantai bawah yang terdiri dari ruang tamu, ruang santai, perpustakaan, ruang kerja, dapur, sayap para pelayan, dan tentu saja tangga menuju basement pribadinya. Kemudian mereka naik ke lantai dua dimana terdapat kamar-kamar tamu yang semuanya kosong. Setelah itu mereka naik ke lantai paling atas, dimana terdapat kamar tidur Gaara yang tidak pernah ia pakai, serta kamar utama yang Gaara ingatkan tidak boleh dimasuki siapapun, kecuali oleh Matsuri untuk dibersihkan.

Tanpa diberitahu Matsuri, Hinata sebenarnya bisa menebak bahwa pemilik kamar tersebut adalah Mistress rumah itu sebelumnya, yaitu ibu-nya Gaara. Petunjuk-nya terpampang jelas pada setiap pigura foto dan lukisan yang ada di setiap sudut rumah tersebut. Dari Matsuri, Hinata kemudian tahu bahwa rumah tersebut sebenarnya adalah rumah keluarga Tenjo, yaitu rumah tempat Mistress Karura Tenjo dibesarkan.

Dari Matsuri, Hinata kemudian tahu bahwa kamar tersebut adalah kamar Mistress rumah ini sebelumya, yaitu ibu-nya Gaara.

Setelah mengetahui setiap sudut rumah, Gaara membawanya keluar dan menunjukkan kolam renang serta taman bunga yang menjadi kebanggannya. Ia memberi tahu Hinata bahwa di musim gugur seperti itu ia tidak akan banyak mengerjakan tanaman, namun dia akan banyak membangun patio dan sejenisnya, dan ia harap Hinata akan membantunya. Gadis itu tidak keberatan. Selama tinggal di Tokyo, Hinata menghabiskan musim panasnya dengan mengerjakan bermacam-macam kerja part-time. Mulai dari supir taksi, pengantar ayam, pengantar pizza, cleaning service, pelayan bar, hingga tukang salon. Sebagai orang miskin, ia tidak punya banyak pilihan. Karena itu, dengan bekerja dengan Gaara, Hinata harap ia akan mendapat banyak pengalaman yang bagus.

Gaara juga memberitahu bahwa rumah mereka menggunakan listrik umum, namun jika terjadi gangguan, mereka punya generator independen sehingga lampu tidak akan pernah padam. Lelaki itu menunjukkan dimana lokasi generator-nya, dimana mereka melewati sebuah lahan kosong yang cukup luas yang Gaara pikir ingin ia gunakan untuk memelihara ayam. Hinata sangat senang dengan ide tersebut karena dulu di Hokkaido, ia juga memelihara ayam di belakang rumahnya.

Dengan pengalaman kerjanya, sebenarnya bekerja di rumah Gaara bukanlah hal yang sulit. Yang sulit adalah hidup di rumah yang ada Gaara-nya.

Hal positif-nya adalah Gaara memberinya seragam pelayan yang menurut Hinata sangat manis dan senada dengan warna rambutnya. Setiap hari Hinata bangun jam lima pagi, mengenakan seragam dan apron-nya, menyiapkan sarapan dan makan siang, lalu membantu Matsuri membersihkan rumah, sebelum bersiap-siap dan pergi sekolah tepat pukul delapan. Sore-nya ia akan sampai rumah sekitar pukul lima, menyiapkan makan malam, menggosok pakaian, kemudian membersihkan diri, mengerjakan PR, dan tidur pukul sepuluh.

Bagi Hinata, hari yang baik adalah hari dimana ia bisa bangun jam enam dan tidur jam sepuluh. Namun sejauh ini, dengan majikan seperti Gaara, hal itu sulit dicapai.

Gaara Sabaku ternyata adalah penderita Intermittent Explosive Disorder atau IED, dimana penderitanya selalu mengalami rasa marah spontan terhadap orang lain atau keadaan di sekitarnya. Rasa marah tersebut juga biasanya disertai dengan kebencian berlebihan yang dalam beberapa kasus bisa menyebabkan komplikasi pada sistem imun penderitanya serta memicu kelainan mental lain. Fakta tersebut tentu saja menjelaskan banyak hal tentang Gaara dari pertemuan pertama Gaara hingga saat itu.

Kelainan tersebut membuat lelaki itu harus menjalani terapi serta meminum banyak obat. Matsuri menyimpan obat-obatan Gaara di sebuah kabinet di dapur. Ada delapan botol yang menyimpan delapan pil dan kapsul berbeda serta berwarna-warni. Karena sekarang Hinata yang bertanggung jawab pada apa yang dikonsumsi oleh Gaara, Matsuri dengan gampangnya menyuruh Hinata jugalah yang harus memastikan bahwa majikan mereka meminum semua obatnya di pagi hari dan di malam hari.

Hal lain yang Hinata pelajari dari Gaara adalah lelaki itu memiliki rutinitas olahraga yang ia jalani sangat taat seperti agama. Setiap hari lelaki itu bangun pukul enam, dan berolahraga sangat keras di gym pribadi-nya di basement hingga pukul delapan. Ia tidak akan mau meminum obatnya sebelum rutinitas gym -nya selesai. Yang menjadi masalah adalah Hinata harus selalu pergi sekolah pukul delapan, pada saat yang sama dimana Gaara harus meminum obatnya. Dan memastikan lelaki itu meminum semua obatnya bukan perkara yang mudah. Beberapa kali Hinata harus terlambat ke sekolah karena Gaara menolak meminum obatnya dengan alasan olahraganya belum selesai karena ia bangun terlambat hari itu.

Setelah minum obat, Gaara akan memakai kaos, celana training, serta sepatu larinya, dan berlari di sekitar situ dan baru kembali sekitar pukul sebelas atau saat makan siang. Awalnya Hinata mengira bahwa Gaara hanya melakukan semua itu saat akhir pekan. Namun saat hari sekolah ia juga melakukan rutinitas yang sama. Suatu malam, saat menunggu Gaara menyelesaikan kue pai-nya di dapur, Hinata pun bertanya soal sekolah padanya.

"Penyakitku membuatku tidak harus masuk kelas. Tapi aku boleh datang sesukaku. Dengan uang, mereka bisa membuat nilaiku tetap bagus. Bagi sekolah yang penting adalah aku harus sembuh," jawabnya santai.

Karena itu Hinata tahu, bahwa Gaara bisa dibilang...tidak pernah belajar apapun...selama SMA.

Gaara juga selalu makan siang di rumah. Lalu jika ia sedang ingin menghadiri kelasnya, ia akan berangkat setelah makan siang. Namun jika ia hanya ingin menghadiri latihan klub, ia akan berangkat pukul tiga dan pada situasi yang manapun, Gaara akan pulang ke rumah di jam yang tidak menentu. Terkadang ia bisa pulang pukul delapan, sembilan, sepuluh, dan bahkan bisa tengah malam dengan mulut berbau alkohol dan temperamen seperti orang bar-bar. Pada saat yang manapun, Hinata tetap harus memanaskan makanannya dan memastikannya minum obat.

Itulah mengapa hidup dengan seorang Gaara Sabaku bukanlah hal yang mudah.

Hinata bersyukur ketika sampai di rumah pukul lima. Namun momen syukurnya hanya berlangsung selama beberapa saat ketika ia menemukan Matsuri berada di basement Gaara yang dalam sudah dalam kondisi seperti kapal pecah.

Bagi Hinata, hari itu bisa dikatakan hari yang indah. Dapat kereta tepat waktu, nilai kuis Matematika 100, mengobrol dengan Sasuke Uchiha pada separuh kelas programming. Ia sangat berharap Gaara tak akan menghancurkan semuanya dengan kelakuannya.

"A-apa yang terjadi di sini?"

Matsuri mendongak dari atas serpihan dari apa yang Hinata duga adalah kursi meja makan. Ia nampak lega melihat Hinata. Di tangan kirinya ada pengki sementara tangan kanannya memegang sapu. "Oh, syukurlah kau sudah pulang. Ayo bantu aku! Pinggangku mau patah rasanya dari tadi harus membersihkan semua ini sendirian," katanya.

Dapur itu terlihat seperti habis dilewati angin puting beliung. Di sana sini terdapat pecahan beling dan serpihan kayu. Panci-panci yang pagi itu ia tinggalkan dalam keadaan bersih pun sudah terlempar kemana-mana.

Meskipun baru seminggu tinggal di situ, namun Hinata sudah merasa memiliki hubungan yang dalam dengan dapur tempat ia menghabiskan sebagian besar waktunya selama di rumah itu. Melihat dapur yang sangat ia sayangi hancur lebur seperti itu membuat Hinata nyaris menangis.

"A-apa yang terjadi?"

"Mistress Kim datang," jawab Matsuri muram. "Inilah yang terjadi kalau beliau datang."

"Mistress Kim?"

Matsuri menghela napas, meletakkan pengkinya kemudian bersandar pada sapunya. "Kim Shion dan Kim Minami. Kim Minami adalah..." ia nampak ragu-ragu, kemudian memelankan suaranya, "Oh, karena kau sudah tinggal di sini kurasa kau harus tahu. Kim Minami adalah...istri tidak resmi Master Yorozoku." Master Yorozoku Sabaku adalah ayah-nya Gaara, Hinata tentu saja sudah tahu hal ini waktu ia pertama kali pindah, "Atau bisa dibilang juga beliau adalah ibu tiri-nya Master Gaara. Sementara Kim Shion adalah putrinya, adik tirinya Master Gaara. Tapi seingatku mereka sebenarnya seumuran." Dia memberi Hinata pandangan menilai. "Kau dan Master seharusnya juga seumuran, 'kan?" tanyanya.

Hinata hanya tertegun di sana. Masih tidak melihat koneksi antara datangnya Mistress Kim dengan dapurnya yang seperti kapal pecah.

"Aku sedang di atas saat Mistress Kim datang. Master sedang makan siang di sini. Sepertinya Mistress mengatakan sesuatu yang membuat Master marah. Dan kau bisa lihat sendiri apa yang terjadi."

Hal itu membuat Hinata mengernyit. "Lalu dimana Master sekarang?"

"Kalau habis marah, dia biasanya menyendiri di taman sampai malam." Hinata sudah hendak bergerak keluar. "Jangan coba-coba berpikir untuk membujuknya. Kau bisa kena damprat juga. Lagipula kau harus membantuku di sini!"

Hinata membungkuk minta maaf lalu bergegas mengambil peralatan bersih-bersih dan membantu Matsuri.


Matahari sudah terbenam, namun langit masih berwarna oranye. Setelah nyaris mematahkan pinggang mereka, Hinata dan Matsuri akhirnya berhasil membereskan dapur. Setelah itu, Matsuri langsung mengambil alih kamar mandi dan berkata ia butuh mandi air panas untuk merilekskan semua ototnya yang kram akibat terus-terusan jongkok dan membungkuk. Hinata tidak apa-apa mengalah, lagipula ia ingin mengecek kondisi Gaara. Masih mengenakan seragam sekolahnya, ia pun membuat sebuah susu panas yang ia campurkan dengan sesendok madu dan keluar mencari majikannya.

Ia menemukan Gaara tertidur di gazebo dengan kepala terkulai di meja. Ponselnya berada di dekat kepala-nya. Dengan hati-hati Hinata mendekatinya dan duduk di sampingnya. Perlahan-lahan ia meletakkan tangannya di bahu pemuda itu. Dalam seketika, ia langsung terbangun dan nyaris mencekik Hinata. Gadis itu menjerit kaget, namun ketika melihat bahwa itu Hinata, Gaara langsung melepasnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya. Perhatiannya teralih pada ponselnya yang tidak memunculkan notif apa-apa.

Hinata menyadari kedua mata Gaara yang merah dan membengkak. "A-aku hanya ingin melihat keadaanmu. K-kau baik-baik saja?"

Gaara hanya mengamatinya selama beberapa saat. "Kau pasti habis membereskan kekacauan yang kubuat, ya?" tanyanya muram.

Hinata mengangguk. "K-kau baik-baik saja?" tanyanya lagi.

Gaara menggeleng, lalu kembali membaringkan kepalanya di meja. "Aku sudah mampus. Shion pasti akan mengadu ke ayahku. Orang tuaku tidak akan pernah kesini lagi."

"K-kenapa mereka tidak akan pernah kesini?"

"Aku tidak bisa bertemu dengan orang tuaku kalau aku belum sembuh. Dokterku melarangnya." Ketika Hinata hendak bertanya lagi, Gaara melanjutkan. "Menurut dokterku, orang tuaku adalah pemicu penyakitku sekarang, jadi supaya aku bisa benar-benar sembuh...aku tidak boleh bertemu ataupun berhubungan dengan mereka. Makanya aku tinggal sendirian di sini." Gaara menghela napas, lalu memalingkan wajahnya agar tidak menghadap Hinata. "Sekarang kau sudah tau. Pergilah."

Bukannya puas dengan jawaban tersebut, namun berbagai pertanyaan justru malah muncul di benak Hinata. Terlalu banyak misteri yang mengelilingi Gaara. Bagaimana Hinata bisa membantunya kalau dia saja tidak bisa memahami apa yang terjadi pada pemuda itu.

Hinata lalu teringat minuman yang ia bawa. "Eh...i-ini. Aku membuatkanmu ini. Kalau kau masih mau duduk di sini, mungkin lebih baik sambil minum ini karena sudah malam dan di sini pasti dingin."

"Aku tidak haus."

Hinata tersenyum. "Haus bukan satu-satunya alasan untuk minum, 'kan?"

Mendengar Hinata menggunakan kalimatnya sendiri membuat Gaara kembali menegakkan tubuhnya dan melihat gadis itu. "Kau buat apa?"

Hinata menyodorkan gelasnya ke arah Gaara. "Dulu aku punya anjing namanya Kubo. Waktu dia mati, aku tidak bisa berhenti menangis selama dua malam. Ketika ibuku membuatkan ini, aku langsung tertidur."

Gaara mengambil gelasnya dan menyesap isinya. Kedua matanya mengerjap berkali-kali. Kemudian ia mencobanya sekali lagi. "Aku...pernah minum ini...dulu." Ia lalu minum dalam diam sampai habis. "Dulu...ibuku pernah membuatnya..." Mendadak kedua air matanya dipenuhi air mata. "Ini...susu?" Ia lalu meletakkan gelasnya dan menyandarkan kepalanya pada bahu Hinata dan mulai terisak.

Hinata mengernyit sedih. Perlahan-lahan ia meletakkan tangannya di punggung pemuda itu dan mengusapnya sambil membisikkan kata-kata yang menenangkan. "Kau baik-baik saja. Kau baik-baik saja," kata Hinata berulang kali.

"Aku tidak ingin mereka membenciku, Hinata. Aku harus jadi lebih baik dari ini."

"Aku tahu," bisik Hinata di telinga Gaara.

"Aku tidak ingin mereka mengurungku di sana lagi. Aku hanya ingin kembali ke Amerika lagi."

Hinata tidak tahu apa yang Gaara bicarakan, namun ia berusaha menenangkan lelaki itu dengan berkata, "Mereka tidak akan pernah mengurungmu lagi. Aku tidak akan membiarkan mereka."

Mendadak Gaara mendorong Hinata, "Itu lah yang selalu mereka katakan! Apa yang bisa kau lakukan, hah? Kau tidak bisa apa-apa! Kau sama saja seperti mereka semua! Berkata kalau tidak akan membiarkanku pergi, tapi tidak berbuat apa-apa saat mereka datang kesini dan membawaku! Apa yang kau mau, Hinata?!"

Dengan wajah yang penuh amarah, Hinata seharusnya merasa takut pada Gaara. Namun karena pada saat yang sama wajah tersebut basah karena air mata, yang Hinata rasakan hanyalah kebingungan. Semua kalimat Gaara seperti puzzle yang mewakili potongan-potongan gambar yang harus ia susun agar ia mengerti apa yang sedang terjadi pada lelaki itu. "Gaara, tenang dulu. Kau tahu aku tidak pernah bohong padamu. Kalau kubilang aku tidak akan membiarkan mereka membawamu pergi, aku hanya akan melakukan itu. Kau bisa memegang janjiku, kau tahu itu 'kan?"

Bibir bawah Gaara bergetar, napasnya pendek-pendek dan ia berusaha mengaturnya. Ketika ia sudah lebih tenang, ia tampak malu dan berbalik memunggungi Hinata. "Kau janji?"

"Tentu saja."

"Kau janji akan terus ada di sini sampai kedua orang tuaku menjemputku?"

Hinata mengernyit. Ia sangat yakin bahwa Matsuri pernah bilang padanya kalau ibu Gaara sudah meninggal. Namun Hinata tidak berniat mempertanyakan itu pada Gaara yang emosinya sedang tidak stabil. Lebih baik ia bertanya pada Matsuri nanti. "Aku janji."

Setelah Hinata yakin bahwa Gaara benar-benar tenang, akhirnya ia menghembuskan napas lega dan tersenyum. "Kau lapar?"

"Tidak terlalu," gumamnya.

Hinata sedikit kecewa mendengarnya. "Apa kau ingin sendirian di sini?"

Gaara mengangguk.

Hinata sadar bahwa itu adalah tanda baginya untuk pergi. Ketika ia hendak beranjak dari gazebo tersebut, Gaara tiba-tiba menghentikannya.

"Ya?"

"Apa Matsuri sudah memberitahumu tentang hubunganku dengan Shion dan ibunya?"

Hinata menelan ludah dan tampak malu saat mengaku. "Y-ya. M-maaf, aku tidak bermaksud untuk bergosip."

Gaara berbicara tanpa melihat Hinata. "Tidak apa. Karena kau sudah tinggal di sini, aku ingin kau paham tentang situasi Shion dan ibu-nya, Minami, dan aku tidak ingin kau mendengarnya dari orang lain kecuali aku." Hinata mendengarkan Gaara dengan seksama. "Kau pasti sudah tau dari Matsuri bahwa ibuku adalah istri resmi, dan ibu dan ayahku tinggal di Amerika?" Hinata hanya mengangguk. "Minami adalah istri simpanan ayahku. Tapi karena mereka tinggal di Jepang, ia adalah wali-ku yang resmi di sini. Situasiku membuatku tidak bisa mengambil keputusan apapun sendiri. Artinya, apapun yang kulakukan dan harus kulakukan, harus seizin dan sepengetahuan dia." Mendadak Gaara menatapnya, "Termasuk siapapun yang tinggal di rumah ini."

Hinata menelan ludah. Dia hampir mengerti maksud Gaara.

"Aku tidak pernah menyebut soal mempekerjakanmu di sini, ataupun uang yang kuhabiskan untukmu padanya. Tapi bukan berarti dia tidak tahu." Gaara menghela napas lalu berdiri dan menghampiri Hinata, "Tapi apapun yang terjadi, kalau dia atau anaknya ada di sini, aku mau kau sembunyi. Jangan pernah bertemu mereka. Mengerti?"

Hinata mengangguk bisu dan menunduk. Ia tidak menyangka bahwa dengan membiarkannya tinggal di situ Gaara harus mengalami masalah dengan ibu tirinya. Namun untuk saat itu ia tidak bisa melakukan apapun kecuali mematuhi kata-kata lelaki itu.

"Dan jangan terlalu sering berbicara dengan Matsuri," tambahnya lagi.

Hinata terkejut dan mendongak. "A-apa? K-kenapa?" Ia pikir itu sangat aneh karena Hinata selalu mendapat kesan bahwa Matsuri adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengajarkan segala sesuatu tentang rumah tersebut padanya. Mendadak menyuruhnya untuk menjaga jarak dengan gadis itu membuat Hinata...

Gaara menatapnya dalam-dalam saat menjawab, "Aku tidak pernah percaya padanya."

"T-t-tapi..."

"Menurutmu mengapa dia satu-satunya pelayan yang bertahan di sini?" Hinata hanya bisa tercengang saat berusaha mencerna pertanyaannya.

Mereka saling bertatapan dalam diam selama beberapa saat, sebelum Gaara akhirnya menarik tangannya. "Ayo, masuk. Aku lapar."

Hinata tidak berkata apapun hingga mereka sampai di dalam.


Author's Note: Terima kasih untuk semua teman-teman yang tetap setia menjadi pembaca Beautiful Disaster. Sebenarnya chapter ini sudah selesai ditulis enam bulan lalu, sekitar bulan Juni. Namun entah kenapa tidak bisa saya upload. Ada banyak alasan kenapa saya akhirnya lupa untuk update cerita ini. Pertama, pekerjaan yang menumpuk. Kedua, ternyata saya alergi dengan selai Nutella (ini adalah hal yang sangat membuat saya syok). Jadi mohon dimaklumi ya.

Sampai jumpa di chapter berikutnya!

Salam,

harlotkiss