"Umi, lihat apa yang aku bawa" dengan wajah sombong Maki menunjukkan sebuah kartu berwarna abu abu gelap bertuliskan VVIP dengan namanya terukir diatasnya.
Umi melihat sekilas, melipat tangannya di dadanya sambil bersandar "Platinum card? Apa yang membuatmu menaikkan status tamu mu disini?"
Hanya butuh beberapa minggu saja untuk membuat Umi bersifat lebih santai pada Maki, tentu saja karna permintaan dari Maki.
"Ini!" Kali ini Maki menyodorkan sebuah undangan diatas meja.
Wajah Umi mengkerut, mencoba mengambil undangan tanpa benar benar memperhatikan undangan tersebut, "Kamu akan menikah?"
"Ngaak, bodoh. Baca dulu baru ngomong"
"Birthday party? NICO? Pacarmu?" Tentu saja Umi masih bingung mengingat sampai sekarangpun Maki belum pernah sekalipun menguak identitas pacarnya.
"Kaget? Bukankah dia sedang terkenal sekarang?" Maki memasang tampang sombong, ingin menunjukkan betapa hebatnya dirinya bisa mengencani seorang idol merangkap actor yang sedang digandrungi kaum hawa belakangan ini.
Kembali Umi mengkerutkan keningnya, ini bukan seperti Umi benar benar kaget seperti yang dituduhkan Maki padanya, hanya saja Umi merasa asing "Seperti apa rupanya?"
"Ya ampun Umi, karna inilah aku bilang kamu cupu. Yang lagi tenar aja kamu nggak tau" semua kesombongannya tiba tiba hilang berganti rasa jengkel.
"Okay, maaf soal itu" Umi membenarkan posisi duduknya, menggenggam kedua tangannya diatas meja "Jadi apa hubungan platinum card mu dengan undangan pesta ini?"
"Good point, Umi" kejengkelan tadi mulai mereda, dan Maki mulai terlihat serius. "Temani aku kesana"
"WHAT?" Umi tersentak, seperti ingin melompat dari kursinya.
"Jangan berikan ekspresi itu padaku. Sebagai pelayan yang bekerja disini tentunya kamu tau, pemilik platinum card berhak membawa pelayan café keluar dari café selama masih dalam jam kerja"
Umi masih tercengang, ingin mengeluarkan kata penolakan, tapi apa yang dikatakan tamunya benar "harusnya aturan itu tak pernah ada" umpatnya pelan.
"Kamu bilang apa?"
"Tentu saja aku tau aturan itu, hanya saja aku nggak menyangka kamu akan memilihku"
"Kamu tau aku nggak bisa terbiasa dengan orang baru, mau bagaimana lagi" Maki mengatakan seolah olah Umi adalah pilihan terakhir selagi sebenarnya Umi merupakan pilihan utamanya.
"Nanti pacarmu cemburu kamu bawa laki laki ke pestanya"
"Tenang saja, kamu nyamar jadi bodyguard aku"
"Bodyguard? What a lame" Umi membuang mukanya, mencoba pasrah.
"Ingat Umi, café mu mengutamakan pelayanan" Maki tersenyum sombong "Ah, sudah jam segini" Maki melihat jam ditangannya "Tenang saja, pestanya masih seminggu lagi. Nggak usah gugup karna akan ketemu orang orang tenar disana" Maki kemudian meninggalkan Umi di mejanya dengan seutas senyum kemenangan.
Umi menatap enggan pada kepegian Maki "Persetan dengan orang tenar. harusnya aku nggak menyetujui aturan itu" keluhnya sambil mengacak acak rambut biru kelamnya.
Beberapa hari setelah kejadian platinum card, Maki datang dengan setumpuk tugas di mejanya.
"Kamu datang lagi, Maki" seolah tanpa minat, Umi meletakkan kopi tamunya dimeja dan duduk di kursi yang biasa ia duduki.
"Mana adab mu, Umi" Maki menyesap kopinya tanpa ambil pusing untuk melihat pada Umi.
Umi menyandar pada kursinya, melihat tidak ada lagi perlawanan dari Maki akibat sikap tak sopannya. "Mau aku bantu?"
"Emangnya bisa bantu apa?" Maki masih mengacuhkannya dan masih memilih mengutamakan laptop dan buku bukuya.
"Aku bisa bacakan buku itu untukmu selagi kamu mengetiknya di laptopmu"
Kali ini Maki berpaling padanya "…" hanya melihat tanpa berkata.
"Kamu nggak usah gengsi untuk mengatakan 'Baiklah', sedikit bantuan tidak akan melukai harga dirimu"
"Baiklah, kalau kamu memaksa"
Umi tersenyum meledek "Kamu tau, 'Baiklah' saja sudah cukup tanpa harus kamu tambah dengan kata lainnya". Umi menjangkau setumpuk buku di hadapan Maki "Mana yang harus aku bacakan untukmu?"
Umi masih membolak balik buku tebal milik Maki tanpa sadar seutas senyum terukir di bibir Maki. "Halaman 256 yang dikasih stabilo kuning"
"Hm…"
Maki masih memperhatikan Umi yang masih membolak balik buku kedokterannya "Jika saja aku tidak bersama Nico, mungkin aku sudah jatuh padamu"
Umi memalingkan perhatiannya pada Maki "Benarkah? Bukannya aku cupu"
"Hah, tenang saja, itu takkan pernah terjadi karna Nico dan aku akan berakhir di altar suci kelak"
"Percaya diri sekali" Seperti melecehkan, umi kembali menyibukkan dirinya dengan buku di tangannya "Aku menemukannya, ayo mulai"
2 hari sebelum pesta, Maki kembali melakukan kunjungan. Baru saja Umi meletakkan kopi di meja, Maki langsung melontarkan keinginannya "Ayo shoping"
"Ayo apa?" Umi yang masih berdiri terlihat bingung dengan permintaan Maki.
"Belanja Umi, aku pikir aku butuh dress baru"
"Tapi…" Umi akan memberikan alasan penolakannya sampai Maki mengeluarkan Platinum card nya "Okay Okay, aku mengerti" dengan gontai Umi mengikuti Maki.
Saat masuk ke mobil, Umi menemukan sebuah majalah terletak di kursi penumpang. Umi lalu memungutnya dan duduk di sebelah bangku kemudi.
"Lihat covernya" Ucap Maki saat sudah siap di depan kemudi.
Umi sadar bahwa majalah yang dipegangnya terbalik dan menuruti perintah Maki. Sedikit ada perubahan di wajahnya saat menemukan gambar di cover depan majalah itu. Namun Maki tak bisa melihat itu karna fokus pada kemudinya.
"Kemaren kamu tanya bagaimana rupa Nico,kan?"
"…"
"Dia ada di sampul itu, bersama idol multi talent yang kamu sukai"
"…"
"Hey, kamu lebih pendiam hari ini"
Umi tersadar "Benarkah?"
"Bagaimana pacarku? Ganteng?"
"Hm…" Umi mengangguk pelan masih dengan majalah di tangannya.
"Ah, karna kamu hanya diam saja. Kenapa nggak baca majalah itu saja. Di sana artis blonde itu,…siapa namanya" Maki mengetuk ngetuk jarinya pada kemudi saat mencoba mengingat nama artis yang dimaksudnya.
"Ayase Eli"
"Yap, Ayase Eli. Hey, kamu tau namanya. Ternyata kamu memang fansnya Ayase Eli"
"Tertulis di cover" ungkap umi datar.
"Shit, harusnya aku tau pengetahuanmu soal artis itu 0 besar" Maki kecewa ternyata Umi masih tak berminat pada dunia keartisan. "Kesampingkan masalah itu, di wawancaranya dia mengungkap soal cinta pertamanya, yah karna film terbaru yang dibintanginya tentang hal itu, jadinya dia di wawancarai soal pengalamannya"
Umi melihat pada Maki dengan sedikit sendu.
"Katanya dia sangat mencintai cinta pertamanya, tapi karna impiannya untuk menjadi artis juga besar, mereka memutuskan untuk 'break'. Kutipan yang aku suka darinya 'Jika memang ditakdirkan bersama, maka kami akan kembali dipersatukan kelak', Bukankah itu manis?"
Umi kembali meluruskan duduknya ,"terdengar sedih". Responnya kemudian mencoba menahan pahit.
"Yah, mereka 'break' karna sama sama mengejar impian mereka. Aku yakin nantinya mereka akan bisa bersama lagi"
"Persetan dengan impian" Umi menggenggam erat majalah ditangannya.
"Kamu bilang apa"
"Karna kamu sudah ceritakan, jadi nggak perlu lagi aku baca ini" Umi melempar majalahnya ke dashboard.
"Hey, hati hati dengan majalahku"
Maki bukanlah tipe yang suka shoping, tapi sekalinya shoping, lamanya juga sama saja dengan perempuan yang suka shoping pada umumnya.
"Hey, kamu bilang tadi Cuma mau beli dress. Bukankah ini terlalu banyak untuk dipakai pada satu hari pesta?" Umi mengeluhkan barang barang belanjaan Maki yang dipegangnya.
"Bodoh, mana mungkin aku pakai semuanya dalam satu hari. Aku hanya tidak bisa menentukan mana yang bagus makanya aku beli aja semua yang aku suka"
"Luar biasa orang kaya" rutuk Umi.
"Baiklah, kita ke toko selanjutnya"
"Masih ada?" dengan penuh kesal Umi mengikuti Maki.
"Hey, Cepat. Jangan jalan kayak siput gitu"
"Tunggu tunggu, ini toko kan khusus menjual pakaian pria"
"Aku tau"
"Beli buat siapa? Kado buat pacarmu?"
"Bukan"
"?"
"Buat kamu. Berterimakasihlah karna majikanmu ini berbaik hati membelikanmu pakaian yang layak untuk ke pesta"
"Kamu pasti becanda" keluh Umi.
xxx
"Aku tak tau kalau kamu pandai mengemudi" Maki sedikit kagum saat Umi membukakan pintu penumpang baginya dan bergegas ke kursi kemudi. "Aku pikir kamu hanya beracting seolah olah menjadi bodyguard sesungguhnya"
"Sayang sekali anggapanmu salah. Walau aku bukan lulusan akademi bodyguard, sekelas mengemudi saja aku juga bisa"
"…" Maki kembali menatap kagum, mungkin Umi berasal dari kalangan orang kaya.
"Itu termasuk pelatihan yang diberikan café"
Maki cemberut, anggapan tentang Umi adalah anak orang kaya tadi menjadi sirna.
"Kenapa cemberut"
"Tadinya aku pikir kamu adalah pangeran kaya yang menyamar jadi rakyat jelata"
Umi tersenyum mengejek "Benarkah?"
"Tenang saja, anggapan itu sudah sirna"
Umi lalu tertawa "Apa yang kamu lakukan jika aku benar benar seorang pangeran yang kaya?"
"Kamu menggunakan kata 'jika', Maaf, aku lagi malas berandai andai sekarang" pandangan Maki masih tetap fokus kedepan tanpa mau mengacuhkan Umi.
Umi hanya membentuk O besar pada mulutnya dan mulai fokus mengemudi.
Maki sudah memberikan instruksi pada Umi, jika nanti berjalan ke dalam gedung, Umi tidak boleh berada disampingnya, tapi dibelakangnya.
"Umi, kamu tunggu disini. Aku ingin bertemu Nico"
Maki meninggalkan Umi di depan bar mini. Umi lalu duduk tanpa menghiraukan hiruk pikuk pesta disekelilingnya.
"Pesanan anda tuan?"
Umi tersentak dan menggeleng pelan sebagai tanda penolakan. Entah berapa lama Umi mematung di tempatnya sampai sebuah suara menyadarkannya.
"Umi, kamu disini?"
Perlahan Umi berpaling pada sumber suara yang kini duduk disampingnya. Nafasnya tercekat, detak jantungnya tak beraturan, terasa sakit dijantungnya. Kalau boleh memilih, ingin rasanya lari dari situasi ini.
"Eli" bisiknya.
Perempuan itu menatapnya lembut sambil tersenyum "aku merindukanmu".
xxx
keterangan :
Untuk masuk ke café (yang saya sendiri belum tau mau kasih nama apa buat cafenya) tamu harus memiliki kartu keanggotaan. Ada tiga jenis kartu :
1. Reguler = tamu biasa yang datang hanya untuk minum kopi saja
2. Gold = Tamu yang selain minum juga ingin mengeluarkan uneg uneg tentang dirinya (curhat) pada pelayan
3. Platinum = Tamu punya hak khusus membawa pelayannya keluar dari café
Perbedaan dari kepemilikan kartu tentu saja ada pada tagihannya. sangat jarang yang punya kartu keanggotaan Platinum, karna tagihannya yang selangit.
xxx
Hai Sonodass, terimakasih atas support nya. Belakangan ini sedang dalam mood untuk mengerjakan fic ini. Semoga saja tidak terlalu lama untuk menyudahi cerita ini.
