Disclaimer Naruto sejujurnya milik Kishimoto-sensei

Tapi "Quenchless" milik saya pribadi

Rated : T, jika ada perubahan pasti akan saya cantumkan pada setiap chapter.

Warning : Kesamaan ide (maybe) , OOC, Alternative universe

" sesungguhnya saya adalah orang yang hobi menulis, namun baru kali ini memiliki keberanian untuk mempublikasikan karya saya di dunia maya. Jadi , saya mengharapkan dukungannya dari pembaca"

so , RnR please……. –

Chapter 1 : Musim Semi 12 tahun Silam

……………… Haruno Aozora : Quenchless ………………..

#12 Tahun sebelum kisah ini dimulai#

Dua orang anak kecil yang kira-kira masih berusia 5 tahunan sedang duduk dibawah pohon yang rindang yang bermandikan sinar matahari musim semi. Keduanya sedang mengamati seekor katak yang bersembunyi di antara semak-semak sebuah taman.

"Ayo Naruto-kun, aku takut sama katak." Ujar gadis cilik sambil menarik lengan baju temannya.

"Tidak apa-apa Hinata-Chan. Aku kan ada." Bocah laki-laki itu berbalik dan menunjukan senyum 3 jarinya pada gadis di depannya.

" Ta..tapi Kaa-san bilang, Hina tidak boleh dekat-dekat dengan hewan buas, Naruto-kun."

" Katak bukan hewan buas,Hinata." Naruto menatap heran gadis disampingnya.

"Tapi Naruto-kun, kata bu guru hewan buas itu hewan yang menakutkan. Katak itu sangat menakutkan tau." Gadis cilik itu merasa kesal dan menggembungkan pipi tembamnya yang kemerahan.

" Hewan buas itu hewan yang bisa menggigit ,Hinata. Katak kan ompong." Bocah itu masih bersikeras.

" Tapi aku takut, Naruto-kun. Ayo pulang saja, sudah sore, nanti Kaa-san marah."

"Baiklah." Akhirnya bocah laki-laki itu mengalah, dan memilih mengikuti keinginan temannya.

Keduanya melangkahkan kaki kecil mereka menuju rumah yang letaknya tidak jauh dari taman kompleks perumahan Konoha Residence. Matahari mulai menebarkan cahaya jingga yang menyinari jalan yang mereka lalui.

Tiba-tiba, bocah laki-laki itu menggenggam tangan gadis cilik di sebelahnya.

"Eh…" Hinata menatap heran anak laki-laki disampingnya.

"Kenapa?"

"Kenapa Naruto-kun gandeng aku?" Tanya Hinata dengan muka polos.

"Kenapa nggak boleh, Hina-chan?"

"Tapi kan kita tidak sedang menyebrang jalan, Naruto-kun. Nggak usah gandeng aku." Hinata masih dengan wajah polosnya.

" Aku kan pengen gandeng kamu. Tadi di taman ada kakak- kakak yang nggak lagi nyebrang tapi gandengan tangan. Aku kan pengen gandeng Hina-chan yang cantik." Kata Naruto sambil terus mengandeng jemari kecil di sisinya.

"eh… tapi Hina juga mau digandeng Naruto yang tampan." Pipi gadis cilik itu bersemu semakin merah.

Kedua bocah cilik itu tersenyum sambil terus bergandengan tangan. Melewati gang demi gang menuju rumah keduanya, mereka mengobrolkan hal-hal yang dilakukan ketika di taman tadi. Akhirnya sampai juga mereka di depan rumah Hinata.

Di depan rumah Hinata terlihat Hikari, ibu Hinata sedang menenangkan Hanabi, adik kecil Hinata yang berusia 3 tahun yang sedang menangis menjadi-jadi.

"Tadaima, Kaa-san." Kata Hinata sambil tersenyum.

Tiba-tiba Hanabi melompat dari gendongan ibunya dan memeluk Hinata sambil tetap menangin.

"Nee-chan Anabi mau itut, napa ndak tulang-tulang." Kata Hanabi sambil menghapus air matanya.

"Gomen ne, Hanabi. Tadi Nee-Chan liat kodok makanya pulangnya lama." Hinata mengelus rambut adik kecilnya.

"Naruto, terima kasih sudah menjaga Hinata." Kata Hikari pada Naruto yang masih berdiri di depan teras rumah.

"Iya, tante. Aku kan Superhero, Dattebayou." Kata Bocah lelaki itu sambil tersenyum lebar.

"Ya sudah, Naruto pulang saja, nanti mama Kushina khawatir loh."

" Iya tante. Da dah Hinata-Chan, Hanabi- Chan jangan nangis yah." Kata Naruto sambil saling melambai kepada dua gadis cilik itu.

………………….Haruno Aozora : Quenchless……………………

Siang yang cukup terik di musim semi. Anak – anak TK Konoha Ceria sedang menikmati bekal makan siang mereka dengan bahagia, diselingi dengan gelak tawa.

"Ne.. Hinata, Aku mau pindah rumah." Kata Naruto dengan muka yang murung.

"Kenapa?" Hinata lantas menghentikan makannya dan menatap Naruto dengan wajah bingung.

"Kakek aku yang di Iwa sakit, makanya Papa disuruh kerja di sana."

"Kalo sakit kan tinggal di bawa ke rumah sakit, Naruto. Trus kan papah kamu udah kerja di Konoha." Kini Hinata ikut murung.

"Aku juga nggak tau Hina-Chan. Mama bilang, kalo kakek nggak berangkat kerja, papa yang disuruh kerja di Iwa." Naruto masih menatap Hinata.

"Kenapa? Tapi aku nggak mau Naruto-kun pergi. Kenapa nggak tinggal sama aku? Biar tante Kushina sama paman Minato yang pergi ke Iwa." Kini Hinata tampak hampir menangis.

"Aku sudah bilang begitu, Hina-Chan. Aku bilang sama mama, mau tinggal di Konoha sama bibi Hikari aja, tapi mama bilang aku harus ikut." Raut frustasi kini terlihat di wajah bocah laki-laki itu.

Keduanya terdiam. Tidak bermaksud menghabiskan makan siangnya. Sejujurnya Naruto tidak ingin berpisah dengan Hinata, begitu pula dengan Hinata, dia tidak ingin ditinggal oleh Naruto. Tapi, apa daya jika memang takdir harus berjalan seperti itu.

……………….. Haruno Aozora : Quenchless ………………….

Hinata memasuki rumah dengan tergesa-gesa. Bahkan dia tidak meletakkan tas sekolahnya di kamarnya dan langsung mencari ibunya.

"Kaa-san……" Gadis cilik itu memeluk ibunya dari belakang yang sedang memasak di dapur.

"Kenapa Hina-Chan?" Hikari langsung berjongkok di depan putri kecilnya.

" Naruto-kun akan pindah, kenapa dia nggak tinggal sama kita, aja." Hinata masih menangis.

"Hinata nggak boleh begitu, Naruto kan harus ikut sama mama dan papanya. Tadi tante Kushina kesini, katanya papanya tante Kushina sakit, jadi Naruto harus pindah."

"Huwa…. Kenapa Kaa-chan….. hu… hu.. hu.." Hinata menangis meraung-raung.

"Tidak apa-apa, sayang. Nanti kalau kakeknya Naruto sudah sembuh, pasti Naruto akan pulang ke sini." Hikari mendekap tubuh mungil putrinya.

Yah, Kushina dan Hikari sudah sepakat untuk mengatakan jika suatu saat nanti Tuan Uzumaki akan cepat sembuh. Hal itu dilakukannya agar kedua anak mereka mau dipisahkan. Padahal penyakit stroke yang di derita tuan Uzumaki bukanlah seringan penyakit Batuk yang akan membaik dalam 2 minggu.

……………………. Haruno Aozora : Quenchless …………………...

Esok hari yang cerah di kota Konoha, mentari musim semi memancarkan cahaya lembut berpadu dengan angina yang berhembus ringan. Di depan rumah keluarga Namikaze, terlihat Keluarga Hyuuga tengah saling berpamitan dan mengantarkan kepindahan Keluarga itu, tak lupa dengan Hinata.

"Hikari, Hiashi, Kami pergi dulu." Kata minato sambil menyalami sapangan suami istri itu.

"Iya, kalian berhati-hatilah." Hiashi memeluk Minato, teman sejak SMA nya itu.

"Hina-Chan, mama bilang kakek akan cepat sembuh kalau mama yang merawat, nanti kalau kakek sudah sembuh aku akan pulang lagi, nanti kita main. Hina-chan nggak boleh nangis." Kata Naruto seraya menggenggam kedua tangan gadis yang berdiri di depannya.

Orang tua dari kedua anak tersebut hanya dapat menyaksikan perpisahan mengharukan dari persahabatan kedua anak mereka.

"Iya Naruto-kun. Aku nggak nangis lagi. Aku nunggu Naruto-kun. Jadi Naruto cepet pulang yah." Hinata mengeratkan genggaman tangannya pada Naruto.

"Iya, aku nanti pulangnya cepeeeeeeet banget. Nanti kita bisa nonton Festifal Hanabi bareng loh. Nanti aku belikan Hina-chan permen apel yang banya. Aku janji." Naruto mengacungkan jari kelingkingnya yang dibalas Hinata dengan mengeratkan jalinan jari kelingkingnya.

"Um… nanti kita mancing ikan juga, yah Naruto –kun." Hinata tersenyum.

"Ayo sayang, masuk mobil. Nanti kita terlambat loh." Kushina mengingatkan putra semata wayangnya.

"Iya, mama. Hinata jaga diri baik-baik yah, aku pergi dulu." Naruto memeluk sekilas Hinata sebelum masuk ke mobil.

Naruto yang duduk di jok belakang mobil bersama dengan ibunya membuka kaca jendela mobil dan berteriak pada Hinata yang tengan memeluk kaki ayahnya.

" Hina-chan, Musim panas nanti kita nonton Hanabi bareng-bareng yah." Teriak Naruto.

"Iya Naruto-kun." Hinata tersenyum.

Senyum yang entah mengapa membuat Naruto ikut tersenyum. Senyuman Hinata yang mengurangi beban rasa bersalah di hati Naruto. Senyum yang melepas kepergian Naruto dengan tulus.

Mobil keluarga Hyuuga melaju pergi meninggalkan jalanan kompleks perumahan itu. Hinata memenuhi janjinya pada Naruto, dia tidak menangis. Dia tahu bahwa Naruto akan memenuhi janjinya, Dia akan pulang musim panas nanti, untuk menonton festival Hanabi bersama. Maka, Hinata akan dengan sabra menati kepulangan Naruto.

…………. TO BE CONTINUE………………

Yuhuy….. Minna-San, Chapter depan sudah bukan flashback lagi loh. Jadi mohon dukungannya yah, biar Author semangat buat update cepet-cepet. Review nya pleeeeeeeeaaaaaaaaaaaase!