Disclaimer Naruto sejujurnya milik Kishimoto-sensei
Tapi "Quenchless" milik saya pribadi
Rated : T, jika ada perubahan pasti akan saya cantumkan pada setiap chapter.
Warning : Kesamaan ide (maybe) , OOC, Alternative universe
" sesungguhnya saya adalah orang yang hobi menulis, namun baru kali ini memiliki keberanian untuk mempublikasikan karya saya di dunia maya. Jadi , saya mengharapkan dukungannya dari pembaca"
so , RnR please……. –
Chapter 2 : Kini, dan Segala Sepi
Pagi yang biasa di awal musim panas, udara masih lembab bercampur dengan suasana musim hujan yang masih tersisa. Nuansa musim semi yang penuh dengan sakura, perpisahan anak sekolah maupun tahun ajaran baru, satu tahun lagi telah terlewati. Yah, setidaknya itu yang ada di pikiran salah seorang gadis di kota Konoha.
Di sebuah rumah di Kompleks perumahan Konoha Residence, tepatnya di meja makan, duduk lah ke 4 orang yang menanti sarapan, dengan seorang wanita dewasa berapron yang tengah mengangkat panci berisi sup Kental.
"Wuihh… ada selebaran apa nih?" Tanya gadis termuda di ruangan itu.
"Penguman festival musim panas nanti. Aku dan teman-teman kampus juga ikut partisipasi sebagai panitia pembantu di acara matsuri nanti." Kata Neji, Pria muda akhir Sembilan belas tahunan.
"Bagus itu Neji, Ji-san senang kamu sudah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan disini." Kata Hiasi, tetap dengan raut wajah datar meskipun tersirat kebahagiaan pada nada suaranya.
"Wah, tidak terasa yah musim panas tahun ini cepat sekali datangnya." Kata Hanabi dengan tatapan mata menggoda pada kakaknya yang sedang duduk tenang sambil meminum susu coklat.
"Memangnya kapan festivalnya." Hikari datang sambil membawa semangkuk besar sup.
"Festival Tanabata diadakan tanggal 7 Juli, dilanjut Festival kembang api di pertengahan agustus. Tanggalnya sih belom pasti, kata ketua panitianya nunggu musim hujan agak reda." Kata Neji sambil menyendok sup yang masih mengepulkan asap.
Sarapan berlangsung dengan hening. Semua orang terlihat begitu bahagia menikmati sup yang terasa menghangatkan badan di tengah lembabnya udara musim hujan. Tak terkecuali dengan Neji, pemuda yang 6 bulan lalu kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan yang tragis. Maka akhirnya dia tinggal dengan keluarga kembaran ayahnya, satu-saunya kerabat dekat yang ia miliki.
"Ah.. Aku selesai." Kata Hanabi sambil meletakkan mangkuknya di tempat cuci piring.
Tak berapa lama, anggota keluarga yang lain pun tampak telah menyelesaikan sarapannya dan bergegas untuk berpergian ke tujuannya masing masing.
"Jangan lupa bawa payung, ramalan cuacanya nanti siang sampai sore hujan loh." Hikari berteriak pada anak-anaknya dan suaminya.
Ayah Hinata yang paling dekat dengan pintu langsung menyambar payung transparant yang diletakkan di guci samping rak sepatu. Mendengar teriakan Hikari, Hinata, Neji dan Hanabi langsung berlari menuju guci itu untuk…
"Yes. Aku dapet yang Biru." Kata Hanabi gembira.
"Okelah, polkadot pink." Hinata tersenyum meledek kearah Neji.
"Oh Shit." Kata Neji sambil menggenggam sebuah payung warna hijau.
Asal kalian tahu, payung yang sekarang digenggam Neji adalah payung yang dibelinya sendiri 2 bulan lalu sebagai oleh-oleh ketika dirinya berlibur Ke Disney Land Kirigakure. Waktu itu dia memilih payung paling norak berbentuk keroppi lengkap dengan telinga kodok dan lidah yang menjulur diatasnya. Niatnya adalah untuk mempermalukan siapapun yang memakainya, entah itu Hinata maupun Hanabi. Dan mulai saat itu berebut payung antar anggota keluarga setelah menyaksikan berita ramalan cuaca adalah hal yang selalu di lakukan keluarga itu. Yang paling parah adalah ketika Hiashi terpaksa membawa payung nista itu ke kantor.
"Ha..ha..ha.. Kasian banget sih, Neji-kyun nya akoeh.." Kata Hanabi sambil menoel jahil pipi Neji, sementara Hinata hanya terkikik geli.
"Ketawa aja terus, Asal kalian tahu, pesona pangeran kampus tidak akan luntur hanya karena memakai payung bodoh ini." Kata Neji sambil berlalu pergi
"Sok Kegantengan." Teriak kedua kakak beradik itu sambil berlari menyusul Neji yang siap dengan kemurkaannya.
……Haruno Aozora : Quenchless ……
Hinata memasuki ruang kelas dan menyadari bahwa dirinya berangkat terlalu pagi. Indikatornya adalah ketika setengah bangku kelas masih kosong dan Shikamaru terlihat melanjutkan tidurnya dipojokan kelas. Setelah beberapa saat memutar bola matanya mengitari kelas, akhirnya Hinata menemukan Ini, Sakura dan Tenten yang sedang duduk berhadapan, entah menggosipkan apa.
"Ohayou." Kata Hinata.
"Oha Hina-Chan." Kata Sakura sambil melambaikan tangan. Temanya yang lain hanya tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Eh.. eh, tau nggak Hin, katanya Unlimited Tears mau ngadain audisi buat cari vokalis baru." Ino membuka dengan bibirnya yang setajam kapak.
"Eh… Kata siapa?" Tanya Hinata sambil menopangkan dagu.
" Kemarin, waktu aku lagi piket beresin ruang paduan suara, aku nggak sengaja denger Shikamaru ngomong gitu ke Sai pas lagi lewat mau ke Studio musik gitu." Kata Ino.
"Oh… wajar sih, kan Nagato-senpai udah lulus, jadi mereka pantes lah buat cari gantinya." Kata Hinata sambil mengangguk.
"Eh, Kira-kira kriteria vokalis yang dipilih Shikamaru itu yang gimana yah.." Kata Ten-ten dengan wajah sedikit menerawang.
"Yang pastinya selain suaranya bagus, yah harus punya muka yang UT-able lah." Kata Ino.
"Hah, emang muka yang UT able itu yang kayak gimana, Pig?" Sakura terbengong.
"Yah, kayak Nagato-senpai, Sai, ato Sasuke, dong ." Kata Ino dengan bangga.
"Emang muka mereka kenapa?" Kali ini Hinata yang keliatan Oon banget.
"Ih, nggak ngerti banget sih kalian. Mereka itu tipe cowok yang yang mukanya TTB, Tampan-Tampan Bajingan." Kata Ino yang entah mengapa terlihat memancarkan kekaguman.
"lha… si Ino." Kata Ten-ten sambil memutar bola matanya dengan bosan.
"Trus-trus Shikamaru itu tipe muka yang gimana?" Sakura terlihat sedikit antusias.
"TTI dong."
"Apaan tuh TTI?"
"Tampan-tampan Idaman."
…… Haruno Aozora : Quenchless ……
Matahari mulai terbenam ketika hujan turun dengan intensitas yang sedang. Hinata keluar dari gedung sekolah dengan payung pink polkadot.
"Woy, tumben bukan paying ijo norak yang itu." Kata Ten-ten sambil nyengir.
"Iya nih, payungnya dipake sama kak Neji." Hinata tersenyum sambil menggoda Ten-ten.
"Eh, tega yah kamu,Hin. Masa sepupu kamu yang ganteng itu disiksa pakai payung senorak itu sih."
"Biarin." Kata Hinata sambil menatap muka Ten-ten yang merona.
"Ya udah, aku duluan yah." Kata Ten-ten sambil berlalu setelah melewati gerbang sekolah.
Hinata terus berjalan sambil melihat ke sekeliling trotoar maupun pekarangan rumah yang ia lewati ,disana terdapat bunga Ajisai yang tumbuh dengan indah. Entah mengapa dia merasakan ada ikatan tersendiri dengan bunga Ajisai. Yah, bunga yang tetap tumbuh indsh di tengah musim hujan yang tidak diharapkan kehadirannya oleh siapapun.
Hinata membenci hujan. Mungkin lebih tepatnya dia membenci dirinya sendiri yang berubah menjadi melankolis ketika hujan turun. Entah mengapa selain menghidupkan pepohonan yang kering, hujan juga mampu membangkitkan kembali kenangan yang terpendam.
Hinata berada dua blok sebelum sampai ke rumahnya. Dia menatap sebuah rumah yang selalu ditatapnya selama 12 tahun terakhir. Yah, rumah itu. Rumah mewah yang hanya sesekali didatangi para maid yang bertugas membersihkan rumah yang ditinggalkan oleh pemiliknya itu.
Hening , Hinata pun tidak berniat merusak keheningan itu. Hujan memanglah turun, tapi dia sedang memakai payung. Seharusnya dia tetap kering, tapi nyatanya pipinya basah. Basah akan air mata.
Entah mengapa Hinata tidak pernah bisa melupakan seseorang yang mukin sudah melupakannya. Setiap hari ia menanti, setiap perayaan musim panas Hinata selalu berharap bahwa seseorang yang amat dinantikannya akan kembali, namun nyatanya 11 Hanabi Matsuri telah terlewati, namun orang yang dinanti tidak akan kembali.
"Naruto, minggu depan Tanabata kedua belas yang aku lewati sendiri. Sampai kapan aku sanggup menantimu." Kata Hinata pada dirinya sendiri.
Hinata menatap rumah mewah itu untuk terakhir kali sebelum melanjutkan perjalanan. Dengan sensasi yang sama seperti setiap kali rumah keluarga Namikaze muncul dihadapannya. Yah, sensasi ditikam belati yang bernama Janji.
Di jalan yang penuh kesedihan ini
Aku berjalan seorang diri
Dalam hati ini, diriku tersesat
Rasa sayang yang tak seorang pun tahu
……Haruno Aozora : Quenchless ……
Yosh, chapter ke 2 udah selesai. Ada pergantian sinopsis cerita juga nih, buat menarik minat readers sekalian. Maaf kalo masih banyak kekurangannya, ato feelnya belom dapet, readers-san bisa review dan akan author terima dengan lapang dada.
Yoroshiku onegai shimasu………….
Nb: Ada yang bias nebak nggak itu di akhir cuplikan lagu apa ???
