Disclaimer Naruto sejujurnya milik Kishimoto-sensei
Tapi "Quenchless" milik saya pribadi
Rated : T, jika ada perubahan pasti akan saya cantumkan pada setiap chapter.
Warning : Kesamaan ide (maybe) , OOC, Alternative universe
" sesungguhnya saya adalah orang yang hobi menulis, namun baru kali ini memiliki keberanian untuk mempublikasikan karya saya di dunia maya. Jadi , saya mengharapkan dukungannya dari pembaca"
……. Chapter Sebelumnya……
Hinata berada dua blok sebelum sampai ke rumahnya. Dia menatap sebuah rumah yang selalu ditatapnya selama 12 tahun terakhir. Yah, rumah itu. Rumah mewah yang hanya sesekali didatangi para maid yang bertugas membersihkan rumah yang ditinggalkan oleh pemiliknya itu.
Hening , Hinata pun tidak berniat merusak keheningan itu. Hujan memanglah turun, tapi dia sedang memakai payung. Seharusnya dia tetap kering, tapi nyatanya pipinya basah. Basah akan air mata.
Entah mengapa Hinata tidak pernah bisa melupakan seseorang yang mukin sudah melupakannya. Setiap hari ia menanti, setiap perayaan musim panas Hinata selalu berharap bahwa seseorang yang amat dinantikannya akan kembali, namun nyatanya 11 Hanabi Matsuri telah terlewati, namun orang yang dinanti tidak akan kembali.
"Naruto, minggu depan Tanabata kedua belas yang aku lewati sendiri. Sampai kapan aku sanggup menantimu." Kata Hinata pada dirinya sendiri.
Hinata menatap rumah mewah itu untuk terakhir kali sebelum melanjutkan perjalanan. Dengan sensasi yang sama seperti setiap kali rumah keluarga Namikaze muncul dihadapannya. Yah, sensasi ditikam belati yang bernama Janji.
…… Haruno Aozora : Quenchless ……
Chapter 3 : Kejutan
Hujan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Hinata memasuki rumahnya dan melepaskan alas kaki, sementara payung yang tadi dia gunakan telah terlipat rapi dan di letakkan di guci. Dia melihat ada satu payung lagi, yang artinya adiknya yang Maha cerewet itu pasti sudah pulang.
Bukan hal yang baik memang, karena kecerewetan Hanabi dan setiap mood buruk yang dialami oleh Hinata tidak pernah berjodoh. Hinata selalu ingin sendiri, sementara Hanabi yang kadar kepo-nya melebihi ketidakpekaannya selalu merasa perlu menanyakan mengapa Hinata pulang dengan keadaan lebih diam dari biasanya dan terkadang juga dengan sisa-sisa air mata yang belum mengering.
Gadis itu memililih untuk langsung menaiki tangga ke lantai dua. Menutup pintu dan membanting tubuhnya ke kasur. Rutinitas malam minggu yang biasa dilakukan oleh para penyandang gelar "Hopeless Romantic" yah, benar menyesali masa yang telah berdebu dan menangisi seseorang yang telah berlalu.
Hinata tidak pernah mengerti, mengapa cinta masa kecilnya yang sekarang entah berada dimana masih tergambar jelas di matanya. Bertahun-tahun telah berlalu, namun hatinya tetap berada dalam pusaran masa silam. Orang yang masih berada dalam kungkungan kenangan, pasti paham mengenai perasaan itu.
"Naruto-kun, lucu yah aku. Bodoh ,polos dan dengan begitu menyedihkannya masih mengharapkanmu. Aku terus percaya bahwa suatu saat nanti, kamu akan kembali. Aku percaya, entah kapan aku pasti akan bertemu dengan mu lagi." Kata Hinata dalam gumamannya.
Hinata mencoba menutup matanya sejenak, hingga..
"Nee-chan, makan malam!" teriakan Hanabi menggelegar.
" Anak itu." Hinata menghela nafas kasar.
Dia membuka pintu kamarnya dengan kasar, dan menemukan Hanabi yang sedang berdiri di depan pintu. Yah , lengkap dengan baju tidur kebesarannya. Iya, kebesaran dalam makna yang sesungguhnya.
"Nggak usah teriak-teriak kali, Nee-chan kan nggak budeg."
"Abisnya, Nee-chan kalo lagi malem mingguan mendadak diem kayak orang mati sih." Hanabi nyengir kuda.
Mereka berdua menuruni tangga menuju meja makan yang ada di lantai bawah. Di sana terdapat Neji, Hiashi dan Hikari yang sedang menunggu.
"Hanabi, bisa nggak sih, kamu nggak usah pake daster norak itu lagi." Kata Neji dengan kalimat yang nyaris disalin persis setiap malam minggu dalam 6 bulan terakhir.
"yee. Kenapa? Suka-suka Hanabi lah." Hanabi mengambil tempat duduk dihadapan ayahnya, tepat disisi kiri Hinata yang duduk diantar Hanabi dan Neji.
"sudah, makan dulu. Berantemnya dilanjutin nanti." Kata Hikari sambil menyendokkan nasi ke dalam 5 mangkuk kecil.
……. Haruno Aozora : Quenchless ……..
Semua orang di rumah itu hampir memiliki kebiasaan aneh yang pasti akan dilakukan pada malam minggu. Seperti Hanabi yang hobi memakai baju multimodel yang jika dilihat sekilas jadi mirip daster, saking besar ukurannya. Namun, jika diperhatikan dengan seksama, maka sebenarnya baju itu bermodel baby doll.
Hinata juga punya kebiasaan yang sering dilakukan ketika malam minggu.
Memandangi langit malam yang berbintang dari halaman berumput sambil menggelar tikar dan mendengarkan lagu-lagu galau. Benar-benar tipe gadis hopeless romantic berlabel jomblo abadi.
Di tengah kekhusyukannya , aktivitas Hinata kembali diganggu oleh adik " kesayangannya". Hanabi yang membawa kripik kentang duduk disisi kepala Hinata yang sedang berbaring.
"Nee-chan, jangan begitu terus." Kata Hanabi dengan nada bicara yang lebih serius dari biasanya.
"Begitu, gimana?" Hinata mengubah posisinya menjadi duduk di sisi Hanabi tak lupa mencomot kripik kentang yang ada di pangkuan adiknya.
"Nee-chan ku kan cantik, jangan berlagak kayak orang nggak laku gitu, ah." Kata Hanabi dengan muka tanpa dosa.
"Uhuk.. Uhuk.." Hinata tersedak kripik kentang yang belum sempurna dikunyahnya.
"Kamu tuh, yah. Sama kaka sendiri ngomongnya nggak sopan gitu." Hinata memasang muka sebal.
Hening sesaat, hanya ada suara serangga malam yang terdengar dari kejauhan. Kedua kakak beradik itu larut dalam pikirannya masing-masing. Langit malam yang ada di depan mata itu seakan lebih menarik dari pada pembicaraan apapun.
"Nee- chan."
"Ya, Hanabi?"
"Aku bahkan sudah lupa mukanya Naruto-nii , kenapa sampai sekarang Nee-chan masih yakin kalo nanti dia akan kembali." Kata Hanabi dengan lirih.
" Aku tidak tahu. Bahkan aku tidak yakin……. Lagi." Hinata tetap memandang lurus ke depan.
"Terus kenapa Nee-chan masih sering ngelamun malem-malem gini. Apa sih enaknya ngeliatin langit? Kenapa nggak coba cari gebetan baru ? " Hanabi menatap Hinata dengan tatapan ingin tahu.
"Setiap aku menetap langit, entah mengapa aku merasa bahwa Naruto, entah di suatu tempat di belahan bumi yang lain, juga melihat langit yang sama. Satu langit yang menghubungkan kita." Kata Hinata sambil tersenyum.
"hmm… udah lama banget yah Nee-chan. Naruto-Nii tidak memberi kabar." Kata Hanabi yang membaringkan tubuhnya.
"Iya, terakhir dia menulis surat ketika kami masih kelas 6." Hinata ikut berbaring di sisi adiknya.
"Mungkin saja, setelah masuk SMP, Naruto-nii sudah dapat pacar, terus lupa sama Neee-chan." Kata Hanabi.
"Mungkin saja." Jawab Hinata lirih, meskipun dia tidak setuju dengan pemikiran tersebut.
Keduanya kembali terdiam. Kali ini benar menyadari bahwa langit malam begitu indah. Bintang-bintang terlihat berkilauan , dan bulan sabit terlihat tegar sendirian. Angin malam yang berhembus lembut memperindah suasana. Satu kata yang tepat untuk menggambarkannya. Tenang .
"Hanabi, Nee-chan rasa, Nee-chan ingin move on saja." Hinata mengubah posisi berbaringnya menjadi menghadap Hanabi.
"Eh… kenapa?" Hanabi memasang wajah heran.
"sebenarnya….."
……. Flashback on …….
Matahari mulai terbenam ketika hujan turun dengan intensitas yang sedang. Hinata keluar dari gedung sekolah dengan payung pink polkadot.
"Woy, tumben bukan paying ijo norak yang itu." Kata Ten-ten sambil nyengir.
"Iya nih, payungnya dipake sama kak Neji." Hinata tersenyum sambil menggoda Ten-ten.
"Eh, tega yah kamu,Hin. Masa sepupu kamu yang ganteng itu disiksa pakai payung senorak itu sih."
"Biarin." Kata Hinata sambil menatap muka Ten-ten yang merona.
"Ya udah, aku duluan yah." Kata Ten-ten sambil berlalu setelah melewati gerbang sekolah.
"Hinata….." Seseorang berteriak dari balik punggung Hinata. Dia menoleh.
"Toneri – senpai?" Hinata menatap senior yang juga merupakan ketua osis di sekolahnya dengan tatapan heran.
Kenapa ketua osis itu mendatangi Hinata yang pada dasarnya bukan orang penting di sekolah itu.
" Hinata Hyuuga, kelas 11-C, anggota klub fotografi."
"Betul, senpai." Hinata heran dan kemudian dia melihat Toneri mulai mengatur nafasnya yang ngos-ngosan akibat berlari.
"Sebenarnya sudah lama, sudah sejak lama aku memperhatikan gadis yang sering berada di taman kota setiap minggu pagi sambil menenteng kamera."
Kata Toneri sambil tersenyum manis.
'Apa senpai ingin minta tolong padaku untuk memotret yah?' pikir Hinata dalam hati, namun dia tetap diam, memperhatikan lawan bicaranya.
"Sudah dua tahun, Hinata. Sejak aku kelas 10. Aku senang sekali karena kamu ternyata sekolah di sini, setahun kemudian." Kata Toneri.
Toneri menghela nafas panjang. " Hinata, Aku menyukaimu. Maukah kamu menjadi pacarku?"
"Ehhhhh….." Dan Hinata berteriak kaget dengan nada yang bukan Hinata sekali, dan hanya bisa dilakukan oleh Ino maupun sakura.
………… Flashback end …………
"Apa?" Itu Hanabi yang berteriak kaget.
Hinata menyembunyikan mukanya yang memerah dibalik kedua telapak tangannya.
"Toneri-senpai yang tampan itu?"
Hinata mengangguk.
"Yang ketua OSIS?"
Hinata mengangguk, kali ini dengan lebih semangat.
"Yang waktu bunkasai tahun lalu di sekolahnya Nee-chan, dia ngasih sambutan pembukaan. Yang pidatonya menginsipirasi sekali, Yang pakai Hakama warna hitam, yang tampannya luar biasa itu?"
"Iya Hanabi, Iya………" Hinata mengacak rambutnya sendiri dengan gusar.
"Terus, Nee-chan bilang apa?" gadis 13 tahun itu terlihat begitu penasaran.
" Aku belum jawab. Aku bilang aku butuh waktu untuk berfikir, besok jam 10 kami janji akan ketemuan di taman kota, disitu aku akan jawab perasaan Toneri-senpai." Kata Hinata.
"Terima aja Nee-chan. Toneri-senpai kan tampan sekali, baik, ketua OSIS, dari pada Nee-chan jadi jomblo madesu abadi." Kata Hanabi.
"Iya sih, Nee-chan emang rencananya gitu. Mungkin harusnya lebih membuka hati, kalau kita terlalu lama memimpikan bintang yang jauh di sana, terkadang kita lupa, kalau sebenarnya ada tambang berlian di bawah kaki kita." Kata Hinata.
"Jadi, mulai sekarang aku akan melupakan Naruto, dan belajar mencintai Toneri-senpai."
…. Haruno Aozora : Quenchless ….
Minggu pagi yang cerah, pukul 9 pagi di dalam kamar seorang gadis Hyuuga. Penghuninya sedang mematut diri di depan cermin, kegiatan yang sudah dilakukannya selama 10 menit. Akhirnya gadis itu menghela nafas dan mengambil tas sampir bahu yang tergantung di sisi sebelah lemari pakaiannya.
Gadis itu melihat jarum jam yang telah menunjukkan tepat pukul 9. Dia membuka pintu kamarnya dan menuruni tangga. Di ruang tamu ada kepala keluarga Hyuuga yang tengah membaca Koran ditemani dengan teh rendah gula favoritnya. Neji juga terlihat duduk lesehan di lantai dengan laptop yang menyala dan ekspresi muka frustasi, pertanda pria muda itu tengah mengerjakan tugas kuliahnya.
" Tou-chan, Hina pergi dulu, yah." Kata Hinata sambil meremas tali tasnya.
"Tumben, minggu pagi kamu udah cantik, emang mau kemana?" Hiashi menurunkan Koran yang sedari tadi menutupi wajahnya.
"Mau ketemu sama teman." Kata Hinata.
"Oh.. ya sudah, hati-hati." Kata Hiashi.
"Mau aku antar?" Kata Neji sambil tetap berkutat dengan laptopnya.
"Nggak usah, Neji-nii kerjakan saja tugasnya. Hina naik bus saja." Kata Hinata.
"Ittekimasu."
"Itterashai."
……. Haruno Aozora : Quenchless ……..
10 menit Hinata menuggu bus di halte dekat dengan kompleks perumahannya. Kini gadis itu tengah berada pada bangku deret kedua dari belakang , menyenderkan punggungnya dengan nyaman. Namun tetap saja hatinya tidak bisa menjadi nyaman. Ini pengalaman pertamanya menghadapi masalah percintaan, jika masalahnya dengan Naruto tidak masuk dalam hitungan.
5 menit kemudian bus berhenti di halte.
Hinata hanya tinggal berjalan selama 5 menit untuk sampai di taman kota Konoha. Gadis itu melihat arloji yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Pukul 9.25, setidaknya dia punya waktu untuk mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan Toneri.
Taman kota Konoha dipenuhi dengan bunga-bunga, meskipun pepohonan sakura tidak dihasi dengan kelopak sakura, karena memang musim sakura telah lewat dan sebentar lagi akan memasuki musim panas. Gadis itu berjalan dan tidak sengaja melihat siluet pemuda berambut pirang terang kebiruan yang duduk di salah satu kursi taman di bawah pohon sakura.
"Toneri –senpai." Panggil Hinata setelah berada di hadapan Toneri yang tengah menyenderkan punggungnya sambil memejamkan mata.
"Hinata-chan, sudah sampai? Sini duduk." Kata Toneri sambil menepuk sisi kursi di sebelahnya di tempat dimana seharusnya gadis itu duduk.
Hinata duduk dengan canggung. Jantungnya berdetak dengan ritme sedikit kurang normal. Gadis itu sedikit gugup.
"Toneri-senpai sudah datang dari tadi?" Tanya Hinata untuk memecah kehenngan diantara keduanya.
"Aku sangat gugup hari ini, jadi aku memutuskan untuk datang dulu, sambil mengamati kondisi. Tapi sepertinya kamu juga berpikiran serupa." Kata Toneri sambil tertawa yang terdengar sangat dipaksakan.
Kambali hening, keduanya seperti terjerembab dalam pemikirannya masing-masing. Hinata masih mengumpulkan keberaniannya, sementara Toneri masih menata kondisi hatinya, agar dia dapat menerima, jika ternyata Hinata memang tidak menerima cintanya.
Toneri menghela nafas panjang. " Jadi Hinata-chan, bagaimana? Maukah kamu menjadi pacarku?"
"iyasenpaiakumau." Kata Hinata dengan kecepatan bicara yang tidak wajar, sangking gugupnya gadis itu.
"Apa? Aku tidak paham." Kata Toneri dengan kedua alisnya yang naik.
"Aku mau jadi pacar Toneri-senpai." Muka Hinata merah padam. Sementara senyum melengkung di wajah pemuda di hadapannya.
"yotta!!! Aku lega sekali, Hinata-chan. Tadinya aku pikir kau akan menolak pernyataan cintaku yang mendadak ini." Kata Toneri sambil menggaruk kepala belakannya yang sebenarnya tidak gatal.
Hinata hanya tersenum menanggapi. Gadis itu tidak tau bagaimana menghadapi senpainya yang kini berstatus sebagai pacarnya itu.
"Yosh, karna sekarang kita sudah resmi berpacaran, bagaimana kalau kita melakukan kencan pertama?" Tanya Toneri sambil menatap Hinata yang masih malu-malu.
"Boleh, senpai."
"Hinata-chan ingin pergi kemana?" Toneri kembali bertanya, namun sekarang dengan nada yang jauh lebih penasaran.
"Etooo, bagaimana kalau kita pergi makan ramen saja, aku dengar di Ichiraku Ramen sedang membuka menu baru." Kata Hinata dengan mata berbinar-binar, Hinata memang diberi tahu Neji tentang hal ini 2 hari yang lalu, namun memang belum sempat mencoba menu baru itu.
"Wah, tidak aku sangka Hinata yang manis, dan lembut ini ternyata suka makan ramen." Kata Toneri dengan senyumnya yang biasa, selalu terlihat manis dan ramah.
"Memangnya kenapa?" Hinata dengan muka bingung yang menggemaskan di mata Toneri.
"Biasanya kan gadis-gadis lebih suka makanan yang manis-manis, Hinata-chan malah suka makan ramen. Ramen itu banyak kalorinya lho, nonti kalau gendut gimana?" Toneri berniat menggoda kekasihnya.
"Mou.. Senpai yamette yo!" Hinata menggembungkan pipinya yang memang sudah tembam karena kesal.
"ha.. ha.. ha… gomen gomen. Hinata-chan ternyata imut sekali kalau sedang marah."
Blush.. muka Hinata memerah sangking malunya. Pipinya kini sewarna dengan buah apel yang ranum. Hinata menutup mukanya dengan kedua telapak tangan.
"ha.. ha.. ha.. ternyata Hinata-chan lebih imut lagi kalau sedang malu." Toneri menertawakan wajah Hinata yang terlihat amat menggemaskan.
"Sudah dong senpai! Kita jadi ke Ichiraku ramen nggak,nih?" Kata Hinata dengan nada yang terdengar tidak nyaman.
" Ok boss! Kita berangkat sekarang." Kata Toneri sambil membuat gestur Hormat.
Mereka berdua kemudian berjalan menuju kedai ramen Ichiraku. Kedai itu memang berada di pusat kota, sehingga dari tempat mereka berdua tidak memerlukan waktu yang lama. Hanya berjalan kaki selama 10 menit saja, maka keduanya sudah sampai di tempat tujuan.
"Irasshaimase" kata seorang pelayan yang menyambut kedatangan mereka berdua.
"Kami pesan menu ramen yang terbaru 2 porsi." Kata Toneri dari tempat duduk yang telah mereka pilih.
"Baik, mohon tunggu sebentar." Dan pelayan itu pergi berlalu.
5 menit mereka berdua menunggu pesanan mereka dating. Mereka mengisinya dengan obrolan ringan seputar diri mereka masing-masing. Maklumlah karna sebelum berpacaran, mereka berdua belum mengenal secara mendalam. Hanya sekedar tahu nama saja. Walaupun khusus untuk Toneri, dia sering memperhatikan Kohainya itu, baik di sekolah, maupun ketika minggu pagi Hinata memotret di taman kota.
"eh.." seru gadis berambut indigo tersebut, setelah melihat menu yang terhidang di depannya.
"Terima kasih," kata Toneri secara singkat kepada pelayan tersebut yang kemudian berlalu.
"Ha..ha.. ha.. tidak sangka yah, Hinata-chan. Menu ramen terbaru ternyata ramen miso yang diberi tumpukan toping naruto." Kata Toneri.
'Naruto, semuanya Naruto?' Hinata bergumam dalam hati.
"Hinata-chan? Kenapa melamun? Itu ramennya tidak jadi dimakan?" Tanya Toneri yang sedikit khawatir dengan keadaan Hinata yang lama terdiam.
"Eh, tidak kok, senpai. Aku suka. Aku suka Naruto." Kata Hinata sambil memaksakan senyum, lalu menjejalkan sebuah Naruto ke dalam mulutnya.
……. Haruno Aozora : Quenchless ……..
Kencan pertama Hinata berlangsung dengan sukses. Walaupun indikatornya hanyalah Hinata yang merasa nyaman berbicara dengan Toneri. Dan seperti dugaan gadis beriris amnethys tersebut, Toneri memanglah seorang pria yang baik dan ramah. Dia mudah membuat percakapan dan mencairkan suasana.
Ia memandang arloji yang sudah menujukkan pukul 4 sore. Alasannya pulang sampai sesore ini karena seusai makan ramen tadi, Toneri mengajak Hinata berkeliling kebun anggrek tengah kota yang memang dikelola oleh keluarga Otsutsuki. Di sana Hinata tidak lupa untuk memotret anggrek yang cantik, juga kekasihnya yang tampan.
Gadis itu memandang langit senja yang sudah mulai menjjingga. Dia tersenyum, senyum yang dirasa paling tulus setelah 12 tahun terakhir yang dilaluinya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mulai sekarang dia akan berusaha mengenal Toneri lebih dalam. Dan secepatnya akan menyukai pria yang sangat halus dan senyumnya amat manis tersebut.
"Toneri-senpai… tampan sekali…" kata Hinata sambil terkikik geli dan pipi memerah akibat memikirkan senpai idola satu sekolah yang kini menjadi pacarnya.
Besok dia akan segera membicarakannya dengan Ino,Sakura dan Ten-ten. Mereka pasti akan iri dengan kejutan yang diterimanya hari ini. Berpacaran dengan ikemen paling populer di sekolahnya, ketua osis yang baik hati dan murah senyum. Hinata merasa bahwa dialah gadis paling beruntung di Konoha.
"Mungkin nanti aku akan punya banyak Haters dan dibully, Hmm.. tapi pasti Toneri-senpai akan melindungiku…. Ih.. kenapa aku jadi genit begini,sih." Kata Hinata sambil tersenyum bodoh.
Tidak terasa Hinata sudah sampai di depan pintu rumahnya. Gadis itu memasuki rumah dan melepas sepatunya. Agak penasaran mengapa ada sepatu yang jelas bukan milik anggota keluarganya yang lain.
'Mungkin ada tamu.' Gumam Hinata dalam hati.
"Ha..ha.. ha.. benarkah itu Hikari?" tawa seseorang yang terdengar dari arah ruang makan. Ternyata benar dugaannya, tamu itu adalah teman ibunya.
Gadis itu melangkah menuju ruang makan dan membuka pintu geser dengan malas-malasan. Niatnya untuk mengambil air putih di kulkas dan lalu naik ke kamarnya untuk menghayalkan kencan pertamanya.
"Tadaima, Kaa-chan." Kata Hinata lirih.
Grep.. seseorang wanita berlari dan memeluk Hinata dengan sangat erat.
"Huwa…. Hinata-chan. O Hisashiburi.. kamu sudah besar dan sangat cantik."
Ujar wanita itu tanpa ada niatan melepas pelukannya. Hinata mulai merasa sesak dan pandangannya terhalangi oleh rambut merah wanita tersebut.
"Bibi Kushina baru datang. Maaf yah Hina, Kaa-chan tidak memberi tahu lebih dulu. Tou-chan mu bilang lebih baik kepulangan keluarga Namikaze dirahasiakan saja, sebagai kejutan untuk Hina dan Hana." Kata Hikari tetap fokus pada masakan entah apapun itu.
'Tunggu? Bibi Kushina? Keluarga Namikaze? Itu artinya…..'
Dan dugaan Hinata ternyata benar. Setelah Kushina melepaskan pelukannya, Hinata dapat melihatnya. Rambut pirang itu, iris sebiru safir, tanda lahir di kedua pipi , hal-hal yang masih diingat oleh Hinata.
Dunia mendadak hening. Bahkan Hinata dapat mendengar aliran darahnya yang berdesir, atau detakkan jantungnya yang tidak pernah benar-benar dirasakannya selama 12 tahun terakhir. Mengapa waktu yang telah berlalu begitu lama kini terasa bagaikan baru kemarin. Layaknya hujan semalam yang menghapus kemarau setahun.
"Yo Hinata, Okaeri. Walaupun harunya aku yang bilang tadaima, sih ." Lelaki itu melambaikan tangan.
Tengah terduduk di kursi meja makan, sambil menatapnya. Pria itu, yang telah dirindukannya hampir setiap hari, selama 12 tahun. Kini ada di hadapannya.
Naruto..
Dia Pulang.
TBC
….. Haruno Aozora : Quenchless …..
Akhirnya … selesai juga Chapter ini. Mulai dari sini konflik sesungguhnya dari cerita Quenchless baru akan dimulai. Sebenernya Author sedikit kecewa dengan performa di dua chapter sebelumnya. Kenapa kesannya tulisan itu bener-bener nggak ada feelnya… dan untuk itu "Minna-san Gomen nasai……(Ojigi 90 derajat) "
Mulai dari sekarang, author akan lebih bekerja keras lagi. Untuk readers yang berkenan membaca quenchless, "mohon dukungannya untuk seterusnya…."
Jangan lupa lempar reviewnya……
Jaa na….
