Naruto © Masashi Kishimoto
High school DxD © Icchei Ishibumi
Birth Of Rogue Issue 1 & 2
#1
Sasaran sudah terlihat, dia mencoba menyerang seorang wanita malang. Kepalanku pada gagang busur panah menguat, lalu tangan kiriku sudah merenggangkan tali busur hingga maksimal dengan anak panah terfokus pada si Monster.
Saat monster itu mencoba menyergap, kulepaskan anak panah yang ditahan. Membiarkannya melesat dan menembus leher makhluk itu. Tubuhnya seketika roboh karena titik vital miliknya diserang.
"Syukurlah selesai! Ini sudah serangan ke tiga di Konoha city. Aku tidak boleh mengendurkan penjagaan. Kota ini adalah daerah kekuasaanku."
Sudah tiga tahun aku menjaga keamanan kota ini. Makhluk-makhluk aneh yang sering menyerang selalu berakhir dengan anak panahku. Kadang aku membunuh mereka dengan Knife dan Shortsword.
Kepolisian di kota ini tidak bisa mengatasi mereka. Berbagai cara sudah mereka lakukan untuk meredakan panik masyarakat. Namun serangan makhluk itu yang bertubi-tubi dan memakan korban. Membuat mereka tidak sanggup menanganganinya.
Aku langsung menuju TKP. Wanita yang baru kuselamatkan gemetar. Sorotnya begitu tajam seakan aku ingin membunuhnya.
"Tenang saja, kau sudah aman. Sekarang tinggalkan tempat ini biar aku yang menuntaskan." Ucapku
Dia mengangguk cepat dan bergegas pergi dari sini. Kuambil pisau kecil yang tersembunyi di pinggang. Melakukan sesuatu yang biasa kulakukan.
Makhluk seperti monster ini kadang meninggalkan sesuatu. Entah itu jam tangan, cincin, kalung atau apapun.
Ketika sibuk merogoh isi perutnya, tanganku meraih sesuatu. Segera kutarik dari sana, sepertinya ini hari keberuntungan atau kesialan.
Sebuah kalung dengan gantungan rantai emas dan bantulan berlian biru ada di tanganku. Aku meremasnya dengan perasaan senang dan juga sedih.
Senang karena aku tidak perlu memikirkan isi perutku selama beberapa lama. Sedih karena pemilik benda ini pasti sudah tiada.
"Semoga Tuhan menerima jiwamu. Maaf aku tidak bisa menyelamatkan dirimu." ucapku sambil air mata berlinang.
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 04.30 pagi. Ini sudah waktunya Ibadah Pagiku
"Sebaiknya, aku pergi dari sini. Sebelum ada yang-"
"Jangan bergerak! tetap di tempat dan angkat tangan. Black Hood!" ucap sebuah suara feminim.
"Ya Tuhan, aku lengah." gumamku.
Kuikuti instruksinya dan perlahan memutar tubuh ke arahnya. Kini seorang opsir wanita dengan rambut kuning diikat ekor kuda sedang menodongkan pistol ke arahku.
"Kau selalu meninggalkan korbanmu seperti itu, setidaknya tolong bawa mayatnya pergi menjauh. Meski secara bersyarat kau dibebaskan untuk berkeliaran menangani makhluk-makhluk ini."
Itu benar, Konoha city memberikanku wewenang untuk mengangani mereka. Tidak peduli prosedur seperti apa yang kuambil, aku tidak akan terjamah oleh hukum. Itu terjadi satu tahun yang lalu saat tragedy mengerikan terjadi yang disebut Nightmare.
Orang-orang begitu takut dan trauma keluar rumah di malam hari, karena ada sosok menyeramkan yang memburu mereka terutama gadis belia.
Aku yang biasa melakukan pekerjaan itu tanpa diketahui selama dua tahun, akhirnya muncul untuk memberantas mereka. Dari situ aku dikenal oleh polisi Konoha.
Aku juga meminta mereka agar tidak mengekspos keberadaanku. Karena akan berdampak pada kehidupan diriku sebagai pemuda biasa.
Mereka memberiku wewenang atau jaminan untuk memberantas makhluk aneh tersebut. Belakangan aku mengetahui kalau makhluk itu adalah Iblis liar setelah bertemu beberapa kali dengan sosok wanita berambut Crimson.
"Kau tenang saja, ketika sinar matahari datang mayat-mayat itu akan hancur." jawabku.
Dia menurunkan pistolnya. Meletakkan senjata itu di pinggang. Namun matanya terus menatap padaku.
"Apa aku sudah boleh pergi?"
"Hah, silakan saja. Ngomong-ngomong kabar dari orang yang disergap?"
"Aku sudah menyuruhnya pulang dan pergi. Maaf jika itu membuatmu kesal, hingga menodongkan pistol padaku, Opsir Ino!"
"Lupakan, aku hanya penasaran kenapa ada pemuda yang menyia-nyiakan hidupnya untuk memburu makhluk ini?" tanya Ino.
Mendengar ucapan bernada pertanyaan itu. Membuatku mengingat kejadian enam bulan lalu saat menghadapi seorang iblis berambut perak.
Dengan santainya dia mengatakan, kalau manusia adalah makhluk yang lemah. Tanganku mengepal ketika mengingat kejadian itu.
"Dalam pandangan dirimu itu memang bodoh, tapi bagiku yang menjalaninya selama tiga tahun. Pekerjaan ini adalah tujuan hidupku dan juga sebuah pembuktian." ucapku
"Hm aku tidak begitu mengerti, tapi apa yang coba kau buktikan?" tanya Ino lagi mengerutkan dahi.
"Hal itu tidak perlu kau tahu, aku permisi. Selamat malam, Opsir Ino!"
Aku langsung berbalik menyibakan jubahku dan pergi dari sini. Perjalanan menuju tempat persembunyian membutuhkan waktu 15 menit.
Aku langsung membersihkan diri dan menunaikan Ibadah Pagi. Setelah itu, aku merapikan peralatan dan memakan camilan. Ketika perut terisi aku memeriksa kembali kalung yang kudapat dari iblis liar itu.
Sebuah liontin berlian biru sebesar ibu jari dengan rantai emas. Jika dijual harganya cukup untuk membeli persediaan makan dan peralatan tempur baru.
"Sebaiknya nanti siang aku mmapir ke toko antik saja dan menjualnya." ucapku sambil menaruh kalung itu pada laci meja.
Selepas itu aku terlelap untuk mengisi tenaga yang terbuang. Meninggalkan segala kekalutan dan resah yang kuhadapi malam tadi.
#2
"Selalu datang dengan barang bagus, kau senantiasa mengejutkan pak tua ini. Uzumaki-san!"
Itu adalah tanggapan pria berambut putih dengan setelan abu-abu. Aku selalu dibantu masalah keuangan olehnya. Menjual benda yang kudapat dari iblis liar akan mengundang kecurigaan.
Karena itu, aku memilih menjualnya pada pria tua di depanku ini. Harga yang berbeda 10% sudah lebih dari cukup daripada aku dikira sebagai pencuri.
Meski kenyataan demikian, tapi aku juga punya semacam hal yang harus kujaga. Orang-orang sering menyebut hal itu sebagai integritas atau yang lebih ekstrim adalah idealisme.
Tapi aku lebih suka menyebutnya sebagai kamuflase sosial. Lebih tepatnya serigala berbulu domba. Pepatah itu begitu pas untuk menggambarkan sosok diriku.
Saat menjadi Black Hood aku adalah serigala yang tidak kenal ampun dan penuh muslihat. Tapi saat menjadi Uzumaki, aku adalah pemuda ramah dan sopan.
"Aku senang dengan pujian kecilmu, itu melegakan. Aku langsung pergi saja, pastikan kau mengirim uangnya ke rekening biasa.'
Aku berbalik saat menyampaikan itu. Melakukan basa-basi adalah hal yang paling tidak aku sukai. Aku lebih senang jika to the poin.
"Ah Baiklah, malam ini akan kirimkan!"
Aku mengangguk saat dia mengatakan itu. Sekarang waktunya pergi ke toko peralatan untuk membeli perlengkapan.
Jaraknya hanya 3 blok dari tempatku biasa menjual benda yang kudapat dari iblis liar. Barang berharga itu juga tidak selalu kudapat, hanya sekali atau dua kali dalam sebulan.
Tapi berkat itu aku bisa tetap hidup dan perlengkapan diriku juga terawat. Aku selalu berdoa pada Tuhan semoga mereka yang sudah mati dimakan iblis liar itu mendapat tempat yang layak di sisiNya.
Maafkan diriku, jika menggunakan milik kalian dengan cara seperti ini. Tapi berkat barang kalian, beberapa orang bisa terselamatkan.
Sebenarnya bisa saja aku meminta bayaran pada orang yang kuselamatkan atau para Polisi. Tapi itu akan membuat diriku tampak seperti pemeras dalam kesulitan orang lain.
Saat aku mendorong pintu. Bel yang tergantung dia atas pintu berbunyi. Sebuah cara kuno yang biasa digunakan oleh toko abad pertengahan.
Sang penjaga toko ini bernama Tenten. Dia sudah lama magang di tempat ini. Toko ini sepenuhnya milik keluarga Tokusatsu.
Mereka adalah keluarga yang menjual senjata-senjata primitif sejak beberapa generasi. Namun saat senjata api sudah merebak seperti jamur, toko ini sepi peminat.
Aku biasa datang untuk merawat senjata seperti sekarang ini. Saat melihat aku datang Tenten segera merubah wajahnya dari kecut menjadi senyum wanita resepsionis.
"Ah tidak perlu menerimaku seperti itu. Aku sudah melihat wajah kecutmu dari luar."
"Dasar tidak sopan! Aku melakukannya sebagai rasa hormat karena kau adalah pelanggan setia toko ini. Lagipula Tokusatsu Maeda sebagai pemilik toko juga memberikan arahan agar melayanimu dengan baik."
Maeda-san adalah generasi ke lima dari keluarga Tokusatsu. Dia pernah mengeluh soal tokonya yang kini sepi peminat karena orang-orang lebih menyukai senjata api.
'Apa mereka itu sudah melupakan sejarah, senjata yang kujual ini adalah penyelamat leluhur para manusia zaman dulu.' Itu adalah kata-kata yang dia ucapkan untuk menghilangkan kegalauannya.
Saat dia seperti itu aku hanya menjawab sambil tersenyum. 'Sebuah kehormatan bagiku, menggunakan senjata-senjata yang jadi penyelamat leluhur manusia.'
Kemudian kami akan tertawa dan sesekali Maeda memukul punggungku dengan cukup keras.
Pikiranku kembali dengan Tenten yang kini sedang menghela napas panjang.
"Jadi senyuman itu perintah bukan tulus dari hatimu. Pantas saja aura tempat ini jadi suram."
Tenten mendelik ketika aku secara terbuka mengejeknya. Tapi dia menghela napas lagi dan memangku dagunya dengan tangan kanan.
"Aku malas melakukan keributan. Lagipula senjata-senjata yang ada disini memang sudah ketinggalan zaman. Semua orang sudah beralih ke baju Anti peluru sebagai proteksi dan meninggalkan zirah berat serta ratai besi. Untuk pilihan senjata, sudah ada senjata api yang bisa membunuh dalam sekali serang jadi benda seperti shuriken atau panah adalah barang kuno."
Mendengar ucapan dirinya, entah kenapa diriku merasa seperti orang aneh. Itu karena aku menyukai senjata yang dijual disini. Jika disuruh mengatakan alasannya aku akan menjawab kalau senjata ini adalah leluhur dari semua senjata yang ada saat ini.
Para pemikir itu memang meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas dari senjata. Tapi mereka membuat sesuatu yag sangat penting dari penggunanya perlahan-lahan menghilang.
"Kau bilang tidak ingin melakukan keributan, tapi jawabanmu itu menusuk diriku yang mencintai senjata-senjata ini."
"Oh kalau begitu maaf, kurasa dirimu yang asli ada di zaman kerajaan. Malangnya dirimu yang terlahir di zaman modern. Lalu apa alasanmu lebih memilih senjata-senjata seperti ini daripada snejata modern?"
"Aku akui snejata modern lebih canggih dan Fleksibel untuk dibawa kemanapun. Tapi senjata sekarang membuat para penggunanya menjadi kehilangan mental dan intuisi. Orang zaman dulu memiliki keberanian dan tekad karena senjata dulu memiliki filosofi. Itu adalah perbedaan dasar dari senjata di dua zaman. Sampai sekarang aku tidak tahu apa filosofi dari para pengguna senjata api."
Tenten sepertinya kesal saat aku menjawab seperti itu. Nampak dari dahinya yang mengkerut dengan bola mata yang diputar. Seakan tidak peduli dengan apa yag kuucapkan.
"Filosofi ya, akan kuingat itu. Lalu apa keperluanmu?"
Dia mengalihkan topik pembicaraan. Kurasa jawaban tadi membuatnya lebih bosan. Tapi sudahlah, aku juga tidak memperdulikan.
"Seperti biasa, aku pesan dua pasok anak panah. Lalu racun ular derik dan meminta beberapa perbaikan dari baju rantai serta pelindung kulit."
"Baiklah, akan segera kulakukan!'
Tenten dengan terampil melakukan apa yang kuucapkan. Dua tahun magang di sini membuat dia lihai memperbaiki peralatan ini.
Saat dia sibuk memperbaiki dan menyiapkan pesanan. Aku berkeliling melihat-lihat senjata yang dipajang. Sesekali aku menggunakannya untuk menilai apa itu cocok.
Lalu mataku terpaku pada Dua Dagger yang terpajang dalam kotak kaca. Sarung dan gagangnya terbuat dari perak dan beberapa batu safir terpasang sebagai penghias.
"Dagger itu baru tiba dua hari yang lalu. Maeda-san bilang itu dari Persia. Kalau kau penyuka game Prince of Persia kau pasti tahu apa itu."
'Mirip seperti Dagger of Time. Itu Item legendaris dalam game atau filmnya. Tapi kebenarannya belum jelas. Jika aku boleh memesan ingin sekali rasanya melihat sesuatu yang berasal dari negeri Iran."
Itu benar, aku ingin sekali melihat dan membeli peralatan dari negeri Iran. Terutama Pedang yang dulu dipegang Jenderal terkenal dari Khilafah Ayyubi, kalau tidak ada aku memesan Baja Wootz.
Itu Baja langka yang tidak pernah terlihat lagi sejak berakhirnya perang salib. Beberapa bulan yang lalu aku menemui pandai besi generasi terakhir yang mengolah baja tersebut.
"Hm begitu ya, nanti kusampaikan pada Maeda-san. Ini pesananmu sudah siap! Dua bucket anak panah, satu botol racun ular derik hati-hati menggunakan benda ini sangat berbahaya. Lalu terakhir perlengkapan murah milikmu dan Busur panah baru spesial dariku. Bagaimana dengan Dagger itu?"
Aku mengambil semua pesanan dan menggulungnya dalam kain hitam. Saat mendengar pertanyaan terakhir Tenten aku merespon.
"Aku ambil benda itu. Ini kartu pembayarannya."
Aku menyerahkan kartu rekening padanya. Dia dengan sigap menuju tempat kasir dan menghitung jumlah harga yang kubeli. Setelah selesai dia datang dengan membawa Dagger dari Persia yang terpajang.
"Sudah selesai! Kukembalikan padamu dan ini Daggermu yang baru."
Aku mengangguk dan mengambil Dagger tersebut. Menyelipkannya pada pinggang dan segera berbalik.
"Terima kasih atas bantuannya."
"Harusnya aku yang berterima kasih. Berkatmu toko ini bisa bertahan dan aku bisa tetap bekerja. Jangan sungkan datang lagi, Uzumaki-san!"
