Naruto © Masashi Kishimoto

High school DxD © Icchei Ishibumi

Birth of Rogue

Mohon Maaf Jika Ada Typo dan Gaje

Chapter 14

Selamat Membaca

"Baiklah, aku akan menguji apa kalian pantas untuk menjadi lawanku? Salamander serang mereka!" Perintah Hanzo

Kadal berwarna ungu itu melancarkan Serangan menggunakan lidahnya dan sesekali mengeluarkan asap ungu dimana saat asap itu menyentuh sesuatu maka akan meleleh.

'Aku tidak menyangka bisa melihat utsumei yang kuat namun tidak memiliki kesadaran. Apa dia salah satu orang yang selamat dari kejadian 8 bulan yang lalu.' Batin Himejima seraya menghindari serangan makhluk tersebut.

Sementara itu, gadis berhodie hitam dengan lincah menghindari serangan anak buah Hanzo dan membuat mereka pingsan satu persatu.

Setelah melakukan itu dia membebaskan Minato, Kushina, dan Menma.

Ketika memandang Menma, mata si gadis berhodie menatap dari dalam topeng.

'Apa sungguh orang ini yang bisa menjadi penentu keselamatan Konoha City.' Batinnya.

Menma yang menyadari kalau dirinya begitu diperhatikan merasa risih dan berkata.

"Kenapa kau memandang diriku begitu lekat? Jujur aku merinding tahu? Tapi terima kasih karena telah membantu." Ucapnya lembut.

Doki!

Si gadis bertudung hatinya seperti terkena anak panah cupid, namun segera dia menggeleng dan memberikan pukulan kecil pada pucuk kepala Menma.

"Jangan berkata hal-hal yang bikin orang salah paham!" Ucapnya.

"Eh!" Kaget Menma.

Sementara itu Kushina dan Minato yang melihat kejadian tersebut tersenyum kecil. Keduanya juga tidak lupa untuk mengungkapkan rasa syukur.

"Terima kasih telah membebaskan kami, tapi siapa dirimu sesungguhnya?" Tanya Minato.

"Aku punya urusan dengan salah seorang dari kalian. Setelah situasinya membaik akan kusampaikan apa yang menjadi tujuanku." Jawab si gadis berhodie.

"Kalau begitu, semoga kami nanti bisa membantu!" Ucap Kushina.

Gadis berhodie hanya mengangguk dan memberikan arahan.

"Itu pasti, sekarang kalian harus berpindah agar tidak menggangu kami."

Namun Minato membantah.

"Tidak, aku harus memastikan Light Partikel tidak direbut olehnya. Itu adalah hasil kerja keras kami selama ini, jika itu jatuh ke tangan orang yang salah. Maka hal yang sangat mengerikan akan terjadi." Ucap Minato.

"Light Partikel, ya. Dilihat dari namanya itu seperti bagian kecil dari apa yang ingin kau capai. Apa penelitianmu ini tujuannya untuk meyakinkan orang-orang kalau eksistensiNya itu nyata secara Ilmiah dan membenarkan Teori Big Bang. Jika tebakan diriku ini benar, maka tujuan dirimu adalah menyempurnakan Algoritma dan model standar fisika Partikel untuk menampilkan sesuatu yang kasat mata dari High Boson Partikel atau nama lainnya adalah God Partikel." Ucap gadis berhodie menerka tujuan Minato selama ini.

"Kushina, bawa Menma pergi lebih dulu!" Perintahnya.

"Tapi, Anata!" Kushina coba membantah.

"Ayah jangan seperti ini!"

"Pergilah, aku akan menyusul setelah memastikan penelitian sahabat baikku aman!" Balas Minato.

Kushina yang melihat tekad dari ucapan Minato segera menarik lengan Menma dan berlari ke pintu keluar.

"Ibu!" Menma mencoba membantah.

"Jangan khawatir, Ayah pasti baik-baik saja!" Balas Kushina.

Mendengar itu Menma menurut dan mengikuti langkah Kushina untuk pergi dari tempat tersebut. Sementara itu Minato memandang ke arah Gadis berhodie sembari bertanya.

"Apa ada yang salah dengan penelitian kami?" Tanya Minato.

"Tidak, hanya saja aku tidak menyangka ada manusia yang begitu niat menjelaskan kalau Tuhan itu ada secara Sains. Itu pujian tertinggi dariku!" Balas si gadis.

"Terima kasih, tapi kita tidak punya waktu untuk melontarkan pujian. Aku harus-"

"Kau dengar kata Himejima! Pergi dari sini biar aku yang urus Light Partikel itu!" Potong si gadis.

"Tapi-"

"Pergilah!" Perintah si gadis.

Minato mencoba menolak ucapan Gadis tersebut, dengan ngeyel dia ingin mengamankan Light Partikel dengan tangannya sendiri.

"Itu adalah hasil riset kami, tidak akan kubiarkan siapapun mengambilnya."

Sementara si gadis berhodie kesal karena tidak tahu harus melakukan apa supaya Minato mau pergi menyusul Istri dan Anaknya.

"Tolong jangan bersikeras, segera susul-"

Ucapan gadis tersebut terpotong sebab terjadi guncangan besar yang membuat ruangan bergetar. Saat mereka melihat sumber getaran, di sana sosok kadal ungu milik Hanzo bertambah besar.

Minato yang melihat itu, sadar kalau dirinya tidak bisa mengatasi ini. Dalam hati rasa kesal muncul karena saat ini dia tidak memiliki peluang sedikitpun.

Pilihan terbaik yang dia pikirkan adalah menyerahkan situasi ini pada gadis berhodie dan orang bernama Himejima yang sedang bertarung dengan Hanzo.

"Aku rasa kau benar, ini bukan saatnya diriku bersikap keras kepala. Tapi aku mohon, tolong kau selamatkan tabung itu karena di dalamnya merupakan hasil thesis sahabatku, Stephen Hawking!" Ucap Minato seraya pergi dari sana menyusul Menma dan Kushina yang sudah lebih dulu pergi.

Si gadis berhodie melihat kepergian itu dan merasa prihatin, itu karena cara Minato menyampaikan ucapannya begitu tulus. Sehingga relung hati si gadis bergetar.

'Aku tidak menyangka dia memiliki ketulusan murni, kupikir orang sepertinya bertipe arogan.' Pikir si Gadis.

Si gadis kemudian beralih menatap pertarungan Hanzo dan Himejima yang hampir mencapai puncak. Dia meraih Daggger miliknya dan bersiap untuk bergabung.

"Himejima, kau butuh bantuan!" Teriaknya.

Ketika mendengar teriakkan itu, Hanzo melebarkan mata. Apalagi saat mendengar nama dari pemuda yang sedang bertarung dengannya.

Jadi dia langsung menunjuk ke arah pemuda tersebut dan menghardik.

"Kenapa kau yang berasal dari marga Himejima menghalangi diriku. Harusnya kau mendukung diriku, karena saat ini aku diperintahkan oleh sosok bernama Himejima juga untuk menyempurnakan Utsumei milikku!"

Pemuda tersebut terkejut, karena dia tahu sosok Himejima yang dikatakan oleh Hanzo. Namun dia yakin kalau telah membunuhnya 7 tahun yang lalu.

"Apa maksudnya itu, Himejima?" Tanya gadis berhodie.

"Hn, sepertinya aku tahu siapa orang yang membuat dirimu melakukan kerusuhan ini. Katakan, apa kau bekerja sama dengan Wizard Oz atau dengan Utsumei Agency?" Tanya Himejima.

"Aku mengerti, jadi kaulah dia. Sosok yang telah membunuhnya 7 tahun yang lalu, Slash Dog atau harus kupanggil Himejima Ikuse Tobio! Ngomong-ngomong dimana wanita yang bisa memanggil seekor Rajawali dan seorang lagi yang memiliki julukan Ice Princess?" Tanya Hanzo.

Untuk sesaat Himejima terdiam karena informasi dirinya sudah terbongkar. Gadis berhodie juga bergidik saat tahu dengan siapa dia berbicara.

"Tidak kusangka, sejak awal aku bercengkrama dengan pemilik Longinus Canis Lykaon sekaligus pemimpin Tim Slash Dog. Kenapa kau menyembunyikan identitasmu?" Ucap gadis itu shock.

"Kau sendiri kenapa menyembunyikan fakta kalau berasal dari Ras High Elf. Informasi yang kupunya, kalian biasanya menutup diri karena tidak ingin berurusan dengan dunia luar." Balas Tobio.

"Jadi kau sudah tahu, baiklah perkenalkan namaku Runeria! Bawahan dari Ratu Marry Ljos Alf, pemimpin Elf yang ke 79 dari bangsawan murni." Jawab Runeria.

Keduanya melompat untuk menghindari serangan Salamander ungu milik Hanzo.

"Oi, jangan mengabaikan diriku begitu. Aku paling tidak suka dengan orang yang meremehkanku. Lalu bisa-bisanya orang yang hampir membiarkan temannya mati di tangannya sendiri bertingkah seperti pahlawan. Apa kau lupa dosa yang kau buat pada Toujou Sae! Tobioooo!" Ucap Hanzo geram.

Saat mendengar nama teman masa kecilnya yang hampir tidak bisa dia selamatkan. Membuat manik miliknya bergetar, apalagi Hanzo seperti mengenal temannya itu.

"Darimana kau tahu semua itu?" Ucap Tobio dingin.

"Hahaha akhirnya kau mulai serius, dari tadi aku muak bermain-main denganmu. Ternyata dia benar, untuk membuat dirimu serius. Aku harus mengungkit kembali kejadian memalukan dirimu, yang gagal atau bisa dibilang hampir menjadi penyebab temannya mati. Sekarang, apa yang akan kau lakukan Tobio!" Hardik Hanzo.

Runeria merasa tekanan di sekitar Tobio melonjak drastis. Apalagi bayang-bayang gelap mulai muncul dan berkumpul di sekitarnya lalu membentuk pusaran.

"Kau bertanya apa yang akan aku lakukan? Tentu saja, menghapus keberadaan dirimu di dunia ini."

Dia maju selangkah dan bayangan di sekitarnya menyelubungi tubuh Tobio lebih cepat lalu membentuk semacam armor untuknya.

"Yami no Ora!"

Ini adalah kemampuan dasar yang sudah dia latih dan tingkatkan kel level maksimum. Dia mendapatkan kemampuan ini setelah pertempurannya melawan Clay Golem Kazuhisa di masa lalu.

Ini merupakan aura gelap dari Canis Lykaon yang mampu meningkatkan kekuatan fisiknya ke tingkat di atas rata-rata manusia.

"Cih kau merendahkan diriku dengan melawan tanpa menggunakan Balance Breaker Canis Lykaon milikmu. Aku akan membuatmu mati!" Hardik Hanzo.

"Hmph! Kau tidak layak kubunuh dengan Balance Breaker-ku."

Secepat angin bertiup Tobio menghilang dari tempatnya. Hanzo bersiaga penuh, memperhatikan setiap arah kemungkinan dia muncul.

Lalu instingnya menjerit keras memperingati bahwa musuhnya ada di dalam bayangan. Benar saja, Tobio muncul dari dalam bayangannya, berselimutkan aura gelap yang begitu menekan.

"Kurang ajar!"

Hanzo berhasil selamat, namun dadanya terkena sayatan Shadow Scythe yang diciptakan oleh Tobio. Begitu selamat dia memerintahkan Salamander ungu miliknya untuk melahap Tobio.

Melihat Tobio dilahap makhluk itu, bergetarlah manik Runeria. Sedangkan Hanzo tersenyum karena yakin Tobio pasti mati.

Sebab tidak ada seorang pun yang masih hidup setelah dimakan oleh Utsumei miliknya. Namun matanya dibuat melebar saat melihat Salamander ungu miliknya terpotong-potong beberapa bagian.

Makhluk itu kemudian menguap dan lenyap dari pandangan. Menyisakan Tobio yang ternyata masih selamat dan sedang menatap tajam Hanzo.

Dalam hal ini kengerian menghampiri hatinya, dia sadar sudah membuat marah orang yang salah. Namun sebelum dia menyesali perbuatannya, Tobio segera mengirim nyawanya menuju Isekai dengan tatapan dingin.

"Sesalilah perbuatanmu itu di neraka!" Ucapnya dingin.

Tanpa kekuatan untuk menjawab, Hanzo menutup mata dengan rasa kesal karena menyentuh sesuatu yang tidak mampu dia hadapi.

Hanzo pikir punya kesempatan untuk melawannya, namun dia sadar kalau selama pertarungan sebelum dia mengungkit masa lalunya tentang Toujou Sae.

Tobio hanya sedang mengukur kemampuannya saja, padahal dia sudah diperingatkan seberapa mengerikannya pemuda yang dia lawan itu.

Ketika lawannya sudah tidak bernyawa, Tobio menonaktifkan Yami no Ora dan Scythe miliknya. Sementara Runeria tidak percaya dengan apa yang sudah dia lihat.

'Pemuda itu mengatakan kalau diantara orang yang melindungi Kota Kuoh adalah seorang manusia pengguna Anjing hitam. Aku benar-benar tidak menyangka, jika selama ini dia bersama dengannya. Jika ini belum kekuatan sejatinya, aku tidak bisa membayangkan seberapa besar kekuatan asli miliknya. Pantas saja, kota Kuoh bisa bertahan selama masa Scource,' Batin Runeria.

Tobio melirik ke arah Runeria, melempar senyum ramah dan berkata.

"Sekarang, apa kau masih tidak ingin dibantu soal masalahmu itu?"

Runeria paham apa yang ditanyakan oleh Tobio, namun pemuda yang berada di tempat tinggalnya. Memberi tahu kalau informasi yang dia miliki tidak boleh bocor pada pihak selain sosok Black Hood yang berasal dari keluarga Namikaze dan dia menyakini telah menemukan orangnya.

"Aku merasa tersanjung atas tawaranmu, tapi sekali lagi aku menolaknya." Balas Runeria.

"Baiklah, masalah di sini sudah selesai. Ayo temui prof Minato dan Kushina, kita harus menunggu kedatangan si Naruto." Ajak Tobio sembari berjalan menuju pintu keluar.

"Tunggu, aku harus mengamankan benda tersebut karena permintaan prof Minato." Ucap Runeria sembari mengambil Light Partikel.

Setelah diamankan keduanya berjalan menuju pintu keluar, namun mereka terkejut dengan apa yang sudah terjadi. Itu karena, Menma terdiam kaku di depan kedua mayat.

Dua mayat itu adalah Prof Minato dan Prof Kushina. Keduanya sudah tewas dengan luka tusuk di bagian jantung. Yang lebih mengejutkan lagi, sosok Black Hood ada di sana dengan tubuh berlumuran darah.

Dia sedang berdiri menatap Menma yang begitu depresi karena mendapati Ayah dan Ibunya tewas di depan matanya.

Tobio bersiaga, berpikir kalau pelaku penyerangan adalah Black Hood. Namun di sisi lain, Runeria terkejut karena saat ini mengetahui kalau Sosok Black Hood bukanlah Menma Namikaze.

'Kenapa jadi begini, Pemuda itu jelas mengatakan kalau sosok Black Hood mirip sepertinya dan berasal dari Keluarga Namikaze. Apa jangan-jangan dia adalah Namikaze Naruto. Tapi itu tidak mungkin, wajahnya tidak mirip dengan pemuda itu.' Batin Runeria.

"Kenapa banyak sekali yang mengincar keluarga kami, sekarang Ibu dan Ayahku sudah tewas. Apa gunanya aku hidup!" Ucap Menma.

Tobio mengendurkan fighting stancenya, apalagi dari tadi Black Hood hanya terdiam seperti patung. Namun jika Tobio jeli, tangan Black Hood sedari tadi bergetar sembari terkepal.

Apalagi mendengar ucapan yang lontarkan oleh Menma, membuat sosok itu geram bukan kepalang.

"Kenapa kau mengatakan hal bodoh seperti itu, bocah!" Ucap Black Hood.

Tobio dan Runeria tidak menyangka kalau sosok itu, malah memarahi Menma yang depresi kehilangan kedua orang tuanya tepat di depan matanya.

"Apa yang barusan kau katakan, berengsek!" Teriak Tobio.

"Aku mengatakan kenapa bocah itu mengucapkan hal bodoh seperti tadi. Dia malah menyesal tetap hidup, padahal diluar sana banyak orang yang mengharapkan untuk hidup. Jika dia tidak ingin hidup, maka biarkan aku mengakhiri nyawanya sekarang!" Balas Black Hood.

"Kurang aja, kau!" Bentak Tobio dan bermaksud menyerang.

Namun Runeria menghalangi tindakan yang ingin dilakukannya.

"Kenapa kau menghalangiku!" Ucap Tobio

Runeria tidak menjawab, namun menunjuk tangan Black Hood yang sedari tadi terkepal dan dari sana meneteskan darah.

Emosi Tobio teredam saat melihatnya, apalagi setelah di teliti dengan baik. Dia mengenal aura yang dimiliki oleh sosok tersebut.

"Dia adalah Namikaze Naruto, ternyata dialah si Black Hood itu?"

Tobio sudah memiliki pengalaman tujuh tahun bergelut dalam hal seperti ini. Melacak aura seseorang merupakan kemampuan dasar yang dia pelajari di Nephilim Academy dibawah bimbingan Barakiel-sense.

Apalagi teman-temannya memiliki kekuatan yang gila, diantara mereka salah satunya adalah pemilik Longinus Divine Dividing dimana di dalamnya tersegel Naga Surgawi bernama Albion.

Pemandangan yang tersaji di depan matanya merupakan upaya seorang kakak menyadarkan adiknya yang sedang frustasi.

'Aku rasa tidak baik ikut campur urusan mereka sekarang,' batinnya.

"Lalu aku harus apa? Kau tidak tahu rasanya kehilangan orang yang berharga bagimu di depan matamu sendiri, apa kau bisa mengerti rasanya!" Bentak Menma.

Naruto bergeming sesaat, lalu melangkah mendekati Menma dan menghajar habis-habisan pemuda yang baru membentaknya itu.

Runeria dan Tobio ingin melerai, namun mereka sadar kalau ini bukan wilayah mereka.

Setelah puas melakukan itu, secara mengejutkan dia melepaskan penutup kepalanya dan mata Menma melebar.

"Kuso Ni-san! Kenapa kau menghajarku!"

Mendengar itu Naruto kembali menghajar Menma, kali ini wajah pemuda itu sudah lebam-lebam, bahkan wajahnya sulit dikenali lagi tapi Naruto tidak membuat dia pingsan.

"Ampuni aku Ni-san, jangan pukul lagi. Maafkan semua keegoisan diriku!" Mohon Menma sembari menangis.

Naruto menghentikan aksinya dan mundur selangkah, adiknya hanya bisa tersedu menahan sakit. Kemudian Naruto menoleh ke arah mayat Ayah dan Ibunya.

Mendekati mereka dan membelai lembut pipi keduanya. Dia berharap bisa melakukan ini suatu hari dan dikabulkan, namun dalam kondisi keduanya sudah tiada.

Dia berpikir dunia begitu tidak adil, namun dia sadar memang seperti itu dunia bekerja. Meskipun air mata mengalir di pipinya, tapi dia tidak sesenggukan atau mengumpat pada si pembunuh.

"Ibu! Ayah! Beristirahatlah dengan damai! Serahkan saja Menma padaku, akan kujaga dia dengan baik." Ucap Naruto.

Tobio dan Runeria begitu takjub dengan ketegaran yang dimiliki Naruto.

Setelah mengucapkan itu, Naruto bangkit dan menghadapkan wajahnya ke arah Tobio dan Runeria sembari melempar senyum pahit.

"Maaf karena merepotkan kalian! Terima kasih telah menjaga penelitian kedua orangtuaku, serta menyelamatkan adikku." Ucap Naruto sembari mengulurkan tangannya.

Mendengar itu hati Tobio terasa sakit, apalagi jika ingat janji yang dia buat sebelum kemari. Membuatnya merasa bersalah karena gagal melindungi orangtua Naruto.

"Aku merasa tidak pantas mendapatkannya, karena gagal melindungi orangtuamu." Ucap Tobio

"Jangan terlalu dipikirkan, kadang sesuatu berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Hal yang bisa kita lakukan adalah terus melangkah maju dan menjadikan kepergian orang yang berharga bagi kita, sebagai cambuk agar bisa bertindak lebih teliti dalam memutuskan sesuatu." Balas Naruto sembari menyalami Tobio.

'Belum pernah aku menemukan orang setegar dirinya.' Batin Tobio.

Lalu Runeria tertunduk mencoba untuk menyangkal apa yang sudah dikatakan Naruto.

"Andai saja, kau kemari lebih cepat maka-"

"Selalu ada resiko dari setiap pilihan yang kita ambil, inilah hasil dari pilihan yang kubuat. Dalam kamusku tidak ada yang namanya penyesalan, karena itu hanyalah alasan yang dibuat oleh orang yang tidak bisa menerima kenyataan dari pilihan yang dia ambil." Ucap Naruto memotong apa yang hendak dikatakan Runeria.

'Dia tidak hidup di masa lalu ataupun di masa depan, dia hanya hidup saat ini dan sekarang. Karena itu dia tidak terguncang oleh kematian orangtuanya.' Batin Runeria.

Lalu gadis Elf itu menyerahkan Light Partikel pada Naruto.

"Ini adalah hasil penelitian Ayahmu, dia bilang supaya menjaganya dan jangan biarkan jatuh ke tangan orang yang salah. Selain itu, ini juga wujud dari Thesis sahabat baiknya," jelas Runeria.

Naruto menerima itu dan menjawab.

"Aku mengerti, terima kasih telah melindungi penelitian Ayahku. Nona!"

"Namaku Runeria, jika tidak keberatan aku mengundang dirimu dan adikmu ke kerajaan kecil kami malam ini! Apa kau berkenan?" Ucap Runeria.

"Memangnya ada apa?" Tanya Naruto

Runeria tidak ingin menjelaskan jadi hanya menekankan.

"Pokoknya datang saja, malam ini!"

Naruto menimbang tawaran tersebut, dia mencoba menolak.

"Apa tidak bisa lusa, saat ini aku harus memakamkan Ibu dan Ayah dengan layak." Ucapnya.

"Tidak bisa, karena ini menyangkut sesuatu yang penting. Dan hanya bisa dijelaskan malam ini, sepertinya takdir memang begitu kejam." Ucap Runeria muram.

Gadis Elf itu merasa semuanya begitu kejam, Naruto kehilangan kedua orangtuanya demi memuaskan pertanyaan si Polisi wanita bernama Ino.

Lalu saat ini di kerajaannya ada seseorang yang ingin menyampaikan informasi pada Naruto yang katanya berhubungan dengan kota Konoha.

Jika dipikirkan dengan logika, semua yang terjadi di sekitar Naruto begitu tidak masuk akal. Dan harus diakui oleh Runeria kalau semua itu tidak ada yang baik sama sekali.

"Kau bilang kalau kenyataan itu selalu memberi hal baik bahkan di situasi paling buruk bukan?" Tanya Runeria tiba-tiba.

Dengan santai Naruto membalas.

"Benar, memangnya kenapa?"

"Apa hal baik yang kau dapat dari semua kenyataan yang terjadi hari ini?" Tanya Runeria setelah memikirkan semua yang menimpa Naruto.

Author Note : Selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakan, semoga korban yang kita berikan di terima oleh Nya. Amin

Sampai jumpa di Chapter selanjutnya.