Part 3 Dunia Baru
Ahmed POV
Cahaya dari luar yang tadinya hanya berasal dari lampu kendaraan berangsur menerang dan seketika itu juga dari jendela kecil yang ada di dalam LAV Safir, aku dapat melihat kendaraan kita telah keluar dari terowongan Al Jisr dan muncul di hamparan bukit. Setelah LAV berhenti, aku dan anggota regu ku yang di dalam safir segera keluar dan mengambil posisi membuat perimeter di sekitar terowongan Al Jisr. Beberapa orang berlindung di balik bekas pohon tumbang, beberapa lagi tiarap di belekang semak atau rerumputan dan batu besar. Aku sendiri mengambil posisi di belakang sebuah batu bersama Karim, aku dapat melihat tenda-tenda orang Leonia yang berjarak sekitar 1 Km dari posisi kami.
Orang Leonia yang saat itu berjaga diluar tenda terlihat kaget dengan kedatangan kami yang baru saja keluar dari Al Jisr. Mereka segera berlarian kesana kemari. Samar-samar suara lonceng terdengar dari pasukan penjaga yang ada di atas menara kayu, seketika pasukan yang berada di dalam tenda keluar semua dan langsung membentuk barisan di depan tenda. Aku dapat memperkirakan jumlah mereka yang mungkin mencapai 30 ribu orang. Perkemahan mereka jelas terlihat sangat luas. Dari balik tenda, terlihat juga wyvern yang tadinya tidak terlihat mulai beterbangan dari dalam tenda. Jumlahnya mencapai belasan.
Barisan kendaraan Ghazi masih belum selesai melewati terowongan dan belum selesai mengambil posisi bertahan di perimeter. Kendaraan Anti udara Raad dan Korkut juga baru keluar dari Al Jisr dan mengambil posisi di belakang kami. Gelombang pertama pasukan Ghazi yang dikirim sekitar 3000 personil, sedangkan gelombang lainnya akan menyusul setelah gerbang yang berada di sisi dunia ini telah diamankan. Tidak lama kemudian terdengar suara terompah dari barisan Leonia. Barisan tentara Leonia mulai berbaris dan bergerak maju menuju perimeter kami. Langkah mereka terdengar mantap dan bunyi hentakan kaki mereka terdengar keras karena langkah mereka yang kompak dan bersamaan.
Tank Mahmud yang sudah mengambil posisi, mengeluarkan sebuah tiang besi dari kepala meriamnya, lalu dari tiang itu mulai dikibarkan panji-panji Daulah, bendera merah dengan bulan bintang dan kalimat syahadatain. Jenderal Ayyub yang ternyata saat itu berada di salah satu tank Mahmud langsung memberikan perintah menyerang dengan mengumandangkan takbir yang kemudian diikuti oleh seluruh pasukan.
"Semua pasukan, mulai Menyerang! Allahu Akbar…."
"""Allahu Akbar…."""
Lalu tank yang ditempati Jenderal Ayyub dan tank lainnya mulai menembakan meriam 125mm nya, tidak ketinggalan LAV Safir dan juga jip Jamal yang juga menembakkan senapan mesinnya. Ledakan demi ledakan terlihat di barisan musuh, pasukan musuh pun mulai terlihat banyak yang berguguran. Meskipun aku tidak dapat melihat raut muka wajah mereka, aku bisa mengetahui bahwa mereka mulai panik melihat kemampuan pasukan Ghazi. Wyvern yang berada di atas mulai bergerak menuju barisan kami dengan menukik bersiap menyergap. Dari belakang aku mendengar suara rentetan keras dari tembakan Raad yang menembakan kaliber 25mm nya. Dalam waktu singkat, belasan Wyvern mulai berjatuhan dari langit, sebagian besar mengenai barisan infantri mereka yang ada didarat.
Jarak musuh kali ini tinggal 700 meter, pasukan infantri kali ini mulai ikut menembakkan senjatanya. Barisan musuh yang berguguran bertambah semakin banyak, pada momen ini, aku perkirakan pasukan musuh sudah kehilangan seperempat dari jumlah pasukannya. Karena banyaknya kendaraan Raad yang sudah mengambil posisi, wyvern yang ditunggangi musuh semakin cepat berhamburan karena tembakannya.
Tidak lama kemudian aku dapat mendengar deru mesin helikpter Saqr, ketika aku menengok kebelakang, 4 helikopter Saqr yang sebelumnya ditempatkan di truk besar langsung terbang ke udara dan mulai memburu pasukan wyvern musuh yang kali ini mulai berusaha kabur meninggalkan medan pertempuran. Infantri Leonia yang tadinya berbaris maju pun kali ini juga mulai pecah, sebagian tentaranya mulai meninggalkan barisan mereka masing masing dan berlari kebelakang.
"Allahu Akbar…" Teriakan takbir terdengar lagi dari pasukan Ghazi.
Kendaraan safir dan Jamal yang tadinya dibelakang kami mulai bergerak maju dan mengejar mereka melewati berisan infantri sambil masih menembakkan senjatanya yang kemudian diikuti oleh infantri yang berlari dibelakangnya sambil sesekali menembakkan senapannya kearah barisan Leonia. Tank Mahmud pun juga tidak mau kalah dan ikut mengejar pasukan Leonia yang berusaha kabur, aku dan pasukan infantri Ghazi yang lain menetap di perimeter menjaga Al Jisr. Tank dan kendaraan ringan yang mengejar musuh berusaha memutari dan mengepung mereka. Dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari lari manusia biasa, kendaraan ringan dan tank itu berhasil mengepung 10000 prajurit Leonia yang tersisa. Sebagian dari mereka berusaha menerobos kepungan tentara Ghazi dengan berlari menyerbu. Ribuan pasukan Leonia kembali dihabisi hingga hanya 2000 orang yang mau menyerah.
Pertempuran pertama di Edela bagi kami berakhir dengan kemenangan mutlak pasukan Ghazi, di pihak kami, sama sekali tidak ada korban jiwa. Pasukan Leonia di lain sisi kehilangan 20000 ribu pasukan mereka dan sisanya dijadikan tahanan perang. Perang ini lebih terlihat seperti genosida massal dikarenakan musuh kami tidak berkutik sama sekali ketika menghadapi senjata modern jarak jauh yang kami gunakan, bahkan penyihir mereka yang berjubah kuning itu tidak dapat menggunakan sihir mereka dikarenakan jarak mereka belum cukup dekat dengan kami. Aku dapat melihat sejumlah pasukan Leonia dibariskan dan mulai digiring menuju ke satu tempat yang dikelilingi oleh pagar kawat berduri, beberapa penyihir dan juga perwira yang masih hidup dipisahkan dari pasukan reguler.
Berbagai tenda militer mulai berdiri di sekitar Al Jisr, Pihak militer memutuskan untuk membangun markas di sekitar Al Jisr. Petugas konstruksi pun mulai berdatangan dari kota Gaza. Saat ini aku sedang bersantai dengan regu kelompokku di parit yang sudah kita buat. Aku dengar para ulama telah selesai berijtihad dan memutuskan untuk menjadikan Al Jisr sebagai kiblat sholat di Edela, karena Ka'bah berada di dunia yang ada di balik Al Jisr. Akhirnya Adzan Dhuhur di siang hari pun dikumandangkan dan kami akan menunaikan sholat pertama kali di dunia lain. Pasukan Leonia yang ditangkap sempat terheran dengan suara adzan. Pasukan Ghazi mulai berkumpul di Masjid yang dibangun sebagai masjid sementara untuk sholat dhuhur.
Selesai sholat dhuhur aku berjalan kembali ke arah parit yang tadinya aku dan reguku tempati, tapi tepukan tangan di pundakku menghentikan langkahku. Aku berbalik dan melihat seorang perwira dengan tanda jabatan mayor di pundaknya. Dilihat dari tag namanya tertulis Ali Nadir
"Kolonel Umar memanggil semua perwira untuk bertemu dengannya di tenda kolonel."
Aku mengangguk mengerti dan merubah arah jalanku ke tenda yang ditunjuk oleh Mayor Ali. Di dalam tenda, terlihat 9 orang lain yang menggunakan tanda jabatan Letnan sudah berkumpul di tenda. Aku pun segera memasuki tenda kolonel dan ikut menghadap kolonel.
"Assalamualaikum" ujarku setelah masuk mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam, baiklah, karena kalian sudah berada di sini semua, kita akan mulai brifing nya sekarang. Selama 2 jam terakhir kelompok pasukan pencari sudah menggeledah barang-barang musuh di tenda mereka dan menemukan beberapa informasi penting, salah satunya peta daerah lokal."
Kolonel Umar kemudian membuka sebuah gulungan kertas dan menunjukannya kepada kami di mejanya.
"dapat dilihat di peta ini sebelah barat posisi kita terdapat pantai, sedangkan di utara, timur, dan selatan ada beberapa desa penduduk lokal, kabar baiknya kita bisa mulai membangun angkatan laut kita dalam waktu dekat ini melihat betapa dekat posisi kita dengan pantai."
Kolonel terdiam sejenak.
"lalu kabar buruknya?" tanya letnan Samir yang ada di sampingku.
"Kabar buruknya kita masih kekurangan informasi terkait musuh kita saat ini. Kita belum tau tentang budaya lokal, kependudukan, dan berbagai macam hal lainnya di dunia ini."
"biar aku tebak, anda menginginkan kami untuk pergi ke desa yang ditunjukan peta ini dan mencari informasi lagi sebanyak-banyaknya." Ujarku
"tepat sekali, kami sudah mengirim drone ke desa itu dan hasilnya kami tidak menemukan adanya tentara Leonia di sana. Kalian akan berangkat dengan regu masing-masing dengan dibekali 2 kendaraan Safir dan 2 Jamal. Untuk persenjataan silahkan kalian atur sendiri dengan memiilih senjata yang tersedia di gudang senjata."
Kolonel Umar mulai membagi Regu yang akan diberangkatkan ke desa di peta. Masing masing regu mendapatkan 1-2 desa untuk di datangi dan mencari informasi.
"Ahmed, kau mendapat bagian 2 desa, Ruma, dan Olin. Kedua nya tidak berjarak terlalu jauh, jadi aku rasa kau tidak akan terlalu kesulitan untuk mendatangi keduanya."
"Baik Kolonel."
Kami para letnan pun beranjak dan mengucapkan salam sebelum keluar dari tenda. Aku berjalan menuju Regu J17 yang terlihat sedang bersantai di lubang parit mereka.
"Perhatian"
Seluruh anggota regu segera bangun berdiri setelah mendengar suaraku.
"kita ditugaskan untuk melakukan operasi pengintaian, kita menuju ke desa Ruma dan Olin yang ada di arah selatan kita. Aryan, Rostam, Hamzah, yusuf, kalian siapkan kendaraan 2 Jamal dan 2 Safir. Yang lainnya siapkan perlengkapan yang diperlukan untuk operasi pengintaian."
"siap mengerti" jawab anggota J17 serempak.
Mereka langsung bergerak mengerjakan tugas masing-masing. 5 menit kemudian kami sudah menaiki kendaraan yang disediakan semuanya membawa senjata dan peralatan lengkap. Wajah mereka tertutup balaclava. Pasukan Ghazi umumnya memang mengenakan balaclava agar musuh kami semakin kesulitan mengenali kami. Aku, berada di salah satu Jamal dengan Karim, Yusuf, Osama, Faruq dan Ismail. Setiap kendaraan di isi 5 orang.
"Osama, ayo jalan"
Kendaraan ku yang berada di paling depan mulai berjalan di ikuti oleh 3 kendaraan lainnya. Di tengah jalan aku bisa melihat hamparan alam yang luas dan belum pernah tersentuh oleh dunia modern. Karim yang ada di sampingku mulai mengajakku bicara.
"Kau tau letnan, pemandangan ini mengingatkanku pada film-film zaman abad pertengahan. Hutannya begitu lebat dengan pohon dimana-mana."
"Tapi sekarang mereka memenuhinya dengan kota-kota dan industri besar. Mungkin kita masih bisa menemuinya di dekat Wina atau daerah balkan. Kau pernah ke Eropa?"
"Ke Rumania lebih tapatnya. Gubernur daerah Eropa benar-benar berusaha menjaga kondisi alam disana".
"Sekarang aku paham kenapa Khalifah membangun sebagian besar Industri dan pabrik besar di tengah padang pasir dan gurun"
Tidak lama kemudian, kendaraan yang dikemudikan oleh Osama berhenti. Aku melihat ke depan dimana terdapat sebuah perkampungan kecil. Dari banyaknya kebun dan sawah di sekitar perkampungan itu, Ahmed dapat memperkirakan penduduk desa itu sebagian besar bekerja sebagai petani.
"kita sudah sampai Letnan."
Aku keluar lewat pintu belakang, dapat aku lihat di depanku sebuah Papan nama dari kayu yang diukir, terdapat tulisan yang sama dengan yang digunakan orang-orang Leonia, bila dibaca tertulis "Ruma".
"kita sudah sampai, parkirkan kendaraan kita dipinggir jalan disini. Kita akan ke desa dengan berjalan kaki. Aku tidak ingin menakuti warga desa dengan kendaraan kita".
Kendaraan pun diparkirkan dan seluruh anggota J17 pun berjalan memasuki desa. Penduduk desa yang melihat kedatangan kami pun langsung panik dan berlarian memasuki rumah masing-masing. Lalu penduduk laki-laki mulai berkeluaran dari rumah mereka dan berkumpul di depan kami sambil mengarahkan benda benda tajam dan runcing yang bisa mereka gunakan sebagai senjata. Seluruh anggota J17 pun menodongkan senjata mereka ke arah mereka.
"apa yang kalian inginkan dari kami? Pergi dari sini sekarang! Kalian tidak diinginkan di sini." ujar salah satu penduduk desa dengan bahasa Inggris. Dari seluruh anggota reguku hanya aku yang bisa berbicara bahasa Inggris. Aku kira mereka juga akan berbicara bahasa Perancis seperti orang-orang Leonia.
Akhirnya aku maju ke depan, menarik balaclavaku ke bawah agar wajahku bisa terlihat dan aku pun mulai berbicara.
"kami datang dengan niat damai. Aku ingin menemui orang yang berwenang di desa ini."
Mereka sempat memandang satu sama lain, mempertimbangkan pernyataanku. Lalu dari tengah-tengah mereka, muncul pria yang usianya mungkin sekitar 50 tahunan, dengan jenggot dan kumisnya yang berwarna putih.
"aku adalah kepala desa Ruma, namaku Walt. siapa kalian dan apa tujuan kalian kesini? kami belum pernah melihat pasukan yang menggunakan seragam warna hitam seperti itu."
"kami adalah pasukan Ghazi dari Daulah Islamiyah. Kami hanya ingin mencari informasi tentang Edela dan Leonia."
"Daulah Islamiyah?"
"sebuah negeri luas yang terdapat di balik gerbang yang muncul di bukit sebelah barat dari sini."
Ketua desa pun menyuruh orang-orang menurunkan senjata mereka dan mengajakku ke rumahnya. Aku dan Karim pergi mengikuti Ketua desa sedangkan anggota lainnya berjaga di depan desa.
Aku dan karim memasuki rumah kepala desa dan dipersilahkan duduk di kursi yang tersedia dan kepala desa Walt meninggalkan kami berdua di kursi ruang tamu untuk masuk ke dalam rumah. Sambil menunggu kepala desa, aku mengamati bagian dalam rumahnya beserta barang-barang dan furnitur yang ada. Tidak banyak yang bisa diamati, satu-satunya benda yang bisa diamati hanyalah meja dan kursi kayu yang Ahmed tempati beserta perapian yang berada tidak jauh dari Ahmed. Kepala desa kembali muncul di ruang tamu sambil membawa beberapa gulungan kertas. Dia pun mulai bercerita sambil membuka gulungan kertas itu yang menampakkan sebuah peta.
"dulu kami hidup dengan tenang dan damai di desa ini, siapa pun yang datang ke desa untuk berkunjung atau sekedar lewat saja akan kami sambut dan diperlakukan dengan baik. Tapi semenjak kerajaan Leonia menyerang dan hampir merebut seluruh wilayah kerajaan kami, desa kami selalu dilanda ketakutan dan kewaspadaan. Beberapa minggu yang lalu, sekelompok pasukan Leonia datang ke desa kami. Kami berusaha memperlakukan mereka dengan baik meski mereka musuh kami. Tapi yang mereka lakukan malah merusak desa dan menculik 5 orang warga desa kami, 3 gadis muda dan 2 orang laki laki untuk di interogasi. Mereka berlima tidak pernah kembali lagi ke desa sampai sekarang. Sejak saat itu kami selalu was was dan berusaha melindungi desa ini dari siapapun yang datang dari luar desa."
Ahmed mendengarkan cerita kepala desa dengan cermat, dia menyadari sesuatu.
"Bukannya kalian penduduk kerajaan Leonia?"
Kepala desa sedikit terkejut dengan pertanyaanku, lalu menggeleng sambil tersenyum tipis.
"kerajaan kami bernama Scotia, Leonia merupakan kerajaan tetangga yang terletak di sebelah timur keraan Scotia."
Aku mengangguk mengerti setelah mendengar penuturan Kepala desa.
"ini adalah peta seluruh wilayah Edela. Di Edela terdapat 6 kerajaan dengan kerajaan paling besar Isylum." Namun selama beberapa tahun terakhir, Leonia melakukan perluasan wilayah dengan menyerang kerajaan kami sampai sekarang. Kabarnya kota Longnard menjadi kota terakhir yang belum berhasil mereka kuasai saat ini dan sedang berada dalam pengepungan pasukan Leonia.
Ahmed mengamati peta yang diberikan kepala Desa. Peta itu menggambarkan seluruh wilayah kontinen dan terlihat cukup detail dengan gambar gunung dan hutan di beberapa tempat.
"Boleh kami pinjam peta ini?"
"Ambil saja itu untukmu, anggap saja sebagai hadiah karena telah mengunjungi desa kami."
Aku pun mengucapkan terima kasih dan pamit keluar menemui seluruh anggota pasukanku. Menceritakan apa yang barusan diceritakan kepala desa tadi.
"Jadi secara teknis penduduk desa di sini bukan musuh kita ya" tanya yusuf setelah mendengar penjelasanku.
"ya begitulah. Kerajaan ini sedang mengalami masa yang rumit. Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan kita ke desa Olin. Aku punya perasaan yang buruk apabila kita tidak segera pergi kesana".
Kami pun segera menuju ke kendaraan yang berada di luar desa dan berpamitan ke penduduk desa. Sesampainya di kendaraan aku bertanya ke Karim.
"Karim, apakah sekarang sudah masuk waktu Ashar?"
Karim menatap keaatas sejenak, lalu melihat jam tangannya sebelum menjawab.
"Berdasarkan posisi matahari, bayangan kita, dan juga perkiraan jam, seharusnya sudah masuk waktu ashar letnan". Jawab Karim sambil menengok ke arah matahari, kemudian melihat jam tangannya.
"Baiklah, kita sholat Ashar terlebih dahulu disini, kemudian kita lanjutkan perjalanan ke desa Olin".
Kami pun mulai melakukan sholat Ashar berjamaah dengan aku yang menjadi imamnya. Seusai sholat, kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke desa olin yang berada di sebelah utara desa Ruma berjarak sekitar 10 kilo. Ditengah perjalanan aku melihat-lihat peta yang diberikan kepala desa, dari peta tersebut, terlihat bahwa Kerajaan Scotia memang kerajaan yang paling kecil dibanding 4 kerajaan lainnya, akan tetapi informasi berupa peta saja tidak akan cukup. Kita juga perlu mengetahui, seberapa jauh kemampuan militer musuh.
Satu hal yang aku harapkan, musuh tidak punya senjata yang lebih berbahaya lagi dari pada sihir mereka. Sihir-sihir itu lumayan merepotkan terutama saat dihadapi di medan tempur kota, karena sihir tingkat tinggi mereka bisa meledakkan Mobil dan lapis baja ringan. Tidak lama kemudian Jip yang aku naiki tiba tiba berhenti dan menghentikan lamunanku, aku menengok keluar jendela dan melihat desa dengan rumah-rumah yang mengeluarkan asap dari jauh. Sepertinya rumah-rumah itu terbakar. Jalan yang kita lewati pun jelas terlihat mengarah ke desa yang mengeluarkan asap itu.
"Osama, Jangan bilang kalau itu desa Olin? Apa kita salah jalan?"
"ini desa Olin Letnan, aku tidak mungkin salah jalan."
Aku membuka pintu dan berjalan keluar dari jip sambil meraih teropong yang ada di dekat jok ku, lalu menggunakan teropong untuk mengamati desa itu. Aku melihat tentara-tentara yang berseragam kuning sama dengan yang kita lawan di bukit Daria dan kota Gaza sedang sibuk mengeksekusi penduduk dan menggeledah rumah untuk memburu warga desa. Penduduk laki-laki berusaha sebisa mereka, namun kemampuan bertarung mereka ternyata jauh di bawah prajurit Leonia. Suara teriakan perempuan pun samar-samar terdengar dari desa itu.
Aku menyalakan perangkat radio yang aku pakai dan mulai berbicara lewat radio itu.
"disini Ahmed, kita mendapat masalah. Seluruh tim, berkumpul di sekitar ku sekarang."
Seluruh anggota tim pun mulai keluar dari kendaraan mereka dan membentuk setengah lingkaran di depanku. Aku pun mulai menerangkan keadaannya dan menyusun strategi.
"Tentara Leonia itu sedang menjarah desa dan juga memburu para penduduk sipil desa yang tidak bersenjata. Sudah merupakan kewajiban kita sebagai muslim untuk membela kaum yang lemah teraniaya. Karena itu aku akan mulai menyusun strategi untuk menyelamatkan penduduk desa dan menyerang tentara Leonia."
Aku pun mulai menatap satu persatu orang yang ada di depanku sambil memberikan mereka tugas.
"Indra, Ismail, Hamzah, Abdul, Mahmud, Aryan, kalian akan menjaga dan membawa jip dan LAV masuk ke desa setelah kami beri sinyal. Yusuf, Hendra, kalian cari dataran tinggi atau pohon dan lakukan tugas kalian sebagai penembak jitu. Karim, Orhan, Osama, Ubaidah, Adi, kalian bersamaku masuk dari barat, sisanya kalian masuk dari timur."
Seluruh pasukan mengangguk paham.
"Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illa Billah" Seruku yang kemudian dibalas oleh seluruh anggota regu secara serentak dengan ucapan takbir.
"""ALLAHU AKBAR!""".
Seluruh anggotaku segera pergi menjalankan tugasnya masing masing. 5 orang yang pergi bersamaku mengikutiku memutar ke arah barat desa. Aku dapat melihat Yusuf dan hendra memanjat pohon yang tingginya lebih dari 10 meter, mereka memang pemanjat yang ulung. Sesampainya di barat desa, kami berlima mengambil jarak satu sama lain dan mencari tempat berlindung sendiri-sendiri. Aku sendiri berlindung di sebuah semak-semak tepat di dekat karim sambil memasang peredam suara pada senapannya. Aku dapat melihat 4 orang Leonia sibuk menumpuk mayat penduduk desa di salah satu pekarangan rumah.
Third POV
Ahmed menekan radionya dan menghubungi Yusuf dan Hendra. "Kelompok 1 ke kelompok 2, kalian melihat 4 orang yang sedang menimbun mayat di barat?"
"Sangat Jelas Kelompok 1, kalau saja aku mengikuti nafsuku, mungkin kepala mereka sudah berlubang sekarang." Jawab Yusuf.
"Kau boleh menjatuhkan mereka kelompok 2."
"Baiklah Letnan, Bismillah".
Tidak lama kemudian 1 dari 4 orang itu jatuh tergeletak, 3 orang lainnya sempat kaget dan panik melihat temannya jatuh sebelum akhirnya mereka mengalami nasib yang sama dan jatuh satu persatu sampai orang terakhir mencoba untuk lari tapi pada akhirnya terjatuh juga.
Ahmed kemudian keluar dari perlindungannya dan berlari menuju salah satu rumah terluar di ikuti Orhan di belakang ahmed, Karim dan Ubaidah berlari di rumah seberang sedangkan Osama dan Adi berlari di rumah samping. Ahmed menatap Orhan sambil menunjukan isyarat tangan menghitung mundur 3-1, lalu mendobrak pintu rumah bersama-sama dan menembak 5 tentara Leonia yang berada di dalam sana yang tampak sedang bermabuk mabukan. Ada dua ruangan tertutup yang ada di dalam rumah, Ahmed menunjuk salah satu ruangan dan menyuruh Orhan membuka pintunya yang tertutup sambil mengambiil posisi, setelah Orhan membukanya secara perlahan, Ahmed langsung menerobos pintu dan mengarahkan senapannya ke seluruh penjuru ruangan.
Kosong.
Mereka sedikit menghela nafas. Lalu mereka berdua keluar dari ruangan dan Ahmed mengisyaratkan lagi untuk membuka pintu ruangan terakhir sambil mengambil posisi di depan pintu. Orhan membuka pintu perlahan, lalu Ahmed menerobos masuk dan mengarahkan senampannya ke penjuru ruangan.
Dor Dor.
2 Tentara Leonia yang yang belum selesai membenahi pakaian mereka terjatuh oleh tembakan Ahmed dengan lubang di dada kiri mereka.
Ahmed memperhatikan ruangan itu dan mendapati ranjang di dekat mayat 2 Leonia yang barusan dia bunuh.
"Astaghfirullah…"
"Innalillahi Wa Innailaihi Raji'un…"
Di atas ranjang, terdapat tubuh seorang gadis muda dengan keadaan tanpa sehelai benang dan alat vitalnya mengeluarkan darah. Tubuh itu tampak tidak bergerak sama sekali dan ironisnya, gadis itu diperkirakan usianya masih sekitar 13 tahun.
Ahmed berjalan mendekati ranjang dan menutup mayat gadis itu dengan selimut yang tadinya terserak di lantai.
"Aku tidak menyangka mereka akan melakukan hal sekeji ini!" Ucap Ahmad
"Mereka tidak berbeda jauh dengan orang eropa pada masa kegelapan letnan!" Orhan mengambil smartphone di salah satu kantong seragamnya dan memotret pemandangan di depannya.
"Orhan, apa yang kau lakukan?"
"Kita harus melaporkan ke markas utama tentang kejadian yang kita temui disini." Orhan kembali menyimpan kameranya di saku seragamnya.
"Aku tidak percaya kau masih sempat membawa smartphone-mu di saat seperti ini" Ahmed sedikit tersenyum ke arah Orhan.
"ini dunia lain Letnan, kita bisa saja menemui hal yang tidak pernah kita lihat di bumi kita. Smartphone merupakan salah satu barang pribadi yang harus dibawa".
Ahmed mengangguk pelan.
"Kita harus periksa rumah yang lain dan menyelamatkan warga sebanyak yang kita bisa." Ujar Ahmed.
Ahmed dan Orhan pun kemudian berlari keluar dari rumah itu menuju rumah-rumah lainnya yang masih belum diperiksa dan belum sempat dibakar oleh para tentara Leonia sambil menembak beberapa tentara Leonia yang berjalan-jalan di jalanan desa. Yusuf dan Hendra pun turut serta membantu mereka menembak jatuh tentara Leonia yang berada di belakang dan samping kanan kiri mereka. Seorang pemanah, sempat mengarahkan busur dan panahnya ke arah Ahmed sebelum pemanah itu mati dengan lubang di kepalanya.
4-5 rumah telah digeledah oleh Ahmed dan Orhan, akan tetapi tidak ada warga desa yang dapat diselamatkan hidup-hidup, kebanyakan keadaan mereka sama dengan di rumah pertama, perempuan yang telah dilecehkan dan dibunuh di dalam ruangannya. Sedangkan setiap rumah di tempati 5-7 tentara Leonia. Orhan dan Ahmed tau kemana semua mayat pria sehingga mereka hanya menemukan mayat gadis dan wanita di rumah yang mereka masuki. Mereka tidak dapat membayangkan apa yang telah dilalui oleh para wanita itu.
Orhan dan Ahmed berjalan keluar dari rumah terakhir yang mereka sergap dengan wajah yang suram. Orhan sendiri tampak frustasi sampai memukul tembok di dekatnya.
"Arghh… Kita tidak sempat menyelamatkan satu pun dari mereka Letnan!" ucap Orhan sambil masih menunduk lesu.
Ahmed menghela nafas kasar sambil mengusap wajahnya dengan salah satu tangannya. Lalu menekan radio dipundaknya dan menghubungi anggota timnya yang lain.
"disini Kelompok 1, ada yang menemukan penduduk yang masih hidup dan selamat?"
Tidak lama kemudian radio berdengung dan mengeluarkan suara.
"disini Kelompok 5, tidak ada korban selamat."
"disini Kelompok 3, yang kami temukan hanya mayat penuduk desa."
"disini Kelompok 4, korban terlambat kami selamatkan."
"Baiklah, teruskan pencarian." Ahmed berbicara lagi.
Ahmed menurunkan radionya dan menghela nafas kasar lagi, menyandarkan punggungnya di tembok rumah. Ya Allah… Izinkan kami menyelamatkan beberapa dari penduduk desa yang masih hidup… ucap Ahmed dalam hati.
Keadaan sempat hening dengan suara tembakan samar-samar yang masih terdengar di beberapa rumah. Tapi tak lama kemudian…
"KYAAA…. SIAPA PUN DI LUAR SANA TOLONG AKUUU!"
Terdengar suara perempuan yang lumayan keras dari rumah di seberang mereka.
"Letnan, suara itu terdengar dari rumah seberang. Rumah itu belum di cek." Timpal Orhan.
Ahmed pun mengangguk dan langsung menuju ke rumah yang dimaksud diikuti Orhan, mendobrak pintunya dan menerobos masuk ke ruang tengah. Orhan dan Ahmed mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan mencari sumber suara perempuan tadi.
SREKKK SREKKK
"TIDAAAKKK, JANGANNN…. TOLONG AKU!"
Terdengar seperti suara kain yang disobek disertai suara gadis itu yang kembali berteriak. Suara itu terdengar dari ruangan yang di pojok rumah. Ahmed dan Orhan langsung bersiap mengambil posisi mendobrak di kanan dan kiri pintu, dengan isyarat hitungan Ahmed, mereka berdua pun menendang pintu kamar itu sampai pintu rusak dan terjatuh. Dengan cepat mereka berdua menerobos masuk dan menembak 2 tentara leonia di dalamnya.
"Aman!" ucap Orhan setelah 2 tentara Leonia itu jatuh.
Ahmed menatap lekat perempuan yang sedang duduk meringkuk di pojok ranjang yang ada di dalam kamar dengan kedua tangannya yang sedang memegang selimut didepannya, berusaha menutupi tubuhnya yang sepertinya sudah tidak memakai apa-apa. Usianya terlihat masih muda sekali, mungkin sekitar 16 tahunan. Mata birunya yang cantik masih mengeluarkan air mata, rambutnya lurus berwarna perak, kulitnya pun putih bersih. Tubuhnya bergetar, perempuan itu masih terlihat sangat ketakutan dengan tangannya yang masih memegang erat selimut dan mengeluarkan suara isakkan tangis. Wajahnya memiliki ciri khas wajah eropa timur. Terlihat dibawah ranjang baju yang sudah lepas dalam keadaan tersobek-sobek dan sangat tidak layak untuk dipakai lagi.
Ahmed pun mengisyaratkan Orhan untuk keluar dari ruangan itu. Lalu menurunkan senapannya, membuka balaclavanya, dan mengangkat kedua tangannya sambil memperlihatkan telapak tangannya, berjalan perlahan mendekati perempuan atau lebih tepatnya gadis muda yang masih meringkuk di atas ranjang.
"Tenanglah, kami disini untuk menyelamatkanmu. Kami bukan orang jahat. Kau sudah aman sekarang. Apa mereka menyentuhmu?" Ucap Ahmed memulai pembicaraan sambil masih mengangkat tangannya.
Gadis itu menggeleng pelan, lalu mengamati Ahmed dari ujung bawah sampai atas. Pakaian seragam hitam bercorak yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Tongkat hitam yang dapat membunuh dari jauh. Jelas sekali pria yang dilihatnya ini tidak berasal dari kerajaan manapun yang pernah dia kunjungi.
"Siapa kalian? Kalian datang dari kerajaan mana?"
"Kami adalah Tentara Ghazi dari Negeri yang bernama Daulah Islamiyah, namaku Ahmed. Untuk saat ini itu saja yang perlu kamu tau, untuk pertanyaan lain kamu bisa menanyakannya nanti. Apakah kamu punya pakaian yang lain?"
Gadis itu menggeleng.
Ahmed menekan Radionya lagi dan mulai memberikan perintah.
"Kelompok 6, bawa LAV dan Jip masuk ke desa. Yang lainnya tolong siapapun carikan aku pakaian dan bawa ke sini secepatnya."
Setelah berbicara di radio, Ahmed kembali memandang gadis didepannya yang masih terlihat ketakutan itu, pikirannya sibuk memikirkan apa yang harus dia lakukan terhadap gadis yang ada di depannya ini.
"Tunggu disini, aku akan mencarikan pakaian untukmu"
Gadis itu mengangguk dan Ahmed berjalan keluar dari rumah itu, lalu salah seorang anggotanya Adi membawakan kemeja seragam corak hitam, seragam cadangan yang seharusnya untuk Ahmed atau anggotanya sendiri. Namun, hal itu tidak masalah bagi Ahmed asalkan gadis yang dia selamatkan tadi bisa mendapatkan pakaian. Adi tidak membawa celana karena celana mereka tidak akan muat untuk dipakai gadis yang tubuhnya kecil. Ahmed pun kembali masuk ke rumah, lalu ke kamar tempat dia menemukan gadis rambut putih itu dengan membawa barang yang baru saja diberikan oleh Adi menemui gadis itu.
"untuk sementara pakai ini, aku akan menunggumu diluar." Ucap Ahmed sambil menyodorkan pakaian.
Gadis itu mengangguk dan mengambil pakaian yang disodorkan dengan tangan kanan sambil tangan kirinya masih memegangi selimut. Ahmed keluar dan menunggu selama 10 menit di ruang tengah. Gadis itu keluar dengan pakaian yang diberikan Ahmed sudah melekat di tubuhnya. Gadis itu juga masih memegangi selimut untuk menutupi bagian bawah tubuhnya karena kemeja yang dia kenakan hanya dapat menutupi sampai paha. Kemudian gadis itu mengikuti Ahmed yang berjalan keluar rumah dan berjalan di samping Ahmed.
"Ah iya, kamu belum memberi tahu namamu. Siapa namamu?" tanya Ahmed tiba-tiba.
Gadis itu menatap Ahmed sekilas, lalu kembali menatap jalanan depan dan juga anggota tim J17 yang sedang membereskan sisa-sisa yang ada di desa. Tangannya setia memegangi selimut yang dia bawa dengan erat.
"Namaku Sylvania Shafiel" jawabnya pendek.
Namanya terdengar seperti species karakter yang biasanya memiliki telinga runcing di cerita-cerita fantasy. Pikir Ahmed dalam hati. Tanpa Ahmed ketahui, Sylvania juga memiliki telinga yang bisa dibilang runcing dan tertutup oleh rambut putihnya. Ahmed gagal memperhatikan telinga runcing yang dimiliki Sylvania karena Ahmed sibuk menenangkan dan mencarikan pakaian untuk Sylvania.
Sylvania dapat melihat 4 kereta yang terbuat dari besi berjajar di depannya dengan 2 diantaranya berukuran lebih kecil dan 2 kendaraan yang lebih besar terlihat memiliki moncong panjang di atasnya. Kemudian Sylvania menoleh ke sekitar kendaraan itu, namun tidak berhasil menemukan hewan yang seharusnya digunakan untuk menarik kereta itu.
Setelah sampai di barisan jip dan LAV, Ahmed membuka salah satu pintu belakang LAV yang paling belakang dan mengisyaratkan Sylvania masuk ke dalamnya. Sylvania sempat ragu ragu untuk masuk ke kendaraan besi yang menurutnya terlihat sangat mengintimidasi dengan bendera merah bergambar bulan bintang dan tulisan yang tidak dapat dia baca berkibar diatasnya. Namun akhirnya Sylvania mau masuk ke dalam setelah melihat ekspresi wajah Ahmed yang terlihat meyakinkan. Sylvania juga menyadari bahwa bendera yang berada diatas kereta yang dia naiki sama dengan gambar yang berada di Lengan kanan bagian atas seragam Ahmed dan Tentaranya.
Ahmed sempat menatap matahari yang terlihat akan tenggelam dalam waktu dekat.
"Seluruh Anggota regu J17 segera berkumpul ke konvoi. Hari sudah menjelang maghrib. Kita akan kembali ke desa Ruma dan menetap di sana selama semalam."
Kemudian Ahmed pun menaiki LAV yang sama dengan Sylvania lewat belakang, disusul oleh anggota regunya yang menaiki kendaraannya masing-masing. Suara mesin pun terdengar setelah kendaraan dihidupkan.
"Osama, ayo jalan" perintah Ahmed.
"baiklah Letnan".
Osama pun kembali menyalakan mesin LAV dan suara mesin pun berderu keras membuat Sylvania bingung sambil menolehkan kepalanya ke kanan kiri mencari sumber suara yang mengeluarkan suara aneh itu.
"Suara apa ini? dan kenapa aku tidak melihat kuda di depan kereta kalian?". Suara sylvania yang menarik perhatian Ahmed dan anggota lainnya yang berada di belakang LAV.
Anggota Ahmed pun kemudian diam saja mengabaikan pertanyaan Sylvania karena mereka tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Sedangkan Ahmed tersenyum sekilas mendengarkan pertanyaan Sylvania.
"Sylvania, kita sudah tidak membutuhkan kuda lagi sekarang".
LAV pun berjalan menuju ke arah selatan. Sylvania yang melihat ke arah luar jendela kecil pun tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya terhadap kecepatan kendaraan yang sedang dikendarainya. Rasa takut yang tadinya dia rasakan seolah lenyap tergantikan dengan rasa takjubnya.
BERSAMBUNG…..
