Part 4 Pengungsi
Sylvania sedang sibuk mengagumi kendaraan yang dia naiki sambil melihat pemandangan keluar melalui jendela kecil yang berada di pintu belakang Safir, selain bergerak tanpa kuda, kereta yang dinaikinya berjalan lebih cepat dari kereta manapun yang pernah dia lihat. Padahal dari bahan pembuatannya saja kereta itu kelihatannya dibuat dari besi yang kokoh dan keras, pastinya sangat berat bila harus ditarik oleh kuda.
CLANK
Tiba tiba Sylvania terkejut dan mundur dari jendela kecil LAV Safir belakang setelah melihat panah yang membentur jendela itu, panah itu nyatanya tidak menimbulkan kerusakan sama sekali pada kendaraan LAV yang dia naiki. Ahmed yang menyadari keterkejutan Sylvania pun langsung ikut melihat ke Jendela belakang, melihat penunggang kuda yang jumlahnya puluhan mengejar mereka. Ahmed pun menekan radio dan memberikan perintah ke anggotanya yang berada di 3 kendaraan lainnya.
"Ada Leonia di belakang sedang mengejar kita. Bantu aku untuk menyingkirkan mereka dari belakang kita."
Radio diletakkan kembali, Ahmed pun mendekat ke Osama yang sedang menyetir.
"Osama, jalan lebih cepat."
Osama mengangguk.
Safir yang mereka naiki pun berjalan lebih cepat, namun kendaraan yang mereka naiki memang sedang tidak bisa berjalan cepat karena jalanan yang mereka lewati merupakan jalanan yang berbatu. Sehingga kelompok bantuan Leonia yang baru saja tiba langsung mengejar mereka dan mampu menyusul mereka di jalan Off road dan berbatu.
Setelah memberikan perintah, Ahmed beralih mengoperasikan remote senjata dan mengaktifkannya. Lalu mengarahkan meriam 25 mm Safir ke arah Kavaleri yang mengejar mereka. Kavaleri itu pun kembali melesatkan puluhan panah yang memantul di LAV Safir dan hanya menimbulkan sedikit goresan cat, sebelum akhirnya 25 mm yang dikendalikan Ahmed mulai menembak balik, disusul oleh 25 mm Safir yang berada di barisan paling depan.
TATATATATATA
Senapan 12.7mm yang dikendalikan oleh remot diatas mobil jamal pun ikut berputar kearah belakang dimana para penunggang kuda Leonia mengejar mereka dan menembakkan pelurunya secara beruntun.
TATATATATATATA
Satu persatu penunggang kuda itu jatuh dengan tempo yang sangat cepat berkat tembakan senapan 25 mm Safir dan kaliber 50 Jamal. Salah seorang di tengah kavaleri dengan baju noraknya yang berbeda dengan penunggang yang lain mengacungkan pedang runcing ke arah LAV milik Ahmed. Ahmed pun menyadari apa yang akan dilakukan oleh penunggang kuda itu.
"Osama, AWASS!"
Kilatan cahaya putih yang berasal dari pedang itu melesat melewati konvoi Ahmed, hampir mengenai LAV Ahmed. Ahmed pun langsung mengarahkan meriam 25mm yang dia kendalikan tepat ke arah orang yang mengacungkan pedang itu, lalu dengan sedikit tembakan beruntun, orang itu pun langsung jatuh dari kudanya. Anggota kavaleri lain yang tersisa pun terlihat panik dan memilih untuk berhenti mengejar konvoi Ahmed setelah melihat keadaan salah satu pimpinan mereka yang sudah tidak bernyawa dan juga kematian sebagian besar kawan mereka. Ahmed melepaskan remote kontrol yang dia gunakan dan kembali duduk bersandar sambil menghela nafas lega.
"Alhamdulillah…" Ucap Ahmed.
Sylvania yang tadi melihat secara keseluruhan pertempuran singkat yang baru mereka alami pun menatap nanar kearah Ahmed sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, lalu melihat sekilas ke jendela belakang LAV Safir dimana pasukan berkuda tadinya mengejar mereka, lalu kembali menatap Ahmed.
"bagaimana kalian bisa menang secepat itu mengalahkan pasukan elit Leonia yang jumlahnya melebihi kalian? kenapa aku tidak dapat melihat panah yang kalian tembakkan? Sihir apa yang sebenarnya kalian gunakan?" tanya Sylvania secara beruntun. Sylvania juga masih mengingat saat dimana Ahmed menolongnya dengan membunuh 2 orang Leonia yang berniat melecehkannya tanpa ada satupun panah yang menempel ditubuh mereka menggunakan tongkat hitam yang dibawa Ahmed.
Ahmed yang ditanyai pun menatap balik Sylvania dan menjawab.
"Kami tidak menggunakan panah maupun pedang lagi Sylvania. Apa yang kau lihat tadi merupakan kemampuan dasar yang dimiliki oleh senjata dan prajurit dari negara kami. Kami juga tidak menggunakan sihir".
"lalu senjata itu?"
"senjata yang kami gunakan murni buatan manusia dan hasil teknologi ilmu pengetahuan tanpa campur tangan sihir."
Sylvania menunduk sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing setelah melihat pertempuran singkat mereka dan mendengarkan penjelasan Ahmed. Seumur hidupnya dia belum pernah melihat senjata yang lebih mematikan dari yang digunakan oleh Ahmed dan pasukannya, senjata yang dapat membunuh siapapun dari jarak yang jauh dalam hitungan detik saja. Sebenarnya bagaimana kerajaan Daulah Islamiyah yang diceritakan oleh Ahmed itu? Seberapa besar dan hebat kerajaan itu? Kalau saja 20 pasukan bisa berbuat seperti ini, apa yang bisa dilakukan oleh ribuan pasukan seperti mereka?
Pertanyaan terus bermunculan di pikirannya
"Apa yang kamu lihat barusan hanyalah sedikit dari apa yang bisa kita lakukan. Kami masih punya senjata lainnya yang belum kamu lihat." Ahmed kembali menimpali.
Sylvania menjadi semakin ngeri mendengarkan pernyataan barusan. Pemikiran Sylvania berhenti ketika dia merasakan kendaraan yang dia naiki berhenti juga. di luar terlihat berbagai rumah-rumah kecil dan juga berbagai sawah dan perkebunan, menandakan saat ini mereka sedang berada di suatu desa. Mobil yang mereka kendarai berhenti di dekat salah satu pohon yang rindang.
"Kita sudah sampai, ayo turun" ucap Ahmed.
Sylvania turun bersama Ahmed dan pasukannya. Di luar, penduduk desa dalam waktu sekejap mengerubungi mereka, lebih tepatnya kendaraan mereka yang bisa berjalan tanpa kuda. Karena pertama kali mereka ke desa itu kendaraan mereka di parkirkan di luar desa, kepala desa Walt muncul dari balik penduduk desa yang berjajar di sekitar mereka.
"Oh kalian, kenapa kembali kesini? Apa ada yang kalian perlukan lagi dari kami?" Ucap Kepala desa ramah. Kepala desa sempat terheran melihat perempuan yang datang bersama mereka. Sebelumnya mereka tidak bersama perempuan.
"Kami baru saja dari desa Olin, disana kami melihat pasukan Leonia yang membunuh seluruh warga desa dan membakar rumah rumah mereka. Kami hanya dapat menyelamatkan 1 gadis ini. Mereka membunuh semua warga tanpa ampun."
Penduduk desa yang ikut mendengar penjelasan Ahmed langsung terkejut seketika itu juga. dalam waktu singkat, mereka langsung ramai dan panik.
"tenanglah semuanya" suara Kepala desa membuat penduduk kembali tenang.
"Sepertinya kota Eklaire memang sudah jatuh ke tangan Leonia. Mereka mulai mendatangi desa desa yang berada di sekitar kota dan membunuh bangsawan serta prajurit Scotia yang tersisa."
Walt pun berbalik menghadap para penduduk desa.
"Kita harus pergi ke ibukota Longnard untuk mengungsi. Malam ini siapkan barang bawaan yang ingin kalian bawa. Karena besok pagi kita akan memulai perjalanan kita menuju Longnard. Jangan membawa barang bawaan yang berlebihan. Aku yakin raja Rauffe akan melindungi kita dari orang-orang Leonia."
Penduduk desa pun mulai berpencar menuju rumah masing-masing untuk mengemasi barang-barang mereka. Walt kembali menghadap Ahmed.
"Kami akan pergi dari desa ini besok pagi setelah cahaya matahari pertama terlihat. Kalian boleh bermalam disini, tapi besok pagi kalian juga harus pergi dari sini. Kalian bisa tidur di lumbung padi sebelah rumahku untuk malam ini". Ucap Walt.
"Terima kasih, tapi apakah kami boleh meminjam satu kamar tidur di rumah anda untuk nona muda yang datang bersama kami? Dia tampak kelelahan setelah apa yang dia alami seharian ini." Tanya Ahmed.
"Tentu saja, tidak baik seorang gadis muda sepertinya tidur di luar rumah bukan. Mari ikuti saya ke rumah nona…-"
"Sylvania, namaku Sylvania" Sylvania memperkenalkan dirinya.
"Baiklah, silahkan ikuti saya nona Sylvania".
Sylvania pun memandang Ahmed seolah meminta izin darinya, lalu diangguki Ahmed. Akhirnya dia pun mau mengikuti kepala desa Walt untuk menginap dirumahnya. Ahmed membiarkan Sylvania tidur di rumah Walt karena Ahmed tau Walt memiliki seorang anak perempuan. Jadi Sylvania tidak akan sendirian di rumah Walt.
Setelah Sylvania masuk kerumah kepala desa, Ahmed pun berbalik menghadap ke 20 pasukannya.
"hari ini kita akan bermalam disini. Kita akan membagi tugas untuk berjaga, hubungi markas bahwa kita akan kembali besok. Rasyid, kau akan berjaga duluan, kita bertukar tugas jaga setiap 1 jam. Sekarang kita sholat Maghrib terlebih dahulu."
"siap letnan!" pasukannya menjawab bersama.
Pasukan J17 kemudian melanjutkan sholat Maghrib di dalam lumbung yang sudah disiapkan untuk mereka menginap. Kemudian dilanjutkan dengan sholat ishak. Ditengah mereka sholat, seseorang mengetuk pintu di lumbung padi, orang itu adalah Sylvania, dia datang ke lumbung padi sambil membawa secangkir minuman di tangan kanannya dan mencoba mengetuk pintu sekali lagi dengan tangan kirinya. Sylvania sudah berganti pakaian, kali ini mengenakan pakaian dress se-mata kaki. Pakaian yang dia kenakan sekarang merupakan pemberian kepala desa Walt yang sebenarnya milik mendiang istrinya.
Tidak kunjung mendapat jawaban, Sylvania pun mencoba mengecek ke dalam dan mencari Jendela di sekitar lumbung. Di dalam lumbung, Sylvania melihat ke 20 orang berdiri dengan kedua tangan dilipat di depan mereka membentuk 3 barisan dengan Ahmed berada di barisan paling depan seperti memimpin, lalu mereka bergerak menunduk, lali berdiri lagi dengan kedua tangan di samping, lalu bersujud, sampai selesai sholat.
Selesai sholat, salah satu dari mereka yang berada di barisan belakang berdiri duluan menuju pintu lumbung. Sylvania pun segera menjauhi jendela dan kembali berdiri di depan lumbung padi. Pintu terbuka menampakkan wajah laki-laki yang tadi beridiri terlebih dahulu.
"ah.. Nona Sylvania, ada keperluan apa?"
Sylvania menatapnya dengan pandangan bingung karena tidak tau apa yang dia katakan. Ismail yang membuka pintu pun menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Tunggu disini" minta Ismail sambil memberi isyarat menunjukan kedua telapak tangannya di depan. Lalu berjalan ke Ahmed yang terlihat masih duduk dalam lumbung barisan paling depan. Ismail pun membisikkan sesuatu ke Ahmed. Lalu Ahmed mengangguk paham dan berdiri, lalu berjalan ke arah pintu di mana Sylvania masih setia menunggu disana.
"ada yang kau perlukan?" tanya Ahmed setelah berdiri di depan Sylvania.
Sylvania yang ditanya pun dengan wajah sedikit menunduk menyodorkan cangkir yang dia pegang ke depan Ahmed.
"aku membuatkanmu minuman."
Ahmed memandang sekilas minuman yang dipegang oleh Sylvania, warnanya terlihat seperti teh, tapi agak sedikit hijau.
"Apa ini?" tanya Ahmed.
"ini minuman rauu, minuman ini bisa membuatmu hangat dan merilekskan tubuh mu."
"apa ini memabukkan?" tanya Ahmed lagi
Sylvania sedikit mengangkat wajahnya, lalu menggeleng. Ahmed pun mencari tempat untuk duduk di depan lumbung padi di ikuti oleh Sylvania yang kemudian duduk disampingnya, lalu Ahmed mencoba meminumnya sedikit setelah membaca basmallah.
Rasanya seperti teh ucap Ahmed dalam hati. Kemudian Ahmed meminumnya lagi sampai isi gelas itu tinggal setengahnya. Ada rasa hangat nyaman yang menjalar di tenggorokannya setelah meminumnya, seolah habis meminum jahe.
"Yang kalian lakukan barusan?" tanya Sylvania.
Ahmed yang merasa ditanyai memandang kearah Sylvania sekilas, lalu melanjutkan lagi menyisip minumannya sekilas. Lalu menjawab.
"itu merupakan cara kami berkomunikasi terhadap Tuhan kami".
Mereka kembali dalam suasana hening dengan Ahmed yang melanjutkan meminum rauu nya sampai habis.
"Aku belum berterima kasih atas apa yang kamu lakukan untukku hari ini" ucap Sylvania tiba-tiba.
Ahmed yang sedang melanjutkan minumnya berhenti dan memandang Sylvania saat mendengar ucapannya.
"Kau sudah menyelamatkanku dari para tentara biadab itu. Mungkin kalau kalian tidak datang untuk menyelamatkanku, aku sudah terbujur kaku di ranjang itu saat ini. Mereka memperkosa semua wanita di desa dan membunuh semua laki-laki. semuanya dilakukan tanpa memandang umur" lanjut Sylvania.
Ahmed melanjutkan minumnya sebentar, kemudian menaruh cangkir yang dipegangnya di samping. Kemudian mulai ikut berbicara.
"sudah merupakan kewajiban kami sebagai prajurit dan juga perintah dari tuhan kami".
Sylvania pun menunduk menendengar jawaban Ahmed, kemudian menanggapi jawaban Ahmed.
"Mereka yang membunuh penduduk desa yang tidak berdosa dan menghancurkan semua yang didepan mereka juga berbicara seperti itu". Ucap Sylvania sarkastik.
Ahmed pun tersenyum mendengar jawaban Sylvania. Di dunia nya pun 1000 tahun yang lalu kerajaan eropa juga seperti itu, membunuh orang-orang diluar peperangan termasuk wanita dan anak-anak di desa-desa muslim yang mereka datangi, salah satunya di perang salib sampai mereka akhirnya dikalahkan oleh tentara muslimin.
Ahmed pun menjawab perkataan Sylvania lagi.
"Tuhan kami melarang kami untuk membunuh Wanita dan anak-anak, ataupun laki-laki yang menyerah atau tidak memilih untuk berperang dan lebih memilih berdamai. Kami diharuskan untuk berlaku adil antara rakyat kami yang asli atau pun penduduk kerajaan lain yang sudah menjadi rakyat kami."
"Tuhanmu pasti sangat baik sekali sampai melarang kalian membunuh siapapun di medan perang yang bukan termasuk tentara." Tukas Sylvania sambil tersenyum kecut.
"Kau tidak tidur? Ini sudah malam, kau butuh istirahat setelah apa yang telah kau lalui."
Sylvania pun mengangguk lalu mengambil cangkir kosong yang ada disamping Ahmed lalu beranjak berjalan kembali ke rumah kepala desa Walt. Ahmed pun beranjak melaksanakan tugas jaganya dengan memposisikan dirinya di depan pintu.
###
Ahmed POV
Aku melihat ke arah jam tanganku dan ternyata tidak terasa 1 jam telah berlalu. Pintu lumbung dibelakangku terbuka dan menampakkan Karim yang sudah menenteng senapannya untuk melaksanakan tugas jaga. Selain itu dia juga membawa peralatan kompor portable dan juga panci kecil yang sudah terisi air.
"Sebaiknya kau istirahat letnan, ini giliranku untuk berjaga".
Aku pun mengangguk dan mengambil senapan T-7 nya yang ada disampingku, lalu beranjak masuk ke lumbung.
"aku mendengarkan percakapanmu dengan gadis itu letnan, Orhan juga telah menceritakan bagaimana kalian berdua menyelamatkan gadis itu di desa Olin."
Ucapan Karim menghentikan langkah kakiku.
"apa kau berniat untuk membuatnya masuk Islam letnan?" lanjut karim sambil menyalakan kompor portable nya dan mulai memasak air didalamnya.
"tugas kita sebagai muslim hanyalah memberitahu dan mengabarkan tentang Islam Karim, bukan hanya kepada gadis itu, tapi ke seluruh umat manusia yang bisa kita jangkau.. Masalah mereka akan masuk Islam atau tidak, kita serahkan kepada Allah." Jawab Ahmed dengan santai, lalu berjalan lagi kedalam lumbung.
"kau benar letnan, Islam tidak hanya diperuntukkan bagi umat manusia yang ada di bumi saja, tapi dimana saja manusia berada." Karim ikut menimpali sambil menuangkan bubuk kopi ke dalam pancinya yang isinya sudah masak dan mengaduknya, kemudian menyisipnya.
Di dalam lumbung, aku mengambil sleeping bag di pojok, lalu mulai membongkarnya dan masuk kedalam sleeping bag itu untuk mengarungi alam mimpi.
###
Aku mencoba membidikkan peluncur roket Anti Tank AR-3 Al Mudamir yang aku pegang ke arah T-90 yang saat ini sedang menembaki para mujahidin. 3 tank yang dihadapanku saat ini sudah membunuh ratusan pejuang mujahidin dalam waktu 1 jam ini. Belum lagi helikopter Hind yang terbang diatas sana.
Aku menekan pelatuk AR-3 dan roket pun meluncur dan menghancurkan salah satu tank itu. Aku pun menjatuh kan peluncur roket yang sudah tidak beramunisi itu dan berlari ke arah pos yang terdapat senapan mesin MT4 di atasnya. Lalu menembakkan senapan mesin itu ke helikopter yang menembaki bangunan penduduk. Orang-orang Rusia itu memang tak kenal ampun dan membunuh siapa pun di medan perang tanpa memandang wanita, pria, dan anak-anak. Aku dapat melihat helikopter yang aku tembak mulai jatuh kehilangan kendali dengan kaca pilotnya yang pecah dan terciprat darah dari dalam.
Aku mulai menembak infantri soviet yang berusaha menembus garis pertahanan mujahidin dengan senapan yang sama, tapi belum lama menembak, helikopter yang tadinya berhasil kujatuhkan ternyata berputar-putar kehilangan kendali mengarah ke posku. Aku pun langsung melompat keluar dari pos dengan helikopter yang jatuh meledak di belakangku. Belum sempat berdiri, aku dapat melihat salah satu dari 2 tank yang tersisa mengarahkan meriamnya ke posisiku, lalu menembakkan senjatanya.
###
Aku langsung membuka mataku dengan nafas yang memburu. Ternyata aku memimpikan kejadian 15 tahun lalu, tahun pertama aku terjun ke medan perang. Saat itu aku masih berusia 18 tahun dan baru lulus SMA, mendapat penugasan pertama di provinsi Turkistan yang ada di asia tengah dalam rangka menyiapkan Turkistan yang baru saja menjadi bagian dari wilayah daulah Islam. Ketika itu, pasukan Rusia melakukan agresi dan mencoba merebut kembali wilayah turkistan dengan menyerang pos yang waktu itu aku tempati.
Pasukan daulah dan perlawanan mujahidin Afghanistan mendapat banyak korban jiwa waktu itu karena senjata yang tersedia di pos itu masih sangat minim. Meski begitu kami berhasil bertahan dan mengusir tentara Rusia keluar dari wilayah Turkistan setelah kami mendapat bantuan dari Resimen Hindustan ke 10 dan Batalion lapis baja ke 2 Afganistan.
Pangkat letnan yang aku dapat saat ini tidak hanya aku peroleh dari akademi militer saja. tetapi juga pengalaman bertempur selama 5 tahun di berbagai tempat, khususnya di provinsi Turkistan yang seringkali diserang oleh pemberontak Soviet atau pun agresi militer Rusia yang ingin menyatukan wilayah Soviet yang terpecah.
5 tahun setelah menjadi bagian dari tentara Ghazi dengan pangkat terakhir Kopral, aku mengikuti akademi militer dengan rekomendasi dari atasanku saat ini. setelah menghabiskan waktu 4 tahun, aku dapat lulus dengan pangkat letnan dua. 2 tahun kemudian, aku mendapat promosi menjadi letnan satu sampai sekarang.
Aku melihat jam tanganku yang menunjukan pukul 4 pagi, lalu menoleh ke Aryan yang sedang mengumandangkan Adzan di dekat jendela lumbung.
"As sholaaaatu khoirum minan naum"
Aku menggelengkan kepalaku sebentar, lalu beranjak untuk mengambil wudhu dan sholat Shubuh berjamaah dengan tim ku.
Jam 6 pagi, kami sudah selesai berkemas dan siap untuk berangkat kembali ke markas tentara Ghazi di bukit Daria. Penduduk desa pun juga sudah terlihat mulai bangun dan menata barang bawaan mereka di kereta yang mereka bawa. Aku berjalan ke arah rumah kepala desa Walt yang ada di samping lumbung tempat kami bermalam. Aku mengetuk pintu rumah kepala desa, tidak lama kemudian pintu terbuka dan menampilkan sosok kepala desa di depanku.
"Terima kasih atas tempat yang anda sediakan untuk kami menginap. Kami akan kembali ke bukit Daria dan saat ini sedang menunggu Sylvania."
"Oh iya, dia sedang sarapan meja makan kami. Aku akan memanggilnya sekarang, sepertinya dia sudah selesai makan."
Walt pun kembali masuk ke dalam. Aku masih setia menunggu diluar sampai beberapa menit kemudian, pintu terbuka lagi dan menampilkan sosok Sylvania.
"ayo kita berangkat" ajak ku pada Sylvania yang kemudian dibalas anggukan.
Kami berjalan ke arah konvoi kendaraan yang masih terparkir di depan lumbung. Anggota timku selesai memasukkan barang barang kami. Aku mempersilahkan Sylvania masuk terlebih dahulu ke LAV Safir di paling belakang, lalu aku ikut masuk mengikuti dibelakang Sylvania.
Baru saja kaki kananku menginjak lantai LAV, suara teriakan panik penduduk menghentikan langkahku. Aku menoleh kebelakang dan membelalakkan mataku ketika melihat para penduduk yang dikejar-kejar pasukan berkuda yang berseragam sama dengan kavaleri yang kemarin mengejar kami. Salah satu dari mereka menggunakan kaki kudanya yang terangkat untuk mendobrak rumah kepala desa kemudian turun dari kudanya dan masuk kesana.
"Semua unit, bidik dan tembak. Kita harus melindungi penduduk desa, Laa hawla wa laa quwwata illa billah". Seru ku sambil memandang setiap anggotaku yang berada di dekatku dan di jawab serentak seluruh anggotaku.
"Laa hawla wa laa quwwata illa billah".
Lalu kami berpencar dan mulai menembaki musuh-musuh yang di sekitar kami. Aku dapat melihat Hendra dan Yusuf berjalan masuk ke arah bangunan tinggi. Faruq yang ditemani Aryan sedang berusaha mengobati salah satu penduduk dengan Aryan yang melindunginya dibelakangnya. Aku bersama Karim masuk ke rumah kepala desa, disana sudah tergeletak mayat kepala desa di belakang tentara berbaju zirah yang sedang mengarahkan pedangnya ke putri kepala desa yang berdiri ketakutan dan terpojok di sudut ruangan.
Aku mengambil bilah pisau di pinggangku dan berjalan pelan ke arah pria berbaju kesatria itu, lalu mengarahkan pisau itu dan menancapkannya tepat di lehernya di sela-sela baju zirahnya kemudian langsung mencabutnya.
"Akkhh…."
Kesatria itu seketika langsung berhenti bergerak, lalu terjatuh dengan darah berkeluaran dari leher tempatku menancapkan pisauku. Karim yang tadi berada dibelakangku mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan tentara ke wanita itu yang kemudian disambut olehnnya. Karim menariknya keluar rumah menuju Konvoi dan memasukkannya di dalam LAV Safir yang sama dengan Sylvania. Anak kepala desa yang baru masuk ke dalam LAV itu disambut dengan pelukan hangat Sylvania di dalam.
Di Jip Jamal, Ubaidah dan Abdul sibuk menembakkan senapan mesin MT5 yang ada diatasnya. Sedang kan meriam safir 25mm juga tidak ketinggalan bergerak menembaki pasukan berkuda yang datang dari arah depan maupun belakang.
Aku mengarahkan senapanku ke kesatria berkuda yang sedang mengejar seorang wanita yang menggendong bayi dengan tombak terarah ke wanita itu. Aku menembakkan T-7 ku 3 kali ke kesatria itu tanpa meleset dan kesatria itu pun langsung terjatuh dari kudanya, lalu meraih radio yang berada di pundakku.
"Semua unit melapor." Perintahku di radio
"disini Kelompok 2, mereka tampak tidak ada habis-habisnya, aku sudah menghabiskan 2 mag peluru."
"disini Kelompok 4, aku sudah menjatuhkan 15 orang kesatria, para bedebah ini memang tidak tau kapan untuk berhenti."
Laporan terus berdatangan diradio ku. Aku kembali menoleh ke medan pertempuran dan melihat salah satu kesatria menusukkan tombaknya ke laki-laki yang sedang melindungi istri dan anak gadisnya di gang desa.
"Karim, selamatkan mereka." Perintahku sambil menunjuk ke kesatria yang masih menusukkan tombaknya.
Karim pun menembakan senapannya 5 kali ke arah kesatria itu sampai terjatuh. Lalu berlari ke arah mereka sambil memanggil Faruq sebagai petugas medis. Dentingan panah yang memantul di LAV dekatku mengalihkan perhatianku ke belakang Konvoi, disana 4 penunggang kuda mengarahkan busur dan panahnya ke arahku, lalu menembakku lagi. Aku langsung meloncat berlindung ke tembok lumbung padi menghindari tembakan panah mereka. Aku menembakk ke arah penunggang pertama.
Satu penunggang gugur. Aku kembali berlindung saat mereka meluncurkan panahnya, lalu menembak lagi ke penunggang kedua dan ketiga. Saat aku menembak penunggang ke 4, penunggang itu sudah meluncurkan panahnya dan mengenaiku di dada. Faruq yang melihatku terkena panah langsung berlari ke arah ku dan mengecek kondisiku.
"Letnan…!"
"Tidak apa apa, hanya mengenai rompiku saja. Bagaimana keadaan laki-laki itu?"
Faruq yang selesai memeriksaku menggeleng.
"Tombaknya mengenai jantungnya, laki – laki itu sudah tidak ada ketika aku sampai di sampingnya. Istri dan anaknya saat ini sudah berada di LAV depan.
Aku kemudian berdiri dan melihat ke arah sekitar. Lalu tiba tiba cahaya biru mengarah ke posisiku dan Faruq dari tempat dimana ke 4 penunggang sebelumnya berada.
"Awas…" Secara reflek aku mendorong Faruq dan kembali berlindung di tembok lumbung padi. Cahaya biru itu terus membentur tembok tempatku berlindung membuatku dan Faruq merasa terpojok. Rontokan tembok yang terbuat dari batu itu terus mengenai aku dan Faruq.
Aku melirik meriam 25mm yang berada di atas LAV yang terparkir di dekatku memutar moncongnya, lalu menembakkan meriamnya ke arah kesatria yang menembak cahaya biru tadi menembus tembok. Aku kembali berdiri, lalu berlari ke arah kesatria yang tadinya menembak kami dengan sihir. Disana 2 orang kesatria itu sudah tergeletak tak bernyawa dengan salah satu dari mereka kehilangan tangannya, sedang yang satu lagi memiliki lubang besar di dadanya.
Aku kembali berjalan ke posisi Faruq, disana dia baru selesai berdiri sambil masih memegangi kepalanya.
"Kau tidak apa apa?" tanyaku khawatir ke Faruq
"Aku baik baik saja Letnan, sihir yang mereka tembakkan cenderung acak dan tidak presisi, aku hanya terkena rontokan batu saja."
Aku mengangguk mendengar jawaban Faruq, lalu melihat keadaan sekeliling kita.
Kendaraan di konvoi saat ini sudah berhenti menembak. Pasukan berkuda musuh sudah tidak terlihat lagi. Hanya beberapa suara tembakan kecil yang terdengar dari jauh saat ini. Anggota tim pasukan ku mulai berdatangan kembali untuk berkumpul di Konvoi, masing-masing dari mereka diikuti oleh warga desa yang masih hidup dibelakangnya yang kebanyakan terdiri dari wanita dan anak-anak.
Orhan berjalan mendekat ke arah ku dan berkata.
"Para laki-laki telah gugur semua melindungi keluarga mereka masing-masing, kami hanya dapat menyelamatkan sekitar 50 warga. Semuanya terdiri dari wanita dan anak-anak." Ujar Orhan.
"Mereka mengulangi apa yang sudah mereka lakukan di desa Olin. Membunuh semua warga desa tanpa pandang bulu. Ini sudah bisa disebut sebagai genosida." Aku ikut menimpali.
"Ahmed, aku mengusulkan mereka untuk ikut serta dengan kita kembali ke markas. Mereka sudah kehilangan pelindung mereka, kita tidak bisa membiarkan mereka sendirian." Kali ini Karim menyampaikan usulnya.
"Baiklah, kita akan membawa mereka ikut serta bersama kita. Cari kereta-kereta yang masih bisa digunakan dan kaitkan dibelakang kendaraan kita, aku rasa 2 Jip dan 2 LAV tidak akan cukup membawa 50 orang." Aku memberikan perintah ke anggotaku.
"kenapa kita tidak menelpon markas dan meminta bantuan ke mereka untuk mengirimkan kendaraan tambahan kemari?" Tanya Tariq.
"Dari markas akan memerlukan waktu untuk mengirimkan kendaraan tambahan mereka meskipun itu helikopter. Kalau kita menunggu lebih lama lagi disini, bala bantuan musuh akan tiba disini dan akan jatuh korban dari penduduk desa lagi. Kita harus bergerak meninggalkan tempat ini secepat yang kita bisa."
Tariq pun mengangguk paham dengan jawabanku lalu membantu anggota lain mencari kereta. Radio mendengung sekilas.
"Disini Kelompok 2, kami menemukan satu kereta yang masih utuh dan bisa digunakan di dekat gedung 3 lantai 50 meter sebelah timur, tapi kudanya sudah mati. Kami butuh Jip disini."
Salah satu jip pun bergerak ke lokasi yang di deskripsikan, laporan lain pun menyusul dengan ditemukannya kereta yang lain.
Aku mulai berbicara dengan para penduduk desa yang masih hidup.
"Kami akan kembali ke markas kami di bukit Daria, kalau kalian mau kalian bisa ikut dengan kami. Di sana kalian akan mendapatkan perawatan, makanan, tempat tinggal, kami juga akan melindungi kalian. Yang bersedia ikut kami silahkan menaiki kereta dan kendaraan yang sudah kami sediakan."
Awalnya mereka ragu-ragu untuk setuju, akhirnya setelah seorang perempuan yang menggendong bayinya mau masuk ke dalam kereta, yang lain pun mulai bersedia ikut dan menaiki kendaraan kami.
Kami berangkat 30 menit kemudian dengan anak-anak berada di dalam Jip dan LAV sedangkan penududuk dewasa berada di kereta yang ditarik oleh jip dan LAV. Tentara anggotaku berada di kendaraan bagian depan dan di atap kendaraan.
Aku pun ikut memasuki LAV dan duduk di kursi depan bersama Osama, di LAV terakhir.
"Ayo jalan, kita menuju ke markas kita di bukit Daria. Jangan terlalu cepat, kita tidak mau merusak kereta di belakang kita". Perintahku
Osama mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya. Perlu waktu 2 jam untuk sampai kesana menggunakan kendaraan kami sehari sebelumnya. Mungkin dengan kecepatan ini, kita akan memerlukan waktu 3 jam setengah.
Di tengah perjalanan, seseorang menarik kain bajuku dibelakang, lalu setelah aku menoleh kebelakang, ternyata itu adalah Sylvania.
"Apakah kau punya air?" Tanya Sylvania setelah aku menoleh ke arahnya.
Aku pun beranjak ke bagian belakang mobil di tempat beberapa anak-anak kecil duduk. Aku mengambil kardus dari bawah salah satu kursi, lalu membukanya dan membagikannya ke anak-anak yang ada di dalam LAV termasuk Sylvania.
Sylvania mengambil air yang berada di gelas pelastik itu, lalu membuat lubang di gelas itu dan membuat gerakan tangan. Yang membuatku terkejut adalah, air yang ada didalam gelas itu melayang keluar, lalu mengarah ke tangan putri kepala desa yang belakangan ini aku ketahui namanya Lusie, aku baru menyadari kalau di lengan Lusie terdapat luka sabetan pedang. Mungkin tadi aku tidak terlalu memperhatikannya dan fokus membunuh kesatria yang berniat mencelakainya. Bagiku Lusie masih terlalu muda untuk melihat peperangan. Usianya mungkin baru mencapai 18 tahun, tapi selain Lusie juga masih banyak anak-anak lain yang juga jauh lebih muda dari Lusie dan mereka juga melihat peperangan yang sama dengan Lusie. Bahkan beberapa dari mereka kehilangan kedua orang tuanya.
Air itu menempel di lengan Lusie yang memiliki luka sabetan, lalu Sylvania memegang air yang menempel di lengan Lusie hingga air itu menyelimuti tangan Sylvania dan kemudian bercahaya putih tidak lama kemudian, ketika cahaya putih itu hilang, air yang digunakan Sylvania pun juga hilang. Lengan Lusie yang tadi lukanya berdarah kini terlihat sedikit mengering. Darah pun sudah tidak mengalir lagi dan seketika itu Lusie sudah tidak terlihat kesakitan seperti sebelumnya.
"Masya Allah" Ujar Ahmed pelan.
"Terima kasih Sylvania, aku belum pernah bertemu Elf sebelumnya, apalagi Elf yang baik sepertimu" Lusie berterima kasih.
Elf? Tanyaku dalam hati.
Aku melirik telinga Sylvania dan yang benar saja, telinganya memang terlihat lebih runcing dari telinga manusia pada umumnya. Mungkin bila dilihat sekilas tidak terlihat, tapi bila di perhatikan maka akan nampak perbedaannya.
"Sama-sama Lusie, tidak semua Elf jahat, beberapa dari kami juga ada yang suka berbuat baik kepada manusia tanpa memandang ras mereka."
Aku menggeleng pelan mengetahui kenyataan yang ada di depanku. Lalu kembali ke tempat kemudi di samping Osama.
"Kenapa raut wajahmu terlihat sedikit gusar Letnan?" tanya Osama.
"Kita baru saja menyelamatkan seorang Elf dari desa Olin."
Dahi Osama yang masih mengemudi mengkerut saat mendengar jaawabanku.
"Apa itu Elf?" tanya Osama lagi.
"Mereka bangsa istimewa yang sering diceritakan di novel fantasi, aku tidak tau apakah Elf yang pernah aku baca sama dengan yang kita temui di sini."
Osama kembali fokus mengemudikan LAV nya. 2 jam kemudian, kita telah sampai di tujuan kita. Sekitar 1 kilo di depan garis pertahanan merupakan papan nama sekaligus peringatan bagi yang akan masuk. Disana tertulis.
"Benteng Andalusia"
"Anda memasuki wilayah Daulah Islamiyah"
Tulisan itu tertulis dengan 3 huruf dan bahassa, yaitu huruf arab, huruf latin dalam bahasa inggris dan huruf lokal yang terlihat seperti kotak kotak. Garis pertahanan pertama berupa pagar berduri dan parit, garis pertahanan kedua berupa karung pasir yang ditumpuk-tumpuk, garis pertahanan terakhir berupa tembok yang pondasinya masih dalam tahap konstruksi. Disana terlihat berbagai kendaraan seperti Jip, LAV, APC, dan beberapa tank yang sedang latihan menembak. Di atas terdapat beberapa helikopter H-1 dan H-2 yang beterbangan di atas. Di dalam markas terdapat dua helikopter yang mencuri perhatianku sedang diparkirkan di landasan helikopter, yaitu H-3 yang katanya baru saja di produksi. Semua mesin perang itu berwarna hitam seperti seragam Pasukan Ghazy. Luas Benteng Andalusia diperkirakan mencapai 30 Kilometer persegi dengan bentuk segi delapan.
Sylvania dan penduduk desa lainnya tidak bisa berhenti menunjukan wajah kekaguman dan kengerian mereka selama melihat markas dan mesin perang yang dimiliki oleh Daulah.
"Mereka semua menggunakan tongkat sihir" ujar Lusie sambil melihat beberapa Pasukan Ghazi yang sedang berlatih di salah satu tempat yang dijadikan lapangan tembak.
"Gajah besi, Capung raksasa, kereta besi tanpa kuda, tongkat sihir yang dimiliki semua prajurit. Kalian memiliki semua yang bahkan tidak bisa kami bayangkan sebelumnya" kali ini Sylvania yang berujar.
Aku hanya bisa tersenyum di samping Osama mendengarkan pembicaraan mereka. Mungkin aku perlu menjelaskan kepada mereka kapan hari tentang tentara kami yang sama sekali tidak menggunakan unsur sihir.
Mobil kami berhenti di depan tenda besar dengan tiang bendera yang mengibarkan bendera Daulah di depannya. Tim ku dan warga pengungsi mulai turun dari kendaraan. Beberapa prajurit lain di benteng pun mulai berdatangan dan ikut membantu mereka membagikan makanan dan mengantarkan mereka ke tenda yang akan mereka gunakan untuk tempat tinggal sementara. Tak jauh dari sini, aku bisa melihat tenda kesehatan, disana terdapat beberapa tim medis serta perawat-perawat wanita dari balik Al Jisr mereka juga mulai bergerak kesana kemari membantu para pengungsi dan juga mengobati mereka yang sekiranya terluka. Aku perkirakan jumlah pasukan disini telah menambah 2 kali lipat dibanding pertama kali kami masuk ke dunia ini.
Aku mulai berjalan masuk ke tenda besar untuk melapor ke kolonel Umar. Mungkin dia akan menghukum ku atau memarahiku karena membawa pengungsi tanpa meminta izin terlebih dahulu. Langkahku berhenti ketika aku sampai di depan meja kolonel Umar yang sedang sibuk menulis sesuatu di balik laptopnya tanpa menyadari keberadaanku.
"Assalamualaikum" salam ku ke Kolonel yang kemudian dijawab
"Waalaikumsalam"
Kolonel Umar pun akhirnya menutup laptopnya lalu memandangku dan mulai membuka pembicaraan.
"Jadi kau sudah kembali, duduklah. Aku dengar keramaian di depan sana, sepertinya kau membawa beberapa pengungsi ke benteng kita."
Aku pun duduk di kursi yang tersedi di depan kolonel.
"Maaf kolonel, aku tidak bisa mengabari markas terlebih dahulu terkait keputusanku membawa pengungsi, aku khawatir permintaanku membawa pengungsi akan ditolak dan harus meninggalkan mereka di desa itu tanpa orang-orang yang menjaga mereka." ucapku menjelaskan pengungsi yang aku bawa.
"kau tau kita tidak sejahat itu Ahmed, Islam mewajibkan kita untuk menolong mereka yang membutuhkan pertolongan terlepas mereka muslim atau bukan. Bisakah kau ceritakan padaku bagaimana kau bisa membawa pengungsi kemari?"
Aku mulai menceritakan semua yang terjadi kepada aku dan anggotaku selama tugas pengintaian kami, mulai dari kejadian di desa Olin, sampai pagi dimana kita di sergap oleh kesatria Leonia di pagi hari. Kolonel pun sempat terdiam sebentar untuk berpikir setelah mendengar penjelasanku. Lalu akhirnya menanggapi.
"Kau telah melakukan hal yang benar Ahmed, mereka membutuhkan kita untuk menjadi pelindung mereka. dari dulu Daulah Islamiyah selalu membuka perbatasan mereka untuk menerima para pengungsi yang datang dari medan perang seperti Armenia di perang dunia 1 dan juga penduduk Jerman – Austria di perang dunia 2. Regu lain pun juga sama menemui berbagai desa yang di bakar dan membawa beberapa pengungsi. Mungkin aku malah akan menghukummu jika kau tidak membawa mereka kemari."
"Ngomong-ngomong, Peta Edela yang kau bawa juga akan sangat berguna, karena sebelumnya kita hanya bisa mendapatkan peta lokal di sekitar kota Eklaire dari tentara mereka yang menyerang gaza, tentang apa yang sudah terjadi kami akan menunggu keputusan khalifah tentang apa yang akan kita lakukan kedepannya terhadap kerajaan Leonia dan lainnya, meskipun aku memperkirakan bahwa akan ada peperangan dan penaklukan di dunia ini nantinya".
Kemudian Kolonel Umar berhenti sejenak untuk meminum kopinya yang ada di meja, lalu kembali melanjutkan.
"Sebenarnya Khalifah dan juga para petinggi militer lainnya juga sudah memperkirakan kejadian semacam ini, mereka sudah merencanakan supplai tambahan untuk kebutuhan pengungsi dikirim ke dunia ini. Hanya saja kami tidak mengira kalau pengungsi itu akan mulai berdatangan di hari kedua kita disini. Untungnya suplai tambahan itu sudah mulai dikirim pagi ini, jadi kita sudah bisa mulai mengurus pengungsi itu tanpa masalah. Kau boleh kembali ke tendamu bersama tim mu, masalah pengungsi yang kau bawa tidak perlu khawatir, mereka sudah berada di tangan yang tepat"
Aku mengangguk kemudian berdiri menghormat ke kolonel, lalu mulai beranjak untuk keluar dari tenda petinggi militer. Tapi sebelum aku mulai melangkah pergi, kolonel berpesan lagi.
"lain kali kalau kalian mau membawa pengungsi lagi, usahakan untuk menghubungi markas agar kami bisa menyiapkan kebutuhan para pengungsi lebih cepat."
"Baik kolonel, lain kali aku akan melapor ke markas terlebih dahulu. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Aku pun melanjutkan langkahku untuk keluar dari tenda.
BESAMBUNG…
