Part 5 Benteng Andalusia
Third POV
Para pengungsi yang dibawa oleh Ahmed dan kelompok lainnya di sediakan tenda untuk tempat tinggal mereka sementara termasuk Sylvania. Awalnya mereka dibawa ke tenda kesehatan terlebih dahulu untuk pemeriksaan, terutama tentang adanya penyakit. Lagi-lagi Sylvania merasa kagum dengan teknologi yang dimiliki oleh daulah. Pemeriksaan berjalan relatif cepat karena tersedianya peralatan yang canggih. Kebanyakan perawat yang ada di tenda kesehatan merupakan wanita yang dibimbing oleh dokter, sedangkan sebagian besar dokternya merupakan pria, tapi itu tidak jadi masalah untuk pengungsi.
Semua perawat yang bekerja di sana menggunakan kerudung, bahkan beberapa ada yang menggunakan masker atau cadar. Mungkin merupakan budaya dari tempat Ahmed berasal dimana perempuan harus memakai kerudung pikir Sylvania ketika melihatnya. Tapi yang masih belum bisa dia pahami adalah kenapa semua perempuan harus memakai kerudung.
Tapi jika dipikir kembali, hampir semua pasukan yang berasal dari tempat Ahmed juga menutupi wajah mereka dengan semacam kain, terutama ketika mereka sedang di tengah medan tempur atau sedang bertugas. Mungkin Sylvania perlu menanyakan hal ini juga ke Ahmed untuk memuaskan rasa keingintahuannya.
"Sudah selesai" ujar perawat yang sedang memeriksa Sylvania yang membuyarkan pemikirannya.
"Tekanan darahmu normal tidak ada kelainan di kondisi tubuhmu, malah sepertinya kondisi tubuh mu sangat bagus sekali dan stabil, sepertinya kau punya pola hidup yang sehat". Lanjut perawat itu.
Sylvania sedikit mengkerutkan dahi nya, tidak mengerti dengan apa yang perawat itu katakan. Perawat itu menyadari raut wajah bingung Sylvania dan menepuk dahinya. Lalu mengambil buku kamus yang ada di mejanya dan membacanya, berusaha berbicara dengan bahasa Inggris.
"Kondisimu sangat baik, tidak ada penyakit apapun di dalam tubuh mu" ucap perawat dengan logat kaku sambil membaca buku.
"kau boleh kesana untuk mengambil makananmu" lanjut perawat itu sambil menunjuk ke salah satu meja dengan pria berseragam militer dibelakangnya sedang mendata dan mengambilkan makanan untuk para pengungsi yang mengantri disana.
Sylvania kemudian berdiri dan berjalan ke arah meja yang ditunjuk dan ikut mengantri selama beberapa menit. Saat sudah sampai pada gilirannya, tentara yang membagikan makanan menanyakan namanya terlebih dahulu.
"namamu siapa?"
"Sylvania Shafiel"
Tentara itu menulis namanya di kertas yang ada di atas meja, kemudian mengambil kaleng dan segelas plastik air putih dari kardus disamping kanannya, lalu membuka kalengnya sedikit, dan memberikannya ke Sylvania.
"terima kasih" ucap Sylvania.
"silahkan dinikmati, maaf kalau makannya tidak terlalu enak".
Selesai mengambil makanan, Sylvania berjalan keluar dari tenda kesehatan, lalu menuju ke area tenda pengungsi mencari tempat untuk makan yang sudah disediakan berupa meja dan kursi plastik.
"Sylvania!"
Sylvania menoleh ke sumber suara yang memanggilnya, disana Ahmed sudah duduk di salah satu kursi yang disediakan. Sylvania pun berjalan ke kursi dimana Ahmed duduk dan ikut duduk di kursi sebrang meja Ahmed.
"bagaimana keadaanmu?" Ahmed memulai pembicaraan.
"mereka bilang kondisiku baik-baik saja"
Sylvania mengambil sendok plastik diatas kaleng, lalu membuka kaleng makanannya, dan memandang isi kaleng yang berwarna coklat itu dengan tatapan bertanya.
"itu bubur gandum, cobalah" Ahmed menjawab kebingungan Sylvania.
Sylvania pun mengangguk dan mulai melahap bubur gandumnya. Disaat suapan pertama mendarat di mulutnya, matanya terlihat berbinar.
"kau yakin ini gandum? Bagaimana bisa se enak ini?" tanya Sylvania sambil melanjutkan suapannya.
Ahmed tampak mengabaikan pertanyaannya dan melihat Sylvania yang masih makan dengan lahap. Ketika suapan terakhir sudah mendarat di mulut Sylvania. Ahmed baru mulai bicara lagi.
"Sylvania, bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Tentu saja senang, makanan, tempat tinggal, pakaian. Meskipun tempat tinggalnya hanya berupa tenda, tapi tetap saja nyaman. Aku suka" jawab Sylvania dengan menunjukan ekspresi senangnya
Ahmed menghela nafas sedikit, lalu berbicara lagi.
"Maksudku, tentang kehilangan desa dan keluargamu, kehilangan tempat tinggalmu yang sudah lama kau tempati. Aku bisa mengerti kalau kau mungkin masih memikirkan itu semua."
Sylvania ikut menghela nafasnya sambil meletakkan sendoknya ke kaleng yang sudah kosong di depannya.
"Aku bukan penduduk asli desa Olin, aku hanya menginap di sana. Bahkan aku bukan penduduk Scotia."
Ahmed menaikkan alis matanya, semakin penasaran dengan cerita Sylvania.
"Sebenarnya aku adalah penduduk asli kerajaan Isylum. Tapi semenjak 50 tahun yang lalu aku mulai hidup mengembara berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu kerajaan ke kerajaan yang lain. Awalnya aku mengembara bersama ibuku, tapi ibuku sudah meninggal 10 tahun yang lalu ketika kami dikepung binatang buas saat melewati hutan. Ibuku mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku. Semenjak itu aku berkelana sendirian dari satu desa ke desa lain sampai sehari yang lalu kau menyelamatkanku dari tentara Leonia yang mau melecehkanku."
Ahmed mencoba mencerna cerita Sylvania. Matanya sedikit terbelalak kaget ketika mengingat Sylvania sudah mengembara selama 50 tahun. Padahal dari penampilannya, dia telihat seperti gadis remaja lainnya. Matanya memicing melihat Sylvania dan bertanya lagi.
"Sylvania, kau bilang bahwa kau sudah mengembara selama 50 tahun, berapa usia mu sekarang?"
"165 tahun" jawab Sylvania pendek.
"jadi kau memang seorang Elf?"
"Aku memang seorang Elf, kukira kau sudah tau semenjak awal kita bertemu."
Ahmed menggeleng pelan.
"di tempat kami berasal, tidak ada Elf, hanya ada manusia biasa. Bagi kami Elf hanyalah makhluk mitologi yang hanya muncul di cerita fantasi. Kami hanya mengetahui tentang elf dari buku bacaan-bacaan fantasi. Dan aku tidak mengira akan bertemu dengan salah satunya di dunia ini. Kami bahkan tidak pernah percaya kalau apa yang disebut elf benar-benar ada."
Bibir Sylvania membentuk huruf O, lalu mengangguk paham.
"Aku juga sempat mengira para elf pandai bertarung membela diri." lanjut Ahmed.
Sylvania menatap Ahmed dengan sedikit terkejut, penasaran dari mana Ahmed mendapat pengetahuan seperti itu.
"Hanya elf prajurit dan petarung yang memiliki kemampuan seperti itu, meskipun hampir semua elf memiliki kemampuan sihir secara natural. Kemampuan sihir yang kami miliki pun berbeda-beda. Kalau aku memiliki kemampuan sihir cahaya yang cocok untuk penyembuhan dan biasanya aku gunakan untuk mengobati orang-orang. Untuk kemampuan bertarung, aku hanya bisa memanah saja dari hasil latihanku untuk melindungi diriku sendiri, selain itu di pertempuran jarak dekat aku tidak bisa berbuat apa-apa. "
Jadi kemampuan mengobati dan memanah ya, mungkin bisa membantu kita. Pikir Ahmed dalam hati. Lalu melihat jam tangannya.
"Baiklah, aku harus kembali ke tenda reguku. kalau kau membutuhkanku, kau bisa mencariku di tenda sebelah sana." Ahmed menunjuk salah satu tenda diantara banyak tenda prajurit.
"Maaf soal tempat tinggal yang hanya berupa tenda, kami sedang membangun rumah dan bangunan yang bisa ditempati pengungsi. Jadi untuk sementara aku harap kamu betah untuk tinggal di tenda itu."
Sylvania menggelengkan kepalanya, lalu sambil sedikit tersenyum menjawab.
"Tenda itu sudah lebih dari cukup bagiku. Aku sudah cukup nyaman. Kau tidak perlu khawatir."
Ahmed berdiri dari tempat duduknya dan mulai meninggalkan Sylvania menuju tenda regunya.
"Assalamualaikum" suara itu terdengar dari bibir Sylvania yang saat ini berada di belakangnya.
Ahmed kemudian berbalik memandang Sylvania dengan tatapan heran.
"Kenapa? Bukannya itu kalimat sapaan yang biasanya kalian ucapkan?" tanya Sylvania. Dia memang sering mendengar para tentara dan orang-orang yang berada di tenda kesehatan mengucapkan salam seperti itu.
Ahmed menggeleng pelan, kemudian tersenyum kecil. Lalu menjawab.
"Wa'alaikumsalam"
Kemudian berbalik lagi dan melanjutkan langkahnya menuju tenda regunya.
###
Suasana benteng selama 2 minggu pertama di Edela memang terlihat sangat sibuk. Setiap prajurit ikut membantu pembangunan benteng. Pembangunan tembok benteng sudah mencapai 75%, begitu pula dengan bangunan bangunan lainnya yang digunakan untuk kantor dan barak militer, bahkan sebagian besar sudah selesai dibangun dan sisanya tinggal tahap penyelesaian saja.
Hanya bandara saja yang masih dalam tahap 50 persen pembangunan landasan pacu nya, itu pun sudah bisa ditempati oleh helicopter dan sebagian kecil jet tempur. Di atas tembok, setiap 40 meter di bangun bunker yang didalamnya terdapat 2 barel meriam 120mm dan di atas bunker itu akan dipasang roket dan senapan 30mm anti udara yang akan dioperasikan menggunakan remot.
Setiap hari ribuan tentara datang dari kota Gaza melalui Al Jisr beserta dengan peralatan perang mereka. Saat ini jumlah tentara Ghazi di Edela mencapai jumlah 30 ribu personil dengan puluhan ribu lainnya masih menunggu di balik Al Jisr. Mereka juga dibekali dengan 200 tank Mahmud, 100 Helikopter yang terdiri dari helikopter Saqr dan Ababil, dan 500 kendaraan yang terdiri dari berbagai kendaraan lapis baja ringan.
Bahkan pesawat tempur SU90 dan SU110 sudah mulai dikirim ke Edela beserta pesawat kargo SS15 yang masih belum dirakit karena pesawat besar seperti SS15 harus di bongkar perbagian terlebih dahulu sebelum dikirim melalui Al Jisr. Belasan artileri Hav 150 berjajar di belakang tembok yang sudah hampir selesai dibangun.
Para pengungsi dari Edela terkagum dengan kecepatan pembangunan yang bisa dilakukan oleh tentara Ghazi. Mereka bisa membangun gedung yang besar dan kuat dalam waktu yang singkat. Akan tetapi yang membuat mereka lebih kagum lagi, tiap kali suara adzan terdengar, para prajurit itu langsung menghentikan pekerjaannya menuju masjid. Hanya mereka yang mendapat tugas jaga yang masih menetap di posnya. Belum pernah mereka melihat orang-orang dalam jumlah sebanyak itu benar-benar menjalani kepercayaannya. Kebanyakan di dunia mereka orang yang menjalani kegiatan spiritual hanya para pendeta mereka saja.
Khalifah Osman sudah memberikan keputusan untuk memerangi kerajaan kerajaan Leonia dan menyerang mereka sampai ke ibukota mereka serta mencari penduduk Gaza yang menghilang di tengah pertempuran Gaza. Khalifah juga memberikan izin untuk menguasai daerah yang dikuasai oleh Leonia agar bisa mulai menyebarkan Islam di Edela. Akan tetapi sebelum mengirim pasukan untuk penyerangan, pasukan Ghazi harus memperkuat posisi mereka di sekitar Al Jisr terlebih dahulu.
Di dalam gedung yang menjadi pusat komando Benteng Andalusia, di ruangan rapat yang berada di dekat kantor Jenderal Ayyub, para perwira tinggi militer berkumpul disana. mereka duduk di kursi yang ada di sekitar meja berbentuk oval, di salah satu sisi ruangan sebuah proyektor sedang menampilkan video yang dilihat oleh seluruh perwira yang ada di ruangan itu.
Video yang ditampilkan tampak di ambil dari udara, menampilkan pemandangan kota besar dan luas yang dikelilingi tembok, kota Longnard. Di dalam kota itu tampak peperangan tengah terjadi, pasukan pertahanan dengan seragam warna hijaunya yang sedang mempertahankan kota tampak sudah dikalahkan dengan membanjirnya pasukan penyerang yang menggunakan seragam kuning Leonia memasuki kota.
Video itu menampilkan keadaan terkini ibukota Scotia yang diserang Leonia. Pasukan Scotia yang ditembok sudah tidak ada lagi dan bendera kuning Leonia dikibarkan diatas gerbang kota. Pertempuran terjadi di jalanan kota dengan pasukan Leonia yang hampir mencapai kastil kerajaan ditengah ibukota. Pasukan Leonia tampak tidak ada habis-habisnya, meskipun di dalam kota sudah dipenuhi oleh tentara Leonia, namun tentara Leonia banyak yang masih berbaris diluar tembok kota dan jumlahnya diperkirakan mencapai puluhan ribu. Tidak lama lagi, terlihat bebatuan besar mulai dilemparkan ke kastil kerajaan. Tentara Leonia mulai memasang tangga di tembok kastil dan memanjatnya. Video kemudian berakhir dengan dikibarkannya bendera Leonia di salah satu sisi tembok kastil.
Jenderal Ayyub memandangi orang orang yang berada di ruangannya, kemudian mulai membuka pembicaraan.
"Saudara-saudaraku sekalian, kita dapat melihat di video yang diambil langsung dari salah satu drone milik kita bahwa baru saja ibukota kerajaan Scotia sudah dikalahkan. Sekitar lebih dari 1 bulan yang lalu kita sudah mengalahkan pasukan yang mereka kirim ke gaza dan dua minggu sebelumnya kita sudah mengalahkan pasukan mereka yang menjaga Al Jisr di sini. Kemungkinan besar mereka akan berpikir bahwa di posisi kita saat ini yang merupakan ujung dari wilayah Scotia menjadi tempat pelarian prajurit Scotia yang tersisa.
Selain itu mereka juga akan mulai mencari tahu penyebab kekalahan puluhan ribu pasukan mereka yang mereka kirim sebulan yang lalu. Leonia yang tidak mengharapkan adanya perlawanan dari sisa-sisa Scotia pasti akan mengirim pasukan kesini dalam jumlah besar. Mereka akan mengira jika puluhan ribu pasukan mereka dikalahkan oleh pasukan Scotia di tempat ini, aku yakin beberapa tentara yang tersisa juga telah melaporan adanya perlawanan di daerah ini apalagi setelah regu dari letnan Ahmed baru saja membantai sekelompok kesatria Leonia di 2 desa."
Kolonel Umar menanggapi Jenderal Ayyub.
"Kita harus menyiapkan pertahanan benteng sebelum pasukan mereka tiba di sini. Tembok benteng sudah dalam tahap penyelesaian dan besok kita bisa mulai mengoperasikan sistem pertahanan yang ada di tembok dan juga menempatkan pasukan kita di sana. Kita memiliki senjata dan jumlah personil tentara yang cukup. Jenderal, Insya Allah kita siap menghadapi mereka kapan pun."
Jenderal Ayyub mengangguk mendengar tanggapan Umar. Lalu bertanya.
"Bagaimana dengan para pengungsi kita, apakah perumahan di timur benteng sudah dibangun untuk mereka tinggal?"
Kali ini Kolonel Ali dari pasukan udara yang menjawab Ayyub.
"Kita masih memfokuskan sumberdaya yang kita punya untuk membangun benteng Ghazi Jenderal, kita baru akan mulai membangun perumahan untuk pengungsi besok setelah tembok benteng selesai."
"Apakah membangun perkampungan di luar benteng aman untuk penduduk sipil?"
"Musuh yang berniat menyerang desa harus melewati benteng terlebih dahulu atau setidaknya memutari benteng kita. Di pemukiman tersebut dan juga di sekitar benteng akan ditempatkan pos keamanan yang nantinya akan melapor ke markas apabila ada serangan musuh ditambahlagi berbagai kamera pengaman yang juga nantinya kita pasa di berbagai tempat sehingga kita bisa mengirimkan pasukan gerak cepat dari benteng Ghazi."
"Baiklah, aku rasa para pengungsi juga tidak akan nyaman berada di dalam benteng terus menerus dengan adanya aktifitas militer yang akan memadati benteng ini. Kolonel Ali, aku harap jet tempur kita sudah bisa terbang di udara saat pasukan Leonia mencapai benteng ini."
"Siap Jenderal, saat ini sejumlah jet tempur sudah dapat meluncur dari beberapa landasan pacu yang selesai dibangun. Insya Allah dalam waktu tiga hari, kita akan dapat menyelesaikan bandara dan mulai mengoperasikannya secara penuh".
"sebelum rapat ini ditutup, apakah ada pertanyaan?"
Kolonel Mahmud dari divisi lapis baja mengangkat tangannya.
"Kapan kita akan memulai serangan ofensif ke Leonia Jenderal?"
"Tepat setelah mereka menyerang kita Mahmud, aku tidak ingin benteng kita diserang saat kita sedang fokus di penyerangan. Apakah ada pertanyaan lain".
Tidak ada jawaban dari perwira lain dan Jenderal Ayyub pun menutup rapat dengan doa sejenak yang dipimpin oleh Jenderal Ayyub.
"Semoga Allah menolong kita dan memberkahi perjuangan jihad kita".
###
Longnard, Ibu kota Scotia
Suasana kota saat ini sangat memprihatinkan, pasukan Leonia yang masuk ke kota sebagai pemenang menjarah seluruh isi kota mulai dari rumah-rumah dan kuil-kuil kerajaan sampai kantor pemerintahan, semua dijarah dan diambil barang-barang berharganya. Nasib penduduk kota pun tidak kalah buruk. Para laki-laki dibunuh di tempat, anak-anak diambil untuk dijadikan budak, perempuan dilecehkan dan diperkosa tanpa bisa melawan. Tentara Leonia juga membumihanguskan rumah-rumah warga, terutama yang melawan.
Di dalam kastil kerajaan, raja Leonia, Cheldric sedang merayakan kemenangannya di dalam ruangan tahta raja Rauffe sambil meminum anggur dan memakan makanan yang mereka temukan di gudang penyimpanan kastil ditemani oleh alunan musik yang dimainkan oleh orang Leonia. Sedangkan raja Rauffe sendiri telah meninggal dibunuh langsung oleh Cheldric saat Cheldric dan pasukan elitnya memasuki ruangan tahta pertama kali. Mayat raja Rauffe masih terbujur kaku di singgasananya dengan pedang yang masih menempel di dadanya. Rauffe tidak meninggalkan kota Longnard di saat-saat terakhir pertempuran dan memutuskan untuk berdiri melawan pasukan Leonia di istananya.
Saat ini raja Cheldric sedang berdiri di depan para bangsawan dan kesatria Leonia yang sedang berpesta di kastil Longnard untuk memberikan pidato kemenangannya sambil membawa segelas anggur di tangan kanannya.
"Akhirnya setelah 2 tahun peperangan, kita berhasil mengalahkan Scotia dan merebut seluruh wilayah kerajaannya. Kita telah menunjukan bahwa Leonia tidak akan terkalahkan dan memberi pelajaran kepada kerajaan lainnya agar mereka mau tunduk dibawah Leonia. Sebarkan berita kekalahan Scotia ke kerajaan Gallinea dan Greecia dan kirimkan utusan untuk memerintahkan mereka tunduk pada Leonia. A la gloire"
Kemudian para bangsawan dan kesatria mengangkat gelas anggur mereka sambil berkata.
"a la gloire (menuju kejayaan)"
Lalu mereka semua meminum anggur mereka masing-masing. Baru saja raja Cheldric selesai minum dan meletakkan gelasnya di meja, pintu ruangan terbuka dan menampakkan seorang prajurit biasa yang masuk ke ruangan, lalu berlutut di depan raja dan para bangsawan.
"bicaralah prajurit" ucap raja Cheldric.
Prajurit yang berlutut itu pun mulai berbicara.
"lapor yang mulia, 60 ribu pasukan yang kita utus untuk mengejar tentara Scotia yang lari dari kota Eklaire tidak pernah terdengar lagi kabarnya."
Para bangsawan mulai berbisik-bisik satu sama lain, lalu salah satu bangsawan bertanya dengan lantang.
"Tidak mungkin pasukan sebanyak itu habis tak tersisa? Kau yakin mereka tidak sedang mundur atau berada di suatu tempat?"
Prajurit biasa itu pun meneruskan laporannya.
"Kami sudah mengutus beberapa kelompok kesatria yang tergabung dalam orde Chevalier de Mort dan juga penunggang kuda lainnya dibawah perintah mereka. Hampir semuanya tidak kembali lagi, hanya ada segelintir anggota Chevalier de Mort yang berhasil selamat dan menceritakan apa yang mereka alami".
Suara di dalam ruangan tahta menjadi semakin gaduh, para bangsawan saling beargumen satu sama lain. Mereka benar-benar terkejut dengan kekalahan 60 ribu pasukan mereka ditambah pasukan elit Chevalier de mort. Emmeran selaku pimpinan tertinggi dari orde Chevalier de Mort yang juga berada di ruangan pun berdiri.
"bagaimana bisa pasukanku yang tidak pernah dikalahkan bisa dihabisi. Prajurit, katakan padaku apa yang diceritakan oleh orang-orangku yang selamat, katakan apa yang bisa mengalahkan mereka yang tidak pernah dikalahkan".
Prajurit menjawab.
"Mereka bilang mereka melawan sekelompok pasukan yang menyerang menggunakan sihir jarak jauh, mereka memiliki kendaraan yang terbuat dari besi dan berjalan tanpa kuda, serangan sihir mereka membuat tubuh orang-orang kita tiba-tiba berlubang dan mati berjatuhan. Bahkan salah satu yang selamat saat ini sedang sekarat karena luka di tubuhnya.
Kemudian raja Cheldric mengangkat tangan kanannya untuk menghentikan kegaduhan yang terjadi akibat berita yang dibawa prajurit itu. Suasana ruangan mendadak tenang.
"kau boleh pergi." ucap raja kepada prajurit pembawa pesan.
Prajurit itu pun berdiri, lalu menunduk hormat dan berbalik meninggalkan ruangan.
Raja Cheldric kemudian bergumam.
"akulah Leonia, Leonia tidak boleh dikalahkan, aku tidak boleh dikalahkan."
Cheldric pun berdiri dari duduknya, Lalu melantangkan suaranya sambil menghunuskan pedangnya dan mengangkatnya di udara.
"Siapkan pasukan!"
Dalam sekejap, seluruh ruangan dipenuhi oleh suara sorakan semangat dari para bangsawan dan kesatria yang ingin membalaskan kekalahan mereka. Mereka ikut menghunuskan dan mengangkat pedang mereka seperti raja Cheldric.
###
Minggu ke 4 semenjak Pasukan Ghazi tiba di Edela. Benteng Ghazi sudah sepenuhnya selesai dibangun. Tembok benteng yang membentuk bintang segi delapan Rub al Hizb berdiri kokoh di luar. Bunker yang berada di ujung dan diantara sudut tembok sudah beroperasi dengan meriam 120mm nya yang sudah aktif. Diatas bunker radar beserta roket dan senapan anti udara 30mm mengawasi langit-langit disekitar benteng Ghazi. Tiap bunker mengibarkan bendera Daulah Islamiyah diatasnya. Di sisi barat dan timur bunker yang terdapat diantara dua sudut tembok terdapat gerbang masuk ke benteng.
Selain bunker, terdapat titik yang ditempati oleh senapan mesin di setiap 10 meter di atas tembok. Di depan tembok, pertahanan garis kedua terdapat pertahanan yang menggunakan perlindungan kantong pasir (sandbag) melingkar di sekitar tembok. lalu di depannya lagi ada pertahanan pertama yang terdiri dari jaringan parit-parit.
Di dalam benteng, terdapat barisan Artileri Hav 150 yang berjajar rapi di belakang tembok. tiap jangka 50 meter di belakang tembok terdapat 1 artileri. Jarak tembak artileri tersebut mencapai 40 Km.
Gedung militer dan barak untuk prajurit juga sudah beridiri semua dan mulai digunakan. Hanya perumahan untuk pengungsi yang belum selesai dibangun di timur benteng. Sementara pengungsi masih ditempatkan di barak prajurit yang masih kosong. Bandara pun baru saja diselesaikan dan telah memulai peluncuran perdana dengan menggunakan pesawat SU 90 sebagai pesawat jet yang terbang pertama kali di langit Edela. Di luar tembok, helikopter Saqr sesekali berpatroli di atas parit-parit yang di tempati prajurit. Bahkan para perencana pembangunan sudah mulai merencanakan pembangunan pangkalan laut di sebelah selatan atau utara benteng dimana terdapat garis pantai terdekat dari benteng.
Penggunaan energi listrik sebagai bahan bakar seluruh kendaraan sangat memudahkan logistik para pasukan daulah mengingat mereka tidak perlu mengirim logistik bahan bakar. Kebanyakan kendaraan dapat diisi ulang melalui kabel dari pembangkit listrik langsung atau menggunakan panel surya portabel. Hal ini juga didukung dengan adanya pembangkit listrik yang menggunakan fusi dingin dan juga panel surya besar yang juga sudah selesai dibangun di benteng.
Di dalam benteng, prajurit yang tidak bertugas dan tidak lagi sibuk membangun benteng mengisi hari-hari mereka dengan latihan seperti yang di lapangan tembak, berlari mengelilingi komplek barak, berlatih pertempuran jarak dekat dengan senapan yang dipasang bayonet, dan latihan lainnya. Di luar tembok para pengguna tank melakukan latihan juga dengan tank mereka.
Terdapat masjid di hampir setiap kompleks benteng, masjid dibangun di tiap komplek agar para prajurit yang akan melaksanakan ibadah sholat tidak harus berjalan jauh ke masjid yang akan menghabiskan waktu lebih banyak mengingat bahwa benteng tersebut merupakan benteng besar yang didesain untuk mengakomodasi ratusan ribu personil. Salah satu prajurit yang berlari itu adalah Ahmed yang baru saja selesai sarapan. Anggota Ahmed yang lain masih sibuk di dalam barak mereka membersihkan dan merapikan ruangan yang ada di dalam barak.
Ahmed baru saja selesai mengelilingi komplek 10 putaran dan berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Keringatnya mengucur membasahi kaos hitam yang dia kenakan. Kemudian setelah dirasa cukup untuk mengambil nafas dia mengambil ancang-ancang untuk mulai berlari lagi. Namun belum sempat melangkahkan kakinya, telinganya mendengarkan suara alarm markas yang berbunyi keras, membuat prajurit lainnya yang berada di sekitarnya berlari kesana kemari dengan terburu-buru. Sebagian dari mereka baru saja keluar dari barak dengan rompi dan peralatan militer mereka yang sudah lengkap berlari menuju gerbang timur.
"Ya Allah…" Gumam Ahmed.
Ahmed pun berbalik dan berlari menuju baraknya. Sesampainya disana, dia memasuki kamar prajurit dan melihat semua pasukannya sudah hampir selesai memakai perlengkapan militer mereka. Ahmed berjalan kearah karim yang terlihat sudah selesai dengan perlengkapannya dan mulai mengecek senjatanya.
"Karim, apa yang terjadi?"
"Kita mendapat serangan Letnan, drone yang sedang berpatroli 10 kilometer dari benteng menangkap barisan pasukan Leonia sedang menuju kearah sini dengan jumlah sekitar seratus ribu orang. Mereka membawa raksasa-raksasa troll setinggi 4 meter bersama mereka. Semua pasukan yang tersedia dipanggil ke tembok pertahanan timur."
Ahmed mengangguk, lalu menuju ke tempat tidurnya dimana terdapat peralatannya dan ikut memakai rompi serta perlengkapannya dalam waktu singkat, kemudian berjalan ke rak senjata dan mengambil senjata T-7 miliknya. Mengikuti anggotanya yang lain, Ahmed juga mulai mengisi kantong rompinya dengan mag peluru di kotak amunisi yang tersedia di tendanya. Tidak lupa Ahmed juga membawa barang tambahan lain seperti granat.
"Rasyid, bawa alat pengelihatan termal. Kemungkinan besar kita akan membutuhkannya."
"Siap Letnan!"
Dalam 5 menit, Ahmed dan anggotanya sudah selesai bersiap dan mulai berlari dalam barisan menuju ke gerbang timur. Di komplek batalion lapis baja, para kru tank berlarian memasuki tank mereka dan menjalankannya ke arah gerbang timur. Tidak ketinggalan kendaraan lapis baja ringan seperti Jamal, LAV Safir, dan APC Hisan. Helikopter mulai memanaskan mesinnya di bandara dengan memutar baling-balingnya sebelum lepas landas. Sejumlah 10 jet tempur SU 90 dan 5 SU110 mulai dipersenjatai dan dipersiapkan untuk terbang.
Di sisi lain benteng di komplek barak yang dihuni oleh pengungsi, para pengungsi berlari keluar barak mereka saat mendengar alarm berbunyi. Mereka saling melontarkan pertanyaan satu sama lain dan tidak ada yang tau maksud suara alarm tersebut. Baru setelah Lusie dan Sylvania mencoba bertanya ke salah satu prajurit yang berlarian di sekitar sana mereka dapat memahami bahwa benteng sedang diserang. Para pengungsi sempat menunjukan wajah khawatir mereka dan hampir jatuh kedalam kepanikan sebelum akhirnya Lusie meyakinkan pengungsi bahwa mereka aman di dalam benteng dan mengajak mereka kembali masuk ke barak masing-masing.
Tapi di sisi lain, pikiran Sylvania tampak tidak puas dengan hanya mendengar dan menunggu di dalam barak. Dia ingin melihat langsung pertempuran antara Pasukan Ghazi dan Tentara Leonia. Di saat pengungsi mulai kembali masuk barak, Sylvania langsung berlari masuk ke barak, lalu keluar lagi sambil membawa busur serta panahnya dan ikut berlari mengikuti para prajurit daulah.
"hei Sylvania! Kau mau kemana?" panggil Lusie yang mengejar Sylvania, mencoba mengajak Sylvania kembali ke barak.
"aku harus melihat pertempuran mereka dengan mata kepalaku sendiri! Aku akan menuju ke tembok timur" ujar Sylvania sambil terus berlari.
Lusie terus berusaha mengejar Sylvania melewati barak-barak militer di dalam benteng bersamaan dengan prajurit lainnya yang juga berlari kearah gerbang. Sesampainya di gerbang, Sylvania berhasil menghindar dari cegatan penjaga gerbang dan terus berlari ke luar gerbang, sedangkan Lusie yang larinya tidak sekencang Sylvania akhirnya tertahan oleh penjaga gerbang.
"Hei nona, kau mau kemana?" teriak prajurit yang berjaga di balik gerbang dan berusaha menghentikan 2 gadis yang sedang berlari keluar gerbang.
Mereka tidak sempat menghentikan Sylvania, namun Lusie yang berada di belakang Sylvania berhasil ditangkap.
"Nona, jangan berlari keluar gerbang. Terlalu berbahaya disana!"
"Tidak, temanku ada diluar sana. Lepaskan aku, aku mau menjemputnya"
Prajurit yang menahan Lusie pun hanya menggeleng tidak paham oleh ucapan Lusie, lalu membawa Lusie naik tembok ke salah satu bunker yang berada di dekat sana. Di dalam bunker, terdapat berbagai macam layar monitor dan peralatan komputer yang digunakan untuk mengoperasikan meriam dan sistem pertahanan di bunker tersebut. Sekitar 11 orang yang sibuk mengoperasikan meriam dan senjata anti udara dan mengawasi radar. Salah satu dari mereka yang berada di ruangan itu adalah Jenderal Ayyub yang berniat mengawasi jalannya pertempuran secara langsung.
Tentara yang menahan Lusie membawanya menuju ke arah Jenderal, lalu menghormat sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum Jenderal".
Jendaral Ayyub membalas hormat sambil mengucapkan salam juga.
"Wa'alaikumsalam, ada apa? Kenapa ada penduduk sipil disini?"
"Nona ini mencoba berlari keluar gerbang jenderal, salah satu temannya berhasil melewati gerbang dan lolos dari kami."
Jenderal Ayyub kemudian menatap gadis yang dibawa oleh kedua tentaranya.
"Tolong bantu aku, temanku dalam bahaya diluar sana, aku mencoba menghentikannya tapi dia terus berlari keluar tembok." Ujar Lusie memohon sambil mengatupkan tangannya, matanya mulai berkaca-kaca.
Jenderal Ayyub mengisyaratkan prajurit yang membawa Lusie untuk kembali ke posnya lalu menjawab Lusie. Sebagai salah satu pimpinan militer tertinggi, sudah menjadi tuntutan untuk Jenderal Ayyub memahami bahasa lain, terutama bahasa Inggris yang ternyata digunakan oleh penduduk lokal.
"Jangan khawatir, temanmu aman bersama para Prajurit Ghazi. Kau mau menunggu disini sambil melihat jalannya pertempuran atau kembali ke barak pengungsian?" tawar Jenderal.
"Aku akan menunggu di sini." Jawab Lusie dengan mantab sambil mengangguk.
Jenderal Ayyub mengisyaratkan Lusie untuk ikut memandang takjub salah satu monitor besar di ruangan itu yang menampilkan suasana di luar bungker. Disana mereka sudah dapat melihat dari jauh tentara Leonia yang berbaris dalam jumlah besar. Pikiran Lusie bertanya-tanya tentang sihir apa yang mereka gunakan di dalam ruangan ini. berapa jumlah pasukan yang menyerang mereka?
"Jumlah pasukan kami ada sekitar 50 ribu di benteng ini, sedangkan pasukan mereka kami perkiranan berjumlah 150 ribu. Tiga kali lipat dari pasukan kami." Ujar Jenderal Ayyub seolah mengetahui isi pikiran Lusie. Mendengar perkataan sang Jenderal, Lusie menutup mulutnya yang terbuka dengan ekspresi terkejut.
"Jumlah mereka jauh lebih besar dari kalian! Mereka akan mengalahkan kalian! Mereka bahkan bisa mengalahkan pasukan yang jumlahnya lebih besar dari mereka!" Ujar Lusie panik.
Jenderal Ayyub hanya tersenyum kecil, sambil tetap terlihat tenang lalu membalas.
"Kau lihat saja nanti nona."
Dari monitor itu, Lusie bahkan bisa melihat Sylvania yang menggunakan pakaian dengan warna paling mencolok diantara prajurit-prajurit yang lain. di dalam hatinya, Lusie hanya bisa berdoa ke dewa manapun yang dia tahu untuk kemenangan pasukan yang saat ini bersamanya.
Di luar tembok, Ahmed dan anggotanya berlari keluar dari gerbang timur menuju garis pertahanan pertama. Di tengah perjalanan ke parit di garis pertahanan dua, Ahmed melihat dengan mata terbelalak Sylvania yang berdiri dibelakang barisan prajurit yang bersiap di belakang karung-karung pasir, prajurit disekitarnya tampak mengabaikannya dan sibuk dengan tugas mereka masing-masing.
"Karim, pandu orang-orang kita ke parit disana." ucap Ahmed ke Karim sambill menunjuk satu titik parit. Lalu berlari ke arah Sylvania tanpa menunggu balasan dari Karim.
Ahmed berlari ke arah Sylvania, setelah di samping Sylvania Ahmed mulai berbicara dengan suara setengah berteriak.
"Sylvania, apa yang kau lakukan disini? Kau seharusnya berada di barak pengungsian bersama yang lainnya!"
Sylvania menoleh ke arah Ahmed dan menjawab.
"aku harus melihat langsung bagaimana cara kalian mengalahkan Leonia. Kalau kau menyuruhku untuk kembali ke dalam benteng, aku tidak mau. Aku bisa membantu kalian! Aku bahkan sudah berlatih memanah lagi selama 2 minggu ini." ucap Sylvania sambil menunjukan busurnya.
Ahmed memicingkan matanya mendengar penjelasan Sylvania.
"ikuti aku!" perintah Ahmed, lalu berlari ke arah parit yang sudah ditempati oleh anggota regunya.
Sylvania yang sempat ragu akhirnya mengikuti Ahmed. Sesampainya di dalam parit, semua anggota Ahmed terkejut melihat kedatangan Sylvania.
"Letnan kenapa kau membawa Gadis pengungsi itu kemari? Kau tahu tempat ini bukan untuk penduduk sipil kan, apalagi perempuan". Protes Orhan.
"dia memaksa untuk ikut melihat jalannya pertempuran, aku tidak bisa membiarkannya berdiri di belakang sana sendirian, dia masih tanggung jawab kita." Jawab Ahmed.
Sylvania mengabaikan perdebatan Ahmed dengan anggotanya dan fokus menatap pasukan Leonia yang berbaris mendekat kearah mereka meskipun jarak mereka terlihat masih sangat jaut.
"Sylvania bukan tanggung jawab kita lagi dan sudah menjadi tanggung jawab benteng."
"Di luar benteng dia tanggung jawab kita. Sudahlah kita fokus saja ke pertempuran yang akan datang, aku yakin gadis itu bisa menjaga dirinya sendiri." Tukas Ahmed, lalu memfokuskan dirinya ke barisan musuh yang sudah memperlihatkan ratusan Wyvern yang terbang dibelakang mereka.
Tank-tank mulai memposisikan dirinya di belakang pertahanan kedua dibalik tumpukan karung pasir, begitu juga dengan kendaraan armor ringan. Di dalam bunker tempat Jenderal Ayyub, salah seorang prajurit yang menjadi petugas radio bertanya kepada Jenderal.
"Jenderal, pasukan dari divisi artileri sudah siap menembak. Mereka menunggu perintahmu."
"Aku tidak mau menunjukkan seluruh kemampuan tempur kita pada mereka. Jangan perlihatkan kekuatan udara kita juga terlebih dahulu."
Petugas radio pun mengangguk, lalu berbicara di radio lagi untuk menyalurkan perintah Jenderal Ayyub. Pertempuran kedua Umat muslim melawan Leoinia akan segera dimulai.
BERSAMBUNG….
