Part 6 Serangan Kedua

Di Sisi pasukan Leonia.

Duke Gozbert sangat bangga dengan diberikannya tugas menghabisi sisa perlawanan dari Scotia yang diberikan oleh raja Cheldric kepada dirinya. Dengan 150 ribu pasukan yang dipimpinnya, Duke Gozbert merasa sangat yakin bahwa kemenangan akan dapat diraih dengan mudah, apalagi dengan kedatangan group penunggang Wyvern yang datang dari wilayah Leonia langsung berjumlah 200 penunggang.

"mau bagaimanapun perlawanan kalian akan sia-sia dasar orang Scotia rendahan." Ucapnya.

Dari belakang, barisan tentaranya sambil menunggang kuda. Gozbert mengamati bukit daria dan mendapati adanya benteng dan juga parit-parit yang terdapat disekitar benteng.

"Mereka berhasil membuat benteng dalam waktu yang singkat. Pasti temboknya lemah dan mudah di robohkan dengan ketapel hahaha…".

Salah satu penyebab kalahnya kerajaan Scotia terhadap Leonia adalah minimnya para penyihir dan penunggang wyvern dari kerajaan Scotia. Sedangkan kerajaan Leonia memiliki banyak sekali penyihir. Dalam penyerangan yang dipimpin Duke Gozbert, mereka membawa serta 5000 penyihir yang juga merupakan para bangsawan dari negeri mereka.

Saat ini posisi pasukan Leonia berjarak sekitar 1,5 kilometer dari tembok terluar benteng Andalusia. Mereka terus berbaris maju tanpa mengetahui apa yang akan mereka alami sekitar beberapa jam mendatang.

###

Benteng Andalusia

Di salah satu bunker timur, Jenderal Ayyub mengawasi pergerakan tentara Leonia dari salah satu layar kamera benteng yang ditampilkan di monitor besar. Sambil melangkah kesana kemari memandangi pekerjaan operator senjata yang ada di ruangan itu. Langkahnya terhenti di depan salah satu monitor kecil yang juga menampilkan keadaan di luar. Dengan gerakan jarinya yang disentuhkan di monitor, Jenderal Ayyub memutar dan sesekali memperbesar tampilan kamera di layar tersebut untuk lebih dapat melihat musuhnya dengan jelas. Tak lama perintah pun diberikan ke seluruh pasukannya melalui petugas radio.

"Perintahkan unit artileri untuk melempari mereka dengan bom asap, kita akan coba memberikan peringatan kecil kepada mereka."

"Siap Jenderal" jawab petugas radio, lalu mulai menyalurkan perintah.

"Seluruh artileri, serang menggunakan bom asap"

Jenderal Ayyub kembali mengamati pergerakan musuh mereka melalui layar monior. Tidak lama kemudian suara artileri mulai terdengar.

BOOM BOOM BOOM

Tembakan artileri tersebut hanya membutuhkan hitungan detik sebelum akhirnya mengenai barisan Leonia dan memenuhi barisan mereka dengan asap sampai mereka tidak terlihat lagi dibalik ketebalan asap.

###

BLAM BLAM BLAM

Duke Gozbert membelalakkan matanya melihat ledakan asap yang meledak di seluruh barisan pasukannya.

Uhuk uhuk uhuk.

Seluruh pasukannya langsung kalang kabut dan terbatuk-batuk terkena asap misterius yang dilempar ke arah mereka. Mereka mulai kocar kacir dan barisannya sedikit pecah. Sambil menutupi hidungnya dari asap, Duke Gozbert memerintahkan pasukannya untuk maju kedepan

"uhuk uhuk… apa yang… kalian lakukan! Uhuk… Tetap pada barisan kalian dan maju terus... Ini hanyalah sihir asap uhuk uhuk…. Mereka tidak bisa berbuat apa apa!".

Meskipun duke Gozbert bilang seperti itu, kenyataannya beberapa puluhan bahkan ratusan prajurit terjatuh pingsan karena tidak kuat dengan asapnya. Sisanya berusaha berbaris maju ke arah barat menembus asap yang menyebar. Dalam 5 menit kedepan, pasukan musuh akhirnya sempat lega setelah mereka berhasil lolos dan keluar dari gumpalan asap tebal yang mengelimuti mereka. Mereka kembali menyusun formasi mereka sendiri untuk menyerang bukit Daria.

Dari jauh mereka melihat kilatan api dari benda hitam besar yang berada di depan tembok, mereka tidak dapat melihat dengan jelas benda hitam itu, yang pasti ukurannya terlihat lebih besar dari pada gajah pikir mereka.

BLAM BLAM BLAM.

Sekilas setelah kilatan itu muncul, barisan Leonia tiba-tiba terkena ledakan disana sini, setiap ledakan memakan korban belasan atau bahkan puluhan jiwa. Prajurit Leonia yang sebelumnya bermental baja langsung menciut dan mulai panik. Beberapa mencoba lari, tapi dihentikan oleh teman mereka di samping kanan kiri nya.

"jangan takut dengan sihir musuh, ayo maju terus! Penyihir gunakan sihir kalian untuk melawan mereka!"

5 penyihir tingkat tinggi terlihat bekerja sama untuk menyatukan kekuatan mereka, tak lama kemudian bumi bergetar dan dari dalam tanah muncul golem setinggi 10 meter. Golem itu dikendalikan langsung oleh salah satu dari 5 penyihir yang membangkitkannya. Penyihir lain pun juga tak mau kalah, mereka membuat sebuah perisai kasat mata di depan golem tersebut. Kalau saja golem tersebut dihujani panah atau batu, tidak akan ada satu pun yang dapat mengenai golem.

Golem yang sudah terbentuk sempurna itu mencoba melangkah ke arah benteng Andalusia, namun baru dapat 5 langkah, sebuah ledakan bertubi tubi muncul di depan golem dan membuat perisai yang tadinya tak terlihat itu pecah layaknya kaca dalam waktu yang singkat. Tak lama kemudian tembakan lain pun menyusul dan mengenai golem itu secara langsung karena hilangnya perisai yang sebelumnya dibuat di depannya. Hanya dengan terkena 2 ledakan saja setiap golem ambruk.

Penyihir yang tadinya membuat kaca langsung terjatuh lemas karena terkena dampak dihancurkannya sihir mereka oleh para pasukan daulah. Hal ini juga berlaku bagi para penyihir yang golem buatan mereka dihancurkan. Setiap penyihir yang sihir atau buatan dari hasil sihir mereka dihancurkan, maka mereka akan terkena imbasnya juga.

"formasi kura-kura! Bentuk formasi kura-kura!"

Tentara Leonia langsung bergegas berkelompok membentuk formasi persegi dengan semua sisinya terlindungi oleh perisai seperti formasi romawi.

Mereka berjalan lagi dengan formasi seperti itu, namun formasi mereka tidak membuahkan hasil, tiap ledakan yang mengenai satu formasi merengut separuh dari seluruh orang yang berada dalam formasi tersebut, sisanya terkena luka berat atau pun terkena pecahan bom, frekuensi ledakan yang muncul di tengah barisan mereka semakin cepat dan jumlahnya semakin banyak. Duke Gozbert baru saja menyadari bahwa dari tembok muncul kilatan api yang sama dengan yang di bawah tembok.

"ayo jalan lebih cepat, lebih cepat". Perintah duke Gozbert lagi.

Mereka berjalan lebih cepat ditengah tembakan tank sampai beberapa menit kemudian setelah jarak mereka tinggal sekitar 1 kilo meter dari tembok.

###

Di jaringan parit milik tentara Ghazi, semua pasukan mengarahkan senapan mereka dan siap menekan pelatuknya kapanpun dengan pandangan fokus membidik barisan tentara Leonia. Meskipun di benak mereka jauh dari ketakutan terhadap kematian, namun mereka masih terlihat tegang dengan pertempuran yang sedang terjadi di depan mereka, beberapa prajurit mengeluarkan keringat di wajahnya yang menetes. Di belakang, kolonel Umar yang ikut terjun ditengah pasukan memperhatikan gerakan formasi musuh yang mendekat, kini jarak musuh mereka kurang dari 1 kilometer dari posisi mereka. Prajurit yang memegang senapan mesin mulai mengokang senjatanya.

Setelah yakin jarak barisan musuh yang saat ini banyak tercecer memasuki jarak tembak mereka, kolonel umar meneriakkan takbir dengan lantang.

"Ayo singa singa Allah, tunjukkan kemampuan kalian dan beri mereka pelajaran yang tidak akan mereka lupakan, Allahu Akbar…"

Seluruh pasukan di sekitarnya pun ikut meneriakkan takbir, tidak lupa juga orang-orang yang berada di dalam parit.

""Allahu Akbar…""

Tatatatatatatatat

Seluruh prajurit infantri pun mulai menembakkan senapannya, Tidak ketinggalan juga Ahmed dan anggotanya ikut menembak, para pengguna senapan T-7 menembakkan pelurunya dengan rentetan pendek dan bidikan tepat untuk lebih menghemat peluru, sedangkan pengguna senapan mesin MT5M2 seperti Kemal dan Osama menembak dengan rentetan yang lebih panjang.

Mereka semua mulai menembakkan senjatanya masing-masing kearah barisan tentara Lenoia. Begitu juga dengan mortir yang juga mulai dilontarkan dari garis pertahanan kedua menambah ledakan yang saling bersahutan di tengah-tengah tentara Leonia.

Perisai kayu yang mereka bawa tidak mampu menahan tembakan peluru 7.62mm dari senapan pasukan Ghazi. Peluru itu menembus perisai dan baju besi mereka bagaikan pisau panas membelah mentega. Mereka yang berada di depan barisan kura-kuranya langsung berjatuhan terkena rentetan tembakan pasukan Ghazi di susul orang-orang yang berada di belakangnya, pada titik ini pasukan Leonia sudah tidak bisa bergerak maju lagi, terutama setelah mereka menemui pagar berduri di depan mereka.

Setiap kali tentara Leonia mencoba merusak atau menerobos pagar berduri itu, mereka ditemui oleh rentetan peluru yang melubangi tubuh mereka.

"Yusuf, Hendra tembak para penyihir itu". Perintah Ahmed

Yusuf dan Hendra mulai memfokuskan bidikan mereka ke arah para penyihir-penyihir yang mencoba melafalkan mantra mereka. Mereka berdua berhasil membunuh sejumlah penyihir yang belum sempat melafalkan mereka dengan tembakan di dada atau dikepala.

Namun beberapa penyihir sempat mencoba mengeluarkan sihir mereka untuk melindungi pasukan dengan memunculkan perisai kasat mata di depan formasi-formasi tentara Leonia sama seperti sebelumnya. Pelindung-pelindung yang mereka buat tidak bertahan lama, dengan hanya 2-4 kali tembakan tank, pelindung mereka hancur dan pecah seperti kaca. Belum lagi mortir yang datangnya dari atas membuat pelindung yang mereka buat semakin tidak berguna. Bagaimanapun beberapa penyihir berhasil merusak lapisan pertama kawat berduri membuat pasukan mereka kembali maju.

Tembakan barel 125mm tank Mahmud dan meriam 120mm yang berada di bunker membuat sejumlah besar pasukan yang berbaris dengan barisan rapat mati seketika, ada yang tubuhnya habis tak tersisa, beberapa kehilangan lengan dan kakinya, dan beberapa mati terkena pecahan bom. Para bangsawan penyihir pun banyak yang mati berguguran, selain terkena ledakan dan rentetan senapan kaum muslim, mereka juga menjadi incaran dari para penembak jitu yang berposisi di parit.

Terlihat sejumlah kavaleri musuh dalam jumlah ribuan, tepatnya 20 ribu pasukan berkuda yang menerobos melewati infantri dari belakang yang dipimpin oleh beberapa bangsawan. Mereka bergerak dalam formasi yang terpencar membuat artileri dan tank sedikit kesulitan menghabisi mereka.

"[buzz] Sejumlah pasukan berkuda mencoba melompati pagar berduri, Untuk seluruh pasukan parit, fokuskan tembakan kalian ke pasukan berkuda itu" perintah Kolonel Umar terdengar di radio.

Pasukan yang berada di parit maupun tank dan kendaraan ringan di belakang mereka mulai memfokuskan tembakan mereka ke pasukan berkuda. Pasukan berkuda itu menyebar ke utara dan selatan. Sebagian besar mati terkena tembakan peluru ataupun ledakan yang ditimbulkan oleh tank. Petugas mortir kesulitan untuk membidik pasukan berkuda, sehingga mereka lebih memilih untuk fokus ke pasukan infantri atau menembak secara acak meskipun beberapa tembakan mortir berhasil mengenai pasukan berkuda.

Kemudian disaat para kavaleri Leonia mencapai pagar berduri, seketika mereka mencoba melompati pagar itu dengan kuda mereka, namun sebagian besar gagal melompat dan malah jatuh menabrak kawat berduri. Beberapa tersangkut di pagar dan penunggangnya terjatuh di sisi lain pagar yang kemudian dihabisi oleh hujanan peluru. Hanya sekitar seperempat dari penunggang yang berhasil melewati pagar berduri yang mana beberapa dari mereka lagi-lagi tertembak rentetan peluru.

Jarak parit dengan pasukan berkuda saat ini kurang dari 500 meter. Regu J17 dan juga pasukan lain yang berada di parit yang memegang senapan T-7 mulai menembak dengan rentetan pendek, sedangkan pemegang senapan mesin menembak dengan rentetan terus menerus (full automatic). Pasukan yang berada di garis pertahanan kedua yang sebelumnya tidak ikut menembak sekarang ikut menembak, begitu juga Machine gun yang berada di atas tank. Tembakan sihir berupa bola api atau petir dari penyihir tingkat tinggi mulai berdatangan di parit Ghazi. Mereka yang dalam bidikan musuh segera menunduk berlindung di dalam parit.

Salah satu kavaleri yang memgang pedang runcing mengarahkan pedangnya ke arah Ahmed di saat Ahmed sibuk menembaki penunggang lain, penunggang itu membidik Ahmed sambil mulai melafalkan mantra nya membuat ujung pedangnya mulai mengeluarkan cahaya, namun belum selesai melafalkan mantra, sebuah panah menyangkut di lehernya dan membunuhnya seketika itu juga.

Sylvania tersenyum setelah berhasil membunuh salah satu penyihir mereka yang mungkin akan menimbulkan korban bila tidak dihentikan, penunggang itu adalah korban ke 10 yang berhasil dibunuh oleh Sylvania, pasukan yang benar-benar bisa di panah oleh Sylvania adalah pasukan berkuda yang telah melewati pagar berduri, diluar pagar itu tidak dapat dibidik secara akurat lagi oleh panah Sylvania atau bahkan diluar jangkauan panahnya.

Setelah beberapa menit yang dipenuhi oleh tembakan peluru, panah dan sihir dari kedua belah pihak, semua kavaleri yang tersisa akhirnya mati tertembak. Untungnya Pasukan Ghazi tidak kehilangan korban, hanya luka-luka ringan atau panah di rompi yang mereka dapatkan. Pada akhirnya tidak ada satupun pasukan berkuda yang dapat menyentuh pasukan Ghazi di balik parit.

###

Duke Gozbert mulai menyadari kekalahan yang saat ini dialami oleh pasukannya. Ratusan tentaranya mati bergelimpangan setiap menitnya. Kebanggaan yang tadinya setinggi gunung hancur lebur dalam sekejap. Kuda yang tadinya dia tunggangi sudah mati terkena pecahan mortir saat dia bersama pasukan berkuda lainnya mencoba menerobos pagar berduri, dan kuda itu juga yang menyelamatkannya dari pecahan mortir karena terlindung dibalik kuda tersebut.

Ini bukan perang, ini pembantaian. Mereka pasti bukan orang Scotia, mereka pasukan-pasukan dari dunia lain, tidak… mereka mungkin pasukan yang diturunkan langsung oleh dewa! Pikir Gozbert mulai panik.

Usahanya melindungi tentaranya dari serangan yang berasal dari bukit Daria tidak ada yang berbuah. Berkali kali mencoba menyerang balik, namun tidak bisa dikarenakan jarak musuh yang terlalu jauh dan sihir bola apinya harus terurai di tengah jalan.

Pandangan Gozbert tiba-tiba menggelap dan seketika itu dia jatuh dengan lubang di kepalanya. Orang orang disekitarnya pun terkejut dengan mata terbelalak, lalu berteriak mengabarkan ke kawan-kawannya yang lain tentang matinya Gozbert.

"Duke Gozbert telah mati! Duke Gozbert telah mati!"

Tentara Leonia yang mendengar kabar tersebut pun langsung kehilangan moral mereka lebih jauh lagi. Sebagian besar akhirnya mundur dan mencoba lari dari medan perang meskipun tidak sedikit yang masih tertembak atau terkena tembakan tank.

###

Yusuf tersenyum sekilas setelah menekan pelatuk senapannya dan membunuh seseorang yang terlihat seperti pemimpin barisan musuh dengan baju zirah yang terlihat mewah dan mencolok. Dia yakin bahwa orang yang dia tembak tepat dikepalanya adalah pimpinan musuh atau setidaknya seorang perwira, apalagi melihat efek semakin kocar-kacirnya barisan musuh setelah tembakannya.

Di parit, Sylvania yang saat ini bersama Ahmed dan anggota regunya pun tidak mau kalah dan ikut menembakkan panahnya ke arah barisan musuh meskipun dia harus memanah dengan susah payah karena jauhnya jarak musuh mereka.

Di udara, terlihat titik titik yang awalnya terlihat seperti burung dari jauh dan bergerak mendekat ke area benteng andalusia, namun lama kelamaan nampak bahwa mereka adalah Wyvern yang datang terlambat di medan pertempuran. Penunggang Wyvern mulai mengarahkan tunggangannya ke arah pasukan Ghazi yang berada di parit.

Kendaraan armor ringan anti udara Korkut yang berada di barisan pertahanan kedua melihat kedatangan bantuan udara musuh dan mulai menembakkan senapan anti udara beserta roketnya, begitu juga senapan anti udara yang berada di atas bunker tembok sesekali juga menembakkan roket anti udaranya, garis garis cahaya kuning mulai menghujani para penunggang wyvern dari bawah.

###

Viscount Franque yang memimpin penunggang Wyvern tadinya sangat yakin bahwa musuh mereka tidak punya kemampuan untuk menghadapi wyvern dan kedatangan nya bersama pasukannya akan membawa tentara Leonia menuju kemenangan.

"Dasar pasukan rakyat jelata. Begini saja mereka sudah kocar-kacir dan melarikan diri dari medan perang."

Viscount Franque memerintahkan pasukannya untuk menyergap pasukan yang berada di parit dan dibelakang susunan karung pasir.

Dari kemampuan mereka berperang tampaknya mereka bukan tentara Scotia, mereka bisa mengalahkan pasukan kita yang jumlahnya jauh lebih banyak dari pada pasukan mereka. Ah sudahlah, lagipula pada akhirnya mereka juga akan dikalahkan dan tunduk pada kita.

"SERANG!" seru Franque kepada penunggang wyvernnya.

Mereka terbang dengan cepat menuju garis pertahanan pasukan Ghazi. Namun tidak lama kemudian, garis-garis cahaya kuning mulai menghujani mereka dari bawah. Siapa pun yang terkena cahaya itu langsung jatuh. Mata Franque seketika terbelalak melihat efek dari cahaya kuning yang dikeluarkan oleh musuh-musuhnya yang ada di bawah. Belum lagi anak panah besar yang mengeluarkan asap dibelakangnya dan mampu mengejar Wyvern yang mencoba menghindarinya.

Sihir apa ini? Mereka dapat membunuh puluhan wyvern dalam sekejap?

Viscount Franque mencoba menghindari cahaya kuning itu dengan lihai, namun salah satu anak panah yang mengeluarkan asap itu tiba-tiba mengejar dibelakangnya. Franque melihat benda itu meledak tiap kali mengenai pasukan penunggangnya. Sekarang salah satunya menuju ke arahnya dan Franque tahu apa yang terjadi bila dirinya tidak dapat menghindari anak panah itu.

Franque sukses menghindari panah putih itu, namun panah itu berbalik arah lalu kembali mengejar Franque dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari wyvern yang ditungganginya. Entah bagaimanapun Franque berbelok dan bermanuver, panah itu selalu mengikutinya sampai pada satu titik tunggangannya terkena cahaya kuning yang menghujan dari bawah dan saat tunggangannya berhenti kesakitan terkena cahaya kuning itu, panah yang mengejarnya berhasil meledakkan Viscount Franque di udara.

Penunggang lain yang melihat kematian Franque langsung mundur melihat keadaan yang tidak memungkinkan bagi mereka. Namun naas, mereka dikejar oleh sesuatu yang bagi mereka terlihat seperti capung besi raksasa, menembakkan panah dan cahaya kuning yang sama dengan yang ditembakan dari bawah.

"Bila kalian ingin menyerah, buang senjata kalian dan turun kedaratan perlahan"

Suara itu terdengar dari salah satu capung besi itu. Seketika seluruh penunggang wyvern yang tersisa membuang senjata mereka dan menurunkan wyvern nya perlahan sambil dikepung oleh apa yang mereka sebut sebagai capung besi raksasa.

###

Di daratan pasukan Leonia yang tersisa meninggalkan senjata mereka masing-masing dan mencoba berlari sekuat tenaga menjauh dari medan perang. Mereka menyadari bahwa pertempuran yang mereka lakukan sia-sia dan tidak dapat dimenangkan lagi.

Suara takbir pun mulai di teriakkan lagi oleh pasukan Ghazi yang masih di pos pertahanan mereka.

"Allahu Akbar!"

"Allahu Akbar!"

"Allahu Akbar!"

Bagi pasukan Ghazi, mereka menyadari bagaimanapun keadaannya dan secanggih apapun senjata yang mereka miliki, kemenangan yang mereka dapatkan tidak lepas dari pertolongan Allah. Bagi pasukan Leonia yang terpenting saat ini adalah nyawa mereka masing-masing, 10 ribu prajurit biasa beserta 200 penyihir yang masih tersisa berlari menjauhi benteng Andalusia tanpa memedulikan lagi kebanggaan yang sebelumnya mereka junjung tinggi. Semua penyihir tingkat tinggi sudah mati dan hanya tersisa penyihir dan bangsawan biasa yang tidak terlalu memperdulikan kehormatan mereka seperti halnya penyihir tingkat tinggi yang rela mati demi kebanggaan dan kehormatan.

Mereka terus berlari menjauhi bukit Daria ke arah timur, berencana kembali ke kota Eklaire. Namun di tengah jalan, mereka dihadang oleh barisan pasukan berseragam hitam yang mengarahkan tongkat besinya ke arah mereka. Dibelakangnya terlihat benda hitam besar dengan moncongnya yang mirip dengan yang menembaki mereka di bukit Daria.

Gajah besi.

Itulah sebutan mereka untuk kendaraan besar bermoncong yang saat ini ikut mengarahkan moncongnya ke arah mereka.

Melihat barisan pasukan hitam itu seketika mereka berhenti berlari dan terdiam karena kebingungan harus berlari ke arah mana. Barisan pasukan hitam itu terlihat mengepung mereka dan menutup semua akses mereka untuk kabur.

Beberapa penyihir di antara mereka memberanikan diri mengarahkan pedang runcing mereka kearah barisan tentara hitam dan salah satu gajah besi sambil mulai melafalkan mantra. Tapi baru saja membuka mulutnya, penyihir itu sudah terjatuh dengan lubang dan darah mengalir di sekujur tubuh mereka.

Tidak lama kemudian terdengar suara kepakan aneh yang bising dari atas. Suara kepakan itu sangat berbeda jauh dari kepakan naga atau pun makhluk terbang lainnya yang pernah mereka tahu dan ketika mereka mencoba melihat asal suara itu, terlihat capung besi raksasa berwarna hitam yang melayang di atas barisan pasukan hitam, menambah lagi rasa panik dan takut mereka lebih jauh.

"Jatuhkan senjata kalian dan angkat tangan kalian ke atas apabila kalian masih ingin hidup".

Suara keras yang mungkin bagi mereka seperti diperkuat oleh sihir terdengar dari barisan pasukan hitam didepan mereka. Seketika itu juga mereka semua langsung berlutut dan menjatuhkan semua senjata mereka, tidak terkecuali para bangsawan penyihir yang masih hidup. Mereka berlutut sambil mengangkat tangan mereka keatas tanda mereka menyerah, di wajah mereka tersirat ketakutan yang sangat besar.

Pasukan Ghazi yang mengepung mereka dari belakang hanya berjumlah 5000 personil saja dan mereka menyelinap keluar dari gerbang utara dan selatan, memutari barisan musuh yang tadinya menyerang dari arah timur. Meskipun jumlah mereka hanya 5000 orang, akan tetapi posisi mereka yang menyebar membuat mereka terlihat lebih banyak. Apalagi dengan kemampuan senjata mereka yang sudah disaksikan oleh pasukan Leonia di bukit Daria.

Pasukan Leonia yang sudah menyerah akhirnya digiring berbaris menuju ke benteng Andalusia, rencananya mereka akan dikirim ke balik Al Jisr untuk di tahan di wilayah Daulah Islamiyah yang ada di bumi.

Setelah pertempuran berakhir, Lusie yang tadinya harus menunggu di salah satu bunker sambil melihat jalannya pertempuran akhirnya dibiarkan untuk keluar gerbang menemui Sylvania. Pikiran Lusie masih terngiang oleh pertempuran yang baru saja dia saksikan. Belum pernah dia melihat pertempuran besar seperti itu yang berjalan sangat singkat.

"Sylvania!" panggil Lusie yang masih mencari temannya.

Lusie mencari Sylvania di baris pertahanan Karung pasir dan tidak kunjung ketemu, lalu melanjutkan pencariannya di parit-parit. Sambil terus memanggil namanya.

"Sylvania! Kau dimana?"

Lusie terus berjalan-jalan di parit melewati tentara-tentara yang mulai berjalan kembail ke dalam benteng. ditengah jalan dia bertemu dengan Ahmed dan anggota regunya, lalu bertanya ke Ahmed.

"tuan, apakah kau melihat Sylvania? Dia berada di luar gerbang selama peperangan"

Ahmed pun menunjuk parit tempat dia berada selama pertempuran.

"dia ada disana" Ucap Ahmed.

"terima kasih tuan"

Lusie berterima kasih ke Ahmed, lalu berjalan menuju tempat yang di tunjuk Ahmed. dari dalam parit itu, dia bisa melihat rambut perak Sylvania yang tertiup angin melambai-lambai. Lusie pun berjalan dan melompat memasuki parit dan melihat Sylvania yang terduduk diatas kotak amunisi besar. Kepalanya menunduk, kedua tangannya memegang busur dipangkuannya.

"Sylvania, ayo kita kembali ke dalam. Kami semua mencemaskanmu."

Lusie dapat melihat tetesan air mata yang jatuh di pangkuan Sylvania. Tubuhnya terlihat bergetar, mulutnya mengeluarkan suara isakan tangis.

"Sylvania, kau kenapa? Kau tidak terluka bukan?" tanya Lusie.

"Akhirnya aku menemukannya, hiks…"

Lusie terlihat bingung dengan perkataan Sylvania.

"Lusie, aku menemukannya! Hiks… Aku menemukan pasukan yang bisa membalaskan dendamku"

Sylvania mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata.

"aku akan meminta mereka untuk membalaskan kematian ayahku dan membebaskan negeriku Lusie…, dengan kemampuan mereka yang baru saja aku lihat, mereka bisa membalaskan kematian ayahku dan mengalahkan Isylum. Aku akan melakukan apapun agar mereka mau melakukan apa yang aku minta, bahkan apabila aku harus menjual diriku kepada mereka. Aku akan melakukan apa saja Lusie!"

Lusie yang tiba-tiba mendengar perkataan Sylvania langsung memegang pundaknya. Lalu berbicara dengan nada tinggi.

"apa yang kau bicarakan Sylvania! Kau tidak boleh melakukan hal itu, kau tidak boleh memaksakan keinginanmu kepada mereka. Mereka sudah berbaik hati memberikan kita makanan dan tempat tinggal. Apalagi menyuruh mereka berperang hanya karena dendam yang kau punya."

Lusie memandang sekilas wajah Sylvania yang basah oleh air mata, lalu memeluknya dengan erat. Lusie bisa merasakan tubuh Sylvania yang masih bergetar dan mengeluarkan isakan. Tangan Sylvania akhirnya terangkat lalu membalas pelukan Lusie.

"Tidak bisa kah kita hidup seperti biasa saja dengan tenang? Tinggal disini dan memulai hidup baru? Aku yakin orang-orang muslim disini akan melindungi kita dan membiarkan kita hidup aman dan damai."

Lusie selalu mendengar pasukan hitam yang menyelamatkan mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai muslim. Lusie pun ikut menyebut mereka dengan sebutan orang-orang muslim.

Sylvania menggeleng mendengar tawaran Lusie. Lusie menghela nafas melihat Sylvania yang menolak tawarannya. Dia memutuskan bahwa mulai hari ini dia tidak akan meninggalkan Sylvania sendirian, khawatir nantinya Sylvania akan melakukan hal yang tidak-tidak untuk memaksa pasukan Ghazi. Mereka berdua tetap berada di posisi seperti itu sampai akhirnya suara adzan mulai berkumandang dari dalam benteng.

"ayo kita kembali kedalam, orang-orang muslim biasanya mulai membagikan makan siang di penginapan setelah mereka berdoa." Ajak Lusie ke Sylvania.

Mereka berdua kemudian melepas pelukannya. Sylvania mengangguk sambil mengusap air matanya, lalu mengambil busur yang tadi sempat terjatuh karena pelukan Lusie. Lusie segera meraih tangan kiri Sylvania yang kosong setelah Sylvania mengambil busurnya, menyeret Sylvania untuk berjalan kedalam benteng, lalu ke arah barak pengungsi.

"kau tau, Jenderal Ayyub bilang kita sudah bisa menempati rumah kita sendiri yang mereka bangun di timur benteng seminggu lagi, bukankah itu bagus?" Lusie mulai berbicara di tengah perjalanan mereka ke barak.

"Kita benar-benar memulai hidup kita dari awal Sylvania! hanya saja aku tidak mau hidup sendiri di dalam rumah itu, kau tau kan aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang." suara Lusie yang tadinya riang menjadi lebih murung.

"Sylvania, kau mau kan kita tinggal bersama. Kau dan aku, kita bisa melakukan banyak hal bersama-sama."

Sylvania tersenyum lalu mengangguk.

"bagus… mula-mula kita akan melakukan ini, kemudian melakukan itu..-"

Lusie mulai menceritakan rentetan kegiatan yang ingin dia lakukan panjang lebar. Sylvania hanya tersenyum saja dan menjadi pendengar yang baik untuk Lusie, kadang dia ikut menanggapi.

"sayangnya kebanyakan pengungsi hanya ada perempuan saja, laki-laki di pengungsian hanya ada anak-anak dan orang tua saja. Yang lain sudah kena wajib militer atau terbunuh di desa, bagaimana nanti aku bisa menikah? Apa aku minta orang-orang muslim itu untuk menikahiku saja ya?"

Sylvania yang mendengar ucapan Lusie tiba-tiba berhenti melangkah dan memandang wajah Lusie dengan pandangan terkejut. Pikirannya tiba-tiba teringat dengan satu nama.

Ahmed, orang yang sudah menyelamatkan hidupnya.

"aduh, bercanda kok! Lagian mana mau mereka mau menikah dengan pengungsi kayak kita."

Lusie melanjutkan ceritanya dan mereka kembali berjalan dengan Sylvania yang terlihat mendengarkan, tapi pikirannya melayang ke nama yang baru saja muncul di pikirannya. Sylvania menggeleng pelan. Kenapa juga aku harus memikirkan orang seperti dia.

###

Istana Yildiz, Istanbul.

Khalifah Osman sedang berbicara dengan menteri-menterinya.

"Jadi penduduk kita yang hilang sudah ditemukan?"

"Benar Sultan, salah satu tawanan perang yang berada di dalam camp tahanan perang kita memberi tahu dimana penduduk kita yang hilang saat ini. Mereka semua sedang dijual sebagai budak di pasar yang ada di kota Eklaire. Tawanan yang sebelumnya bilang bahwa dia adalah seorang bangsawan itu meminta untuk bisa masuk Islam dengan ratusan tawanan yang lainnya setelah melihat perlakuan baik pasukan kita terhadap mereka".

Menterinya menunjukan salah satu kota yang ada di peta di meja rapat mereka.

"Drone kita di lapangan sudah mengonfirmasinya, untungnya mereka belum lama sampai di kota dan mereka masih terkumpul jadi satu disana sehingga akan lebih memudahkan kita untuk membebaskan mereka semua dalam satu serangan."

"kau bilang kota Eklaire, bukankah itu kota yang paling dekat dengan benteng Andalusia?"

"Benar Sultan"

Khalifah Osman berdiri dari kursinya, lalu berjalan ke arah jendela dan menatap ke arah luar melalui kaca jendela.

"Pasha, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pasukan kita bersiap menyerang kota itu".

"Jalur Suplai sudah disiapkan dan persiapan pasukan kita sudah hampir siap sepenuhnya. Hanya saja kita mendengar kabar tadi pagi bahwa Benteng Andalusia diserang oleh pasukan Leonia yang berjumlah 150 ribu orang. Tidak ada korban jiwa di pihak kita, pasukan Leonia kehilangan 140 ribu tentara mereka dan 10 ribu sisanya menjadi tawanan kita. Besok mereka akan dibawa melalui Al Jisr untuk ditempatkan di Camp tawanan perang lainnya. Karena serangan itu, kita mungkin harus menunggu 4 hari lagi untuk menambah suplai amunisi yang dibutuhkan pasukan kita untuk menyerang kota, saat ini 25 ribu pasukan tambahan sedang menyebrangi Al Jisr."

"Pasha, aku ingin pasukan kita bisa berangkat kesana dalam waktu 2 hari. aku tidak mau kita terlambat dan penduduk kita sudah terjual menjadi budak. Aku tidak keberatan bila Al Jisr nantinya akan dipadati kendaraan tawanan dan Amunisi perang".

"Baiklah Sultan, kami akan mengusahakan pemberangkatan pasukan kita dalam waktu 2 hari".

"Demi Allah pasha, keluarga mereka pasti saat ini masih bersedih menunggu kepulangan mereka".

###

Di barak militer regu J17, Ahmed dan anggotanya baru saja selesai sholat Dhuhur dan makan siang. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang menghubungi keluarga mereka di rumah dengan laptop, ada yang sedang sibuk dengan smartphonenya, ada juga yang mengisi waktu luangnya dengan membaca Al Qur'an. Ahmed baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di lehernya. Dia berjalan menuju tempat tidurnya dan meletakkan handuknya di lemari pakaian, lalu meraih Al Qur'an di atas lemari. Latihan harian sudah dia jalani tadi pagi, sehingga dia memutuskan untuk mengisi waktunya dengan membaca Al Qur'an belum sempat dia membuka Al Qur'an, karim yang baru saja selesai menghubungi keluarganya menutup laptopnya sambil mengajak Ahmed berbicara.

"Ahmed, aku dengar para penduduk yang hilang sudah di temukan. Mereka bilang kita akan diberangkatkan ke kota Eklaire dalam waktu 2 hari."

Ahmed menoleh ke Karim sejenak. Lalu kembali menatap ke arah Al Qur'an mencari ayat terakhir yang dia baca tadi malam.

"Kalau begitu bantu aku siapkan peralatan yang kita butuhkan untuk penyerangan nanti. Ambil amunisi tambahan di gudang senjata. Aku dengar mereka juga sedang membagikan smart glass untuk pasukan elit."

"Baiklah, ngomong-ngomong apa kau tidak ada keinginan untuk menikah? Kau sudah 33 tahun dan masih belum menikah. Putraku saja saat ini sebentar lagi akan memberikanku cucu"

Karim memang memiliki seorang putra laki-laki yang menekuni bisnis perkebunan di daerah bulgaria dan sudah menikah di usianya yang masih 23 tahun. Usia Karim sendiri saat ini mencapai 50 tahun. Dia sering kali menolak promosinya, sehingga masih berada di pangkat Sersan kepala sampai saat ini.

"Allah yang akan memberikanku jodoh Karim. Karena Jodoh ada ditangannya." Jawab Ahmed.

"memang jodoh ditangan Allah, tapi kau tidak bisa berpangku tangan saja dan harus berikhtiar juga Letnan".

Sang Letnan hanya tersenyum saja mendengar jawaban Karim. Kemudian dia mulai membaca Al Qur'an setelah menemukan ayat yang terakhir kali dia baca.

Karim hanya bisa menggeleng pasrah melihat reaksi Ahmed tiap kali mereka berbicara tentang jodoh dan pernikahan. Ahmed terlalu larut dalam kehidupan Jihadnya sampai dia melupakan fitrahnya sebagai pria yang membutuhkan pendamping hidup wanita.

Karim akhirnya berdiri dan memanggil Orhan untuk ikut dengannya membantu menyiapkan perlengkapan yang akan mereka butuhkan.

###

Sehari kemudian para perwira dipanggil di kantor pusat benteng Andalusia. Mereka mengadakan pertemuan untuk perencanaan dan penyusunan strategi menyerang kota Eklaire. Salah satu dari mereka yang dipanggil adalah Ahmed. semuanya duduk di bangku yang disediakan menghadap sebuah layar LCD.

Kolonel Umar memasuki ruangan pertemuan dan berjalan kedepan di dekat proyektor, lalu memulai pertemuan dengan ucapan salamnya.

"Assalamualaikum"

"Wa'alaikumsalam"

"Bismillah, hari ini kita akan merencanakan penyerangan kita yang akan dimulai besok ke kota Eklaire."

Layar LCD dihidupkan dan menampilkan peta yang menyangkut benteng Andalusia, kota Eklaire, dan wilayah sekitarnya. Kolonel Umar melanjutkan penjelasannya.

"seperti yang kalian lihat, kota Eklaire berjarak relatif dekat dengan posisi kita saat ini. Kemungkinan dari benteng Andalusia hanya akan membutuhkan 4 jam perjalanan. Kita akan menyerang dari barat secara frontal dan konvensional karena tidak ada waktu lagi untuk merencanakan serangan dari belakang atau sabotase. Mengingat Khalifah yang meminta kita meenyerang kesana besok dan membebaskan penduduk kita yang hilang dan menjadi tawanan."

Kolonel menunjuk tebing dekat kota.

"Di tebing yang berjarak 10 Km dari kota, kita akan menempatkan artileri kita disana berupa artileri An Nasr dan peluncur roket MRLS R20AM4 Sakarya. Lalu dengan bantuan artileri Nasr, kita akan meratakan tembok barat kota dan membuka jalan kita untuk memasuki kota Eklaire. Setelah itu orang orang kita akan memasuki kota di sepanjang reruntuhan tembok barat, tentara musuh akan mengalami guncangan setelah serangan artileri, dengan itu kita bisa dengan cepat merebut kota bagian barat dan mengamankan distrik barat sambil melaju memasuki jantung kota sampai menguasai seluruh kota."

Kemudian layar menampilkan denah kota secara detail.

"kota Eklaire tidaklah terlalu luas, mungkin bagi kita hanya seluas kota kecil di dunia kita, akan tetapi bagi orang-orang yang hidup di abad pertengahan kota sebesar itu sudah merupakan kota besar, jadi kita menduga adanya pertahanan yang kuat dan tentara dalam jumlah besar di dalam kota. permasalahan utama adalah menemukan penduduk yang hilang, informasi terakhir posisi mereka berada di sekitar jantung kota"

Kolonel Umar menunjuk distrik kota yang berada di tengah tengah kota.

"akan menghabiskan banyak waktu apabila kita menunggu pasukan utama untuk bisa menerobos sampai jantung kota. karena itu aku membutuhkan salah satu dari kalian untuk menjadi relawan menerobos masuk ke belakang garis musuh dan membebaskan tawanan secepat mungkin sebelum mereka memindahkan para tawanan. Ada yang bersedia diantara kalian?"

Kolonel mengedarkan pandangannya ke semua orang yang duduk di depannya, belum ada yang mengangkat tangannya. Sampai 20 detik kemudian Ahmed akhirnya mengangkat tangan lalu berkata.

"Aku dan tim J17 siap membebaskan tawanan Kolonel".

Kolonel mengangguk.

"Baiklah, dalam serangan ini kita akan melibatkan sejumlah 10 ribu personil militer termasuk battalion lapis baja ke 3 dan divisi udara ke 7. Batalion infantri, Kompi A, B, dan C akan menyerang dan menyusuri kota bagian utara. Kompi D, E, dan F menyerang bagian selatan kota. Sisanya akan menyerang dan menguasai jantung kota. Ahmed, kau akan masuk bersama kompi J lainnya, lalu berpencar dari tim lainnya di tengah kota menembus garis musuh lewat gang kecil di kota menuju lokasi tawanan. Misi kalian tembak semua musuh yang melawan, bebaskan tawanan, lalu kalian bisa memanggil An Naqil lewat radio untuk ekstraksi penduduk kita. Artileri dan dukungan udara akan tersedia untuk kalian semua, panggil lewat radio dan berikan koordinasi nya maka bantuan artileri dan pesawat SU90 ataupun Helicopter Saqr akan segera datang. Ada pertanyaan?"

Salah satu letnan dari pasukan Yildirim, Letnan Selim mengangkat tangannya.

"Kolonel, kenapa kita tidak menghancurkan gerbangnya saja dengan tembakan tank melainkan harus meratakan seluruh tembok barat yang nantinya akan menjadi tugas berat memperbaiki tembok bagi kita nanti?"

"Pertanyaan bagus, kita memilih menghancurkan tembok untuk membuka jalan sekaligus menghabisi penjaga kota yang ada di atas tembok. mungkin kita bisa saja hanya menghancurkan gerbang kota dan menghabisi penjaga tembok dengan pesawat SU90. Tapi masalah berikutnya adalah jalan masuk gerbang yang kecil akan menimbulkan kepadatan di area gerbang untuk pasukan kita yang masuk kota dan akan memperlambat laju pasukan kita. Pertanyaan yang lain?"

Letnan dari kompi A yang bernama Jabar mengangkat tangannya.

"bagaimana dengan penduduk kota Eklaire?"

"Ah iya, untuk aturan tembaknya kalian dilarang menembak penduduk sipil seperti biasa dengan sengaja. Kita akan menyebarkan peringatan menggunakan pamflet yang akan di terjunkan dari SS15 ke para penduduk kota agar mereka bisa berlindung terlebih dahulul. Sehingga korban jiwa penduduk yang disebabkan oleh artileri tanpa sengaja nantinya bukan menjadi tanggung jawab kita lagi. Pastikan area aman sebelum meminta bantuan artileri dan tetap berhati-hati dalam menyerang setiap gedung di dalam kota. Ada pertanyaan lagi?"

Seluruh perwira tidak ada yang mengangkat tangannya lagi.

"Alhamdulillah, kita akan berangkat ke Eklaire setelah sholat shubuh. Persiapkan barang perlengkapan kalian, semoga Allah memudahkan penyerangan kita dan menyempatkan kita menyelamatkan penududuk. Pertemuan kita akhiri sampai disini, apabila ada pertanyaan yang menyusul kalian bisa ke kantor ruanganku. Assalamualaikum"

"Wa'alaikumsalam".

Setelah pertemuan selesai, para perwira saling bersalaman satu sama lain, lalu keluar dari ruangan menuju barak mereka masing-masing.

###

Sementara itu di barak pengungsian

Di sore hari di hari yang sama, Sylvania sedang mengasah sejumlah anak panah yang baru saja dibuatnya dari balok kayu yang dia minta dari bagian konstruksi militer. Kantong tas kulit besar disampingnya sudah penuh dengan perbekalan dan kebutuhan lainnya. Bahkan pakaian tempur Elf yang dia jahit sendiri dan selesai 3 hari yang lalu sudah dia pakai saat ini berupa pakaian yang terlihat lumayan ketat.

Lusie memasuki ruangan Sylvania dan melihat apa yang dilakukannya saat ini. Lusie berencana mengajak Sylvania berjalan-jalan di timur benteng untuk melihat-lihat rumah yang sedang di bangun oleh bagian konstruksi militer. Namun melihat apa yang dilakukan Sylvania saat ini membuatnya lupa tujuan awalnya.

"Sylvania, apa yang kau lakukan? Kau tidak berencana untuk pergi dari sini kan?" Ucap Lusie hati-hati. Mungkin dia hanya ingin pergi berburu atau latihan saja bukan?

"Mereka berencana menyerang Eklaire besok. Kemungkinan mereka akan melanjutkan dari Eklaire ke Orluire, Antiende, sampai menguasai Leon. Lalu menguasai Leonia."

Sylvania terdiam sejenak, Lusie masih menunggu Sylvania menyelesaikan alasannya.

"setelah mereka menguasai Leonia, ada kemungkinan mereka menyerang dan mengalahkan Isylum juga. sampai saat itu tiba, aku akan ikut bepergian bersama mereka, dan jika mereka tidak mau menyerang Isylum, aku yang akan membuat mereka menyerang Isylum."

Sylvania melanjutkan kegiatannya mengasah anak panahnya.

"Jadi kau masih memikirkan dendam terhadap kematian ayahmu?"

Lusie bertanya sambil menaikkan nadanya satu oktaf. Sylvania tidak merespon, masih berkutat dengan anak panahnya.

"hei, bagamana dengan rencana awal kita? Hidup bersama, memulai dari awal, mencari ketenangan dan kebahagiaan, kita baru saja membicarakannya kemarin dan kau sudah melupakan semua?"

Mata Lusie saat ini sudah mulai basah.

"semua itu bisa aku lakukan setelah membalas kematian ayahku". Jawab Sylvania dengan nada datar.

"tapi semua itu tidak akan terwujud kalau kau kehilangan nyawamu!" Tukas Lusie.

Sylvania terdiam tidak menemukan jawaban atas pernyataan Lusie. Air mata Lusie sudah mulai bercucuran di wajahnya. Nafasnya sesenggukan. Selanjutnya Lusie mulai menggenggam tangan kanan Sylvania.

"kau sudah menjadi sahabatku selama 2 minggu ini Sylvania. Cuma kau satu-satunya yang aku punya saat ini. Aku tidak ingin kehilangan seseorang lagi!"

Sylvania menatap wajah Lusie yang basah karena air mata. Lalu menggenggam kedua tangan Lusie dengan tangan kiri nya sambil sedikit tersenyum.

"Kau tidak akan kehilangan aku Lusie, percayalah!"

Kemudian raut wajah nya kembali datar.

"tapi bagaimanapun aku harus membalas kematian ayahku terlebih dahulu."

Lalu Sylvania berdiri dan meraih anak panah dan busurnya lalu keluar dari ruangannya untuk mencoba anak panah buatannya. Lusie hanya bisa memandang kepergian Sylvania dengan wajah yang masih basah karena air mata.

"Kau tidak memberikanku pilihan lain Sylvania"

Ucap Lusie yang masih menatap pintu ruangan Sylvania sambil mengusap air matanya.

BERSAMBUNG….