Part 7 Offensif Pertama

Di Benteng/Pangkalan Andalusia

Hari menjelang Fajar. Para prajurit Ghazi melakukan sholat subuh berjamaah, tentara Ghazi memang sudah terbiasa untuk bangun sebelum sholat subuh bersama untuk menjalani sholat malam bersama yang kemudian dilanjutkan dengan sholat subuh. Kemudian selesai sholat berjamaah, mereka yang ikut serta dalam penyerangan bergegas menuju masing-masing barak mengambil peralatan dan senjata mereka, lalu ke gudang senjata mengambil amunisi dan granat sebelum akhirnya berlari lagi menuju titik berkumpul pasukan penyerangan termasuk regu J17.

Ahmed dan regunya baru saja keluar dari gudang senjata dan berlari menuju titik berkumpul mereka dimana saat ini sudah berjajar puluhan kendaraan perang yang akan membentuk konvoi. Kendaraan yang dikerahkan berupa 20 tank Mahmud, 30 LAV Safir dan 30 APC Hisan, 50 Jamal, serta 15 kendaraan anti udara UC95 Intikamci. Artileri yang digunakan berjumlah 20 pucuk artileri Hav150V4 dan 10 MLRS R20AM4 yang nantinya akan ditarik oleh truk membentuk Konvoi sendiri dengan penjagaan 2 Tank Osman dan 4 LAV Safir. Konvoi Artileri terlihat berjalan terlebih dahulu saat ini, karena mereka sudah harus siap di dataran tinggi sebelah barat Eklaire.

Ahmed dan regunya saat ini sudah sampai di 2 APC Hisan yang akan mengangkut mereka nanti. Ahmed mulai memberikan pidato singkat di depan anggotanya.

"Ingat apa yang pernah aku katakan pada kalian semua. Murnikan niat kalian untuk berjihad di jalan Allah, sehingga Allah akan senantiasa bersama kita. Yakinlah bahwa segala kekuatan dan daya hanya berasal dari Allah semata, sehingga tidak ada kemenangan dan keberhasilan yang datang tanpa adanya pertolongan dari Allah. Diujung jalan kita hanyalah ada dua kemungkinan, menang atau syahid. Allahu Akbar!"

"""Allahu Akbar!"""

Anggota Ahmed satu persatu mulai menaiki APC hingga tersisa Ahmed dan Karim. Di saat Karim hendak melangkahkan kakinya, suara dari belakang mereka mengalihkan perhatian mereka.

"Ahmed, Boleh aku ikut bersama kalian?"

Bukan bahasa Arab yang mereka dengar, melainkan bahasa Inggris yang menjadi bahasa lokal di tempat ini. Ahmed dan karim berbalik melihat orang yang bertanya kepada mereka. Mereka dapat melihat sosok yang 2 hari lalu memaksa untuk masuk di parit mereka. Sylvania saat ini berdiri di depan mereka sambil membawa busurnya, dipunggungnya sudah ada tas kulitnya yang terlihat sedikit penuh, lalu di samping kanan dan kiri tas kulitnya ada dua wadah anak panah yang juga terisi penuh dengan anak panahnya.

"Sylvania! kenapa kau berada disini? Apa maksudmu ikut bersama kami?" Ahmed bertanya balik.

"Aku tahu kalian akan berangkat untuk menyerang Eklaire, aku ingin ikut bersama kalian. Aku bisa membantu kalian dengan kemampuan memanahku dan membantu mengobati yang terluka, aku tahu kelompok kalian hanya memiliki 1 dokter saja kan?"

Ahmed terlihat berpikir sejenak.

"Ahmed, apa yang dia katakan?" Karim yang masih berada di samping Ahmed ikut bertanya.

"dia meminta untuk ikut bersama kita".

Karim ikut berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab.

"kau harus bertanya kepada kolonel Umar terlebih dahulu". Karim memberikan pendapatnya.

Belum selesai dengan Sylvania, seseorang berlari menuju tempat mereka bertiga dengan menggunakan baju khas warga setempat yang sudah menjadi pengungsi di Pangkalan mereka dan juga membawa tas punggung kulit yang mirip dengan punya Sylvania. Sosok tersebut berhenti di samping Sylvania sambil masih terengah – engah mengambil nafas.

"Syukurlah aku tidak terlambat" ucap orang itu sambil masih berusaha mengambil nafas.

"Lusie kenapa kau ada disini? Seharusnya kau tetap berada di tempat pengungsian saja kan!" bukan Ahmed yang bertanya, melainkan Sylvania dengan wajah terkejutnya.

Lusie mengabaikan pertanyaan Sylvania dan menghadapkan wajahnya ke Ahmed, lalu bertanya.

"Tuan, Izinkan saya ikut bersama kalian juga"

Ahmed tidak kalah terkejut melihat kedatangan Lusie, pertama Sylvania yang tiba-tiba datang dan meminta untuk ikut mereka sudah cukup mengejutkan Ahmed, ditambah kedatangan Lusie yang merupakan warga sipil pengungsi sekarang juga ikut meminta hal yang sama.

"Kenapa aku harus mengizinkanmu ikut bersama kami?" tanya Ahmed kepada Lusie.

"Aku pernah tinggal di kota Eklaire sebelum pindah ke desa bersama keluargaku 5 tahun yang lalu. Aku mengetahui seluk beluk dan jalanan di kota itu. Aku bahkan mengetahui saluran air yang berada di bawah tanah kota. selain itu aku eh… aku tau sedikit ilmu pengobatan, jadi aku bisa membantu mengobati yang terluka. Aku juga bisa membantu membawakan barang kalian atau lainnya."

"Lusie, kau tau alasanmu masih kurang cukup untuk bisa ikut bersama kami kan? Kau tidak punya kemampuan bertempur apapun."

Lusie menunduk mendengar jawaban Ahmed.

"Kumohon izinkan aku ikut bersama kalian, apabila Sylvania ikut, aku juga akan ikut. Sylvania sudah menjadi sahabat dan satu-satunya orang yang dekat denganku sekarang. Aku tidak mau berpisah darinya." Suaranya terdengar bergetar, seolah sebentar lagi tangisannya akan pecah.

Ahmed menghela nafasnya mendengar ucapan Lusie. Mereka berdua memang keras kepala.

"aku peringatkan, apabila kalian ikut, kami tidak akan bisa menjamin keselamatan dan keamanan kalian meskipun kami akan tetap melindungi kalian. Keselamatan kalian juga menjadi tanggung jawab kalian masing-masing. Di luar sana, peperangan adalah medan yang berbahaya dan dapat merengut nyawa kalian kapan saja, apakah kalian masih ingin ikut bersama kami?"

Lusie dan Sylvania mengangguk mantap secara serempak. Ahmed menghela nafasnya lagi, kemudian menoleh ke Karim.

"Karim, hubungi Kolonel Umar."

Karim meraih radionya lalo mencoba menghubungi kolonel umar.

"mubarizun 1 memanggil amir 2, ganti?"

Radio berdengung beberapa saat sebelum akhirnya suara kolonel terdengar dari radio.

"[buzz] Di sini amir 2, silahkan mubarizun 1."

"kami mendapati 2 penduduk sipil dari pengungsi yang meminta untuk ikut bersama kami di penyerangan ke Eklaire, apakah di izinkan? Ganti."

"[buzz] Mubarizun 1, beritahu mereka resiko dan konsekuensi nya apabila mereka ingin ikut bersama kalian. Jika mereka masih memaksa maka keputusannya aku serahkan kepada kalian untuk memperbolehkan mereka atau tidak. Mereka akan menjadi tanggung jawab kalian setelah mereka ikut kalian."

"Baiklah Amir 2, terima kasih petunjuknya. Mubarizun 1 selesai".

Karim mengangguk ke arah Ahmed. lalu Ahmed memandang kedua perempuan yang meminta ikut bersama mereka.

"baiklah, kalian boleh ikut. Kalian ikut bersamaku. jaga diri kalian masing-masing".

Sylvania dan Lusie kembali mengangguk. Karim berjalan menuju APC yang berada di belakang sedangkan Ahmed, Lusie, dan Sylvania masuk ke APC di depan.

"Letnan kenapa lama sekali, kami baru saja akan-" ucapan Faruq terputus ketika melihat 2 perempuan lokal ikut masuk ke dalam APC mengikuti Ahmed. mereka berdua mengambil tempat duduk di paling pojok kendaraan.

"Letnan, apa yang mereka lakukan disini? Apa kau sudah meminta izin ke kolonel?". Bisik Faruq ke Ahmed agar tidak terdengar kedua perempuan itu terlepas dari kenyataan bahwa keduanya adalah orang lokal yang seharusnya tidak mengerti bahasa Arab.

"mereka memaksa ikut bersama kita, dan ya aku sudah bertanya ke kolonel. Mereka kembali menjadi tanggung jawab kita sekarang".

Faruq terlihat menutup matanya dan menghela nafas, lalu kembali memandang Ahmed. saat ini mesin kendaraan sudah mulai dinyalakan dan bagian dalam kendaraan mulai bergetar karena mesin kendaraan.

"Letnan, kau paham kan resikonya membawa penduduk sipil. Mereka akan merepotkan kita nanti."

"Aku paham Faruq, tapi mereka terus saja memaksa untuk ikut bersama kita."

Untuk bergabung dengan prajurit Ghazi memang disyaratkan untuk memiliki pengetahuan agama dan akidah yang kuat dalam proses pendaftarannya agar setiap prajurit memiliki niat jihad yang murni dan akidah kuat sehingga memperkecil kemungkinan berkhianat.

Kendaraan LAV di depan APC yang di naiki Ahmed sudah mulai berjalan, di ikuti oleh APC yang dinaiki Ahmed dan APC di belakangnya. mereka berjalan melewati barak-barak, hangar, dan gudang militer yang ada di dalam benteng Andalusia. Ahmed dan anggota regunya juga bisa melihat bahwa markas nampak sangat sibuk di pagi-pagi buta, entah mereka juga mempersiapkan serangan ke Eklaire atau urusan lain. Tak lama kemudian kendaraan yang dinaiki Ahmed keluar gerbang, melewati garis pertahanan karung pasir, parit, dan melewati kawat berduri.

"Aku masih kagum sekaligus tidak mengerti bagaimana kendaraan ini bisa berjalan tanpa ditarik oleh kuda. Sylvania, kau tahu sihir apa yang mereka gunakan?" Ucap Lusie yang tiba-tiba berbicara di tengah jalan memecah keheningan, Ahmed dan anggotanya diam saja mendengar pembicaraan Lusie. Memang anggota Ahmed sendiri juga masih banyak yang belum lancar bahasa Inggris dan juga tidak terlalu ingin mengetahui topik pembicaraan keduanya juga.

"Salah satu dari orang yang membagikan makanan di pengungsian pernah berkata bahwa kendaraan ini dijalankan oleh sebuah mesin." Sylvania menjawab pertanyaan Lusie.

"mesin?"

"suatu rangkaian besi yang digunakan untuk menggerakkan benda lainnya. Mereka semua tidak memiliki sihir, bahkan mengutuk penggunaan sihir. Saat ini di dunia mereka juga sudah tidak terdapat sihir lagi."

"lalu bagaimana dengan senjata mereka yang dapat membunuh dari jauh tanpa anak panah? Cahaya tanpa api di langit-langit ruangan? Benda yang bergerak sendiri? Kenapa mereka tidak melarangmu menggunakan sihir?"

"aku tidak mengerti Lusie"

"Awal mula pelarangan sihir berasal dari keyakinan kami bahwa sihir manusia biasanya disertai oleh bantuan makhluk ghaib dan meminta bantuan makhluk ghaib seperti itu dilarang dalam agama kami. Namun kasus 'sihir' di dunia kalian masih menjadi misteri bagi kami dan masih dalam proses penelitian oleh para ilmuan beserta ulama kami. Selain itu, kalian juga tidak memiliki keyakinan yang sama dengan kami, jadi kalian tidak harus mengikuti larangan tersebut selama tidak membahayakan orang lain." Suara itu berasal dari Ahmed yang kemudian mengalihkan perhatian mereka berdua.

"semua yang kau sebutkan tadi menggunakan mesin, dan beberapa juga menggunakan suatu energi yang disebut listrik. Cahaya tanpa api yang kau lihat juga berasal dari energi listrik." Ahmed kembali menjelaskan. Mereka berdua terlihat manggut-manggut mendengar penjelasan Ahmed.

1 jam berlalu di tengah perjalanan, jam sudah menunjukan pukul 7 pagi. Saat ini mereka melewati beberapa desa yang tampak habis terbakar. Kebanyakan rumah sudah hangus dan ada mayat dengan pakaian penduduk sipil abad pertengahan yang tergeletak di beberapa tempat. Desa-desa itu tampak sepi dan tidak terdapat seorang pun penduduk.

Lusie dan Sylvania yang memandang keluar melalui Jendela yang ada di depan pengemudi. Melihat keadaan desa setempat yang menjadi korban kekejaman Leonia.

"Kenapa mereka begitu jahat? Mereka menjarah semua desa dan membunuh penduduknya". Lusie kembali bersuara di dalam APC.

"ini merupakan hal yang wajar di zaman pertengahan seperti di dunia kalian. Aku yakin mereka juga mengambil sebagian penduduk untuk mereka jual sebagai budak" Kali ini Ahmed kembali menjawab Lusie. Di APC yang lain, beberapa prajurit sibuk mengirim pesan melalui radio agar desa-desa yang mereka lewati dikirim pasukan yang nantinya mengevakuasi dan mencari warga yang selamat.

"600 tahun yang lalu negeri – negeri yang kami perangi juga melakukan hal yang sama terhadap desa-desa yang mereka rebut. Orang-orang dewasa dibunuh dan anak-anak dijadikan budak untuk dijual. Tapi kami sudah berhenti dari praktek seperti itu 1400 tahun yang lalu, kami tidak pernah membunuh ataupun merusak desa-desa yang kami rebut dari musuh kami sepanjang peperangan yang kami lakukan selama 14 abad ini, dan itu merupakan perintah yang diberikan oleh tuhan kami melalui kitab sucinya dan dijalankan oleh pemimpin kami yang disebut khalifah." Lanjut Ahmed.

Mendengar penjelasan Ahmed, Lusie menjadi semakin tertarik untuk mempelajari para pendatang baru yang disebut muslim ini, khususnya Islam yang mereka bawa. Mungkin nanti dia perlu meminjam buku yang mereka sebut kitab sucinya nanti.

"kalian mungkin perlu belajar bahasa Arab apabila kalian lebih sering berada di antara kita agar agar kalian bisa berbicara dengan anggotaku yang lain". Ahmed kembali menambahkan.

"Maksudmu… berbicara…. dengan… bahasa… kalian…. seperti ini?" suara Sylvania yang berbicara dengan bahasa Arab mengalihkan perhatian Ahmed dan anggotanya sekaligus mengejutkan mereka, meskipun bicaranya masih terbata-bata.

"kau… tidak berpikir bahwa…. selama 2 minggu ini…. aku tidak…. melakukan apa – apa…. bukan?... selama … 2 minggu…. aku berusaha….. mempelajari…. Bahasa kalian"

Ahmed tersenyum melihat kemampuan bahasa Sylvania sambil geleng-geleng kecil.

"mungkin kau perlu menggunakan bahasa Arab saat berbicara dengan kami Sylvania"

Faruq yang melihat interaksi Ahmed dan kedua gadis yang ikut bersama mereka hanya bisa menggeleng saja.

Suara gemuruh yang keras terdengar dari atas langit, Sylvania dan Lusie berusaha melihat asal suara itu, namun mereka tidak bisa melihat ke atas dikarenakan jendela yang ada di APC sangat minim dan berukuran kecil.

"suara apa itu?" tanya Lusie

"itu suara pesawat kami. Kau tahu kan yang berada di tempat luas dan bersayap di pangkalan kami"

Saat ini pesawat SS15 terbang diatas mereka melewati konvoi pasukan penyerang. Pesawat itu menuju Eklaire dengan membawa keratas-kertas pamflet yang berisi peringatan serangan mereka dalam bahasa Inggris dan Prancis. Isinya sebagai berikut.

Kami pasukan Ghazi

Kami akan mengadakan pembebasan kota Eklaire dari Leonia.

Bagi kalian yang bersembunyi di tempat ibadah atau pusat kota kalian, maka kalian aman.

Bagi yang menghadap ke pasukan kami membawa bendera putih dan meminta perlindungan dari kami maka kalian aman.

Bagi yang keluar dari kota selama pertempuran maka kalian aman

Pesawat itu melewati konvoi, lalu 5 menit kemudian mendekati Eklaire dan mulai menurunkan ketinggiannya. Pintu belakang pesawat terbuka. Lalu 4 orang yang berada di bagian belakang pesawat mulai mendorong tumpukan kertas yang berada di dalam pesawat keluar melalui pintu belakang. Ribuan atau bahkan puluhan ribu kertas berjatuhan di atas kota Eklaire.

Penduduk setempat yang berada di luar rumah mereka yang mendapati selebaran itu memungutnya.

"lihat, kertas dari langit!" ucap salah satu penduduk.

Mereka mulai membacanya, lalu tidak lama kemudian timbul kepanikan yang dalam waktu singkat meluas ke segala penjuru kota. berita tentang pasukan yang akan menyerang kota mereka dengan sebutan Ghazi membuat mereka segera pulang ke rumah mereka masing-masing dan mengajak keluarga mereka untuk lari berlindung di tempat yang dimaksud. Bahkan beberapa sudah menyiapkan kain putih untuk berjaga apabila mereka harus menyerahkan diri mereka ke para penyerang ini.

Para bangsawan dan prajurit di kota pun tidak ketinggalan panik. Mereka segera membunyikan lonceng peringatan kota dan memanggil pasukan untuk bersiap di tembok. Masalahnya mereka tidak tahu dari mana para penyerang ini akan menyerang kota. Duke Franklin yang menjadi penguasa kota langsung berlari menuju kudanya setelah mendengar kabar dari salah satu tentara Leonia. Dia menunggang kuda menuju salah satu tembok kota. lalu turun dari kudanya dan bertanya kepada salah satu perwira sekaligus bangsawan yang berada di situ.

"bagaimana keadaannya? Siapa yang menyerang kita? Apa mereka sudah datang?" Tanya Duke Franklin.

"mereka menyebut diri mereka sebagai tentara Ghazi tuan. Mereka masih belum datang, saat ini pasukan yang berada di Eklaire sudah kami kerahkan seluruhnya. Kami juga mengirimkan utusan ke Longnard dan Orluire untuk meminta bantuan."

Duke Franklin berjalan mendekati pembatas tembok, lalu melihat lapangan kosong di luar tembok. dia sendiri saat ini sedang berdiri di tembok utara.

"perintahkan para penunggang wyvern untuk terbang di atas kota sekarang" ucap Duke Franklin kepada salah satu prajurit biasa.

"Baik tuanku" balas prajurit itu dengan penghormatan berupa meletakkan tangan kanannya di dada kirinya. Lalu segera berlari ke penunggang Wyvern.

###

Sementara itu di konvoi pasukan Ghazi, sudah 2 jam berlalu dan mereka saat ini berjarak kurang dari 4 kilometer dari tembok kota. Kalau bukan karena pepohonan yang lebat, mungkin mereka sudah dapat melihat tembok kota dari jauh saat ini. Orang-orang di dalam kendaraan memasang wajah tegang karena menghadapi operasi ofensif pertama mereka di Edela. Konvoi mulai terpecah dan berpencar membentuk perimeter dengan tank di barisan depan dan kendaraan-kendaraan pengangkut infantri di belakangnya. Di dalam kendaraan sebuah transmisi radio berlangsung.

"[buzz] disini Rayyah 3 kami sudah berada di posisi, siap menembak kapan saja."

"[buzz] disini Amir 2, kalian diperbolehkan untuk mulai menembak."

"[buzz] apakah penduduk kota sudah diamankan amir 2?"

"[buzz] penduduk lokal sudah berlindung di tempat yang kita tujukan dan penyerangan bisa dimulai kapan saja."

"[buzz] baiklah, Rayyah 3 memulai penyerangan. Sebaiknya kalian tutupi telinga kalian."

Transmisi radio berakhir. Orang orang yang menjadi bagian penyerang bisa melihat tembok tinggi kota yang mulai terlihat dari jarak 3 km setelah mereka keluar dari barisan pepohonan dan berada di padang rumput luas. Ahmed yang berada di salah satu kendaraan berpindah menuju ke ruang kemudi.

"Letnan, bersiaplah. Penyerangan akan segera dimulai." Ujar pengemudi APC.

Ahmed meraih teropong yang tersedia di ruang kemudi. Lalu melihat tembok dari jauh. Disana dia bisa melihat ratusan atau bahkan ribuan orang sudah berjajar rapi di tembok. Tombak mereka terangkat tinggi di balik pembatas tembok. bendera kuning bergambar kepala singa dengan dua pedang bisa dilihat di atas tembok.

Suara dentuman tiba-tiba terdengar dari jauh, tanda artileri mulai menembak. Tebing dataran tinggi yang menjadi posisi artileri mereka tidaklah terlalu jauh dari kota, mungkin sekitar 10 Km.

Di tembok barat, pasukan Leonia sudah berjajar rapi di tembok, mereka dapat melihat asap mengepul dari kejauhan. Beberapa yang memiliki pengelihatan tajam atau pun sihir pengelihatan dapat melihat kendaraan-kendaraan yang berjalan tanpa kuda menuju ke arah kota. Mereka terkejut melihat kendaraan yang bisa berjalan tanpa kuda untuk pertama kalinya.

Lalu tak lama kemudian, suara dentuman terdengar dari jauh. Orang-orang diatas tembok seketika menolehkan kepala mereka ke segala arah, mencari tau asal dentuman itu lalu tak lama kemudian suara lengkingan terdengar menuju ke tempat mereka. Apa yang terjadi selanjutnya adalah apa yang bahkan tidak bisa mereka bayangkan sekalipun di mimpi buruk mereka.

Berbagai ledakan muncul di sepanjang tembok kota, para tentara Leonia segera berlarian kalang kabut kesana kemari. Mereka mencoba menyelamatkan diri dari satu ledakan dan terkena ledakan lain. Peluru ledak artileri membentur bagian atas dan bagian depan tembok, awalnya membuat kerusakan dan kawah-kawah di tembok. kemudian belum selesai penderitaan tentara Leonia, terlihat di langit benda yang bagi mereka terlihat seperti ratusan panah api berasap dan bergerak sangat cepat ke arah mereka membuat ledakan lagi secara beruntun, melengkapi lubang di tembok yang akhirnya membuat tembok-tembok mulai runtuh.

Di tembok utara, Duke Franklin yang mendengar ledakan keras dan melihat ledakan serta asap mengepul di tembok barat hanya menyaksikan tembok kota yang hancur sambil menggeram marah. Mereka tidak mengira musuh mereka akan menggunakan sihir ledakan yang sekuat dan sebanyak itu untuk merobohkan tembok mereka.

Duke Franklin pun berlari menuju tembok barat bermaksud mencoba menghentikan serangan itu dengan sihirnya. Tapi posisi Duke Franklin terlalu jauh dari tembok barat. Serangan artileri dan hujanan roket masih belum berhenti. Ledakan demi ledakan menghancurkan tembok Eklaire disusul oleh roket yang masih terus menghujan meratakan tembok yang sebelumnya sudah rusak.

Para tentara musuh yang berada di tembok lainnya mulai bergerak menuju kota bagian barat setelah tahu musuh menyerang dari barat.

15 menit kemudian serangan artileri dan roket berhenti. Asap tebal mengepul dari lokasi tembok barat. Butuh 5 menit lagi untuk menunggu asap itu mulai terurai. Tentara Leonia yang berasal dari tembok lain menunggu asap menghilang terlebih dahulu sebelum mulai menolong kawan-kawan mereka dari tembok barat. Namun apa yang mereka lihat setelah asap menghilang sungguh mengejutkan mereka.

Seluruh tembok barat telah rata dengan tanah. Tentara dari tembok barat sudah tidak ada yang masih hidup. Bahkan mayat mereka sudah tidak terlihat. Antara menghilang terkena ledakan atau tertimpa reruntuhan tembok.

Apa yang terlihat di balik tembok juga mengejutkan mereka. Dari jauh mereka dapat melihat jajaran kendaraan yang berjalan tanpa kuda menuju kota. Jumlahnya sangat banyak dan bentuknya beberapa sama dan beberapa yang lainnnya berbeda satu sama lain. Kendaraan itu berwarna hitam semua.

Duke Franklin yang juga baru sampai di reruntuhan tembok barat dan sempat terkejut langsung memberikan perintah kepada pasukannya.

"Semua pasukan, buat barisan di depan tembok, jangan biarkan mereka memasuki kota."

Pasukan Leonia yang baru datang dari sisi lain kota seketika membentuk barisan di depan reruntuhan tembok dengan perisai terangkat dan tombak terarah ke Pasukan Ghazi yang maju menuju kota. Saat ini jarak pasukan Ghazi dari tembok barat kurang dari 1 Km.

"Pemanah bersiap!"

Pasukan pemanah secara serentak mengambil anak panah dan menarik anak panah mereka di busur, bersiap menembakkan panahnya dan mengarahkannya ke atas.

###

Ahmed dan anggota regunya dapat melihat musuh mereka membentuk barisan memanjang di depan reruntuhan tembok seolah berusaha menutupi jalan masuk menuju kota. kendaraan tempur pasukan Ghazi tetap melaju tanpa mengurangi kecepatan mereka.

"[buzz] Sipahi 1 ke seluruh unit Sipahi, tembakkan senjata kalian. Perlihatkan kepada mereka apa yang bisa dilakukan oleh gajah besi ini."

Seluruh tank mahmud yang berada di depan perimeter mulai menembakan meriam dan senapan mesinnya, disusul oleh APC Hisan dan LAV Safir. Barisan musuh mulai berantakan dengan jatuhnya tentara mereka dalam waktu yang cepat. Tembakan 125mm tank mahmud dapat membinasakan lebih dari 20 orang yang berbaris dengan barisan rapat dalam 1 tembakan. Salah satu sisi barisan musuh terbuka untuk memberikan jalan kepada kavaleri yang melaju menyerang barisan kendaraan Ghazi.

"[buzz] kavaleri musuh melaju ke arah kita, seluruh senapan mesin fokuskan tembakan kalian ke arah kavaleri."

Seluruh senapan mesin mulai dari senapan 12.7mm di atas tank sampai 25 mm milik safir mengarahkan moncong senapannya ke arah kavaleri dan kembali menembakkan senjatanya. Kali ini kavaleri Leonia yang berjatuhan dengan cepat. Beberapa penunggang kuda berhasil lolos dari tembakan kendaraan Ghazi, namun ketika harus berhadapan secara langsung, mereka harus tertabrak oleh tank atau kendaraan lainnya.

Ahmed dapat merasakan kendaraan Hisan yang di naikinya berguncang beberapa kali di tengah pertempuran melawan kavaleri. Tentu saja Ahmed anggota-anggotanya juga ikut menembak melalui jendala kecil yang ada di sekitar mereka.

Dari barisan infantri musuh keluar ribuan panah yang tertuju ke kendaraan Ghazi. Namun, panah itu hanya terpental saja ke semua kendaraan Ghazi.

"[buzz] untuk seluruh unit di darat di sini unit Qomar. Sepertinya kalian mendapat sedikit penghalang di bawah sana."

Dari belakang perimeter kendaraan Ghazi 7 helikopter Saqr terbang melewati kendaraan darat dan meluncurkan roketnya ke arah barisan musuh yang kemudian menimbulkan ledakan dan kekacauan di tengah barisan Leonia. Infantri barisan Leonia kali ini mulai terpecah dan masing-masing mundur masuk ke dalam kota.

"[buzz] disini unit qomar, jalan masuk sudah terbuka dan tentara musuh mundur ke dalam kota."

"[buzz] disini unit Siroj, kami mendeteksi unit udara musuh di atas kota. Kami akan memasuki wilayah udara kota sekarang dan menyerang unit udara musuh."

Deru suara mesin Pesawat SU90 tiba – tiba terdengar. Di atas terlihat 4 pesawat yang memasuki wilayah udara kota dan menyerang wyvern Leonia yang bisa dilihat dari jauh. Wyvern yang terbang secara berkelompok itu pun mulai berjatuhan. Di satu saat, salah satu pesawat SU90 meluncurkan rudal udaranya ke salah satu penunggang, ledakan rudal membunuh 3 dari 5 penunggang lainnya yang berdekatan dengan target yang terkena rudal. Penunggang lainnya di jatuhkan dengan 2 senapan putar 30mm yang berada di kanan dan kiri kepala pesawat.

Para penunggang Wyvern mencoba mengejar dan menembakkan sihir mereka ke pesawat SU90, namun pesawat jet itu jauh lebih cepat dari mereka dan tidak dapat terkejar oleh Wyvern tercepat sekalipun. Sihir mereka tidak dapat mengenai pesawat yang bergerak dengan sangat cepat.

Di darat, kendaraan pasukan Ghazi sudah mencapai reruntuhan tembok. tank mahmud mulai menerobos melewati reruntuhan tembok dan menembaki tentara Leonia yang menghadang mereka di balik reruntuhan. APC, LAV dan Jip mulai menurunkan tentara-tentara yang ada di dalamnya. Di dalam APC hisan, Ahmed memberikan sedikit penjelasan sebelum turun.

"Ingat apa yang kita rencanakan kemarin. Rasyid, kau tidak melupakan barang berharga kita kan?"

"Barang itu aman di sini Letnan" jawab Rasyid sambiil menepuk tas punggungnya.

Ahmed menoleh ke dua gadis yang duduk di pojok.

"kalian berdua, apa pun yang terjadi kalian harus tetap bersama kami. Ikuti apa yang kami lakukan, kami menunduk kalian ikut menunduk, kami berlari kalian ikut berlari. Ikut instruksi dari kami dan kalian akan aman, mengerti?"

Lusie dan Sylvania mengangguk.

"Baiklah, kita berangkat. Laa Hawla Wa Laa Kuwwata Illa Billah!" ujar ahmed yang kemudian di ikuti anggotanya.

"Allahu Akbar!"

Mereka kemudian berlari keluar dari APC satu persatu dengan Ahmed di depan serta Lusie dan Sylvania di paling belakang. Mereka bertemu dan bergabung bersama Karim yang tadinya di APC lain, lalu berlari menaiki reruntuhan tembok dan memasuki kota. Mereka mengambil posisi di belakang salah satu tank mahmud yang tampak menunggu sambil mengawasi salah satu jalanan kota. Terlihat regu lain yang dipimpin Letnan Abdul Malik Manstein, seorang keturunan Austria dan dari kompi yang sama dengan Ahmed mulai ikut mengambil posisi.

"Sipahi 3, disini Mubarizun 1 kami akan melindungi kalian dari belakang, kalian bisa maju kapan saja" Ucap Ahmed sambil memencet tombol radio di helmnya.

"[buzz] Diterima Mubarizun 1, kami akan mulai maju lagi lindungi kami dari samping dan belakang".

Tank Mahmud mulai bergerak melaju memasuki jalanan kota yang terkesan sempit untuk tank mahmud dengan kecepatan pelan di ikuti infantri yang berlari kecil dan mengarahkan senjatanya ke berbagai arah di belakangnya. Melewati beberapa jajaran perumahan. Di belakang nya lagi beberapa armor ringan seperti LAV Safir juga mengikuti mereka, membentuk seperti Konvoi kecil.

"[buzz] Mubarizun 1 kami melihat segerombolan infantri musuh membuat barisan di depan kita menghalangi jalan."

Pasukan infantri seketika mulai mengambil posisi di belakang perlindungan yang bisa mereka temukan seperti tembok kecil, reruntuhan bangunan, dan meja yang terserak. Mereka membidikkan senapannya ke depan, tidak ketinggalan Sylvania yang juga membidikan panahnya ke arah barisan Leonia yang ada di depannya. Lalu beberapa detik kemudian terdengar suara pimpinan musuh mulai memberikan instruksi dari jauh.

"maju… tunjukan pada mereka Leonia tidak tunduk pada siapa pun!"

Barisan musuh mulai berbaris maju dengan barisan rapat dengan tombak teracung ke arah pasukan Ghazi.

"tembak!" ucap Ahmed yang kemudian di ikuti oleh seruan tembakan dari berbagai senjata, menjatuhkan barisan terdepan musuh.

Tank mahmud pun ikut menembakkan senapan mesin koaksialnya dan senapan mesin di atas kubahnya yang dikendalikan dengan remot ke arah barisan musuh, akan tetapi meriamnya tidak ikut menembak agar meminimalisir kerusakan kota sebisa mungkin.

Infantri musuh berjatuhan dengan cepat di depan mereka membentuk tumpukan mayat. Namun karena jarak mereka yang tidak begitu jauh, barisan belakang mereka yang sekarang menjadi posisi depan pun ikut menembakkan panah ke arah Ghazi, di ikuti oleh tembakan sihir para bangsawan yang berupa kilatan cahaya berwarna merah dan biru.

Kedua belah pihak saling bertukar serangan antara Ghazi yang menembakkan peluru mereka dengan Leonia yang menembakkan panah dan sihir. Di sisi Leonia, tentara mereka masih berjatuhan dengan cepat, sedangkan kebanyakan serangan Leonia yang acak hanya membentur tank mahmud tanpa kerusakan apapun selain goresan pada cat tank atau membentur tempat perlindungan infantri Ghazi.

Sylvania pun saat ini sudah berhasil memanah 3 penyihir dan 5 pemanah di leher atau sela-sela baju besi mereka. Untuk Sylvania, memanah prajurit Leonia akan membutuhkan usaha ekstra karena panahnya yang tidak bisa menembus baju besi mereka, sehingga Sylvania harus membidik bagian sela-sela baju besi yang ada. Memang tentara Leonia cukup terkenal dengan ketebalan baju besi mereka.

"Arrggg…"

"Letnan, Nayef terkena serangan sihir di bahu nya, kita harus mengevakuasinya sekarang. Luka bakarnya terlihat cukup serius." Ujar salah seorang prajurit dari regu lain, tepatnya regu Letnan Malik.

"Bawa dia ke belakang sekarang dan obati dia!" Jawab Letnan Malik sambil masih menembakkan senjatanya ke pasukan Leonia yang tampak tidak ada habisnya.

"Baik letnan!"

"Aku bisa membantu" Sylvania ikut berujar, lalu berlari mengikuti tentara yang terlihat membawa tentara lain yang terluka.

Ahmed pun saat ini juga sibuk menembakkan senapan T-7 nya, beberapa kali sihir dan panah mengarah ke posisinya dan hampir mengenainya, namun dia selalu berusaha menunduk ataupun menghindar di waktu yang tepat. Seketika pasukan Ghazi mulai berhenti menembak melihat pasukan Leonia yang ternyata sudah berhenti berdatangan.

Ahmed yang masih mengarahkan senapannya ke depan menoleh ke samping dan ke belakang mengecek pasukannya. Di belakangnya, Lusie terlihat duduk sambil menunduk ketakutan dengan kedua tangannya menutup kedua telinganya dan matanya tertutup rapat. Ahmed menggeleng pelan melihat Lusie, dia sudah menduga akan jadi seperti ini nantinya.

Ahmed berjalan ke arah Lusie, lalu menepuk bahunya. Lusie yang merasa ditepuk spontan membuka matanya dengan kaget, dan sempat memekik. Lalu dengan senyumannya Ahmed berkata.

"Sudah selesai, ayo jalan lagi"

Lusie mengangguk pelan, lalu akhirnya berdiri. Tentara lainnya sempat memperhatikan Lusie dengan sedikit tertawa melihat kelakuan Lusie sampai radio mereka berdengung"

"[buzz] Mubarizun 1 kami akan mulai melaju lagi."

Tank Mahmud mulai melaju lagi dengan kecepatan pelan. Sylvania saat ini telah kembali ke regu Ahmed setelah sempat meringankan luka bakar akibat sihir dari prajurit sebelumnya. Prajurit itu sudah di bawa ke titik awal kota di mana para petugas medis menunggu.

Pasukan Ghazi kembali melaju menelusuri jalanan kota, melewati berbagai gang kota. Beberapa prajurit, khususnya yusuf dan Hendra terlihat sempat menembakan senapannya 1 – 2 kali ke arah gang yang ada di samping kanan kiri mereka, menembak penyihir atau pun pemanah yang bersembunyi di antara gang dan bangunan.

Tank Mahmud tiba-tiba berhenti lagi sekitar 700 meter dari sebuah belokan jalan, di ujung belokan terdapat rumah 3 lantai yang beberapa jendelanya sedikit terbuka.

"Sipahi 3 apakah ada musuh?" Ucap Ahmed di radio.

"[buzz] Uhh, rumah 3 lantai dengan jendela sedikit terbuka terlihat mencurigakan. Mungkin kau bisa mengeceknya Mubarizun 1".

"Baiklah"

Ahmed kemudian menoleh ke arah Hendra dan memberikan isyarat dengan jarinya menunjuk ke arah gedung yang disebut.

Hendra mengangguk paham, kemudian mengambil posisi di belakang pilar bangunan di sampingnya, lalu membidikkan senapannya ke arah gedung yang dimaksud. Suasana sempat hening sampai suara tembakan terdengar dari senapan Hendra, tidak berapa lama kemudian jendela yang tadinya sedikit terbuka kini terbuka penuh dengan memperlihatkan mayat berseragam mencolok seperti penyihir terjatuh dari balik jendela itu ke arah jalanan. Seketika semua jendela di bangunan yang sama terbuka memperlihatkan beberapa penyihir lainnya serta tentara reguler yang bersenjata panah yang menembak ke arah Ghazi.

"SERANGAN!" teriak Ahmed sambil mulai menembakkan T-7 nya di ikuti oleh tentara lainnya.

Tak berapa lama, terdengar berbagai ringkikan kuda, lalu sekelompok penunggang kuda yang memegang tombak keluar dari sisi tikungan jalan menuju ke arah barisan Ghazi.

"FOKUSKAN TEMBAKAN KE PASUKAN BERKUDANYA!" ucap Ahmed lalu meraih tombol radionya.

"Al manjaniq 3, kami mendapatkan serangan berat. Kami butuh dukungan artileri di koordinat berikut." ucap Ahmed, lalu mendiktekan koordinat lewat radio.

"Koordinat diterima, mulai menembak."

Ahmed kembali mengamati pertempuran di depannya, pasukan berkuda saat ini berjarak 400 meter dari Ghazi, mereka yang mampu bergerak dengan cepat menyulitkan pasukan Ghazi membidik mereka. Tidak berapa lama kemudian, di posisi pasukan berkuda Leonia yang tersisa muncul ledakan yang berasal dari artileri membunuh pasukan berkuda yang tersisa.

Pasukan Ghazi sempat menunduk sebelum ledakan dari artileri berhenti, lalu kembali menembak ke arah bangunan 3 lantai yang didalamnya penuh dengan pasukan Leonia dan juga masih menembak ke arah pasukan Ghazi.

"Sipahi 3, berikan mereka tamparan keras! Kita tidak punya waktu lagi!"

"[buzz] baiklah Mubarizun 1, harap tutup telinga kalian karena suara ini akan sedikit menyakiti telinga."

Tank mahmud kemudian mengarahkan barel meriamnya ke gedung tersebut. Lalu menembakkan meriamnya yang menimbulkan suara keras dan meledakkan gedung tersebut hingga bagian depannya benar-benar hancur memperlihatkan bagian dalam gedung. Seketika tembakan musuh yang berasal dari dalam gedung berhenti, menandakan musuh yang berada di dalamnya telah terbunuh semua.

Ahmed melihat lagi-lagi Lusie berpose seperti sebelumnya, terduduk sambil menutup telinga dan mata. Ahmed mengisyaratkan Faruq untuk membantu Lusie berdiri. Sylvania pun juga terlihat masih memegangi telinganya, mungkin mereka jarang mendengarkan kerasnya suara ledakan, sehingga telinga mereka masih sensitif dengan ledakan-ledakan perang seperti ini.

"[buzz] Mubarizun 1 kami melaju lagi".

Konvoi pasukan Ghazi mulai maju lagi menyusuri jalan. Di belokan tepat di dekat gedung yang sebelumnya di hancurkan Sipahi 3, terdapat sebuah gang kecil di sana. Saat melewati gedung itu, Lusie memanggil Ahmed.

"Tuan, lewat sana, di sana terdapat jalan pintas menuju ke pusat kota." ucap Lusie sambil menunjuk gang itu.

Ahmed mengangguk, lalu meraih radionya lagi.

"Di sini Mubarizun 1, kami akan mulai melaksanakan misi kami dan berpencar ke arah lain. Kalian silahkan lanjutkan tanpa kami."

"[buzz] baiklah Mubarizun 1 kami akan melanjutkan dengan anggota kompi lainnya. Kalian bisa melanjutkan ke misi kalian, semoga berhasil."

BERSAMBUNG….