Part 8 Penaklukkan Eklaire

Ahmed mengisyaratkan Sylvania dan seluruh anggota regunya untuk ikut bersamanya memasuki gang itu. Mereka menyusuri gang itu sejenak, lalu Lusie berbelok ke salah satu gedung dan mencoba membuka pintunya yang terkunci.

"Tidak bisa dibuka, pasti dikunci dari dalam!" ucap lusie sembari berusaha membuka pintu. Ahmed mengisyaratkan Lusie menjauh dari pintu, lalu menembak gagang pintu dan menendangnya sampai pintu terbuka.

Mereka memasuki gedung itu yang terlihat seperti bar atau tempat minum, lalu di salah satu ruangan tepatnya ruangan penyimpanan yang ternyata berisi roti dan berbagai makanan lainnya, Lusie menyingkirkan karpet lantai dan membuka lantai kayu didepannya, memperlihatkan jalan masuk ke semacam saluran air bawah tanah.

"lewat sini, tempat ini bisa mengarahkan kita langsung ke pusat kota. hanya saja jalannya berbelok belok seperti labirin. Jadi siapapun yang tidak tau jalannya akan tersesat di dalam sini." Ucap Lusie.

Ahmed memimpin memasuki saluran bawah tanah itu, berjalan di samping saluran air, diikuti oleh Lusie dan lainnya. Mereka berjalan menyusuri lorong bawah tanah mengikuti arahan Lusie. Di beberapa tempat di dalam saluran air, terdapat teralis besi di atas yang memperlihatkan keadaan di atas lorong bawah tanah, mereka bisa melihat tentara Leonia yang berbaris di atas teralis besi itu. Disaat yang sama mereka harus hati-hati dan tidak menimbulkan suara yang dapat menarik perhatian tentara Leonia.

"bagaimana kau bisa mengetahui tempat ini?" suara itu bukan berasal dari Ahmed, tapi berasal dari Faruq bertanya di tengah mereka berjalan.

"kau bisa berbicara bahasa kami?" ucap Lusie yang menoleh ke Faruq, bahkan Ahmed juga tidak menyangka satu–satunya petugas medis di timnya dapat berbicara bahasa Inggris.

"Sebenarnya bahasa kalian cukup populer di dunia kami. Hanya saja tidak semua orang pandai belajar bahasa." Jawab Faruq sambil terkekeh.

Lusie mengangguk mengerti, lalu mulai menjawab pertanyaan Faruq sebelumnya.

"ketika aku masih kecil dan tinggal di kota ini, aku memiliki teman laki-laki yang sering kali mengajakku menjelajahi kota ini, namanya Jean. Kami berdua sama-sama berasal dari rakyat jelata yang hidup dibawah tekanan bangsawan. Keluargaku hidup serba kekurangan, ibuku sering sakit-sakitan sedangkan ayahku yang bekerja sebagai buruh dari salah satu bangsawan tidak dapat menghidupi kami dengan bayarannya yang sangat sedikit."

Mereka berbelok di salah satu pertigaan lorong lalu menyebrangi saluran air di jembatan kecil. Suara pertempuran dan ledakan masih dapat mereka dengar sampai saat ini. Lusie pun melanjutkan ceritanya.

"Jean yang juga hidup serba kekurangan tidak jarang mengajakku untuk mencuri makanan milik para bangsawan. Salah satunya bangsawan yang memiliki bar tadi, kami mengambil beberapa roti dari gudang penyimpanan mereka dengan menggunakan saluran bawah tanah ini".

"Jean, dimana dia saat ini?" tanya Faruq.

Lusie menggeleng pelan.

"Suatu saat ketika kami berusaha mencuri di tempat lain, Jean tertangkap oleh penjaga bangsawan itu. Terakhir aku dengar Jean dijadikan budak oleh bangsawan yang menangkapnya. Sejak saat itu aku tidak pernah mencuri makanan lagi sampai sekarang. Aku dan ayahku pindah ke desa setelah ayahku dipecat dan ibuku meninggal karena penyakitnya, saat itu kehidupan kami benar-benar berada pada masa kritis. Kehidupan kami menjadi lebih baik ketika berada di desa. Di sana tidak ada bangsawan dan orang-orang saling bekerja sama satu sama lain tanpa memandang status. Ayahku dipercaya menjadi kepala desa setahun yang lalu ketika kepala desa sebelumnya meninggal dunia."

Mereka berjalan menaiki tangga, lalu Ahmed membuka pintu di ujung tangga. Di balik pintu itu, mereka memasuki sebuah gudang yang gelap. Samar-samar di gudang itu mereka melihat berbagai macam peralatan seperti cangkul, sekop, palu, dan sebagainya. Sepertinya mereka sedang berada di sebuah gudang alat kali ini.

"Kita saat ini berada di dalam salah satu gedung yang ada di pusat kota. Gedung yang kalian cari seharusnya berada di sekitar sini."

Ahmed mengangguk, lalu mengambil posisi di samping pintu keluar gudang, membuka pintu dan mengecek keadaan luar.

Aman.

Mereka keluar dari gudang dan berjalan menyusuri koridor kecil gedung yang sudah kosong itu. Nampaknya saat ini mereka berada di salah satu gedung penginapan yang berada di dekat pusat kota. Tidak heran jika gedung itu cukup besar mengingat bahwa penginapan di pusat kota pasti didesain untuk menerima banyak tamu. Tanpa mengurangi rasa waspada, senapan Ahmed dan anggotanya tetap diarahkan ke segala tempat yang mungkin menjadi tempat bersembunyi tentara Leonia, entah itu lorong atau ruangan di kanan dan kiri mereka. Tak lama kemudian mereka berhasil menemukan pintu keluar.

Ahmed dan karim mengambil posisi di sekitar pintu, karim membuka pintu dengan pelan. Lalu dengan gerakan cepat ahmed dan Orhan menerobos keluar. Ahmed menghadap ke samping kanan sedangkan Orhan ke samping kiri.

"Aman".

Mereka berjalan keluar dari bangunan penginapan itu dan menuju ke gedung di samping kanannya yang kebetulan sangat mirip dengan deskripsi target mereka. Gedung itu tampak seperti gudang biasa dengan tinggi 2 lantai. Aryan dan Tariq memasang sebuah bom di depan pintu yang biasa digunakan dalam operasi penerobosan sedang Ismail dan Rostam bersiap di depan pintu.

Aryan memandang Ismail yang mengangguk siap, lalu menekan pemicu bomnya sambil mengucapkan basmallah. Seketika pintu meledak dan roboh ke arah dalam, Tariq langsung melemparkan flash bang ke dalam gedung. Lalu Ismail dan Rostam dengan gerakan cepat menerobos masuk ke dalam gedung menembak siapa saja yang terlihat memegang senjata, diikuti oleh Aryan dan Tariq lalu anggota lainnya. Di dalam terdapat sekitar 30 penjaga yang tersebar di seluruh ruangan.

Penjaga di dalam ruangan langsung berlari menuju ke pintu masuk setelah mereka mendengar ledakan yang merusak pintu masuk mereka yang kemudian disambut oleh tembakan dari anggota Ahmed. Salah seorang penjaga hampir meloloskan anak panahnya sebelum terkena anak panah dari Sylvania di lehernya, membuatnya roboh seketika.

"Aman" ucap Rostam.

Ahmed melihat ke seluruh ruangan luas yang ada di dalam gedung, terdapat meja, kursi, lemari, dan perabotan lainnya. Nampak seperti ruangan sederhana di sebuah gedung abad pertengahan, kecuali salah satu pintu yang ada di ruangan itu. Ahmed pun langsung paham jika pintu itu mengarah ke ruangan yang selama ini mengarah ke tempat yang mereka cari.

"Pintu ini, tidak salah lagi. Tariq, Rostam, pasang bom pendobrak pintunya disini. Kita akan gunakan cara konvensional." Tukas Karim.

Orang yang ditunjuk mengangguk dan segera memasang bom nya. Tariq dan Rostam memang specialist peledak di anggota regu Ahmed, mereka selalu membawa berbagai macam alat peledak di ranselnya yang tentu saja sudah di isolasi, sehingga tidak meledak apabila tas mereka terkena tembakan.

Setelah selesai memasang peledaknya, Tariq menyerahkan pemicunya ke Ahmed. Sebelum diledakkan, Ahmed dan pasukannya mengambil posisi untuk bersiap untuk memasuki ruangan rahasia itu.

"Allahu Akbar" Ahmed mengawali takbir.

"Allahu Akbar".

Setelah itu Ahmed menekan pemicu bom dan seketika tembok yang dipasang bom langsung rusak memperlihatkan lubang besar yang segera dimasuki oleh anggota ahmed. Di dalam terdapat puluhan penjaga yang lagi-lagi tersebar di seluruh tempat menyerbu ke posisi ahmed dan pasukannya, namun lagi-lagi senjata Ahmed membuat mereka terjatuh bahkan sebelum mereka sempat mendakat sampai dalam jangkauan pedang mereka.

Sylvania melihat 3 orang berpakaian seperti penyihir yang mengarahkan tongkat kecil mereka ke arah Anggota Ahmed, lalu dengan cepat mengambil 3 anak panah di belakangnya dan menembakan ketiganya sekaligus dalam satu tembakan. Pendeta yang tidak memakai baju besi itu langsung jatuh terkena panah Sylvania, satu di dada, satu di kepala, dan satu di leher.

Ahmed dan anggotanya mulai berjalan maju menembaki tentara penjaga yang masih tersisa. Sampai akhirnya 10 penjaga terakhir menjatuhkan senjatanya dan berlutut sambil mengangkat kedua tangan mereka ke atas. Selesai mengurus para penjaga, Ahmed mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang ternyata lebih luas dari ruangan pertama yang mereka masuki.

Di dalam ruangan terdapat sebuah 25 kotak kurungan dan berada di atas kereta kereta yang nampak siap untuk dipindahkan. Di setiap kurungan tersebut terdapat sekitar 10 orang yang sebagian besarnya adalah wanita dan anak-anak yang mengenakan pakaian tipis dan lusuh dengan bahan seperti karung. Seluruh orang yang berada di dalam kurungan tersebut nampak terkejut melihat kedatangan Ahmed dan pasukannya.

"Masya Allah". Ucap salah satu anggota Ahmed yang melihat kurungan-kurungan itu. Dari wajah-wajah mereka, sangat terlihat sekali bahwa mereka adalah orang arab yang diculik dari kota Gaza.

"Pasukan Ghazi! Kalian tentara Ghazi dari Daulah islam bukan?" Tanya salah satu laki-laki yang berada di dalam kurungan. Mereka yang berada di dalam kurungan itu terlihat berbinar dengan harapan yang kembali pada mereka setelah melihat regu Ahmed yang menggunakan seragam hitam Daulah Islam.

"Benar. Dengarkan semua, kami akan segera mengeluarkan kalian dari sini dan memulangkan kalian ke Daulah Islam." Balas Ahmed sekaligus langsung mulai memberikan arahan kepada para korban penculikan yang saat ini jelas nampak dijadikna budak.

"Harap semuanya tetap tenang dan ikuti semua arahan kami. Percayakan semuanya kepada kami dan semua akan baik-baik saja. Jangan membuat suara gaduh agar tidak menarik perhatian orang-orang Leonia."

Semua orang yang di dalam kurungan itu mengangguk mematuhi Ahmed. Setiap orang mengucap rasa syukur di hati mereka masing-masing. Ahmed dan anggotanya segera membebaskan seluruh tahanan yang ada di dalam kurungan-kurungan itu dengan menembak kunci atau gembok yang mengunci pintu kurungan dan membuka pintu kurungannya.

"Terima kasih telah menolong kami wahai pasukan Ghazi, kami tidak akan melupakan pertolongan kalian sepanjang hidup kami." Ucap salah satu wanita yang dibebaskan langsung dari kurungan oleh Ahmed.

"Berterima kasihlah pada Allah yang sudah menuntun kami untuk bisa membebaskan kalian, dialah penolong yang sebenarnya. Kami para Ghazi hanyalah perantara." Ucap Ahmed selesai membuka pintu dan mengarahkan mereka untuk berkumpul di satu tempat.

Pasukan Ahmed yang lain ikut membantu membuka kurungan yang lain, dan beberapa bahkan membantu memapah beberapa orang yang memiliki banyak memar atau luka dan terlalu lemah untuk berdiri sendiri. Para wanita yang berada di dalam kurungan tampak memiliki memar yang jauh lebih sedikit di banding laki-laki sehingga sebagian besar mampu berjalan sendiri dan kebanyakan yang paling membutuhkan bantuan medis adalah para laki-laki. Faruq langsung sibuk merawat tawanan laki-laki yang memiliki luka berlebihan di tubuhnya dibantu Lusie dan Sylvania.

"Sylvania, bantu mereka dan arahkan mereka ke ruang utama gudang, kau boleh minta bantuan Lusie juga." Perintah Ahmed ke Sylvania. Lalu Ahmed menoleh ke Karim.

"Hubungi kolonel, kita berhasil menemukan penduduk yang hilang dan membutuhkan helikopter sekarang juga. Seharusnya saat ini pasukan wyvern musuh sudah berhasil dihabisi oleh pesawat kita di atas."

Karim seketika itu meraih radionya dan berusaha menghubungi Kolonel Umar.

"Amir 2 disini Mubarizun 1 masuk?"

"[buzz] Mubarizun 1 disini Amir 2, silahkan"

"Kami berhasil menemukan sebagian penduduk kota yang hilang dan saat ini berada dalam pengamanan kami. nampaknya sebagian penduduk yang lain sudah dipindahkan ke tempat lain. Kami juga mendapati 10 tentara musuh yang menyerah."

"[buzz] diterima Mubarizun 1, 5 helikopter An Naqil yang akan membawa para penduduk sedang dalam perjalanan kesana. Mereka akan tiba disana dalam waktu 10 menit. Setelah itu kalian bisa melanjutkan ke misi kalian selanjutnya. Amir 2 Selesai."

"Letnan, mereka akan tiba dalam waktu 10 menit".

"baiklah, sekarang ayo kita bantu saudara-saudara kita di sini."

Mereka membantu para tawanan dan memberikan mereka kain atau pakaian yang bisa mereka temukan untuk dijadikan selimut. Sylvania dan Faruq pun sibuk menangani luka dan memar tawanan yang dibantu oleh Lusie dan anggota Ahmed lain sebisa mereka.

"[buzz] Mubarizun 1 disini Qomar 9, kami berada di area kota. kami butuh penanda posisi kalian, ganti."

"Mereka sudah sampai!" Ujar Ahmed yang kemudian meraih radionya

"Di sini Mubarizun 1-1, kami akan menandai posisi kami dengan asap hijau. Kalian bisa mendarat di tanah lapang di dekat pusat kota".

Ahmed melepaskan radionya dan berlari keluar, lalu melemparkan granat asap di depan gudang yang kemudian memunculkan asap warna hijau.

"[buzz] Kami melihat asap warna hijau di sekitar bangunan yang uhh… terlihat seperti gudang biasa. Kami akan mendarat di tanah lapang di dekatnya, persiapkan para penduduk kita untuk dievakuasi. Kami akan membawa 100 orang pertama untuk di evakuasi, sisanya akan dievakuasi oleh helikopter yang datang dari gelombang kedua"

"Baiklah Qomar 9, kami akan mulai membawa para warga menuju tanah lapang pusat kota untuk di evakuasi. Mubarizun 1 selesai."

Ahmed segera kembali kedalam gudang dan memberitahu anggota yang lain.

"Baiklah semuanya, helikopter An Naqil akan tiba disini. 100 penduduk pertama yang paling membutuhkan pertolongan akan di angkut pertama kali. Yang lainnya akan menyusul di helikopter gelombang kedua. Ayo bergerak"

Mereka kemudian menuntun para penududuk yang akan diberangkatkan pertama kali ke tanah lapang, mereka yang tidak sadarkan diri di bawa oleh dua orang, sedangkan yang terluka dipapah oleh 1 orang lainnya. Tidak lama kemudian 5 helikopter An Naqil terlihat di atas dan perlahan mendarat di tanah lapang yang dimaksud. Ke 5 nya mendarat dengan keadaan pintu belakangnya sudah terbuka menampakkan salah satu prajurit Ghazi yang berjaga di pintu belakangnya di tiap helikopter.

"Assalamualaikum letnan, kami di sini untuk mengevakuasi para warga. Ayo cepat arahkan mereka ke dalam. Gelombang kedua akan tiba dalam 5 menit." Ucap salah seorang yang berada dalam helikopter yang turun dan menjabat tangan Ahmed.

Ahmed dan anggotanya mengarahkan para warga memasuki helikopter masing-masing. Di dalam helikopter mereka sudah di sediakan semacam kain selimut untuk menutupi tubuh mereka, khususnya untuk para perempuan. Ada juga petugas medis yang siap memberikan penanganan lanjutan untuk mereka yang memiliki luka berat. Dari atas mereka dapat mendengar deru mesin helikopter lainnya yang mulai berdatangan.

"Sepertinya helikopter gelombang 2 sudah datang, kami akan mulai lepas landas agar helikopter gelombang kedua bisa mendarat!" ucap petugas di dalam helikopter.

"Jaga mereka baik-baik, mereka sudah mengalami penderitaan dan aku tidak mau mereka mengalami penderitaan lagi" ucap Ahmed.

Petugas helikopter mengangguk dan kembali masuk kedalam helikopternya. Kelima helikopter pun lepas landas, lalu digantikan 5 helikopter lainnya yang baru datang, para penduduk yang tersisa segera diarahkan untuk masuk ke dalam helikopter.

"Lusie! Ikutlah ke dalam Helikopter! Tugasmu sudah selesai, kau boleh kembali ke pangkalan bersama para warga" ucap Ahmed kepada Lusie yang berdiam diri sambil memandangi proses evakuasi warga.

"Tidak, aku akan tetap disini bersama kalian dan Sylvania!" ucap Lusie menggeleng.

"Lusie, medan perang bukanlah tempat untuk penduduk sipil dan non kombatan sepertimu. Kau harus kembali ke pangkalan demi keamananmu" Faruq ikut berbicara ke Lusie membantu membujuknya.

"Tidak! Bagaimanapun aku akan tetap bersama kalian disini, kalian tidak bisa memaksaku!" Lusie masih menolak.

"Letnan, kami harus segera lepas landas. Orang Leonia akan segera menyerbu kemari kalau kami tetap di sini" ucap petugas helikopter.

Ahmed merenung sebentar untuk membuat pertimbangan sebelum akhirnya menjawab.

"Baiklah, kalian boleh pergi! Antarkan mereka ke tempat yang aman. Assalamualaikum"

"Wa'alaikumsalam."

Petugas helikopter pun kembali kedalam helikopternya dan ke 5 helikopter terakhir akhirnya berangkat membawa para warga mereka ke tempat yang aman.

"Baiklah, sekarang kita menuju ke fase 2 misi kita, Rasyid siapkan barang pentingnya. Kita akan menuju ke istana bangsawan yang menjadi pusat pemerintahan musuh dan langsung menusuk mereka tepat di jantung kota, Yusuf, Hendra, kalian cari tempat tinggi dan lindungi kami. Yang lainnya ayo bergerak".

Mereka semua bergerak menuju gedung pemerintahan yang berada di tengah kota. Istana itu terlihat sangat mencolok sekali seperti kastil kecil. Di sana bisa dilihat beberapa penjaga yang berjaga di pintu utama. Memang umumnya setiap kota di abad pertengahan memiliki kastil yang menjadi pusat pemerintahan di kota tersebut. Ahmed yang melihat penjaga pintu utama kastil itu berbicara di radio.

"Yusuf, Hendra. Jatuhkan kedua penjaga pintu utama."

"[buzz] dimengerti"

Dalam hitungan detik, 6 penjaga yang berjaga di depan istana jatuh satu persatu. Mereka memasuki gerbang istana yang saat ini sudah tidak dijaga. Di dalam mereka mendapati pasukan Leonia berteriak histeris sambil menyerbu mereka dari berbagai arah. Dengan cekatan Ahmed dan anggotanya serta Sylvania menjatuhkan mereka satu persatu sambil bergerak masuk ke dalam kastil. Lusie yang tidak punya kemampuan bertempur hanya bisa menunduk dan mengikuti kemana orang-orang Ahmed bergerak sambil memegangi bagian belakang ransel Faruq.

Mereka bergerak dari satu ruangan ke ruangan lainnya lalu naik ke lantai dua sambil masih menembak pasukan yang menghadang. Kemudian mereka menemukan jalan masuk menuju menara kastil. Mereka menaiki menara itu sampai di puncak dimana mereka bisa merasakan udara terbuka dan angin berhembus kencang. Tinggi menara itu pun sekitar 30 meter dan dapat dilihat dari seluruh kota. mereka dapat melihat helikopter yang mengejar sisa-sisa pasukan pengendara wyvern yang masih ada. Pasukan darat yang melaju di jalanan hampir mencapai posisi mereka. Beberapa helikopter saqr yang tidak ikut mengejar wyvern membantu pasukan darat.

"Osama, Kemal, kalian berjaga di pintu masuk menara. Karim kibarkan bendera kita di sini."

Karim mengeluarkan sebuah tongkat pendek dari besi yang bisa dipanjangkan. Lalu dia mengeluarkan lipatan kain berwarna merah. Karim mengikat tali yang ada di kain tersebut ke tongkat yang sudah di panjangkan. Setelah kain terpasang di tongkat, kain tersebut di uraikan dari lipatannya dan menunjukan bendera daulah islamiyah yang berukuran lumayan besar.

Karim memasang benderanya ke salah satu sudut menara dan mengikatnya disana. bendera daulah Islamiyah pun berkibar. Setelah bendera Daulah terpasang Ahmed dan seluruh anggotanya mengangkat tangan mereka yang terkepal seraya meneriakkan takbir.

"""Allahu Akbar…!"""

"""Allahu Akbar…!"""

"""Allahu Akbar…!"""

"Mereka memasang bendera di istana kerajaan untuk menjatuhkan moral tentara Leonia dan mempercepat jatuhnya kota ke tangan mereka" Ujar Sylvania ke Lusie.

Lusie mengangguk mengiyakan ucapan Sylvania. lalu menambahkan.

"Bahkan dengan semua senjata dan kekuatan yang mereka miliki, mereka masih sempat menyusun strategi untuk mempercepat kekalahan musuh mereka. Seluruh kota dikalahkan dalam waktu kurang dari 3 jam".

Sementara itu, radio yang terpasang di helm Ahmed berbunyi.

"[buzz] di sini mubarizun 2, pasukan Leonia mulai berdatangan sambil menjatuhkan senjata mereka dan membawa bendera putih."

"[buzz] di sini mubarizun 6, pasukan musuh mendatangi kami tanpa senjata dengan tangan terangkat. Mereka langsung menyerah."

Berita-berita tentang kekalahan dan menyerahnya musuh lainnya segera terdengar di radio. Sebagian besar tentara Leonia menyerah seketika saat bendera Daulah dikibarkan di pusat kota. hanya sebagian kecil pasukan yang masih keras kepala yang menyerang pasukan Ghazi dan mati.

"[buzz] di sini Amir 2, Aku ingin seluruh jalanan kota sudah diamankan dalam waktu satu jam kedepan. Kumpulkan tahanan perang yang menyerah dan perlakukan mereka dengan baik."

###

Suasana di dalam gereja yang ada di pusat kota terasa sangat mencekam. Sebagian besar penduduk asli kota Eklaire yang berlindung di dalam sana itu berdiam dan menunggu situasi perang yang ada diluar mereda. Ruangan itu merupakan aula utama yang biasa menjadi tempat peribadatan di gereja tersebut. Memang sudah menjadi hal yang lumrah di abad pertengahan ketika suatu kota diserang, sebagian besar penduduknya berlindung di pusat peribadatan kota.

Para penduduk sipil tersebut yang sebagian besar merupakan wanita dan anak-anak terlihat ketakutan dengan wajah mereka yang kebanyakan tampak tegang. Kadang kala terdengar juga suara tangisan bayi dari salah satu penduduk yang sedang menggendong bayinya. Para orang tua juga memeluk erat anak-anak mereka baik yang masih bayi ataupun yang tergolong anak-anak. Bahkan ada juga sebagian yang bersembunyi di ruang bawah tanah gereja karena aula tersebut tidak dapat menampung seluruh penduduk yang mencoba berlindung.

Kadang kala ruangan juga berguncang karena disebabkan oleh ledakan dan bom yang berasal dari luar membuat suasana lebih menakutkan lagi. Tampak debu-debu dan kerikil berjatuhan dan bertebaran tiap kali ruangan berguncang. Belum lagi sejumlah warga yang baru masuk ruangan juga membawa kabar bahwa pasukan Leonia yang belum lama ini menguasai kota mereka tampak dikalahkan di mana-mana.

Bayangan akan perpindahan kekuasaan mulai membayangi pikiran para penduduk. Bagaimana mereka akan diperlakukan oleh penguasa mereka yang baru lagi. Sebelumnya tentara Leonia yang menguasai Eklaire pun juga bertindak semena-mena. Banyak para laki-laki diseret untuk dijadikan budak atau tentara secara paksa. Begitu pula perempuan yang diseret oleh tentara untuk sekedar dilecehkan atau lebih buruknya mereka dijadikan budak seks oleh para tentara Leonia yang kemudian dibawa ke rumah bordir di salah satu kompleks tentara.

Kemiskinan dan kelaparan di kalangan penduduk kota pun merebak dimana-mana seusai penaklukan oleh Leonia. Banyak harta dan makanan yang direbut secara paksa oleh tentara Leonia. Tidak sedikit yang sampai menjadi pengemis di jalanan kota. Bayangan seperti itu kembali memenuhi pikiran para penduduk. Mereka mulai membayangkan kemungkinan bayangan kekejaman penguasa yang baru.

Apakah mereka sama jahatnya dengan orang leonia, atau bahkan mereka bisa lebih jahat lagi nantinya? Bagaimana nantinya mereka akan diperlakukan? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini terus bergentayangan di dalam pikiran mereka sepanjang pertempuran sampai setelah sekitar 30 menit yang lalu guncangan terakhir mereka rasakan. Sampai tiba saat dimana semua guncangan yang berasal dari luar mulai tidak terasa lagi.

Kemudian setelah menunggu selama 1 jam tanpa ada goncangan lagi mereka menyimpulkan bahwa pertempuran di luar telah usai dan salah satu pihak telah dikalahkan. Desas desus menyatakan bahwa Tentara Hitam, julukan yang diberikan kepada tentara Daulah Islamiyah dari Leonia karena mereka memakai seragam yang berwarna dominan hitam, telah mengalahkan tentara Leonia yang menjaga kota selama 1 bulan terakhir ini. hal itu menambah suasana mencekam yaang terasa di dalam ruangan.