Part 9 Setelah Pertempuran

Jenderal Ayyub baru saja memasuki kota Eklaire bahkan sebelum kota tersebut dinyatakan aman. Ayyub dengan menggunakan kendaraan Jip Jamal mengelilingi kota dan mengamati situasi setelah pertempuran. Ratusan prajurit Leonia yang menyerah dikawal dan digiring ke pinggiran kota. Sekelompok yang lain bahkan sudah selesai dikumpulkan dan didudukkan di tempat luas mendengarkan instruksi dari perwira militer.

Tentara Leonia terkejut dengan perlakuan tentara Ghazi. Tidak seperti perkiraan mereka yang mengira akan disiksa dan dipermalukan. Mereka justru diperlakukan dengan baik dan dibagikan makanan ringan dan minuman oleh tentara Ghazi. Puluhan atau bahkan ratusan tentara yang berniat memberontak di tengah penangkapan mereka seketika mengurungkan niatan mereka setelah melihat perlakuan dari orang Islam. Hanya mereka yang tetap melawan dengan keras kepala yang mendapatkan perlakuan kasar atau terkadang dieksekusi di tempat.

Setelah puas mengelilingi kota dengan diantar oleh dua pengawalnya yang duduk di depan jip, Ayyub meminta pengawalnya untuk menjalankan mobil ke pusat kota. Sejauh ini hanya sedikit penduduk sipil yang ditemui dan masih berlindung di rumah-rumah mereka. Sisanya masih belum ditemukan. Kemungkinan lainnya para penduduk berhasil mengungsi keluar kota, tapi hal itu terbantahkan dengan catatan dari pengendali Drone yang mengawasi kota sejak lama dan tidak melihat tanda-tanda penduduk mengungsi besar-besaran.

Hal itu menyisakan satu kemungkinan terakhir yang tersisa di pikiran Ayyub. Mereka pasti sedang bersembunyi di suatu tempat. Dari apa yang pernah dipelajarinya di sejarah abad pertengahan. Orang-orang di jaman tersebut selalu memilih tempat ibadah di pusat kota untuk dijadikan tempat perlindungan seperti yang terjadi di konstantinopel. Karena itu, Ayyub meminta pengawalnya untuk diantar ke gereja di pusat kota yang masih tegak berdiri tanpa tersentuh bom manapun.

Mobil pun berhenti di depan gereja dan Ayyub turun didampingi pengawalnya berjalan memasuki gereja. Di luar, pasukan Ghazi tampak berlalu lalang, menyiapkan pusat operasi baru di kastil kota Eklaire yang sebelumnya menjadi tempat pengibaran regu Ahmed dengan membawa berbagai peralatan militer atau sekedar mengamankan pusat kota dan melakukan tugasnya. Beberapa Kendaraan lapis baja juga terlihat terparkir di alun-alun kota.

Gereja besar yang ada di pusat kota tampak tertutup dan belum ada satu prajurit pun yang datang memeriksa ke dalam. Beberapa prajurit Ghazi tampak berjaga di sekitar gereja untuk mengamankan bagian luarnya. Salah satu dari prajurit yang berjaga di sekitar gereja tersebut adalah Ahmed, lengkap dengan pasukannya. Lussie dan Silvania duduk tangga kecil dekat gereja itu. Silvania yang sibuk dengan busurnya dan Lussie yang hanya diam mengamati tentara di sekitarnya dengan pandangan kagum.

Sampai di depan pintu, Jenderal Ayyub mencoba membuka gagang pintu utama yang ternyata dikunci dari dalam. Karena gagal membuka sendiri pintu tersebut, jenderal itu pun tidak langsung menggunakan cara kasar dan mencoba mengetuk pintu terlebih dahulu sambil berbicara dengan suara yang cukup lantang agar terdengar dari dalam.

"Siapapun yang ada dalam, kami minta agar kalian membuka pintunya. Kami sama sekali tidak berniat untuk menyakiti kalian."

###

Para warga kota yang saat ini berlindung di ruangan bawah tanah semakin ketakutan mendengar suara yang berasal dari luar pintu utama gereja. Mereka yang tadinya berdiri di dekat pintu seketika serempak menjauh dari pintu sebisa mungkin. Ibu dan anak saling berpelukan, begitu juga beberapa wanita yang menggendong bayinya mendekap bayi yang mereka gendong masing-masing. Tampak jelas ekspresi ketakutan di tiap raut wajah mereka. Seorang pendeta berdiri di depan para warga menghadap ke pintu dengan berpose seolah melindungi warga.

Mereka dapat mendengar keramaian di luar sana, mulai dari derap langkah kaki yang berlalu lalang sampai dengan suara dari banyak roda yang juga sering kali lewat. Orang-orang yang berada di luar pun terdengar menggunakan bahasa yang tidak dapat mereka pahami. Memang sebagian besar orang Scotia tidak memahami bahasa prancis yang digunakan Leonia, tetapi mereka juga tahu benar bahwa bahasa yang digunakan orang-orang ini bukanlah bahasa Leonia (Prancis). Satu-satunya jawaban yang tersisa adalah pasukan hitam yang sudah berkuasa di kota mereka.

Orang-orang mulai membayangkan kemungkinan nasib buruk yang nantinya akan mereka alami dengan bangsa baru yang mereka hadapi. Apakah akan sama dengan orang-orang Leonia atau akan semakin buruk. Tentara Leonia menyebutnya Tentara Hitam atau Tentara Kegelapan, membuat para warga semakin ketakutan dengan mendengar namanya saja. Beberapa orang terlihat pasrah dan beberapa lagi mulai mencari benda tajam, mencoba mengakhiri penderitaan mereka sebelum penderitaan mereka bertambah lagi pikirnya.

Gagang pintu utama terlihat bergerak, tanda bahwa ada orang dari luar yang mencoba masuk. Penduduk di dalam pun semakin histeris. Tak lama kemudian pintu pun diketuk dari luar, disusul oleh suara seseorang yang berbicara menggunakan bahasa Scotia.

"Siapapun yang ada dalam, kami minta agar kalian membuka pintunya. Kami sama sekali tidak berniat untuk menyakiti kalian."

Salah seorang pendeta di dalam pun saling berpandangan dengan pendeta lain. Mereka tahu bahwa orang-orang hitam di luar sana mengetahui tempat persembunyian ini. Entah mereka membuka pintunya atau tidak, orang-orang itu akan masuk pada akhirnya dengan cara halus atau pun kasar. Pimpinan pendeta pun memandang salah satu pendeta dengan anggukan.

Pendeta yang dipandang itu tahu maksudnya untuk membukakan pintu itu dan berjalan dengan was-was ke arah pintu. Jika pada akhirnya orang-orang hitam itu akan masuk, setidaknya mereka perlu mencoba untuk menurut agar tidak memperburuk keadaan. Mungkin orang-orang hitam itu akan memberikan mereka keringanan jika mereka mau menurut. Tangannya bergerak melepas penghalang pintu dan membiarkan pintu itu terbuka.

Terlihat beberapa prajurit yang berseragam hitam bercorak yang belum pernah mereka lihat sebelumnya dengan rompi hitam dan memegang tongkat hitam, wajah tertutup kain, menggunakan kacamata yang aneh, serta menggunakan helm yang dipenuhi aksesoris tidak dikenal. Dua di antaranya mengarahkan tongkat hitam ke dalam gereja. Sesaat setelah pintu itu dibuka, dua prajurit itu masuk dan mengarahkan tongkat itu ke seluruh ruangan, membuat penduduk di dalam semakin ketakutan. Mereka yakin bahwa tongkat yang dipegang adalah tongkat sihir khusus meskipun bentuknya berbeda dari tongkat sihir yang pernah mereka lihat pada umumnya.

Setelah beberapa kali mengarahkan tongkatnya ke seluruh ruangan, kedua prajurit akhirnya menurunkan tongkat mereka dan bergerak menyamping, memberikan jalan ke seseorang yang memakai pakaian yang sedikit berbeda. Seragamnya sama, tapi tidak ada rompi dan senjata panjang yang dibawa prajurit lain. orang itu tidak memakai helm dan kacamata seperti yang lainnya, melainkan baret hitam dengan lambang bulan sabit dan bintang berwarna emas diatasnya. Di atas kedua pundaknya juga terdapat atribut seragam putih yang tidak dimiliki oleh prajurit lain, menandakan kalau dia merupakan seseorang dengan pangkat berbeda.

"Aku adalah Ayyub, Jenderal angkatan darat pasukan Ghazi dari Daulah Al Islamiyah." Jenderal Ayyub mulai berbicara dengan memperkenalkan dirinya di depan warga.

"Kalian tidak perlu takut atau khawatir. Mulai sekarang, harta kalian, nyawa kalian, kehidupan kalian, adalah bagian dari kami. Tidak akan ada yang disakiti, diperbudak, ataupun dibunuh. Kalian bebas menjalani kepercayaan dan kehidupan kalian selama itu sesuai dengan peraturan yang berlaku di dalam Daulah. Bagi kalian yang tidak ingin berada di bawah pemerintahan Daulah, kami perbolehkan untuk meninggalkan kota, dan bagi kalian yang memilih untuk menetap maka kalian akan menjadi bagian dari tanggung jawab kami dan mendapat hak yang sama seperti rakyat kami yang lain."

Setelah Ayyub menyelesaikan pidato singkatnya, warga yang tadinya terlihat ketakutan pun mulai merasa tenang meskipun masih ada rasa was-was. Ayyub melangkah kedepan melewati pendeta yang tadinya membukakan pintu, lalu berhenti di depan salah satu gadis kecil yang digandeng ibunya, lalu mengusap kepala gadis itu dengan senyuman yang terbit di bibirnya membuat gadis kecil yang kepalanya diusap ikut menunjukan senyumannya.

"Kalian boleh keluar dan pulang ke rumah kalian masing-masing, bagi yang ingin keluar dari kota maka tidak akan kami halangi, mereka yang kehilangan tempat tinggal atau menderita kerusakan di rumahnya, maka pasukan kami siap membantu perbaikan rumah-rumah kalian."

Ayyub pun mengarahkan para warga untuk berjalan keluar dari gereja dan di luar gereja mereka di bagikan makanan berupa sekotak roti dan minuman berupa teh yang ada dalam gelas plastik. Mereka diperbolehkan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing dan warga yang rumahnya rusak atau hancur diminta untuk melapor ke tentara Ghazi agar rumah mereka diperbaiki.

Para warga berjalan keluar dari gereja dan mengambil pembagian makanan atau berjalan ke rumah mereka dengan raut wajah yang terlihat sedikit bingung. Mungkin penguasa mereka yang baru tidak seperti yang mereka bayangkan. Para tentara yang membagikan makanan ataupun yang mengarahkan para warga juga tidak lupa untuk menampilkan senyuman. Mereka yang terluka di rawat oleh para perawat yang menggunakan baju putih dengan simbol bulan sabit merah di penutup kepala dan di dadanya. Belum pernah mereka melihat perlakuan seperti ini, bahkan oleh penguasa Scotia yang menjadi penguasa mereka sendiri.

###

Ahmed memandang puas penduduk kota yang sepertinya terlihat tenang. Saat ini para warga sudah mulai kembali ke rumah mereka masing-masing dan mulai menjalankan aktivitas sehari-hari mereka. Para pedagang nampak mulai beramai-ramai membuka lapak mereka seolah tidak pernah terjadi apa-apa, mereka yang rumahnya mengalami kerusakan kecil memutuskan untuk memperbaiki sendiri rumah mereka tanpa melapor karena merasa canggung untuk meminta bantuan tentara kecuali yang rumahnya mengalami kerusakan berat. Meski begitu, para prajurit Ghazi tetap berinisiatif membantu mereka dengan kemauan sendiri.

Ahmed memang sedang tidak bertugas saat ini. Mereka yang berpartisipasi langsung dalam penyerangan kota mendapat waktu libur untuk beristirahat selama 3 hari di dalam kota. Sedangkan tentara yang mendapat tugas jaga atau patroli adalah mereka yang baru datang dan jumlahnya separuh dari tentara gelombang pertama. Kebanyakan yang bertugas membantu perbaikan kembali rumah warga adalah pasukan tambahan yang tidak ikut di pertempuran langsung.

Meskipun begitu tidak jarang tentara dari gelombang pertama yang tetap ikut menemani mereka yang yang mendapat tugas jaga ataupun patroli mengelilingi kota karena merasa bosan, beberapa lainnya hanya mengelilingi kota saja melihat-lihat dan sisanya menetap di tenda tenda hitam yang berada di pinggiran kota.

Meskipun mendapat waktu libur, mereka yang berada di kota tetap memakai seragam lengkapnya dengan rompi dan senjatanya untuk tetap berjaga-jaga. Termasuk Ahmed yang juga masih menggunakan seragam lengkap dengan senapannya yang disampirkan di belakang. Helmnya pun juga di gantungkan di belakang rompinya, sehingga saat ini meskipun dengan seragam lengkap, Ahmed terlihat lebih santai.

Seseorang yang tiba-tiba berdiri di sampingnya menarik perhatian Ahmed membuatnya menoleh dan mendapati sosok bertelinga panjang yang beberapa hari ini menemani perjalanannya. Sylvania pun juga sama masih mengenakan baju yang dipakainya di tengah peperangan sebelumnya, lengkap dengan busur dan anak panahnya.

"Ah Sylvania rupanya. Apa kau tidak ingin berbaur dengan warga yang lainnya?" Ahmed menyapanya terlebih dahulu sekaligus bertanya sambil memandang kearah Sylvania di sampingnya.

"Assalamualaikum" Ucap Sylvania tiba-tiba, membuat sedikit Ahmed terkejut.

"Itu yang biasanya kalian ucapkan ketika kalian saling bertemu bukan?" Imbuh Sylvania karena heran melihat raut wajah terkejut Ahmed. Ahmed juga terlihat semakin terkejut setelah Sylvania bertanya dengan menggunakan bahasa Arab. Padahal di benteng Andalusia sebelumnya Sylvania juga sempat mengucapkan salam.

"Ah iya, Waalaikumsalam. Aku tidak menyangka kalau kau sudah bisa berbahasa arab secepat ini".

"kami para Elf memang umumnya memiliki kelebihan kemampuan untuk bisa mempelajari suatu bahasa dengan cepat."

Mereka terdiam sejenak sambil memandangi pemandangan kota yang baru saja pulih pasca penaklukan kota atau dalam hal ini, pasukan Ghazi menyebutnya pembebasan.

"Kamu boleh memanggilku Vania atau Fiel, sebenarnya orang-orang di tempat asalku juga memanggilku Vania atau Fiel."

"Begitu ya. Baiklah, kalau begitu Vania, kamu belum jawab pertanyaanku yang pertama, apa kamu tidak ingin berbaur dengan orang-orang disini?"

"Manusia biasanya memandang kami para Elf dengan pandangan yang berbeda. Kebanyakan dari mereka tidak terlalu suka berhubungan dengan Elf. Mungkin karena para leluhur dan bangsaku yang biasanya merasa lebih tinggi ataupun lebih baik dibanding bangsa manusia biasa, membuat keduanya menjadi cenderung bermusuhan sampai sekarang".

Ahmed memandangi orang-orang di sekitarnya dan benar saja, mereka memang banyak yang memandangi Vania dengan tatapan aneh. Beberapa dari mereka bahkan memberikan tatapan kebencian. Namun, Vania terlihat tidak bereaksi apa-apa dengan tatapan orang-orang, mungkin karena Vania memang sudah biasa diperlakukan seperti ini pikirnya.

Ahmed melepas dan membuka ransel berukuran sedang yang selama ini dibawanya. Di dalam nya Ahmed mengambil sebuah kain berwarna putih berukuran segi empat yang lumayan lebar.

"Pakai ini, setidaknya agar orang-orang tidak menjadikan telingamu sebagai pusat perhatian". Ucap Ahmed sambil menyodorkan kain itu setelah memakai kembali ranselnya. Vania pun menerima kain kerudung pemberian Ahmed, namun dia bingung bagaimana cara memakainya.

"Aku tidak tahu bagaimana cara memakai kain ini, bisa kah kau membantuku?"

"Tentu".

Ahmed pun akhirnya membantu Vania memakainya. Awalnya dibentuk segitiga, lalu di pakaikan di kepala Vania dan dirapikan. Sedangkan Vania diam saja memperhatikan Ahmed memakaikan kerudung di kepalanya sambil mengingat-ingat langkah-langkahnya.

"Ahmed, aku melihat semua wanita-wanita yang berasal dari negerimu juga menutup kepala mereka seperti ini. apa mereka juga memiliki telinga panjang sepertiku?" Tanya Vania setelah Ahmed selesai memakaikan kerudung di kepala Vania.

Ahmed terkekeh mendengar pertanyaan Vania, lalu menjelaskan alasan agama dan moral di balik memakai kerudung itu. Vania pun berpendapat bahwa alasan dibaliknya memang sangat masuk akal. Mereka bercengkerama berdua tentang wanita di dalam islam, awalnya berbicara tentang aurot yang seharusnya ditutupi, lalu bagaimana islam memperlakukan wanita dan apa saja peran dan tugas wanita di dalam islam.

Di tengah pembicaraan mereka, terdengar suara tidak asing di tengah lalu lalang orang-orang. Ahmed pun melihat sumber suaranya dan mendapati Faruk yang saat ini bajunya ditarik-tarik oleh Lusie yang terus mengikutinya.

"Tuan, kumohon ajari aku mengobati dan menyelamatkan nyawa orang-orang. Aku tidak mau diam saja dan aku ingin menjadi seperti wanita-wanita putih itu"

"Sudahlah nona, aku sudah bilang nona tidak perlu melakukan apa-apa. Nona bebas hidup di mana saja dan menjadi apa yang nona mau".

Ahmed dan Vania pun tertawa melihat Faruk yang di tarik-tarik oleh Lusie. Sepertinya Lusie ingin ikut menjadi perawat dan tenaga medis, sehingga menarget Faruk yang menjadi petugas medis di regu Ahmed. Faruk pun menyadari keberadaan Ahmed karena suara tertawanya dan berjalan terseret-seret mendekati Ahmed.

"Letnan, gadis ini terus saja mengikutiku dan tidak mau melepaskanku. Dia tetap saja memaksa ingin ikut bergabung menjadi petugas medis dan memintaku mengajarinya ilmu medis.". Faruk pun mengadu ke Ahmed

"Sudahlah Faruk, turuti saja dia. Mungkin dengan bertambahnya 1 petugas medis lagi bisa bermanfaat atau membantu kita kedepannya."

Faruk pun akhirnya mengangguk lemas menuruti Ahmed, lalu mengajak Lusie ke tempat lain untuk memberinya pelajaran tentang ilmu dasar medis. Sedangkan Lusie yang permintaannya diterima pun kegirangan melompat-lompat. Radio kecil yang masih terpasang di pundak Ahmed tiba-tiba berbunyi.

"[buzz] Kami kekurangan tenaga untuk berkeliling membagikan bantuan ke rumah-rumah penduduk. Bagi tentara yang sedang tidak bertugas dan bersedia membantu diharap menuju ke pusat kota untuk penjelasan lebih lanjut."

"Aku pergi dulu, kau bisa tetap disini atau boleh ikut kalau kau mau" ucap Ahmed sambil berbalik berjalan menuju pusat kota yang juga berfungsi sebagai basis pasukan Ghazi di kota.

"Tunggu, aku akan ikut" Vania pun akhirnya memutuskan ikut Ahmed di belakangnya.

###

Ahmed, Vania dan 5 tentara lain yang bukan berasal dari regu Ahmed saat ini berkeliling untuk mengamati kondisi para warga dari rumah satu ke rumah yang lain dan membagikan santunan dan bantuan makanan ke keluarga yang dinilai miskin. Terutama mereka yang kehilangan anggota keluarga laki-lakinya karena diseret menjadi prajurit Leonia oleh orang-orang Leonia atau mereka yang kehilangan harta benda mereka karena perang. Seperti keluarga miskin yang saat ini rumahnya didatangi oleh Ahmed dan Vania.

"Tuan, kami tidak memiliki apa-apa lagi dirumah kami. persedian makanan kami sudah habis dan kami hanya memiliki 5 koin perak dan 10 koin perunggu untuk membeli bahan makanan malam ini."

Padahal Ahmed dan anggotanya belum bilang apa-apa pada wanita itu, tapi tiba-tiba wanita yang rumahnya mereka datangi berbicara seperti itu ketika melihat Ahmed dan yang lain. Mungkin wanita itu beranggapan bahwa tiap kali ada prajurit yang datang, mereka pasti akan menarik semacam pajak.

"Boleh saya masuk melihat-lihat rumah anda? Saya janji tidak akan merusak apa-apa di dalam". Pinta Ahmed ke ibu-ibu yang memiliki 1 orang anak remaja laki-laki dan 3 anak perempuan yang masih kecil itu. dengan berat hati ibu-ibu itu mempersilahkan Ahmed untuk masuk. Di pikiran mereka, tentara yang ada dihadapan mereka mungkin akan membuat rumah mereka berantakan dan mengobrak abrik rumah mereka untuk mencari uang emas serta menculik anak pertamanya yang laki-laki.

Nyatanya setelah masuk ke dalam rumah, Ahmed yang diikuti oleh Vania di belakangnya tidak melakukan apa-apa dan hanya melihat-lihat saja setiap ruangan yang ada di dalamnya.

"Berapa lama anda hidup seperti ini disini?" tanya Ahmed ke ibu-ibu itu sambil melihat salah satu kamar yang ada di rumah itu dengan hanya tirai kusam saja yang digunakan menutup ruangan di ambang pintu.

"12 tahun, dari awal pemerintahan Scotia, kami memang sudah miskin karena pajak kerajaan yang terlalu berat bagi kami. apalagi setelah Leonia menyerang, kami jadi semakin miskin setelah suami saya dipaksa ikut perang dan orang Leonia banyak merampas harta kami."

Ahmed pun mengangguk, lalu berjalan keluar rumah sambil masih di ikuti oleh Vania menuju ke mobil jip yang terparkir diluar mengambil sebuah kantong yang berisi beberapa puluh koin emas dan di kantong lain berisi bubuk gandum yang umumnya menjadi makanan pokok warga sekitar, lalu berjalan kembali dan memberikannya ke ibu-ibu tadi.

"ini bantuan yang bisa kami berikan, semoga bisa bermanfaat untuk keluarga anda." Ujar Ahmed ketika memberikan kantong itu.

Ibu-ibu tersebut langsung memeluk Ahmed setelah menerima kantong berisi koin emas tersebut sambil mengucapkan beribu-ribu terima kasih ke Ahmed yang hanya dibalas anggukan oleh Ahmed. Setelah itu Ahmed dan Vania berjalan menuju ke rumah selanjutnya.

"Aku pikir awalnya kalian hendak memungut pajak ketika mau berkeliling ke rumah warga?" Tanya Sylvania tiba-tiba di tengah langkah mereka. Pertanyaan itu pun ditanggapai oleh Ahmed.

"Yah, memang ada semacam aturan yang mirip terkait pajak di negeri kami, tapi kami tidak menyebutnya pajak, melainkan disebut zakat dan jizyah. Jika memang kami mau memberlakukan jizyah di daerah ini, kami akan memberlakukannya setelah para penduduk terhitung tinggal di wilayah kami selama setahun yang artinya paling cepat tahun depan. Jumlahnya pun bervariasi tergantung keadaan ekonomi warga yang kami pungut." Ahmed menjelaskan sedikit tentang jumlah pembayaran jizyah mulai dari golongan kaya sampai golongan tidak mampu yang bahkan dibebaskan dari jizyah.

"Ahmed, Sebenarnya apa itu Jizyah dan kenapa jumlahnya kecil sekali? Bahkan kalian malah balik memberi mereka koin emas bila mereka tidak dapat membayar." Vania yang kembali penasaran bertanya.

"Jizyah merupakan pajak yang dibayar bagi orang-orang selain muslim, anggap saja sebagai pengganti kompensasi biaya keamanan, fasilitas negara, pembebasan wajib militer, dan lainnya. Jizyah hanya berlaku untuk para laki-laki saja, sedangkan perempuan tidak wajib membayar Jizyah. Itupun bagi mereka yang mampu."

"Jadi orang muslim sepertimu dan yang lain tidak perlu membayar pajak Jizyah begitu?" Vania bertanya kembali yang kemudian dibalas anggukan oleh Ahmed.

"Mungkin kau akan berpikir orang muslim sedikit tidak adil karena mereka tidak perlu membayar Jizyah. Tapi yang harus kau mengerti adalah mereka punya beban kewajiban lain yang bahkan lebih berat dari Jizyah, yaitu zakat. Jumlah zakat disesuaikan dengan jumlah harta setiap orang, seperti Jizyah. Hanya saja jika jizyah hanya dihitung setiap pria, namun zakat dihitung untuk wanita juga. Tidak seperti jizyah yang hanya dibayar satu kali setiap tahun, ada beberapa macam zakat yang perlu dibayarkan oleh setiap muslim, terutama untuk mereka yang memiliki harta berlebih."

Vania mengangguk paham dengan penjelasan Ahmed.

"Lalu apa yang kau lakukan tadi di dalam rumah ibu itu? aku pikir kita akan menggeledah rumah mereka".

Ahmed menggeleng.

"Aku hanya memastikan bahwa mereka memang benar-benar keluarga miskin dan pantas mendapat bantuan."

Vania mengangguk paham lagi. pikirannya semakin terkagum terhadap para orang-orang 'muslim' ini.

"Umumnya kerajaan lain akan memaksa penduduknya membayar pajaknya sampai menggeledah rumah mereka. Aku tidak menyangka akan ada negeri yang bertindak sejauh ini sampai membagikan koin emas ke penduduknya yang miskin".

"Ini semua karena Islam. Negara kami, ekonomi, politik, sosial, moral, semua diatur oleh Islam. Tentu saja kami tidak hanya membagikan bantuan berupa koin dan makanan saja, tapi kami juga akan memberikan mereka pekerjaan bagi yang belum bekerja, khususnya laki-laki".

Mereka berjalan sampai di depan rumah lainnya, kali ini rumah itu terlihat biasa dan cenderung sedikit lebih mewah dari rumah lainnya.

"Ahmed, sebenarnya apa itu Islam? Seingatku kalian sering kali berbicara tentang Islam dan bahkan nama negeri kalian juga mengandung kata Islam". Vania bertanya lagi sebelum mereka mengetuk pintu.

"Sepertinya pikiranmu mulai terbuka dan penasaran tentang apa itu Islam." Ahmed menaggapi sambil tersenyum yang diangguki oleh Vania.

"Baiklah, setelah ini selesai, aku akan menjelaskan apa sebenarnya Islam itu". Ahmed membuat keputusan sebelum mengetuk rumah di depan mereka.

###

"Aku tidak menyangka bahwa agama bisa mencakup segala aspek kehidupan seperti yang kau jelaskan. Maksudku, di dunia kami agama hanyalah perantara antara kami dan dewa ataupun tuhan, sebuah perantara spiritual saja." Sylvania menanggapi penjelasan panjang yang baru saja diberikan oleh Ahmed. Mereka saat ini duduk diatas atap jip jamal yang tadinya digunakan untuk menarik Jizyah dan 2 jam sudah berlalu sejak awal Ahmed memulai penjelasannya tentang Islam.

"Di dunia dibalik gerbang pun juga sama, semua negeri selain daulah Islam mengatur negeri nya dengan peraturan yang murni dibuat oleh manusia. Agama selain Islam hanya mencakup moral dan spiritual saja."

"Apakah tuhanmu sama seperti dewa Xeone, Solus, atau dewa Eldar, atau bahkan dewa lainnya?"

"Tidak, kalau tidak salah Solus adalah sebutan untuk dewa matahari di dunia ini, sedangkan Eldar sebutan dewa bumi atau semacamnya bukan? Menurut kami, tidak ada yang namanya dewa bumi atau matahari. Karena bumi dan matahari, keduanya hanyalah ciptaan Allah. Begitu juga bulan, langit, bintang, seluruh alam semesta, semua adalah ciptaan Allah, termasuk kita. Allah maha besar, maha perkasa dan maha segalanya, karena itu bagi kami tidak ada yang patut disembah ataupun di puja selain Allah. Dan dari wahyunya pula yang berupa Al Qur'an kita mampu mencapai semua yang sudah kita capai sekarang ini."

"Tuhanmu terdengar begitu hebat. Aku jadi penasaran bagaimana wujudnya."

"Allah tidak bisa dibayangkan ataupun digambarkan wujudnya. Akal kita sebagai makhluknya yang sangat hina tidak dapat mencapainya sampai di hari akhir nanti."

Sylvania menghela nafas panjang. Semua penjelasan yang dipaparkan oleh Ahmed seolah memukuli kepalanya karena banyaknya pengetahuan baru yang dia terima. Namun menurut Vania, semua penjelasan Ahmed terdengar sangat masuk akal. Tidak seperti penjelasan pendeta-pendeta yang pernah dia dengarkan ketika masih kecil, mereka hanya memaksakan doktrin dan memberikan cerita dongeng tentang dewa-dewa yang sulit dia percaya sampai sekarang.

Vania bukanlah tipe orang yang religius, terutama semenjak dia terusir dari negerinya bersama ibunya. Dia hanya percaya dengan apa yang dia lihat, sebuah keyakinan yang mirip dengan atheisme. Untuk bisa hidup di dunia maka dia harus bisa bertahan hidup, dan untuk itu pun dia harus menjadi kuat. Kita berjuang bertahan hidup untuk diri kita sendiri, tidak ada hubungannya dengan dewa atau tuhan manapun. Selama ini hanya itu yang dipercaya oleh Vania di kehidupannya.

"hei Ahmed, menurutmu apakah aku bisa menjadi orang Islam juga?"

"Semua orang bisa menjadi seorang muslim tanpa memandang status, bangsa, latar belakang, atau apapun. Yang perlu kau lakukan hanya memantapkan hatimu akan dua hal dasar, yaitu mempercayai bahwa hanya ada satu tuhan yang maha kuasa dan kita menyebutnya Allah. Yang kedua mempercayai Muhammad sebagai nabi dan utusannya".

Sylvania terdiam sejenak. Tanpa disadari hatinya saat ini dilema di dalam dua pilihan. Menerima apa yang sudah di katakan dan dijelaskan oleh Ahmed, atau tetap mempercayai apa yang selama ini dia percayai.

"Vania, apa kau mau menjadi orang Islam? Menjadi seorang muslim?" tanya Ahmed melihat Vania yang masih terlihat sibuk dengan pikirannya.

"Aku tidak tahu Ahmed, aku masih belum yakin. Mungkin aku masih perlu memikirkannya lagi. Ini semua masih terasa sangat baru untukku."

Ahmed mengangguk paham.

"Gunakan waktumu untuk berpikir. Tidak perlu buru-buru. Salah satu prinsip di dalam Islam adalah tidak ada paksaan dalam memeluknya."

###

Istana Yildiz, Istanbul

Ruangan Rapat

Khalifah Osman beserta para mu'awinnya mengadakan rapat tetang situasi dan kondisi di Edela beserta langkah selanjutnya yang akan diambil. Apakah meneruskan penyerangan mereka atau berhenti di kota Eklaire saja. di salah satu dinding ruangan, terdapat pantulan cahaya proyektor yang menampilkan video call dari Jenderal Ayyub yang sedang memberikan laporan.

"Kami berhasil menyelamatkan sejumlah 300 warga kita yang menjadi tawanan di kota Eklaire, 250 orang di selamatkan oleh regu pimpinan Letnan Ahmed, sedangkan 50 lainnya berhasil kami temukan tersebar di tengah kota yang sepertinya terjual ke orang-orang dan bangsawan sekitar. Pihak militer sudah menebus mereka yang terlanjur terjual dan sekarang dalam proses pemulangan. Dari pasukan kita tidak ada korban jiwa dan hanya ada beberapa puluh korban luka-luka. Kami masih bisa mengatasi pertempuran kota dengan dukungan udara dan artileri." Jenderal Ayyub mengakhiri laporan singkatnya di video.

"Bagaimana dengan 200 warga kita yang masih belum ditemukan?" salah satu Menteri bertanya.

"Kami sedang melacak posisi mereka secara pasti. Berdasarkan catatan administrasi yang berhasil kami temukan di Eklaire, 50 orang dikirim ke pertambangan yang ada di dekat kota Longnard, 100 orang dikirim ke kota Longnard di tenggara dan 50 lainnya dikirim ke kota Orluire di timur laut."

"Sepertinya praktik perbudakan di sana merupakan hal yang lumrah." Ujar Khalifah menanggapi.

"Benar Sultan, perbudakan di sini masih menjadi hal yang wajar dan bagian dari sosial masyarakat dan ekonomi.".

"Sebenarnya ini tidak terlalu mengejutkan. Bahkan di dunia kita sendiri masih banyak negara yang mempraktikkan perbudakan 1 abad yang lalu. Namun, kita tetap harus menghapus praktik perbudakan di sana. Hanya saja menghapus perbudakan secara paksa dan tiba-tiba pastinya akan mengguncang masyarakat dan perekonomian di sana. Apakah ada pendapat bagaimana sebaiknya kita menghapus perbudakan disana?" kali ini Khalifah meminta pendapat ke Jenderal dan Menterinya.

"Jalan terbaik adalah mengikuti jejak perjalanan shirah nabi kita Muhammad wahai Sultan…"

"Sebaiknya kita menawarkan untuk menebus seluruh budak yang ada dan mau di merdekakan. Namun bagi budak yang masih ingin bersama tuannya, maka kita bisa membiarkan mereka. Kadang kala para budak memang tidak bisa hidup sendiri dan hidupnya bergantung pada tuannya." Salah satu wazir mencoba memberikan solusi, namun beberapa wazir lainnya merasa keberatan.

"Hal itu akan membutuhkan dana yang besar. Apakah kita memiliki cukup dana untuk membebaskan semua budak?"

"Kita mendapatkan ghanimah yang cukup banyak dari beberapa pertempuran kita dengan Leonia, di samping itu Allah pasti akan mengganti dana kita nanti ke depannya bila kita menggunakannya untuk kebaikan. Kita tidak boleh menyamai orang barat yang kapitalis dan menghitung semuanya berdasar keuntungan."

Khalifah pun menyutujui usulan menebus semua budak. Kalau perlu dia sendiri juga ikut menyumbangkan dana pribadinya juga dalam usaha menebus para budak itu.

"Baiklah, sekarang bagaimana kita menyelamatkan warga kita yang masih belum ditemukan?" Khalifah menanyakan perihal selanjutnya tentang penyerangan kota.

"Saya mengusulkan untuk meminta mereka menghentikan peperangan dan meminta biaya ganti rugi terlebih dahulu ke Leonia serta meminta mengembalikan semua warga kita yang diculik, namun bila mereka menolak, mau tidak mau kita harus menggunakan operasi militer".

"Kita berusaha menghindari peperangan dan pertumpahan darah sebisa mungkin, namun bila usaha itu gagal, mau tidak mau pertumpahan darah harus terjadi".

Khalifah mengangguk menyetujui usulan para wazir.

"Baiklah, bagaimanapun rakyat kita tetap menjadi prioritas kita. Jenderal Ayyub, Karena mereka bangsa yang hidup dengan cara lama, maka kita akan mengirim utusan dengan cara lama juga. Aku ingin kau mencari relawan untuk pergi menemui pemimpin mereka." Ucap Khalifah menyimpulkan.

"Baiklah wahai sultan, sesuai perintahmu, Assalamualaikum". Layar proyektor mati setelah Ayyub mengucapkan salam.