Part 10 Negosiasi Gagal

Ahmed sedang melanjutkan kegiatannya berkeliling kota Eklaire melihat-lihat situasi kondisi sosial di sana. Banyak rumor yang beredar di antara para tentara bahwa penaklukan atau pembebasan kota Eklaire tidak akan menjadi akhir dari peperangan mereka dengan Leonia. Karena itu dalam 5 hari ini jumlah tentara yang berada di Eklaire terus meningkat. Padahal Ahmed sendiri yakin bahwa jumlah pasukan yang digunakan untuk menyerang Eklaire pertama kali saja sudah lebih dari cukup untuk mempertahankan dan mengontrol kota Eklaire.

Saat ini Ahmed sendiri tidak sendirian berjalan di tengah-tengah kota, tapi dia sendiri ditemani oleh Vania seperti biasanya. Ahmed sendiri tidak paham mengapa akhir-akhir ini Vania seolah menempel ke dirinya seperti menemani tugas patroli atau pun menemaninya sekedar berjalan keliling kota. Namun bila Ahmed menanyakannya, jawaban yang didapat hanyalah 'kau menarik dan membuatku penasaran, selain itu aku masih ingin belajar islam denganmu'. Memang waktu libur yang disediakan sudah habis 2 hari yang lalu dan sekarang Ahmed dan seluruh anggota regunya mendapat tugas jaga atau patroli 8 jam sehari.

Seperti sekarang ini Ahmed juga menjalankan tugas patrolinya yang berlangsung dari sore hingga malam hari, dengan seragam dan senjata lengkap. Sambil melihat-lihat suasana kota di waktu senja dan berjalan-jalan seperti ini, Ahmed biasanya akan menanyakan situasi sebelum perang di kota ke Vania dan membandingkan perbedaannya. Proses perubahan beberapa bangunan di kota yang akan dijadikan masjid baru masih belum sepenuhnya selesai dan membutuhkan waktu untuk instalasi air ledeng dan listriknya, sehingga Ahmed dan tentara lainnya sering kali harus melakukan sholat di tenda prajurit atau di tempat tertentu yang dianggap layak.

Dalam waktu 5 hari. Sebagian besar masyarakat kota sudah bisa menerima keberadaan Daulah Islamiyah. Namun ada beberapa pihak tertentu yang masih menentang atau tidak suka dengan Daulah Islam dan peraturan yang dibuatnya. Seperti tentang pelarangan tempat minuman keras dan berjudi, lalu tempat prostitusi yang ditutup secara serentak membuat orang-orang sedikit ricuh di hari ke 2, namun pada akhirnya kerusuhan itu bisa diatasi oleh tentara Ghazi yang bertugas sebagai keamanan di kota.

Toko-toko yang sebelumnya menjual minuman keras di himbau untuk diganti menjadi minuman jus, es krim dan manisan lainnya yang ternyata dinilai lebih menguntungkan bagi penjualnya. Mereka yang sebelumnya bekerja di tempat prostitusi juga diberikan pekerjaan baru dan dijamin kebutuhan pokoknya agar tidak ada alasan lagi untuk mereka mengikuti prostitusi lagi.

Langkah kaki Ahmed yang tadinya berjalan menyusuri jalanan terhenti, pandangannya terarah ke 3 orang yang berdiri di depan sebuah toko dengan sebuah kereta kuda didekatnya. Mereka terlihat bertikai, lebih tepatnya 2 orang pria dengan baju yang terlihat mewah dan mencolok memarahi 1 orang pria lainnya yang memakai baju normal di sini.

"hei Vania, kau tahu apa yang mereka lakukan disana?" Tanya Ahmed ke Vania seraya menunjuk ke 3 orang tersebut, merasa bahwa Vania yang sudah lama hidup di Edela bisa memahaminya.

"Oh, itu merupakan hal yang biasa terjadi dimana-mana. Kau tahu kan tentang kesenjangan antara bangsawan dan rakyat jelata?" Jelas Vania dengan menampilkan raut wajah biasa, tidak menampakkan keterkejutan sama sekali.

"Di negeriku tidak ada yang namanya status bangsawan ataupun rakyat jelata, semuanya memiliki kedudukan yang sama". Ujar Ahmed sambil masih mengamati pertikaian 3 orang itu, kali ini orang yang dimarahi terlihat memberikan sejumlah uang ke 2 orang lainnya, namun 2 orang itu masih terlihat marah.

"Umumnya di Edela, mereka yang memiliki kemampuan sihir biasanya akan mendapatkan status bangsawan dan juga kedudukan penting di pemerintahan. Para bangsawan pada umumnya memang gila hormat dan memiliki ego yang tinggi. Karena itu kesombongan di kalangan bangsawan sudah menjadi hal yang biasa". Vania melanjutkan penjelasannya dengan lebih rinci yang dibalas anggukan oleh Ahmed.

"Dulunya di dunia kami juga memiliki tatanan sosial yang tidak berbeda jauh, masyarakat dibagi menjadi beberapa kasta dengan kasta terendah rakyat jelata yang sering menjadi objek penindasan bagi para bangsawan dan tuan tanah." Ahmed pun memutuskan ikut berbagi cerita tentang sejarah di dunianya sambil matanya masih mengamati 3 orang yang masih bertikai, kali ini 2 orang yang Ahmed duga sebagai bangsawan sekaligus pengguna sihir itu mulai mengancam dengan mengarahkan tongkat kecil mereka yang pastinya tongkat sihir.

"sampai kemudian Islam datang dan menghapus perbedaan sistem kasta itu dan menghasilkan sebuah tatanan sosial dimana semua orang dianggap sama dan setara tanpa memandang status dan kedudukan mereka". Ahmed mengakhiri cerita singkatnya sambil mulai melangkah mendekati ketiga orang yang diamatinya, Sylvania otomatis mengikuti langkah Ahmed.

"Kita tidak bisa membiarkan mereka, kalau dibiarkan akan terjadi kekerasan dan jatuh korban". Ucap Ahmed yang diangguki Vania.

"Uang yang kau berikan tidak cukup." Ujar salah satu bangsawan yang terlihat lebih tua sambil mengancam rakyat jelata di depannya.

"Tapi tuan, toko saya hari ini sedang sepi. Berikan saya 3 hari untuk membayar sisanya".

"Aku tidak mau tahu, kalau kau tidak membayarnya sekarang, kami akan-"

"Ada apa ini?" Ahmed menyela ketiga orang itu yang kemudian mengarahkan perhatiannya ke Ahmed.

"Ini bukan urusan prajurit rendahan seperti kau. Sebaiknya kau pergi dari sini atau-"

"Penggunaan sihir tanpa izin dilarang di kota, apa kau sudah tahu itu?" Ahmed menyela bangsawan itu dengan santai, tangannya memegang senapan yang sebelumnya tersampir di belakang dengan jari yang siap menarik pelatuk.

"Beraninya kau melarangku memakai sihir dasar prajurit rendahan. Aku Lord Robert Gilwell akan memberikan kau pelajaran agar kau tidak berani macam-macam lagi dengan kami para bangsawan" seketika kedua bangsawan itu mengarahkan tongkatnya ke arah Ahmed dan mulutnya mencoba merapalkan mantra.

DOR

Belum sempat selesai merapal mantra, Ahmed menembakkan senapannya ke tanah tepat di samping kaki bangsawan yang bernama Robert itu. Akibatnya Lord Robert langsung berhenti, tubuhnya berdiri gemetar karena terkejut sambil tangannya masih menjulur mengarahkan tongkatnya ke Ahmed.

"Selanjutnya kepalamu yang jadi sasarannya. Pergi dari sini kalau kau tidak ingin memiliki lubang yang sama dengan tanah itu".

Akhirnya dengan terpaksa dan menampilkan wajah yang jengkel. Lord Robert bersama putranya yang nampaknya masih berusia remaja itu berbalik berjalan menaiki kereta kuda mereka.

"Aku tidak akan melupakan penghinaan ini prajurit rendahan! Tunggu saja, suatu hari nanti Scotia akan menyerang dan membebaskan kota ini dari penjajahan kalian" Ujar bangsawan remaja yang menjadi putra Lord Robert itu sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kereta kudanya.

Ahmed menghela nafas sejenak, menyampirkan senapannya ke belakang lagi sebelum akhirnya berbicara dengan pemilik toko yang diancam oleh bangsawan tadi.

"Kau baik baik saja kan? Apa yang terjadi sampai mereka mengancammu tadi?"

"saya baik-baik saja tuan, terima kasih sudah membantu saya. Mereka tiba-tiba meminta ganti rugi kepada saya karena sepatu yang mereka beli di toko saya tempo hari mereka anggap tidak memuaskan, padahal sebelumnya sudah saya persilahkan mereka untuk mencoba sepatunya dan sudah setuju untuk membelinya".

"Kalau terjadi apa-apa lagi, anda boleh meminta bantuan kepadaku atau tentara yang lainnya".

Ahmed dan Vania pun berbalik dan berjalan meninggalkan pria tersebut, bermaksud melanjutkan kegiatan patrolinya yang sempat terhenti karena kejadian tadi.

"Apa semua Tentara Ghazi memang seperti itu, tidak memiliki rasa takut meskipun melawan bangsawan? aku belum pernah menemui tentara biasa yang berani menantang bangsawan secara langsung sebelumnya. Bahkan aku malah bisa melihat gurat ketakutan di wajah bangsawan tadi". Vania terkekeh ketika mengucapkan kalimat yang terakhir.

"Kami dilatih dan diajarkan untuk membela yang benar dan mencegah yang batil. Hal seperti yang kau lihat tadi, di mana seorang manusia menindas manusia lainnya merupakan salah satu perkara batil yang harus kami cegah, terutama bila perkara itu bisa menimbulkan pertengkaran dan kekerasan".

Mereka berdua berjalan dari jalanan ke jalanan lain, sambil mengawasi setiap gang yang dilewati sampai di tengah jalan merka bertemu dengan Kemal, salah satu bawahan Ahmed yang hanya menggunakan seragamnya saja tanpa rompi dan senapannya karena waktu patrolinya hari ini sudah selesai. Kemal yang tadinya berjalan sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri seperti mencari seseorang langsung berhenti di depan Ahmed ketika berpapasan.

"Assalamualakum Letnan, Jenderal Ayyub menunggumu di tendanya. Sepertinya kita mendapatkan tugas baru darinya hari ini."

"Waalaikumsalam. Baiklah, antarkan aku ke sana" Jawab Ahmed, lalu menolehkan wajahnya ke Vania yang ada di sampingnya.

"Aku pergi dulu, kalau masih ada yang ingin kau bicarakan, tunggu aku di tenda reguku. Kau sudah tahu kan tempatnya." Ucap Ahmed ke Elf yang memakai kerudung sederhana itu, lalu berjalan mengikuti Kemal setelah mendapat anggukan dari sang Elf.

"Ah iya letnan, sepertinya kau mendapat kiriman paket dari balik Al Jisr di dunia kita. Aku sudah meletakkannya di atas tempat tidurmu di tenda". Ucap Kemal ditengah perjalanan ke tenda jenderal.

"Baiklah Terima kasih, nanti akan aku ambil."

###

Ahmed memasuki tenda yang menjadi ruangan Ayyub. Di dalam sana terdapat meja dengan berbagai macam peta yang berserakan, kotak berlabel militer yang isinya tidak diketahui di sudut tenda. Lalu beberapa perangkat elektronik seperti radio, laptop, perangkat komputer, dan semacamnya juga tertata rapi di atas meja-meja tenda.

Jenderal Ayyub sedang berdiri samping meja menghadap ke pintu masuk tenda dengan posisi tertunduk dan kedua tangannya menyangga badannya di sisi meja. Sepertinya dia sedang memandangi salah satu peta sambil memikirkan sesuatu sampai tidak menyadari kedatanganku.

"Assalamualaikum Jenderal" Aku mengucap salam sambil menghormat.

"Waalaikumsalam" Jenderal Ayyub membalas hormatku.

"Saya dengar regu saya akan mendapat tugas baru, apa benar jenderal?" Ahmed berdiri dengan sikap "istirahat" dan kedua tangannya di posisikan di belakang punggungnya.

"Iya, aku memilih regu mu karena regumu memiliki pengalaman lebih dalam pengintaian dan melakukan kontak penduduk lokal di Edela". Jenderal Ayyub berjalan mendekati Ahmed yang sebelumnya di seberang meja.

"Jadi, kita mendapat tugas berkaitan dengan pengintaian?"

"hmm… sebenarnya tugas yang aku berikan tidak sepenuhnya pengintaian". Ayyub meraih salah satu peta yang tergulung di dekatnya dan membeberkannya di meja. Memperlihatkannya pada Ahmed.

"Aku ingin kau dan regumu pergi ke kota ini dan menemui raja Leonia" ucap Ayyub sambil menunjuk kota Longnard.

"Menemui raja Leonia!?" Ahmed terkejut, benar saja dia yang hanya perwira biasa tiba-tiba diminta menemui raja Leonia.

"Iya, permintaan ini datang langsung dari baginda Sultan. Tugasmu hanyalah menemui raja dan membacakan ini". Ayyub memberikan gulungan kertas ke Ahmed yang kemudian di buka oleh Ahmed untuk dibaca sekilas.

"Jadi kita menawarkan perdamaian ke Leonia? Setelah semua yang mereka perbuat?". Ucap Ahmed terkejut setelah membaca bagian awal kertas itu.

"Bacalah sampai selesai Letnan".

Ahmed membacanya sampai selesai sebelum akhirnya mengangguk memahami sepenuhnya isi kertas itu.

"Kenapa kita tidak menggunakan drone atau menyuruh salah satu prajurit mereka yang tertawan saja untuk menyerahkan surat ini?" Ahmed kembali menggulung kertas itu dan menyimpannya di saku seragamnya.

"Pertama, kita berada di masa yang setara dengan abad pertengahan, Letnan. Orang-orang di masa ini lebih biasanya lebih memahami cara lama. Karena itu kita pun juga memutuskan untuk menggunakan cara lama juga untuk menawarkan perdamaian dengan mengirim utusan."

"Kedua, sang Sultan beserta kami semua ingin mendengarkan langsung jawaban dari raja Leonia ketika tawaran itu dibacakan di depannya. Karena itu kami tidak menggunakan tawanan musuh yang tidak dapat dipercaya untuk mengantarkannya. Kau akan dibekali dengan perangkat penyadap serta radio dengan fungsi darurat nantinya, karena kalian akan berada jauh di tengah-tengah wilayah musuh. Kita mengupayakan untuk menyelamatkan setiap nyawa dari prajurit kita bukan?"

Ahmed pun mengangguk mengerti dan tidak melontarkan pertanyaan lagi. Ayyub memberikan detail lainnya tentang tugasnya selama beberapa puluh menit dan memberikan perangkat radio darurat yang sebelumnya sempat dia bicarakan. Ahmed diperbolehkan untuk kembali ke tendanya menyiapkan peralatannya setelah proses brifing selesai.

"Kau hanya boleh mengajak 5 orang anggota regumu. Kita tidak ingin menarik terlalu banyak perhatian dengan membawa seluruh anggota regumu kan? Kau juga boleh membawa gadis telinga panjang itu, siapa namanya?"

"Sylvania Shafiel"

"Kau boleh membawa nona Shafiel kalau mungkin dia meminta untuk ikut bersamamu. Sepertinya dia memiliki kemampuan dalam berperang. Selain iut, aku lihat kalian berdua juga terlihat akrab. Dia bisa membantumu sebagai penerjemah bila kalian kesulitan nanti."

"Sylvania tidak memiliki kemampuan bertarung jarak dekat, dia hanya memiliki kemampuan dalam memanah dan penyembuhan saja".

"Tidak masalah, itu berarti kalian hanya tinggal melindunginya bukan."

Ahmed kembali mengangguk paham sebelum beranjak pergi meninggalkan tenda sang jenderal.

"Kalau begitu, aku permisi dulu Jenderal. Assalamualaikum".

"Waalaikumsalam".

###

Ahmed berjalan memasuki tendanya, mengecek anggota regunya sebelum berjalan ke bagian tempat tidurnya sendiri yang terdapat barang-barangnya di sana. Ada satu barang yang tidak didapati Ahmed ketika terakhir kali dia melihat barangnya dan Ahmed tahu benda itu adalah benda yang dimaksud oleh Kemal. Benda itu berupa kotak kayu panjang berwarna merah, mungkin panjangnya hampir satu meter.

Ketika Ahmed membuka kotak itu, Ahmed mendapati barang yang sudah dia tunggu selama satu minggu ini.

Katana Jepang

Seminggu yang lalu sebelum penyerangan ke kota Eklaire, Ahmed sempat memesan Katana dari salah satu kenalannya yang berada di Jepang. Salah satu pedang yang paling terkenal akan ketajamannya dalam sejarah dunia. Ahmed pernah belajar ilmu beladiri Iaido ketika ditugaskan di daerah Jepang selama beberapa tahun, yang akhirnya membekali Ahmed dengan kemampuan bertarung jarak dekat menggunakan pedang.

"Ah Assalamualaikum letnan. Ternyata kau sudah kembali ke tenda rupanya."

"Waalaikumsalam, Karim. Kau juga baru saja menyelesaikan tugas jagamu ya"

Karim mengangguk dan berjalan mendekati Ahmed.

"Bukannya itu pedang yang berasal dari Jepang itu ya, kalau tidak salah namanya… Samurai?"

Ahmed menggeleng tersenyum sambil menyimpan pedangnya di tumpukan peralatannya setelah selesai melihat dan meneliti pedang itu.

"Samurai adalah salah satu sebutan penggunanya, kalau pedang ini sebutannya Katana".

"Ah begitu ya, kau sepertinya tahu banyak tentang Daerah Jepang. Kalau tidak salah, hampir separuh dari penduduknya saat ini beragama muslim bukan?"

"Aku pernah bertugas di sana selama beberapa tahun Karim, setelah penugasanku di afghanistan yang sempat menjadi sengketa dengan Rusia lebih tepatnya."

"Aku mengerti. Aku memang mendengar rumor tentang seluruh pasukan yang akan dibekali dengan pedang. Aku tidak menyangka kau malah mendahului kami sekarang. Oh iya, Sylvania sudah menunggumu di depan tenda. Sepertinya ada yang ingin dia tanyakan denganmu."

"Aku tahu, rencananya pihak militer akan membekali pasukan yang bertugas di Edela dengan pedang Skimitar yang di modernisasi dan sayangnya aku tidak terlalu cocok menggunakan pedang itu. karena itu aku memesan langsung dari kenalanku pedang yang lebih bisa aku gunakan.".

Ahmed yang tadinya duduk di tempat tidurnya beranjak keluar tenda untuk menemui Vania, tapi belum sempat Ahmed keluar, Karim memanggilnya terlebih dahulu.

"Letnan, aku dengar kita mendapat tugas baru dari jenderal?"

Ahmed berhenti sejenak berbalik menghadap Karim lagi.

"Iya, Jenderal sudah memberitahuku langsung. Aku hanya akan mengajak 5 orang saja dari regu kita, dan aku membutuhkanmu mengurus 13 anggota kita yang lain di sini."

"Baiklah, serahkan saja padaku".

Ahmed berbalik lagi untuk berjalan keluar tenda. Di dekat pintu masuk tenda, seperti kata Karim, Vania sudah menunggunya disana.

"Vania!" panggil Ahmed membuat Vania yang sebelumnya melihat-lihat kegiatan tentara lain disekitarnya menoleh ke Ahmed.

"aku dengar kau ingin berbicara denganku?"

Vania mengangguk.

"Ajak aku."

"Huh?" Ucapan Vania yang tiba-tiba membuat Ahmed tampak sedikit bingung karena tidak benar-benar memahami maksud Vania.

"Aku tahu kau akan ditugaskan untuk pergi ke suatu tempat. Aku ingin kau mengajakku."

Ahmed berpikir sejenak menimbang apakah dia harus mengajak Vania untuk ikut di misi yang simpel namun beresiko ini. Jenderal Ayyub memang mengizinkannya mengajak Vania, tapi tetap saja Vania bukanlah bagian dari militer mereka dan memang tidak seharusnya ikut campur dari awal.

"Kenapa aku harus mengajakmu Vania?"

"Karena… aku tidak mau jauh darimu dan aku juga ingin berpetualang bersamamu". Jawab Vania dengan lugas, namun ternyata dengan menjawab seperti itu memoncolkan sedikit rona merah di wajah Vania yang juga tidak luput dari perhatian Ahmed.

Jangan bilang kalau dia menyimpan perasaan tertentu terhadapku. Ucap Ahmed dalam hati, namun dalam sekejap Ahmed menggelengkan kepalanya untuk menepis pemikiran itu.

"Kenapa…tidak mau jauh dari aku?" Ahmed kembali bertanya.

"Karena kau sudah menjadi penjaga dan pengurusku bukan? Maka tidak seharusnya juga kau jauh-jauh dariku"

Ahmed memperhatikan sekitarnya, menyadari banyak tatapan prajurit lain yang berlalu lalang terarah ke mereka berdua. tentu saja tentara lain bisa mengerti perkataan mereka karena mereka berbicara menggunakan bahasa Arab, dan juga seorang wanita 'muda' yang menemui salah satu prajurit di perkemahan pasukan Ghazi pun merupakan sebuah pemandangan yang langka. Ahmed pun memutuskan mengubah bahasanya agar tidak terlalu menarik perhatian tentaran lain.

"Hiduplah dengan bebas Vania! Kau tidak perlu mengikat dirimu sendiri dengan aku. Kau bisa memulai hidupmu yang baru."

Vania menggeleng tegas dan tetap kekeh dengan pendiriannya.

"Tidak, aku akan tetap mengikutimu dan bersamamu, apapun yang terjadi. Semenjak kau menolongku di desa itu, aku tahu kau orang yang baik dan tidak banyak orang sepertimu di dunia ini. karena itu aku sudah bertekad untuk ikut denganmu apapun yang terjadi."

Ahmed menghela nafas panjang. Tidak menyangka usahanya untuk menguji kesungguhan Vania malah harus melibatkan perasaannya seperti ini.

"Lagipula aku juga sudah bersedia untuk belajar Islam bukan. Aku tidak akan dapat melakukannya tanpa bantuanmu."

Ahmed pun akhirnya memberikan jawabannya setelah beberapa saat memikirkan kata-kata Vania.

"Kau tahu? di duniaku sangat banyak laki-laki yang jauh lebih baik dari aku." entah kenapa Ahmed pun memutuskan kembali berbicara dengan bahasa Arab sekarang.

"Tapi saat ini aku sedang tidak berada di duniamu kan."

"Pada akhirnya kau tetap akan bersikeras untuk ikut denganku ya… baiklah, tapi akan aku peringatkan sekali lagi, perjalanan kita mungkin akan berbahaya dan dapat merengut nyawa kita."

"Aku tidak keberatan".

Ahmed mengangguk.

"kalau begitu siapkan peralatan yang ingin kau bawa mulai sekarang. Kita berangkat besok. Temui aku lagi di tenda ini."

Sylvania mengangguk sebelum akhirnya berbalik dan berjalan keluar menjauhi area perkemahan ke area kota, tepatnya penginapan yang ada di dalam kota Eklaire.

###

Mereka berangkat menggunakan 3 helikopter, 2 helikopter Saqr yang didalamnya terdapat, Vania, Ahmed dan kelima anggota regunya, Orhan, Mahmud, Rostam, Abdul, dan Hendra dan 1 helikopter ababil yang mengangkut 7 ekor kuda. Mereka tidak ingin menarik banyak perhatian dan mengundang kehebohan dengan terbang langsung ke tengah kota.

Menggunakan kendaraan bermotor pun juga tidak masuk dalam pilihan mereka mengingat jika di kondisi darurat mereka harus meninggalkannya nanti, kendaraan itu bisa jatuh ke tangan musuh dan menjadi objek penelitian mereka. Belum lagi kendaraan bermotor yang dijuluki kereta besi itu juga dapat menarik perhatian dan kehebohan juga. Karena itu mereka diturunkan sekitar 1 kilometer dari barat kota dan dari sana mereka akan menunggang kuda ke istana kota Longnard milik kerajaan Scotia yang sekarang sudah di kuasai oleh Leonia.

Ahmed dan anggotanya tetap menggunakan seragam lengkap militer mereka disertai dengan persenjataan lengkap juga. Khusus Ahmed, dia membawa pedang yang disarungkan di belakang punggungnya. Sayangnya senjata jarak dekat seperti pedang yang dibicarakan sebelumnya belum sampai di markas Edela dan pada akhirnya pasukan lain pun hanya dapat menganalkan senapan mereka ditambah pistol dan pisau sebagai senjata jarak dekat.

Dengan membawa bendera merah milik Daulah Islam, mereka mengendarai kuda dan memasuki kota setelah mendapat izin dari penjaga gerbang. Mereka pun lanjut menunggang menuju istana kota Longnard yang ada ditengah kota. Perjalanan ke istana dari gerbang luar pun memakan waktu 30 menit, karena luasnya kota Longnard. Belum lagi mereka juga menjadi pusat perhatian warga karena seragam mereka yang sangat berbeda dari pasukan manapun. mungkin hanya Vania saja yang pakaiannya wajar bagi mereka.

Selama memasuki kota, Ahmed dapat melihat banyak rumah-rumah yang rusak karena pertempuran dan penjarahan. Warga-warga di sana terlihat memprihatinkan dengan pakaian yang lusuh. Beberapa bahkan terlihat meminta-minta di pinggir jalan. Di beberapa sudut jalan dan gang, terdapat pasukan Leonia yang menyiksa warga atau bahkan menggeret seorang wanita yang entah akan dibawa kemana. Ahmed bahkan tidak berani membayangkan bagaimana nantinya nasib wanita itu. Satu hal yang dipikirkan Ahmed adalah kota ini harus mereka bebaskan.

Setelah menitipkan kuda dan memasuki Istana, mereka bertemu dengan raja Cheldric di aula istana yang berada di istana lantai paling atas. Seperti raja-raja eropa di masa lampau, Cheldric memiliki perawakan yang tinggi besar, mungkin mirip seperti gambaran orang viking yang tingginya hampir 2 meter. Di belakangnya ada beberapa orang yang memakai baju besi berbeda-beda, tetapi terlihat lebih mewah dari yang lain dan berdiri dengan memegangi pedang mereka yang disarungkan. Kemungkinan mereka adalah kesatria dan perwira tinggi Leonia.

Ruangan tahta itu sangat luas seperti Aula. Dari pintu masuk terdapat karpet merah yang menjulur sampai ke 5 anak tangga yang berada di depan kursi tahta Cheldric. Di kanan kirinya terdapat sedikitnya 12 tentara penjaga lain yang juga menggunakan baju besi lengkap berjajar rapi membawa tombak dan berseragam mewah juga meskipun tidak semewah yang berdiri di belakang raja. Sebenarnya ruangan itu adalah ruangan raja Scotia yang sudah mati dan sekarang ditempati oleh Cheldric.

"Jadi kalian ya, yang disebut-sebut orang-orang sebagai pasukan hitam?" Ucap raja Cheldric setelah Ahmed dan anggotanya masuk.

Ahmed hanya mengangguk saja, sambil berjalan mendekat ke raja Cheldric, sedangkan Vania dan 5 orang anggotanya yang lain mengikuti di belakangnya. Ahmed dapat melihat tentara Leonia yang berjajar rapi di kanan kiri mereka, seolah mengepung mereka. Seragamnya pun berbeda dengan tentara reguler lain. terlihat lebih elit dan seperti kesatria. Tapi penampakan seragam mereka seperti tidak asing bagi Ahmed. Hanya saja Ahmed tidak dapat mengingatnya di mana terakhir kali mereka melihat seragam seperti itu. Vania pun yang memahami rasa penasaran Ahmed berbisik di sampingnya.

"Mereka adalah anggota dari pasukan Chevalier de Mort yang pernah kalian lawan setelah kalian menolongku."

Ahmed pun mengangguk paham dan meningkan rasa waspadanya. Ketika sampai di depan anak tangga, kelima anggotanya berhenti di bawah anak tangga sedangkan Ahmed dan Vania melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga sampai di depan raja Cheldric.

"Bicaralah". Ucap raja Cheldric pendek dengan nada memerintah. Terdapat keangkuhan yang terdengar jelas dari nada suaranya.

Ahmed mengambil kertas gulungan yang diberikan Jenderal Ayyub di saku seragamnya. Lalu membuka dan membacanya di depan Cheldric.

"Khalifah Osman IV, pemimpin kami dan seluruh umat Islam dan Negeri Daulah Islamiyah. Menawarkan perdamaian kepada Raja Cheldric dari Leonia dan mengakhiri peperangan dengan syarat Kerajaan Leonia harus membayar ganti rugi atas penyerangannya ke wilayah negeri Daulah Islamiyah sebesar 1 juta koin emas, mengembalikan seluruh tawanan dan budak yang diculik dari balik gerbang di negeri kami, dan membebaskan seluruh kota Scotia yang kalian kuasai."

Ahmed pun menutup kembali dan menyimpannya di saku yang sama setelah mengakhiri penawarannya ke Raja Cheldric. Seluruh orang-orang yang ada di ruangan itu terdiam mendengar tuntutan yang baru saja dibacakan, lalu kemudian muncul suara bisik suara bisik-bisik yang tidak bisa didengar jelas oleh Ahmed dari orang-orang yang berada di belakang raja. Sedangkan Raja Cheldric sendiri hanya terdiam saja membuat Ahmed menunggu dengan keringat dingin.

"Apa Jawabanmu terhadap penawaran kami?". Ahmed menagih jawabannya.

Raja Cheldric yang tadinya duduk di tahtanya tiba-tiba berdiri, lalu mendekat ke Ahmed.

"Jawabanku adalah, Ini…" Cheldric yang sedari tadi tangannya berada di gagang pedangnya tiba-tiba langsung menghunus pedangnya dan mencoba menebas leher Ahmed.

SRINGG

Seluruh pasukan yang ada di ruangan itu langsung mengarahkan tombak mereka ke arah Ahmed dan anggotanya. Termasuk orang-orang yang tadinya berdiri di belakang raja sekarang juga ikut menghunus pedang dan mengarahkannya ke Ahmed. Ahmed bisa melihat kelima anggotanya yang ada di bawah tangga mengangkat dan mengarahkan senapan mereka. Ke 12 pasukan yang berada di bawah tangga bergerak membentuk barisan yang mengepung Orhan dan keempat orang lainnya.

Ahmed yang hampir terkena tebasan raja Cheldric mampu bereaksi cepat dan menangkis pedang itu menggunakan senapannya.

"Hou, kau hebat juga ternyata bisa menangkis tebasanku."

Raja Cheldric pun yang gagal menebas Ahmed menarik kembali pedangnya dan berjalan mundur membiarkan kesatria yang dibelakangnya untuk menggantikannya melawan Ahmed. Keempat kesatria yang tadinya berdiri di belakang raja langsung maju menyerang Ahmed dengan pedang terhunus. Dengan cepat Ahmed menggantungkan senapannya di punggungnya, lalu mengambil katana yang tadinya disarungkan di punggungnya menghadapi 4 kesatria raja.

"Kau pikir ancamanmu akan membuat kerajaan kami takut dan bertekuk lutut begitu saja. Tch, jangan bermimpi, Kerajaan besar Leonia tidak sudi untuk bertekuk lutut pada negeri manapun, bahkan negeri elf sekalipun. Sekarang kalian semua harus menghadapi kematian kalian di sini karena kalian sudah berani datang langsung ke kandang singa ini."

Setelah mengatakan itu, Cheldric pun berbalik dan berjalan ke arah pintu aula memutari barisan kepungan pasukannya meninggalkan pasukan Ahmed dalam kepungan tentaranya. Setelah Cheldric keluar dari pintu ruangannya. Ahmed dengan gerakan cepat langsung menangkis serangan keempat kesatria itu sambil melindungi Vania yang tidak dapat bertarung jarak dekat.

Di tangga bawah, Orhan, Abdul, Mahmud, Rostam, dan Hendra mulai kerepotan karena diserang secara bergantian dengan pasukan yang mengepung mereka. Senapan pun tidak dapat digunakan di jarak dekat sehingga keempatnya harus menggunakan pistol atau pun pisau.

DOR DOR

Mahmud yang berhasil menghindari ayunan pedang dari salah satu prajurit Leonia itu memanfaatkan momen penghindarannya dengan gerakan cepat menembakkan dua tembakan ke arah leher prajurit itu menggunakan pistolnya. Salah satu Ghazi yang lain, Orhan juga sempat menembakkan senapannya sebelum mengeluarkan pisaunya membuat salah satu prajurit Leonia yang menyerangnya langsung terjatuh tak bernyawa.

DOR DOR

Ketiga Ghazi yang lain harus bertarung jarak dekat dengan tentara Leonia yang menyerang mereka. Abdul, Rostam, dan Hendra kesulitan bertarung jarak dekat dengan ketiga prajurit Leonia yang mereka hadapi karena kurangnya pengalaman mereka dalam bertarung jarak dekat. Hal ini menjadi lebih buruk mengingat bahwa pasukan yang mereka hadapi adalah tentara elit leonia yang juga pengguna sihir dan memiliki ketrampilan yang baik dalam berpedang.

SRING, JLEB

Ahmed berhasil membunuh salah satu Leonia yang menyerangnya, lalu menangkis serangan dari satu orang lagi yang masih berdiri di depannya.

"Orhan… hubungi unit Qomar dan minta mereka menjemput kita di dalam gedung ini" Teriak Ahmed sambil melanjutkan adu pedangnya. Namun musuh didepannya tiba-tiba terjatuh terkena anak panah di lehernya. Ahmed menoleh kebelakang dan melihat Vania yang ternyata menembakkan anak panah itu.

"Baik letnan! Abdul, Mahmud, lindungi aku!" Orhan berhasil menancapkan pisau di perut orang leonia yang melawannya jarak dekat.

DOR

Satu orang lagi yang melawan Orhan terjatuh karena tembakan yang berasal dari Ahmed yang sempat mengalihkan perhatiannya membantu kelima anggotanya. Dengan gerakan cepat, Ahmed kembali menghadapi dua orang yang tersisa di depannya dan membunuh keduanya dengan satu kali tebasan.

Ahmed dan Vania kali ini membantu kelima Ghazi yang berada di bawah anak tangga dengan menembakkan senapan atau anak panahnya ke arah tentara Leonia yang mencoba menyerang anggotanya dengan sihir. Lima orang Leonia terjatuh dalam waktu berdekatan karena tembakan Ahmed. Sedangkan mereka yang masih menghadapi para Ghazi dari jarak dekat membuat Ahmed tidak dapat menembak karena resiko tembakannya dapat mengenai anggotanya sendiri.

"Unit Qomar, disini mubarizun 1. Kami diserang dan membutuhkan jemputan sekarang juga."

"[buzz] Mubarizun 1, dimana posisi kalian sekarang?"

"Kami berada di dalam kastil lantai paling atas yang ada di bagian barat, kami di kepung dan tidak dapat keluar dari kastil"

"[buzz] baiklah mubarizun 1, bertahanlah beberapa menit."

"Letnan, unit Qomar sedang dalam perjalanan kemari, kita harus bertahan selama beberapa menit." Ujar Orhan ke Ahmed setelah menghubungi lewat radio.

Ahmed mengangguk dan kembali mengarahkan senapannya ke prajurit Leonia yang masih tersisa.

SLEB,

DOR DOR DOR DOR DOR DOR

Tidak lama kemudian prajurit Leonia yang tersisa dapat dikalahkan. Beberapa terbunuh oleh tebasan pisau anggota Ahmed, beberapa tertembak, dan 1 diantaranya terkena anak panah dari Vania.

"Hendra! Abdul!" Ahmed dan ketiga anggotanya menghampiri Hendra dan Abdul yang terjatuh. Hendra mendapat luka di perutnya sedangkan Abdul mendapat luka dilehernya.

"Letnan, Abdul sudah tidak dapat diselamatkan" Ucap Mahmud yang memeriksa luka dan tanda vital Abdul, sedangkan Hendra dirawat oleh Orhan. Ahmed menghela nafas berat sambil mengusap wajahnya.

"Lucuti senjatanya, kita tidak ingin musuh-musuh kita mencari tahu senjata yang kita gunakan bukan."

Mahmud mengangguk dan melucuti senjata, rompi dan kotak peluru yang ada di Abdul. Tidak lama kemudian pintu ruangan yang besar terbuka dan menampakkan puluhan pasukan Leonia reguler yang memasuki lapangan sambil berbaris dengan mengangkat perisai dan mengarahkan tombaknya. Ahmed dan pasukannya melangkah mundur secara perlahan sambil menyebar dengan Orhan yang memapah Hendra.

"Letnan, tidak bisa kah kita membawa jenazah Abdul?" Tanya Mahmud.

"Situasi kita tidak memungkinkan Mahmud. Kita serahkan saja jenazahnya kepada Allah".

Pasukan Leonia berbaris dengan barisan terdepan memegang prisai, barisan belakang campuran pemanah yang menggunakan busur silang (crossbow) dan juga pengguna sihir. Seketika setelah mereka membentuk barisan, pemanah dan penyihir mulai menembakkan anak panah dan sihirnya.

ZEP ZEP ZEP…

FLASH FLASH FLASH….

Ahmed dan anggotanya yang mulai ditembaki dengan banyak kilatan cahaya dan anak panah pun bergegas mencari perlindungan sambil menembaki barisan Leonia. Tembakan dari para Ghazi hanya mengenai pasukan terdepan yang memegang perisai. Meskipun orang yang memegang prisai jatuh terkena tembakan, namun dari belakang barisan muncul orang lain yang menggantikannya, sedangkan pengguna sihir dan pemanah tidak terkena tembakan.

Pasukan Ahmed menaiki tangga di dekat kursi tahta dan menggunakan meja-meja yang terdapat diatas untuk berlindung dengan memiringkan meja tersebut.

"Letnan, mereka terus bermunculan! Arrgghh"

"ROSTAM!"

Rostam yang terkena kilatan cahaya jatuh tergeletak dan tidak bergerak lagi. Rompi pelindungnya rusak dan terdapat luka besar di dadanya yang terkena kilatan cahaya sihir. Ahmed kembali fokus menembaki pasukan Leonia yang maju perlahan, mencoba membidik penyihir yang merepotkan mereka.

SLEB…

Ahmed terjatuh, tangannya meraba tubuh depannya dan mendapati anak panah yang menancap. Ternyata anak panah itu menancap di rompi Ahmed tanpa berhasil menembusnya. Ahmed memotong anak panah itu dan bangun terduduk.

"Ahmed! Kau tidak apa-apa?" Vania berlari ke Ahmed dan memeriksa tubuhnya.

"Aku tidak apa-apa, panahnya terkena rompi!"

Ahmed kembali bangun dan menembaki barisan Leonia. Sebuah granat diambilnya dari rompi, lalu mencabut pengamannya dan melemparnya ke tengah barisan pemanah dan penyihir.

BOOM..

Granat itu membunuh sebagian besar penyihir dan pemanah Leonia, namun tidak menghentikan pergerakan pasukan mereka. Pada titik ini, tentara yang tadinya memegang perisai dan tombak mulai menyergap maju menyerang pasukan Ahmed menaiki anak tangga. Pasukan Ahmed yang tersisa mulai fokus menembaki pasukan jarak dekat Leonia yang berlari ke arah mereka, termasuk Hendra yang menembak sambil terduduk dengan tangan kiri memegang lukanya dan tangan kanan mengarahkan senapannya.

"Dimana bala bantuan kita Orhan?" Teriak Ahmed sambil menembak pasukan bertombak yang berada tepat di depannya dengan 5 tembakan. Orhan meraih radionya setelah mendengar teriakan Ahmed menghubungi bantuan mereka.

"Qomar 1 kami sedang dikepung dan sudah kehilangan dua anggota kami. Butuh bantuan dan penjemputan sekarang juga!"

"[buzz] Bertahanlah mubarizun 1, kami sedang mendekati kastil Longnard. Kami menghadapi perlawanan pasukan udara musuh yang berjumlah banyak. ETA 1 menit."

"Diterima Qomar 1, kami menunggu kedatanganmu, mubarizun 1 selesai".

Orhan kembali menembaki pasukan Leonia dan sesekali melempar granat. Tiga tentara jarak dekat berhasil mendekat ke Orhan dan menghadapi Orhan menggunakan tombak. Semuanya terjadi begitu cepat sampai salah satu dari mereka berhasil menusuk Orhan di perutnya.

"ARRGGHHH!"

"Orhan!"

Ahmed dan Vania berjalan mundur mencari tempat perlindungan lain untuk menjauh dari pasukan tombak sambil menembak diikuti oleh Mahmud yang memapah Hendra yang kemudian berlindung di balik pilar kastil..

"Mahmud! Bagaimana keadaan Hendra?" Ahmed menanyakan keadaan Hendra.

"Tidak bagus Letnan, Hendra kehilangan banyak darah! Aku tidak bisa menghentikan pendarahannya!"

Hendra terbatuk-batuk dengan mulutnya mulai mengeluarkan darah.

BOOMM DUARR….

Tiba-tiba tembok kastil di belakang mereka meledak dan terbuka lebar memperlihatkan langit dan juga pemandangan luar kastil. Dari lubang itu muncul naga Wyvern Leonia yang seolah mencoba memasuki dinding kastil yang berlubang itu. Orhan dan Ahmed seketika mengarahkan senapan mereka ke naga itu dengan panik.

GRRAARRR…

BBBRRRTTTTTTT…

Naga yang sebelumnya menutupi lubang dinding itu terjatuh, digantikan pemandangan helikopter Ababil yang menghadap mereka. Helikopter Ababil yang menghadap mereka kembali menembakkan senapan gatlingnya disertai roket-roket kecil ke arah barisan puluhan tentara Leonia yang berbaris dengan barisan rapat.

"""Arrgghhh…..!"""

Puluhan tentara Leonia berteriak dalam kesakitan merasakan peluru 20 mm dari Ababil membunuh sebagian besar tentara Leonia yang tadinya berbaris rapi. Sebagian kecil masih hidup sambil mengeluarkan teriakan kesakitan karena kehilangan anggota tubuhnya.

Helikopter ababil kemudian berputar membelakangi mereka dan membuka pintu belakangnya (Ramp door) di mana di dalamnya menampakkan awak helikopter yang bersiap dalam posisi berlutut menembaki tentara Leonia dari dalam helikopter.

"[buzz] Mubarizun 1, naik dan cepat pergi dari sini. Belasan Wyvern Leonia sedang mengincar kita. Hilal 1 dan Hilal 2 mati-matian melindungi kita dari para Wyvern itu."

Ahmed, Vania, dan Mahmud yang memapah Hendra langsung berlari ke arah ramp door dan memasuki helikopter.

FLASH…

BUK..

Mahmud yang tadinya memapah Hendra tiba-tiba terjatuh dan tubuhnya terbujur kaku tanpa bergerak lagi. Hendra yang hampir jatuh langsung dipapah oleh salah satu awak helikopter, sedangkan satu awak helikopter lain menyeret tubuh kaku Mahmud yang sudah di dalam helikopter.

"MAHMUD….!" Ahmed langsung bergegas menghampiri tubuh Mahmud yang diseret oleh awak helikopter.

Salah satu penyihir ternyata masih hidup dengan tangan kirinya yang patah dan tangan kanan yang masih memegang tongkat sihirnya. Penyihir itu mencoba bangkit sambil masih mengarahkan tongkatnya. Beberapa tembakan sihir berhasil dikeluarkannya, namun meleset dan mengenai bodi helikopter tanpa menghasilkan kerusakan besar. Penyihir itu akhirnya kembali terjatuh setelah ditembaki oleh beberapa Awak helikopter sebelum ramp door tertutup.

"Mahmud… !" Ahmed menepuk pipi Mahmud dan menggoyang-goyangkan badannya. Salah kru heli yang didekatnya menggeleng, tanda Mahmud tak tertolong.

"Dia langsung syahid setelah terkena tembakan itu". Ujar kru tersebut.

"Uhuk, Uhuk, Letnan kau disana?" Suara Hendra mengalihkan perhatian Ahmed, membuat Ahmed kali ini bergerak mendekati Hendra yang terbaring di tandu, di dekatnya terdapat 2 petugas medis beserta Vania yang sibuk menangani lukanya. Vania menggunakan sihirnya mencoba menyembuhkan luka Mahmud. Ahmed berlutut di samping Hendra berdampingan dengan Vania yang masih berusaha menyembuhkan luka Hendra.

"Gadis muda ini berhasil menghentikan pendarahannya Letnan" Ujar salah satu medis sambil menunjuk Vania.

"Kopral Hendra terlalu banyak kehilangan darah, bila tidak segera mendapat transfusi darah dalam waktu 5 menit dia akan mengalami syok dan kehilangan nyawanya! Perjalanan ke kota Eklaire memakan waktu 10 menit, aku takut kita tidak punya waktu untuk menyelamatkan nyawanya dan hanya bisa menyerahkan semuanya pada Allah."

"Apa kita tidak bisa melakukan transfusi darah disini? Kalau perlu kalian bisa mengambil darahku!"

Petugas medis itu menggeleng.

"Kami tidak memiliki peralatan untuk itu disini. Lagipula kami juga tidak tahu golongan darahmu dan tidak bisa memastikan kecocokannya dengan Hendra."

Ahmed memukul lantai dengan tangan kanannya, merasa frustasi karena tidak dapat berbuat apa-apa.

"Sial!"

Salah satu tangan Ahmed merasakan genggaman, ternyata dari tangan Hendra.

"Letnan, tolong jangan marah. Mungkin ini memang sudah takdir dari Allah. Aku senang akhirnya bisa mati dalam keadaan syahid di jalannya"

Ahmed membalas genggaman tangan Hendra dan menatap matanya.

"Tolong, beritahu ibuku di Nusantara, bahwa aku telah berjihad dengan baik untuk Islam. Aku hanya memiliki sedikit penyesalan karena tidak sempat menikah di hidupku yang pendek ini. Aku hanya bisa berharap Allah sudah menyiapkan bidadari di sana untuk menyambutku heheh." Hendra terkekeh sejenak mengingat penyesalannya sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Kau tahu Letnan, aku ingin agar kau menyempatkan dirimu menikah selama waktumu masih ada di dunia ini karena itu sudah menjadi sunnah Rasul kita yang paling utama bukan?"

Ahmed mengangguk sambil sedikit tersenyum setelah mendengar penuturan pendek dari Hendra. Hendra kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum akhirnya genggaman tangannya melemas. Ahmed ikut terkekeh mengingat kata-kata terakhir bawahannya itu sebelum meninggal.

"Dasar, sebelum meninggal saja sempat-sempatnya dia membahas pernikahan".

Memang usia Ahmed sudah terlewat matang untuk menikah sampai salah satu pasukannya dapat berkata seperti itu. Ahmed mendengar suara tangisan dari sampingnya. Ternyata Vania yang menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Hiks… Hiks… maafkan aku Ahmed, aku tidak dapat menyelamatkannya. Maafkan aku… Hiks"

Ahmed menggeleng.

"Tidak perlu minta maaf, kau sudah melakukan apa yang kau bisa. Ini memang sudah takdirnya, kau tidak lihat tadi senyumnya? Dia bahagia bisa menjadi seorang syuhada."

Vania menghambur ke pelukan Ahmed sambil masih tetap menangis. Ahmed hanya membalas pelukannya dengan satu tangan sambil sesekali menepuk punggungnya.

"Bila polisi militer melihatmu, mungkin kau akan langsung dinikahkan saat ini juga letnan". Ucap salah seorang dari belakang Ahmed yang merupakan kru helikopter bernama Nashir.

"Biarkan saja polisi militer bertindak semau mereka. Selain itu ada yang ingin kau sampaikan?"

Nashir mengangguk.

"Beberapa senjata dan jenazah anggota regumu tertinggal di kastil, sebaiknya kau meledakkan senjata mereka agar tidak bisa digunakan oleh Leonia. Kemudian, Jenderal Ayyub juga sudah mendengar apa yang terjadi dengan pasukanmu. Jenderal berencana untuk menyerang kota Longnard dan Orluire secara bersamaan. Kami berhasil menghimpun sebanyak 10 ribu personil untuk penyerangan ini, jenderal mengharapkan partisipasimu di penyerangannya."

Ahmed mengangguk pendek. Lalu melepas pelukannya dengan Vania dan menekan-nekan perangkat yang menempel di pergelangan tangannya dengan bentuk mirip jam tangan.

"Ini untuk kelima anggota reguku, bismillah" Ucap Ahmed sebelum menekan menu "Ledakkan" di perangkatnya.

di saat yang sama kastil Longnard yang ditempati ratusan tentara Leonia meledak menghancurkan separuh atas kastil beserta orang-orang di dalamnya. Sayangnya raja Cheldric sudah lama pergi ketika kastil itu meledak. Sehingga Cheldric tidak termasuk orang-orang yang terkena dampak ledakkan. Cheldric berniat kembali ke ibukota Leon di kerajaannya merasa tidak dapat berada di garis depan lagi karena menyadari musuh yang dia lawan kali ini lebih berbahaya dari musuh yang lainnya.