Part 11 Pemberontak
Dua minggu berlalu semenjak Ahmed kehilangan 5 anggotanya. Pasukan Ghazi tidak dapat melakukan penyerangan ke kota Orluire dan Longnard sebelum memantapkan posisi mereka di kota Eklaire. Kolonel Umar memimpin penyerangan ke kota Orluire sedangkan penaklukan Longnard dipimpin oleh kolonel Ali dan kolonel Mahmud. Regu J17 yang dipimpin oleh Ahmed ikut melakukan penyerangan ke kota Orluire melewati hutan-hutan dan pepohonan di bawah kaki gunung. Keputusan ikut menyerang kota Orluire diambil oleh Ahmed sendiri karena Longnard yang baginya memberikan kesan buruk gugurnya 5 anggota pasukannya.
Di dalam ruangannya, Khalifah Osman sedang mendiskusikan tentang situasi terkini di Edela dengan para wazirnya.
"Bagaimana Proses pembangunan dermaga kita di Edela?"
"Berjalan 75 persen Sultan, kami juga sudah mulai melakukan perakitan ulang terhadap kapal-kapal perang yang akan dibawa melintasi Al Jisr. Dalam waktu 1 bulan Insyaallah kita sudah bisa mengoperasikan 2 kapal penjelajah dan beberapa kapal perusak disana. Jumlah pasukan kita yang beroperasi di Edela saat ini sudah mencapai 100 ribu personil dan masih terus bertambah. Kami menerima banyak permintaan dari berbagai komandan divisi di seluruh provinsi Daulah yang ingin ikut berpartisipasi dalam kampanye kita. Beberapa hari kedepan, pasukan dari Divisi eropa ke 6 dan Divisi ke 3 Nusantara akan mulai melintasi Al Jisr. Sayangnya Divisi di Afrika tidak bisa bergabung dalam waktu dekat karena disibukkan oleh wabah penyakit dari negara tetangga."
Khalifah mengangguk sambil memandangi dokumen beserta peta yang ditampilkan oleh benda pipih yang berupa gadget di depannya.
"Semoga Allah memberikan kita kelancaran pada perjuangan Jihad kita di Edela. Bagaimana dengan penduduk yang sekarang berada di bawah pemerintahan kita?"
"Mereka menerima kita dengan baik Sultan! Meskipun ada sedikit perlawanan berkaitan dengan pelarangan minuman keras dan juga tempat pelacuran. Warga-warga yang dikategorikan kurang mampu telah diberi bantuan berupa kebutuhan sehari-hari dan juga modal untuk mereka bekerja. Kabar baik lainnya, ada sekitar 500 warga kota Eklaire yang mendatangi pusat kota dan memeluk islam sejauh ini. jumlahnya terus bertambah setiap harinya."
Khalifah Osman berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah jendela memandang keluar ke arah kota Istanbul yang saat ini dipenuhi oleh gedung pencakar langit.
"Islam adalah rahmatan lil 'alamin Pasha. Tugas kita adalah menyebarkan Islam, tidak hanya di planet tempat kita berada, tapi di manapun manusia berada. Yang aku inginkan sebenarnya adalah menyebarkan islam melalui jalan damai, tapi bila kita mendapat perlawanan seperti yang dilakukan oleh Leonia, maka peperangan tidak dapat dihindari. Aku ingin pembangunan angkatan laut kita di Edela dipercepat Pasha! Pasukan kita di luar sana tidak memiliki akses laut dan akan menjadi bahan ejekan bagi musuh-musuh islam kita yang baru"
"Saya mengerti Sultan! Kalau perlu kami juga akan menerjunkan Unit udara terbaru kita pesawat SU120 dan Helikopter H-3. Jumlah produksi peralatan perang juga akan kita tingkatkan untuk memenuhi kebutuhan angkatan perang kita."
Khalifah mengangguk sebelum memberi isyarat pada wazirnya untuk meninggalkan ruangannya.
###
1 Bulan yang lalu
sekitar teluk persia
"TEMBAK!"
BOOM BOOM BOOM….
SHOOSHH SHOOSHH…
Belasan roket missile diluncurkan bersamaan dengan suara meriam 200mm yang juga ditembakan secara beruntun ke arah yang sama. Seseorang yang memakai topi perwira dan seragam loreng putih khas angkatan laut sedang mengamati target dari roket dan meriam itu menggunakan teropongnya. Hasilnya berupa ledakan yang besar dan merata menyelimuti seluruh daerah yang menjadi target utama latihan mereka.
"Seluruh Target berhasil dimusnahkan kapten! Pengujian hulu ledak misil kita berhasil memenuhi hasil yang diharapkan". Salah seorang prajurit yang juga mengenakan seragam loreng warna putih melapor ke atasannya tentang hasil dari serangan mereka.
"Misil dengan biaya pembuatan yang jauh lebih murah dan memiliki kemampuan dan daya ledak yang sama dengan misil lain ya… dengan begini pasokan dan kuota roket misil kita akan menjadi lebih banyak lagi."
"Benar kapten, kita bisa berada dalam kondisi pertempuran di laut lepas dalam waktu yang lebih lama tanpa perlu pasokan misil dari dermaga."
Pria yang dipanggil kapten itu mengangguk singkat, lalu mengamati status target mereka menggunakan teropong yang dikalungkan di lehernya.
Mereka baru saja melakukan uji coba rudal tipe baru yang memiliki biaya produksi rendah dan kualitas tinggi. Saat ini mereka berada di atas kapal perang ISS Barbarosa, salah satu kapal penjelajah yang sedang beroperasi di teluk persia. ISS Barbarosa yang bertahan sejak tahun 1950 dan mengalami berbagai pembaharuan, meskipun sekilas terlihat mirip kapal kuno perang dunia 2, namun persenjataan di dalamnya mungkin mengalahkan kapal modern lainnya.
Pemasangan CIWS terbaru dan meriam yang dulunya analog sekarang dioperasikan secara digital dengan auto loader. Bekas cerobong asap dialihfungsikan menjadi peluncur Rudal besar R14 yang hululedaknya dapat menghancurkan satu blok kota setiap rudalnya. Sedangkan ISS Barbarosa sendiri memiliki persediaan rudal R14 sebanyak 10 buah. Belum lagi silo rudal jelajah lain yang ditempatkan di beberapa titik dek kapal yang jumlahnya mencapai puluhan dan setiap silo dapat meluncurkan sekitar 4 sampai 7 rudal. Salah satu turet meriam yang ada di belakang kapal pun juga diganti dengan tempat peluncuran missil
"Letnan, dari mana asal ledakan nomer 3?"
"Dari meriam nomer 2 kapten, apa ada masalah?"
Kapten Fadil menurunkan teropongnya dan menoleh ke letnan yang berbicara dengannya.
"Ledakannya meleset 5 meter dari target, aku ingin meriamnya diatur lagi untuk peningkatan akurasinya. Aku tidak ingin tembakan kita meleset meskipun hanya satu senti."
"Siap Letnan, akan aku sampaikan ke tim teknis kita."
Kapten Fadil mengangguk dan kembali mengamati sisa ledakan dari hasil tembakan senjata kapalnya.
"Kapten Fadil, ada hal lain yang perlu aku sampaikan. Baru saja kami mendapat kabar bahwa kurang dari satu bulan seluruh armada Laksamana Ja'far akan dipindah tugaskan ke daerah Edela yang berada di balik Al Jisr."
"Itu artinya kita juga ikut dipindah tugaskan ke sana?"
"Benar Kapten, besok kita diminta untuk merapat ke dermaga dan melakukan pembongkaran kapal kita untuk dirakit ulang di dunia lain itu."
"Akhirnya angkatan laut juga akan berpartisipasi di balik Al Jisr. Baiklah, kalau begitu siapkan seluruh bagian kapal ini untuk dibongkar nanti, jangan sampai ada kerusakan. Aku ingin kapal kita ISS Barbarosa bisa bertempur maksimal setelah dirakit lagi."
Kali ini pandangan kapten Fadil beralih ke kapal lain yang tidak jauh dari kapal mereka dan ukurannya lebih besar. ISS Cordoba, salah satu kapal perang dari daulah yang juga aktif sejak perang dunia kedua dengan spesifikasi yang jauh di atas ISS Barbarossa. Memiliki 4 turet yang setiap turetnya terdapat 3 meriam berkaliber 380 mm. ISS Cordoba bukanlah yang terkuat di antara kapal perang daulah, tapi cukup ditakuti oleh negara lain.
Kapten Fadil, pria berdarah Yunani yang memiliki pengalaman tempur di berbagai operasi dan memimpin salah satu Kapal penjelajah Islam yang menjadi andalan ISS Barbarossa. Sudah beberapa tahun ini dirinya tidak melihat medan perang. Berita tentang pemindah tugasannya ke dunia di balik Al Jisr membuatnya kembali bersemangat. Itu artinya dirinya bisa kembali berjihad lagi terlepas dari kegiatannya yang beberapa tahun ini hanya dipenuhi latihan rutin biasa yang cukup membosankan baginya.
"Kapten, selama ini aku memiliki pertanyaan yang masih belum terjawab." Ujar sang letnan sambil mengikuti arah pandang kapten.
"Apa itu letnan?"
"Saat ini, hampir semua negara di dunia kita sudah tidak menggunakan kapal perang lagi dan hanya menggunakan kapal perusak saja. Negara terakhir selain kita yang menggunakan kapal perang adalah Amerika yang kemudian menonaktifkan kapal perang terakhir mereka menjadi musium 20 tahun lalu. Kenapa kita masih menggunakan kapal perang kapten?"
Mendengar pertanyaan bawahannya, kapten Fadil mengganti pandangannya ke arah Fadil.
"Letnan, menurutmu kenapa kapal kita masih menggunakan banyak meriam?" Kapten Fadil bertanya balik.
Letnan Fadil berbipikir sejenak, lalu menggeleng tanda tak tahu.
"Pada dasarnya amunisi meriam lebih murah untuk diproduksi dari pada rudal letnan, bahkan dengan rudal yang kita produksi sekarang masih tidak semurah peluru meriam. Dengan adanya meriam, kita tidak harus menggunakan rudal untuk menyerang jika tidak diperlukan. Selain itu, meriam juga dapat memberikan bantuan artileri yang bertubi-tubi, tidak seperti rudal yang jumlah peluncurannya lebih terbatas. Lagipula meriam-meriam yang ada di kapal kita saat ini sudah dikalibrasi hingga akurasinya mencapai hampir seratus persen."
"Ah saya paham kapten, jadi intinya ada pada efisiensi senjata."
"Benar letnan, di sisi lain kapal perang tidak akan hancur hanya dengan sekali hantaman. Butuh usaha cukup keras untuk menenggelamkan sebuah kapal perang. Dengan ukurannya yang besar, kapal perang juga dapat menampung jauh lebih banyak persenjataan, dengan kata lain kapal perang adalah sebuah benteng terapung. 10 Rudal tomahawk yang diluncurkan oleh Amerika saja tidak akan cukup bahkan untuk menyentuh ISS Cordoba dan kapal yang lain. Itulah kenapa angkatan laut kita menjadi angkatan laut yang paling ditakuti saat ini letnan."
Letnan itu pun kembali mengangguk karena sepenuhnya paham. Kapten Fadil melanjutkan kata-katanya.
"Aku dengar biaya untuk modernisasi satu kapal perang biayanya bahkan lebih besar dari pembuatan kapal perang itu sendiri ditambah dengan biaya perawatannya juga. Tapi para petinggi bilang kalau seluruh anggaran militer kita hanya menghabiskan 10 persen dari anggaran negara. Aku penasaran sebenarnya berapa banyak sumber daya yang dimiliki oleh negara kita."
"ini semua berkah dari Allah kapten, kita harus bersyukur untuk itu."
"Kau benar letnan, ini semua berkah dari Allah."
Modernisasi kapal perang memang memang membutuhkan biaya yang sangat banyak, seperti penggantian lambung kapal dengan logam komposit, sistem persenjataan yang diubah menjadi digital dan terpusat (Sistem CIC), penambahan senjata modern seperti CIWS, sistem anti rudal, sistem peluncuran rudal, dan penggantian mesin dengan mesin yang membuat kapal mampu melaju dengan kecepatan hampir dua kali lebih cepat.
Kapal-kapal kelas perusak dan penjelajah umumnya akan menggunakan mesin diesel, tapi kapal besar seukuran kapal perang menggunakan reaktor nuklir. Belum lagi dengan sistem pendukung lainnya. Untuk satu kapal perang saja biasanya butuh satu tahun untuk proses modernisasinya. Semuanya menghabiskan biaya miliaran dolar untuk satu kapal, dan di sini daulah Islam tidak hanya mengembangkan satu kapal saja.
###
Pemandangan pepohonan yang tidak ada habisnya membuat Ahmed bertanya-tanya sebenarnya seberapa luas hutan yang mereka lewati saat ini. Jalanan yang kecil membuat konvoi pasukan Ghazi yang dalam perjalanan ke Orluire harus berjalan dalam satu kolom. Mereka melewati jalanan yang berada di tengah hutan. Dari jalanan mereka bisa melihat gunung yang menjulang tinggi.
Ahmed saat ini sedang duduk diatas turet tank CV 7, memandangi pemandangan di sekelilingnya yang menurutnya mirip dengan kondisi wilayah eropa abad pertengahan yang biasa dia lihat di TV. Pasukan Ahmed tersebar di beberapa kendaraan yang menuju ke kota Orluire, beberapa duduk di atas tank dan sisanya berada di dalam Kendaraan APC Safir dan Hisan. Sehari setelah aksi Ahmed di Longnard yang menggugurkan kelima anggotanya, Ahmed dipromosikan menjadi kapten dan sekarang Ahmed harus memimpin 300 personil tentara yang terdiri dari 15 regu di kompi J.
"Rocktane, nama yang diberikan oleh penduduk lokal untuk gunung itu." Ucap Karim di samping Ahmed. Mereka menaiki tank yang sama. Di depan mereka tepat, Rasyid, Kemal, Aryan dan beberapa tentara lain yang tidak dia kenal berada di tank CV8 Mahmud. Jumlah tank Mahmud yang ada di depan Ahmed ada sekitar lima tank.
"Gunung itu hampir setinggi gunung yang ada di pegunungan Ural". Ahmed ikut berkomentar.
"Ahmed, Kau yakin Sylvania akan baik-baik saja di belakang sana tanpamu? Seingatku tidak ada orang lain yang dia kenal selain kau dan beberapa orang regu kita."
"Vania bukan seorang anak kecil Karim. Usianya bahkan jauh di atasku 100 tahun lebih, aku yakin Vania akan baik-baik saja".
Karim menghela nafasnya.
"Mengingat Elf itu sangat bersikeras untuk ikut denganmu, aku rasa dia punya ketertarikan tersendiri terhadapmu Kapten."
"Sudahlah, biarkan dia melakukan apa yang dia mau selama itu bukan hal yang terlarang dan tidak merugikan kita. Kau tidak perlu khawatir terhadapnya, kau tahu kan Lusie ikut dengan kita dengan menjadi anggota perawat. Lusie adalah salah satu orang yang dekat dengan Vania akhir-akhir ini."
Karim mengangguk sambil mengambil sebuah kain usang dan mulai mengelap senjata T-7 miliknya.
"Aku tidak menyangka Lusie menjadi Mualaf dalam waktu sekitar 1 bulan ini. Diam-diam gadis muda itu menyimpan ketertarikan besar terhadap Islam."
"itu juga terjadi berkat pengajaran tentang Islam yang diberikan oleh Faruq bukan? Aku lihat akhir-akhir ini mereka berdua terlihat semakin dekat".
Ahmed mengangguk mengiyakan perkataan Karim, lalu mengalihkan tatapannya kembali ke pepohonan hutan. Pandangannya menelusuri sela-sela hutan, niatnya ingin mengamati dan membandingkan hewan dan tanaman di Edela dengan di dunianya. Matanya menangkap pergerakan aneh di tengah hutan membuat matanya memicing.
"Ada apa Kapten? Kau melihat sesuatu?"
Ahmed mengangguk, lalu mengangkat senjatanya dan kembali mengamati pepohonan melalui bidikan senjatanya diikuti oleh Karim yang juga melakukan hal yang sama. Mode pemindai panas di bidikannya pun dihidupkan membuat celah-celah hutan yang gelap bisa terlihat lebih terang dan jelas. Ahmed kembali melihat pergerakan di tengah-tengah hutan. Kali ini pergerakan itu terlihat lebih jelas di mana yang bergerak di tengah hutan berwujud humanoid.
"Kapten, aku juga melihat pergerakan, kelihatan seperti sosok manusia. Mungkin tentara Leonia bersembunyi di tengah hutan dan berencana menyergap kita."
"Kita tidak bisa memastikannya Karim. Bisa saja itu pihak lain selain Leonia atau sisa tentara Scotia. Kita bahkan belum bertemu sisa tentara Scotia sama sekali bukan?"
Ahmed meraih radionya dan berbicara melalui radio.
"Amir 1 disini mubarizun 1 kami mendapati pergerakan yang mencurigakan dari dalam hutan, meminta untuk melakukan pemindaian area hutan menggunakan pemindai panas dan infra merah."
"[buzz] diterima Mubarizun 1, kami akan melakukan pemindaian dari udara menggunakan drone udara."
Karim dan Ahmed menunggu pemberitahuan selanjutnya sambil mengarahkan senjata mereka dan mengamati hutan. Pergerakan yang muncul di hutan semakin intens. Mungkin bila dilihat dengan mata telanjang tidak akan terlihat. Tapi alat bidik di senapan Ahmed dan Karim yang dilengkapi optik pemindai membuat semuanya terlihat jelas. Ahmed pun meraih perangkat radionya dan memberitahu seluruh anggota pasukannya.
"Perhatian untuk seluruh pasukan, ratusan pergerakan yang muncul ditengah hutan telah terdeteksi dan diasumsikan berbahaya. Siapkan peluru dan senjata kalian."
Suarak Klek dari sekitar Ahmed pun terdengar bersamaan, menandakan seluruh pasukan menyiapkan senjatanya dan mengarahkan senapan mereka ke arah pepohonan. Seluruh kolom tank dan kendaraan di belakangnya pun berhenti dan mengarahkan turet meriamnya ke pepohonan yang sama. Ahmed dan Karim melompat menuruni tank dan mengambil posisi berlindung di balik tank.
"[buzz] Di sini mubarizun 3, kami melihat cahaya api yang semakin mendekat dari dalam hutan".
"[buzz] Di sini mubarizun 5, kami melihat hal yang sama. Sepertinya perjalanan kita tidak akan semulus yang kita perkirakan".
Ahmed pun juga melihat cahaya api samar-samar yang berasal dari dalam hutan. Cahaya itu semakin terlihat jelas seolah mendekat ke arah mereka. Beberapa detik kemudian cahaya itu terlihat jelas berupa bola api yang menggelinding kearah barisan kendaraan mereka, jumlahnya pun tidak hanya satu, tapi belasan.
"BOLA API! Seluruh unit tank, ledakkan bola api itu!" Ucap Ahmed di radio.
Tank Khalid dan Tank Mahmud pun menembakkan meriamnya, meledakkan beberapa bola api yang menggelinding ke arah barisan mereka. Namun beberapa bola api berhasil lolos dari tembakan tank dan akhirnya membentur tiga tank Khalid dan tank Mahmud. Benturan bola api itu menimbulkan ledakan api yang membakar daerah sekitarnya.
"Sipahi 2, Sipahi 4, Mamluk 3, bagaimana status kalian?"
"[buzz] disini Sipahi 2, semua sistem berjalan normal. Sepertinya kami baik-baik saja."
"[buzz] disini Sipahi 4, kami tidak mendapati kerusakan selain goresan yang mungkin disebabkan bola api itu".
"[buzz] disini mamluk 3, roda kanan kami tidak merespon. Ledakan itu sepertinya memberikan kerusakan di bagian roda, tapi meriam kami masih bisa berfungsi normal."
Setelah bola api, dari dalam hutan muncul gelondongan kayu besar yang berayun dari pohon ke arah barisan Ghazi dan jatuh tergeletak di depan Sipahi 1 yang menjadi tank terdepan di barisan mereka, menghalangi jalan pasukan Ghazi. Tidak lama kemudian, suara sorakan atau lebih tepatnya teriakan dari banyak orang mulai terdengar, mereka menampakkan diri yang ternyata jumlahnya ratusan orang dan di dalam hutan masih ada banyak lagi yang bermunculan.
Mereka mulai menembakkan panah ke arah kolom barisan Ghazi dengan ratusan anak panah. Sebagian penah mereka pun juga disulut menggunakan api.
"Awas panah, berlindung!"
Seluruh infantri Ghazi berlarian mencari objek perlindungan, sebagian besar berlindung di balik tank dengan sisanya berlindung di balok kayu atau batu besar yang bisa mereka temukan. Setelah tembakan anak panah reda, sorakan orang-orang yang muncul dari hutan itu semakin mengeras disertai dengan derap langkah kaki cepat yang menandakan mereka berlari mendekat ke arah pasukan Ghazi. Beberapa dari mereka berlari dengan memukul-mukul perisai yang mereka bawa.
"Posisi menembak! Tembak sesuka kalian dan pertahankan diri kalian masing-masing!"
TATATATATATA
BOOM
TATATATA
Rentetan tembakan pun mulai terdengar dari pasukan Ghazi. Tentara asing yang tiba-tiba menyerang mereka dengan cepat mulai berjatuhan. Tembakan meriam tank dan juga senapan mesin di atasnya juga menemani tembakan infantri Ghazi dan semakin mempercepat jatuhnya korban di pihak musuh. Kali ini pasukan penyerang itu berlari dengan mengangkat perisai kayu mereka, namun perisai kayu yang mereka pegang tidak dapat menyelamatkan mereka dari terjangan peluru dan bom.
"[buzz] mubarizun 1, disini mubarizun 10, tahan pasukan mereka sampai kami datang. Kami beserta Kompi F, Kompi G, dan Kompi H akan memutar untuk mengepung mereka ke dalam hutan." Radio Ahmed berbunyi dan mengeluarkan suara dari regu dan kompi lain yang berada di barisan belakang kolom
"Diterima mubarizun 10, kami akan tahan mereka sebisa kami." Ahmed kembali menembakkan senapannya setelah menerima radio.
Beberapa pasukan Ghazy terlihat mulai terlibat dalam pertarungan jarak dekat dengan musuh yang berhasil lolos dari tembakan mereka. Mereka yang terlibat jarak dekat menyampirkan senapan mereka dan mengeluarkan pisau atau pedang yang sudah dimodernisasi dan mereka simpan di rompi bagian belakang. Beberapa yang lain ada yang memukul menggunakan senapan. Beberapa hari sebelum pemberangkatan ke Orluire memang sudah diputuskan bahwa seluruh pasukan infantri yang ditugaskan di Edela akan dilengkapi dengan pedang modern karena rawannya pertarungan jarak dekat yang terjadi di Edela. Pedang ini pun pada dasarnya merupakan versi sangkur yang diperpanjang ukurannya.
"HAAAAA!"
Salah seorang pasukan dari hutan berhasil mendekati Ahmed dan mengayunkan pedangnya ke arah Ahmed yang kemudian ditangkis Ahmed dengan senapannya. Dengan gerakan cepat Ahmed langsung menyampirkan senapannya sekaligus mengambil pedang katana nya. Tentara itu kembali mengayunkan pedangnya ke arah Ahmed yang kemudian kembali ditangkis oleh Ahmed sebelum Ahmed memanfaatkan momen gerakannya untuk menebas perut tentara itu. Baju pelindung yang terbuat dari kulit miliknya tidak dapat menahan tebasan katana Ahmed, membuatnya terjatuh dengan perutnya yang dipenuhi darah dan mungkin organ dalamnya yang keluar.
Beberapa tentara lain menyerbu ke arah Ahmed, kali ini jumlah mereka 4 orang. Mereka terlibat adu pedang sejenak dengan Ahmed sebelum dua di antara mereka ditebas oleh pedang Ahmed, sedangkan sisanya ditembak oleh Karim yang berada tidak jauh dari Ahmed.
DOR DOR DOR DOR
"Sepertinya kau menikmati sekali peranmu menjadi Samurai ya Kapten. Kau hanya perlu bilang saja kalau perlu bantuan".
Ahmed hanya tersenyum saja sambil kembali menyarungkan pedangnya ke punggung dan kembali menggunakan senapannya. Tentara hutan itu mulai kehilangan moral mereka melihat daya hancur yang ditimbulkan oleh alat perang tentara Ghazi. Mereka akhirnya mulai berlarian kembali ke hutan. Namun dibalik hutan, muncul kilatan cahaya yang disertai dengan bunyi tembakan. Tidak berapa lama kemudian, tentara hutan itu mulai kembali muncul dari dalam hutan. Kali ini dengan berjalan kaki dan kedua tangan mereka terangkat ke atas.
Jumlah orang hutan yang menyerah kurang lebih mencapai 200 orang. Dari belakang mereka muncul pasukan Ghazi yang mengarahkan senapan mereka ke orang yang menyerah itu.
"[buzz] Mubarizun 1 pasukan dari hutan berhasil kami kepung dan sedang kami amankan. Beberapa regu kami sedang melacak markas mereka saat ini."
"Kerja bagus Mubarizun 10, mereka tidak akan berani macam-macam lagi dengan kita kali ini."
Ahmed mulai ikut membantu mengarahkan para tawanan yang baru saja mereka tangkap untuk kemudian dibariskan. Karim yang bertindak sebagai wakil dari Ahmed mengarahkan infantri Ghazi lain di bawah perintah Ahmed untuk membentuk barisan pertahanan perimeter di sekitar mereka untuk berjaga-jaga bila ada pasukan lain yang mencoba menyerang lagi.
Ahmed berjalan di depan barisan tawanan yang baru saja dibentuk sambil mengamati para tawanan perang mereka yang baru satu persatu dengan tangannya yang siap menarik pelatuk kapan saja bila tawanan itu mencoba hal-hal konyol. Beberapa pasukan dari kompi E dan F juga turut mengelilingi dan menjaga tawanan. Tangan tawanan itu memang sudah bertangan kosong meninggalkan senjata-senjata mereka ditengah hutan. Tapi bagaimanapun tindakan pencegahan masih perlu dilakukan.
"Siapa di antara kalian yang menjadi pemimpin kelompok kalian, silahkan maju kedepan!" Ujar Ahmed lantang menggunakan bahasa prancis.
Para tawanan terlihat tidak mengerti dan bingung sambil saling memandang satu sama lain. beberapa detik berlalu dan tidak ada yang menjawab permintaan Ahmed untuk maju dan mengaku menjadi pemimpin. Ahmed pun kembali bertanya dan kali ini menggunakan bahasa Inggris yang biasanya digunakan oleh orang Scotia.
Detik berganti menit sampai akhirnya salah seorang diantara mereka maju kedepan. Seorang pria yang berada di pertengahan usia 30 an dengan wajah eropa.
"Apa kau pemimpin mereka?" tanya Ahmed ke orang yang maju dan saaat ini berada di depannya.
Orang itu menggeleng sejenak, lalu memperkenalkan dirinya.
"Namaku James Turner, pimpinan kami Lewis Conrad baru saja terbunuh ketika kami menyerang kalian dan aku selaku tangan kanannya menggantikan Lord Lewis memimpin tentara Scotia yang tersisa sekarang".
Wajah Ahmed berubah terkejut mendengar jawaban dari orang yang bernama James itu. Menurut James, mereka semua adalah sisa-sisa tentara Scottia yang masih tersisa. Ahmed tidak menyangka jika mereka akan bertemu dengan tentara Scotia secepat ini.
"Apa ada lagi tentara Scotia lain yang masih tersisa?"
"Di hutan ini kami semua adalah yang tersisa dari tentara Scotia, namun aku tidak tahu kalau diluar sana di tempat lain masih ada perlawanan dari rakyat Scotia yang lain. Lord Lewis dulunya adalah seorang jendral sebelum Scotia dikuasai oleh Leonia."
Ahmed mengangguk paham, lalu meraih radionya dan meminta 3 truk untuk mengantar para tawanan ke kota Eklaire. Rencananya nanti James yang menjadi pengganti pimpinan mereka akan langsung dibawa menemui Jenderal Ayyub.
"Baiklah, kau dan pasukanmu akan kami amankan di kota Eklaire. Di sana kau harus menjelaskan semuanya ke atasanku". Ucap Ahmed sebelum berbalik, berniat untuk melangkah menjauhi para tawanan.
"Tunggu, aku ingin tahu dari negeri mana kalian berasal? Aku tidak pernah melihat seragam dan bendera kalian sebelumnya. Awalnya aku kira kalian tentara Leonia yang menggunakan seragam lain."
Ahmed yang mendengar pertanyaan James menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
"Kami adalah tentara Ghazi dari Daulah Al Islamiyah"
Setelah menjawab, Ahmed melanjutkan langkahnya. Di saat yang sama James beserta tawanan lainnya kembali diarahkan untuk menaiki truk yang sudah datang untuk mengangkut mereka. Ahmed berjalan mendatangi Karim yang sedang mengamati Peta di dekat Tank Osman.
"Karim, berapa lama lagi kita bisa sampai ke kota Orluire?"
"Dengan kecepatan sebelumnya, kurasa sekitar 5 jam lagi Kapten. Dengan kata lain kita akan sampai di sana ketika sore menjelang malam. menurutmu apa kita perlu berkemah dan menunggu besok untuk menyerang kota?".
Ahmed menggeleng.
"Aku tidak tahu, keputusan ada di tangan kolonel yang menentukan kapan kita akan menyerang, tapi menurutku penyerangan malam juga tidak buruk karena di saat malam itu banyak pasukan musuh yang tidak siap berperang dan kita akan memiliki unsur kejutan."
Ahmed melihat sekelilingnya sambil mengamati kondisi pasukannya paska penyerangan dari tentara sisa kerajaan Scotia. Berdasarkan laporan yang dia terima, ada sekitar belasan pasukan yang mendapat luka-luka dan 5 Ghazy menjadi syuhada. Sedangkan di pihak musuh, Ahmed memperkirakan ribuan korban dari tentara Scotia, terlihat dari banyaknya mayat tentara Scotia yang sekarang sudah di pinggirkan oleh pasukan Ahmed dan nantinya akan diurus lebih jauh oleh pasukan logistik yang ada di belakang.
"Ayo, kita berangkat seka-"
"AHMED!"
Seseorang tiba-tiba menubruk dan memeluk tubuh Ahmed membuat Ahmed seketika terkejut. Lebih lagi orang yang saat ini memeluk tubuh Ahmed adalah Sylvania, seorang elf yang selama ini menemani perjalanan mereka. Ahmed mendapat tatapan tajam dari prajurit yang ada di sekelilingnya, termasuk Karim, membuat Ahmed menjadi salah tingkah sendiri.
"Ahmed, syukurlah kau baik-baik saja! aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan kalau terjadi apa-apa terhadapmu." Ucap Vania sedikit terisak sambil membenamkan wajahnya di dada Ahmed.
Ahmed diam saja sejenak tanpa membalas pelukan Vania, lalu setelah beberapa detik, Ahmed memegang pundak Sylvania dan sedikit mendorongnya membuat pelukan Sylvania terlepas. Ahmed mengarahkan pandangannya ke arah Vania sambil menggelengkan kepalanya.
"Vania, kau adalah seorang wanita dan aku seorang laki-laki. Aku sudah pernah bilang kan kita tidak boleh bersentuhan sembarangan."
Wajah Vania berubah sendu ketika Ahmed tidak membalas pelukannya dan malah melepaskan pelukan mereka.
"Kenapa Ahmed? Aku hanya khawatir terhadapmu! Apa karena agama kalian melarangnya?"
Ahmed mengangguk.
"Agama kami sangat menghormati wanita. Tidak semua laki-laki boleh bersentuhan dengan mereka tanpa alasan yang dibenarkan. Seorang wanita hanya boleh disentuh oleh ayah dan saudara laki-lakinya, atau laki-laki yang menjadi suaminya."
Vania pun terdiam sambil sedikit menunduk. Penjelasan tentang Islam yang menghormati wanita memang sempat membuat Vania sangat terkagum. Belum pernah ada kelompok atau kepercayaan manapun yang dia tahu menghormati sosok wanita seperti Islam. Di kota Eklaire dan wilayah lain yang sudah dikuasai oleh Islam, tidak pernah ada satu pun berita tentang seorang wanita yang dilecehkan oleh tentara Muslim menjadi buktinya. Namun entah kenapa aturan tersebut saat ini membuatnya sedikit kesal karena Vania tidak bisa memeluk atau bahkan menyentuh Ahmed-nya.
"Kalau begitu, aku ingin menikah denganmu agar kau menjadi suamiku dan aku bisa menyentuhmu kapan saja aku mau!" Ujar Vania sambil kembali mengangkat kepalanya setelah terdiam beberapa saat.
Ucapan Vania membuat seluruh pasukan yang sedang memerhatikan Vania dan Ahmed langsung terkejut dengan suara mereka yang tercekat. Begitu juga Ahmed yang mendapat ajakan Vania menikah membuat Ahmed terdiam sambil mulutnya sedikit terbuka. Ahmed beberapa kali membuka dan menutup mulutnya, bingung bagaimana harus menjawab Vania.
"Kita… tidak bisa menikah Vania."
Mendengarkan Jawaban Ahmed, seketika bulir-bulir air mata mulai berjatuhan dari bola mata Vania.
"Ke...napa?" Tanya Vania dengan sedikit terisak.
"Seorang muslim hanya bisa menikah dengan sesama muslim yang lain. maafkan aku Vania, kau bukanlah seorang muslim, karena itu kita tidak bisa menikah." Ahmed berusaha menjelaskan dengan suara yang dibuat datar seolah dirinya tidak terpengaruh oleh emosi Vania.
"sekarang kembalilah bersama dengan perawat yang lain. kita akan melanjutkan perjalanan."
Vania mengangguk singkat sebelum akhirnya berlari sambil menunduk meninggalkan Ahmed dan yang lain. Ahmed memberi tanda untuk seluruh pasukannya yang tadi berjaga untuk kembali menaiki tank-tank mereka dan melanjutkan perjalanan mereka ke kota Orluire. Tank dan kolom kendaraan lain pun mulai bergerak kembali melaju, mereka melewati unit Mamluk 4 yang rodanya sedang diperbaiki oleh kru tanknya dan membutuhkan waktu beberapa jam untuk dapat beroperasi lagi. Ahmed dan Karim pun juga menaiki salah satu tank Mamluk yang sebelumnya mereka naiki.
"Kapten, kau bisa saja mengajaknya masuk islam agar bisa menikah denganmu bukan?" tanya Karim ketika mereka sudah duduk di atas turet tank.
"Laa Ikraha Fiddiin, aku tidak mau memaksanya masuk Islam Karim. Aku juga tidak mau kalau dia masuk islam hanya untuk menikah saja. karena dengan begitu, akidahnya tidak akan sempurna. Aku ingin dia masuk islam murni karena keinginan dari hati terdalamnya bila memang dia mendapat hidayah."
"Kalau aku boleh tahu, apa kau menyukai gadis elf itu?"
Ahmed tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu. dia juga tidak dapat memungkiri bahwa hati kecilnya memang menyukai Sylvania.
"Allah akan mempersatukan kami dalam sebuah ikatan pernikahan bila kami berdua memang berjodoh. Untuk sekarang sebaiknya kita berfokus ke tugas kita."
Karim hanya menggeleng saja pada akhirnya. Urusan wanita merupakan salah satu perkara yang cukup sulit untuk ditangani oleh Ahmed. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa atasannya yang sudah berpangkat kapten itu masih belum bisa menikah sampai sekarang.
"Kalau di ingat-ingat kembali, gadis elf itu dulunya nampak dingin dan pendiam. Kenapa sekarang malah terlihat sangat emosional ya." Ujar Karim berbicara sendiri.
###
Truk-truk yang mengangkut para tawanan prajurit Scotia berjalan memasuki gerbang kota. James beserta prajurit lain yang di dalam truk memandangi bagian dalam kota dari jendela-jendela truk. Suatu pemandangan yang mengejutkan bagi mereka dimana suasana kota terlihat damai dan warga-warga kota sama sekali tidak menunjukan wajah suram. Mereka justru terlihat lebih bahagia dari terakhir kali James melihat keadaan kota yang beberapa bulan lalu.
James dan pasukannya yang dulu dipimpin Lord Lewis meninggalkan kota Eklaire dan mundur ke hutan ketika kedatangan pasukan Leonia. Waktu itu pasukan Scotia yang berjumlah 10 ribu kalah dan dihabisi oleh pasukan Leonia yang menyerang kota dengan jumlah pasukan 200 ribu. Pasukan Scotia yang hanya tersisa 2ribu orang mencoba melarikan diri melalui jalur rahasia di dalam kota menuju ke hutan dan memutuskan untuk bertarung di hari yang lain.
James kembali mengamati keadaan kota. Selain warganya yang baik-baik saja, bangunan-bangunan di kota terlihat masih utuh. Bahkan ada beberapa bangunan yang terlihat baru. Pasukan Ghazi terlihat berjaga di tembok kota dan di beberapa tempat di tengah kota. Mereka bahkan terlihat berinteraksi dan bertegur sapa dengan warga-warga kota.
"Tuan, penduduk kita tidak terlihat seperti orang yang terjajah. Mereka malah terlihat lebih bahagia dibanding terakhir kali kita berada di sini".
James mengangguk pelan sambil masih mengamati penduduk kota. Truk berhenti dan beberapa tentara Ghazi menyuruh mereka untuk keluar dari truk. Mereka diarahkan ke sebuah tempat yang sama kecuali James yang malah diarahkan ke gedung yang James ingat sebagai pusat kota. James memasuki gedung itu melewati lorong-lorong dan ruangan yang dipenuhi oleh tentara yang berseragam sama berlalu lalang. Banyak perubahan yang terjadi di bagian dalam gedung itu.
Sebuah cahaya bersinar terang di beberapa bagian langit-langit ruangan menerangi seluruh ruangan yang ada di dalam bangunan. James tidak tahu sihir apa yang mereka gunakan. Selama ini pasukan yang baru saja dilawannya berkali-kali menggunakan sihir yang belum pernah dilihatnya seperti kereta yang bergerak tanpa kuda, gajah besi, tongkat besi yang mengeluarkan api dan sengatan sihir. Orang-orang ini bahkan berbicara dengan orang lain yang tempatnya berjauhan dengan begitu mudahnya.
James diarahkan ke sebuah ruangan luas dan diminta memasuki ruangan itu tanpa ditemani tentara yang sedari tadi mengawalnya. Di dalam ruangan itu, terdapat berbagai alat yang juga tidak diketahui oleh James yang sebagian besar mengeluarkan cahaya atau lampu-lampu dengan warna berbeda. Di dalam ruangan itu terdapat satu orang yang duduk di balik meja di seberangnya.
Menyadari kedatangan James, Jenderal Ayyub berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati James.
"jadi, kau pimpinan tentara Scotia yang baru saja dihadapi oleh pasukan kami yang mengarah ke kota orluire?"
Tanya Al Ayyubi yang dibalas dengan anggukan oleh James.
"Namaku James Turner, Perwira dan salah satu kesatriaszxx prajurit Scotia." Ucap James memperkenalkan diri.
Ayyub mengangguk dan ikut memperkenalkan diri.
"Aku Ayyub, pimpinan tentara muslim yang berada di Edela. Kau pasti belum pernah mendengar tentang negeri kami Daulah Al Islamiyah kan?"
James menggeleng.
"duduklah" Al Ayyubi mengajak James untuk duduk di meja tamu. Di situ sudah terdapat dua cangkir dengan teko yang berisi teh. Al ayyubi menuangkan teh itu kedalam dua cangkir itu dan memberikan salah satunya ke James sambil menceritakan tentang Daulah Islamiyah secara singkat.
"aku dengar Scotia dulu adalah kerajaan yang merdeka sebelum diserang oleh Leonia beberapa bulan yang lalu."
"benar tuan, aku rasa tuan sudah mendengar banyak tentang kerajaan kami dari penduduk Scotia yang lain."
Ayyub mengangguk sambil menyesap cangkirnya, diikuti oleh James yang diminta ikut menyesap teh itu.
"apa yang akan terjadi pada pasukan kami yang ditawan?" entah kenapa James berani mengajukan pertanyaan itu. Padahal jelas-jelas setiap prajurit yang ditangkap dan ditawan oleh kerajaan lain pasti akan dijual sbagai budak bukan?
"kami akan membebaskan kalian setelah kami berhasil mengusir Leonia dari wilayah Scotia."
James membelalakkan matanya karena terkejut. Jawaban yang diterimanya ternyata tidak seperti apa yang dia bayangkan.
"jadi kami tidak akan dijual sebagai budak?"
"Islam menentang perbudakan James… di negeri kami bahkan sudah tidak ada lagi yang namanya budak. Sekarang, aku ingin kau bercerita tentang kerajaan scotia kepadaku."
###
Kolonel Umar memandangi kota Orluire menggunakan teropongnya. Beberapa drone pengintai udara pun juga sudah dikirimkannya ke kota mengintai keadaan bagian dalam kota. Suasana kota tidak berbeda jauh dari kota eklaire. Orluire adalah satu dari dua kota koastal besar yang ada di Scotia dan menurut hasil pengintaian, kota itu dijaga oleh sekitar 10000 an pasukan. Kolonel Umar yakin kalau mereka para warga masih berada di sekitar tembok kota dan belum ada peringatan adanya penyerangan membuat tidak bersiap untuk mengungsi.
"Kolonel, kita tidak bisa meratakan tembok kota, akan ada korban warga sipil yang terkena ledakan kita." Ucap Ahmed yang ikut mengamati kota di samping Kolonel Umar.
"kau benar Ahmed. Kita diperintahkan untuk meminimalisir korban dari warga sipil sebisa mungkin. Bahkan kita juga diperintahkan untuk membatasi kerusakan bangunan dan lingkungan kota."
Pasukan Ghazi sampai di daerah pinggiran kota setengah jam lalu, tepatnya di pinggiran kota bagian barat dan mereka baru saja selesai menunaikan sholat ishak berjamaah. Saat ini banyak pasukan berlalu lalang menyiapkan logistik, khususnya pasukan artileri yang sibuk menata peluru besar yang akan digunakan meriam Hav 150.
"kalau saja kita punya Rudal Balistik sekarang, kita bisa menghancurkan tembok dan gerbang tanpa korban warga sipil.". Ujar Ahmed kembali.
"Sayangnya Rudal itu masih ada di benteng Ghazi dan belum di sebarkan ke seluruh divisi pasukan yang ada di Edela". Jawab Kolonel Umar.
"Kolonel, bukannya Rudal itu bisa menjangkau kota Orluire dari benteng Ghazi?"
"Kau benar, tapi kita akan membutuhkan penanda laser bila ingin Al Battar 100 persen tepat sasaran di gerbang mereka."
"Aku dan pasukanku yang akan menandai gerbang mereka dengan laser. Kau bisa memanggil benteng Ghazi untuk meluncurkan roket itu besok kolonel!"
Kolonel Umar pun mengangguk, lalu berjalan ke salah satu Jip Jamal dan meraih radio didalamnya menghubungi benteng Ghazi. Sedangkan Ahmed memanggil anggota pasukan khususnya yang saat ini berjumlah 15 orang untuk bersiap mendekati gerbang kota untuk menandai roket Al Battar.
