Part 12 Orluire
Sylvania berjalan mengelilingi area tenda kesehatan mencari pekerjaan yang mungkin bisa dikerjakannya atau setidaknya membantu pekerjaan petugas medis yang lain. Berbagai petugas medis yang sebagian anggotanya perempuan juga berjalan kesana kemari untuk sekedar menata barang-barang kesehatan atau logistik. Sebagian lain hanya duduk berdiam diri disekitar tenda sambil mengobrol dengan petugas medis perempuan lain.
Mereka menggunakan seragam yang sama, baju longgar selutut dan celana putih lengkap dengan kerudung putih. Di kerudung dan dibagian bahu mereka terdapat logo bulan sabit merah. Berbeda dengan petugas medis laki-laki yang menggunakan seragam tentara biasa dengan tambahan arm band putih dengan logo bulan sabit merah dan helm yang diatasnya juga memiliki lambang bulan sabit merah.
Vania yang saat ini ikut bergabung dengan petugas medis pun menggunakan seragam putih yang sama dengan petugas lain lengkap dengan kerudungnya. Bukannya Vania ingin berhijab, tapi hanya karena kerudung itu sudah menjadi bagian dari seragam petugas medis. Keadaan di area tenda kesehatan memang tidak terlalu sibuk karena tidak ada tentara terluka yang perlu dirawat. Tentara yang terluka di pertempuran hutan pun sudah di bawa kembali ke kota Eklaire. Karena itu sebagian besar petugas menyibukkan diri mereka membantu barang-barang logistik seperti amunisi dan peralatan elektronik portabel lain.
Bosan setelah berjalan sekitar 1 jam dan tidak melakukan apa-apa, Vania pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke tendanya sendiri menemui Lusie. Vania memang ditempatkan satu tenda dengan Lusie. Mungkin karena mereka berdua sama-sama dari Edela. Mereka biasanya akan mengobrol bersama entah apa yang mereka berdua bicarakan. Wanita memang sejatinya pintar mencari bahan pembicaraan bila mereka sudah berkumpul dengan sesamanya.
Langkah kakinya berbalik menelusuri arah yang tadi dilewatinya. Sambil memperhatikan petugas lain yang berlalu lalang membawa tas obat atau peralatan yang tidak diketahuinya. Bentuknya sama-sama kotak semua, namun menurut Faruq benda-benda itu memiliki fungsi yang berbeda-beda. Vania merasa kagum dengan Lusie yang dalam sebulan ini sudah bisa menghafal fungsi-fungsi benda itu, sedangkan Vania yang belum genap seminggu bergabung dengan tim medis hanya bisa membantu dengan sihir penyembuhan yang dimilikinya meski bagi tim medis lain kemampuannya sangat berguna.
Langkah Vania tiba-tiba terhenti tatkala penglihatannya terarah ke sebuah tenda yang digunakan untuk tempat sholat. Di dalamnya memang terdapat puluhan orang yang baru selesai melakukan sholat Ishak dan berhambur keluar dari tenda. Tentunya dengan pintu keluar yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Namun yang membuat Vania terhenti bukanlah kegiatan sholat yang dilakukan oleh orang-orang muslim didepannya itu karena Vania sudah sering melihatnya dan menganggapnya kegiatan spiritual biasa. Tapi yang berbeda kali ini adalah salah seseorang yang baru saja selesai mengikuti sholat ishak berjamaah di tenda itu.
"Lusie?" Panggil Vania ke orang yang tadi sempat diperhatikannya.
Orang itu adalah Lusie yang baru saja keluar dari tenda sholat dan saat ini sedang menuju ketempat Vania berdiri. Lusie ternyata baru saja menjadi mualaf sekitar seminggu yang lalu. Di saat yang sama ketika Lusie belajar menjadi petugas medis dengan Faruq, Lusie juga belajar tentang Islam sampai akhirnya dirinya ikut memeluk agama Islam di kota Eklaire.
"Vania? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Lusie ketika sudah berada di depan Sylvania. Mereka kemudian mulai berjalan bersama ke tenda mereka berdua.
"Aku yang seharusnya bertanya seperti itu. apa yang kau lakukan di tempat berdoa mereka?" Vania tidak menjawab dan malah bertanya balik.
Lusie menundukkan kepalanya sedikit sambil menerbitkan senyuman di bibirnya. Selama seminggu ini Lusie memang sengaja tidak memberitahu Vania tentang dirinya yang masuk islam. Biarlah Vania tahu sendiri pikirnya dalam hati.
"Sylvania, Aku sudah menjadi seorang muslim sekarang. Wajar kan kalau aku berdoa ditempat ibadah orang Islam."
Vania membelalakkan matanya, bibirnya terbuka tanpa mengucapkan sepatah kata. Lebih tepatnya Vania bingung harus berkata apa sampai membuka dan kembali menutup mulutnya beberapa kali sebelum akhirnya menemukan kata-kata.
"Lusie, sejak kapan kau menjadi bagian dari mereka?"
Lusie pun menjawab sekaligus menceritakan dengan singkat bagaimana dirinya memeluk Islam, mulai dari kedekatannya dengan Faruq ketika belajar ilmu dasar medis. Dirinya ketika itu juga mulai tertarik dengan dunia Islam dan belajar tentang Islam dengan Faruq sampai akhirnya Lusie memilih untuk ikut memeluk Islam. Bahkan Lusie juga meminta Faruq untuk menikah dengan dirinya agar bisa membimbingnya tentang Islam lebih jauh lagi.
Awalnya Faruq sempat ragu-ragu untuk menerima permintaan Lusie mengingat usia Lusie yang masih tergolong remaja. Akan tetapi setelah Lusie bersikeras, Faruq pun akhirnya menerima permintaan Lusie dan berjanji menikahinya setelah penaklukan kota Orluire nanti.
Seorang muslim hanya boleh menikah dengan muslim yang lain.
Tiba-tiba Vania teringat dengan kata-kata Ahmed, Itu artinya Vania harus menjadi seorang muslim terlebih dahulu bila ingin membuktikan kata-katanya beberapa jam lalu ke Ahmed.
"Aku bahkan belajar bahasa Arab juga dan sekarang aku bisa berbicara dengan orang-orang Islam lainnya dengan mudah." tambah Lusie setelah menjelaskan tentang bagaimana dirinya memeluk Islam.
Tanpa sadar mereka berdua sudah sampai di tenda mereka. Mereka kemudian duduk berhadapan di tempat tidur mereka yang berjajar berdekatan sambil melanjutkan pembicaraan mereka.
"Jadi kau bisa memahami apa yang aku katakan sekarang?" Ucap Vania menguji kemampuan bahasa Arab Lusie.
"i…iya tentu saja! kau juga bisa berbicara bahasa arab ternyata."
"Keturunan Elf punya kemampuan alami mempelajari bahasa lain dengan mudah dan cepat."
"Ah… tentu saja, aku kadang sedikit iri dengan kalian para bangsa elf yang memiliki kemampuan sihir lebih banyak dan belajar lebih cepat dari manusia. Tidak heran kerajaan Elf menjadi kerajaan terkuat di Edela."
"Sepertinya kau tidak perlu iri lagi Lusie, manusia ternyata juga bisa melampaui kami bangsa elf seperti yang dilakukan oleh orang-orang Islam dari dunia lain bukan? Meskipun mereka tidak memiliki kemampuan sihir sama sekali, mereka bisa membuat alat-alat yang menakjubkan dan membuat mereka menjadi seperti sekarang."
Lusie mengangguk menyetujui perkataan Vania. Adanya peradaban manusia yang bisa melampaui peradaban yang dibangun bangsa Elf membuatnya lega dan menghilangkan kecemburuannya ketika membandingkan antara manusia dengan Elf.
"Lusie, kau mau kan mengajariku tentang Islam? Sebenarnya aku sendiri sudah belajar beberapa hal tentang Islam dari Ahmed, tapi rasanya hatiku masih kurang mantab" Pinta Vania tiba-tiba yang membuat Lusie terkejut, namun tak ayal bibirnya menyunggingkan senyuman sambil menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja aku mau mengajarimu! Kita berdua adalah teman kan? dan bila kamu mau memeluk Islam juga, kita berdua bukan hanya teman lagi, tapi saudara seiman." Jawab Lusie menerima permintaan si telinga runcing.
"Ah iya, Ahmed juga pernah bilang kalau seorang muslim merupakan saudara bagi muslim lainnya."
Lusie mengangguk mengiyakan Vania. Setelah itu Lusie berdiri mendekati kumpulan barang-barangnya dan menggeledahnya sejenak sebelum kembali di samping Vania dengan membawa sebuah buku.
"Ini, aku pinjamkan untukmu. Aku harap itu bisa mempermudah kamu belajar tentang Islam. Aku mendapatkannya dari Faruq"
Vania terlihat sedikit bingung sambil melihat sampul buku ditangannya yang bertuliskan huruf Arab.
"beneran tidak apa-apa kamu meminjamkan ini ke aku?"
"Tentu saja, lagipula aku sudah selesai membacanya."
Vania pun mengangguk dan berterimakasih ke Luise.
"Lusie, menurutmu apakah tidak apa-apa kalau seandainya aku menjadi muslim hanya untuk menikah?"
"Ehhh… siapa orang beruntung yang membuatmu tertarik itu? jangan-jangan, Ahmed?"
Sylvania diam saja sambil menunduk dan memegang erat buku yang dipinjamkan Lusie, dan Lusie pun paham jawabannya dengan hanya melihat reaksi Vania.
"Vania, kamu boleh masuk Islam dengan alasan apapun selama itu alasan positif. Tapi kata Faruq, jalan terbaik untuk masuk Islam adalah melalui akal dan pemikiran. Karena dari situ akan benar-benar membentuk keyakinanmu di dalam Islam. Yang terpenting setelah menjadi muslim adalah menjalankan Islam itu sendiri Vania."
###
Suasana malam membuat area perkebunan warga yang berada di tepi barat kota terlihat gelap seolah sinar rembulan yang membentuk bulan sabit tidak cukup untuk meneranginya. Suasana senyap tanpa ada suara sama sekali seolah hewan dan serangga disana tidak berani bersuara sedikit pun. Angin yang berhembus ringan membuat beberapa helai daun dari tanaman kebun itu bergoyang. Sebuah suara kresek kresek terdengar di salah satu bagian kebun itu.
Suara itu tak lain berasal dari regu J17 yang dipimpin oleh Ahmed yang sekarang tersisa 16 anggota. Memang karena regu J17 anggotanya dipilih oleh Ahmed sendiri, tidak heran jumlah anggotanya hampir dua kali lebih banyak dari regu-regu lain yang normalnya berjumlah 10 sampai 12 orang tiap regunya. Kemampuan mereka pun bisa dibilang setingkat dengan pasukan Amerika yang disebut 'Ranger'. Namun satu hal yang tidak dimiliki oleh pasukan Amerika atau pasukan manapun di dunia mereka adalah semangat Jihad Fi Sabilillah yang membuat mereka seakan tak takut mati.
Saat ini Ahmed dan anggota regunya berpencar menjadi 4 kelompok yang terdiri dari 4 orang tiap kelompoknya. Mereka akan bertugas untuk menghabisi musuh yang ada di sekitar tembok secepat mungkin dan mendukung sekaligus memberikan jalan untuk konvoi lapis baja memasuki kota. Pada akhirnya kolonel Umar memilih waktu malam untuk menyerang sekaligus menguji kesiapan musuh mereka terhadap serangan malam.
Tentu saja karena mereka akan menggunakan unsur kejutan, mereka harus lebih berhati-hati di dalam kota agar tidak menyerang penduduk mengingat bahwa penduduk kota tidak diberitahu tentang penyerangan ini dan kebanyakan mereka tidak akan sempat mengungsi atau mencari tempat berlindung. Kolonel Umar memberikan aturan yang lumayan ketat dalam kontak senjata kali ini dimana pasukan Ghazi hanya diperbolehkan menyerang individu yang memegang senjata.
"Mubarizun 1-1 disini Mubarizun 1-3 kami sudah berada di posisi."
"Mubarizun 1-2 kami Sudah di posisi dan siap melindungi bagian belakang kalian."
"Mubarizun 1-4 siap di posisi."
Ahmed berhenti sejenak, memandangi ketiga orang yang bersamanya, Karim, Rasyid, dan Hamzah yang mengangguk bersamaan sebelum mereka kembali bergerak ke posisi mereka. Mereka dapat melihat tembok kota yang disinari oleh obor di beberapa titik yang merata ke tembok. Begitu juga dengan rumah-rumah yang berada di luar tembok yang menampakan cahaya kemerah-merahan di beberapa jendela yang terbuka dan jalanan di depannya.
Tidak lama kemudian mereka berhenti di satu titik, lalu sambil menunduk di balik tanaman perkebunan, Ahmed meminta Karim menghubungi kolonel Umar dan mengkonfirmasi kesiapannya untuk memulai operasi penyerangan kota. Dari titik mereka berada, mereka dapat melihat gerbang yang ukurannya cukup besar untuk dilewati satu tank. Di samping kanan kiri pintu masuk terdapat dua obor besar yang menyala menerangi gerbang. Daun pintu gerbang sendiri merupakan kayu yang terlihat sedikit tebal, perkiraan Ahmed pintu itu mungkin setebal 2cm.
"Karim, hubungi Kolonel bahwa regu kita sudah berada di posisi dan siap memulai penyerangan kapan saja." Pinta Ahmed ke Karim yang kemudian diangguki olehnya.
Karim pun menyalakan tombol radionya dan mulai berbicara di radio.
"Amir 2, Amir 2 disini Mubarizun 1, kami semua sudah berada di posisi."
Hening sesaat tanpa ada jawaban dari seberang radio, Karim pun memutuskan mengulang kalimatnya di Radio.
"Amir 2 disini Mubarizun 1 Kami siap melakukan penyerangan, apa kau mendengar?"
Mereka kembali menunggu sesaat dalam keheningan sebelum akhirnya radio berbunyi mengeluarkan suara yang sejak tadi mereka tunggu.
"[buzz] Disini Amir 2, bersiaplah untuk bertempur. Pasukan yang lain sudah mulai bergerak menuju kota."
"Diterima Amir 2, Mubarizun 1 selesai."
Karim menoleh ke Ahmed yang sedang membidik salah satu penjaga yang berdiri di depan balista besar dan melaporkan hasil panggilannya.
"Seluruh pasukan sudah bergerak kapten, Insyaallah tugas kita sekarang hanyalah menunggu tank memulai serangan pertama." Ucapnya sambil menyiapkan senapannya dan mengarahkannya ke arah depan. Diikuti oleh Rasyid dan Hamzah yang juga sudah bersiap dengan senjata mereka lebih dulu sambil mengamati area sekitar untuk memastikan mereka aman dari tentara Leonia yang sedang berpatroli.
Ahmed mengangguk singkat sambil tetap fokus membidik targetnya.
"Entah kenapa aku tidak melihat satu pun tentara yang berpatroli di luar gerbang." Ujar Rasyid sambil membidikkan senjatanya ke area perumahan depan gerbang, tentunya dengan alat bidikan infra hijau yang juga digunakan anggota lain.
"Mungkin keamanan di zaman pertengahan memang tidak seketat di zaman kita yang rawan akan upaya penerobosan perbatasan dan upaya sabotase." Hamzah menanggapi, bidikannya difokuskan ke menara yang terdapat 3 orang saja di tiap menaranya.
"Mereka yang berpatroli di tembok dan gerbang pun juga menjadi sasaran empuk untuk kita" tambah Hamzah dan melepaskan pandangannya dari bidikan senjatanya.
"Pastikan saja kalian tidak menembak mereka sebelum pertempuran benar-benar dimulai, kita tidak ingin posisi kita terbongkar."
Mereka menunggu gerbang kota dihancurkan oleh tembakan tank sebelum mereka mulai ikut menyerang, waktu dua menit terkesan sangat lama bagi mereka. Tiap detik terasa seperti satu jam. Ahmed bahkan bisa merasakan sedikit bulir keringat yang mengalir di dahinya. Padahal udara malam itu lumayan dingin seperti dinginnya malam di daerah eropa.
Penantian mereka akhirnya terbayar ketika mereka merasakan tanah di sekitar mereka sedikit bergetar. Rasyid menoleh ke arah belakang dan melihat kendaraan yang menjadi sumber getaran itu, tank Mahmud. Tank yang tadinya bergerak itu tiba-tiba berhenti sambil mengarahkan moncongnya ke arah gerbang. Tak lama kemudian tank itu menembakkan meriamnya yang disertai suara ledakan yang cukup keras.
BOOM
DUAARRR
Gerbang kota pun langsung meledak terkena peluru dengan hulu ledak tinggi dari kaliber 125mm tank Mahmud dan meninggalkan lubang besar di tengah gerbang. Seluruh pasukan Leonia yang berjaga pun langsung terkejut melihat gerbang kota yang tiba-tiba meledak.
"Ini dia… Semua unit, mulai penyerangan!" Perintah Ahmed melalui radio sambil mulai menembakkan senapannya yang sedari tadi dibidikkan ke arah penjaga kota di dekat balista. Tembakan itu pun juga disusul oleh tembakan anggotanya yang lain, entah itu dari ketiga orang yang saat ini bersamanya atau pun anggota lain yang dibagi menjadi 3 kelompok.
Ledakan dari tembakan tank untungnya hanya mengenai gerbang dan sekitarnya saja dan tidak sampai mengenai rumah pendudduk. Di dalam hatinya, Ahmed berdoa untuk keselamatan penduduk sipil yang berada di rumah-rumah. bagaimanapun mereka tidak seharusnya menjadi korban peperangan yang tidak ada sangkut pautnya dengan diri mereka. Gerbang yang hancur terkena tembakan tank meninggalkan asap yang cukup tebal untuk menghalangi pandangan mata telanjang pasukan Ghazi.
Beberapa detik setelah ledakan, asap yang mengepul di tempat gerbang pun akhirnya mulai terurai sedikit demi sedikit, memperlihatkan sisa tembok dan gerbang yang tidak lebih dari tumpukan puing-puing bebatuan. Radio Karim pun berbunyi menandakan seseorang disebrang sana sedang berbicara dengan mereka dan bisa didengar oleh seluruh anggota regu Ahmed.
"[buzz] Seluruh pasukan, mulai penyerangan, Allahu Akbar!"
""ALLAHU AKBAR!"" Regu Ahmed pun bersama-sama meneriakan takbir.
TATATAATATA
Penjaga kota yang tiba-tiba ditembaki oleh pasukan Ahmed tidak dapat memberikan reaksi apa-apa dan dengan cepat berjatuhan bagaikan lalat. Mereka bahkan terlihat tidak menyadari sedikit pun bahwa kota yang mereka tempati akan diserang malam itu. Sebagian mencoba menyerang balik dengan panah dan sihir. Salah satu tentara Leonia berlari di atas tembok menuju salah satu menara yang memiliki lonceng di atasnya. Namun belum sempat tentara itu menyentuh lonceng, tubuhnya terjatuh dan tergeletak tak bernyawa. Yusuf menyunggingkan senyum tipis karena keberhasilannya mencegah tentara itu membunyikan lonceng.
Orang-orang Leonia itu sebenarnya sudah tahu bahwa kota mereka baru saja dikepung beberapa jam lalu. Namun mereka tidak memperkirakan serangan langsung yang datang dari tentara Muslim secepat ini, apalagi gerbang kota mereka dihancurkan tanpa peringatan sama sekali. Tank-tank dan lapis baja lainnya yang sudah membentuk konvoi mulai bergerak lagi memasuki gerbang kota sambil di iringi oleh tembakan dari regu Ahmed dan pasukan yang lain.
Tak terasa dalam waktu kurang dari 5 menit, puluhan atau bahkan ratusan tentara yang ada di atas tembok berguguran. Tentara Leonia mengira yang menyerang mereka sekarang berjumlah ratusan orang mengingat cahaya api yang berkedip di kebun yang mereka tembaki sekarang muncul dari berbagai tempat yang berbeda dan mereka bahkan sama sekali tidak dapat melihat figur yang berada di balik bayangan itu.
Sebagian prajurit kehilangan moral dan meringkuk dibalik pinggiran tembok sedangkan sebagian lainnya menembak asal-asalan. Tak lama kemudian pasukan bantuan dari dalam kota mulai berdatangan di tembok dan di belakang reruntuhan gerbang yang sudah diledakkan tank. Pengguna sihir yang baru datang mulai mencoba membuat perisai kasat mata yang memblokir peluru dari tembakan pasukan Ahmed.
Namun, tembakan kaliber besar dari kendaraan lapis baja ringan mulai melubangi perisai dari pengguna sihir itu. Bahkan beberapa peluru kaliber 20mm dari lapis baja ringan Safir juga mengenai sejumlah pengguna sihir Leonia.
"Unit mamluk, kami kesulitan menyerang pasukan Leonia di tembok karena perisai mereka. Bantu kami menghancurkan perisai mereka."
"[bzzz] diterima Mubarizun 1"
Moncong salah satu tank terdepan bergerak mengarah ke deretan atas tembok yang dilindungi perisai pengguna sihir. Setelah moncong tank tersebut berhenti bergerak, tank itu pun memuntahkan pelurunya dan menghantam perisai tersebut, membuat perisai itu hancur dan pecah layaknya kaca. Tembakan dari senapan pasukan Ahmed dan infantri lainnya pun mulai menembus area yang tadinya dilindungi perisai itu.
Dalam waktu cepat pengguna sihir di atas tembok kembali berjatuhan, begitu juga pasukan reguler dan pemanah Leonia yang di atas tembok. Pinggiran-pinggiran tembok pun juga rontok terkena peluru 12.7mm dan 20mm. Tembakan dari meriam tank pun juga memberikan kerusakan yang lebih jauh terhadap tembok-tembok itu dan meninggalkan kawah-kawah besar. Pasukan-pasukan Leonia yang berlindung di belakang pinggiran tembok itu pun banyak yang terkena tembakan peluru kaliber besar.
Yusuf yang memegang senapan runduk dari jauh juga turut serta menghabisi penyihir mereka satu persatu sampai akhirnya tidak ada lagi penyihir yang berposisi di tembok kota dan hanya ada pasukan reguler biasa. Pengguna sihir adalah target prioritas bagi Yusuf mengingat mereka memberikan ancaman yang jauh lebih besar terhadap para Ghazi.
Tank yang tadinya menembak gerbang dan bagian atas tembok pun mulai bergerak lagi diikuti oleh tank lain dan kendaraan lapis baja yang di belakangnya. Sambil bergerak maju ke arah gerbang, senapan mesin 12.7mm yang ada di atas tank dan dikendalikan dengan remot dari dalam pun tidak ketinggalan menembak secara konstan ke arah tembok. Sejumlah infantri juga ikut maju bergerak di belakang atau di sekitar tank dan lapis baja itu.
Sambil terus menembak, tank yang membentuk kolom itu maju perlahan, di ikuti oleh 2 tank Mahmud lain dan 3 Tank Khalid di belakangnya. Tank-tank itu bergerak diiringi dengan pasukan infantri yang berjalan, berlari kecil, dan sesekali menembak sambil berlutut di samping kanan kiri tank-tank itu.
Orang-orang yang tadinya berada di dalam rumah berhamburan keluar dari rumah mereka dan berlari memasuki tembok atau setidaknya mencari tempat berlindung. Tak lama setelah tank pertama mulai memasuki kota, lonceng kota yang ada di dalam pun ternyata mulai dibunyikan.
TENG TENG TENG TENG
Pasukan Leonia terlihat mulai berhamburan dari beberapa gedung yang ada di dalam kota. Mengetahui gerbang mereka telah ditembus dan pasukan Ghazi mulai memasuki kota, pasukan Leonia pun mendadak banyak yang kehilangan moralnya. Rantai komando pasukan Leonia menjadi tidak beraturan dan pertahanan mereka pun kacau tanpa menimbulkan perlawanan yang terorganisir.
Tiba-tiba terdengar suara raungan dari dalam tembok, suara yang sekarang tidak asing lagi di telinga Ahmed. Lalu tidak lama kemudian, sekelompok Wyvern yang ditunggangi kesatria Leonia pun mulai terlihat. 3 di antaranya bertengger di tembok dan belasan lainnya terbang di sekeliling kota. Karim yang mengetahui munculnya pasukan wyvern dari Leonia kembali menghubungi pusat komando lapangan untuk meminta bantuan udara menghadapi Wyvern itu.
"Amir 2, Kami melihat pasukan udara Leonia beterbangan di atas tembok dan wilayah kota. meminta bantuan udara dari unit Hilal atau Siroj."
"[buzz] 3 unit Saqr dan 2 SU110 sedang dalam perjalanan dan akan sampai dalam waktu 5 menit. Untuk sementara kita mengandalkan senjata dan kendaraan anti udara biasa untuk menghadapi mereka."
Pasukan Ahmed pun mulai bergerak meninggalkan posisi mereka untuk ikut memasuki kota mengingat pasukan Leonia yang menjaga gerbang sudah dihabisi. Karim menoleh ke arah Ahmed dan memberikan usul ke Ahmed untuk menghadapi pasukan udara Leonia.
"Kapten, Ismail dan Tariq membawa AR5 dengan masing-masing 3 amunisi. Mereka dapat melumpuhkan Wyvern yang ada di tembok sebelum kita mulai menembaki mereka."
Ahmed pun mengangguk menerima usulan Karim.
"Hubungi mereka berdua dan minta mereka menjatuhkan kedua penerbang itu."
Karim kembali berbicara di radio, kali ini menghubungi anggota regu mereka yang tersebar di tempat lain dan belum berkumpul bersama kelompok Ahmed.
"Mubarizun 1-3, Mubarizun 1-4, di sini Mubarizun 1-1, perintah dari kapten untuk menjatuhkan 3 Wyvern yang ada tembok kota."
Setelah mengakhiri panggilan radio, beberapa detik kemudian, sebuah roket meluncur dari arah kanan dan kiri posisi Ahmed menuju ke Wyvern yang bertengger di tembok. Meninggalkan asap di tempat roket itu diluncurkan. Pasukan Leonia yang ada di atas tembok memandang roket itu sepintas dengan kagum. Namun mereka segera berubah ketakutan setelah tahu kemana roket itu mengarah.
Wyvern yang tadinya bertengger di atas gerbang mencoba terbang kabur menghindari terjangan roket itu, tetapi usaha mereka sia-sia dan roket itu seolah mengejar kemana saja arah Wyvern itu terbang. Dalam sekejap, Wyvern yang menjadi peningkat semangat sekaligus kebanggaan tentara Leonia itu meledak dan jatuh. 2 diantaranya mati kehilangan sayapnya, sedangkan satu yang lain kehilangan bagian ekor kebawah.
Regu Ahmed pun mulai memasuki gerbang kota beriringan dengan tank Osman yang sibuk menembaki barisan tentara Leonia yang mendekat lengkap dengan pemanah dan pengguna sihir.
TATATA TATATA
ZEP ZEP FLUSH ZEP FLUSH
Regu Ahmed mulai mencari objek atau benda benda solid untuk berlindung dari tembakan anak panah dan kilatan sihir. Ahmed dan Hamzah berlindung di sebuah gerobak kayu, mereka kembali menunduk dan menembak setelah berada di belakang gerobak. Begitu pula dengan Rasyid dan Karim yang menemukan tempat perlindungan dibalik tank. Mereka berlindung dan menembaki pasukan Leonia yang berbaris di depan mereka.
Di dalam kota, Ahmed yang mulai berkumpul dengan kelompok regunya yang lain pun mulai menanyakan kondisi mereka.
"Kalian, apa ada yang terluka?" tanya Ahmed ke anggotanya yang lain. Ramzi yang menjadi pimpinan kelompok ketiga yang ada di sayap kanan melapor terlebih dahulu.
"Alhamdulillah, kami baik-baik saja Kapten. Tembakan mereka acak dan tidak beraturan. Tariq sempat tertembak anak panah di rompi nya setelah menembakkan roket udara, untungnya anak panah itu sama sekali tidak dapat menembus rompi anti peluru kita."
Laporan yang sama disampaikan dari pemimpin tiap kelompok dimana seluruh anggotanya baik baik saja selain mendapat goresan helm dan rompi yang juga didapat oleh Indra. Seorang prajurit lain bagian dari pasukan utama yang baru datang mendatangi Ahmed sambil mengucap salam dan menjabat tangannya.
"Assalamualaikum Kapten Ahmed".
"Waalaikumsalam, Letnan Evren…"
"Kapten, aku dan seluruh regu kompi ke 12 mendapat perintah untuk ikut bergabung di bawah komandomu. Kita ditugaskan menjadi pasukan terdepan yang memasuki dan mengamankan kota bersama kompi ke 10 dan ke 11. Kolonel Umar meminta kita untuk tidak merusak bangunan dan tanaman yang tidak perlu dirusak serta mencoba untuk tidak membunuh hewan ternak penduduk."
Ahmed mengangguk.
"Dimengerti, itu sudah peraturan dasar kita dalam peperangan kita letnan. Ayo, kita masih perlu memasuki kota dan membasmi musuh-musuh yang ada di dalam hingga kota ini bisa dibebaskan. Pastikan pasukanmu dan pasukan lain tidak membunuh para tentara Leonia yang sudah menyerah di dalam."
Letnan Evren mengangguk dan mereka pun bergerak mengiringi tank Mahmud memasuki kota lebih dalam. Di salah satu persimpangan, mereka kembali diserang oleh pasukan Leonia dari samping. Ahmed dan tentara lainnya berusaha berlindung dari tembakan itu di balik tank atau bebatuan bekas gedung yang rusak menghindari serangan panah. Dua orang dari regu lain terkena anak panah di kaki atau lengan mereka yang segera ditangani petugas medis.
Tank Mahmud yang ada di depan tidak mendapat efek apa-apa setelah dihujani oleh ratusan anak panah dari tentara Leonia, membuat moral tentara pertahanan itu menjadi semakin runtuh. Tangan mereka gemetaran melihat anak panah yang mereka tembakan hanya memantul dari tank seperti tembok yang dilempari kerikil kecil.
Prajurit yang tadinya melepaskan anak panah mundur ke belakang digantikan oleh pasukan yang memegang perisai menutup barisan dan mengacungkan tombaknya kedepan. Mereka berdiri tegak seolah perisai dan barisan mereka tidak dapat ditembus oleh pasukan yang ada di depan mereka. Namun mereka menyadari kesalahan mereka ketika moncong-moncong hitam yang ada di kereta besi dan tentara hitam di depan mereka mengeluarkan kedipan api.
Peluru-peluru yang ditembakkan pasukan Ghazi dengan mudah menembus perisai-perisai tentara Leonia dan seketika barisan tentara Leonia berjatuhan terkena rentetan tembakan pasukan Ghazi. Tembakan meriam tank Mahmud pun menambah kengerian mereka di mana sejumlah besar tentara yang berbaris bergerombol langsung mati seketika terkena ledakan tembakan tank.
GROOAARR
Suara raungan yang berasal dari udara menarik perhatian para Rasyidin. Penunggang-penunggang Wyvern milik Leonia mulai berdatangan lagi membantu pasukan mereka yang ada di darat. Sambil mengarahkan pedang runcingnya, mereka terlihat mulai melafalkan sihir dengan pedang runcing ditangan mereka yang mulai menyala-nyala. Namun sepertinya rapalan mereka tidak terselesaikan karena Wyvern yang mereka tunggangi mulai berjatuhan.
BRRRTTTTTT
Tiga unit helikopter Saqr kali ini sudah siap membantu dan melayang tepat di atas posisi Ahmed. Ketiganya menembakkan segala persenjataannya ke arah pasukan Wyvern yang ada di seluruh kota di udara. Disusul oleh suara desingan jet yang lewat sambil meluncurkan roket udara, mengenai 3 Wyvern lain yang tidak menyisakan apa-apa setelah ledakan roket itu.
"[buzz] Di sini Hilal 3, serahkan ancaman udara pada kami. kalian bisa berfokus untuk mengamankan kota yang ada di darat."
Pasukan Leonia yang tersisa di dekat gerbang pun langsung berlari mundur menyelamatkan diri mereka masing-masing. Beberapa di antaranya melemparkan senjatanya ke tanah dan mengangkat tangannya sambil berlutut setelah melihat teman-teman mereka yang berusaha kabur jatuh ditembaki pasukan Ghazi. Jumlah tentara yang menyerah tidak lebih dari 15 orang. Keputusan menyerah itu juga diperkuat dengan pasukan Wyvern mereka yang dikalahkan dengan mudah terlepas dari status penunggang Wyvern itu memiliki pangkat dan gelar bangsawan tinggi semua.
"Tughrul, amankan orang-orang yang menyerah ini bersama pasukanmu! Yang lain, kita kembali bergerak memasuki kota." Perintah Ahmed ke salah satu letnan.
Mereka kembali bergerak memasuki jalanan kota. Berbeda dengan kota Eklaire yang mendapat peringatan dini. Orluire yang tidak siap menghadapi serangan membuat penduduk sipil di dalamnya masih berlarian kesana kemari mencari perlindungan. Hal ini membuat pasukan Ghazi sedikit kesulitan menghadapi serangan pasukan Leonia sambil menghindari korban penduduk. Senjata berat pun juga tidak bisa dipakai sembarangan. Hasilnya Tank Mahmud yang memasuki kota tidak bisa menembakkan meriamnya dan hanya bisa menggunakan senapan mesin di atas dan di dekat moncong meriam.
Sebagian pasukan yang masuk ke kota menaiki tangga ke atas tembok kota, lalu mengibarkan bendera merah daulah yang bertuliskan kalimat tauhid. Hal ini dilakukan untuk menjatuhkan moral pasukan Leonia yang masih berusaha bertahan. Sekelompok tentara Leonia yang masih tersisa di tembok sisi lain pun berusaha menurunkan bendera itu dengan menyerang Pasukan Ghazi yang mengibarkannya. Namun usaha mereka tidak membuahkan hasil apa-apa tatkala mereka maju menyerang, mereka seketika terjatuh tanpa nyawa setelah mendapat tembakan dari pengibar bendera.
Pasukan Islam lain yang baru memasuki kota ikut bergerak ke atas tembok mengamankan tembok dan mengibarkan bendera-bendera yang sama di tiap sudut menara. Di udara jet SU110 menjatuhkan setiap Wyvern yang terdeteksi di radar mereka tanpa tersisa. Mereka para penunggang Wyvern yang tergabung dari kesatria yang disebut Chevalier de Mort nyatanya tidak bisa apa-apa menghadapi jet tempur milik Daulah. Helikopter H-1 mulai mengarahkan serangannya ke darat membantu pasukan darat.
1 jam berlalu semenjak pertempuran dimulai, dan saat ini Ahmed dengan pasukan lain sudah sampai di depan kastil yang ada di jantung kota. Pasukan pendukung pun sudah selesai mengamankan tembok di seluruh kota termasuk tembok kastil. Pasukan Ahmed yang disertai tank mahmud pun memasuki gerbang area kastil tanpa perlawanan berarti. Namun di dalam area kastil, ternyata sudah ada tentara yang berbaris dengan mengacungkan panah dan tombak ke arah pasukan Ahmed.
Bukan tentara Leonia yang mengejutkan Tentara Ghazi, tapi troll yang bersama pasukan Leonia itu yang membuat mereka terkejut. Selama di Edela, pasukan Rasyidin belum pernah melihat troll sebelumnya, terutama yang tingginya setinggi 4 meter seperti yang ada di depan mereka, lengkap dengan baju zirah dan palu raksasa yang di pegangnya. Ada 4 troll di sana dan mereka berdiri di depan barisan Leonia menghadang pasukan Ghazi yang baru datang.
"Sipahi 2, tembak ke arah troll! Jangan biarkan raksasa itu membunuhi orang-orang kita!"
Pasukan Ghazi mulai menembaki Troll dan juga tentara Leonia di depan mereka. Kedua pasukan itu kembali bertukar panah dan peluru. Senapan mesin di atas tank pun mulai menembaki salah satu troll yang sekarang berjalan maju ke arah pasukan Ghazi. Peluru 7.62mm dari senapan infantri pun nampak tak mempan, terlihat dari troll itu yang seolah tidak merasakan apa. Troll itu baru merasa kesakitan ketika terkena tembakan senapan mesin tank 12.7mm.
BOOMM
Satu tembakan dari sipahi 2 menghancurkan salah satu trol yang di tengah menyisakan bagian perut mereka ke bawah, meledakkan kepala dan sebagian besar badan mereka. Ketiga troll yang lain pun mulai marah dan memukul mukul palu mereka ke arah pasukan Ghazi yang sekarang mulai kocar kacir.
"[buzz] di sini sipahi 2 sedang melakukan isi ulang, bertahanlah sebentar Mubarizun 1, 5 dan 8".
"Tariq, Ismail, gunakan peluncur AR5 kalian!" teriak Ahmed sambil berlari menghindari tembakan panah dari para Leonia.
Tariq pun tersenyum mengetahui bahwa dirinya bisa menggunakna senjata beratnya sekali lagi. dengan dibantu Aryan menyiapkan roketnya, Tariq membidikkan peluncur roket itu ke salah satu Troll yang mengamuk mengejar para infantri.
"Roket Siap!" ujar Aryan yang selesai mengisi roket ke peluncurnya.
Tariq pun langsung menarik pelatuk peluncurnya dan menembakkan roket AR5 meledakkan Troll yang hendak memukul palunya ke salah satu prajurit. Troll itu pun terjatuh dengan separuh badannya yang meledak tak tersisa. Satu roket lagi diluncurkan dan menghancurkan Troll ketiga yang mencoba berjalan ke arah tank, meledakkan kepala dan kedua lengannya.
Troll terakhir mulai ragu dan mundur perlahan. Namun pada akhirnya troll itu kembali diledakkan oleh meriam tank sipahi. Dengan hancurnya troll terakhir itu, seketika pasukan Leonia yang tersisa akhirnya menyerah dan melemparkan senjata mereka ke tanah.
"ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR!" Seru pasukan Ghazi serentak. Mereka akhirnya berhasil menguasai kota Orluire dalam waktu kurang dari 2 jam.
Beberapa prajurit Ghazi berlari memasuki kastil untuk mengamankan bagian dalamnya. Tidak lama setelah itu mereka muncul di atas kastil dan mengibarkan bendera merah daulah di titik tertinggi bangunan itu. menandakan bahwa kota Orluire sudah berada dinaungan umat muslim. Radio di pundak Ahmed tiba-tiba berbunyi ditengah sorakan kemenangan pasukan Ghazi.
"[buzz] Seluruh pasukan yang ada di kota Orluire, perintah dari kolonel Umar, cari penduduk sipil yang diculik dari dunia kita. Info terakhir yang kami dapatkan sebagian dari mereka berada di kota ini."
"Disini Mubarizun 1 kami akan memulai pencarian di sekitar kastil." Balas Ahmed sambil menekan radionya. Setelah itu Ahmed mengisyaratkan anggota regunya untuk mengikutinya masuk kedalam kastil sambil menyeret salah satu tentara Leonia yang mereka percaya sebagai penjaga kastil karena baju zirahnya yang sedikit lebih mewah dari pasukan lain.
"Tunjukkan pada kami dimana tempat kalian menahan para budak dan tahanan perang." Pinta Ahmed sambil menodongkan senapannya ke arah prajurit yang tadi diseretnya. Prajurit itu tahu apa yang akan terjadi bila tongkat hitam yang dipegang Ahmed itu mengeluarkan api akan menjadi akhir hidupnya setelah melihat teman-temannya terbunuh dengan cara yang sama.
Sambil gemetar ketakutan, prajurit itu mengantarkan mereka masuk ke pintu yang menuju ke arah ruangan bawah tanah. Ruangan itu gelap dan hanya diterangi oleh cahaya obor dan lilin seperti ruangan kastil yang lain. di ruangan itu terdapat banyak sekali sel-sel dengan jeruji besi layaknya penjara. Ahmed mengeceknya satu per satu.
"MasyaAllah!" ucap Ahmed dan rekan-rekannya sambil mengamati para tahanan di dalam sel. Keadaan mereka tidak berbeda dari tahanan yang ditemukan di kota Eklaire. Pakaian mereka seolah hanya terbuat dari kain lusuh yang bisa menutupi bagian dibawah leher sampai paha saja, sedangkan bagian lain tidak tertutupi.
Para tahanan yang mulai tersadar itu langsung mendekat dibalik jeruji besi yang mengurung mereka, melihat orang-orang berseragam hitam yang tidak asing dimata mereka. Wajah mereka segera menunjukkan kebahagiaan dan harapan besar.
"Wahai prajurit muslim dari Daulah Islam, bebaskan kami! kami adalah saudara-saudara kalian yang diculik dari kota Gaza." Ucap salah satu dari mereka dengan bahasa Arab.
Ahmed pun langsung memerintahkan seluruh anggota regunya membebaskan tahanan yang ada di bawah tanah itu. tanpa mencari kunci terlebih dahulu, mereka langsung menembak kunci pintu itu dan membukanya secara paksa. Para tahanan itu pun berjalan keatas diarahkan oleh Ahmed.
"Amir 2, disini mubarizun 1. Alhamdulillah, kami berhasil menemukan para tawanan perang yang diculik. Kami meminta jemputan helikopter untuk mengantar mereka ke benteng Andalusia."
"[buzz] Diterima Mubarizun 1, Kerja bagus MasyaAllah. Dengan petunjuk dan pertolangan dari Allah kita berhasil menemukan saudara-saudara kita yang diculik. Unit Qomar akan segera datang untuk menjemput mereka. Untuk sementara mereka akan ditangani oleh para medis yang ada di lapangan dan juga unit Mubarizun 7 dan Mubarizun 4."
