Part 13 Serangan Terakhir
Para penduduk sipil yang baru saja dibebaskan dari penjara bawah tanah yang ada di kota Orluire dijemput dengan menggunakan helikopter pengangkut An Naqil. Total jumlah penduduk yang ditemukan sejumlah 100 orang di kastil. Itu artinya masih ada sekitar 150 warga muslim yang belum ditemukan di Edela. Menurut prajurit kastil, 150 orang yang belum ditemukan itu sudah dijual sebagai budak ke beberapa bangsawan atau pengusaha tambang. Bahkan sebagian sedang proses dibawa ke wilayah Leonia melalui bekas perbatasan kerajaan Scotia.
Namun puji syukur masih tetap terucap lantaran para Ghazi berhasil menyelamatkan ke 100 orang yang sekarang sedang dalam proses pemulangan ke tempat tinggal mereka masing-masing di kota Gaza. Sehari setelah pembebasan kota Orluire, salah satu anggota Ahmed, Faruq Sa'ud melangsungkan sebuah pernikahan pertama yang dilakukan dengan penduduk lokal dari dunia Edela, Lusie Loreena. Tidak ada pesta pernikahan seperti yang biasa dilakukan selain dengan acara makan-makan bersama dengan para prajurit Ghazi dan perawat muslim, hal tersebut dikarenakan situasi dan kondisi yang kurang sepadan, mengingat mereka baru saja berperang. Namun peristiwa tersebut merupakan salah satu peristiwa bahagia yang patut dikenang.
Ditambah lagi dengan kedatangan pimpinan tertinggi militer di Edela, Jenderal Ayyub yang tertarik dengan pernikahan itu. Hal ini mengingatkan beliau dengan kisah di masa lampau di zaman kenabian ketika muslim muhajirin dinikahkan dengan muslim dari kalangan Anshor untuk lebih mengikat tali persaudaraan di antara mereka. Jenderal Ayyub pun menganjurkan pernikahan seperti ini antar penduduk Edela yang sudah menjadi muslim dengan orang-orang muslim yang berasal dari balik Al Jisr, termasuk para prajurit Ghazi yang masih lajang untuk lebih mengikat tali persaudaraan sesama muslim.
Selain itu untuk mereka yang berminat, para prajurit Ghazi pun juga diperbolehkan untuk bermukim atau tinggal di wilayah Edela bila perang nanti telah usai, mengingat beberapa kota sudah menjadi bagian dari wilayah Daulah Islam. Hal itu juga yang nantinya dilakukan oleh Faruq dan Lusie yang memutuskan untuk menetap di salah satu kota yang ada di Edela meskipun mereka belum menentukan kota mana yang akan mereka tempati.
Di lain sisi, orang-orang Edela yang sudah menjadi warga Daulah pun diberikan hak yang sama layaknya penduduk muslim di Bumi seperti pendidikan, kesehatan, akses listrik dan air meskipun sebagian besar fasilitas-fasilitas itu masih dalam proses pembangunan. Seperti di kota Eklaire dimana proses pembangunan sekolah baru dan sebuah rumah sakit hampir selesai dilakukan, berikut juga dengan instalasi listrik dan air ledeng yang diambil dari bendungan sungai terdekat dari kota.
Salah satu masalah yang muncul adalah sulitnya mengajak para penduduk mengikuti pendidikan. Kebanyakan penduduk masih kurang memahami pentingnya pendidikan dan enggan mendaftar ke sekolah-sekolah yang didirikan oleh daulah. Orang tua dari anak-anak dan pemuda yang ada di Edela lebih memilih untuk mengajak anaknya ikut bekerja daripada mengikuti pendidikan. Berbagai program pun direncanakan untuk meningkatkan minat belajar penduduk mulai dari pemberian jatah makan siang dari sekolah, uang saku pelajar, bahkan sampai jaminan lapangan kerja di masa depan untuk yang bersedia mengikuti jenjang pendidikan tinggi. Tentu saja program-program tersebut baru dapat diberlakukan secara penuh setelah kondisi di Edela lebih stabil dan perang dengan Leonia selesai.
Sosialisasi diadakan untuk mengenalkan para warga dengan alat-alat dan teknologi modern, khususnya peralatan rumah tangga yang pertama kali beredar seperti kompor gas dan alat-alat bantu rumah tangga lainnya. Seperti halnya orang-orang yang tidak pernah melihat teknologi modern sebelumnya, awalnya para warga akan berpikir bahwa alat-alat tersebut merupakan alat sihir. Namun lambat laun nanti diharapkan mereka dapat memahami perbedaan antara teknologi dengan sihir seiring berjalannya waktu.
Nyatanya penduduk Edela pada umumnya menyembah dewa yang berbeda-beda. Seperti di kota Eklaire yang sebagian besar penduduknya menyembah dewa tanah yang dinamai 'Eldar', di Orluire penduduknya menyembah dewa laut yang dinamai 'Eagi'. Selain itu mereka juga cenderung mempercayai berbagai tahayul seperti halnya penyembahan kepada dewa pada umumnya meliputi sesajen, pengorbanan, dan jimat. Para petinggi muslim tahu benar bahwa mengubah hal seperti ini secara total akan membutuhkan waktu dan perlu dilakukan secara perlahan tapi pasti.
Selain itu selama hal-hal tersebut tidak mengganggu umat muslim dan tidak merugikan masyarakat, sementara akan dibiarkan sebagai bentuk toleransi beragama. Nantinya hal pertama yang akan dicoba untuk dicegah dan diubah adalah praktik pengorbanan seperti yang dilakukan oleh warga Orluire yang membuang seorang wanita tak berdosa kelaut lepas.
###
1 hari sebelumnya, di jalanan antara kota Eklaire dan Longnard. Konvoi pasukan Ghazi di bawah pimpinan Kolonel Ali.
Tidak seperti jalanan menuju Orluire. Jalan ke arah kota Longnard sebagian melalui padang rumput dan dataran rendah biasa dan hanya sedikit melintasi hutan Jalanan ke kota Longnard pun terkesan lebih lebar dan terawat daripada jalanan lain meskipun jalanan tersebut masih berupa tanah dan bebatuan biasa. Konvoi yang dipimpin oleh Kolonel Ali tidak mendapat serangan dari sisa pasukan Scotia dan hanya menemui beberapa kelompok bandit kecil yang berkemah di dekat jalanan yang mereka lintasi. Kebanyakan bandit ternyata juga merupakan bekas pasukan Scotia yang tidak punya rantai komando dan tujuan lagi.
Bedanya dengan yang menyerang kolonel Umar, para bandit yang ditemui cenderung membentuk kelompok kecil dan satu kelompok dengan kelompok lain tidak saling berafiliasi. Kelompok terbesar pun hanya memiliki jumlah 300 orang berdasarkan hasil patroli dan pemindaian dari Drone Ahzab yang disebar. Jumlah yang bahkan tidak mencapai setengah dari pasukan yang menyerang Ahmed dan pasukan Ghazi yang bersamanya.
Perjalanan ke kota Longnard membutuhkan waktu 3 hari berjalan kaki atau 1 hari penuh berkuda. Namun dengan kendaraan perang yang digunakan pasukan Ghazi, mereka hanya membutuhkan waktu 10 jam paling lama untuk sampai ke kota Longnard, waktu yang sama dalam menempuh perjalanan ke kota Orluire. Dalam waktu 4 jam semenjak perjalanan dari kota Eklaire, kolonel Ali tidak menemukan tanda-tanda keberadaan tentara Leonia atau perlawanan lainnya selain bandit.
Para bandit pun bukan menjadi pihak yang menyerang pertama kali konvoi pasukan Ghazi. Melainkan tentara Ghazi membentuk kelompok kecil yang terdiri dari beberapa regu untuk menyerang tenda-tenda para bandit yang tidak jauh dari rute perjalanan konvoi kolonel Umar. Seperti saat ini dimana regu yang dipimpin Letnan Faisal beserta ke 12 anggotanya sedang mengepung tenda bandit yang di dalamnya terdapat sekitar 50 orang.
Dalam pengepungannya, Letnan yang berdarah Arab itu tahu benar bahwa mereka tidak mungkin menggunakan senjata peledak, mengingat para bandit saat ini sedang menahan 3 orang wanita yang mereka jadikan sandra. Dilihat dari penampilannya, 3 orang wanita yang di ikat di tiang kayu itu terlihat belum lama diculik, mengingat pakaian mereka masih utuh. Mungkin para bandit belum sempat melakukan apa-apa terhadap 3 wanita itu karena mereka masih sibuk menghitung hasil jarahan mereka.
"Seluruh unit Muhajir 4 melapor?" ucap Letnan Faisal melalui radio yang tidak lama kemudian dibalasa dari anggota-anggotanya yang terpencar menjadi 4 kelompok.
"[buzz] Muhajir 4-2 sudah diposisi".
"[buzz] Muhajir 4-3 siap menembak".
"[buzz] Muhajir 4-4 kami menunggu perintah".
"Lakukan seperti rencana, serang bandit yang berada di dekat sandra terlebih dahulu. Muhajir 4-3 akan memberikan tembakan perlindungan dan yang lain menyergap masuk ke perkemahan mereka. Bismillah, Operasi dimulai dalam 5, 4, 3, 2, 1, ALLAHU AKBAR!".
TATATATATA
Dimulai dari tembakan dari Letnan Faisal sendiri, regu yang dibagi menjadi 3 kelompok itu pun mulai menyerang dan bergerak maju ke arah perkemahan bandit sambil menembaki setiap bandit yang tertangkap oleh pandangan mata mereka. Para bandit, terlepas dari jumlah mereka yang hampir 5 kali lipat dari regu Faisal dapat dikalahkan dalam waktu singkat.
Anggota Faisal sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi para bandit menyerang balik. Beberapa pemanah bahkan tidak sempat menarik tali busurnya sebelum akhirnya berakhir denga lubang di tubuh mereka. 15 bandit yang tersisa mencoba melarikan diri, namun karena kondisi mereka yang terkepung membuat mereka tercegat dan menemui ajalnya kecuali 5 orang yang segera membuang senjata mereka dan berjongkok ketakutan sambil menutup kepala mereka dengan tangan.
Dalam waktu singkat, pertempuran kecil itu berakhir dengan dibebaskannya tawanan bandit yang diantar ketempat penampungan benteng Andalusia mengingat mereka tidak punya siapa-siapa lagi. sedangkan tawanan bandit diantar dengan helikopter berbeda dan diantar ke kota Eklaire. Segera setelah operasi kecil mereka selesai, regu Letnan Faisal, Muhajir 4 kembali ke kendaraan mereka yang terdiri dari 2 LAV Safir. Mereka bergerak menyusul bergabung dengan konvoi utama yang mengarah ke kota Longnard.
Kolonel Ali, yang memimpin Divisi ke 5 korps Edela saat ini sedang berada di atas salah satu tank Mahmud yang ada di barisan depan. Sepanjang perjalanan, kolonel Ali tidak berhenti mengamati pemandangan yang dilewatinya mulai dari kota Eklaire. Sang kolonel mungkin saja akan mengira dirinya berada di salah satu lembah dataran eropa bila dia tidak mengingat bahwa dirinya sedang berada di dunia lain. Sebagai salah satu perwira yang pernah bertugas di perbatasan polandia, Kolonel Ali tahu persis bagaimana kondisi alam di sana yang tidak berbeda jauh dengan yang dirasakannya sekarang selain adanya pemandangan tiang listrik dan aspal.
Jalanan off road yang dilewatinya saat ini membuat konvoinya tidak bisa bergerak dengan kecepatan optimal. Kalau saja jalanannya berupa aspal, mungkin mereka bisa sampai ke tempat tujuan dua kali lebih cepat. Akan tetapi kendaraan mereka bagaimanapun masih jauh lebih cepat dibanding dengan kendaraan konvensional yang berupa kuda dan kereta. Andai saja mereka menggunakan kereta biasa yang ditarik kuda, pasti mereka sudah berkali-kali berhenti karena roda kereta yang rusak.
"Kolonel, kami mendapat transmisi video dari pilot drone yang mengamati jalanan ke Longnard". Ucap salah satu kru tank tiba-tiba, mengalihkan pandangan Kolonel ke dalam tank.
Kru tank tersebut menampilkan hasil kiriman video dari pilot drone yang kemudian ditampilkan ke salah satu monitor tambahan di dalam tank. Hasilnya, monitor tersebut menampilkan barisan tentara berseragam kuning dan memegang panji panji kuning bergambar kepala singa dan jumlah mereka sangat banyak. Siapa lagi kalau bukan tentara Leonia. Di atas mereka ditemani naga Wyvern yang jumlahnya pun juga mencapai ratusan.
Mereka juga disertai oleh troll dan orang-orang berseragam 'mewah' yang merupakan penyihir-penyihir berstatus bangsawan. Dari arah mereka berbaris, terlihat jelas bahwa mereka berbaris menuju kota Eklaire melewati jalan yang sama dengan yang akan dilalui oleh pasukan kolonel Ali. Dengan kata lain, pasukan itu akan bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh kolonel Ali saat ini.
Kolonel ali pun mengambil headset radio dan memakainya di kepalanya, lalu menghubungi pilot drone yang berada di sebrang radio.
"Sersan, berapa jumlah mereka?"
"[buzz] berdasarkan penghitungan singkat kami, jumlah mereka diperkirakan mencapai 8 divisi atau sekitar 100rb personel Kolonel. Mereka datang dari kota Longnard dan sedang menuju ke posisi anda sekarang. Perkiraan waktu mereka sampai sekitar satu hari dilihat dari kecepatan pergerakan mereka. Anda dapat memilih untuk mundur dan bertahan di kota Eklaire atau menghadapi mereka di tengah jalan dengan resiko korban dari para Ghazi kita Kolonel."
"baik, terima kasih laporannya sersan. Tapi sepertinya kita akan menghadapi mereka di tengah jalan. Demi Allah aku tidak mau menempatkan warga sipil kota ke dalam resiko penyerangan oleh Leonia."
Kolonel Ali pun memutus transmisi radionya, lalu memerintahkan pengemudi tank yang ditempatinya untuk berhenti. Otomatis membuat seluruh kendaraan yang menjadi konvoi mereka ikut berhenti semua. Kemudian kolonel ali mengganti frekuensi radio yang dipakainya, kali ini kolonel Ali berbicara di frekuensi radio yang digunakan oleh seluruh divisi yang dipimpinnya.
"Perhatian untuk seluruh pasukan Ghazi, singa-singa Allah. Pasukan musuh yang berjumlah besar sedang menuju ke arah kita dan berencana untuk menyerang kota Eklaire, kemungkinan besar mereka akan sampai di sini esok hari. Aku memutuskan untuk menghadapi mereka disini dan menjauhkan para penduduk kota dari resiko serangan mereka. Kita akan membuat persiapan pertahanan di sini untuk menghadapi mereka. Menyebarlah dan buat perimeter pertahanan yang terdiri dari parit-parit sederhana untuk menahan serangan mereka. InsyaAllah kita juga akan mendapatkan bantuan dari angkatan udara".
Setelah Kolonel Ali menyebarkan pengumumannya, kendaraan yang berada di belakang tanknya pun mulai bergerak menyebar kekanan dan kekiri membentuk perimeter pertahanan. Pasukan infantri turun dari masing-masing kendaraan pengangkut mereka dan mulai menggali serangkaian parit di depan barisan kendaraan lapis baja ringan yang diparkirkan di belakang mereka.
Jumlah pasukan yang dipimpin oleh kolonel Ali seebenarnya sudah cukup besar, yaitu sejumlah 10 ribu pasukan ditemani dengan 100 tank Mahmud dan 200 tank Osman beserta lapis baja ringan lainnya dan juga kendaraan anti udara korkut dan Raad. Di bagian belakang Konvoi yang sampai belakangan, terdapat sejumlah artileri Nasr dan juga peluncur roket R20AM4 Sakarya. Namun bila dibandingkan dengan jumlah pasukan Leonia yang mencapai 100 ribu, mereka akan terlihat layaknya noda hitam kecil di kain kuning.
Nyatanya setelah Ahmed dan 5 anggota regunya menemui raja Cheldric di Longnard, pasukan Leonia tidak tinggal diam dan mereka benar-benar kembali menghimpun pasukan berjumlah besar dalam waktu yang relatif singkat. Namun yang namanya pasukan Ghazi, dengan atau tanpa adanya keunggulan teknologi, mereka pasti akan tetap memilih untuk menghadapi pasukan yang jumlahnya berkali lipat dari mereka demi menjalankan tugas mereka untuk melindungi warga dan wilayah daulah Islam sekaligus berjihad untuk mengejar surga yang sudah dijanjikan untuk mereka.
Beberapa jam kedepan bertepatan dengan waktu Isya', serangkaian pertahanan pasukan Ghazi pun selesai dibangun. Garis pertahanan pertama berupa parit yang di isi oleh sekitar 3000 infantri, di belakangnya berposisi sejumlah lapis baja ringan untuk pendukungnya. Garis pertahanan kedua terdiri dari pertahanan yang disusun dengan karung pasir sebagai pelindung infantri yang jumlahnya juga mencapai 3000 orang termasuk petugas mortir dan dibelakangnya berposisi sejumlah lain lapis baja ringan beserta tank Osman. Dan garis pertahanan terakhir ditempati oleh 4000 infantri yang juga menggunakan karung pasir untuk pertahanan sekaligus menjadi petugas pendukung logistik, didukung oleh seluruh Tank Mahmud dan sisa dari Tank Osman yang tidak di posisikan di garis pertahanan 2. Sementara itu, unit artileri yang juga disebut unit Manjaniq berposisi di belakang garis pertahanan 3.
Saat ini musuh masih berada di luar jangkauan artileri, sehingga unit artileri masih tidak dapat menembaki musuh untuk mengurangi jumlah mereka. Diperkirakan barisan musuh akan memasuki jangkauan artileri dan roket di pagi hari. Rencananya tentara Leonia akan disambut dengan perpaduan antara artileri meriam Nasr dengan hujan roket dari R20AM4 Sakarya. Para prajurit Ghazi pun harus menunggu sampai keesokan paginya untuk melawan Leonia yang mengarah ke mereka.
Di tengah penantian itu, Kolonel Ali kembali mendapat kabar tentang penyerangan bandit-bandit ke beberapa desa yang ada di sekitar mereka. Tampaknya sebagian bandit memang lebih suka memilih waktu di malam hari menyerang target mereka, mengingat waktu malam adalah waktu di mana penjagaan penduduk dinilai paling longgar.
Sejumlah regu pasukan pun ditugaskan untuk menghampiri desa-desa yang diserang menggunakan kendaraan lapis baja ringan yang ada, terdiri dari regu Hanifa, regu Tamim, regu Yakut, dan regu Ummay. Dengan dibantu pemandu yang merupakan pilot drone, mereka pergi kearah 4 desa yang diserang bandit secara bersamaan. Hasilnya secara umum, ke empat regu berhasil membuat kontak dengan para penduduk desa dan menyelamatkan mereka dari serangan bandit sekaligus mengenalkan mereka terhadap kehadiran pasukan muslim. Sayangnya satu desa, yaitu desa Trastone hampir terlambat diselamatkan, lantaran ketika regu Tamim sampai di desa, para bandit sudah mulai membakar desa dan juga membunuhi para penduduk. Pada akhirnya regu Tamim harus memanggil Truk untuk mengangkut para penduduk desa yang harus mengungsi lantaran kehilangan rumah mereka.
###
Waktu berjalan tak terasa dan hari sudah menjelang fajar ditandai dengan kumandang adzan di tengah garis-garis pertahanan pasukan Ghazi. Mereka tidak mendirikan camp dan tidur di tengah-tengah parit atau belakang karung pasir beratapkan langit. Hal ini dilakukan karena mereka hanya akan menetap satu hari. Pendirian tenda dinilai tidak efisien dalam hal pemanfaatan waktu. Berdasarkan informasi dari Drone, barisan Leonia yang ternyata berjalan selama semalaman sudah jauh memasuki jarak jangkauan artileri dan diperkirakan akan berhadapan dengan garis pertahanan para Ghazi 4 jam lebih cepat.
Kolonel Ali pun baru mendapat kabar tersebut selesai sholat subuh berjamaah. Para prajurit langsung di perintahkan untuk bersiap di pos mereka masing-masing.
"Kita hampir saja lengah membiarkan pasukan musuh yang sekarang sudah mendekati kita. jarak mereka sekarang kurang dari 10 kilo dari kita. kalau bukan karena pertolongan dari Allah, kita pasti sudah membiarkan mereka sampai di pertahanan kita sekarang. Perintahkan unit manjaniq untuk memulai serangan."
Meriam Nasr memulai serangannya dengan menembakkan peluru meriamnya, menimbulkan dentuman-dentuman keras yang terdengar di seluruh garis pertahanan. Kemudian disusul oleh suara roket-roket yang diluncurkan oleh Sakarya, suara roket-roket yang meluncur bersahut-sahutan tersebut bagaikan musik yang menambah kerasnya suara artileri yang berada di garis belakang.
Sementara itu di barisan Leonia. 100 ribu pasukan yang dipimpin oleh Duke Maximilian berbaris dengan bangganya seolah kemenangan sudah ada di tangan mereka. Pasukan mereka belum pernah merasakan kekalahan sebelumnya. Setiap pertempuran yang dilakukan dengan prajurit Scotia selalu mereka dapatkan dengan kemenangan. Duke Maximilian sendiri bahkan sibuk memikirkan tentang apa yang harus dia lakukan terhadap kota Eklaire dan penduduknya ketika mereka sudah menguasai kota itu kembali. Penduduk kota Eklaire membiarkan pasukan dunia lain menduduki kota begitu saja tanpa perlawanan dan hal ini membuat darah Maximilian mendidih.
Mungkin mereka harus menyiksa dan membunuh para penduduk yang dianggap sebagai penghianat atau setidaknya menjual mereka semua sebagai budak ke negeri lain. padahal mereka semua sudah memberikan janji kesetiaan terhadap raja Cheldric (secara terpaksa) beberapa bulan yang lalu ketika kota Eklaire mereka taklukan. Bagaimanapun, Duke Maximilian bertekad untuk memberikan penduduk Eklaire perhitungan yang tidak akan mereka lupakan. Untuk itu Maximilian memaksa pasukannya untuk berjalan bahkan di tengah malam karena Maximilian ingin sampai di kota itu secepatnya.
Nyatanya Duke Maximilian tidak mengetahui tentang keberadaan pasukan Ghazi yang sedang menghadang mereka di tengah jalan. Mereka mengira musuh mereka yang mereka sebut sebagai "Pasukan Hitam" masih membutuhkan banyak waktu untuk mengumpulkan pasukan dan menyerang mereka di Longnard. Tiba-tiba Duke Maximilian mendengar suara yang mirip seperti desingan di udara. Suara itu semakin mendekat dan mendekat sampai Akhirnya…
DUARR DUARR DUARR
Berbagai ledakan misterius tiba-tiba muncul dan meletup di tengah-tengah pasukannuya yang berbaris rapat menyebabkan sejumlah besar mereka terbunuh di tiap ledakannya. Ledakan itu terjadi beruntun dan berkali-kali membuat pasukan duke Maximilian kocar-kacir. Belum lagi ratusan roket yang terlihat seperti panah api di tengah gelapnya fajar dan bergerak dengan cepat menuju ke arah mereka membuat mereka semakin panik.
"PERISAI..! ANGKAT PERISAI KALIAN!" perintah salah satu perwira Leonia yang menyangka itu hanya anak panah biasa yang bisa di tangkis dengan perisai kayu.
DUARR DUARR DUARR
Nyatanya setelah membentur ke tanah atau ke orang-orang Leonia secara langsung. Panah api itu membuat ledakan besar yang hampir setara dengan ledakan sebelumnya. Dalam sekejap, ribuan atau bahkan puluhan ribu pasukan Leonia mati. Bahkan sebagian besar tidak menyisakan mayat sama sekali. Tanah-tanah menjadi hitam dan panas. Rumput-rumput yang tadinya hijau seolah menjadi tanah gersang dilengkapi dengan lubang-lubang kawah disana-sini yang menyisakan sisa-sisa helm, perisai dan potongan tombak pasukan Leonia. Belum lagi asap ledakan yang menyelimuti seluruh pasukan membuat mereka tidak dapat melihat kawan yang di sekitar mereka.
"INI HUKUMAN DARI DEWA! INI PASTI HUKUMAN DARI DEWA!"
"KITA HARUS MUNDUR! KALAU TIDAK PARA DEWA PASTI AKAN TERUS MENGHUKUM KITA!"
Berbagai ungkapan tentang kemarahan dewa muncul dari para prajurit yang sudah kehilangan moral berperang. Mereka mulai berlarian meninggalkan barisan mereka seolah ingin kembali ke kota Longnard. Sebagian lain jatuh dan meringkuk sambil menjatuhkan senjata mereka.
"Dewa, ampuni saya! Saya tidak bersalah! Saya akan melakukan apapun yang dewa mau." Ungkap salah satu prajurit yang meringkuk itu.
Duke Maximilian memperhatikan barisan pasukannya yang kocar-kacir. Beberapa menit berlalu dan ledakan-ledakan dan hujanan panah api mulai mereda. Maximilian pun mulai gentar, dirinya diliputi dengan perasaan dilema. Haruskah dia tetap maju dan mengorbankan pasukannya untuk mendapat serangan yang sama, atau dia harus mundur dan mengorbankan kehormatannya sendiri. Salah satu penunggang Wyvern yang tidak terkena dampak ledakan tiba-tiba turun menemui Duke Maximilian dan memberikan laporan.
"Lord Maximilian, kami mendapati pasukan Hitam yang jaraknya sekitar lima Morsels dari sini, mereka tampaknya seperti sedang menunggu kita disana." (1 morsel = 2 kilo)
Laporan dari penunggang itu pun akhirnya berhasil merubah pikiran Duke Maximilian. Kehormatannya sendiri baginya lebih berharga daripada nyawa puluhan ribu pasukannya. Dan setelah mengetahui serangan yang diterima pasukannya barusan merupakan ulah dari pasukan hitam dan bukan tindakan hukuman dewa, duke Maximilian pun akhirnya menetapkan keputusannya. Perintahnya adalah terus maju dan menyerang pasukan hitam yang mencoba menghadang mereka. Maximilian yakin serangan mereka berhenti karena mereka tidak bisa membuat serangan yang sama berkali-kali dan hal itu ingin dia jadikan kesempatan untuk menyerang balik pasukan hitam yang sudah menghinanya dengan serangan yang tidak mengenal kehormatan seperti tadi.
"SELURUH PASUKAN, TERUS MAJU… INI BUKANLAH HUKUMAN DEWA, INI ADALAH ULAH PASUKAN HITAM DARI KEGELAPAN. JANGAN TAKUT! TUNJUKAN PASUKAN HITAM ITU KALAU KITA BISA MENGALAHKAN MEREKA!"
Dengan pidato pendeknya, Duke Maximilian kembali memimpin pasukannya yang mulai kembali membentuk barisan lagi terlepas dari korban yang kemungkinan mencapai ribuan dari serangan yang baru saja mereka terima.
###
"Kolonel, pasukan Leonia masih tetap bergerak ke arah kita terlepas dari serangan artileri yang sudah kita berikan" Ungkap salah satu perwira komunikasi melaporkan kondisi musuh mereka ke kolonel Ali. Mereka berada di dalam tenda komando yang menjadi satu diantara beberapa tenda yang digunakan sebagai pusat komunikasi, komando, atau penyimpanan logistik.
"Hubungi unit Siroj dan minta untuk melakukan pengeboman di barisan Leonia sekaligus menghabisi penunggang naga mereka".
Perwira komunikasi itu pun mengangguk dan kembali berkutat dengan peralatan komunikasinya sebelum mulai berbicara di radio menghubungi angkatan udara.
"Berikan perintah ke unit artileri untuk tetap melakukan penembakan secara berkala ke barisan musuh. Harapan kita mereka bisa berbalik arah tanpa harus menghadapi pasukan utama kita di sini."
Di sisi lain pasukan Leonia tetap bergerak maju menuju ke lokasi pasukan Ghazi berada. Kali ini mereka bergerak dengan setengah berlari untuk mempercepat langkah mereka ditengah gempuran artileri yang masih menghantami mereka. Hampir seperempat Troll yang bersama mereka juga sudah mati terkena ledakan.
Beberapa kali penyihir Leonia mencoba menahan serangan roket yang datang menghujan. Namun perisai kasat mata yang dibuat oleh gabungan dari ratusan penyihir itu hanya dapat menahan kurang dari separuh roket yang datang. Perisai sihir yang mereka buat tidak dapat menahan hujanan 'panah api' yang datang ke arah mereka dan pecah layaknya kaca yang dipukul palu. Lebih dari setengah roket yang diluncurkan kembali menghantam barisan Leonia, memakan ribuan korban lainnya.
"JANGAN TAKUT! AYO LARI MAJU...! TERUSKAN LANGKAH KALIAN!" Perintah Maximilian yang secara tidak langsung memaksa prajuritnya menjemput ajal mereka.
Baru saja hujanan roket mereda. Kali ini mereka mendengar suara bising yang aneh dan berasal dari udara. Ketika para tentara Leonia melihat ke atas, tampak 10 objek yang terlihat seperti benda runcing atau pedang yang terbang di mata mereka. Dengan kecepatan tinggi objek itu mendekat ke arah mereka dan ketika tepat di atas mereka, pedang terbang itu mulai mengeluarkan panah api yang kembali meledakkan pasukan Leonia. Tidak hanya itu, kali ini pasukan Wyvern yang ada di udara pun juga ikut menjadi korbannya dengan terkena 'sihir' garis-garis cahaya putih yang keluar dari pedang terbang itu, beberapa juga terkena panah api seperti yang digunakan menyerang prajurit darat.
Viscount Lucas, pimpinan dari kavaleri udara Wyvern memerintahkan penunggang Wyvern untuk mengejar dan menyerang 'pedang terbang' itu dengan sihir mereka. Namun kecepatan yang dimiliki oleh pedang terbang itu sangat tidak manusiawi dan mustahil terkejar oleh Wyvern biasa. Belum lagi karena sangking cepatnya pedang terbang itu, para penunggang Wyvern tidak dapat membidikkan sihirnya, mereka bahkan tidak dapat mengikuti pergerakan pedang terbang itu, apalagi mengenainya. Bagaimanapun mereka menembakkan sihir, selalu meleset dari pedang terbang itu.
Beberapa pedang terbang berputar balik dan kembali menghampiri barisan pasukan Leonia di darat meluncurkan panah api ke arah barisan Leonia dan meledakkan mereka. Pada tahap ini, pasukan Leonia sudah kehilangan sejumlah lebih dari setengah pasukan mereka dalam waktu kurang dari satu jam.
Di sisi lain, kolonel Ali yang melihat perkembangan serangan yang dilancarkan di tengah barisan musuh pun memutuskan untuk mengubah sedikit rencananya. Sang kolonel pun mengambil headset yang terhubung ke seluruh radio unit di meja komunikasi dan memakainya sambil mengaktifkan radionya.
"Perhatian untuk seluruh batalion infantri 4 dan unit Sipahi yang berada garis pertahanan 3 kalian mendapatkan tugas baru. Pasukan musuh saat sedang dalam kondisi kocar-kacir dengan korban jiwa yang banyak. Meskipun mereka terlihat memaksa untuk bergerak ke posisi kita, namun InsyaAllah tidak lama lagi mereka akan bubar dan bergerak mundur menjauhi medan tempur. Tugas kalian sekarang adalah memutari posisi mereka dan menghadang mereka di belakang."
Beraneka ragam balasan dari unit Sipahi dan Batalion infantri 4 terdengar di headset radio yang dipakai Kolonel. Tidak lama kemudian pasukan yang berada di garis pertahanan 3 mulai meninggalkan posisi mereka dan bergerak mencari jalan memutar ke belakang posisi musuh dengan para infantri memanjat ke atas turet tank atau masuk ke dalam lapis baja ringan.
"Kolonel, unit Qomar dari kota Eklaire yang terdiri dari 20 Saqr dan 10 Ababil baru saja tiba. Mereka siap membantu kita kapan saja".
"Baiklah, aku ingin 10 helikopter Saqr untuk ikut bergerak ke belakang barisan Leonia untuk mengepung mereka".
20 menit kemudian, barisan Leonia mulai terlihat di timur posisi Pasukan Ghazi. Dari kelihatannya, pasukan Leonia seolah baru saja keluar dari apa yang mereka sebut sebagai neraka dunia. Kondisi mereka kelelahan dengan moral pasukan rendah dan korban jiwa yang sudah banyak berjatuhan, belum lagi yang luka-luka.
Duke Maximilian dapat melihat pasukan Ghazi yang mereka sebut sebagai orang-orang hitam seolah bersembunyi di balik tanah dan tumpukan karung. Kepercayaan dirinya sedikit meningkat melihat pasukan lawannya seolah ketakutan dan bersembunyi di balik lubang dan karung karena kedatangan pasukan Leonia.
Cih, apanya yang hebat, mereka malah bersembunyi di dalam parit melihat barisan tentara kekaisaran Leonia yang tangguh. Padahal mereka baru saja menyerang kami dengan sihir tingkat tinggi.
"SERANG…!" perintah Maximilian sambil maju menunggang kudanya diikuti oleh para infantri dan penunggang kuda lain yang mengikutinya maju. Kebanyakan dari mereka belum pernah melihat cara berperang pasukan Ghazi atau yang mereka sebut 'orang-orang hitam'. Mereka menyangka pasukan Ghazi sedang bersembunyi ketakutan di dalam parit. Pasukan Leonia maju dengan para Troll ditempatkan di depan mereka ditambah dengan golem buatan pengguna sihir tingkat tinggi. Harapannya para troll dan golem dapat melindungi mereka dari serangan jarak jauh pasukan hitam karena rumornya pasukan hitam lebih mengandalkan senjata jarak jauh dari pada pedang.
"ALLAHU AKBAR!" seru pasukan Ghazi sebelum mulai menembakkan senapan mereka ke arah tentara Leonia yang berlari mendekati mereka dan memasuki jarak 1 kilo meter, disusul oleh tembakan tank, armor ringan, dan juga lontaran mortir. Unit artileri pun juga ikut menembakkan hulu ledaknya di susul hujanan roket sakarya ke arah Leonia. Pasukan Leonia kembali diselimuti oleh ratusan ledakan yang muncul disekitar mereka.
Troll dan golem yang ada di depan seolah tidak ada gunanya. Bahkan kali ini mereka dihujani oleh apa yang mereka kira sebagai sihir kasat mata. Tentara Leonia yang berlari paling depan mulai berjatuhan satu persatu diiringi oleh pasukan di belakangnya. Termasuk Duke Maximilian yang tertembak di pundaknya dan jatuh dari kuda yang ditungganginya. Beberapa kali penyihir Leonia kembali mencoba membuat pembatas kasat mata yang menjadi perisai, namun seperti sebelumnya sia-sia. Perisai itu pecah dalam waktu singkat.
"AAARRRGG!" Maximilian mengerang kesakitan merasakan sakit bercampur panas yang dirasakan dipundaknya. Beberapa prajurit mencoba maju menyelamatkannya untuk dibawa mundur. Namun mereka gagal terkena tembakan senapan pasukan Ghazi.
"Sihir macam apa ini? aku tidak pernah melihat sihir yang seperti ini! mereka menyerang dari jauh tanpa mengenal kehormatan menggunakan sihir aneh ini" ungkap Maximilian sambil masih berbaring kesakitan.
BOOOM
Tanpa disadari sebuah mortir meledak tepat di sampingnya membuatnya terlempar beberapa meter. Maximilian merasakan sakit yang teramat sangat di sekujur tubuh bagian kirinya. Ketika mencoba melirik sumber rasa sakit itu. ternyata tangan dan kaki kirinya sudah tidak ada, ditambah lagi sebuah pecahan mortir sudah menempel di perut bagian kirinya. Itu adalah hal terakhir yang Maximilian lihat sebelum akhirnya kesadarannya hilang digantikan oleh kegelapan.
Banyak pasukan Leonia yang masih tidak menyadari kematian pimpinan mereka Maximilian. Mereka terus mencoba maju dengan peluru dan bom yang menerjang ke arah mereka. Meskipun mereka berlari memecah formasi dan tidak berbaris dalam barisan ketat lagi. korban di sisi mereka tetap saja berjatuhan dalam waktu yang sangat cepat. Mereka tidak dapat mendekat kurang dari 700 meter. Belum lagi di udara, helikopter Saqr dan ababil menghabisi ratusan Wyvern yang dimiliki oleh Leonia didukung oleh senapan anti udara korkut dan Raad yang menggunakan kaliber 35mm nya.
Beberapa Wyvern bahkan jatuh menimpa pasukan Leonia sendiri yang sedang tidak beruntung karena berada tepat di bawah mereka. Para pemanah dan penyihir mencoba membalas serangan dengan menembakkan panah ataupun cahaya sihir ke arah garis pertahanan pertama pasukan Ghazi. Namun seperti yang diduga, anak panah itu tidak pernah sampai ke parit pasukan Ghazi, dan tembakan sihir yang sangat tidak akurat itu tidak dapat mengenai satu pun pasukan Ghazi.
30 menit terlewati dan pasukan Leonia yang sudah kehilangan sekitar 70 ribu orang dalam serangan mereka. Serangan pun dihentikan ketika banyak orang berteriak bahwa Duke Maximilian telah mati dan mereka mulai berlari mundur menjauhi garis pertahanaan pasukan Ghazi. Tombak, perisai, dan pedang pun berjatuhan dibuang dan ditinggalkan oleh tentara Leonia karena mereka ingin segera melarikan diri dan membuat tubuh mereka seringan mungkin untuk berlari.
Namun di luar dugaan mereka. Baru saja mereka berlari sekitar 300 meter ke arah timur. Di belakang mereka sudah dihadang oleh Tank dan infantri yang menyebar membentuk perimeter ditemani oleh 10 helikopter yang melayang di atasnya. Beberapa penyihir Leonia mencoba untuk melawan dengan sihir mereka. Baru saja mereka mengarahkan tongkatnya ke pasukan Ghazi, mereka langsung jatuh terbunuh saat itu juga tanpa sempat merapal sedikitpun mantra. Meskipun hanya berjumlah ribuan, namun karena pasukan Ghazi menyebar, seolah terlihat banyak. Belum lagi pasukan yang sebelumnya pertahanan di parit ternyata menyusul mereka dari barat.
10 ribu pasukan Leonia yang tersisa pun tidak punya pilihan lagi selain mengangkat tangan mereka dan mengaku menyerah terhadap pasukan yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari mereka. Sementara itu di tenda komando yang ditempati kolonel Ali, laporan tentang kemenangan pasukan muslim berdatangan dan dapat didengar di beberapa perangkat radio yang tersambung di frekuensi yang berbeda-beda.
"[buzz] Pasukan musuh berhasil dikepung dan menyerah. Allahu Akbar, kami berhasil mengalahkan mereka Amir 3." Lapor salah satu perwira berpangkat kapten ke kolonel Ali melalui radio.
"Alhamdulillah, tahan mereka dan kumpulkan mereka di satu tempat. Truk pengangkut akan datang dalam waktu beberapa jam lagi."
Petugas radio yang menjadi asisten kolonel Ali, Sersan Fahmi, tentara Ghazi berdarah melayu, ternyata juga mendapat laporan dari pusat komando di kota Eklaire bahwa kota Orluire baru saja berhasil ditaklukan pagi itu. Sersan Fahmi pun menyampaikan laporan yang diterimanya ke kolonel yang sedang berdiri di belakangnya menghadap radio yang lain.
"Kolonel, laporan dari Amir 2, kota Orluire berhasil direbut dan sekarang menjadi bagian wilayah muslim. Mereka juga menemukan sebagian tawanan dari Gaza yang ditahan di bawah kastil kota."
"Alhamdulillah… percepat proses pengangkutan tawanan perang agar kita bisa segera berangkat melanjutkan perjalanan ke Longnard. Aku rasa musuh kita saat ini masih lengah dan mereka tidak menyadari penyerangan kita, apalagi setelah mengirim 100 ribu pasukan. Aku harap setelah pertempuran ini mereka akan kehilangan kemampuan offensif mereka."
