Part 14 Longnard
Bulan kedua sejak tentara Ghazi dari daulah Islam menginjakkan kaki di daratan baru dunia lain yang disebut Edela. Jalan penghubung yang menghubungkan antara bumi dengan Edela merupakan sebuah terowongan bawah tanah misterius yang secara resmi disebut 'Al Jisr' atau 'The Bridge' oleh Daulah Islam dan negara-negara di bumi. Beberapa negara di luar daulah, khususnya negara besar seperti Amerika, China, dan Rusia, menuntut untuk diberikan hak memasuki Al Jisr dan menyerahkan penanganan Al Jisr di bawah wewenang PBB.
Namun hal itu selalu ditolak oleh pemerintah Daulah Islam sendiri, khususnya khalifah Osman mengingat Al Jisr muncul di daratan wilayah Daulah Islam tanpa melibatkan negara lain. Pemerintah Daulah pun tahu bila negara-negara non-muslim lain diberikan hak menempatkan pasukan mereka di wilayah Daulah, khususnya Gaza dan juga wilayah Edela di balik Al Jisr, itu artinya Daulah sudah membiarkan negara-negara tersebut menduduki wilayah Daulah secara tidak langsung dan efek lainnya mereka juga akan membawa budaya dan pengaruh mereka ke Daulah.
Daulah Islam Utsmani dulunya sudah pernah terkena pengaruh pemikiran barat sebelumnya yang mengakibatkan banyak kemunduran pada Daulah Islam di abad ke 18 sampai akhir abad ke 19 di mana Khalifah Abdul Hamid II berhasil mereduksi pengaruh dan pemikiran barat serta kembali menyatukan Islam dan membuat umat muslim kembali bangkit.
Sementara itu di Edela. Pemukiman yang dibangun oleh pasukan Ghazi satu bulan setelah berada di Edela berkembang menjadi kota kecil yang ramai dan maju. Sebuah kota kecil yang dinamai Andalusia, nama yang sama dengan nama benteng pasukan Ghazi di dekat Al Jisr dan merupakan penghormatan terhadap daerah sekaligus wilayah Islam yang pernah ada di bumi spanyol. Awalnya kota Andalusia merupakan pemukiman yang dihuni oleh para pengungsi dari desa Olin dan desa-desa lain yang diserang oleh tentara Leonia.
Namun dengan fasilitas dan pengurusan Daulah Islam seperti listrik, air, dan kemudahan lainnya, membuat orang-orang di wilayah lain yang terdekat seperti kota Eklaire dan desa-desa di bagian barat Andalusia serta peziarah dan pengelana mulai berdatangan ke Andalusia dan bermukim di sana. Sekolah-sekolah pun dibangun beserta rumah sakit dan berbagai pelayanan masyarakat yang lain.
Para petinggi militer dari Daulah pun sadar dengan Al Jisr yang menjadi satu-satunya jalan ke Edela dari bumi, maka keperluan logistik seperti makanan, amunisi dan keperluan lain yang diangkut dari bumi akan membanjiri Al Jisr dan pastinya mempersulit pasukan atau pun petugas yang ditugaskan menyebrangi Al Jisr. Karena itu para penduduk yang bermukim di Andalusia mulai diberikan pekerjaan, sebagian diberikan lahan untuk dikerjakan menjadi lahan pertanian mengingat penduduk desa banyak yang sebelumnya berprofesi sebagai petani, tentunya dengan menggunakan peralatan modern yang dikenalkan oleh Daulah Islam.
Sebagian lain diperkerjakan di beberapa pabrik yang baru saja dibangun di dekat pemukiman untuk produksi roket, amunisi, suku cadang, pemrosesan makanan, dan pabrik-pabrik lainnya yang seluruhnya mulai beroperasi di bulan kedua ini. Sehingga selain menjadi mata pencaharian baru bagi penduduk juga menjadi sumber suplai yang baru bagi pasukan Ghazi yang berada di Edela. Hasilnya pun bisa mulai dirasakan ketika dalam waktu satu bulan berkat pupuk organik yang maju, sawah sudah dapat dipanen. Sebagian disalurkan untuk penduduk dan sebagian lain mampu mensuplai separuh dari kebutuhan makanan tentara Ghazi di Edela.
Begitu juga dengan pabrik Amunisi yang sudah dapat mensuplai setengah kebutuhan amunisi pasukan Ghazi dan mengurangi pengiriman dari wilayah bumi yang harus melalui Al Jisr. Bahkan setelah penaklukan Eklaire, beberapa industri pabrik pun juga mulai dibangun untuk memproduksi alat dan barang modern yang nantinya di distribusikan ke penduduk baru Daulah di wilayah Edela. Penduduk yang ikut bekerja di pabrik amunisi umumnya adalah para pandai besi. Pemrosesan logam yang dilakukan secara modern membuat mereka tertarik dan antusias untuk bekerja di pabrik tersebut sekaligus mempelajari teknik pemrosesan logam modern.
Kemudian di bidang dakwah, bisa dibilang Islam menyebar dengan cepat ke daerah-daerah dan wilayah yang dikuasai oleh Islam. Penduduk kota Andalusia baru saja sebagian besar sudah memeluk Islam dan juga kota Eklaire yang seperempat penduduknya juga menjadi muslim. Alasan orang-orang memeluk Islam pun bermacam-macam. Beberapa langsung tertarik setelah mempelajari konsep ketuhanan dalam Islam yang mana Allah Subhanahu Wata'ala sebagai pencipta dan penguasa seluruh alam semesta, yang tidak memiliki barang setitikpun kelemahan dan keterbatasan.
Sedangkan para dewa dewi yang menjadi objek penyembahan orang-orang di Edela dalam konsep keagamaan mereka memiliki berbagai kelemahan dan keterbatasan seperti dewa laut yang tidak memiliki kuasa atas wilayah darat, dewa kesuburan yang hanya memiliki kuasa atas kesuburan tanah, dan dewa-dewa sejenisnya. Adapun dewa matahari yang paling populer pun dikenal tidak memiliki kuasa atas waktu malam. konsep seperti ini membuat orang-orang di Edela mudah tertarik dengan agama Islam.
Dilain sisi orang-orang juga tertarik dengan betapa taatnya orang-orang muslim terhadap kegiatan peribadatannya. Hal ini belum pernah dilihat di daerah Edela mengingat orang-orang yang taat dalam hal spiritual biasanya hanya para pemuka-pemuka agama saja. Begitu juga dengan keadilan yang diterapkan dari aturan-aturan dan sistem Islam. Tanpa memandang status dan latar belakang orang yang bersangkutan, aturan dan sanksi pun tetap ditegakkan. Seperti pada kasus di mana seorang penduduk kota Eklaire melaporkan salah satu tentara Ghazi merampas barang miliknya membuat tentara Ghazi itu diproses dan mendapat hukuman setelah kasus itu terbukti, seketika penduduk yang melaporkan hal itu pun langsung mengucap dua kalimat syahadat.
Sistem seperti ini membuat sedikit bangsawan-bangsawan era kerajaan Scotia menjadi semakin kehilangan perngaruh mereka. Sejak awal karena peperangan, para bangsawan Scotia memang sudah kehilangan status dan jabatan resminya, meskipun masih memiliki pengaruh dan menggunakan kemampuan sihir mereka untuk mempertahankan atau memperkuat pengaruh mereka. Kemampuan sihir itu biasanya digunakan untuk mengancam rakyat bawah. Namun sejak penerapan pemerintahan Islam, rakyat bawah tidak takut lagi dengan pengaruh bangsawan ataupun kemampuan sihir para bangsawan. Bagaimanapun status dan pengaruh bangsawan, mereka akan tetap dihukum bila melakukan kesalahan atau melanggar aturan-aturan yang sudah diterapkan di Daulah Islam.
Kemampuan sihir para bangsawan sudah tidak bisa digunakan untuk mengancam lagi. Bagaimanapun kekuatan sihir yang dimiliki para bangsawan tidak sekuat persenjataan yang dimiliki Pasukan Ghazi yang juga menjadi penjaga dan pihak berwenang sipil menggantikan tugas polisi yang memang belum dibentuk. Dari hal ini, para penduduk Edela atau orang Scotia pada umumnya yang sekarang disebut provinsi 'Askutiya' dapat merasakan apa yang disebut sebagai suatu kesetaraan sesama manusia.
Kabar tentang Islam, orang-orang muslim dan perlakuannya terhadap orang-orang Scotia mulai menyebar luas di kota-kota lain. Orang-orang di luar wilayah Daulah pada umumnya masih saja menyebut tentara Daulah sebagai orang-orang Hitam atau pasukan kegelapan. Akan tetapi berbanding terbalik dengan sebutan yang diberikan, mereka memberikan perlakuan yang terbaik terhadap penduduk Scotia yang berada di bawah kekuasaannya. Bahkan lebih baik daripada kerajaan-kerajaan lain memperlakukan rakyatnya sendiri. Kabar seperti ini menyebar layaknya api yang merambah meskipun orang-orang yang berada di negeri yang jaraknya cukup jauh seperti negeri Isylum, Byzantius, dan Greecia tidak terlalu menganggap serius kabar tersebut atau justru dianggap mitos dan dongeng belaka.
###
Sementara itu, 3 Kilometer sebelah barat dinding kota Longnard. Satu hari setelah penaklukan kota Orluire. Divisi 5 Korp Edela yang dipimpin oleh Kolonel Ali sedang melakukan persiapan pengepungan. Terdapat empat gerbang jalan masuk di kota Longnard, Gerbang barat, Gerbang Utara, gerbang timur, dan gerbang selatan yang mengarah ke pantai. Kolonel Ali berniat menghadang keempat jalan masuk tersebut untuk mencoba mencegah pasukan musuh yang kabur.
Beberapa saat yang lalu Kolonel Ali membagi pasukannya dimana gerbang utara, timur dan selatan akan dihadang oleh sekitar 1000 pasukan tiap gerbangnya dengan ditemani oleh 50 Tank campuran Mahmud dan Osman serta puluhan Armor Ringan seperti Hisan dan Safir. Sedangkan serangan utama akan dilakukan melalui gerbang barat.
Berdasarkan kabar terbaru yang didapatkan. Raja Cheldric baru saja berhasil melarikan diri melalui gerbang timur sebelum pasukan grup B yang harusnya diposisikan menjaga jalan ke arah gerbang tersebut sampai di posisi mereka. Selama 2 bulan terakhir pasukan Leonia memang kehilangan lebih dari 300 ribu pasukannya dan menurut perkiraan kolonel Ali, hal itu akan melumpuhkan kemampuan Ofensif Leonia untuk sementara waktu.
Di sisi pasukan Ghazi, Divisi 5 Grup A yang berada di sebelah barat kota, sejumlah 3000 pasukan sudah bersiap untuk menyerbu memasuki kota dengan peralatan lengkap. Pasukan ghazi bahkan sudah mulai dipersenjatai dengan senjata jarak dekat. Senjata ini umumnya berupa pedang yang lebih mirip seperti versi pisau tempur yang diperpanjang dengan gagang berwarna hitam dan disarungkan di punggung atau di pinggang. Senjata utama yang mereka gunakan sebagian besar adalah senapan T-7 dengan sebagian lain menggunakan ST5, MT2M2 dan anti tank AR 4 dan AR 5.
Tank dan Armor ringan menyalakan mesinnya dan helikopter mulai memutar baling-balingnya untuk memanasi mesin. Belasan helikopter Saqr dan Ababil terparkir di tengah-tengah pasukan yang juga akan membantu dalam penyerangan kota. Petugas Artileri selesai menata amunisi mereka dan siap menembakkan artileri kapan saja.
Dari hasil pengamatan drone, pasukan Leonia yang masih bersiap menjaga kota Longnard diperkirakan berjumlah 10 ribu pasukan dan beberapa brigade penunggang Wyvern yang berjumlah sekitar 100 Wyvern. Jumlah itu merupakan jumlah yang cukup sedikit bagi kolonel Ali untuk mempertahankan kota sebesar Longnard di masa-masa perang. Selain itu keadaan kota tampak tidak terlalu baik. Beberapa bangunan-bangunan penduduk terlihat rusak atau bekas terbakar. Para penduduk sendiri banyak yang terlihat hidup dijalanan dalam keadaan yang memprihatinkan.
Di beberapa tempat tertentu terdapat pemandangan di mana bangsawan Leonia yang dengan baju zirahnya yang mewah merendahkan atau bahkan menyiksa beberapa penduduk sipil. Sedangkan tentara Leonia sendiri malah asyik berpesta dengan mabuk mabukan. Semua itu menyimpulkan satu hal di pikiran sang kolonel. Terlepas dari besarnya kota itu, Longnard sangat memprihatinkan dan penduduknya diperlakukan tidak baik.
"Sersan Fahmi, apakah Pasukan Grup B, C, dan D sudah berada di posisi mereka?" Tanya Kolonel Ali menanyakan status pasukan yang bertugas mengepung jalan masuk kota.
"Grup C, dan D sudah melapor untuk bersiap di posisi mereka 15 menit yang lalu. Sedangkan laporan dari Grup B baru saja masuk beberapa detik yang lalu. InsyaAllah kita bisa melancarkan serangan kapan saja kolonel." Jawab Sersan itu sambil menoleh ke belakang dimana sang kolonel berdiri.
"Bagaimana dengan penduduk sipil di dalam kota?" tanya Kolonel lagi sambil kali ini menatap monitor hasil pengamatan dari drone yang memperlihatkan para penduduk kota berlarian ke tengah kota.
"Pesawat SS15 sudah menjatuhkan ribuan selebaran yang memperingatkan mereka tentang serangan kita dan meminta mereka berlindung di tempat-tempat ibadah atau pusat kota. Tampaknya mereka sedang berlari ke arah gedung-gedung yang kita maksud sekarang."
"Baiklah, kalau begitu jalankan operasi Al Fajar sekarang".
"Baik kolonel" Sersan itu kembali menghadap ke mejanya yang dipenuhi peralatan elektronik radio dan monitor-monitor komputer.
"Untuk seluruh elemen pasukan grup A. Jalankan operasi Al Fajar sekarang" Ucap Sersan melalui radio yang terhubung ke frekuensi seluruh pasukan Divisi 5.
Seketika, seluruh Tank dan kendaraan lapis baja pasukan Ghazi yang tergolong Grup A langsung bergerak maju menuju tembok-tembok kota Longnard dengan infantri di dalam Armor pengangkut seperti Jamal, Safir dan Hisan atau di atas tank Osman dan tank Mahmud. Salah satu tentara Ghazi yang berada di barisan depan Grup A adalah Letnan Faisal yang duduk di atas Tank Mahmud disertai oleh anggota regunya dari regu Muhajir. Dari atas tank Mahmud, Faisal bisa melihat puluhan naga Wyvern beterbangan di atas kota. Tak lama kemudian, 5 jet SU110 meluncur dari belakang melewati pasukan Grup A. dari radionya Faisal dapat mendengar komunikasi dari berbagai unit pasukan termasuk unit Siroj 10.
"[buzz] Di sini Siroj 10 kami bergerak ke kota untuk melumpuhkan pasukan udara musuh."
Kelima pesawat SU110 meluncurkan rudalnya ke arah Wyvern yang beterbangan itu menjatuhkan lima naga sekaligus. Kemudian pesawat SU110 menembakkan rentetan senapan 30mm menjatuhkan beberapa naga lain sebelum berpencar memecah formasi dan memburui sisa naga-naga Wyvern milik Leonia.
"[buzz] Amir 2, kami mendapati pasukan artileri musuh berupa ketapel dibalik tembok, saya sarankan untuk melumpuhkan artileri musuh menggunakan Nasr 150."
"[buzz] Diterima Siroj 10, Unit Manjaniq akan melakukan pengeboman terhadap artileri musuh, bersiap untuk ledakan".
Seketika setelah laporan unit Siroj 10, berbagai ledakan muncul di balik tembok menghancurkan ketapel Leonia di balik tembok kota. Pasukan Divisi 5 tak lama kemudian mencapai jarak 500 meter dan mulai menembak ke arah tembok-tembok kota Longnard. Di saat itu pasukan infantri yang berada di atas tank mulai turun dan berlindung di balik kendaraan tank dan lapis baja lain. Di beberapa menara tembok terdapat panah yang mengarahkan panahnya ke tank-tank Ghazi.
"Sipahi 3, musuh mengarahkan panah raksasanya ke kita dari menara-menara tembok. hancurkan mereka sebelum mereka menimbulkan korban jiwa di pasukan kita."
"[buzz] Diterima Ghatafan 4, sebaiknya tutup telinga kalian"
BOOMM BOOMM
DUAARRR DUARRR
"[buzz] Target dihancurkan."
Pasukan garis depan terus maju sambil menembaki para pemanah-pemanah Leonia di atas tembok. Pemanah Leonia seolah tidak memiliki kesempatan untuk menarik busur panahnya karena terkena rentetan senapan dari pasukan ghazi. mereka berlindung dibalik pinggiran-pinggiran tembok, tiap kali ada tentara Leonia yang menampakkan diri dari balik pinggiran tembok, mereka langsung tertembak mati.
"[buzz] Di sini Sipahi 3-1, kami akan menghancurkan gerbang kota, bersiap untuk ledakan."
Meriam tank Mahmud yang berada paling depan bergerak mengarah ke gerbang kota yang ukurannya cukup besar.
BOOMM DUARRR
Tank Mahmud Sipahi 3-1 menembakkan meriamnya dan menghancurkan gerbang kota yang ukurannya cukup besar itu. meninggalkan lubang menganga di tengah-tengah gerbang yang tadinya terlihat kokoh. Sipahi 3-1 setelah menembakkan meriamnya bergerak ke arah gerbang itu, lalu secara paksa memasuki gerbang yang sudah berlubang, namun cukup kecil untuk tank sebesar Tank mahmud. Akibatnya sisa gerbang pun roboh dan dilindas oleh Sipahi 3-1.
"[buzz] Sipahi 3-1 memasuki kota. Muhajir 4, mohon bantuannya melindungi bagian samping kami."
Faisal pun berjalan mengiringi tank Mahmud yang pertama kali masuk kota, diikuti oleh infantri dan tank-tank lainnya. Faisal dapat mendengar suara putaran baling-baling dan ketika menengok ke atas, belasan helikopter Saqr beterbangan memasuki wilayah udara kota. beberapa diantaranya melayang di atas Faisal, sesekali menembakkan roket ataupun senapan gatlingnya ke tengah tengah kota.
Meskipun baru memasuki kota, Faisal dapat melihat bangunan-bangunan di dalam kota yang sudah rusak. Bukan karena tembakan tank ataupun helikopter, namun kerusakan itu terlihat sudah lama seolah kota itu belum lama diserang sebelumnya. Nyatanya pasukan Leonia memang belum lama menduduki kota Longnard. Karena itu kerusakan sisa-sisa perang pun juga belum banyak diperbaiki.
Di dalam kota, seperti yang bisa diduga, tentara Leonia menyerbu pasukan Ghazi yang memasuki kota di jalanan kota dalam jumlah ratusan. Tank Mahmud Sipahi 3-1 dan juga regu Muhajir 4 pun mengambil posisi bertahan mendapati tentara Leonia yang menyerbu dari dalam kota. awalnya tentara Leonia ditembaki dengan tembakan rentetan pendek sebelum tentara itu mendekat dan membuat tank dan regu Muhajir menembakkan rentetan terus menerus.
Ada yang sedikit berbeda dari cara pasukan Leonia menyerang saat ini. Mereka tidak menyerang dalam formasi barisan yang rapat seperti yang sudah-sudah. Melainkan mereka berlari menyerbu dengan menyebar di jalanan, membuat pasukan Ghazi lebih kesulitan untuk menembaki mereka. Tapi bagaimanapun mereka tetap saja bagaikan sasaran latihan tembak bagi pasukan Ghazi yang menggunakan senjata yang lebih superior.
Mereka bergerak dan bertahan sambil menembaki pasukan Leonia seperti itu sepanjang jalanan kota, sesekali Muhajir 4 meminta bantuan helikopter Saqr yang berada di atas mereka. Di beberapa titik kota regu Muhajir 4 juga menemui pasukan Leonia yang hanya terdiri dari pemanah dan penyihir. Tidak ada pasukan jarak dekat. Mereka berlindung di balik reruntuhan atau jendela-jendela bangunan menembakkan panah dan kilatan sihir ke arah pasukan Ghazi. Hal ini membuat Faisal sedikit nostalgia dengan pertempuran modern sungguhan yang hanya menggunakan senjata jarak jauh.
Mungkin tanpa tank yang sekarang bersama mereka, pasukan Muhajir 4 akan mengalami lebih banyak kesulitan untuk menghadapi pasukan pemanah dan penyihir itu. Namun, dengan adanya Sipahi 3-1 sebagai tank pendukung infantri, membuat semuanya terasa lebih mudah. Pertempuran berlangsung selama seharian, dari jalanan ke jalanan, dari gedung ke gedung, dan bahkan dari ruangan satu ke ruangan lain untuk mengamankan seluruh kota. beberapa pasukan Leonia menyerah secara suka rela melihat kemampuan bertempur pasukan Ghazi dengan berjalan menghampiri pasukan Ghazi dan kedua tangan terangkat membawa kain atau bendera putih. Mereka sadar bahwa mereka tidak dapat mengalahkan pasukan Ghazi.
Pertempuran berakhir ketika kastil kota Longnard berhasil dikuasai dengan dikibarkannya bendera Daulah yang bertuliskan kalimat tauhid itu. pemandangan kastil kota yang mengibarkan bendera Daulah membuat nyali pasukan Leonia semakin ciut dan semakin banyak diantara mereka yang menyerah ke pasukan Ghazi. para pasukan Ghazi bersautan mengumandangkan takbir dengan direbutnya kota Longnard.
###
Raja Cheldric yang ditemani oleh ratusan kesatria dan pengawal pribadinya terus mengetatkan giginya sambil berkali-kali mengumpat. Belum pernah sebelumnya dia mengalami kekalahan beruntun terus menerus seperti ini. 100 ribu pasukannya yang dikirim untuk memburu sisa-sisa pasukan Scotia di barat tidak ada seorang pun yang kembali. Begitu juga dengan 200 ribu pasukan yang dikirimnya untuk menaklukan kembali kota Eklaire tidak seorangpun yang kembali dari pasukan itu.
Itu artinya kerajaan Leonia sudah kehilangan 300 ribu pasukan terbaiknya dan mau tidak mau Leonia juga harus kehilangan kemampuan ofensifnya. Butuh waktu yang cukup lama untuk dapat membangun kembali militer Leonia. Sempat terlintas di benaknya untuk menyerah ke kerajaan yang menyebut dirinya Daulah Islam itu. namun kehormatannya lebih berharga dan membuatnya bertekad untuk melanjutkan pertempuran sampai Leonia dapat memenangkan perang ini, bahkan melawan pasukan Hitam yang berasal dari dunia lain.
"Kalau aku tidak dapat mengalahkan tentara hitam ini, maka aku juga tidak akan dapat mengalahkan kerajaan Isylum" ucap raja Cheldric pada dirinya sendiri.
###
Kolonel Ali dengan sisa pasukan Ghazi yang masih berada di luar tembok kota bergerak memasuki kota dengan membentuk kolom barisan kendaraan yang memanjang ke belakang. Kolonel sendiri berada di bagian depan barisan, tepatnya di kendaraan ketiga dengan dua di depannya adalah tank Mahmud yang senjatanya siap ditembakkan kapan saja.
Pandangan kolonel Ali bergerak ke kanan dan kirinya, mengamati kondisi kota yang memprihatinkan dengan banyaknya rumah yang rusak dan penduduknya yang juga sebagian besar menggunakan pakaian yang lusuh. Ekspresi dari kolonel Ali menunjukan wajah penyesalan melihat kondisi penduduk kota. beberapa helikopter masih beterbangan di langit kota memantau sambil memutarinya.
Beberapa suara tembakan sesekali masih terdengar dari jauh, menandakan perlawanan tentara Leonia masih belum sepenuhnya padam. Para penduduk menatap kolom barisan kendaraan kolonel Ali dan pasukan Ghazi dengan pandangan yang bermacam-macam, khawatir, takut, malas, bahkan beberapa menunjukan tatapan kebencian. Hampir tidak ada yang menunjukan ekspresi positif diantara mereka.
"Malik, apakah rumah-rumah ini rusak dan hancur akibat serangan dari pasukan kita?" Tanya Kolonel Ali pada salah satu ajudannya yang saat ini duduk disampingnya sambil menyetir mobil Jamal yang mereka kendarai.
"Tidak Kolonel, menurut laporan dari berbagai pasukan kita, bangunan-bangunan ini sudah berada di kondisi yang sama sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di tengah-tengah kota". Malik, ajudan kolonel Ali menjawab sambil matanya masih terfokus ke depan.
"Jadi ini merupakan bagian dari perbuatan tentara Leonia?"
"Sepertinya begitu Kolonel. Menurut beberapa laporan lain, sekitar 2 bulan yang lalu ketika pertama kali tentara Leonia menguasai kota ini, mereka membumi hanguskan sebagian besar bagian kota ini dan juga menjarahi rumah-rumah penduduk kota. Selama 2 bulan ini para penduduk kota berjuang bertahan hidup di bawah tekanan tentara Leonia yang sepertinya dari awal tidak memiliki niat untuk memperbaiki kehidupan mereka."
Kendaraan mereka terus bergerak dengan pemandangan yang sama di sekitar mereka sampai akhirnya mereka sampai di kastil kota yang juga nampak sama buruknya dengan bangunan di seluruh kota. meskipun sebagian kerusakan di kastil juga akibat serangan pasukan Ghazi. namun Kastil merupakan bagian dari bangunan militer dan karena itu kerusakan yang diakibatkan pasukan Ghazi merupakan hal yang wajar.
Beberapa tahanan Leonia dibariskan di lapangan dekat kastil dengan kedua tangan mereka terikat di depan menggunakan semacam borgol. Mereka sedang dalam proses memasuki kendaraan truk yang nantinya akan mengirim mereka ke kota Eklaire dimana sebuah bangunan untuk tahanan perang sedang dibangun disana.
Kolonel Ali kembali melihat-lihat suasana di sekitarnya. Dalam pikirannya, lokasi kastil ini merupakan tempat yang sangat cocok untuk menjadi pusat operasi militer di kota ini sekaligus menjadi pusat pemerintahan yang baru nantinya. Tapi dengan kondisi kota yang seperti sekarang, maka pembangunan dan pemulihan kota akan memerlukan waktu yang jauh lebih lama.
"Hubungi Jenderal Ayyub dan sampaikan bahwa kita memerlukan lebih banyak personil di sini untuk membangun kembali kota yang rusak. Sampaikan juga untuk mengirim banyak ransum makanan, obat-obatan dan suplai lainnya untuk bisa dibagikan penduduk."
Malik menghormat sambil berucap "siap" sebelum pergi menjalankan perintah sang Kolonel.
"Dunia abad pertengahan memang mengerikan ya". gumam Kolonel Ali sebelum melangkah memasuki kastil kota.
###
Pemandangan laut. Rasanya sudah lama semenjak terakhir kali ahmed melihatnya di bumi. Angin laut yang berhembus ke Ahmed membelai kulitnya memberikan hawa sejuk. Sinar matahari yang terang menandakan bahwa hari masih siang. Namun panasnya sinar matahari seolah tidak dirasakan oleh Ahmed yang sedang menikmati pemandangan di depannya.
Sudah satu minggu semenjak operasi penaklukan kota Orluire. Kondisi kota Orluire tidak seburuk kota Longnard, karena kota Orluire sendiri tidak mengalami penjarahan. Meskipun menjadi salah satu kota pelabuhan utama di Scotia, Orluire tidak terlalu besar, mungkin hanya sepertiganya bila dibandingkan dengan Longnard. Sebagian besar penduduk kota Orluire merupakan seorang nelayan dan pedagang. Karena itu tidak heran bila di sekitar Ahmed juga tampak beberapa kapal kayu yang berlabuh di dermaga.
Saat ini Ahmed sendiri memang berada di dermaga kota dan duduk di atas sebuah kotak kayu. Meskipun kotanya bukan kota besar, namun dermaganya mungkin cukup besar untuk dijadikan pelabuhan militer. Di belakang Ahmed, terlihat ratusan tentara Ghazi berjalan mondar-mandir di dermaga. Mereka tampak sibuk disana-sini, menyiapkan dermaga di kota ini menjadi kota pelabuhan pertama yang sudah mereka taklukan.
Kabarnya sekitar beberapa minggu kedepan, angkatan laut pertama yang beroperasi di Edela akan mulai berlabuh di pelabuhan ini. Karena itu banyak hal yang perlu disiapkan untuk menyambut angkatan laut yang akan datang. Ahmed yang tampak santai di tengah kesibukan tentara Ghazi pun bukan karena dia melalaikan tugasnya.
Pasukan pertama yang menyerbu kota memang diberikan waktu libur sekaligus istirahat selama beberapa hari kedepan seperti biasanya. Hal itu juga berlaku untuk Ahmed dan anggota regunya. Anggota Ahmed yang lain saat ini menyebar ke berbagai tempat yang berbeda. Beberapa pergi ke pasar, ada yang pergi ke taman kota, sisanya bermalas-malasan di tenda prajurit menikmati waktu libur atau melakukan latihan rutin atas inisiatif mereka.
Ahmed menghembuskan nafas berat sambil matanya masih tetap mengamati pemandangan laut yang ada di depannya. Wajahnya terlihat tenang dan santai. Sesekali menikmati hembusan angin yang menerpanya sambil memejamkan matanya. Ahmed sudah lupa berapa lama dia duduk disini, mungkin beberapa jam. Namun dirinya masih belum menunjukkan tanda-tanda meninggalkan tempat itu.
Tap tap tap tap tap
Terdengar langkah kaki di belakangnya membuat Ahmed yang sedang tenggelam dalam pikiran santainya sedikit menegang dan langsung menoleh ke belakang. Suara langkah itu ternyata berasal dari Karim yang berjalan mendekat ke tempatnya duduk. Karim tidak mengenakan peralatan lengkapnya, hanya seragam loreng hitam dengan sarung pistol di pinggangnya, sama seperti Ahmed.
"Assalamualaikum Kapten…"
"Waalaikumsalam Karim, ternyata kau ya".
Karim berdiri di belakang Ahmed sambil berkacak pinggang dan ikut mengarahkan pandangannya ke laut di depan mereka.
"Masya Allah, Pemandangan yang bagus ya kapten, meskipun pemandangan seperti ini juga masih bisa kita temukan di bumi kita."
Ahmed mengangguki komentar Karim.
"Kau benar, tapi dimana pun pemandangan seperti ini ada, semuanya sama-sama cipataan Allah."
Mereka terdiam beberapa saat sambil menikmati hembusan angin laut yang terus menerpa wajah mereka.
"Bagaimana hubunganmu dengan si telinga runcing itu Kapten?"
Pertanyaan itu sedikit mengagetkan Ahmed, namun Ahmed pun akhirnya tetap menanggapinya.
"Siapa yang kamu maksud Karim?" Tanya Ahmed sambil menyipitkan matanya.
"Kau tahu benar siapa yang aku maksud kan Kapten?"
Ahmed menghela nafasnya.
"Kau tahu benar kan menikahi orang di luar Islam tidak diperbolehkan!"
"Heehh, aku tidak berkata apa-apa tentang menikah kau tahu!" Karim mengatakannya sambil wajahnya tersenyum.
Ahmed terlihat seperti pencuri yang baru saja tertangkap basah setelah mendengar ucapan Karim.
"huh, ini pertama kalinya seorang wanita mendekatiku Karim, aku tidak punya pengalaman apa-apa tentang hal semacam ini".
Karim terdiam sejenak sambil menunjukkan pose berpikir dengan telunjuk yang disentuhkan di dagunya.
"Kapten baru saja bilang kalau menikahi orang di luar Islam tidak diperbolehkan bukan?"
Ahmed mengangguk, lalu menunggu kelanjutan kata-kata Karim untuk mengetahui lebih jauh kemana arah pembicaraannya.
"Apa itu berarti akan baik-baik saja bilang orang tersebut sudah masuk Islam?"
"Apa maksdumu Karim? Kita tidak boleh memaksa seseorang untuk masuk Islam bukan?"
Karim membalikkan badannya dan kali ini badannya menghadap ke arah dermaga membelakangi lautan.
"Tidak ada yang memaksa orang masuk Islam Kapten."
Ahmed masih terlihat bingung dengan perkataan Karim, namun beberapa detik kemudian kebingungannya seolah terjawab ketika mengikuti arah pandang Karim.
"Ah, akhirnya yang dibicarakan datang juga" Ucap Karim sambil melihat Sylvania berjalan ke arah mereka sambil membawa nampan yang di atasnya ada 3 mangkuk.
Apa yang membuat Ahmed terkejut adalah pakaian yang dikenakan oleh Sylvania. Kerudung dan jubah putih yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Dari sela-sela jubah itu sekilas Ahmed dapat melihat pakaian ketat yang biasanya dikenakan Sylvania, namun pakaian itu hampir tidak dapat dilihat sama sekali karena jubah yang dipakai Sylvania.
"Assalamualaikum Ahmed, Karim, aku membawakan makan siang untuk kalian." Sapa Sylvania sambil menyodorkan nampan dengan 3 mangkok yang ternyata berisi bubur.
"Terima kasih Vania, kau baik sekali mau repot-repot mengantarkannya kemari". Karim yang menyahuti duluan sambil mengambil mangkok di atas nampan diikuti oleh Ahmed.
"Aku tidak melihat kalian di kantin, jadi aku berinisiatif mengantarkannya untuk kalian. Lagi pula aku juga ingin menikmati udara di luar sini."
Sylvania meletakkan nampan sambil memegang mangkok terakhir dengan tangan satunya. Lalu duduk kotak kayu terdekat.
"Ah, aku baru ingat kalau setelah ini ada yang harus aku kerjakan. Kalau begitu aku pergi dulu ya kapten!" pamit Karim sebelum tiba-tiba pergi berjalan menjauh meninggalkan Ahmed berdua dengan Sylvania sambil membawa mangkuk pemberian Sylvania.
"huh dasar orang itu!" Ahmed terlihat sebal sambil menyuapkan sendok bubur ke mulutnya. Sedangkan Sylvania hanya tertawa kecil melihat wajah Ahmed yang terlihat sebal.
Mereka berdua menghabiskan semangkok bubur itu dalam diam. Keduanya terlihat sama-sama canggung dan tidak ada yang berani memulai pembicaraan. 5 menit kemudian, bubur pun sudah habis. Sylvania mengambil mangkok kosong milik Ahmed dan meletakkanya di nampan yang sebelumnya yang dia bawa bersama dengan mangkoknya sendiri yang juga sudah kosong. Setelah mengumpulkan mangkok, Sylvania beranjak pergi kembali ke kantin.
"Anu… Vania!"
Vania terhenti ketika kakinya baru berjalan 2 langkah mendengar panggilan Ahmed.
"Pakaianmu itu… "
Vania berbalik dan meletakkan nampannya di kotak kayu terdekat.
"Kenapa Ahmed? Apa ini tidak cocok untukku?" Tanya Vania sambil mengecek pakaian dan penampilannya sendiri
Ahmed langsung menggeleng cepat, entah kenapa perasaannya menjadi jauh lebih gugup dari biasanya.
"Itu tidak benar, pakaian itu sangat cocok untukmu"
"Begitu ya, terima kasih." Jawab Vania sambil tersenyum seraya menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona merah yang muncul di kedua pipinya.
Mereka kembali terdiam sambil berdiri berhadapan, selama beberapa detik tidak ada yang yang berani berbicara sampai akhirnya Vania memutuskan untuk bercerita.
"Aku sudah belajar tentang Islam Ahmed, selama seminggu ini aku banyak menghabiskan waktuku untuk mempelajari Islam bersama dengan Lusie."
"Lusie…? Lalu?"
"Dua hari yang lalu, aku mendatangi imam Farid di masjid yang masih dalam proses pembangunan di kota ini dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Aku sudah menjadi muslim sekarang."
Ahmed terkejut dan membelalakkan kedua matanya. Mulutnya pun tanpa sadar ikut terbuka.
"Aku tidak dapat menahan ketertarikanku dengan Islam dan akhirnya aku pun memutuskan untuk masuk Islam. Kau benar Ahmed, Islam adalah segalanya."
Ahmed masih terkejut dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata apa pun. Namun entah bagaimana, ekspresinya akhirnya melunak.
"Aku, hanya ingin memberitahukan itu saja agar kamu tidak terkejut dengan perubahanku, kalau begitu aku kembali duluan."
Sylvania mengambil kembali nampan yang berisi mangkok kotor yang tadi dia pegang, hendak membalikkan badannya dan kembali berjalan menjauhi Ahmed. Tapi kata-kata Ahmed kembali menghentikan langkah Vania.
"Tunggu!"
Sylvania pun berhenti dan kembali menghadap ke Ahmed.
"Kau masih ingat dengan kata-katamu seminggu yang lalu?"
FLASHBACK
"Kalau begitu, aku ingin menikah denganmu agar kau menjadi suamiku dan aku bisa menyentuhmu kapan saja aku mau!" Ujar Vania sambil kembali mengangkat kepalanya setelah terdiam beberapa saat.
Ucapan Vania membuat seluruh pasukan yang sedang memperhatikan Vania dan Ahmed langsung terkejut dengan suara mereka yang tercekat. Begitu juga Ahmed yang mendapat ajakan Vania menikah membuat Ahmed terdiam sambil mulutnya sedikit terbuka. Ahmed beberapa kali membuka dan menutup mulutnya, bingung bagaimana harus menjawab Vania.
"Kita… tidak bisa menikah Vania".
Mendengarkan Jawaban Ahmed, seketika bulir-bulir air mata mulai berjatuhan dari bola mata Vania.
"Ke...napa?" Tanya Vania dengan sedikit terisak.
"Seorang muslim hanya bisa menikah dengan sesama muslim yang lain. maafkan aku Vania, kau bukanlah seorang muslim, karena itu kita tidak bisa menikah."
FLASHBACK OFF
Tentu saja Sylvania mengingat kata-katanya sendiri, kata-kata itu menjadi salah satu kata-kata yang paling berarti seumur hidupnya. Namun reaksi Vania sedikit tidak terduga oleh Ahmed, Sylvania menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Aku tidak ingin memaksamu Ahmed. Memang benar aku masih menyukaimu, tapi kita tidak perlu menikah bila kau tidak menyukaiku. Lagi pula, alasanku masuk Islam bukan karena aku ingin menikahimu." Pipi Sylvania kembali merona ketika mengucapkan kata "suka" ke Ahmed dan kepalanya sedikit tertunduk untuk menyembunyikan rona di pipinya. Pandangannya beralih ke tanah yang dipijaknya, tidak berani menatap Ahmed. Mengingat reaksi Ahmed waktu itu, tentu Sylvania merasa bahwa Ahmed memang tidak mau menikahinya, meskipun tidak dapat dia pungkiri bahwa perasaannya terhadap Ahmed juga sama sekali tidak berubah.
Namun di luar sepengetahuan Sylvania, wajah Ahmed dipenuhi dengan tekad. Kedua tangannya mengepal di sampingnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ahmed pun mengatakan salah satu kata-kata yang akan menjadi kata-kata paling sakral di dalam hidupnya.
"MENIKAHLAH DENGANKU, SYLVANIA!"
