Part 15 Pernikahan

"MENIKAHLAH DENGANKU, SYLVANIA!"

Kata-kata yang terlontar dari mulut Ahmed membuat Sylvania terkejut dan gemetar, kedua tangannya reflek menutup mulutnya yang terbuka. Matanya mulai berkaca-kaca. Ahmed masih saja memandang Sylvania dengan tatapan yang penuh tekad. Tangannya terkepal di samping tubuhnya di saat Ahmed diam menunggu jawaban Sylvania.

Namun Sylvania tidak dapat berkata apa-apa. Hatinya terlalu berkecamuk ketika mendengar permintaan Ahmed. Akhirnya setelah beberapa detik atau bahkan beberapa menit dalam keterdiaman, tanpa berkata apa-apa, Sylvania hanya bisa mengangguk pelan dengan senyuman kecil dan air mata yang mengalir di pipinya, namun siapa saja pasti menyadari bahwa air mata itu adalah air mata kebahagiaan. Kedua tangannya sudah tidak menutupi mulutnya lagi.

"Jadi, kamu mau menikah denganku?" Tanya Ahmed seolah kurang yakin dengan jawaban Sylvania.

Sylvania kembali mengangguk sambil mengusap kedua air matanya yang masih mengalir dan mulai mengeluarkan suara sesenggukan.

"Tentu saja aku mau Ahmed, 'hiks' aku sudah menunggumu mengucapkan 'hiks' kata-kata itu selama ini!" Vania menjawab sambil masih mengusap air matanya.

Senyuman lebar pun terbit di bibir Ahmed setelah mendengar jawaban Sylvania. Namun wajahnya tiba–tiba menunjukkan sedikit keraguan.

"Kau yakin mau menikah denganku? Kau tahu, kita berbeda ras, kau elf, dan aku manusia biasa."

"Itu tidak ada hubungannya Ahmed, Islam tidak pernah membeda-bedakan ras dan bangsa, kau sendiri yang pernah mengatakannya bukan?"

"Tapi… bagaimana dengan perbedaan rentang waktu hidup kita? maksudku, kau tahu kan elf berumur panjang?"

Sylvania menunduk sejenak, kemudian kembali mengangkat kepalanya sambil menggeleng pelan.

"Hidup dan mati, semuanya di tangan Allah. lagi pula, berapa lama pun aku hidup atau sesingkat apa pun hidupmu, aku ingin menghabiskan waktuku sebanyak mungkin bersamamu, meskipun itu hanya sehari. Kau sendiri yang melamarku bukan? Kenapa kau tiba-tiba jadi ragu seperti ini?"

"Maaf, aku hanya tidak mau kau menyesal setelah menikahiku."

Sylvania kembali menggeleng, lalu menunjukan wajah yang penuh tekad sama seperti Ahmed sebelumnya.

"Aku tidak akan menyesal Ahmed, selama itu adalah kamu, aku tidak akan menyesal."

Ahmed akhirnya merasa tenang dengan jawaban Vania, wajahnya melunak. Senyumnya kembali merekah, dan akhirnya tanpa basa-basi, Ahmed tiba-tiba berlari sambil meraih lengan Sylvania, lebih tepatnya menarik bagian lengan jubahnya tanpa menyentuh tangannya. Sylvania yang tiba-tiba ditarik pun sempat terhentak sambil mengeluarkan suara "ehh?" dan akhirnya mau tidak mau mengikuti langkah Ahmed meninggalkan nampan dan mangkok kosong yang seharusnya dia bawa kembali ke kantin.

"Tu-tunggu Ahmed, kemana kau membawaku?" tanya Vania sambil berusaha menyesuaikan langkah kakinya dengan Ahmed. Mereka melewati kompleks pelabuhan menuju ke tengah kota dan sempat menjadi pusat perhatian bagi pasukan Ghazi yang berkerja dan berlalu lalang di sana.

"Lihat saja nanti, kau pasti akan menyukainya"

Mereka menerobos keramaian pasar, komplek perumahan penduduk, sampai akhirnya mereka berhenti di depan sebuah bangunan yang sedang dialih fungsikan dan masih dalam proses renovasi. Sylvania tertunduk sambil kedua tangannya memegangi lututnya dan nafasnya tersengal-sengal. Setelah selesai mengatur nafasnya, Sylvania kembali berdiri dan memandang bangunan yang ada di depannya.

"Ini…kenapa kita pergi ke masjid Ahmed?"

"Tentu saja untuk menikah."

Ucapan Ahmed membuat Vania kembali terkejut sampai mulutnya tanpa sadar terbuka dan matanya membelalak.

"Se…secepat ini? kau yakin? Kita tidak akan mengadakan pesta atau semacamnya?"

"Kita bisa melakukannya setelah perang ini selesai, yang terpenting saat ini adalah kau sekarang menjadi wanitaku."

Ahmed kembali menarik Vania memasuki bangunan yang belum lama ini dialihfungsi menjadi masjid, tentunya setelah melepas sepatunya. Di dalam, mereka berdua menemui imam Farid, lebih tepatnya Mayor Farid, seorang perwira sekaligus pemuka agama di militer. Farid sedikit terkejut melihat Sylvania yang baru 2 hari lalu dituntunnya membaca kalimat syahadat, sekarang ditarik oleh seorang pemuda dari tentara Ghazi. Ahmed sempat memberikan sikap hormat ke Mayor Farid sebelum mengutarakan niatnya.

"Mayor Farid, tolong nikahkan kami berdua."

Permintaan yang membuat mayor Farid lebih terkejut lagi. Dia ingat sekitar seminggu lalu dia juga menikahkan seorang pemuda dari tentara Ghazi dengan penduduk lokal. Tidak menyangka dalam waktu singkat akan ada prajurit lain yang berniat menikahi penduduk lokal lagi.

###

Malam hari di salah satu penginapan kota, Sylvania duduk di pinggiran ranjang kamar. Jarinya berkali-kali mengusap benda yang terpasang di salah satu jarinya, tepatnya di jari cincin tangan kiri. Cincin itu merupakan pemberian Ahmed sebagai mahar pernikahan yang mereka lakukan siang ini. Entah darimana Ahmed mendapat atau membawa cincin itu. Memang terlihat sangat sederhana, cincin emas polos tanpa ada mata berliannya, tetapi Sylvania tetap menyukainya. Rambut peraknya yang masih basah menandakan bahwa dia baru saja selesai mandi.

Di balik pintu kamar mandi, terdengar suara percikan air. Suara itu berasal dari Ahmed yang saat ini sedang menggunakan kamar mandi itu bergantian dengan Vania. Sambil masih mengusap cincin emas polos sederhana di jarinya. Senyum Vania tidak pernah pudar. Rasanya tidak percaya dirinya bisa menikah dengan orang yang dicintainya.

Benar, Sylvania memang sudah lama memiliki perasaan itu terhadap Ahmed. Kalau ditanya sejak kapan perasaan itu tumbuh, mungkin sejak Ahmed menyelamatkan dirinya di desa itu. Mungkin kesannya Sylvania terlihat terlalu mudah untuk jatuh cinta. Namun bila melihat cerita di baliknya dan dari sudut pandang Sylvania, semua orang akan mengerti kenapa Sylvania begitu mudah jatuh cinta terhadap manusia yang sudah menolongnya di hari itu.

"Hiduplah dan temukan kebahagiaanmu."

Kalau saja bukan karena kata-kata itu, Sylvania mungkin akan memilih untuk mati mengikuti jejak ibunya. Sylvania terus bertahan hidup, berpindah dari satu desa ke desa lain sendirian, sesekali bekerja di tempat penduduk. Ketrampilan memanah yang dia dapat selama berlatih dimanfaatkan untuk berburu dan dagingnya sebagian dia jual di desa-desa.

Waktu itu Sylvania terus bergerak ke arah barat selama berpindah-pindah desa. Kabar tentang perang antara Leonia dan Scotia pun juga semakin mendorongnya untuk bergerak lebih jauh ke barat sampai akhirnya di suatu desa, Sylvania diterima dengan baik dan orang-orang di desa itu mengizinkannya tinggal di sana bahkan setelah mereka mengetahui identitas Sylvania yang sebenarnya. Sayangnya, cepat atau lambat ternyata desa itu menjadi target penyerangan tentara Leonia, Sylvania hampir saja menghadapi nasib tragis kalau saja waktu itu regu Ahmed tidak datang.

Lamunan panjang Sylvania terputus setelah mendengar suara decit pintu yang terbuka. Ahmed keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana pendek sambil mengeringkan badannya dengan handuk. Melihat Ahmed yang bertelanjang dada, pipi Vania memerah sambil mengalihkan pandangannya.

"Ah, Sylvania, maaf menunggu. Sepertinya aku mandi terlalu lama sampai lupa waktu."

"hm, tidak apa-apa."

Ahmed mendekati Sylvania dan duduk di sampingnya sambil sesekali mengusap rambutnya dengan handuk. Sylvania sendiri hanya mengenakan sebuah gaun tidur selutut yang kainnya terlihat tipis. Gaun yang selama ini digunakannya ketika menjelang tidur, salah satu peninggalan terakhir ibunya. Tiba-tiba Vania merasakan belaian di rambutnya. Ahmed yang sudah berhenti mengeringkan rambutnya, membelai rambut perak Vania dengan lembut.

"Rambut ini, rambut yang tidak akan pernah aku temukan di tempat asalku."

Sylvania menggeser tubuhnya menghadap Ahmed, membuat mereka berdua duduk berhadapan.

"Apa kau membencinya?"

Ahmed menggeleng sambil tangannya masih terus membelai rambut Vania.

"Tidak, malah rambut ini sangat indah. Mungkin permintaanku ini akan terdengar egois, tapi… aku ingin kau hanya menunjukkan rambut indah ini untukku mulai sekarang."

Sylvania mengangguk pelan.

"Rambutku memang agak berbeda dari yang lain, mungkin karena keturunan. Aku sendiri juga tidak begitu paham dari mana asal warna rambutku. Ibuku juga memiliki warna rambut yang sama denganku. Karena rambut ini penampilan kami jadi lebih mencolok di tengah banyak orang."

"Yah, apapun warna rambutmu, Sylvania adalah Sylvania, dan itu tidak akan berubah untukku".

Ahmed berhenti membelai rambut Sylvania dan memeluknya dengan erat.

"ini yang selama ini kamu inginkan bukan?" Tanya Ahmed yang dibalas anggukan Vania.

"Iya" Vania membalas pelukan Ahmed sama eratnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ingatannya berpindah ke saat ketika ia mencoba memeluk Ahmed, namun Ahmed tidak membalasnya dan malah melepas pelukannya. Sylvania mengira Ahmed tidak menyukai dirinya sama seperti orang-orang selama ini. Apa yang dipikirkan Sylvania ternyata tidaklah benar. Ahmed melakukan itu karena dia sangat ingin menjaga dirinya.

"Mulai sekarang kita bisa melakukannya sesuka kita, atau bahkan kita bisa melakukan hal yang lebih." ucap Ahmed sambil melepas pelukannya dan menyeringai membuat Sylvania kembali memerahkan pipinya.

###

"[bzzz] Seluruh unit Mubarizun, segera melapor ke gerbang utara, sekali lagi, seluruh unit Mubarizun, segera melapor ke gerbang utara. Pasukan tidak dikenal dalam jumlah banyak sedang bergerak menuju ke kota."

Pagi hari menyingsing, sinar matahari memasuki celah-celah jendela yang tertutup. Di ruangan itu sebuah radio berbunyi dengan pengumuman yang diulang-ulang beberapa kali. Suara radio itu membangunkan dua orang yang sedang tertidur di atas ranjang yang sama dengan posisi saling merapat satu sama lain. orang yang terbangun dan duduk pertama kali di ranjang itu adalah seorang pria di akhir usia 20an nya. Sambil sedikit menggosok kepalanya sebentar, pria itu menuruni ranjang dan mengenakan pakaian seragam serta peralatan lengkapnya yang disimpan di salah satu sudut kamar.

Orang kedua, seorang gadis, atau lebih tepatnya wanita yang masih di atas ranjang ikut bangun terduduk di ranjang sambil memegangi selimut sebatas dadanya. Rambut peraknya yang sedikit berantakan menutupi sebagian bahunya.

"Ada apa Ahmed?" tanya wanita berambut perak yang masih terduduk di ranjang.

Ahmed menjawab sambil mengenakan seluruh peralatan tempurnya mulai dari rompi, sabuk peluru, peralatan elektronik yang mirip jam tangan.

"terjadi sesuatu di gerbang utara, kami dipanggil untuk bersiap menghadapi situasi yang terburuk."

Mendengar jawaban Ahmed, Sylvania ikut turun dari ranjang dan mengenakan pakaian dan jubahnya kembali. karena peralatan Sylvania tidak begitu banyak, Sylvania bisa selesai bersamaan dengan Ahmed yang berpakaian terlebih dahulu.

"Apa yang kau lakukan Sylvania?" Tanya Ahmed sambil menyampirkan senapannya di bahu kanannya.

"Aku ikut denganmu Ahmed." Sylvania memasang sarung panah di pinggangnya dan mengambil busurnya, namun Ahmed kemudian mendekati Sylvania dan memegang kedua pundaknya.

"Vania, aku ingin kau tetap aman di sini. Aku tidak mau kau dalam bahaya. Biarkan aku yang menangani ini oke?"

Vania menggeleng cepat.

"Tidak, kita sudah berjanji untuk selalu bersama bukan? Aku ingin mengikutimu kemana pun kau pergi Ahmed, biarkan aku berada di sisimu."

"Tapi Vania…"

Mulut Ahmed terbungkam karena sebuah benda kenyal menyumpal mulutnya membuatnya terdiam. Sylvania membungkam mulut Ahmed dengan mencium bibirnya.

"Ahmed akan melindungiku dan aku juga akan melindungimu. Kita berdua saling melindungi satu sama lain. Lagi pula, pasukan Ghazi merupakan pasukan terkuat di Edela bukan?"

Kenyataan bahwa Sylvania mencium bibir Ahmed terlebih dahulu menandakan bahwa dirinya sudah sudah mulai agresif dan tidak menahan diri lagi terhadap Ahmed. Ahmed mengangguk pelan, kehabisan kata-kata untuk membuat Sylvania tidak ikut dengan dirinya. Sylvania menggenggam salah satu tangan Ahmed dengan kedua tangannya.

"Baiklah." Pada akhirnya hanya itu yang dapat menjadi jawaban Ahmed.

"Ayo!" ajak Vania.

Mereka berdua keluar dari kamar setelah Ahmed meraih dan membawa helmnya dengan tangan kirinya. Di luar kamar, mereka tidak sengaja bertemu dengan Faruq dan Lusie yang ternyata berada di kamar tepat di sebelah kamar mereka. Faruq terlihat menenangkan Lusie yang sedang berdiri di ambang pintu kamar dengan seragam dan pakaian lengkap, sedangkan Lusie terlihat keberatan untuk ditinggal.

"Faruq?"

"Kapten?"

Faruq dan Ahmed bergantian memanggil satu sama lain sambil terkejut. Sedangkan Sylvania dan Lusie juga mengikuti hal yang serupa.

"Lusie?"

"Sylvania?"

Mereka memandang satu sama lain selama beberapa detik sebelum Ahmed akhirnya berbicara terlebih dahulu.

"Apa yang kalian berdua lakukan di kamar ini Faruq?"

"seminggu ini aku memang tinggal di kamar ini bersama Lusie kapten, kau sendiri kenapa tiba-tiba ada di kamar ini, selain itu kau juga bersama nona Sylvania?"

"Kami berdua tinggal di kamar ini semenjak tadi malam." Jawab Ahmed. Lusie pun ikut bertanya.

"Apa jangan-jangan kalian berdua sudah…" Lusie tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, namun wajah Ahmed dan Sylvania sudah memerah sambil tertunduk.

"[bzzz] seluruh unit Mubarizun, segera melapor ke gerbang utara. Pasukan tidak dikenal semakin mendekat. Perkiraan waktu sampai, 30 menit lagi."

Suara radio itu kembali memecahkan suasana mereka. Kali ini suaranya tidak hanya berasal dari radio milik Ahmed, tapi juga milik Faruq.

"Faruq, kita bisa bicarakan ini nanti. Untuk saat ini kita harus segera pergi ke tembok utara."

"Siap kapten". Faruq menjawab dengan pose menghormat ke Ahmed.

"Sylvania, kau akan ikut bersama mereka?" Lusie kembali bertanya, lebih tepatnya bertanya ke Sylvania yang kemudian dijawab anggukan oleh Sylvania.

"Berhati-hatilah, tolong jangan melakukan hal-hal yang gegabah." Ujar Lusie berpesan dengan wajah khawatir.

"hm, tenang saja, Ahmed akan selalu melindungiku."

Mereka bertiga akhirnya berlari bersamaan keluar dari gedung penginapan, lalu menuju ke gerbang utara yang dimaksud. Mereka berlari selama kurang lebih 10 menit karena gerbang utara memang tidak terlalu jauh dari tempat penginapan mereka. Setibanya di gerbang, mereka menaiki tembok kota dan mengambil posisi di salah satu tempat. Karim dan yang lain pun juga sudah berada di sana, menunggu Ahmed sambil pandangannya terarah keluar gerbang di mana terdapat jembatan panjang yang menghubungkan daratan mereka dengan wilayah kekuasaan kerajaan yang disebut Galinea.

"Karim, bagaimana situasinya?"

"Oh, Kapten! Berdasarkan hasil pengamatan Drone kita, mereka sedang menyebrangi jembatan ini. kemungkinan dalam beberapa menit, kita dapat melihat mereka di jarak pandang kita."

Ahmed dan Sylvania ikut berdiri di atas tembok mengamati jembatan yang saat ini kosong. Di atas mereka, helikopter Saqr mulai beterbangan dan mengambil posisi di beberapa bagian tembok. Awalnya ada satu helikopter, kemudian bertambah lagi satu, bertambah lagi, sampai sekarang ada sekitar belasan helikopter yang membentuk perimeter di langit-langit belakang tembok. Gerbang dibuka dan Tank Osman keluar dari gerbang satu persatu membentuk barisan perimeter di depan tembok. Moncongnya diarahkan ke jembatan.

"[bzzz] Di sini Qomar 1-1, unit Qomar bersiap di posisi"

"[bzzz] Di sini Mamluk 1-1, Kami siap menghadang mereka"

Berbagai laporan radio terdengar melaporkan kesiapan berbagai unit. Termasuk unit artileri yang bersiaga di barat kota. suasana terlihat seolah pertempuran besar akan kembali terjadi. Tidak lama kemudian, sosok-sosok bayangan manusia mulai terlihat di tengah jembatan berbaris layaknya tentara abad pertengahan. 1 baris, 2 baris, 3 baris, barisan manusia keluar terus menerus seolah tidak ada habisnya. Setiap baris berjalan memenuhi lebar jembatan dengan sekitar 20 orang, karena dari awal jembatan yang menghubungkan teluk itu cukup lebar.

"[bzzz] disini Amir 2, tidak boleh ada yang menembak sampai perintah diberikan."

Barisan mereka semakin terlihat dengan barisan-barisan di belakang membawa sebuah bendera panji-panji berwarna dasar putih dengan 1 garis vertikal dan 1 garis horizontal kuning yang saling memotong dan juga gambar mahkota tepat di tengah bendera itu. jelas bukan bendera yang sama dengan yang dibawa oleh kerajaan Leonia. Seragam pasukan mereka pun berbeda, warna seragam mereka didominasi dengan warna putih. Secara teknis, mereka bukanlah musuh Daulah, atau lebih tepatnya "belum."

Bila mereka bertindak bodoh, mereka bisa saja menjadi musuh Daulah dan menghadapi kekuatan militer pasukan Ghazi sama seperti Leonia. Apa pun hasilnya, akan ditentukan dari apa yang terjadi setelah ini. Ahmed tidak dapat melihat ujung belakang dari barisan pasukan ini. Jembatan itu dipenuhi dengan pasukan, mungkin sampai di ujung seberang. berdasarkan pemantauan dari drone yang beroperasi, jumlah mereka kurang lebih mencapai 60 ribu. Jumlah yang cukup besar untuk menaklukan sebuah kota sebesar Orluire, tapi tidak cukup untuk menghadapi pasukan Ghazi.

Barisan pasukan itu berhenti sekitar 600 meter dari ujung jembatan. Suara derap langkah dari ribuan orang pun akhirnya berhenti, digantikan oleh suara bising baling-baling helikopter yang terbang di atas tembok kota. kedua belah pihak pasukan terlihat menegang satu sama lain. namun Ahmed bisa melihat ketegangan pasukan di depan mereka dicampur dengan kekaguman dan keterkejutan. Ahmed tahu benar apa yang membuat mereka menunjukan keterkejutan seperti itu.

Orang-orang di bagian barisan tengah pasukan itu mulai memiringkan badan mereka bergantian mulai dari belakang seolah memberikan jalan untuk seseorang yang berada di belakang mereka. Dan benar saja ketika tentara yang di depan ikut memiringkan badannya untuk memberi jalan, terlihat sosok pria berbadan besar mengenakan baju zirah penuh dengan jubah bulu berwarna putih di belakangnya, pria itu menunggang kuda dan berhenti di depan barisan pasukannya. Bahkan helm dari baju zirah itu juga menutupi wajah penggunanya. Dari penampilannya, jelas menunjukkan dia seseorang dengan kedudukan tinggi.

"Aku, Pangeran Tristan Gallian, dari kerajaan Gallinea, meminta kehadiran pimpinan tertinggi pasukan di depanku untuk melakukan perundingan. Siapapun yang pemimpin pasukan di hadapanku keluarlah!"

Suasana ketegangan sedikit meningkat di tengah pasukan Ghazi. kebanyakan mulai membidikkan senapannya ke arah orang yang memperkenalkan dirinya sebagai pangeran Gallinea termasuk Yusuf yang menjadi penembak jitu. Sayangnya mereka telah diberikan perintah untuk tidak menembak kecuali bila diperintahkan.

Gerbang kota yang sempat tertutup kembali terbuka. Dari dalam, muncul kendaraan Safir yang setiap orang tahu siapa yang ada di dalamnya, tidak lain adalah kolonel Umar yang memimpin seluruh elemen pasukan di kota Orluire. Lapis baja ringan itu membawa bendera daulah di tengahnya dan melaju di atas jembatan, kemudian berhenti 20 meter di depan sosok pangeran itu.

Dari dalam Safir, kolonel Umar keluar didampingi oleh 6 prajurit Ghazi yang menjadi pengawalnya. Sang kolonel berjalan dan berhenti tepat di depan pangeran. Ke 6 pengawalnya berada sekitar 3 meter di belakangnya dengan senapan yang siap ditembakkan kapan saja.

"Heh, jadi kau yang memimpin pasukan yang misterius ini. Pasukan yang dirumorkan telah mengalahkan pasukan Leonia dengan mudah dan dijuluki pasukan hitam." Pangeran Tristan memulai bicaranya dengan nada congkak.

"Namaku Umar Al Fatah, orang yang bertanggung jawab sekaligus memimpin pasukan Daulah Isalm yang ada di kota Orluire, kami hanya berperang dengan Leonia dan tidak ada niatan untuk memusuhi ataupun mengancam negara lain."

"Benar begitu? Lalu apa maksud pasukanmu yang menghadang kami dengan niat bertempur yang begitu besar di sana?"

Tristan diam-diam mengamati pasukan Ghazi yang ada di belakang kolonel Umar. Hal yang paling menarik perhatiannya adalah benda mirip capung besi raksasa yang beterbangan di atas tembok. Belum lagi gajah besi di depan tembok dan kereta besi yang bergerak tanpa kuda yang membawa Umar. Selain itu, daripada membawa pedang, perisai, dan tombak, pasukan hitam yang di depannya membawa tongkat hitam aneh yang semua bentuknya sama seperti sejumlah kecil pasukan yang mengawal orang di depannya ini.

Kira-kira untuk apa tongkat itu? kalaupun digunakan seperti tombak, ujungnya jelas tidak runcing dan mungkin akan sulit untuk menusuk seseorang bukan? Dalam hatinya Tristan memahami bahwa dari penampilannya saja yang misterius, pasukan itu terlihat sangat berbahaya.

"Ini semua hanya untuk pertahanan diri, bila anda dan pasukan anda yang berjumlah besar tidak menyerang kami, maka tindakan itu tidak akan dibutuhkan."

Tristan terdiam sejenak, kepalanya menoleh ke belakang mengamati pasukannya. Sekilas, pasukannya terlihat gentar, wajah mereka terlihat khawatir. Kalau saja Tristan melihat lebih dekat, dia akan dapat melihat butir-butir keringat yang menetes di wajah pasukannya.

"Cih, sepertinya kondisi pasukanku kurang diuntungkan, kami tidak membawa pasukan udara dan angkatan laut." Tristan bergumam pelan. Lalu kepalanya kembali menatap ke arah kolonel.

"Baiklah, untuk sementara aku akan mempercayai kata-katamu. Tapi bila sedikit saja pasukan hitam mencari masalah dengan Gallinea, maka itu akan berarti perang, ingat itu!"

Tristan pun akhirnya membalikkan kudanya dan berjalan kembali ke tengah-tengah barisan pasukannya. Ketika Tristan melewati barisan depan, pasukan yang tadinya memberi jalan kembali ke posisinya semula menutup barisan. Beberapa saat setelah Tristan sudah hilang di tengah pasukannya, seluruh pasukan Gallinea pun akhirnya berbalik dan berbaris menjauh dari kota.

Dari jauh, para tentara Ghazi yang tadinya bersiap akhirnya menghembuskan nafas lega dan menurunkan senapan mereka. Bagaimanapun peperangan memang sebaiknya dihindari sebisa mungkin. Mereka tidak pernah menikmati untuk membunuh manusia yang lain kalau saja bukan karena mereka musuh dalam peperangan.

Kolonel Umar setelah mengakhiri perundingan singkat itu kembali memasuki Safir yang kemudian berjalan memasuki gerbang kota. helikopter Saqr berpencar dan terbang kembali ke landasan yang dibangun sementara di dekat kota. tank Osman pun juga berbalik ikut memasuki gerbang kota di belakang Safir yang dikendarai Kolonel.

Namun, tetap di luar pengetahuan kebanyakan orang, Drone pengawas masih tetap bergerak mengawasi pergerakan pasukan Gallinea yang mundur, memastikan bahwa mereka tidak melakukan tipu muslihat sampai mereka selesai menyeberangi jembatan. Selain itu, percakapan antara Kolonel Umar dengan Tristan diperdengarkan melalui radio yang diam-diam digunakan oleh Kolonel. Sehingga seluruh pasukan yang ada di medan dapat mendengar apa yang mereka berdua bicarakan.

"Yah, kita tidak perlu mengalami pertumpahan darah, Alhamdulillah. Tapi yang tadi itu sepertinya hampir saja ya Kapten." Ujar Karim sambil menghidupkan pengaman senapannya.

"Kau benar, dari sikap dan nada bicaranya pangeran itu terlihat sangat ingin menyerang kita. Tapi sesuatu yang lain sepertinya menghentikannya. Pangeran itu terlihat lebih hati-hati dari kelihatannya". Ahmed ikut berpendapat, keduanya memang mendengar percakapan Umar dengan Tristan melalui radio. Kolonel Umar memang sengaja menghidupkan radionya agar seluruh pasukannya dapat mendengar percakapannya.

Ahmed, Karim, dan Sylvania berjalan ke arah tangga, menuruni tembok diikuti dengan tentara yang lain yang tidak bertugas di atas tembok. Mereka kembali ke pos masing-masing atau melanjutkan aktifitas mereka yang tadinya sempat terhenti. Tiba-tiba seorang perwira berlari ke arah Ahmed. Dari pin yang terdapat di kerahnya, perwira itu sepertinya berpangkat Letnan.

"Saya mencari Kapten Ahmed Kuzey, apa salah satu dari kalian berdua kapten Ahmed?"

"Ada perlu apa denganku Letnan?"

Perwira itu langsung menghormat ke Ahmed sebelum menyampaikan laporannya.

"Kapten, Kolonel Umar ingin menemui anda di ruangannya sekarang."

"Baiklah, sampaikan kalau sebentar lagi aku akan menemuinya di sana."

"Siap"

Sang Letnan menghormat sekali lagi sebelum berbalik dan berlari ke arah pusat kota yang menjadi pusat komando sekaligus ruangan Kolonel Umar berada. Ahmed menoleh ke Sylvania yang berada di sampingnya.

"Vania, pergilah ke penginapan terlebih dahulu. Aku akan menyusul nanti. Karim, aku akan memberitahukan apa yang disampaikan kolonel di tenda barak, jadi kau bisa kesana duluan."

Karim dan Vania mengangguk sebelum berjalan ke arah yang berbeda, sedangkan Ahmed berjalan kearah yang sama dengan Letnan yang sebelumnya memintanya bertemu kolonel Umar. Perjalanan ke kantor kolonel membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Tidak banyak aktifitas di jalan karena alarm atau peringatan penyerangan sempat dibunyikan dan penduduk kota sebagian besar menetap di rumah-rumah mereka.

Setibanya di pusat kota, Ahmed memasuki sebuah gedung yang menjadi gedung pemerintahan sementara, dengan beberapa sisi gedung yang nampak direnovasi. Bagian dalam gedung pun juga nampak direnovasi dengan beberapa tempat yang ditambahkan sekat dan juga tambahan meja-meja untuk pegawai pemerintahan sipil yang baru datang 3 hari setelah penaklukan kota. dilihat dari lampu-lampu yang ada di atas ruangan, gedung itu sudah dialiri listrik. Mungkin listrik darurat yang menggunakan panel surya kecil. Sebagian besar pekerja juga sudah menggunakan laptop. Perwira-perwira militer pun juga banyak yang berlalu-lalang di dalam.

Berjalan beberapa saat, Ahmed akhirnya tiba di depan ruangan kolonel, lalu mengetuk dan membuka pintunya sebelum memasukinya. Di dalam ruangan, Kolonel Umar sudah berdiri di belakang mejanya. Di seberang meja terdapat 2 perwira lain, salah satunya merupakan letnan yang sebelumnya memberitahu Ahmed untuk datang.

"Assalamualaikum Kolonel, Kapten Ahmed melapor." Ucap Ahmed sambil menghormat.

"Istirahat di tempat Kapten."

Ahmed berganti sikap istirahat dengan kedua tangannya di posisikan di belakang punggungnya.

"Kapten Ahmed, perkenalkan mereka berdua adalah Letnan Suleiman dan Letnan Fahmi. Mereka berdua akan bekerja sama denganmu di operasi yang akan datang."

Ahmed dan kedua letnan yang bernama Fahmi dan Suleiman berjabat tangan seraya memperkenalkan diri mereka masing-masing sebelum kembali mendengarkan Kolonel.

"Sebelumnya aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu Kapten Ahmed, dan sekaligus aku juga ingin meminta maaf karena harus memberimu penugasan satu hari setelah pernikahanmu."

"Tidak apa-apa kolonel, sudah tugasku sebagai seorang Ghazi. Tapi kalau boleh tahu, dari mana kolonel bisa tahu tentang pernikahanku?"

"Kau pikir Mayor Farid tidak melaporkan pernikahan kalian? Setiap pernikahan prajurit akan dilaporkan oleh imam dan didaftarkan ke data pernikahan termasuk pernikahanmu."

"Ah begitu ya." Ahmed merasa canggung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa ketahuan.

"Baiklah, kalau begitu aku akan langsung ke intinya. Kalian masih ingat ada berapa warga kita yang belum ditemukan?" Sang Kolonel memutuskan untuk menyingkat waktu dengan menuju ke pokok pembahasan.

"Kalau tidak salah, jumlahnya sekitar 150 kolonel" Jawab Letnan Suleiman yang paling cepat membuka mulutnya.

"Itu informasi satu minggu yang lalu. Sekitar 2 hari yang lalu, pasukan grup selatan yang berhasil menguasai kota Longnard melakukan pencarian ke pertambangan terdekat dan berhasil menemukan total 100 orang. Semuanya laki-laki dan mereka dipaksa bekerja di pertambangan. Mereka berhasil diselamatkan sebelum sempat dipindahkan oleh tentara Leonia."

Ahmed dan lainnya kali ini diam saja tidak mengatakan apa-apa karena kolonel tidak bertanya pada mereka. Selain itu mereka bertiga tidak ingin langsung melompat ke kesimpulan dan menunggu penjelasan kolonel Umar sampai selesai.

"Jadi, berdasarkan informasi terbaru, kita masih perlu mencari 50 orang yang hilang dari Gaza. Kabar baiknya kita berhasil melacak lokasi ke 50 orang yang hilang itu, mereka baru saja sampai di kota Anteinde. Jadi setelah ini tugas kalian adalah menjemput mereka di lokasi yang kami temukan. Tugas kalian cukup sederhana. Temukan warga muslim yang ditahan dan bebaskan mereka. Setelah itu hubungi kami dan kami akan mengirim cukup helikopter untuk mengangkut mereka kembali ke kota Orluire. Setelah itu kalian bisa keluar dari kota lewat jalur darat menggunakan kendaraan armor ringan yang nanti akan kalian bawa ketika berangkat. Ada pertanyaan?"

Letnan Fahmi yang pertama mengangkat tangannya. Kolonel mengizinkannya berbicara sebelum Fahmi mengutarakan pertanyaannya.

"Anda bilang kami kembali menggunakan kendaraan darat. Apakah itu berarti kita berangkat menggunakan kendaraan darat juga?"

"Benar, Kalian akan berangkat dengan Armor Safir dan membawa beberapa kargo yang nantinya akan menjadi akses masuk kalian ke kota. sembunyakan kendaraan Safir di luar dan menyusuplah ke kota dengan pakaian yang sudah disiapkan. Kalian akan masuk dengan kedok sebagai perusahaaan perdagangan dari Gallinea. Ada pertanyaan lain?"

Kali ini giliran Ahmed yang mengangkat tangannya.

"Anda sempat menyebutkan kabar baik, apa kabar buruknya?"

"Kabar buruknya, seluruh pasukan Ghazi saat ini sedang difokuskan untuk membangun kota-kota yang berada di bawah kendali kita, khususnya kota Longnard. Daulah Islam berkomitmen untuk memperlakukan seluruh penduduknya dengan perlakuan yang sama dan warga yang tinggal di tempat yang kita kuasai sekarang otomatis menjadi penduduk Daulah juga. Karena itu, tidak hanya membangun kota, tapi juga menyediakan fasilitas-fasilitas modern seperti listrik, air, rumah sakit, dan sebagainya. Karena itu, untuk saat ini kami tidak memiliki pasukan dalam jumlah dan sekala besar untuk mendukung kalian di sana sampai kami mendapat pasukan tambahan dari balik terowongan."

"Apa yang harus kita lakukan bila keadaan berjalan di luar harapan dan rencana kita kolonel?"

"Kami sudah menyiapkan beberapa kompi pasukan gerak cepat dari pasukan penerjun ke 18, bila semuanya berjalan diluar rencana, hubungi markas dan laporkan semuanya. Pasukan gerak cepat akan memasuki kota dan mencoba menguasai lokasi-lokasi strategis yang ada di kota dan dengan cepat kita akan merebut kota Anteinde menggunakan pasukan yang ada. Langkah ini merupakan cara yang beresiko besar dan peluang keberhasilannya agak kecil, jadi kami menggunakannya sebagai rencana cadangan. Apa ada pertanyaan lain?"

Kali ini tidak ada lagi yang mengangkat tangannya dan semuanya diam menandakan mereka sudah memahami misi mereka.

"Baiklah kalau tidak ada pertanyaan. Ahmed akan menjadi penanggung jawab sekaligus pemimpin kalian di misi ini dan Letnan Fahmi akan menjadi wakilnya. Untuk dapat menyelamatkan saudara-saudara muslim kita yang diculik, kita tidak dapat menunggu lebih lama lagi sebelum mereka dipindahkan ke tempat lain. karena itu misi ini aku percayakan kepada kalian regu J17, J18 dan J19. Waktu persiapan kalian 3 hari. Yang terakhir, kalian akan menjadi regu pertama yang menggunakan peralatan terbaru kita yang berupa kacamata taktis yang bisa kalian dapatkan di gudang persenjataan nanti. Itu saja yang dapat aku sampaikan saat ini, kalau tidak ada pertanyaan lain kalian boleh bubar, semoga pertolongan Allah senantiasa bersama kita."

Ketiga perwira termasuk Ahmed menghormat ke Kolonel Umar sebelum berbalik meninggalkan ruangannya. Namun ketika berbalik, kolonel Umar memanggil Ahmed terlebih dahulu untuk tinggal sebentar.

"Kapten Ahmed, aku tidak akan memaksakan hal yang satu ini. Aku yakin kau yang sudah menikah tidak ingin membahayakan istrimu. Tapi untuk misi ini, akan sangat membantu bila istrimu yang bangsa Elf itu ikut denganmu. Aku yakin dia lebih mengenal dunia ini dan akan membantumu untuk berbaur dengan masyarakat setempat. Selain itu kemampuan penyembuhannya juga akan dibutuhkan."

Ahmed terkejut mendengar penawaran atau lebih tepatnya saran dari kolonel Umar. Dia tidak menyangka kolonel Umar akan membahas tentang Sylvania.

"Kolonel, aku mengerti tentang bantuan Sylvania untuk bisa berbaur dengan masyarakat setempat. Tapi… penyembuhan dari Sylvania, bukannya kita dilarang menggunakan sihir?"

"Kita belum tau Ahmed, apakah kemampuan itu termasuk sihir yang selama ini kita pahami dan terlarang atau itu sebenarnya merupakan hal lain. Ingat, bahkan teknologi kita pasti juga akan dianggap sihir bagi mereka yang tidak mengerti."

Ahmed pun memahami penjelasan Umar dan mengangguk pendek.

"Ah aku hampir lupa, ilmuan dan ulama kita sangat sibuk mencari informasi dan pengetahuan umum tentang Edela akhir-akhir ini, terutama terkait dengan 'sihir' yang baru saja kita bicarakan. Mereka sedang mencari banyak sukarelawan untuk melakukan uji coba dan mencari pemahaman dibalik fenomena 'sihir' di dunia ini."

Ahmed memang memahami bahwa para ilmuan dan ulama sangat sibuk dengan penelitian mereka tentang dunia yang sama sekali belum pernah dijamah oleh manusia dari dunia mereka ini. Namun, Ahmed masih belum paham kaitan dirinya dengan penelitian para ilmuan itu.

"Lalu, apa hubungannya dengan saya kapten?" Tanya Ahmed dengan raut wajah sedikit bingung.

"Istrimu merupakan salah satu pengguna sihir itu bukan? Aku pikir akan sangat membantu kalau dia ikut berpartisipasi, itu pun jika dia tidak keberatan. Kalian bisa pergi ke benteng Andalusia bersama dengan relawan lain yang mau ikut uji coba besok pagi menggunakan helikopter. Tentu saja kalau kalian bersedia, akan ada imbalannya nanti dan kalian juga akan diantar kembali kemari keesokan harinya lagi."

Ahmed mengangguk kecil memahami penjelasan kolonel Umar.

"Aku mengerti kolonel, akan aku bicarakan dengan Sylvania nanti."

Ahmed kembali menghormat, lalu berbalik lagi untuk keluar dari ruangan Kolonel.

###

Malam hari, menjelang tidur Ahmed baru saja menyiapkan peralatan-peralatan pribadinya yang akan dibawa untuk misi yang akan datang. Saat ini dirinya sedang duduk di ranjang menata perlengkapannya yang baru saja dia ambil di gudang senjata bersama anggotanya yang lain. Sambil menata peralatannya, pikirannya masih memikirkan tawaran kolonel yang meminta Sylvania menjadi relawan.

"Jadi benar kau akan dikirm untuk misi lagi?" Tanya Sylvania ke Ahmed yang tadinya sedikit melamun, membuatnya sedikit tersentak.

"Ah, Iya, kami akan pergi 3 hari lagi ke kota Anteinde untuk menyelamatkan warga kami yang diculik."

"begitu ya" Sylvania tertunduk lemas. Dia sadar bahwa memang seperti ini resiko memiliki kekasih seorang prajurit.

"Tolong berjanjilah untuk tidak bertindak gegabah dan tidak menyianyiakan nyawamu Ahmed."

"hmm, aku berjanji." Ahmed mengangguk sambil kembali melamun memikirkan tawaran itu.

"Ahmed, apa ada yang sedang kamu pikirkan? Kamu terlihat melamun."

"Ah maaf, aku sedang memikirkan tawaran kolonel."

"Tawaran apa?" Sylvania mulai penasaran dengan tawaran yang sampai membuat Ahmed melamun. Apakah itu sesuatu yang berbahaya sampai dia begitu memikirkannya?

Ahmed pun mau tak mau memang harus menjelaskannya ke Sylvania cepat atau lambat. Sambil mengambil sedikit napas panjang, Ahmed pun mulai bercerita tentang fenomena sihir, mulai dari sihir yang dia kenal di agama Islam dan sihir yang digunakan di Edela.

"Kau tahu, ini terkait sihir." Ucap Ahmed memulai ceritanya.

"Ah itu ya, aku dengar sihir memang dilarang di dalam islam. Karena itu semenjak aku masuk Islam, aku berhenti menggunakannya." Ucap Sylvania lesu.

"Sebenarnya, kita belum tahu apakah sihir yang digunakan di Edela sama dengan yang kami pahami di Islam atau ini hal yang berbeda dan merupakan fenomena alam biasa yang memang asing bagi kami. Ilmuan dan ulama kami saat ini bahkan sibuk mengadakan penelitian dan mencari jawaban dibaliknya."

Sylvania sedikit terkejut ketika mendengar Ahmed mengatakan bahwa sihir di dunia ini mungkin berbeda. Namun, dia tetap mendengarkan sampai akhir.

"Bahkan di sejarah kami, setiap penemuan sains dan teknologi yang baru muncul biasanya juga masih dianggap sihir oleh sebagian orang. Namun faktanya sains dan teknologi merupakan bagian dari fenomena alami yang bisa dibilang sebagai sunatullah dan itu tidak terlarang atau bahkan dianjurkan. di sisi lain, sihir yang dimaksud di dalam Islam merupakan fenomena yang tidak alami dan memiliki campur tangan makhluk ghaib pada pemakaiannya. Hal ini yang nantinya dianggap sebagai syirik dalam Islam."

"Jadi..."

Ahmed mengangguk

"Ada kemungkinan kemampuanmu bukanlah sebuah hal terlarang, namun kita perlu membuktikannya melalui uji coba yang diadakan besok. Karena itu apa kamu mau-"

"Ikutkan aku Ahmed!"

Ahmed terkejut, bahkan sebelum menyebutkan masalah tawaran itu, Sylvania sudah meminta untuk ikut terlebih dahulu.

"Aku selalu ingin menggunakan kemampuan penyembuhanku untuk menyelamatkan banyak orang Ahmed. Tanpa kemampuan itu, kadang kala aku merasa kurang berguna, jadi jika untuk membuktikan bahwa kemampuan itu bukan termasuk hal yang terlarang, maka aku juga ingin ikut andil di dalamnya."

Ahmed pun tersenyum dan mengangguk.

"Baiklah, kita berangkat besok pagi ke benteng Andalusia."

Leon, ibu kota Leonia

Istana kerajaan

Suasana ramai memenuhi ruangan tahta raja Cheldric. Keramaian itu disebabkan oleh perdebatan dari para petinggi kerajaan Leonia. Di kursi tahta, Cheldric duduk sambil salah satu tangannya yang bertumpu pada kursi memegangi kepalanya. Suara para jenderal, menteri dan petinggi lain yang saling berteriak sama sekali tidak membantu. Mereka hanya membuat kepala Cheldric semakin pusing.

"Kita harus menambah pasukan kita dan merekrut lebih banyak orang!"

"Percuma saja! Mereka menghabisi pasukan kita dengan sihir mematikan."

"Kita ambil saja tahanan kita dan paksa mereka bertarung untuk kita!"

"Bodoh!? Bagaimana kalau mereka berkhianat!"

Raja cheldric hanya bisa diam mendengar ocehan mereka. Pada dasarnya sang raja sendiri juga tidak memiliki ide untuk dapat membalikkan keadaan peperangannya. Pasukannya dikalahkan di seluruh wilayah Scotia oleh pasukan hitam. Hasil peperangan mereka selama 4 tahun untuk merebut Scotia terasa sia-sia karena Scotia kini direbut kembali dari mereka oleh pasukan hitam. Dan yang lebih buruk lagi, pasukan hitam sudah memusnahkan 40 persen dari total angkatan bersenjata mereka.

"Apa sebaiknya kita menyerah saja dan berdamai dengan mereka?"

Salah satu usulan dari petinggi kerajaan segera menarik perhatian raja Cheldric. Seketika itu juga Cheldric mengangkat kepalanya menatap ke arah siapapun orang yang mengusulkannya. Matanya melotot tajam ke orang itu, membuat petinggi yang baru saja mengusulkannya menciut ketakutan. Namun dia mencoba kembali menjelaskan usulannya.

"D-dengar, pasukan hitam itu... mereka kedengarannya... sangat kuat bukan? Sihir mereka, bahkan bisa mengalahkan k-kita dengan... mudah. Sebaiknya kita... menyerah saja bukan?"

Raja Cheldric langsung berdiri dari singgasananya. Cheldric tahu benar bagaimana tentara hitam yang mereka bicarakan sekarang dapat mengalahkan pasukannya. Bahkan Cheldric juga melihat pertempuran itu secara langsung di kota Longnard. Kaki Cheldric melangkah ke arah petinggi kerajaan yang baru saja menarik perhatiannya. Tentu saja orang yang dimaksud hanya dapat berdiri di tempatnya sambil mengeluarkan banyak keringat dingin. Setelah tepat di depannya, raja Cheldric menepuk pundaknya dengan santai, membuatnya sedikit lega.

Namun yang terjadi di detik berikutnya adalah kepala orang itu tertebas oleh pedang sang raja. Kepalanya jatuh dan menggelinding di lantai, diikuti oleh badannya yang roboh dan membuat kolam darah di sekitarnya. Ruang tahta yang tadinya ramai tiba-tiba menjadi sunyi. Hampir tidak ada yang menyadari kapan Cheldric mengeluarkan pedangnya. Gerakannya sangat cepat.

Pada kenyataannya, kekalahan di kota Longnard telah benar-benar merusak kebanggaan dan harga dirinya. Karena itu dia tidak mau kehilangan harga dirinya lagi. Siapapum yang ingin mundur atau pun menyerah ke musuhnya, dia memastikan hanya kematian yang akan menunggu mereka.

"Jadi... siapa lagi yang ingin menyerah ke musuh kita?"

Tidak ada suara, semua diam tidak berani membuka mulut mereka. Salah seorang pelayan mendekat ke raja dan memberikan sapu tangan yang kemudian diterima oleh Cheldric untuk membersihkan pedangnya dari darah.

"Siapa pun yang ingin mundur dan menyerah, akan aku bunuh saat itu juga. Sudah cukup kita mempermalukan diri kita sendiri. Kita harus melawan mereka kembali."

Cheldric kembali berjalan ke singgasana nya dan duduk lagi di sana. Setelah duduk, ruangan masih tampak hening karena tidak ada yang berani bicara sampai sakah satu dari mereka mengangkat tangan.

"Yang mulia, selama ini kita tidak pernah melihat angkatan laut mereka. Aku mengusulkan untuk menyerang dari laut dan merebut kembali kota orluire."

"Hou, kau cerdik juga ternyata. Baiklah, kumpulkan angkatan laut mereka dan perintahkan mereka untuk menyiapkan serangan ke kota Orluire. Kali ini kita pasti akan mengejutkan mereka mengingat mereka sepertinya tidak memiliki alat transportasi air."