Part 16 Sihir dan Mana
Udara khas timur tengah yang panas tiba-tiba berubah menjadi udara dingin ketika melewati Al Jisr. Udara dingin ini membuatnya bernostalgia tentang tempat di mana dia pernah ditugaskan sebelumnya, yaitu udara dingin Eropa. Kapten Fadil dan kru kapalnya mengamati daerah sekelilingnya yang dipenuhi batu dari goa, namun bebatuan itu berbeda dari bebatuan yang mereka lihat ketika memasuki Al Jisr yang berwarna kekuningan, kali ini bebatuan itu berwarna lebih kehitaman.
Dinding-dinding gua dilapisi dengan beberapa penyangga besi setiap beberapa meter dengan lampu yang tergantung diatasnya. Dibalik penyangga-penyangga besi itu terdapat berbagai kabel-kabel yang menghubungkan kedua dunia, mulai dari kabel jaringan komputer, jaringan telpon, kabel cadangan listrik, dan kabel lainnya.
Tidak lama kemudian pemandangan batu pun berakhir digantikan dengan pemandangan interior hangar. Ratusan personel berpatroli di dalam hangar dengan beberapa pos meriam dan senapan mesin di beberapa titik. Pintu keluar Al Jisr memang dibangun Hangar untuk pengamanannya. Keluar dari hangar, kali ini pemandangan yang menyambut mereka adalah markas tentara yang bahkan skalanya lebih besar dari markas yang menjaga sisi Al Jisr di Gaza. Ribuan personil, tidak bahkan mungkin puluhan ribu personil bisa dilihat sedang bertugas di sana-sini.
Markas itu sangat luas, mungkin saat ini menjadi pangkalan militer terluas yang pernah dikunjungi oleh Fadil meskipun di Bumi sebenarnya ada yang lebih luas, namun Fadil belum pernah mengunjunginya. Ratusan tank dan kendaraan armor lainnya berjajar disana-sini. Beberapa berjalan di jalanan markas dari satu tempat ke tempat lainnya.
Di kejauhan salah satu sisi markas, Fadil dapat melihat proses pembangunan sebuah fasilitas antariksa lengkap dengan tempat peluncuran roketnya. Bahkan di tempat peluncuran roket itu sudah ada sebuah roket besar disana. Mungkin fasilitas itu hampir diselesaikan. Fadil tidak tahu perangkat apa yang akan dibawa oleh roket itu, namun yang pasti perangkat itu sejenis satelit.
Di tempat lain terdapat lapangan terbang dengan puluhan pesawat berjajar dan beberapa di antaranya sedang melakukan peluncuran. Mungkin untuk patroli, sebuah misi, atau latihan. Beberapa lainnya terlihat kembali dari udara dan mendarat di lapangan. Tidak ketinggalan juga, helikopter Saqr, helikopter Ababil, dan beberapa helikopter Nahl yang jumlahnya juga tak kalah banyak.
Bukankah itu helikopter terbaru yang belum lama mereka umumkan, bahkan mereka sudah memilikinya di sini pikir Fadil ketika melihat salah satu helikopter.
Konvoi truk yang mengangkut para kru kapal keluar dari gerbang barat dan kali ini mereka disuguhi pemandangan sebuah desa dengan puluhan atau bahkan ratusan hektar lahan pertanian. Di beberapa tempat terlihat kincir angin yang Fadil kurang begitu mengerti fungsinya, mungkin untuk pengairan lahan pertanian. Tapi yang membuat Fadil sedikit terkejut adalah warga sipil yang menggarap lahan itu menggunakan traktor. Seingat Fadil, pihak militer masih belum membuka Al Jisr untuk warga sipil biasa. Yang dapat lewat hanya pihak militer ataupun petinggi yang mengurus administrasi wilayah Al Jisr termasuk Gubernur dan Walikota yang akan memimpin kota yang sudah di tangan Daulah.
Baru sekitar 3 bulan sejak Daulah Islamiyah menyebrangi Al Jisr, dan sekarang mereka mulai membentuk peradaban maju di negeri fantasi ini yang dipenuhi oleh naga dan sihir. Di sisi lain di luar tembok, mereka juga sempat melihat sebuah bangunan fasilitas besar dengan beberapa lampu berkedip-kedip disana-sini. Di dekatnya terdapat banyak kincir angin, panel surya, dan sebuah jalan masuk ke bawah tanah yang juga mengeluarkan cahaya merah kekuningan. Mereka bisa menebak kalau tempat itu adalah pembangkit listrik.
Perjalanan mereka berlanjut ke arah utara, kali ini dengan pemandangan alam biasa yang bahkan dapat mereka temui di wilayah Eropa. Dengan semua yang mereka lihat, bahkan mereka memiliki keraguan apakah mereka memang di dunia lain atau masih di Bumi mereka sendiri. Mereka tidak melihat banyak perbedaan. Pemikiran itu mungkin saja akan terus berlanjut apabila mereka tidak melewati desa-desa dengan rumah-rumah sederhana yang memang mirip rumah abad pertengahan, begitu pula dengan pakaian penduduknya.
Yah bagaimanapun, sepertinya kita memang berada di dunia lain pikir Fadil.
###
Di suatu desa sebelah selatan Benteng Andalusia
"Aku tidak menyangka bertani bisa menjadi semudah ini bahkan tanpa sihir." pikir Jones yang baru saja selesai menggarap lahan pertanian dengan traktornya, seorang pria berusia 30 an dari sebuah desa di selatan benteng Saracen. Jones sedang duduk di pinggiran lahan gandum yang terlihat mulai menguning. Di sampingnya teman kerjanya, Fred juga menyetujui komentarnya.
"Kau benar, sejak orang-orang 'muslim' dari dunia lain itu datang, semuanya terasa lebih baik. Kita bisa mendapatkan air dengan sangat mudah di rumah-rumah kita dengan alat penghisap air yang mereka buatkan di sumur kita. Selain itu membuat api dan memasak juga menjadi sangat mudah dengan alat yang mereka sebut 'kompor' itu. Di malam hari, dengan adanya lampu-lampu yang mirip sihir itu, rumah-rumah kita tidak lagi gelap. Bagaimanapun aku masih sulit percaya kalau mereka mengatakan bahwa semua ini bukan sihir."
Fred juga seorang pria yang seumuran dengan Jones. Tampaknya mereka merupakan teman dekat dilihat dari interaksi mereka berdua. Jones meminum air yang dikemas dengan botol plastik sebelum mengembalikan botolnya di dalam tas selempangnya.
"Mereka tidak memaksa apapun terhadap kita selain peraturan yang sangat masuk akal. Semuanya dianggap setara, tidak ada kasta bangsawan atau rakyat jelata dan kita tidak diperlakukan semena-mena. Ketika para penduduk kelaparan bulan lalu, mereka membagikan makanan ke seluruh penduduk. Selain itu, hasil pertanian kita tidak direbut oleh para tentara, melainkan dibeli dengan harga dan jumlah yang wajar atau bahkan lebih mahal. Kadang kala aku merasa keadaan seperti ini seperti mimpi saja. Kerajaan Scotia ataupun Leonia tidak mungkin melakukan hal semacam ini." Jones kembali menambahkan.
"Jones, apakah kau akan mengikuti kepercayaan yang mereka bawa?" Tanya Fred yang juga baru selesai minum minuman botol yang sama.
"Aku tidak tahu Fred, sebenarnya beberapa minggu yang lalu aku mendapatkan terjemahan buku suci mereka yang mereka sebut 'Alkuran' kalau tidak salah, aku mulai membacanya sejak hari itu. isinya sangat indah dan masuk akal. Maksudku, kita bahkan belum pernah melihat isi buku suci dari kepercayaan kita sendiri kan. Mungkin aku akan mengikuti kepercayaan mereka. Kau tahu, bahkan penduduk desa yang lain seperti Rafael dan Sam juga memilih untuk mengikuti kepercayaan mereka bukan."
Fred mengangguk menyetujui. Sebenarnya Fred juga mendapatkan terjemahan Al Qur'an dan membacanya sama seperti Jones. Karena itu Fred menanyakan pendapat Jones. Mereka membicarakan tentang kepercayaan mereka sampai akhirnya mereka sama-sama setuju untuk berpindah kepercayaan.
###
Seperti yang direncanakan sehari sebelumnya, Sylvania yang diikuti oleh Ahmed pergi ke alun-alun kota dimana sebuah helikopter Naqil sudah terparkir di sana. Selain Sylvania, ada 10 orang lain penduduk sipil yang tampaknya juga berpartisipasi di ujicoba itu. Perjalanan mereka tidak memakan waktu lama dan hanya dalam waktu beberapa jam pun mereka sampai di benteng Andalusia. Pemandangan benteng itu tampak asing sekaligus nostalgia bagi Sylvania karena banyaknya perubahan di benteng tersebut.
Helikopter mendarat di salah satu landasan dekat sebuah gedung dan Sylvania beserta relawan lain pun diarahkan masuk ke gedung tersebut. Nyatanya relawan yang ada bukan hanya mereka yang dari Orluire saja. Ada juga pengguna sihir dari kota Eklaire atau bahkan desa-desa pinggiran yang ditemukan pasukan Ghazi. Tanpa diketahui relawan lain, bahkan sebagian dari mereka juga mantan pasukan Leonia yang sudah menyerah atau bahkan masuk Islam. Total dari keseluruhan relawan berjumlah sekitar 50 orang.
Setelah melewati berbagai ruangan penelitian disertai dengan tatapan heran yang bercampur takjub dari para relawan, mereka pun akhirnya masuk ke salah satu ruangan. Di dalam ruangan tersebut terdapat ruangan lain yang kosong dan tertutup dikelilingi oleh kaca tebal. Salah satu ilmuan pun akhirnya mendatangi mereka dan mulai menjelaskan prosedur penelitian menggunakan bahasa Inggris yang dipahami oleh penduduk Scotia.
"Assalamu'alaikum semuanya, perkenalkan namaku Abdurrahim Mustafa. Kami semua berterima kasih atas kesediaan kalian mengikuti tes ini. Sebelumnya boleh saya bertanya di antara kalian apakah ada yang sudah mengikuti agama kami?"
35 Orang mengangkat tangannya termasuk Sylvania.
"Baiklah, bagi yang sudah mengikuti agama kami mungkin sudah paham alasan dibalik uji coba ini. Tapi bagi kalian yang masih belum mengikuti agama kami, intinya pengujian ini akan menentukan apakah penggunaan sihir dari dunia kalian dilarang atau tidak. Bagi yang membutuhkan penjelasan lebih detail, akan kami berikan setelah pengujian."
Profesor yang bernama Abdurrahim itu pun mulai menjelaskan prosedur pengujian. Hal pertama yang dilakukan adalah para relawan akan diambil sampel darah mereka untuk dilakukan pengujian biologis. Selanjutnya satu per satu diminta memasuki ruangan tertutup dan diminta mempraktikkan kemampuan sihir mereka. Tahap terakhir pengujian hanyalah wawancara terkait penggunaan sihir itu, mulai dari cara menggunakannya dan proses mengeluarkan sihir tersebut.
Proses pengujian berlangsung selama beberapa jam dan semua orang baru selesai diuji coba menjelang maghrib. Mereka akan diberikan pengumuman dari hasil uji coba itu setelah ishak nanti sehingga harus menunggu sekitar 2 jam. Selesai menunggu, para relawan yang mengikuti uji coba itu pun menjadi orang-orang pertama yang akan mendengar pengumuman penting dari hasil uji coba tersebut.
"Setelah kami melakukan berbagai tes dan analisis dari hasil uji coba kami ditambah dengan hasil konsultasi kami dengan beberapa ulama yang masyhur, kami pun akhirnya mendapat kesimpulan."
Semua orang di ruangan itu sempat terdiam dan menegang. Pasalnya hasilnya akan menentukan apakah mereka akan diperbolehkan menggunakan kemampuan mereka atau tidak.
"Hasilnya kemampuan kalian sama sekali tidak ada hubungannya dengan aktivitas gaib ataupun makhluk lain yang tidak kasat mata dan bersifat empiris. 'Sihir' yang kalian gunakan merupakan energi misterius yang menyelubungi seluruh tubuh kalian yang selanjutnya akan kami sebut dengan 'mana'."
Seperti penamaan istilah energi di dalam suatu game fantasi ya. Pikir Ahmed yang ikut mendengarkan. Ilmuwan itu pun melanjutkan penjelasannya.
"Fenomena ini mirip dengan energi listrik yang diubah menjadi energi lain dalam bentuk berbeda seperti energi panas, energi gerak, cahaya, dan semacamnya. Bahkan kami juga sempat menguji bahwa mana yang kalian gunakan juga bisa diubah ke energi listrik juga."
Para relawan sebenarnya tidak terlalu paham dengan penjelasan terakhir ilmuan itu, namun mereka tetap lanjut mendengarkan.
"Sayangnya mereka yang terlahir tanpa mana tidak dapat menerima mana dari pengguna sihir dan malah dapat menimbulkan kematian. Hal ini mirip dengan transfusi darah dimana ketika darah yang tidak cocok akan menimbulkan penggumpalan darah yang dapat berakibat kematian juga."
"Kesimpulannya penggunaan 'sihir' kalian tidaklah terlarang. Untuk selanjutnya kalian akan dibolehkan menggunakan kemampuan kalian. Istilah 'sihir' juga akan diganti menjadi 'Mana' agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan penggunaannya juga harus disertai izin khusus agar tidak membahayakan orang lain."
Pada titik ini kebanyakan relawan pun tersenyum dan bernapas lega mendengar kesimpulan dari ilmuan itu. Namun, penjelasan ilmuan itu ternyata masih belum selesai.
"Kemampuan besar muncul dengan tanggung jawab yang besar juga. Kami juga berkesimpulan bahwa energi 'mana' di dalam diri kalian juga dapat diserap dan akan menghasilkan sebuah kristal merah yang mengandung energi mana juga. Bahkan kami dapat menyerap mana milik seseorang sampai habis dan akan membuatnya tidak dapat menggunakan mana lagi. Karena itu jika kalian tidak ingin kehilangan kemampuan kalian, manfaatkan kemampuan itu dengan benar."
Mendengar penjelasan ini, para relawan sedikit meneguk ludah dan kompak menganggukkan kepala mereka. Selesai mendengar pengumuman, mereka pun akhirnya diperbolehkan meninggalkan fasilitas penelitian dan diarahkan ke penginapan sementara sebelum keesokan harinya dipulangkan. Seperti yang lain, Ahmed dan Sylvania pun juga hendak meninggalkan fasilitas penelitian tersebut, tetapi dicegah oleh profesor Abdurrahim.
"Untuk nyonya Sylvania, ada hal yang harus kami beritahukan kepada Anda sebelum meninggalkan fasilitas penelitian ini." Ucap profesor yang kali ini bahkan menggunakan bahasa Arab karena dia tahu hanya Sylvania dan Ahmed yang paham bahasa Arab dibanding yang lain.
"Ikuti saya ke ruangan saya." Ajak professor yang kemudian diangguki oleh Ahmed dan Sylvania.
Mereka pun berjalan ke ruangan profesor yang dipenuhi oleh berbagai berkas-berkas penelitian dan dipersilahkan duduk di tempat yang disediakan.
"Nyonya Sylvania, ada hal khusus yang harus saya bicarakan terkait hasil uji coba Anda. Sebelumnya saya akan bertanya apakah Anda benar berasal dari bangsa yang berbeda dari yang lain dan disebut elf?"
Sylvania mengangguk singkat sebelum professor melanjutkan penjelasannya.
"Sepertinya bukan hanya bangsa dan ras Anda yang berbeda dari yang lain. Bahkan hasil uji coba Anda juga sangat berbeda"
Professor Abdurrahim menyalakan salah satu monitor di ruangannya dan menunjukkan berbagai grafik di layarnya. Hampir seluruh grafik berbentuk sama kecuali salah satu grafik yang dilabeli nama Sylvania.
"Energi mana yang Anda hasilkan jauh lebih tinggi dibanding yang lain. Bahkan hasil wawancara dan juga tes darah pun juga jauh berbeda. Umumnya pengguna energi mana yang lain memerlukan sebuah mantra yang sebenarnya bahasa kuno dan isinya menjelaskan tentang kemampuan apa yang ingin mereka keluarkan sambil membayangkannya juga. Kami mencari kecocokan bahasa kuno ini dan hasilnya mirip dengan bahasa Babilonia kuno. Untuk mengaktifkan mana pun mereka juga membutuhkan suatu katalis yang berupa tongkat sihir dan dibuat dengan kayu tanaman khusus yang hanya tumbuh di tempat tertentu."
"Namun dari hasil wawancara Anda, kemampuan Anda dapat digunakan hanya dengan membayangkan kemampuan itu. Di sisi lain, dari hasil tes darah, energi mana yang terkandung di dalam darah Anda juga berjumlah 10 kali lebih banyak dari yang lain. Kepekatan energi ini bahkan seolah menyatu dengan darah dan membuat kami berkesimpulan jika yang lain masih bisa hidup meskipun energi mana mereka diserap habis, hal ini berbeda dengan Anda yang kemungkinan dapat menyebabkan kematian."
Sylvania dan Ahmed terkejut mendengar penjelasan professor di depan mereka. Dalam hati Sylvania berkesimpulan untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan kemampuannya.
"Saya ingin bertanya berapa rentang waktu hidup manusia di Edela pada umumnya?" Tanya professor ke Sylvania.
"Manusia yang dapat menggunakan sihir umumnya hidup antara usia 90 sampai 150 tahun, sedangkan elf memiliki rentang usia 800 sampai 1000 tahun. Namun ada sedikit kasus berebeda dimana terdapat manusia yang memiliki bakat tinggi terhadap sihir dan usia mereka bahkan bisa mencapai 300 tahun"
Professor itu pun mengangguk paham dan setelah beberapa saat terdiam membuat kesimpulan.
"Sepertinya memang ada pengaruh dari energi mana terhadap rentang hidup manusia di dunia ini. Semakin pekat energi mana nya, semakin panjang rentang waktu hidup mereka. Aku penasaran bagaimana manusia di dunia ini mendapat energi mana dan dari mana energi tersebut berasal."
Sylvania mencoba mengingat sejarah tentang munculnya sihir di dunia mereka. Menurut mereka sejarah itu lebih terdengar seperti dongeng atau cerita rohani dari agama di dunianya dari pada sebuah peristiwa nyata. Namun, Sylvania tetap memutuskan untuk memberitahu cerita tersebut.
"Aku tidak tahu kebenaran cerita ini, tapi dari yang kudengar di berbagai tempat memiliki cerita yang sama. Dulu puluhan ribu yang lalu, terdapat bencana dari dewa yang datang dari langit dan menghancurkan banyak peradaban manusia di benua Edela. Manusia hampir musnah pada waktu itu dan hanya sedikit yang bertahan.
Sebagian manusia yang bertahan pun terdampak keracunan karena bencana tersebut dan sebagian besar yang lain bersembunyi bertahun-tahun di tempat tertutup untuk dapat bertahan. Namun, setelah bertahun-tahun, manusia akhirnya bisa kembali keluar dari tempat persembunyian mereka. Di saat itulah mulai muncul beberapa manusia yang dapat menggunakan sihir dan jumlahnya sedikit.
Sampai saat ini hampir semua penduduk di Edela percaya bahwa orang-orang yang dapat menggunakan sihir itu adalah orang-orang terpilih oleh dewa Solus. Di antara manusia itu adalah kami bangsa elf yang paling terdampak oleh bencana dan hampir punah, tapi juga keluar sebagai bangsa dengan kemampuan sihir terkuat di antara manusia lain. Kami bangsa elf juga percaya bahwa bangsa elf merupakan bangsa terpilih untuk memimpin manusia-manusia lain di dunia."
Professor pun mengangguk paham.
"Kurang lebih aku dapat membayangkan gambaran sebenarnya dari cerita yang baru saja kamu paparkan. Kemungkinan besar yang dimaksud bencana ini adalah semacam meteor yang jatuh ke bumi dan membuat bencana besar. Namun kami juga perlu mengadakan penelitian lebih lanjut di lapangan untuk membuat kesimpulan yang lebih akurat. Jika memang disebabkan oleh meteor, aku penasaran apakah batu meteor itu masih ada dan ingin mengidentifikasi karaktersitik batu itu. Baiklah, ada satu hal terakhir yang perlu aku sampaikan dan hal ini ingin saya sampaikan ke nyonya Sylvania saja. Aku harap kapten Ahmed bersedia menunggu di luar sebentar."
Ahmed pun mengangguk paham dan beranjak keluar ruangan menunggu di depan ruangan. Professor pun mulai berbicara setelah memastikan bahwa mereka hanya berdua di ruangan.
"Nyonya Sylvania, apakah bangsa elf sulit memiliki keturunan?"
Sylvania mengangguk kaget, tidak banyak manusia selain elf yang mengetahui fakta tersebut. Fakta ini memang sengaja disembunyikan oleh para elf agar bangsa mereka tidak direndahkan oleh manusia biasa.
"Bagaimana anda dapat mengetahuinya?"
"Energi mana yang kami jelaskan tadi, sama halnya seperti listrik yang dapat menimbulkan medan magnet. Di beberapa kasus, dua magnet dengan kutub yang sama dapat saling memberikan penolakan. Aku rasa hal ini terjadi di kasus bangsa elf yang karena tingginya energi mana di dalam tubuh mereka, mengakibatkan sulitnya terjadi pembuahan di proses reproduksi mereka dan hasilnya hampir semua elf sulit memiliki keturunan sebagai ganti usia mereka yang panjang. Berbeda dengan pengguna sihir selain elf yang energi mana nya tidak terlalu tinggi masih dapat bereproduksi dengan normal."
Sylvania tidak begitu mengerti dengan listrik yang dijelaskan oleh professor, tetapi tetap memahami kesimpulan yang disampaikannya.
"Saya turut minta maaf atas fakta yang terjadi mengingat kalian sudah menikah. Saya paham jika anda tidak ingin suami anda langsung mengetahuinya, jadi saya memberitahu hal ini secara personal dan menyerahkan kepada anda keputusan untuk memberitahu kapten Ahmed atau tetap menyembunyikan hal tersebut." ucap professor Abdurrahim ke Ahmed dan Sylvania.
"Tetapi pada akhirnya Allah lah yang memiliki kuasa untuk memberikan hambanya keturunan. Tetaplah berdoa dan berikhtiar agar kalian berdua tetap dapat memiliki keturunan. Lagipula hal ini belum tentu berlaku terhadap elf yang menikah dengan manusia mengingat pernikahan elf dan manusia merupakan hal yang langka bukan?"
Sylvania pun mengangguk, lalu diperbolehkan meninggalkan ruangan. Ahmed yang menunggu di luar pun bertanya tentang apa yang dibicarakan oleh Sylvania dan professor Abdurrahim di dalam sana.
"Apa yang kalian bicarakan di dalam sana."
"Emm, bukan hal yang penting sih, hanya tanya jawab tentang bangsa elf."
"Begitu ya, sepertinya bangsa elf memang berbeda dengan bangsa lain."
Mereka pun diperbolehkan meninggalkan fasilitas penelitian dan diarahkan ke kamar yang menjadi tempat penginapan sementara. Tentu saja karena Ahmed dan Sylvania merupakan pasangan, mereka pun tidur di kamar yang sama. Di malam itu keduanya kembali membahas tentang hasil penelitian itu.
"Ahmed, apakah kau bisa menggunakan mana?"
Ahmed menggeleng lemah dengan senyum kecut.
"Kamu sudah mendengarnya kan kalau mana mirip semacam kelainan genetik. Nenek moyang kalian yang pertama kali mendapat kemampuan atau kelainan ini menurunkannya kepada kalian sampai sekarang. Umumnya seseorang yang memiliki kemampuan mana hebat akan menurunkan kemampuannya kepada anak cucunya. Namun manusia dari dunia kami tidak memiliki kelainan tersebut. Untuk itu kami tidak dapat menggunakan mana seperti halnya kalian."
Melihat ekspresi Ahmed yang tersenyum kecut sambil mengendikkan bahu, Sylvania menyadari kesalahannya. Salah satu tangannya bergerak memegang pipi Ahmed. Seolah berusaha mengatakan kalau semuanya baik-baik saja.
"Ahmed, memiliki mana atau tidak, bagiku itu tidak masalah. Ahmed tetaplah Ahmed, dan itu tidak akan berubah. Lagipula, tidak semua orang di dunia ini memiliki mana, hanya 1 diantara 100 manusia yang memiliki mana dan dapat menggunakan mana, dimana kebanyakan dari mereka adalah anggota keluarga bangsawan. Karena itu di negeri manusia, masyarakat dikuasai oleh mereka yang memiliki mana dan status bangsawan. Selain itu, berkat tidak adanya pemilik mana di dunia Ahmed, kalian dapat membuat alat-alat yang menakjubkan seperti ini bukan. Semuanya ada hikmahnya Ahmed."
Ahmed mengangguk. Wajah Ahmed yang tadinya sempat tersenyum kecut, kembali tersenyum lagi, kali ini dengan tulus mengingat perkataan yang diucapkan Sylvania banya mengandung kebenaran.
"Yah, kau benar Sylvania. Allah memang adil. Hikmah dari ketiadaan energi mana di dunia kami digantikan oleh teknologi yang berkembang pesat dan membuat peradaban kami jauh lebih maju dari pada di dunia ini."
"Huh, padahal beberapa hari ini aku sudah menolak permintaan beberapa orang untuk menyembuhkan luka-luka mereka dengan manaku."
"Eheheh, kau bisa menolong orang lain di kesempatan yang akan datang."
Ahmed tiba-tiba teringat dengan misinya yang akan diadakan dua hari kedepan dan memutuskannya untuk menjelaskan ke Sylvania.
"Sylvania, aku mendapatkan misi baru, kali ini kami akan pergi ke kota Anteinde untuk menyelamatkan warga kami yang diperbudak."
Sylvania yang mendengar hal ini menjadi sendu. Umumnya prajurit yang mendapatkan tugas biasanya akan meninggalkan pasangan dan keluarganya. Padahal mereka baru saja menikah, tentu saja Sylvania tidak mau dipisahkan dengan Ahmed secepat ini meskipun nantinya mereka dapat bertemu lagi.
"Kolonel Umar bilang kepadaku, kalau aku boleh membawamu untuk bisa membantu misi kami, tapi dia bilang tidak akan memaksamu ikut. Karena itu aku akan menyerehkan keputusan itu kepadamu apakah kau mau ik-"
"Tentu saja aku mau! Kemana pun Ahmed pergi, aku ingin mengikutimu. Aku sudah pernah bilang bukan? Karena itu aku pasti akan ikut!"
Ahmed menghela nafas berat, meskipun Sylvania terdengar antusias, tapi Ahmed tahu tempat dia bepergian merupakan tempat yang berbahaya. Dia tahu mau tidak mau hal seperti ini pasti akan terjadi. Ahmed ingin Sylvania tetap aman dan kalau bisa membuatnya menetap di kota ini. Tapi di sisi lain, membuat Sylvania menunggu pasti hanya akan membuat Sylvania sedih. Meski begitu, Ahmed tetap mencoba menjelaskannya ke Sylvania.
"Sylvania, kau yakin akan ikut? Misi ini akan berbahaya dan beresiko tinggi. Kita tidak dapat memanggil banyak bantuan."
Ekspresi ahmed dipenuhi oleh kekhawatiran. Ahmed sangat ingin berkata kepada Sylvania bahwa dirinya tidak boleh ikut. Tapi entah bagaimanapun Ahmed tidak dapat mengatakannya. Hati kecilnya ingin agar Sylvania juga bisa ikut dengannya.
"Meski begitu akan tetap ikut denganmu! Kita sudah berjanji bukan? Bahwa kau akan melindungiku dan aku juga akan melindungimu. Karena itu bagaimanapun keadaannya, keputusanku tidak akan berubah!"
Ahmed pun akhirnya hanya bisa menghela nafas berat dan pasrah dengan keputusan Sylvania.
"Baiklah kalau itu maumu. Untuk sekarang ayo kita tidur, besok masih ada yang harus kita kerjakan bukan?"
Sylvania pun mengangguk dan merebahkan badannya ke ranjang di ikuti oleh Ahmed yang juga tidur di sampingnya. Kegiatan hari ini memang cukup melelahkan bagi keduanya, terutama Sylvania. Mereka tertidur dalam waktu kurang dari 1 menit dengan nafas teratur. Namun tanpa sadar tangan mereka berdua tiba-tiba bergerak, meraba, dan kemudian saling memeluk satu sama lain dalam tidur mereka.
###
AN: Saya baru saja menemukan video yang juga menjelaskan tentang pemahaman sihir yang mungkin berguna untuk menambah wawasan para pembaca sekalian sekaligus mendukung teori yang ada di story saya. linknya bisa diakses di bawah sini.
www.
youtube.
com/
watch?v=0MHQtBJK5r4
Entah kenapa saya tidak bisa menulis link di sini, jadi linknya harus saya tulis secara terpisah.
