Part 17 Goblin

Tanah kasar dari jalanan kerajaan Scotia, atau lebih tepatnya jalanan Edela yang merupakan ciri khas jalanan di zaman abad pertengahan, membuat kendaraan Safir yang dikendarai oleh pasukan yang dipimpin Ahmed bergeronjal berkali-kali. Tapi hal itu tidak terlalu dirasakan oleh penumpang yang ada di dalamnya. Berapa kali pun Sylvania menaiki kendaraan ini, dirinya masih merasa terkagum dengan bagaimana kendaraan Safir dapat melaju tanpa kuda dan bahkan jauh lebih nyaman dikendarai daripada kereta yang ada di Edela pada umumnya. Negeri Elf yang paling maju pun belum dapat menjangkau teknologi semacam ini.

Pandangan Sylvania terarah ke luar melalui lubang-lubang kecil Safir di kanan dan kiri. Pemandangan pepohonon di selatan, padang rumput yang luas di utara, dan sesekali pemandangan laut yang beberapa kali terlihat. Semuanya mengingatkan Sylvania terhadap kesulitan hidupnya sebelum bertemu dengan Ahmed.

Flashback

Lima puluh tahun yang lalu, Sylvania tidak pernah memperkirakan bahwa hidupnya akan dia habiskan untuk berkelana selama beberapa puluh tahun sampai bertemu dengan seorang manusia dari dunia lain, mengikuti kepercayaan mereka, dan bahkan menikah dengan salah satu dari mereka. Sylvania yang masih tergolong sangat muda untuk seorang elf berpikir dirinya akan menghabiskan hidupnya seperti bangsawan lain, berdiam di istana, bertemu dengan para bangsawan dan membahas tentang politik, menikah di usia 200 tahun.

Tentu saja hal itu wajar untuk Sylvania yang menjadi seorang putri Isylum. Kerajaan yang dikenal sebagai kerajaan terkuat dengan wilayah terluas di seluruh benua Edela. Pasukan mereka dikenal sebagai pasukan yang tak terkalahkan. Kerajaan mereka benar-benar diperhitungkan oleh kerjaan di sekitarnya. Meskipun belum pernah terlibat dalam perang besar sebelumnya, Elf juga belum pernah mengalami kekalahan dalam pertempuran melawan manusia.

Hal ini didukung oleh kemampuan sihir para Elf yang memang jauh di atas manusia. Sebagai perbandingannya, setiap Elf mampu menggunakan sihir tanpa memerlukan perantara tongkat sihir dan tanpa menggunakan rapalan panjang. Sedangkan manusia umumnya masih perlu merapalkan mantra untuk menggunakan sihir yang simpel sekalipun dan tetap harus menggunakan tongkat sihir sebagai perantara penyalur energi sihir mereka. Hanya mereka yang dinilai jenius dan berbakat yang dapat menggunakan sihir tanpa rapalan panjang dan hanya perlu mengucapkan nama sihirnya.

Selain itu meskipun kemampuan Elf dalam sihir juga berbeda-beda, rata-rata mereka memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari manusia. Perbandingan lainnya merupakan kemampuan rata-rata elf dalam sihir sama halnya dengan kemampuan penyihir tingkat tinggi manusia. Begitu juga dengan energi sihir yang mereka miliki berada di atas rata-rata manusia. Itu artinya para Elf bisa menggunakan sihir lebih banyak dalam satu waktu dibanding manusia. Belum lagi usia dan rentang hidup rata-rata Elf yang 10 kali lebih panjang dari usia rata-rata manusia.

Sungguh kelebihan yang akan membuat iri bagi siapapun yang memikirkannya. Meski begitu, pasukan kerajaan Elf masih menggunakan senjata biasa di tengah barisan tentara mereka. Mereka tahu jika sihir memiliki batasan dan tidak bisa digunakan terus menerus dalam satu waktu. Karena itu mereka tetap menggunakan senjata konvensional agar dapat bertahan di perang jangka lama.

Sayangnya sebuah kelebihan pasti juga disertai dengan kekurangan. Dalam hal ini, Elf memiliki keterbatasan dalam hal kemampuan reproduksi mereka. Itu juga yang menyebabkan jumlah populasi mereka tidak jauh berbeda dari populasi manusia meskipun usia mereka sangat panjang. Setiap keluarga di tengah-tengah Elf hanya dapat memiliki maksimal 4 anak, dan itu pun keluarga yang tergolong paling beruntung di tengah-tengah mereka. Rata-rata keluarga mereka hanya dapat memiliki 2 anak saja.

Selain itu, mereka yang mempunyai hubungan darah kakak dan adik juga memiliki jarak usia yang jauh. Jarak usia paling dekat yang pernah dimiliki seorang kakak dengan adiknya adalah 60 tahun, dan itu masih tergolong hal yang langka. Rata-rata Elf memiliki jarak usia 100 – 200 tahun diantara dua bersaudara. Seolah mereka tidak bisa memiliki anak lagi sebelum lewat 50 tahun setelah anak pertama mereka lahir.

Tidak pernah ada yang bisa menemukan alasan dibalik fenomena resesi reproduksi yang dimiliki bangsa Elf. Sylvania pun juga mungkin tidak akan pernah tahu jika tidak mendapat penjelasan dari ilmuan muslim yang dia temui tempo hari. Lagi pula mereka juga tidak memiliki pengetahuan sains mendalam yang bisa mencari tahu penyebab hal seperti itu. kebanyakan orang lebih suka berpikir bahwa hal itu merupakan bayaran atas semua kelebihan yang para Elf miliki.

Sylvania sangat kagum dengan apa yang dapat dicapai oleh orang-orang muslim dari dunia lain. Tidak satu pun dari mereka dapat menggunakan sihir, tapi justru mereka yang mungkin saat ini paling memahami konsep di balik cara kerja sihir dibanding seluruh orang yang ada di Edela termasuk Elf.

Bangsa manusia umumnya tidak menyukai Elf. Kebanyakan manusia bahkan mengutuk mereka, menganggap mereka adalah jelmaan para iblis. Hal itu juga didukung oleh pihak gereja dan para agamawan yang menganggap mereka ras sesat. Benar-benar kepercayaan yang mendiskriminasi sebuah ras. Akibatnya kerajaan Isylum yang besar pun harus terisolasi dari kerajaan lain. Dengan wilayah negara yang berada di tengah-tengah, Isylum pun tidak memiliki akses ke laut. Kesombongan para Elf yang membanggakan keunggulan mereka juga menambah kadar kebencian yang dimiliki oleh manusia terhadap Elf

Untungnya kerajaan Isylum yang memiliki wilayah luas memanfaatkan seluruh sumber daya yang mereka miliki dan terlepas dari isolasi dari kerajaan lain, Isylum bisa terus berkembang. Mereka bahkan mampu membuat kapal yang dapat melayang di udara dengan menggunakan semacam kristal yang disebut air stone. Batu itu diciptakan dari batu biasa yang kemudian dimasukkan unsur sihir udara di dalamnya, membuatnya dapat melayang di udara.

Sylvania memiliki atribut sihir cahaya yang lebih banyak berguna untuk penyembuhan, puluhan tahun Sylvania melatih ilmu sihirnya dan menggunakannya untuk menyembuhkan kesatria kerajaan yang terluka dari pertempuran kecil dengan manusia atau monster hutan. Sihir Sylvania yang tidak cocok untuk pertempuran membuat Sylvania harus belajar memanah untuk dapat melindungi dirinya sewaktu-waktu.

Wajah cantik Sylvania dan rambut peraknya yang langka, juga kebaikan hatinya yang terkenal di kalangan istana kerajaan membuat banyak pemuda-pemuda bangsawan dan petinggi Elf jatuh cinta. Namun tidak ada satu pun yang ditanggapi oleh Sylvania karena merasa tidak ada yang cocok dengannya. Hidup Sylvania terkesan damai selama 115 tahun terakhir masa hidupnya. Sylvania berpikir dia akan hidup seperti itu terus kedepannya. Hidup mewah dikelilingi bangsawan Elf yang tampan. Bahkan Sylvania sempat dinobatkan menjadi pewaris tahta sebagai ratu bila ayahnya meninggal nanti.

Namun ternyata hal itu hanyalah angan-angannya belaka. Tepat di usianya yang ke 115 tahun, pamannya yang bernama Adorellan Shafiel, merencanakan kudeta terhadap ayahnya. Adorellan menganggap ayah Sylvania, Findorellan raja yang lemah dan berniat mengambil alih tahtanya. Jumlah pendukung yang banyak membuatnya berhasil menggulingkan ayah Sylvania dengan mudah. Seluruh pejabat kerajaan yang pro terhadap raja yang lama dibunuh di tempat. Tentu saja Ador berusaha membunuh Sylvania dan ibunya Lifania.

Namun Lifania menuntun Sylvania keluar dari istana melalui jalan rahasia yang bahkan tidak diketahui oleh Ador. Keduanya menjadi buron di negara mereka sendiri, dikejar oleh tentara di sana-sini. Selama 5 tahun mereka berusaha bersembunyi dari satu kota ke kota lain. dari satu desa ke desa lain. sampai akhirnya mereka keluar dari kerajaan Isylum dan berkelana dari kerajaan satu ke kerajaan lain.

Selama 40 tahun mereka hidup berpindah-pindah. Tiap beberapa tahun sekali mereka akan berpindah tempat dari kota satu ke kota lain, dari kerajaan satu ke kerajaan lain. Berjalan melalui jalanan kecil yang sepi atau hutan. Setiap waktu mereka harus menggunakan pakaian bertudung untuk menutupi telinga mereka yang menjadi ciri khas mereka dan warna rambut mereka yang mencolok.

Tentu saja hidup di kerajaan di mana bangsa mereka dibenci adalah hal yang sangat sulit. Tapi bagi Sylvania dan Lifania, hal itu lebih baik dari pada mereka harus diburu setiap saat dan setiap waktu. Karena itu juga Sylvania tidak banyak mengeluh ketika dia harus berkerudung setelah menjadi seorang muslim karena sudah terbiasa.

Sylvania pun mulai terbiasa dengan hidupnya yang nomaden. Setidaknya dia bisa megalami pengalaman dan suasana baru setelah berpindah pikirnya. 5 tahun yang lalu, di tengah hutan di wilayah kerajaan Scotia, mereka di kejar kawanan srigala. Satu-satunya yang bisa mempertahankan diri secara efektif hanyalah Lifania sebagai pengguna sihir air dengan menembakkan es-es berbentuk runcing ke kawanan srigala itu.

Namun srigala yang menyerang mereka tidak ada habisnya. Lifania yang mulai kehabisan "Mana" dan kelelahan tidak dapat menggunakan sihir lebih banyak lagi.

"Sylvania, ibu akan mengalihkan perhatian mereka dengan serangan ibu. Saat itu datang, ibu ingin kau lari secepat mungkin ke desa terdekat menyelamatkan dirimu."

"Tidak! ibu akan berusaha mengorbankan diri demi aku kan? Aku tidak mau, kita sudah melalui banyak masalah bersama-sama kan? Aku tidak mau kehilangan ibu! Kita harus keluar dari sini bersama-sama juga seperti sebelumnya!"

Lifania memegang pipi putrinya yang dicintainya. Menatapnya lekat-lekat dengan pandangan mata yang menyejukkan, tetapi masih dapat dilihat keseriusan di baliknya.

"Dengar Sylvania, ibu menyayangimu! Ibu ingin kamu bisa hidup lebih lama! Kamu adalah satu-satunya kebahagiaan dan harapan ibu! Tentu saja ibu juga ingin keluar dari sini hidup-hidup bersamamu, tapi keadaan kita tidak memungkinkan."

Mengusap rambut Sylvania dan mengecup keningnya, lalu mengucapkan kata-kata terakhirnya.

"Sylvania, Hiduplah dan temukan kebahagiaanmu sendiri! Ibu menyayangimu!"

Tepat setelah itu, Lifania melompat dari tempat persembunyiannya dan dengan cepat memunculkun sebuah bola es di depan tangannnya lalu melemparnya ke arah kumpulan srigala yang di dekat mereka. Lifania langsung berlari menghilang di tengah hutan, di ikuti oleh belasan atau bahkan puluhan srigala di belakangnya.

Sylvania hanya dapat melihat dengan mata melebar yang sudah basah dengan air mata. Sesaat kemudian dengan mengusap matanya, Sylvania langsung berdiri dan berlari ke arah yang berlawanan dari ibunya. Bagaimanapun Sylvania tidak ingin perngorbanan ibunya sia-sia karena keegoisannya. Sylvania tidak pernah benar-benar melihat akhir hayat dari ibunya dan terus berlari menjauhi kawanan srigala itu sampai akhirnya dia berhasil keluar dari hutan dan memasuki desa terdekat. Jauh di dalam hatinya, Sylvania juga masih mengharapkan keselamatan ibunya.

Selama 2 tahun Sylvania hidup berpindah-pindah sendirian sebelum akhirnya dia menetap di desa Olin dan tinggal di sana selama 3 tahun. Tidak seperti penduduk kerajaan yang lain, penduduk desa Olin memerlakukan Sylvania dengan baik meskipun mereka sudah tahu bahwa Sylvania adalah seorang Elf. 3 tahun itu adalah hari-hari yang damai yang akhirya bisa dia nikmati sebelum kerajaan Leonia menyerangnya dan menuntunnya ke pertemuannya dengan Ahmed.

Flashback off.

###

Ahmed menyadari pandangan kosong Sylvania yang menunjukkan bahwa pikirannya sedang berkelana di tempat lain. Karena penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Sylvania, Ahmed pun memutuskan untuk bertanya.

"Vania, ada apa? Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu."

Sylvania sedikit tersentak mendengar pertanyaan Ahmed, pandangannya berpindah ke Ahmed, lalu menggeleng cepat.

"Emm, tidak ada kok, aku sedang mengagumi pemandangan alam saja."

"Begitu ya?"

Tapi wajahmu tidak memperlihatkan bahwa kau sedang mengagumi sesuatu pikir Ahmed.

Perjalanan berlanjut tanpa ada banyak pembicaraan di antara mereka. Beberapa orang menikmati pemandangan di luar atau memeriksa dan memoles senapan mereka. Yang lain bersiaga dengan mengamati peralat-peralatan di dalam Safir untuk mendeteksi keberadaan lain, entah itu musuh atau kawan. Sylvania kembali menatap luar sambil menunjukkan wajah yang sama tanpa sengaja membuat Ahmed lebih penasaran tentang apa yang sedang dipikirkan Sylvania sekarang.

Beberapa jam berlalu, dari posisi mereka sekarang dan perkiraan perjalanan menuju kota Anteinde, perkiraan waktu sisa perjalanan mereka kurang lebih dua jam lagi, waktu yang cukup banyak untuk melakukan hal lain sebelum mereka fokus dengan misi mereka. Namun di tengah jalan, mereka melihat asap kecil yang membumbung dari kejauhan. Dari ukurannya, asap itu tidak mungkin berasal dari bangunan yang terbakar. Mungkin lebih mirip dengan asap api unggun. Tapi bagaimanapun, asap itu berasal dari tengah jalan yang akan mereka lewati.

"Kapten, asap itu mencurigakan!" Ucap Yusuf. Matanya yang terlatih sebagai penembak jitu mampu membedakan berbagai jenis asap, termasuk asap yang sekarang muncul di jarak pandang mereka.

"Kau benar, bagaimanapun kau melihatnya, asap itu berasal dari tengah jalan yang akan kita lewati."

Ahmed beralih ke peralatan radar di kendaraan Safir yang ada di dekat pengemudi. Terlihat jelas di layar radar itu ada puluhan atau bahkan ratusan titik-titik yang berada di depan mereka dan berukuran kecil. Ada juga beberapa titik yang berukuran besar di antara titik-titik kecil itu. Semakin besar titik itu mengindikasikan bahwa semakin besar objek yang terdeteksi oleh radar.

"Kapten, kita mendeteksi ratusan keberadaan yang tak dikenal di radar. Haruskah kita langsung menyerang dari jauh?" Tanya prajurit yang mengemudikan Safir, sebelumnya dia hendak melaporkannya secara langsung ke Ahmed, namun Ahmed sudah melihatnya sendiri terlebih dahulu.

"Tidak, lanjut saja berjalan seperti ini. kita perlu memastikan apakah mereka benar-benar musuh atau hanya penduduk sipil."

Prajurit itu mengangguk dan lanjut mengemudikan Safir menyusuri jalan yang menuju ke sumber asap itu. Ahmed pun meraih radio dan berbicara ke kendaraan Safir yang lain.

"Perhatian untuk seluruh unit, kita mendapatkan keberadaan yang tak dikenal di depan berjumlah ratusan. Kita tidak tahu apakah mereka musuh atau bukan, karena itu kita tidak bisa langsung menyerang dari jauh. Siapkan persenjataan kalian untuk kemungkinan terburuk dan maju dengan kondisi siaga penuh."

Rombongan kendaraan Safir lanjut berjalan menyusuri jalanan sambil mendekati asap yang dikelilingi objek tak dikenal itu. Rasyid mengoperasikan meriam 25mm Safir dan bersiaga menembak objek apapun yang berniat menyerang mereka. Sylvania yang sudah menggenggam erat busurnya dan pasukan lain bersiap dengan memegangi senapan T-7 milik mereka.

Kendaraan Safir terus melaju mendekati lokasi asap, sekitar 5 menit kemudian mereka akhirnya bisa melihat dengan jelas benda apa yang terbakar dan objek apa yang terdeteksi di radar kendaraan Safir. Kendaraan Safir pun berhenti berjalan.

"Makhluk apa itu?"

"Manusia hijau?"

Salah satu dari mereka yang berada di dalam Safir menyipitkan matanya sambil mengamati apa yang ada di depan rombongan Safir.

"Itu Goblin!"

Prajurit yang lain langsung menoleh kearah orang yang mengucapkannya. Orang itu tak lain adalah Sylvania, penduduk asli Edela yang pastinya memiliki lebih banyak pengetahuan tentang dunia yang mereka pijak sekarang. Ahmed dan prajurit yang lain memandang Sylvania dengan tatapan penasaran seolah menunggu penjelasan darinya. Beberapa yang lain bergumam dengan kata-kata "Ternyata makhluk seperti itu benar-benar ada," atau "seperti yang diharapkan dari dunia fantasi" dan semacamnya. Sylvania pun melihat reaksi prajurit yang lain seolah memahami pikiran mereka dan menjelaskan.

"Goblin adalah makhluk yang bertubuh kecil berwarna hijau, memiliki kemampuan bertarung standar, namun cukup lincah. Mereka suka merusak dan merampok, entah itu dari desa, rombongan kereta, atau bahkan pejalan kaki. Meskipun mereka cukup mudah untuk dibunuh dengan senjata biasa, mereka selalu muncul dengan jumlah yang banyak membuat rombongan apa pun yang diserang akan merasa kesulitan mempertahankan diri. Umumnya para goblin tinggal di daerah gunung dan hutan, mereka hanya akan menyerang rombongan kecil dan mengabaikan kumpulan pasukan yang berbaris dengan jumlah ratusan atau ribuan."

Para prajurit akhirnya mengangguk paham dengan penjelasan Sylvania. Mereka kembali melihat apa yang terjadi di depan mereka menggunakan alat optik berbentuk kacamata yang baru saja mereka dapatkan sebelum berangkat dari kota Orluire. Perangkat baru yang serbaguna membuat mereka dapat melihat ke kejauhan tanpa perlu menggunakan teropong. Jarak mereka dari para goblin kurang lebih 100 meter. Cukup jauh untuk membuat para goblin tidak menyadari keberadaan mereka.

"Jadi, mereka bisa kita anggap sebagai 'musuh' ya?"

Sylvania mengangguk.

"Goblin sampai kapan pun tidak akan bisa diajak bekerja sama atau pun berdamai. Mereka akan salalu membuat kerusakan di sekitar mereka layaknya binatang liar. Karena itu mereka harus dibasmi. Bahkan bagi tentara kerajaan pun mereka lebih banyak menyusahkan dari pada berguna, karena itu tentara kerajaan hanya menangkap troll dan ogre daripada goblin."

Ahmed dapat melihat di antara goblin itu ada beberapa makhluk hijau yang berukuran besar. Kulit mereka sama-sama berwarna hijau, namun tinggi mereka mencapai 3 meter dan mereka terlihat jauh lebih berotot daripada goblin yang lain dan membawa senjata gada. Troll itu terlihat diam saja, mungkin mereka berjaga-jaga. Sedangkan goblin yang lain sedang merusak sebuah kereta karavan dan membakar salah satu darinya. Di sekitar terlihat banyak manusia yang tergolong penduduk sipil tergeletak tanpa nyawa, dan ada juga yang di ikat dan diseret oleh para goblin. Setelah diamati lagi, kebanyakan dari yang tergeletak adalah laki-laki, sedangkan yang diikat adalah perempuan.

"Yang berukuran besar itu, apakah mereka troll?" Tanya Ahmed.

Sylvania mengangguk. Lalu Ahmed pun menghubungi seluruh pasukan dengan radionya. Ahmed tau jelas bahwa mereka tidak bisa diam saja dengan keadaan yang berlangsung didepan mereka.

"Semua Unit, siapkan senjata dan bersiap untuk menyerang!"

###

Menangis ketakutan sambil menutup matanya, hanya itu yang bisa dilakukan oleh Elle. Salah seorang penduduk Scotia yang saat ini sedang diikat dan dibariskan dengan para penduduk wanita yang lain. Sekitar satu jam sebelumnya, Elle dan penduduk yang lainnya sedang dalam perjalanan mengungsi dari sebuah desa di selatan kota Orluire. Mereka mengungsi 4 hari yang lalu setelah mendapat kabar tentang pasukan hitam yang sudah berhasil menguasai kota Orluire dan sudah berada di dalam perjalanan selama 3 hari.

Dengan banyaknya barang yang dibawa para penduduk, perjalanan pun menjadi lambat dan mereka memerlukan waktu sekitar 5 hari untuk bisa tiba di kota Anteinde yang menjadi tujuan tempat pengungsian mereka. Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba mereka diserang oleh sekelompok, tidak lebih tepatnya segerombolan besar goblin yang menjarah dan mulai membunuhi mereka. Penduduk yang memiliki kemampuan bertarung berusaha menahan mereka sambil meminta para wanita dan anak-anak untuk melarikan diri.

Namun dengan jumlah goblin yang jauh lebih banyak, pada akhirnya mereka di kepung dan dikalahkan, terutama dengan munculnya troll yang dibawa oleh para goblin. Troll-troll ini sebenarnya tidak lah terlalu kuat dibandingkan troll milik kerajaan. Namun tetap saja, kekuatan manusia biasa tidak ada bandingannya dengan kekuatan troll. Oleh karena itu, dalam waktu singkat, mereka yang melawan akhirnya terbunuh dalam perlawanan. Penduduk lain yang berusaha melarikan diri dikepung dari sagala arah, kemudian ditangkap dan diikat satu persatu.

Selanjutnya, penduduk pria langsung dibunuh di tempat satu persatu terlepas dari mereka menyerah atau berusaha melawan, menyisakan para penduduk wanita saja termasuk Elle dan kakaknya Elisa. Dari 250 warga desa, hanya tersisa penduduk wanita yang berjumlah 150 orang, termasuk anak-anak perempuan yang bahkan belum menginjak usia baligh. Para wanita itu tahu apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh para goblin terhadap mereka, sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan.

Secara bergantian, para wanita akan diseret satu persatu dan dibawa di satu tempat untuk kemudian dilucuti pakaiannya dan diperkosa beramai-ramai oleh para goblin. Setiap wanita setidaknya diseret oleh sekitar 8 goblin, membuat mereka semakin tidak dapat melawan. Para goblin menyeret wanita itu bergantian secara acak tanpa melihat posisi atau status mereka. 8 wanita pertama yang diseret hanya bisa mengerang sambil menangis berusaha memberikan perlawanan sia-sia. Dua diantaranya bahkan sedang sakit.

Elle hanya dapat menatap nanar terhadap nasib yang akan dialami oleh kedelapan wanita pertama. Namun selanjutnya kepalanya tertunduk tidak berani melihat langsung apa yang terjadi berikutnya, meskipun pada akhirnya suara teriakan kesakitan dan tangisan mereka terdengar jelas di telinganya. Para goblin itu memperkosa mereka bahkan di tempat yang jelas terlihat dari penduduk desa yang lain.

Elle hanya dapat menangis dengan suara tertahan mendengar teriakan mereka sambil menutup matanya, tentu saja, dia hanyalah seorang gadis muda yang bahkan baru menginjak akil baligh 2 tahun yang lalu. Namun ucapan yang terdengar dari kakaknya yang berada tepat di sampingnya membuatnya sedikit tenang.

"Elle, jangan sedih! Kakak akan ada bersamamu. Semuanya akan baik-baik saja!" ucapnya Elisa pelan.

Elle membuka matanya yang penuh air mata dan menoleh kearah Elisa yang ada di sampingnya.

"Kakak, aku takut!"

"Tenanglah, kakak akan ada disini untuk melindungimu, Elle."

Elle yang tadinya menangis ketakutan meredakan tangisnya dan bersandar menyamping ke arah Elisa. Kalau saja mereka tidak di ikat, mungkin mereka akan saling memeluk seperti halnya kakak adik lainnya yang saling menyayangi. Mereka saling merapatkan diri mereka mencari ketenangan di tengah kepanikan yang disertai dengan suara tangisan dan suara kesakitan yang disertai keputus asaan, tidak, bahkan suara kesakitan dan tangisan itu sudah tidak terdengar dari kedelapan wanita pertama yang diseret dan diperkosa di depan mereka. Bila mereka memperhatikan ke depan, mereka akan mengetahui bahwa kedelapan wanita itu sudah tidak sadarkan diri karena sangking kerasnya para goblin.

Sekitar dua puluh menit kemudian, para goblin kembali mendatangi para wanita yang masih terikat dan kali ini menyeret sejumlah 10 wanita. 2 diantaranya terlihat masih anak-anak yang belum menginjak baligh. Suara teriakan kesakitan yang disertai tangisan kembali terdengar, kali ini dari 10 orang itu. Terlepas dari suara yang mereka dengarkan, kedua kakak beradik itu tetap berusaha menenangkan perasaan mereka masing-masing dengan saling merapatkan tubuh mereka, menutup mata sambil mengharapkan bantuan dari tentara kerajaan Leonia.

Mereka tahu bahwa tentara Leonia tidak pernah memperlakukan penduduk Scotia dengan baik. Pajak yang tinggi, hasil pertanian yang sering direbut secara paksa, bahkan beberapa kali mereka datang ke desa hanya untuk menculik satu atau dua gadis cantik yang mereka lihat untuk dibawa ke kota dengan nasib yang bahkan tidak pernah diketahui oleh penduduk desa yang lainnya. Tapi seharusnya seburuk-buruknya pasukan Leonia, mereka tetap akan memerangi goblin yang mereka temui bukan? Setidaknya berada di bawah pasukan Leonia masih jauh lebih baik dari pada ditangkap para goblin. Atau setidaknya itu lah yang dipikirkan oleh para penduduk desa saat ini.

Dua puluh menit kembali berlalu dan para goblin kembali datang untuk memilih dan menyeret wanita lain untuk menjadi alat kesenangan mereka. Awalnya Elle dan Elisa masih menutup mata mereka untuk menghindari pemandangan tragis yang saat ini sedang terjadi tepat di depan mereka. Namun ketika tanpa sengaja mata Elisa terbuka, di saat itu juga Elisa mendapati tiga goblin berjalan tepat menuju ke arah mereka berdua. Elisa mengetahui jelas arah goblin itu berjalan, itu artinya salah satu diantara mereka akan menjadi korban yang selanjutnya.

Insting dan naluri Elisa sebagai seorang kakak bekerja saat itu juga. Tidak ingin adiknya menjadi korban selanjutnya sekaligus ingin mengulur waktu selama mungkin untuk adiknya, Elisa langsung bergeser di depan Elle menghalangi Elle dari sambil menatap tajam ke arah tiga goblin itu seolah ingin menantang mereka.

Ketiga goblin saling memandang satu sama lain seolah bertanya maksuD dari Elisa, namun pada akhirnya mereka kembali berjalan ke arah Elisa. Menyadari pergerakan Elisa, Elle ikut membuka matanya, tidak membutuhkan waktu lama bagi Elle untuk menyadari apa yang terjadi dan apa niatan kakaknya yang sekarang berada di depannya.

"Kakak, apa yang lakukan? Aku mohon jangan!"

Elisa menoleh kebelakang manatap wajah adiknya yang panik. Matanya mulai kembali basah dengan tubuhnya yang bergerak meronta-ronta seolah ingin berusaha membebaskan dirinya dari ikatan tali yang melilit tubuhnya.

"Elle, sudah kubilang aku akan melindungimu bukan? Hiduplah Elle! Temukan kebahagiaan untuk dirimu! Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kakak juga!"

Elisa berbicara dengan nada yang lembut, layaknya seorang ibu yang berusaha menenangkan anaknya. Elle yang tidak pernah mengenal ibunya sendiri sejak lahir mengenali sosok Elisa selama ini sebagai pengganti ibunya. Ibu mereka meninggal ketika melahirkan Elle ke dunia ini, sedangkan ayah mereka tewas di tengah pertarungan melawan goblin 40 menit yang lalu. Tentu saja Elisa saat ini adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh Elle.

"Tidak! Tolong jangan lakukan ini kak! Aku mohon!"

Namun Elisa tidak bergeming, sorot matanya tetap memandang Elle sekilas setelah berbicara sebelum akhirnya kepalanya kembali menoleh ke arah goblin dengan tatapan menantang. Ketiga goblin yang merasa ditantang oleh Elisa, terlihat emosi dan tentu saja langsung menyeret Elisa disertai dengan perlawanan Elisa yang menggoyang-goyangkan tubuhnya seolah berusaha terlepas dari goblin. Bagaimanapun gerakannya sia-sia, selanjutnya tidak hanya tiga goblin yang memeganginya, tapi 10 goblin lain mulai ikut memeganginya dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pada wanita-wanita yang lain.

Elle hanya dapat menangis tersedu-sedu melihat nasib tragis kakaknya. Lalu, seperti yang terjadi di awal, Elle kembali menutup matanya sambil menangis tersedu-sedu. Kali ini salah satu dari suara kesakitan itu berasal dari kakaknya. Elle benci dengan dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Yang dia bisa lakukan sekarang hanya pasrah, mengharapkan bantuan.

Siapapun, tolong aku! kumohon!

Dua puluh menit kemudian, suara kakaknya yang berteriak kesakitan sudah tidak bisa didengarkan lagi olehnya. Elle masih diam tertunduk dan menangis sambil menutup matanya. Elle dapat mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya. Penasaran dengan langkah kaki itu, Elle membuka matanya, hanya untuk menemui goblin yang berdiri tepat di depannya. Elle tahu, selanjutnya adalah gilirannya untuk menghadapi penyiksaan itu. Elle hanya dapat memandang dengan mata membulat goblin itu mengulurkan tangannya untuk menyeretnya, lalu kembali menutup matanya seolah menahan rasa sakit yang akan segera dirasakannya.

Kumohon, siapapun….

DOR

Setelah beberapa saat, sensasi sentuhan tangan yang seharusnya berasal dari goblin yang akan menyeretnya tidak kunjung datang. Elle masih ketakutan dengan nasib yang akan dihadapinya mengingat goblin itu tadinya berdiri tepat di depannya. Namun setelah rasa itu tidak kunjung datang, karena penasaran, Elle pun membuka matanya.

"Huh?"

Apa yang dilihat Elle di depannya sekarang adalah mayat goblin dengan lubang di kepalanya yang menyemburkan darah merah. Elle baru tersadar bahwa di sekitar tubuhnya juga ada cipratan warna merah yang sama. Itu adalah darah goblin yang ada di depannya.

Apa yang terjadi? Sihir?

Elle mulai memandangi sekitarnya di kanan kiri. Goblin-goblin yang lain mulai berjatuhan dengan lubang yang sama di sekujur tubuh mereka. Setelah didengarkan baik-baik, setiap kali ada goblin yang mati didahului dengan suara keras yang sama dengan yang dia dengarkan sebelumnya. Ellet tidak tahu suara apa itu.

Para goblin yang tadinya terlihat bersenang-senang secara serentak menolehkan kepala mereka semua kearah sumber suara dari tembakan itu. Apa yang dilihat oleh para goblin dan para penduduk desa selanjutnya adalah sebuah kotak atau mungkin lebih tepatnya kereta yang berjalan tanpa ditarik kuda atau pun hewan lain di depannya. Ada tiga kereta dan semuanya berukuran lebih besar bahkan dari kereta bangsawan kerajaan sekalipun. Di atas kereta itu terdapat moncong yang tidak lama kemudian terlihat mengeluarkan percikan-percikan api di ujung moncongnya. Setiap percikan api itu berkedip, sejumlah besar goblin terjatuh dan mati dengan luka yang serupa atau bahkan lebih besar dari pada goblin yang pertama.

Ketiga kendaraan kotak itu terus memercikkan apinya sambil berjalan, ketiganya menyebar kesamping sampai akhirnya berhenti berjalan sekitar 100 meter di depan posisinya. Dari dalam, muncul orang-orang berseragam hitam. Elle mulai dapat menebak siapa orang-orang misterius yang datang memerangi goblin di depan mereka menggunakan kendaraan dan senjata misterius.

Apakah itu pasukan hitam? Apakah itu senjata sihir?

Berbagai pertanyaan muncul di kepala Elle, namun jawabannya tak kunjung dia dapatkan. Terlepas dari kerasnya suara senjata pasukan hitam itu, Elle tidak bisa menggunakan tangannya yang terikat untuk menutup telinganya. Tapi di sisi lain karena rasa penasaran, Elle tetap melihat adegan yang sedang berlangsung di depannya dengan tatapan kagum. Bahkan kesedihan yang sebelumnya dirasakan seolah hampir terlupakan.

Kali ini pasukan hitam yang turun dari kereta yang tampak terbuat dari besi itu mulai menyebar sambil memegang sebuah benda panjang berwarna hitam. Benda panjang itu, sama seperti moncong yang terdapat di atas kereta, memercikkan api dengan cepat dan setiap kali mengeluarkan percikan api, goblin yang berada di bidikan benda itu akan terbunuh. Salah seorang dari pasukan hitam itu mengayunkan tangannya kedepan dan seketika seluruh pasukan hitam yang sudah menyebar itu maju perlahan sambil tetap membunuhi para goblin dengan senjata misterius mereka.

Sungguh sihir yang kuat! Pikir Elle

Seluruh goblin yang menyerang warga dan tadinya sibuk dengan para tahanan mereka, mengalihkan perhatian mereka ke pasukan hitam itu. Namun para goblin yang meskipun memiliki jumlah jauh lebih besar dari pasukan hitam seolah tidak memiliki kesempatan untuk melawan. Bahkan untuk mendekat pun mereka tidak mampu. Goblin terdepan akan terbunuh lebih dahulu, kemudian disusul oleh belakangnya secara bergantian terus menerus. Hal itu terjadi begitu cepat.

Elle baru saja menyadari ketika melihat dari jauh bahwa salah satu dari rombongan pasukan hitam itu membawa satu-satunya senjata yang dikenalinya, busur panah. Orang itu mengenakan pakaian berbeda dari pasukan hitam lainnya, yaitu sebuah jubah hitam dan semacam kain penutup kepala dengan warna yang sama. Apa dia pemimpinnya?

"GRAAAHHH"

Para troll yang dikendalikan oleh goblin ikut maju mendatangi pasukan hitam. Seperti goblin, troll itu juga mendapatkan luka-luka yang sama seperti goblin di sekujur tubuhnya. Karena kekuatan troll yang jauh diatas goblin, troll itu masih tetap mampu untuk berjalan maju dengan luka yang didapatkannya meskipun kecepatan geraknya turun dengan cepat karena luka. Tidak perlu menunggu lama, salah seorang dari pasukan hitam yang membawa tongkat yang lebih mirip batang besar dan panjang di punggungnya mengambil dan meletakkan benda itu di pundaknya untuk diarahkan ke troll.

Selanjutnya batang yang diarahkan ke troll mengeluarkan sebuah panah berasap yang melaju cepat, troll yang hampir berhenti karena tidak tahan mendapat luka yang begitu banyak luka di tubuhnya terkena panah berasap itu dan meledak berkeping-keping menyisakan kabut merah dan membasahi tanah disekitarnya dengan darah dan potongan daging. Beberapa troll lainnya mengalami nasib yang sama, terkena panah berasap dan meledak menjadi berkeping-keping, sebagian kehilangan separuh badannya ke atas, sebagian kehilangan seluruh bagian kanan tubuhnya. Sebagian kecil terjatuh dan mati setelah mendapat banyak luka dari moncong kereta dan batang kecil yang dipegang pasukan hitam yang lain.

"Hah?"

Elle hanya dapat menahan nafasnya, melihat pasukan hitam di depannya yang begitu mudah membunuh para goblin dari jauh, bahkan yang membawa troll sekalipun. Jumlah para goblin berkurang dengan begitu cepat. Dalam waktu beberapa menit saja, goblin yang tadinya berjumlah ratusan mulai mundur dan berlari ke belakang, lebih tepatnya kabur ke hutan tempat mereka berasal sebelumnya.

Pasukan hitam terus mengejar sambil menembakkan sihir-sihir mereka. Dari ratusan goblin yang ada, hanya tersisa puluhan saja yang akhirnya berhasil kabur ke dalam hutan. Pasukan hitam pun berhenti mengejar mereka dan mulai mengurus para penduduk yang menjadi tahanan goblin.

Elle tersadar saat itu juga, bagaimanapun pasukan hitam adalah pasukan yang berasal dari negara musuh Leonia. Para penduduk akan dianggap sebagai warga Leonia dan semua orang tahu apa yang akan dilakukan oleh negara penyerang terhadap penduduk dari negara yang diserangnya. Berbagai pikiran buruk tentang perlakuan buruk yang akan dialaminya bermunculan di kepala Elle. Apakah dirinya akan diperbudak? Dibunuh? Atau diperkosa? Kalau begitu bukankah itu berarti sama saja dengan perlakuan yang diberikan goblin.

Melihat pasukan hitam itu mendekat, Elle semakin ketakutan. Matanya tertutup, tubuhnya kembali bergetar karena ketakutan. Elle hanya bisa kembali menunggu nasib buruk yang kemungkinan akan menghampirinya. Namun yang selanjutnya terjadi, Elle merasakan tepukan di bahunya dan ikatan di tubuhnya tiba-tiba terlepas. Elle pun membuka matanya dengan tatapan terkejut.

Seorang wanita?

"huh?"

Didepannya, seorang wanita duduk dengan satu lutut sambil tangannya memegang bahu Elle dengan tatapan lembut. Wanita itu adalah orang yang sama yang mengenakan jubah hitam dan menggunakan senjata busur.

"Hei, apakah kamu baik-baik saja? apa kamu terluka? sudah tidak apa-apa, tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi, kami disini untuk menolong kalian."

Elle menatap takjub wanita itu, dari wajahnya wanita itu, atau lebih tepatnya gadis itu seharusnya hampir seumuran dengan dirinya. Meski begitu, wanita ini menjadi bagian anggota dari pasukan hitam itu bukan? Tanpa bisa menjawab apa-apa karena masih terkejut, Elle mengalihkan pandangannya menatap kedua tangannya, kemudian pandangannya berpindah ke sekelilingnya.

Apa yang dia lihat sekarang adalah pemandangan tentara hitam yang melepas ikatan para penduduk, merawat yang terluka, memberikan makanan. Semua yang mereka lakukan sangat jauh berbeda dari apa yang baru saja dia bayangkan. Membuat Elle merasa bersyukur sekaligus merasa sedikit bersalah karena berpikiran buruk tentang mereka.

Tak lama kemudian, air mata mulai terkumpul di matanya. Kali ini air mata itu bukanlah air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan. Secara otomatis, tubuhnya langsung bergerak memeluk sosok wanita yang berada di depannya sambil terisak-isak.

###

"Periksa semua mayat goblin, bunuh jika ada yang masih hidup! Rawat para penduduk sipil yang terluka, beri mereka makanan dan pakaian jika diperlukan."

Ahmed menyebarkan berbagai macam perintah ke bawahannya sambil berjalan kesana-sini melihat hasil dari pertempuran singkat mereka melawan para goblin. Apa yang dilakukan para goblin membuat darah para pasukan Ghazi mendidih. Mereka langsung menyerang para goblin tanpa ampun dengan semua yang mereka miliki. Saat ini pasukan di bawah pimpinan Ahmed sedang sibuk menangani para penduduk yang ditahan oleh para goblin.

Para petugas medis termasuk Faruq berkeliling memeriksa wanita-wanita yang sudah terlanjur menjadi korban kebejatan para goblin. Meskipun dengan perasaan canggung karena para korban dalam keadaan tanpa pakaian, mereka tetap melakukan pekerjaan mereka dan melakukan yang terbaik yang mereka bisa. Tidak lupa mereka membawa kain atau pakaian untuk menutupi para wanita itu sebelum memeriksa mereka.

"Faruq! Bagaimana kondisi para korban?"

Ahmed bertanya ke Faruq yang sedang menangani salah satu wanita yang menjadi korban perkosaan. Tubuhnya ditutupi oleh kain hitam dari kaki sampai dada. Faruq terlihat memasangkan alat bantuan pernafasan di hidungnya serta infus lapangan di tangan kanannya.

"Tidak bagus kapten, kebanyakan dari mereka sudah tidak tertolong lagi. Dari sekitar 30 orang yang menjadi korban perkosaan, hanya 8 orang yang kami temukan masih bernafas. Kami akan melakukan apa yang kami bisa untuk menyelamatkan mereka."

Faruq kembali fokus dengan pekerjaannya, kali ini menyuntikkan sebuah cairan ke tubuh wanita yang masih tergolek lemah itu. Ahmed memandang wanita itu dan memperkirakan setidaknya usianya masih sekitar 18 tahunan.

"Faruq! Kemarilah, orang ini sedang dalam keadaan kritis! Aku butuh bantuanmu!" Panggil salah seorang petugas medis dari regu J19. Memenuhi panggilan itu, Faruq langsung bergegas lari ke arah petugas medis itu.

"Karim! Kau sudah menghubungi markas?"

"Sudah kapten, mereka akan mengirim 2 helikopter An Naqil. Waktu kedatangan kira-kira 30 menit lagi."

"Bagus, sekarang aku ingin kau membantu yang lainnya mengurus para warga yang ditahan atau yang terluka. Beri mereka makanan dan obat-obatan secukupnya!"

"Siap kapten."

Setelah bertanya kondisi bantuan sekaligus menyalurkan perintahnya ke Karim, Ahmed beralih ke salah seorang gadis muda yang sedang dipeluk oleh Sylvania dan menghampiri mereka. Menyadari kedatangan Ahmed, Sylvania pun menoleh ke belakangnya.

"Ahmed, apa yang akan terjadi pada orang-orang ini selanjutnya?" Tanya Sylvania dengan nada khawatir. Ucapan Sylvania dan Ahmed tidak dapat dimengerti oleh gadis yang sedang dipeluknya karena mereka menggunakan bahasa Arab.

"Mereka akan mendapatkan tempat tinggal dan makanan di kota Longnard atau Orluire. Kita akan memastikan mereka mendapatkan penghidupan yang jauh lebih baik setelah ini." Ucap Ahmed dengan tersenyum, membuat Sylvania ikut tersenyum lega juga.

Beberapa saat kemudian, gadis muda yang ada di pelukan Sylvania melepas pelukannya sambil mengusap air matanya. Sekejap kemudian, seolah mengingat sesuatu yang penting, matanya tiba-tiba membola dengan kedua tangannya menutup mulutnya. Selanjutnya, gadis itu tiba-tiba berlari menjauhi Sylvania ke arah para korban perkosaan yang ditangani para medis.

"Ah, hei kamu, tunggu!"

Sylvania langsung mengejar gadis itu. kali ini gadis itu mendatangi dan menatap satu-satu para korban wanita, seolah mencari seseorang. Sylvania hanya mengikuti di belakangnya mencoba mencari tahu siapa yang sedang dicari oleh gadis itu.

Bahkan aku belum sempat menanyakan namanya. Ucap Sylvania dalam hati.

Setelah beberapa kali mencari, gadis itu-Elle berhenti di samping salah satu tubuh wanita yang tergeletak. Di tempat itu juga ada Faruq yang sedang berusaha melakukan CPR ke wanita yang sama, namun tubuh wanita yang ditanganinya tidak kunjung bergeming dengan mata tertutup dan tetap terbujur kaku. Gadis muda yang tadinya bersama Sylvania, hanya dapat menatap nanar tubuh wanita yang tergeletak di depannya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya langsung kembali basah.

"Tidak…! Kakak…!?"

Faruq akhirnya menyerah melakukan CPR dan berdiri di sampingnya sambil menghela nafas berat dengan wajah suram. Kali ini Elle berjongkok memeluk tubuh wanita yang ternyata merupakan tubuh kakaknya. Sambil memeluk tubuh kakaknya, Elle hanya dapat menangis tersedu-sedu, sesekali menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya, mencoba untuk membangunkannya. Menyadari keberadaan Ahmed di dekatnya, Faruq pun memberikan laporan.

"Korban selamat berjumlah 6 orang. Kami gagal menyelamatkan dua orang yang sedang dalam kondisi kritis kapten! Mereka mengalami pendarahan di alat vital mereka. Ini… benar-benar keji dan keterlaluan kapten."

Ahmed hanya dapat mengangguk setuju dengan perkataan terakhir Faruq. Sylvania yang bersimpati terhadap Elle, berjongkok di sampingnya sambil mengelus punggungnya. Sesaat kemudian mereka kembali berpelukan satu sama lain.