Part 18 Menyusup

Mereka yang selamat dari penyerangan goblin memandang takjub kendaraan terbang yang saat ini sedang bergerak turun dari udara. TH-10 An Naqil, yang mungkin lebih terlihat seperti bahtera terbang di mata penduduk sipil menjadi salah satu kendaraan modern pertama yang mereka lihat. Di sekitarnya ada 2 helikopter Saqr yang mengawalnya, dilihat dari bentuknya, pasukan Ahmed dapat mendengarkan para penduduk yang mulai menggumamkan kata "Capung besi raksasa".

Memang bagaimanapun bentuk helikopter dan juga baling-balingnya pasti akan membuat orang yang pertama kali memandangnya berpikir bahwa benda itu adalah capung. Dari penampilannya saja helikopter Saqr dapat mengintimidasi penduduk sipil meskipun pada dasarnya mereka sama sekali tidak ada niatan untuk melawan.

Tongkat sihir yang kuat, kereta besi tanpa kuda, dan sekarang kereta terbang dan capung terbang, sebeneranya siapa pasukan hitam ini?

Elle tidak bisa berhenti untuk menatap takjub para pasukan hitam yang menolongnya beserta para penduduk lain dari goblin. Belum pernah ada sebelumnya pasukan yang sekuat ini dengan hal-hal menakjubkan yang mereka bawa. Meski begitu mereka tetap menjadi pihak yang menolong mereka, perlakuan mereka juga sangat baik kepadanya dan para penduduk lain terlepas dari status mereka yang berasal dari negara musuh, dan sekarang mereka menawarkan untuk memberikan tempat pengungsian sekaligus tempat tinggal untuk Elle dan lainnya.

Elle tentu saja masih berduka karena kehilangan keluarga satu-satunya dan menjadi sebatang kara. Sisa-sisa air mata masih bisa terlihat di pipinya meskipun saat ini mungkin sudah terlihat mengering. Karena saat ini Elle tidak punya siapa-siapa, dia tidak tahu harus pergi kemana dan tidak punya pilihan lain untuk menerima ajakan pasukan hitam ini untuk pergi ke markas mereka.

Ya, para pasukan hitam sama sekali tidak memaksa para penduduk untuk ikut mereka. Para penduduk yang memilih untuk pergi ke tempat lain tidak akan dihalangi sama sekali. Justru pasukan hitam ini akan memberikan mereka perbekalan yang cukup untuk perjalanan mereka. Elle menoleh ke Sylvania yang berdiri di belakangnya bersama Ahmed yang sibuk memberikan perintah ke para bawahannya dan sekaligus berbicara dengan benda kotak kecil yang dipegangnya.

"Kalian semua sebenarnya siapa?" tanya Elle ke arah Sylvania.

Sylvania tahu pertanyaan itu lebih tepatnya ditujukan kepada Ahmed dan pasukannya, karena Sylvania sendiri sama seperti Elle hanyalah penduduk Edela biasa. Karena itu Sylvania yang ditanya seperti itu ganti menoleh ke arah Ahmed meminta untuk menjawabnya. Ahmed pun yang tadinya juga mendengar pertanyaan Elle akhirnya menjawab.

"Kami adalah pasukan Ghazi dari Daulah Islamiyah."

"Gasi? Daula Isla?"

Nampaknya Elle masih kesulitan mengucapkan kata-kata itu. Ahmed hanya tersenyum saja sambil beberapa kali mencoba membenarkan ucapannya, sayangnya usaha Ahmed sepertinya masih belum membuahkan hasil mengingat Elle masih mengatakan "Ghasi" dan hanya mengingat kata "Isla", membuat Ahmed menghela nafas berat. Sylvania yang menonton adegan komedi ringan di sampingnya hanya dapat tertawa ringan.

Sebagian penduduk yang selamat diarahkan untuk menaiki Naqil. Awalnya mereka sedikit ragu dan takut menaiki benda terbang yang besar seperti Naqil. Beberapa dari mereka bahkan mengiranya sebagai binatang yang akan memakan mereka. Setelah beberapa usaha untuk meyakinkan mereka, para penduduk pun akhirnya mau menaikinya, termasuk Elle. Hanya ada sekitar 20 penduduk yang memilih untuk tinggal dan memutuskan untuk pergi ke tempat lain.

Elle awalnya terlihat lengket dengan Sylvania. Sebelum memasuki Naqil, Elle bahkan bertanya ke Sylvania apakah dia akan ikut menaiki Naqil. Gelengan kepala Sylvania membuat Elle sedih dan semakin keberatan untuk memasuki Naqil. Sylvania harus memberikan beberapa kalimat yang menenangkan dan meyakinkan Elle bahwa mereka akan bertemu lagi nanti. Baru setelah itu Elle bersedia menaiki Naqil, itu pun setelah Elle memberikan pelukan singkat ke Sylvania.

"Emm, sebelum kita berpisah, tolong beritahu aku namamu." Pinta Elle setelah melepas pelukannya.

"Namaku Sylvania Shafiel, kau boleh memanggilku Vania, kalau namamu?"

"Aku Elle, Elle Renaul. Vania itu… bukankah terdengar seperti nama Elf?"

Elle bertanya sambil sedikit memiringkan kepalanya. Elle pernah dengar beberapa nama-nama Elf dari sejarah yang diceritakan para tetua, tapi dia tidak pernah bertemu dengan para Elf secara langsung. Kerudung yang dipakai Sylvania juga membuat Elle tidak dapat langsung mengetahui identitas Sylvania sebagai elf.

"benar, aku memang seorang Elf."

Elle tercengang mendengar jawaban Vania, tidak menyangka akan bertemu dengan seorang Elf, dan Elf pertama yang dia temui bekerja bersama dengan pasukan hitam.

"Elle, mereka menunggumu, cepatlah naik!" pinta Sylvania, menyadarkan Elle dari lamunannya. Elle pun mengangguk dan memasuki helikopter Naqil.

(AN: memutuskan untuk menyebut helikopter An-Naqil dengan sebutan Naqil saja mulai saat ini agar lebih mudah)

Helikopter Naqil mulai melayang ke udara dengan pintu belakangnya yang menutup perlahan setelah seluruh penduduk berada di dalam. Wajah mereka menyiratkan sedikit ketakutan ketika Naqil melayang di udara, hal yang wajar karena mereka mengalami pengalaman pertama mereka terbang dengan helikopter.

"Baiklah kompi J, kita akan melanjutkan perjalanan kita. Kemasi barang-barang kalian dan masuk ke Safir sekarang."

Seluruh pasukan di bawah pimpinan Ahmed mulai mengemasi barang yang tadinya mereka bawa keluar, kemudian secara bergantian masuk ke Safir. Ahmed sendiri menjadi orang terakhir yang memasuki Safir sambil mengamati keadaan sekitar, memastikan bahwa tidak ada anggota dan barang-barangnya yang tertinggal sebelum masuk.

Rombongan mereka pun kembali berjalan melintasi dataran menuju kota Anteinde. Sylvania, tidak seperti sebelumnya, wajahnya lebih sering dihiasi senyuman di tengah perjalanan. Hal itu membuat Ahmed sedikit lega karena suasana Sylvania menjadi lebih baik.

"Kau terlihat lebih senang Sylvania."

Sylvania menatap Ahmed singkat dengan wajah yang sempat terkejut, namun wajahnya tak lama kemudian kembali menyunggingkan senyuman.

"Tentu saja, kita baru saja menyelamatkan banyak orang di luar sana. Itu membuatku sangat senang. Sebelumnya aku pernah melihat hal yang serupa. Waktu itu aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong mereka dan hal itu membuatku sangat sedih."

Ahmed menebak ucapan Sylvania mengarah ke waktu dimana Ahmed dan anggota kelompoknya menemukan Sylvania di desa waktu itu. Membayangkan keadaan Sylvania waktu itu, Ahmed seolah dapat membayangkan isi perasaan Sylvania dan hatinya ikut bersimpati.

"Vania, aku butuh informasi lebih tentang goblin, bisakah kau ceritakan lebih banyak tentang mereka?"

Sylvania mengangguk lalu mulai menjelaskan.

"Goblin pada dasarnya hidup dan berdiam di hutan dan di dalam gua-gua. Mereka adalah makhluk buas yang tak berperasaan. Yang membuat goblin berbahaya adalah mereka memiliki kecerdasan pada tingkat tertentu meskipun kecerdasan mereka masih jauh di bawah manusia. Mereka dapat membuat markas, senjata sederhana, dan bahkan mereka dapat menaklukan beberapa troll dengan jumlah mereka. Berdasarkan informasi yang pernah aku dapat, biasanya goblin akan menculik para wanita dari desa-desa atau pejalan kaki sebagai alat agar mereka dapat berkembang biak."

Ahmed mengangguk paham, namun sesaat kemudian dia teringat sesuatu.

"Kenapa waktu di perjalanan ke kota Orluire kita tidak diserang oleh para goblin? Atau ketika di perjalanan menuju kota Eklaire?"

"Mereka hanya menyerang penduduk sipil dan petualang dalam jumlah kecil. Pada dasarnya para goblin tidak akan menyerang rombongan militer, terutama dalam jumlah besar."

Rombongan kendaraan Kompi J terus bergerak menuju kota, kali ini mereka tidak menemui halangan atau bentuk perlawanan apapun di tengah jalan. Meski begitu, mereka tetap bersiaga dengan senjata mereka, terutama operator senapan pada Safir yang terus mengamati area di sekitar merika melalui hasil tampilan langsung dari kamera senapan di luar ataupun radar pemindai panas di dalam Safir yang memindai keberadaan makhluk hidup di sekitarnya melalui panas dari tubuh mereka.

Informasi yang Ahmed dapatkan dari Sylvania akan dilaporkan ke markas pusat mereka di benteng Andalusia. Dari sana para pimpinan tertinggi akan membuat keputusan tentang penumpasan goblin dari wilayah mereka. Tentu saja ancaman seperti goblin memang tidak boleh dibiarkan saja meskipun terdengar cukup remeh untuk sesaat. Bahkan kerajaan Scotia sendiri yang sebelumnya berkuasa juga terlihat cenderung meremehkan keberadaan goblin ini dan tidak mengambil tindakan serius.

###

"Kolonel! Para pengungsi yang dikirim dari posisi Mubarizun 1 telah tiba, mereka ada di landasan helikopter yang kita bangun untuk sementara."

"Tangani mereka sebaik mungkin, beri mereka makanan dan obat-obatan. Bawa yang terluka ke rumah sakit. Apa tempat tinggal untuk mereka sudah disiapkan?"

"Sudah kolonel! Mereka akan ditempatkan di distrik 10 di selatan kota."

"Bagus, kalau begitu jalankan perintahku."

"Siap kolonel, ah satu lagi, Kapten Fadil dan para kru dari angkatan laut ke 7 telah sampai di kota kolonel."

"Kalau begitu antar mereka ke pelabuhan kita. aku ingin mereka bisa berlayar dalam waktu kurang lebih seminggu lagi. Laporan dari tim pengintai mengatakan bahwa angkatan laut Leonia sudah mulai bergerak."

"Siap kolonel!"

###

Elle merasakan lantai kendaraan yang dinaikinya berguncang, selanjutnya pintu belakang helikopter membuka kebawah sekaligus menjadi jalan untuk mereka turun dari helikopter. Di luar mereka ditunggu oleh para perawat dan petugas medis. Para penduduk berjalan keluar dari helikopter dan mereka langsung diantar oleh para perawat ke rumah sakit terdekat dari tempat pendaratan. Hanya membutuhkan jalan kaki selama 10 menit.

Satu hal yang Elle sadari, para perawat wanita yang mengantar mereka, semua mengenakan kerudung penutup di kepalanya, termasuk perawat muda yang mengantarnya saat ini, mereka juga mengenakan pakaian serba putih dengan lambang bulan sabit merah di lengan dan penutup kepala mereka. Elle mengamati perawat yang mengantarnya, entah kenapa wajah perawat itu lebih mirip seperti orang Scotia pada umumnya. Tidak seperti perawat lain yang memiliki ciri-ciri khusus yang menunjukan jelas bahwa mereka berasal dari wilayah lain atau bahkan dari dunia lain.

Elle juga baru menyadari, lambang bulan sabit itu tidak hanya ada di pakaian perawat, tapi di berbagai kendaraan dan sarana atau gedung yang ada, termasuk helikopter yang sebelumnya dinaiki meskipun warnanya berbeda-beda. Di depannya, terdapat sebuah rumah sakit dengan lambang bulan sabit merah yang lumayan besar di depannya. Diatasnya terdapat bendera merah dengan lambang bulan sabit dan bintang berwarna putih dan juga tulisan berwarna putih yang tidak dapat dia baca.

Memasuki rumah sakit, Elle dapat mencium bau obat-obatan yang sangat menyengat, membuatnya otomatis ingin menutup hidung. Selanjutnya Elle dibawa ke sebuah ruangan dimana mereka akan diperiksa kesehatan mereka untuk mendeteksi penyakit dan kelainan tertentu. Elle diminta duduk di salah satu kursi sebelum perawat yang mengantarnya mulai memeriksanya.

"Kau pasti sudah mengalami hal yang sulit ya!" perawat yang bersama Elle mengajaknya berbicara.

"Kau bisa berbicara bahasa kami?"

"Tentu saja, aku orang Scotia. Tolong ulurkan tanganmu."

Menggunakan peralatan medis modern, perawat itu memeriksa tekanan darah Elle.

"Orang Scotia? Bukankah pasukan hitam…-"

"Pasukan Hitam ya…! mereka lebih suka menyebut diri mereka orang 'muslim' dengan pasukan mereka yang disebut 'Ghazi'. Ngomong-ngomong aku juga bergabung dengan mereka, beberapa minggu yang lalu aku resmi menjadi seorang 'muslim'. Sepertinya kau mendapat luka kecil di beberapa bagian lenganmu, aku akan merawatnya."

Perawat itu mulai menangani luka yang dimaksud, sambil kembali mengajak Elle berbicara agar Elle tidak merasa canggung.

"Ah iya, aku belum menanyakan namamu, tolong beritahu aku namamu."

"Namaku… Elle Renaul, panggil saja Elle."

"Oh, Elle ya. Kau bisa memanggilku Lusie."

Elle kembali mengamati wajah Lusie, kalau dipikir-pikir usianya juga terlihat tidak jauh berbeda dengan dirinya.

"Nona Lusie, apakah seorang Elf?"

"Elf? Ah mana mungkin, aku hanya manusia biasa sepertimu. Sepertinya kau baru saja bertemu Sylvania ya?"

Elle terkejut mendengar Lusie mengucapkan nama Sylvania, bagaimana dia bisa tahu dia baru saja bertemu Elf yang bernama Sylvania. Menyadari kebingungan Elle, Lusie pun menjelaskan.

"Sylvania adalah salah satu teman baikku, dia ikut dengan pasukan pengintai yang pergi ke kota Anteinde. Aku yakin merekalah yang menyelamatkanmu di luar sana dan membuatmu bisa berada di sini."

Elle akhirnya mengangguk paham. Sebuah kebetulan bahwa Elle dirawat oleh seseorang yang ternyata dekat dengan Sylvania. Elle sempat mengira bahwa semua wanita yang bekerja dengan pasukan hitam atau yang disebut orang "muslim" adalah Elf. Tapi pernyataan dari Lusie akhirnya mengakhiri pemikiran itu.

"umm, Lusie, tolong ceritakan lebih banyak kepadaku tentang orang-orang yang disebut 'muslim' ini."

###

Kelompok Ahmed sudah tiba di daerah pinggiran tepi barat kota. Mereka sibuk mengeluarkan barang-barang mereka dari dalam Safir yang akan dibawa ke dalam kota. Selain itu mereka juga menyembunyikan kendaraan mereka di dekat pepohonan dengan ditutupi semak-semak yang rimbun.

"Letnan Fahmi, pergilah ke perkampungan terdekat untuk membeli kereta kuda, kita akan menggunakannya untuk mengangkut barang-barang ktia sekaligus sebagai bagian penyamaran kita sebagai pedagang. Bawa dua orang bersamamu."

"Dimengerti kapten! Syarif, Fuad, kalian pergi bersamaku."

Ahmed memandang jam ditangannya, lalu mengamati pakaian yang akan digunakannya untuk menyamar sebagai pedagang. Dilihat bagaimanapun pakaian itu tampak membuat Ahmed sedikit tidak nyaman.

"Setelah terbiasa menggunakan pakaian dari duniaku, menggunakan pakaian seperti ini memang membuatku merasa tidak nyaman, huh!" Keluh Ahmed.

"Kita tidak punya pilihan lain Ahmed." Karim yang berdiri di sampingnya menimpali.

Senjata mereka semua telah dimasukkan ke dalam kotak yang juga dipenuhi oleh buah-buahan. Satu-satunya senjata yang bisa mereka pegang sekarang hanyalah pedang tempur dan juga pisau komando mereka, atau sebuah katana dalam kasus Ahmed. Sebenarnya mereka masih ragu untuk membawa pedang yang masih tampak berbeda daripada pedang yang umum digunakan oleh para tentara di dunia ini.

Tapi bagaimanapun pedang yang paling biasa sekaligus paling efektif untuk mereka gunakan adalah pedang mereka sendiri. Lagipula seberapa anehnya pedang tempur mereka dan katana, keduanya masih tetap senjata yang masih wajar bagi orang-orang di dunia ini.

"Aku dengar hari ini armada laut ke 7 sudah mulai beroperasi di kota Orluire. Armada laut ke 20 juga akan bergabung beberapa minggu ke depan."

"Kau tidak salah, hanya saja mereka akan membutuhkan waktu untuk persiapan pengoperasian kapal mereka. Tapi… kau bilang armada ke 20 bukan?"

Karim mengangguk.

"Bukankah Armada ke 20 adalah armada yang berlokasi di pasifik? Aku dengar sebagian dari mereka adalah orang-orang Jepang bukan?"

"Benar, nyatanya para mujahid yang ingin bergabung dengan ekspedisi kita di Edela tidak hanya berasal dari timur tengah dan eropa selatan. Saudara-saudara kita di Asia juga banyak yang ikut bergabung, kau ingat Adi, Indra, dan Hendra adalah orang Asia bukan?"

Ahmed mengangguk lemas, moodnya sedikit terganggu karena teringat dengan salah satu anggotanya yang syahid. Menyadari mood yang menurun, Karim akhirnya mengajak Ahmed untuk makan terlebih dahulu bersama dengan anggota yang lain.

3 jam kemudian, Fahmi kembali dengan membawa 5 kereta lengkap dengan kudanya. Mereka mulai memuat barang-barang mereka ke dalamnya. Kereta itu memiliki kain penutup diatasnya, sehingga barang-barang yang ada di dalamnya tidak terekspos dari luar dan itu menambah keamanan dari barang mereka. Isi barang itu tentu saja peralatan militier, senjata, penanda laser, radio, dan peralatan lainnya.

Mereka ditempatkan masing-masing di sebuah kotak yang dipenuhi oleh buah-buahan, sayuran, dan berbagai macam makanan lainnya. Makanan itu selain untuk penyamaran mereka tentunya juga untuk cadangan menu makanan mereka meskipun mereka memiliki sebuah makanan instan MRE (Meals Ready to Eat) yang menjadi makanan khas militer dan siap dimakan kapan saja.

Keesokan paginya, mereka berjalan ke gerbang kota dengan menggunakan pakaian lokal dan jubah hitam yang mirip dengan milik Sylvania, tentunya tanpa tudung dan penutup kepala. Menggunakan penutup kepala hanya akan membuat mereka lebih mudah dicurigai oleh penjaga. Di depan gerbang, penjaga menghentikan mereka dan mulai memeriksa kereta-kereta di dalam.

Untungnya para penjaga tidak terlalu teliti dan tidak menyuruh mereka membongkar semua kotak yang ada di kereta. Dibandingkan dengan penjagaan kota ini, penjagaan di perbatasan Cina yang pernah dilalui oleh Ahmed jauh lebih teliti dan berbahaya. Setelah melewati pos penjagaan gerbang, Ahmed mulai membagi perintah lagi.

"Baiklah, setelah ini kita akan membutuhkan suatu tempat sebagai markas kecil kita untuk sementara di kota ini. Suleiman kuserahkan padamu, carikan sebuah bangunan atau rumah yang cukup besar untuk dapat menampung ratusan orang. Banguan kosong tak terpakai pun tak apa. Kalau perlu sewa bangunan itu, kita memiliki uang untuk membayarnya."

"Baik kapten."

"Informasi yang kita dapatkan sejauh ini hanyalah keberadaan penduduk kita di kota ini. Kita tidak punya informasi spesifik tentang dimana mereka ditahan, karena itu kita perlu meneliti keberadaan mereka di kota ini. Fahmi, bawa regu mu untuk mencari dan mengintai tempat jual beli budak, aku yakin mereka pasti ditahan di tempat jual beli budak dan aku butuh informasi tentang seberapa kuat penjagaan mereka dan lokasi ruangan tempat penahanan para budak. Kau bisa menyamar masuk sebagai pembeli budak dan tebus salah satu penduduk kita yang dijadikan budak di dalam sana kalau memungkinkan."

"Dimengerti Kapten."

"Bagaimana dengan kita kapten?" Tanya Karim, regu mereka sendiri belum diberikan tugas oleh Ahmed.

"Sejak kita berada di Edela, kita tidak pernah melihat dan merasakan langsung keadaan sosial penduduk dunia ini di bawah pemerintahan kerajaan bukan? Aku berencana untuk pergi ke pasar dan berdagang sekaligus menggali informasi tentang keadaan sosial penduduk. Selain itu kita juga dapat mencari informasi tentang para budak yang juga di bawa ke pasar. Tapi, untuk berdagang ke pasar, 16 dari kita akan terlalu banyak, karena itu kita akan bagi menjadi 4 kelompok."

Ahmed mulai memandangi anggotanya satu persatu, lalu menyebutkan nama untuk kelompok masing-masing.

"Kelompok satu, Karim, Orhan, Kemal, dan Aryan. Kelompok 2 Ramzi, Tariq, Yusuf, dan Hamzah. Kelompok 3 Faruq, Rasyid, Indra, dan Adi. Kelompok 4, Ismail, Osama, dan Ubaidah bersamaku."

Mereka semua mengangguk bersama.

"Mari kita selamatkan saudara-saudara kita. Semoga Allah senantiasa memberikan kita pertolongan."

Dengan begitu mereka semua berpencar melakukan tugas mereka masing-masing. Suleiman juga mulai membagi regunya sendiri menjadi beberapa kelompok untuk berpencar mencari bangunan yang bisa mereka gunakan. Fahmi dan tiga orang bawahannya memutuskan untuk menyelinap sebagai pembeli sedangkan sisa regunya menyebar di sekitar bangunan yang mereka intai di area pasar budak. Tentunya pasar budak dan pasar yang dituju oleh Ahmed berbeda, namun Ahmed khawatir ada beberapa penduduk palestina yang sudah terlanjur dibeli dan memutuskan untuk mengintai di sekitar pasar.

Ahmed membagi 4 kereta ke regunya dan satu kereta ke regu Fahmi yang juga menyamar sebagai pedagang. Memasuki pasar, Ahmed dan lainnya berjalan kaki sambil menuntun kuda yang menyeret kereta mereka. Melihat-lihat sambil mencari lokasi yang cocok untuk dapat membuka kios kecil mereka.

"Sudah kuduga, beberapa budak pasti ada yang di pekerjakan disini." Gumam Ahmed, namun tetap bisa didengar oleh Sylvania, Osama, Ismail, dan Ubaid. Mereka dapat melihat salah satu pedagang yang tampak kaya berdiri sambil bersendekap, sedangkan di sekitarnya terdapat beberapa budak yang berjalan kesana kemari mengangkut kotak-kotak barang dan dijaga oleh apa yang nampak seperti tentara bayaran.

"Kapten, tolong perhatikan 3 diantara para budak itu." Ujar Osama sambil menunjuk ketiga budak yang dimaksud. Ketiga budak yang dimaksud adalah anak-anak yang berumur sekitar 8 – 10 tahun. 2 diantaranya perempuan dan satu laki-laki.

"Wajah mereka, bagaimanapun kau melihatnya mereka terlihat seperti orang arab, dan mereka juga masih anak-anak. Osama, kau tahu apa yang harus kita lakukan di situasi seperti ini bukan?"

Osama mengangguk.

"Baiklah, Sylvania denganku akan mengurus mereka bertiga. Kalian semua lanjutkan mencari tempat."

"""Siap Kapten."""

Ahmed menggandeng Sylvania dan berpencar dari kelompoknya. Ahmed dan Sylvania berjalan mendekati pedagang kaya yang bersendekap itu. Orang itu memiliki kepala yang atasnya botak dan rambutnya hanya tumbuh di samping. Tipikal "om-om", bagaimanapun kau melihatnya, orang itu memiliki wajah yang angkuh dengan kumis tebal. Usianya mungkin antara 40 – 50 an.

"Uh, dia menaruh tongkat sihir di pinggangnya. Jangan-jangan dia bukan tipikal pedagang biasa. Atau jangan-jangan dia…"

"Bangsawan, tipikal yang merepotkan."

Ahmed mengangguk, mengiyakan pendapat Sylvania.

"Ini mungkin akan sedikit sulit Sylvania."

Sesampainya di depan orang itu, Ahmed memulai berbicara.

"Uhh, permisi tuan, bisa kita bicara sebentar?"

"HAHH? Ada apa rakyat jelata? Sebaiknya kau membicarakan hal yang penting karena kau telah mengganggu waktu pentingku."

Bangsawan itu memandang Ahmed dengan tatapan yang sangat angkuh. Kali ini tangannya berpindah menjadi berkacak pinggang sambil mengetukkan kakinya.

"Ehh, begini, kami berdua adalah pengantin baru dan kami membutuhkan budak di rumah kami. istriku menginginkan budak anak-anak dan nampaknya istriku tertarik dengan budak anda."

Ahmed menunjuk tiga anak yang dimaksud dan pedagang mengikuti arah dimana Ahmed menunjuk.

"AHH? Mereka tidak dijual! Sebaiknya kalian pergi membeli budak lain di pasar budak saja! sekarang sebaiknya kalian pergi dari sini dan jangan ganggu pekerjaanku."

Bangsawan itu melambai-lambaikan tangannya mengisyaratkan Ahmed untuk pergi dari hadapannya. Ahmed memandang Sylvania sejenak dan seolah paham dengan perannya, Sylvania menampilkan ekspresi putus asa.

"Uhh… tapi bagaimanapun istriku tertarik dengan mereka bertiga. Kalau dia sudah memilih, akan sulit untuk membujuknya mengganti pilihannya."

Bangsawan itu tampak sedikit berpikir, lalu sesaat kemudian menyeringai.

"Baiklah kalau kalian memaksa. Tapi aku beritahu, ketiga anak itu bukan berasal dari Edela. Mereka adalah manusia dari dunia lain. Karena itu akan aku jual dengan harga mahal, masing-masing 100 keping emas, bagaimana?"

Ahmed memandang Sylvania sejenak. Sylvania mengangguk untuk meyakinkan Ahmed.

"Baiklah, kami terima."

Bangsawan itu akhirnya tersenyum senang. Ahmed merogoh tas kecilnya dari balik jubah dan mengambil tiga kantong kecil yang berisi masing-masing 100 keping emas dan memberikannya ke si bangsawan. Dengan senang bangsawan itu menerima emas pemberian Ahmed, lalu memerintahkan salah satu pengawalnya membawa ketiga anak yang dimaksud. Ketiganya memiliki belenggu rantai di leher dan tangan mereka.

Setelah menyelesaikan tujuannya, Ahmed membawa ketiga anak itu dengan menyeret rantai mereka agar tampak bahwa dia memang berniat membeli budak. Mereka berjalan menjauhi bangsawan itu ke arah dimana Osama dan yang lain pergi sebelumnya.

"Ahmed, bukankah 300 itu agak sedikit berlebihan?"

"Tentu tidak Sylvania, bahkan bila dia menawarkan harga tiga kali lipatnya pun aku tetap akan membeli mereka selama aku memiliki jumlah itu. Nyawa setiap muslim berharga dan bahkan tidak bisa dibandingkan dengan berapa pun jumlah emas yang ada."

Ketiga anak yang mendengar percakapan Sylvania dan Ahmed menatap heran dengan mata yang sedikit membesar. Mereka seolah menyadari sesuatu dari kedua orang yang baru saja membeli mereka. Ya, ketiga anak itu menyadari bahwa Ahmed dan Sylvania berbicara menggunakan bahasa Arab. Ahmed dan Sylvania yang menyadari keterkejutan mereka memandang dengan tersenyum.

"Yah, sepertinya kalian mulai menyadarinya. Kami adalah para Ghazi dan insyaallah kami yang akan menyelamatkan kalian beserta orang-orang palestina yang lainnya."

Ahmed mengatakan itu sambil mengelus kepala ketiganya bergantian. Mereka bertiga langsung berkaca-kaca, selanjutnya mereka memeluk Ahmed dan Sylvania tanpa dapat menahan tangisan mereka.

"Terima kasih paman, kami sudah tudak tahan lagi bekerja untuk mereka. Terima kasih sudah menyelamatkan kami." Ucap salah seorang gadis kecil yang memeluk Ahmed.

"Berterima kasih lah pada Allah, karena kalau bukan karena tuntunannya, mungkin kita tidak akan bisa sampai disini."

Ahmed dan Sylvania balas memeluk mereka bertiga. Dari kejauhan mereka nampak seperti orang tua dan anak yang lama tak bertemu. Ahmed memandang gadis kecil yang berterima kasih kepadanya, lalu memandang gadis kecil yang lain, ternyata mereka memiliki wajah yang sangat mirip.

Apa jangan-jangan mereka bersaudara?

Sebelum Ahmed menyadari, wajah Sylvania sudah ada di dekat telinganya dan membisikkan sesuatu.

"Ahmed, aku menginginkan seorang anak." Ucapnya dengan wajah memerah.

Ahmed terkejut dengan apa yang diucapkannya, namun sesaat kemudian Ahmed hanya bisa tertawa ringan menanggapi permintaan Sylvania sambil memberikan satu kata.

"Insyaallah."

Mereka kembali berkumpul dengan sisa kelompok mereka. Osama, Ismail, dan Ubaid ikut tersenyum dengan keberhasilan kecil Ahmed. Belenggu yang ada di leher dan tangan ketiga anak itu dilepas. Mereka diperbolehkan menunggu di dalam kereta, tapi pada akhirnya mereka bertiga bersedia untuk membantu Ahmed, setidaknya dalam menata dan memindahkan barang-barang dagangan yang dibawa.

Di pasar, mereka mendapati kondisi sosial yang buruk. Beberapa pedagang yang berjualan dengan cara curang dan menipu. Budak-budak yang kadang terlihat bekerja memindah-mindahkan barang dari kereta ke tempat jualan atau sebaliknya. Pada satu waktu seorang bangsawan lain yang dikelilingi pengawal berjalan mengelilingi kios-kios pasar. Mereka menarik pajak satu persatu. Terlepas dari besar atau kecilnya toko, sepertinya pajak yang dibayarkan tetap sama.

"Kalian pedagang baru ya disini. Baiklah sekarang bayar pajak jualan kalian untuk minggu ini. pajak untuk setiap minggu adalah 10 koin emas. Kalau tidak bisa membayar, sebaiknya kalian berhenti berjualan atau berjualan di tempat lain selain di dalam kota ini."

Kira-kira seperti itu lah kata-kata yang diucapkan bangsawan itu ketika berada di depan Ahmed, tentu saja dengan sikap angkuh seperti bangsawan yang lainnya. Ahmed mengetahui bahwa semua bangsawan yang ada di kota ini adalah orang Leonia termasuk yang baru saja menarik pajak. Maklum saja karena kota itu masih dikuasai oleh Leonia. Ketika hari semakin sore, beberapa pedagang akan mengemasi dagangan mereka dan pulang. Ada juga beberapa pedagang lain yang baru datang dan mereka berjualan di malam hari. Ahmed berencana untuk berjualan di sana sampai malam juga kalau saja dia tidak mendapat kabar dari regu lain yang dipimpin Suleiman dan Fahmi.

"[bzzz] Disini Mubarizun 3, kami berhasil menemukan sebuah gudang tak terpakai di area pelabuhan yang dihuni beberapa bandit. Kami sudah mengamankan mereka dan tempat ini siap di pakai kapan saja. Lokasinya akan kami kirim melalui GPS."

Ahmed mengambil kacamata taktis nya yang di simpan di dalam selempang kecilnya dan memakainya untuk melihat lokasi yang dimaksud regu mubarizun 2. Setelah memakai kacamata itu dan melewati proses otentifikasi, Ahmed dapat melihat peta kota Anteinde dan mendapati sebuah kedipan merah di salah satu lokasi kota dekat pelabuhan sebelah timur.

"[bzzz] Mubarizun 2 melapor, kami berhasil mengamankan satu penduduk yang diperbudak. Kami akan bergerak menuju posisi Mubarizun 3."

Ahmed pun menyerukan anggotanya untuk bergerak ke tempat yang sama.

"[bzzz] seluruh elemen Mubarizun 1, kita bereskan barang dagangan kalian. Kita berkumpul ke lokasi yang ditemukan Mubarizun 3 yang selanjutnya disebut 'markas kecil'."

###

5 jam kemudian, di gudang tempat anggota kompi J berkumpul. Gudang itu berukuran cukup besar, tingginya setara dengan bangunan dua tingkat. Bagian luarnya juga terdapat halaman yang cukup luas dikelilingi oleh tembok setinggi 3 meter. Bagian belakangnya terdapat dermaga kecil. Benar-benar tempat yang sempurna untuk tempat persembunyian Ahmed dan pasukannya. Di bagian dalam gudang pun juga hampir kosong. Hanya ada beberapa meja ukuran sedang dan beberapa tumpukan kotak kayu kosong.

Di berbagai pojok dan sisi bagian dalam gudang banyak terdapat sarang laba-laba dan debu. Nampaknya gudang itu sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun oleh pemiliknya. Kini gudang itu mulai dipenuhi oleh peralatan-peralatan milik pasukan Ahmed. Tentu saja mereka membawa peralatan masing-masing yang disembunyikan di dalam kereta kuda. Meja tak terpakai yang tadinya kosong, kini di atasnya terdapat peralatan elektronik dan laptop yang menampilkan beberapa kamera dan radar. Beberapa yang lain digunakan untuk alat-alat komunikasi seperti radio dan semacamnya.

Terlihat seorang ibu yang saling berpelukan dengan anak laki-lakinya. Secara tak sengaja, regu Mubarizun 2 telah membebaskan wanita yang ternyata menjadi ibu dari anak laki-laki yang dibeli oleh Ahmed. Entah suatu kebetulan atau takdir. Ahmed mengelus rambut kedua gadis kecil yang ternyata memang bersaudara itu. Mereka belum bertemu dengan orang tua mereka.

"Jangan khawatir, kami pasti akan membebaskan ibu kalian berdua juga. Kalian tunggu saja disini dengan sabar, oke?"

Kedua gadis kecil itu menunduk sedih setelah melihat pertemuan ibu dan anak yang mengharukan. Ahmed yakin mereka pasti juga ingin bertemu dengan orang tua mereka.

"Tapi sepertinya itu tidak mungkin paman." Jawab salah satu gadis yang menjadi kakaknya. Ahmed terkejut mendengar jawaban gadis itu.

"Kenapa tidak mungkin?"

"Karena ibu kami baru saja meninggal seminggu yang lalu sebelum kami dibawa oleh orang yang di pasar itu. Ibu sakit panas dan batuk-batuk terus, tapi tentara yang mengurung kami tidak mau merawat ibu kami atau pun memberikan obat."

Ahmed melebarkan matanya. Dia baru teringat bahwa orang-orang yang ditahan di tempat perbudakan itu juga kemungkinan besar bisa terkena penyakit. Apalagi mereka masih belum lama berada di Edela dan perlu beradaptasi dengan iklim di tempat ini.

"Aku baru teringat kalau sebentar lagi akan mendekati musim dingin. Mereka yang tidak merawat diri dengan baik akan sering terkena penyakit. Karena itu juga suhu udara akan menurun bulan ini." Ucap Sylvania menambahkan fakta buruk yang ada.

"Ini buruk, kalau begini tidak menutup kemungkinan warga kita yang lain juga ada yang terserang penyakit dan bisa meninggal karenanya. Kita harus bergerak cepat membebaskan mereka! Fahmi, bagaimana hasil pengintaianmu hari ini?"

"Kami berhasil mengidentifikasi tempat penahanan budak dan mengetahui ruangan di mana para budak ditahan. Mereka ada di ruang bawah tanah di bawah gedung. Nyonya Fatima sudah memberitahukan detailnya di perjalanan kami kemari."

Fatima adalah penduduk yang baru saja dibeli Fahmi ketika mereka menyusup ke pasar budak.

"Selain itu, penjaga di malam hari biasanya lebih sedikit dan bangsawan pemilik pasar budak juga tidak ada di pos ruangannya. Kami baru saja mengonfirmasinya ketika salah satu anggotaku Amru melihatnya pulang di sore hari."

"Baiklah, kalau begitu kita akan menyerang malam ini juga. Suleiman, kau dan regu mu menjaga markas kecil kita selama kita di luar. Siapkan perimeter pertahanan dan juga peralatan medis untuk merawat para penduduk. Fahmi, bawa regumu untuk menyerang bersamaku ke pasar budak. Gunakan kacamata taktis kalian dan aktifkan mode infrahijau."

""""Siap Kapten!""""

Kali ini perhatian Ahmed terarah ke Sylvania yang juga menunggu perintahnya. Sylvania bahkan sudah bersiap dengan memegang busur kesayangannya.

"Sylvania, aku membutuhkanmu disini."

"T-Tapi, aku….-"

"Aku ingin kau bersiap untuk merawat penduduk yang datang kesini dan menjaga titik markas kami. Kau salah satu petugas medis kami yang paling penting, gunakan kemampuan mana mu untuk menyembuhkan luka-luka mereka nantinya."

"hmm, baiklah aku mengerti."

Ahmed mengedarkan pandangannya ke seluruh pasukannya yang berjumlah 50 orang, lalu dengan penuh keyakinan, Ahmed memberikan kalimat terakhirnya.

"Gunakan kesempatan ini dan niatkan untuk berjihad di jalan Allah. Semoga Allah memberikan kita petunjuk dan kemudahan untuk kita."

Lalu, dengan serentak mereka semua mengucapkan.

"""""Laa Hawla wa laa kuwwata illa billah"""""

"ALLAHU AKBAR!"

"""""ALLAHU AKBAR!"""""

Dengan begitu, mereka bergerak mengerjakan tugas mereka masing-masing. Regu Suleiman yang berjaga di markas kecil menyiapkan pertahanan dengan menumpuk kotak-kotak kayu yang ada di dalam gudang dan juga membuat tumpukan karung pasir sebagai tempat berlindung sekaligus pertahanan mereka. Sebagian menyiapkan peralatan medis dan juga berbagai obat-obatan yang tadinya sempat di simpan di dalam kereta.

Di sisi lain, regu Ahmed dan Fahmi menyiapkan peralatan dan senjata-senjata yang akan mereka bawa. Petugas medis seperti Faruq juga membawa beberapa obat-obatan dan perlengkaan pertolongan pertama untuk keadaan darurat. Seluruh pasukan Ahmed sudah berganti dengan seragam loreng hitam khas Ghazy mereka. Fatima dan ketiga anak yang sudah diselamatkan diamankan di salah satu ruangan gudang yang cukup luas, kemungkinan ruangan itu juga akan digunakan untuk menampung penduduk yang lain.

###

Suasana malam di pasar budak jauh berbeda dengan di siang hari. Jalanan yang tadinya terang berganti terlihat gelap dan keramaian penduduk berubah menjadi kesunyian. Hanya ada suara langkah kaki panjaga yang berpatroli sambil membawa obor. Beberapa penjaga lainnya hanya diam berjaga di pintu masuk atau beberapa titik bangunan. Obor yang dipasang di beberapa titik hanya dapat menerangi sebagian kecil jalanan dan meninggalkan kegelapan di sisanya.

Seorang penjaga yang berkeliling sendiri, mengamati area sekitarnya sambil sesekali menguap. Baginya pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang cukup membosankan. Terkadang dia berharap menjadi salah satu tentara yang maju di garis depan dan mengukir namanya sendiri di batu sejarah. Namun berita kekalahan dengan pasukan hitam dimana-mana membuatnya mengurungkan keinginannya itu. membuatnya sedikit mensyukuri tugas jaga yang didapatkannya. Setidaknya dia bisa lebih aman di kota Anteinde, jauh dari garis depan. Atau setidaknya itu yang dia pikirkan sebelum sebuah suara kecil terdengar dan dalam waktu kurang dari satu detik membuatnya kehilangan kesadaran untuk selamanya.

Suara itu, tentu saja SMG ST5 yang dipasangi peredam di moncongnya membuat suara tembakannya hanya dapat terdengar dari jarak sekitar 1 meter saja. Penjaga itu tidak akan pernah menyangka tentang adanya keberadaan pasukan hitam yang ditakutinya di kota Anteinde.

"[bzzz] disini mubarizun 2-2, poin bravo diamankan."

"[bzzz] disini mubarizun 2-3, poin charlie diamankan."

Selanjutnya, dua penjaga yang berada di depan pintu mengalami nasib yang sama. Mereka tidak pernah tahu apa yang datang ke arah mereka sebelum akhirnya nyawa mereka terengut terlebih dahulu.

"[bzzz] Mubarizun 1-4 mengamankan poin Alpha."

Ahmed dan Fahmi akhirnya memasuki pintu masuk gedung yang menjadi pasar budak. Di dalamnya mereka hanya menemukan ruangan-ruangan biasa seperti kamar, kantor dengan buku-buku, ruang tamu. Di tengah jalan mereka menjatuhkan setiap penjaga yang mereka temui. Beberapa anggota Fahmi atau Ahmed akan mencoba menyembunyikan tentara yang mereka tembak jatuh.

"Letnan, ke arah mana?"

"Arah sini kapten, di dalam gudang makanan."

Mereka memasuki sebuah gudang makanan, lalu Fahmi mulai menggeser-geser lemari yang ada didalamnya.

"Kalau tidak salah, Fatima berkata bahwa pintu masuknya ada di balik sebuah lemari."

Fahmi mencoba menggeser semua rak makanan mencari jalan masuk di baliknya. Ahmed pun mulai ikut membantu menggeser-geser lemari yang belum di geser oleh Fahmi sambil sesekali mencoba meraba-raba tembok.

"Kenapa mereka menyembunyikan tempat penahanan budak?"

"Aku tidak tahu kapten, mungkin mereka hanya tidak ingin budak mereka kabur."

Hampir semua lemari sudah di geser dan mereka tidak menemukan apa-apa sampai akhirnya sebuah lemari terakhir yang lebarnya seukuran pintu standar ternyata tidak bisa mereka geser kesamping.

"Kapten, Ugh, benda ini entah kenapa tidak mau bergeser." Ucap Fahmi sambil berusaha menggeser lemari itu.

Ahmed mencoba berpikir sejenak, lalu mencoba menggeser lemari itu ke arah berlawanan dari arah Fahmi.

Masih belum bergerak.

Selanjutnya Ahmed mencoba menggesernya kedepan.

Lemari itu bergerak, bahkan terasa jauh lebih ringan dari pada seharusnya. Hanya saja yang bergerak Cuma salah satu sisinya saja. Akhirnya karena berpikir mendapat sebuah petunjuk, Ahmed terus menggesernya, tidak, lebih tepatnya menariknya kedepan. Layaknya sebuah pintu, lemari itu bergerak ke depan dan menunjukkan sebuah ruangan gelap dibaliknya. Sepertinya lemari itu dipasangi engsel di salah satu sisinya dan memang digunakan sebagai pintu masuk.

Ruangan itu memang gelap gulita tanpa ada satu pun lilin atau obor untuk meneranginya. Untungnya karena kacamata yang digunakan Ahmed dan anggotanya menyalakan fungsi infra hijau, mereka tetap dapat melihat dengan jelas apa yang ada di dalam ruangan itu. Sebagai efek samping dari fungsi infra hijau, kacamata mereka akan menyala dengan warna hijau membuat mereka seolah memiliki area mata warna hijau seperti di beberapa film horor tertentu.

di dalam ruangan yang gelap gulita itu, terdapat sebuah tangga yang menurun ke bawah. Ahmed dan Fahmi saling memandang dan mengangguk satu sama lain, lalu berjalan menuruni tangga di depan diikuti oleh anggota mereka yang lain. mereka menuruni sekitar 20 anak tangga yang membentuk spiral kecil. Lalu ketika di bawah mereka sepertinya menemukan apa yang menjadi tujuan mereka ke tempat itu.

Sebuah lorong memanjang dengan sel-sel seperti penjara yang pintunya terbuat dari kayu berjajar di kanan kiri. Setiap pintu kayu itu terdapat lubang kotak kecil di bagian atas dengan jeruji besi yang menutupinya. Jumlah sel di dalamnya tidak bisa dikatakan sedikit. Mungkin ada sekitar 20 sel atau lebih. Ahmed tidak yakin karena mereka belum dapat melihat ujung dari lorong yang berisi sel-sel itu.

"Semuanya, periksa setiap ruangan dan temukan para penduduk kita."

Ahmed memberikan perintahnya lagi dan seluruh pasukan yang bersamanya langsung bergerak mengecek sel-sel yang ada di kanan kiri mereka. Beberapa suara nafas yang tertahan dapat di dengar dari berbagai pintu sel. Suara itu jelas menyiratkan sebuah keterkejutan yang lebih menunjukan perasaan ketakutan. Hal itu wajar karena setiap kali pasukan Ahmed mengintip dari luar pintu, yang dapat dilihat dari orang yang ada dilam sana adalah cahaya hijau kecil yang tiba-tiba muncul di depan pintu mereka.

Nyatanya di dalam setiap sel terdapat satu lilin kecil yang menjadi satu-satunya penerangan setiap penghuni ruangan. Bau keringat dan apek langsung tercium dari dalam setiap sel ketika seseorang mengintip ke dalamnya. Jelas bukan tempat yang bisa ditinggali oleh manusia normal.

Pasukan Ahmed dapat membedakan mana penduduk asli palestina minimal dari wajah mereka yang jelas memiliki fitur berbeda dari wajah orang Edela pada umumnya. Karena rata-rata orang Edela memiliki kesamaan ciri-ciri dan fitur wajah seperti orang eropa barat ataupun eropa utara. Wajah yang jarang dimiliki oleh kebanyakan penduduk Daulah.

"Kapten, disini! Kami berhasil menemukan sepuluh orang!"

"Disini juga ada 4 orang!"

Laporan tentang ditemukannya penduduk Daulah berdatangan dari pasukan Ahmed. Semenjak mereka memasuki ruangan sel, mereka akan melewatkan sel-sel yang berisi selain penduduk Daulah. Kebanyakan isi sel itu hanyalah wanita dan anak-anak. Tidak, mungkin bukan hanya kebanyakan, tapi semua sel berisi wanita dan anak-anak. Memang ada beberapa sel yang kosong di dalamnya. Mungkin sel itu dulunya milik budak laki-laki yang sudah dibeli.

Pasukan Ahmed pun mulai menyalakan senter mereka karena penduduk sipil yang mereka selamatkan tidak mengenakan optik infra hijau seperti mereka dan memerlukan pencahayaan biasa. Mereka memprioritaskan penduduk Daulah terlebih dahulu untuk dibebaskan. Karena itu, ketika ditemukan penduduk Daulah Islamiyah di sebuah sel, mereka akan langsung membukanya dengan menembak kunci pintunya dan menendang pintu itu sampai rusak. Ungkapan bahagia dan rasa syukur mulai terdengar dari setiap sel yang mereka bahagia.

"Alhamdulillah, pertolongan Allah telah sampai kepada kita melalui para Ghazi". Ujar salah satu wanita yang jadi tahanan.

Seperti halnya tahanan budak di tempat lain, mereka hanya diberikan pakaian yang lebih terlihat seperti karung lusuh yang dilubangi untuk kepala dan tangannya. Pemandangan yang sangat miris. Wanita dari penduduk Daulah dengan berbagai usia mulai dikeluarkan dari sel-sel mereka dan dibekali senter karena gelapnya lorong ruangan sel. Dari semua wanita yang dibebaskan, wanita paling tua yang mereka dapati kira-kira berusia awal tiga puluhan. Sebagian besar dari mereka membawa anaknya yang masih berusia anak-anak. Mereka diarahkan menuju pintu keluar dimana kereta kuda yang dibeli di pagi hari akan mengantar mereka ke markas kecil mereka.

Ahmed menghitung setiap orang yang dikeluarkan dari dalam sel, memastikan jumlah mereka tidak ada yang kurang.

"Seseorang, bawakan aku tandu kesini!"

"Medis, aku butuh medis."

Beberapa pasukan yang masuk ke dalam sel untuk membebaskan tahanan berteriak karena mendapati tahanan yang sakit keras dan tidak dapat bangun. Beberapa diantaranya bahkan terlihat sekarat. Ahmed memasuki salah satu sel yang di dalamnya terdapat Faruq yang sedang merawat salah satu pasien itu.

"Kapten, wanita ini terserang TBC! Kalau dibiarkan saja dalam waktu dua hari lagi dia akan kehilangan nyawanya! Kita harus segera mengevakuasinya ke markas kita."

"Ya Allah, kuatkanlah saudari kami!" Gumam Ahmed.

Mereka segera membawa wanita itu dengan tandu keluar dari sel nya. Di luar, pasukan Ahmed yang lain akan bertanya ke para tahanan yang sudah dikeluarkan tentang posisi tahanan lain yang masih ada di dalam sel. Sampai akhirnya ketika wanita terakhir dikeluarkan dari sel, salah satu nya bertanya ke Letnan Fahmi.

"Wahai para Ghazi, apakah kalian tidak akan menolong para budak yang lainnya? Mereka juga manusia seperti kami dan memerlukan pertolongan seperti kami."

"Untuk saat ini prioritas kami adalah penduduk Daulah Islamiyah! Kami akan membebaskan mereka sekaligus ketika pasukan kami semua sudah bisa membebaskan kota ini. Selain itu kendaraan yang kami bawa kesini hanya dapat menampung jumlah kalian yang dari Daulah saja."

"Meski begitu, aku ingin kalian membebaskan yang lain juga. Dalam kondisi seperti ini, mereka tidak akan dapat bertahan dalam waktu seminggu lagi. Kami semua disini kelaparan dan beberapa orang membutuhkan obat-obatan. Tolonglah, bebaskan mereka juga, sebagian dari mereka bahkan ada yang berniat untuk masuk Islam ketika berbincang-bincang dengan kami! lagipula bukankah tugas kita sebagai muslim menolong setiap manusia yang membutuhkan pertolongan tanpa memandang status mereka?"

Ahmed yang ikut mendengarkan perbincangan Fahmi dengan wanita itu akhirnya memilih untuk menurut. Lagipula apa yang dikatakan wanita itu juga lebih banyak benarnya.

"Baiklah, kami juga akan membebaskan mereka. Untuk saat ini sebaiknya anda ikut berjalan keatas menemui pasukan kami yang lain untuk diantar ke tempat aman."

Wanita itu tersenyum puas dan mengangguk sebelum akhirnya meninggalkan Ahmed dan Fahmi.

"Kapten, apa kau serius? Kereta kita tidak akan muat menampung mereka semua!"

"Tidak masalah, kita akan menyuruh kereta itu untuk kembali lagi kesini atau kalau tidak begitu, kita tinggal berjalan kaki saja ke markas kecil sambil melindungi mereka."

"Baiklah, aku mengerti. Kalau sudah begini mau bagaimana lagi." Fahmi akhinrya ikut menurut sambil mengendikkan bahunya.

"Kalian dengar kan perintah kapten? Bebaskan juga tahanan yang lain!"

Ahmed kembali membuka setiap sel yang ada satu per satu, kali ini tanpa mengintip kedalam. Para budak yang dibuka pintu selnya oleh tentara berseragam hitam dengan mata hijau, tentu saja ketakutan setengah mati dan bergarak mundur ke pojok ruangan. Baru setelah beberapa kata menenangkan serta nada pasukan ghazi yang terdengar bersahabat, mereka bersedia untuk ikut keluar.

"[bzzz] disini tim pengangkut kami selesai memuat paket dan bergerak menuju markas kecil."

"Disini Mubarizun 1.1, perintah untuk tim pengangkut, kembali ke poin alpha untuk memuat lebih banyak paket setelah menurunkan paket yang sudah kalian muat di markas kecil."

"[bzzz] uhh, aku kurang mengerti situasi di dalam sana tapi… baiklah, kami akan kembali setelah menurunkan muatan di markas kecil. tim pengangkut selesai."

Ahmed kembali membantu membebaskan para tahanan bersama Fahmi dan yang lain. bagaimanapun jumlah tahanan yang berasal dari penduduk Edela jauh lebih banyak dari jumlah penduduk Daulah. Ahmed sendiri memperkirakan jumlah mereka kurang lebih bisa mencapai 200 orang.

"Kapten, berapa jumlah penduduk Daulah yang berhasil kita selamatkan?"

"Aku hanya dapat menghitung 40 dari mereka. Sisanya dilaporkan meninggal dunia karena penyakit. Karim, laporkan apa yang ada ke kolonel Umar."

"Baiklah, aku akan melaporkannya ke markas setelah ini selesai."

"Sangat disayangkan bukan, kita kehilangan 10 warga negara kita karena keterlambatan."

Mereka melanjutkan operasi pembebasan sekitar 10 menit dari satu sel ke sel lain. Beberapa diantara mereka seperti sebelumnya ada yang terjangkit penyakit seperti demam, TBC, dan lainnya. Permintaan tandu dan panggilan medis beberapa kali bergema di dalam lorong.

"Kapten, di ujung lorong! Sel itu terlihat mencurigakan dan sangat terisolasi dari yang lain." Ujar Karim ketika mereka mulai sampai di ujung lorong tempat tahanan. Sebuah sel terakhir yang berada di paling ujung lorong. Tidak seperti sel lain yang berada di kanan dan kiri lorong, pintu sel itu langsung menghadap ke arah lorong seolah jalan di dalam lorong ini memang ditujukan untuk ke satu sel terakhir itu. Pintunya, tidak seperti yang lain, terbuat dari besi penuh bahkan tanpa jendela kecil sekalipun.

"Apakah kita harus membukanya juga?"

"Aku tidak tahu Fahmi, tapi meninggalkan beberapa tahanan ketika kita membebaskan hampir semua tahanan lain. Sudah bisa dipastikan tahanan terakhir akan dihukum habis-habisan oleh pihak kerajaan sebagai pelampiasan. Tidak hanya disiksa, mungkin saja dia juga akan dibunuh, secara perlahan."

Karim dan Fahmi yang berada di kanan dan kiri Ahmed masih menunjukan keraguan. Tangan mereka sedikit mengangkat senapan ST5 yang mereka bawa dengan jari telunjuk yang siap menarik pelatuk.

"Bagaimana kalau di dalamnya adalah makhluk yang berbahaya kapten?"

"Dengan pertolongan Allah, kita hanya perlu menembak dan membunuhnya bukan?" jawab Ahmed sambil menyeringai tanpa takut.

Kedua orang di sampingnya akhirnya ikut menuruti keputusan Ahmed. Dengan perlahan mereka berjalan mendekat ke pintu itu sambil tangan mereka menyiapkan senapan mereka. Setelah di depan pintu dengan jarak kurang dari 1 meter, Ahmed memerintahkan Karim untuk menembak kunci pintunya seperti biasa. Selanjutnya setelah pintu dirasa rusak dan dapat dibuka, Fahmi membuka pintu itu perlahan dengan Ahmed dan Karim yang siap membidikkan senapan mereka ke arah apapun yang ada di dalam sel terakhir itu.

"Sel ini, bahkan tidak ada satu pun cahaya lilin di dalamnya." Gumam Ahmed ketika pintu terbuka sedikit.

Setelah pintu terbuka penuh, melalui infra hijau di kacamata mereka. Akhirnya mereka dapat melihat dengan jelas apa yang ada di dalam sel yang tanpa setitik pun cahaya itu.

Seorang gadis muda yang di rantai dengan posisi hampir membentuk X di tembok yang menghadap pintu. Berbeda dengan tahanan yang lain, gadis ini hanya mengenakan kain yang menutupi dada dan pinggangnya saja layaknya pakaian dalam atau bikini. Bagian perut dan lainnya tidak tertutup apa-apa. Matanya juga ditutupi oleh kain hitam. Rambutnya berwarna pirang dan terlihat acak-acakan. Melihat penampilannya Ahmed bahkan tidak yakin apakah lebih pantas menyebutnya gadis muda atau anak-anak. Usianya mungkin sekitar 12 – 14 tahun.

Gadis itu sepertinya mendengar suara pintu terbuka, sehingga Ahmed bisa melihatnya bergerak dan mengangkat kepalanya ke arah pintu ketika Fahmi selesai membuka pintu. Meskipun jelas gadis itu tidak dapat melihatnya karena matanya yang tertutup. Setelah mengangkat kepalanya, sebuah kata pertama terucap dari mulutnya.

"Siapa?"