Part 19 Pembebasan Budak

"Siapa?"

Ahmed, Karim, dan Fahmi tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Mereka masih mewaspadai bahwa sosok gadis di depan mereka bisa jadi sosok yang berbahaya.

"Kapten, dia hanya gadis muda biasa kan?" bisik Fahmi, suaranya terdengar takut.

"Aku tidak tahu Fahmi, bisa jadi dia memiliki kekuatan besar yang belum kita ketahui."

Mereka bertiga masih terdiam berdiri berdampingan satu sama lain dengan senjata yang tetap diarahkan ke gadis muda di depan mereka. Ragu-ragu untuk memilih apakah mereka harus membebaskannya atau membiarkannya saja di sini.

"[bzzz] Di sini Mubarizun 2-2, kami mendapati patroli tentara Leonia dalam jumlah besar sedang berjalan ke pasar budak. Sebaiknya kalian segera keluar dari sana Mubarizun 1-1!"

"Kapten, kita tidak punya banyak waktu! Cepat buatlah keputusan!"

Gadis di depan mereka tampak bingung karena tidak kunjung mendapat tanggapan atau jawaban. Meskipun suara bisik-bisik dari Ahmed dan lainnya beserta suara radio Ahmed bisa didengarnya, Gadis itu tetap tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh mereka. Namun gadis itu kembali berbicara dengan suara yang bergetar.

"Siapa disana? Duke? Kau kah itu? kalau kau mau menyiksaku lagi, kau tetap tidak akan mendapat apa-apa. Perlawanan rakyat Scotia akan tetap berlanjut meski aku tidak ada bersama mereka."

Mendengar kata-kata yang tiba-tiba terlontar dari gadis itu, Ahmed, Karim, dan Fahmi akhirnya menyadari bahwa gadis di depan mereka sepertinya bukanlah pengguna kekuatan besar atau semacamnya seperti yang mereka pikirkan. Mungkin gadis itu hanya seseorang yang pernah memiliki kedudukan tinggi atau semacamnya. Ahmed bergantian menoleh ke Karin dan Fahmi seolah meminta pendapat mereka. Keduanya mengangguk setuju untuk membebaskannya.

"kau boleh siksa aku atau kalau perlu bunuh saja aku. Tapi kau tidak akan dapat menghentikan perlawanan rakyat Scotia. Tidak ada gunanya kau mengurungku di sini Duke!"

Ahmed berjalan maju perlawan mendekati gadis yang mulai berbicara lagi. Lalu Ahmed membuka ikatan kain yang menutup matanya. Gadis itu langsung membuka matanya dan mengedipkannya beberapa kali, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk di matanya. Tapi nyatanya dengan gelapnya ruangan itu, yang dapat dia lihat di depannya sekarang hanyalah tiga sosok bayangan hitam dengan mata yang menyala hijau. Melihat tiga sosok asing yang menakutkan di depannya, gadis itu tiba-tiba berteriak histeris.

"Kyaah, siapa kalian? Apa yang kalian inginkan dari aku?"

Ahmed meletakkan telunjuknya di depan mulutnya, mengisyaratkan gadis itu untuk diam. Gadis itu pun akhirnya menurut dan mengangguk, namun wajahnya masih tampak ketakutan dengan apa yang dilihat di depannya. Tanpa mengucapkan apa-apa Ahmed menoleh kebelakang dan mengangguk sebelum dua orang yang ada di belakangnya berlari duluan keluar dari ruangan. Selanjutnya Ahmed menembak empat rantai yang membelenggu gadis itu di dinding membuatnya terlepas dari belenggunya.

Namun sepertinya gadis itu sudah tidak memiliki kekuatan lagi bahkan untuk menopang tubuhnya. Akhirnya setelah tubuhnya terlepas, gadis itu hanya berdiri lemas sebentar sebelum terhuyung ke depan, lalu memegang dada Ahmed dengan kedua tangannya agar tidak terjatuh.

"Tenanglah, kami disini untuk membebaskan semua orang! Apa kau bisa berdiri?"

Gadis itu mendongak sesaat melihat wajah Ahmed yang terlihat samar-samar terkena warna hijau dari kacamata taktis nya. Lalu menggeleng untuk menjawab pertanyaan Ahmed.

"Huh, tidak ada pilihan lain."

Ahmed langsung meraih kaki gadis itu, lalu menggendongnya dengan bridal style sebelum akhirnya berlari keluar dari sel tempat gadis itu ditahan. Tujuannya tentu saja pintu keluar.

"[bzzz] Mubarizun 1-1 disini Karim, patroli musuh sudah mendekati pasar budak. Tim pengangkut tidak bisa menunggu lebih lama lagi, kami akan berangkat dengan membawa kargo kedua. Sebaiknya kau mencari jalan lain untuk keluar Mubarizun 1-1!"

Ahmed berdecih mendengar laporan Karim yang menandakan musuh sudah datang. Mereka jelas tidak bisa membeberkan identitas mereka atau menyerang patroli musuh dengan resiko tentara Leonia akan mengikuti rute kabur mereka dan mengepung mereka di markas kecil mereka.

"Diterima, aku akan mencari jalan keluar alternatif dan menemui kalian di markas kecil. Pergilah terlebih dahulu dan amankan para tahanan yang baru saja kita bebaskan."

"[bzzz] baik kapten."

Gadis yang berada di gendongan Ahmed hanya dapat memandang Ahmed dengan heran, mengingat Ahmed yang kembali berbicara dengan bahasa yang asing ditelinganya. Setelah menaiki tangga dan keluar dari area bawah tanah, Ahmed yang berada di gudang makanan mencoba mengintip keluar di koridor bangunan.

Dua orang penjaga yang tampak tergesa-gesa berlari di koridor itu dengan obor ditangan kiri mereka dan pedang yang terhunus di tangan kanan. Ahmed pun kembali masuk ke dalam gudang makanan, tidak lupa menutup pintu. Tanpa menyadari keberadaan Ahmed, mereka melewati gudang makanan begitu saja. langkah kaki mereka yang berlari di lantai kayu dapat didengar jelas oleh Ahmed. Setelah mereka melewati gudang makanan, Ahmed kembali mengintip keluar untuk mengecek apa ada tentara lainnya di koridor.

Kosong.

Ahmed langsung berlari keluar dari gudang makanan menelusuri koridor. Karena Ahmed tahu dia tidak bisa melewati pintu depan dengan banyaknya tentara Leonia di sana, Ahmed berusaha mencari jalan alternatif untuk keluar dari gedung itu. Sesekali Ahmed mendapati sekelompok tentara yang berlarian atau berjalan di koridor dan bersembunyi di balik salah satu ruangan yang bisa ditemuinya.

Setelah 15 menitan mengelilingi gedung, akhirnya Ahmed dapat menemukan pintu belakang gedung. Tidak seperti pintu depan yang menggunakan dua pintu, pintu belakang hanya memiliki satu daun pintu. Ahmed meraih gagang pintu itu, lalu memutarnya untuk membuka pintu. Sayangnya pintu itu ternyata terkunci.

"Tidak ada pilihan lain."

Ahmed menurunkan kaki gadis yang digendongnya sebentar, lalu meraih ST5 yang tadinya di selempangkan di sampingnya sebelum menembak pintu itu di bagian kuncinya.

Cepcepcep

Suara tembakan kecil dapat didengar oleh Ahmed dan gadis yang bersamanya. Namun suara itu hanya bisa didengar oleh siapapun hanya dari jarak 1-2 meter saja. Bagaimanapun pasukan Leonia yang ada di tempat lain tidak akan mampu mendengar suaranya. Gadis itu kembali menatap kagum apa yang dilakukan oleh Ahmed. Tidak hanya mematahkan rantainya dengan cepat, tapi juga membuka pintu itu tanpa kesulitan.

Gadis itu kembali digendongnya ala bridal style. Seperti sebelumnya Ahmed akan mengintip terlebih dahulu di luar untuk memastikan tidak ada tentara Leonia sebelum keluar melewati pintu itu dan akhirnya berjalan di tengah jalanan kota malam. Jam yang nampak di kacamata Ahmed menunjukkan pukul 22.10, itu artinya kota ini sudah memasuki jam malam dan seharusnya para penduduk sudah berada di rumah mereka semua masing-masing.

Saat itu adalah saat pertama kali gadis yang ada di gendongan Ahmed kembali menatap langit yang dihiasi bulan purnama dan juga menghirup udara luar yang segar. Gadis itu menghirup udara dalam-dalam dengan senangnya terlepas dari keadaan mereka berdua yang sedang dalam bahaya karena dalam pencarian tentara Leonia.

Ahmed berlari memasuki sebuah gang kecil, lalu berlari menyusuri jalan gang yang sempit, sesekali menyeberangi jalanan kota dan memasuki gang kecil lainnya. Gadis itu bahkan bisa mendengar nafas Ahmed yang mulai terengah-engah karena terus berlarian. Hampir di setiap jalanan, Ahmed selalu mendapati patroli tentara Leonia. Mungkin karena mereka tahu beberapa anggota mereka dibunuh, mereka menyiagakan banyak tentara malam ini untuk memburu pembunuhnya.

"Huh huh huh, sepertinya kita perlu istirahat terlebih dahulu."

Sambil sedikit terengah-engah, Ahmed mendudukkan gadis yang digendongnya sebelum dirinya ikut duduk di bawah dan bersandar di sebuah tembok bangunan. Mereka saat ini sedang berada di salah satu gang kecil yang gelap. Namun dengan adanya sinar bulan purnama, suasana di gang itu masih jauh lebih terang dari pada sel tempat gadis itu sebelumnya ditahan.

Gadis itu masih setia menatap Ahmed yang duduk terengah-engah sambil meminum botol air. Kali ini wajah Ahmed yang disinari cahaya bulan dapat dilihat olehnya dengan jelas. Meski seharusnya kegelapan malam hanya bisa memberikan gambaran yang remang-remang, namun berada di sel gelap seperti itu selama berbulan-bulan mungkin telah membuat penglihatannya sedikit lebih tajam. Merasa dirinya diperhatikan, Ahmed balas melihat ke arah gadis di dekatnya, lalu pandangan Ahmed beralih ke botol air yang dipegangnya. Ahmed mengulurkan botol airnya ke gadis itu, mengira gadis itu menginginkannya.

"Kau mau minum?"

Gadis itu mengangguk, lalu menerima botol minum Ahmed dan meminumnya dengan antusias sampai memperdengarkan suara gulp gulp. Ahmed hanya dapat tersenyum melihatnya, wajar saja gadis itu dikurung dengan ketat dan Ahmed juga tidak tahu kapan gadis itu bisa mendapat makanan dan minuman setiap harinya. Mungkin dia hanya bisa makan dan minum dalam jumlah sedikit setiap harinya mengingat tubuhnya juga terlihat kurus, karena itu minuman sebotol tampak seperti anugerah baginya.

Tak terasa, isi botol minuman Ahmed ternyata sudah habis diminumnya dan hanya meninggalkan tetesan. Melihat botol yang dipegangnya kehabisan isi, gadis itu terkejut, lalu dengan sedikit tertunduk mengembalikan botol yang dipegangnya ke Ahmed.

"Maaf!"

Ahmed yang masih tersenyum memegang dan mengusap rambutnya seperti anak kecil.

"Tidak apa-apa, tampaknya kau sangat kehausan sekali ya."

Gadis itu mengangguk.

"Seharian ini penjaga tidak memberikanku makan dan minum, meski biasanya mereka akan memberikanku makan dan minum sehari sekali."

Ahmed terkejut mendapat pengakuan gadis itu, bagaimanapun makan dan minum hanya sehari itu sudah cukup keterlaluan. Ahmed mulai memperkirakan bahwa penduduk yang ditahan dari dunianya apakah juga diperlakukan sama seperti gadis di dekatnya. Namun pemikirannya tiba-tiba terputus ketika gadis itu berbicara lagi, lebih tepatnya bertanya.

"Siapa namamu? Apakah kau pengguna sihir? Dan seragam itu, apakah kau prajurit dari suatu negara? Kenapa aku tidak pernah melihat seragam seperti itu? dari negara mana kau berasal?"

Ahmed kembali terkejut setelah dihujani pertanyaan seperti itu tanpa diberikan kesempatan untuk menjawab satu persatu.

"Hei hei, tenanglah! Jangan langsung menghujaniku dengan banyak pertanyaan seperti itu!"

Sambil menghela nafas, Ahmed mulai bercerita.

"Namaku Ahmed Kuzey, kau bisa memanggilku Ahmed. Aku adalah seorang Ghazi, prajurit dari negeri yang disebut Daulah Islamiyah"

"Daul Isulam?" Gadis itu mencoba mengeja nama negeri yang diberitahu Ahmed dan gagal mengucapkannya. Ahmed menceritakan tentang kejadian dimulai dari jalan bawah tanah yang tiba-tiba terbuka dan terhubung ke dunia lain, tentang penyerangan Leonia yang tiba-tiba keluar dari bawah tanah itu dan menyerang kota dan membunuh tanpa pandang bulu.

Gadis itu sempat mengucapkan permintaan maaf dan belasungkawanya terhadap apa yang menimpa penduduk dari negeri Ahmed. Kemudian cerita berlanjut dengan pasukan Ghazi yang menyeberangi dunia melalui terowongan bawah tanah itu dan sekarang menduduki 3 kota di dunia ini. Sampai di sini mata gadis itu memandang Ahmed dengan tatapan menyipit seolah berniat mencurigai atau menuduh sesuatu terhadap Ahmed sampai akhirnya Ahmed menyelesaikan penjelasannya dengan pembebasan penduduk negerinya yang ditahan di kota ini sekaligus membebaskan budak-budak lain yang ditahan di tempat yang sama.

"Jadi pada intinya, kerajaan kalian berhasil mengalahkan pasukan Leonia dan sekarang menduduki 3 kota di Scotia?"

Ahmed mengangguk meskipun melihat tatapan gadis itu membuat Ahmed khawatir.

"Tidak bisa dimaafkan, pada akhirnya kalian menjajah negeriku juga seperti Leonia. Pasti kalian juga memperpudak penduduk Scotia, merampas harta mereka, membumihanguskan desa-desa, dan melakukan hal keji lainnya!"

Suara dadis itu sedikit mengeras sambil mencoba berdiri terhuyung-huyung, lalu berpegangan ke tembok di sampingnya, lalu salah satu tangannya menunjuk Ahmed.

"Pasti kau kesini dengan tujuan menculikku juga kan? Kau mau menyiksaku juga seperti orang Leonia? Kalau begini… aku akan…."

Meskipun mencoba berdiri sebisa mungkin, ternyata karena tubuhnya sepertinya sudah sangat lemah, pada akhirnya dia kembali terjatuh ke depan ke arah Ahmed. Tentu saja Ahmed yang berada di depannya langsung menangkapnya. Ahmed memang menyadari bahwa tubuh gadis itu dipenuhi oleh memar dan juga bekas luka, baik yang masih baru, ataupun luka yang sudah kering. Ketika gadis itu gagal berdiri dan terjatuh di pelukan Ahmed, ketika itu juga Ahmed dapat melihat punggungnya yang ternyata dipenuhi bekas luka memanjang. Jelas itu merupakan luka cambuk.

"Tolong… lepaskan aku… aku sudah tidak tahan lagi… hiks… hiks… kalau aku memang diculik untuk disiksa lagi… sebaiknya… bunuh saja aku disini…hiks."

Gadis itu memukuli bahu Ahmed, namun dengan lemahnya kondisi tubuh itu. Pukulan yang diberikan hampir tidak terasa, apalagi dengan tebalnya rompi anti peluru yang dikenakannya. Ahmed masih dilanda keterkejutan dengan kemarahan gadis di depannya. Sepertinya gadis itu sangat peduli sekali dengan negeri Scotia dan sedang dilanda kesalahpahaman dalam pemikirannya. Tangan Ahmed bergerak kembali mengelus kepala gadis itu.

"Aku sudah bilang bukan, di tempat itu aku datang untuk membebaskan semua orang, tentu saja itu termasuk membebaskanmu juga. Selain itu, sepertinya kau sudah salah paham akan sesuatu. Daulah Islamiyah tidak akan melakukan hal-hal yang kau sebutkan itu sama sekali. Kau tenang saja, penduduk negeri Scotia saat ini sedang dalam posisi aman dan damai dalam perlindungan kami."

Gadis itu kembali memandang Ahmed dengan tatapan seolah tidak percaya dengan kata-kata Ahmed.

"Yah, mungkin kalau aku hanya berbicara seperti ini, kau tidak akan percaya begitu saja. Tapi setelah mengeluarkanmu dari kota ini, kau bisa melihatnya sendiri di salah satu kota yang berada dalam perlindungan kami, Orluire. Rumah sakit gratis, pendidikan, suplai makanan untuk pengungsi, kami bahkan membangunkan rumah untuk mereka yang kehilangan rumahnya di tengah peperangan ini."

Mata gadis itu semakin terbuka lebar, begitu juga mulutnya yang ikut terbuka tanpa bisa berkata apa-apa.

"Selain itu, boleh aku tahu namamu dan kenapa kau dikurung di sel yang berbeda dengan yang lainnya?"

"Namaku, Cecilia Norma de Scotia. Putri terakhir dari raja Scotia yang terakhir, Rauffe Norma de Scotia."

Kali ini giliran Ahmed yang matanya terbuka lebar karena terkejut. Tidak menyangka bahwa gadis yang bersamanya selama ini ternyata adalah seorang putri kerajaan.

"Yang benar saja! Itu sepertinya menjelaskan kenapa kau dikurung di ruangan khusus. Tapi kenapa kau bisa ada di tengah-tengah tempat penahanan budak?"

"Aku adalah satu-satunya anggota kerajaan yang masih hidup setelah ayahku dan anggota keluargaku yang lain terbunuh. Aku dan sisa-sisa tentara kerajaan berlari ke hutan sebelah utara ibu kota kami, Longnard. Setelah itu, aku mencoba memimpin perlawanan terhadap tentara Leonia dengan apa yang tersisa dari pasukan kami. satu bulan kami melakukan perlawanan, tapi tidak banyak membuahkan hasil. Pada akhirnya tentara Leonia berhasil menyergap kami di tengah hutan dan sejak saat itu aku ditangkap dan disiksa setiap hari agar mau membeberkan tempat persembunyian sisa pasukanku yang berhasil selamat dari sergapan Leonia. Aku tidak tahu berapa lama waktu berlalu sejak saat itu, mungkin beberapa minggu atau 1 bulan, aku bahkan tidak pernah melihat matahari lagi di ruang bawah tanah itu."

Ahmed berpikir sejenak seolah teringat sesuatu.

"Pasukanmu yang tersisa itu, jangan bilang kalau nama pemimpinnya adalah James!"

Gadis bernama Cecilia itu terkejut mendengar nama yang diucapkan Ahmed.

"Bagaimana kau bisa tahu tentang James?"

"Sekitar sebulan yang lalu, rombongan pasukanku diserang oleh pasukan yang tak dikenal, seragam mereka berbeda dari tentara Leonia. Tentu saja kami membela diri dan melawan mereka balik. Pada akhirnya pasukan yang menyerang kami berhasil kami kalahkan. Kami berhasil mengidentifikasi bahwa mereka adalah apa yang tersisa dari prajurit Scotia dengan pemimpin mereka bernama James."

"Jadi, itu artinya?" Wajah Cecilia menjadi khawatir.

"Maaf, pada akhirnya kami menewaskan banyak pasukanmu waktu itu. Tapi setidaknya orang yang bernama James itu masih hidup beserta beberapa ratus orang lainnya. Mereka mendapatkan perlakuan yang baik dari kami, jadi kau tidak perlu khawatir."

Cecilia mengangguk lemas, namun kepalanya tetap tertunduk sedih. Ahmed merasa sedikit bersalah terhadap Cecilia, karena Ahmed juga ikut bertempur dan berhasil membunuh belasan prajurit Scotia. Sesaat kemudian, Cecilia mengangkat wajahnya dan menampakkan senyum yang sedikit dipaksakan.

"Mau bagaimana lagi, kalian juga tidak punya pilihan lain bukan. Di dalam sebuah pertempuran, pilihan kita hanyalah antara bertempur atau mati terbunuh. Aku juga tidak dapat sepenuhnya menyalahkanmu. Lagi pula kalau ucapanmu memang benar bahwa warga Scotia saat ini sedang dalam keadaan baik-baik saja, itu sudah cukup untuk aku bisa lebih bersyukur."

"…"

Ahmed terdiam tidak dapat memberikan tanggapan apa-apa. Di dalam hatinya Ahmed menaruh simpati terhadap Cecilia yang mendapatkan beban besar di usianya yang masih sangat muda. Belum lagi pengalaman penyiksaan yang dialaminya selama ditahan di bawah tanah. Dalam keterdiaman itu, Ahmed baru menyadari bahwa jam di kacamata taktis nya sudah menunjukan jam 23.20. Itu artinya mereka sudah menghabiskan hampir 1 jam di luar. Saat itu juga, radio Ahmed tiba-tiba berbunyi.

"[bzzz] kapten, disini Letnan Fahmi, apa kau bisa mendengarku?"

Ahmed yang mendapati panggilan di radionya langsung berdiri dan membalas panggilan radio.

"Aku bisa mendengarmu dengan jelas Letnan."

"[bzzz] bagaimana situasimu kapten? Kau belum kembali selama hampir 1 jam. Pelacakmu menunjukan bahwa kau berdiam di satu tempat dalam waktu yang lama, jangan bilang kalau kapten sudah ditangkap?"

"Tenanglah Fahmi, aku baik-baik saja. Aku sedang berlindung di salah satu gang kota untuk menghindari patroli Leonia."

"[bzzz] Alhamdulillah, ternyata Allah masih melindungimu. Kami akan menuntunmu melalui jalan yang aman kapten. Ikuti arahan dari kami."

"Baiklah, kalau begitu tolong bantuannya."

Ahmed kembali menatap Cecilia yang masih terduduk sambil menatapnya. Mungkin di dalam pikiran Cecilia, dia bertanya-tanya siapa orang yang berada di dalam kotak kecil yang berbicara dengan Ahmed.

"Cecilia! Kita akan melanjutkan perjalanan kita. apa kau bisa berdiri?"

Cecilia mencoba berdiri lagi sambiil berpegangan ke tembok. Kali ini Cecilia bisa berdiri tanpa banyak terhuyung-huyung seperti sebelumnya, tapi tubuhnya masih tetap lemah.

"maaf, aku masih tidak dapat berlari!"

"Huh, tidak ada pilihan lain. ayo naiklah ke punggungku dan pegangan yang erat."

Ahmed berjongkok membelakangi Cecilia, lalu mengisyaratkannya untuk naik ke punggungnya. Dengan menggendong Cecilia di punggungnya, kedua tangan Ahmed bisa bebas memegang senjata. Selain itu Ahmed akan lebih mudah bergerak dengan cara seperti ini.

Kali ini dengan arahan dari Fahmi yang mendapat akses penampakan kamera drone. Ahmed kembali berlari menyusuri jalanan kota, dari gang satu ke gang yang lain, sesekali menemui patroli yang hendak lewat dan bersembunyi.

"[bzzz] dua patroli di depan, sebaiknya kau menembak mereka dengan peredam kapten, kita tidak dapat menghindari mereka."

Ahmed mengarahkan senapan ST5 nya yang masih terpasang peredam ke kedua tentara Leonia yang sedang berpatroli di tengah perempatan. Dengan dua kali tembak saja, kedua orang itu jatuh secara bergantian. Orang kedua yang tertembak bahkan tidak menyadari kawannya yang tertembak terlebih dahulu.

Dengan begitu Ahmed berlari melewati mereka tanpa repot-repot menyembunyikan mayat mereka. Lagipula tentara Leonia juga sudah terlanjur menemukan mayat lain dan meningkatkan kesiagaan mereka.

"[bzzz] di pertigaan selanjutnya berbeloklah ke kanan, di sana Karim dan Faruq akan menunggumu."

"Baiklah, terima kasih arahannya letnan, sangat membantu sekali."

"Itu sudah tugas saya kapten, anda tidak perlu berterima kasih."

Setelah mengikuti arahan Fahmi dari radio, Ahmed akhirnya berhasil bertemu dengan Karim dan Faruq yang memang menunggu disana. Dari sana Karim dan Faruq yang langsung mengantar Ahmed menuju markas kecil yang menjadi basis mereka di kota ini.

###

"Ahmed!"

Sylvania berlari ke arah Ahmed sambil meneriakkan namanya ketika orang yang dia sebut namanya baru saja memasuki gedung tempat persembunyian mereka. Dalam sekejap Sylvania sudah melingkarkan tangannya di pinggang Ahmed sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher Ahmed. Pelukan Vania dibalas oleh Ahmed, meskipun Ahmed tidak bisa melingkarkan tangannya secara penuh di tubuh Vania. Penyebabnya adalah tentu saja tubuh gadis lain yang sekarang masih bertengger di punggungnya.

Sesaat kemudian, Sylvania mengangkat wajahnya menatap wajah Ahmed. Mereka saling berpandangan dengan wajah Sylvania yang ternyata sudah dialiri air mata, sedangkan Ahmed hanya bisa tersenyum masam.

"Ahmed, kau kemana saja? kau membuatku khawatir! Aku sempat berpikir kehilanganmu sejenak dan itu membuat hatiku hancur."

"Maaf, sepertinya aku membuatmu khawatir ya! Yang penting sekarang aku sudah kembali dengan aman bukan?"

Sylvania mengangguk sambil tersenyum, lalu kembali mengubur wajahnya di leher Ahmed. Mereka menikmati waktu reuni mereka yang terlihat mengharukan, apalagi Ahmed baru saja lolos dari ancaman bahaya sendirian. Mereka bahkan mengabaikan tatapan yang bermacam-macam ke arah mereka. Beberapa prajurit menatap hangat kearah mereka, dan sisanya menatap dengan pandangan iri. Tentu saja mereka yang memandang dengan tatapan iri kebanyakan berasal dari tentara yang masih belum menikah.

Dunia seakan menjadi milik berdua. Terlihat jelas bahwa Ahmed dan Sylvania melupakan apa yang ada di sekitar mereka. Ketika Sylvania kembali menatap Ahmed, mereka berdua bahkan tanpa sadar saling mendekatkan wajah mereka sampai tiba-tiba sebuah suara berhasil menyadarkan mereka.

"Uhh… maaf mengganggu tapi… mungkinkah kau melupakanku yang masih ada di punggungmu?" Cecilia berbicara di dekat telinga Ahmed. Wajar saja karena posisinya saat ini masih di gendongan punggung Ahmed, membuat wajahnya dekat dengan telinga Ahmed. Cecilia sebenarnya sama sekali tidak memahami pembicaraan Sylvania dengan Ahmed, namun dari apa yang dilakukan mereka berdua, Cecilia bisa sedikit menebaknya

"Huh?"

Seketika Ahmed dan Sylvania langsung tersadar dan saling melepas pelukan mereka.

"Oh, maaf! Kalau begitu aku akan menurunkanmu."

Ahmed sedikit berjongkok dan membiarkan Cecilia turun dari punggungnya. Setelah turun, sepertinya Cecilia sudah memiliki cukup tenaga karena saat ini dia berdiri tanpa terhuyung-huyung lagi. Sylvania yang belum lama sadar dengan keberadaan Cecilia pun akhirnya bertanya.

"Ahmed, siapa dia?"

Belum sempat Ahmed menjawab, Cecilia melangkah maju sedikit di depan Ahmed, lalu memperkenalkan dirinya sendiri.

"Aku Cecilia Norma de Scotia, putri bungsu dari Rauffe Norma de Scotia. Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kalian telah menyelamatkanku dari Leonia." Cecilia sedikit membungkukkan badannya sejenak.

Tentunya nama itu masih terdengar asing di tengah pasukan Ahmed, kebanyakan para pasukan Ghazi tidak mau repot-repot menghafal nama-nama petinggi atau bangsawan dari kerajaan Scotia atau Leonia. Terutama kerajaan Scotia yang secara de facto bahkan sudah tidak ada, mengingat wilayah mereka sudah dikuasai oleh kerajaan Leonia semua.

Tapi satu orang yang tahu nama itu melebarkan matanya sambil menatap Cecilia. Lalu sesaat kemudian orang itu menunjuk Cecilia sambil berkata.

"Hah! Kau… putri raja Rauffe? Raja terakhir Scotia? Seorang putri yang disebut-sebut jenius dan memiliki kemampuan sihir api yang bahkan setara dengan Elf?"

Orang itu adalah Sylvania. Tentu saja hidup bertahun-tahun di wilayah kerajaan Scotia membuatnya mengenal nama-nama raja dan anggota keluarga kerajaan. Bahkan di satu kesempatan, ketika Sylvania dan ibunya pernah singgah di ibukota, mereka sempat melihat raja Rauffe mengelilingi ibu kota sambil ditemani anak-anaknya di atas kereta.

Tentu saja hal itu juga disertai oleh sorakan penduduk ibu kota dari kanan kiri jalan. Waktu itu Sylvania tidak begitu paham untuk apa raja mengadakan parade. Namun setelah dipikir-pikir, ternyata hal itu dilakukan dalam rangka merayakan kelulusan Cecilia dalam pelatihan dasar sihirnya di usia yang sangat muda.

Pasukan Ahmed yang ada di sekeliling mereka hanya bisa memandang terkejut sambil membuka dan menutup mulut mereka berulang-ulang. Fahmi dan Karim sempat menyentuhkan telunjuk mereka di dagu mereka, tanda mereka memikirkan sesuatu sebelum sesaat kemudian mereka manggut-manggut seolah mendapat suatu kesimpulan dari apa yang mereka pikirkan.

"Ah, setelah aku memikirkannya, wajar saja dia memiliki sel yang paling berbeda di antara budak yang lainnya." Ucap Karim ke Fahmi yang berdiri di sampingnya.

"Faruq, tolong ambilkan kain untuk Cecilia. Kita tidak bisa membiarkan Cecilia dengan pakaian terbuka seperti itu."

"Baik Kapten."

Setelah memberikan perintah ke Faruq, Ahmed kembali memandang ke arah Cecilia yang pandangannya masih terarah ke Sylvania.

"Cecilia, kau pasti masih memerlukan banyak istirahat bukan, sebaiknya kau-"

Ucapan Ahmed terpotong oleh Cecilia yang sepertinya kali ini berbicara ke Sylvania, terbukti dari pandangannya yang masih mengarah ke Sylvania. Bahkan pandangan Cecilia terkesan, tajam? Seolah Cecilia secara tidak langsung menantang Sylvania.

"Kau seorang Elf bukan?"

"Huh, bagaimana kau bisa tahu?"

Kali ini Cecilia yang menunjuk Sylvania.

"Aku bisa membedakan antara Elf dan manusia, bahkan meskipun kau menutupi telingamu sekalipun. warna bola matamu menunjukkan semuanya."

"Mataku?"

"Semua Elf memiliki warna biru laut di matanya. Mungkin beberapa manusia memang memiliki mata yang berwarna biru, tapi warna biru di mata manusia merupakan biru langit. Selain itu, apa yang dilakukan seorang Elf di kerajaan manusia? Sebaiknya kau pulang saja ke Isylum!"

Nyatanya tidak banyak yang bisa menyadari perbedaan itu, hanya manusia tertentu yang memiliki banyak pengalaman atau pengetahuan yang bisa mengetahuinya.

"Huhh.. aku benar-benar tidak mengerti, biru langit, biru laut, keduanya terlihat sama saja." Ahmed hanya bisa geleng-geleng sambil memegangi kepalanya. Ahmed sendiri juga baru tersadar bahwa Cecilia memiliki warna mata biru muda atau biru langit. Tidak lama kemudian, Faruq datang dengan membawa sebuah kain yang cukup penjang dalam keadaan terlipat. Ahmed mengambilnya dari Faruq, lalu menyelimutkan kain itu ke tubuh Cecilia.

Cecilia yang diselimuti Ahmed sedikit tersentak merasakan sebuah kain yang di selimutkan ke tubuhnya. Lalu memandang orang yang memberikan selimut itu, lalu tersenyum senang.

"Terima kasih Ahmed! Seperti yang diharapkan dari seorang kesatria penyelamatku."

Tentu saja pernyataan Cecilia yang seperti itu membuat Ahmed dan Sylvania menjadi terkejut. Ahmed berniat untuk bertanya apa maksud pernyataan Cecilia, namun didahului oleh Sylvania.

"Kesatria? Apa maksudmu?"

"Ya, dia sudah kuanggap sebagai kesatriaku, orang yang sudah menyelamatkanku secara pribadi, dan aku juga tahu kalau dia lah yang memimpin pasukan hitam, tidak, maksudku pasukan Ghazi di sini bukan?"

Ahmed bingung bagaimana dirinya harus menengahi pertengkaran kedua wanita yang sedang bertengkar didepannya. Belum lagi jadi pusat tontonan di antara pasukannya yang lain, pastinya akan membuat dia tambah malu.

"Memang benar aku yang memimpin di sini, tapi-"

Ucapannya kembali terpotong, kali ini oleh Sylvania.

"Tidak bisa diterima! Kenapa kau seenaknya saja mengakui Ahmed sebagai Kesatriamu? Ahmed adalah kekasih dan suamiku! Asal kau tahu, kita sudah resmi menikah beberapa hari yang lalu!"

"Ap-… Guh, bahkan aku kalah sebelum mulai berperang."

Cecilia sempat tertunduk, namun kembali mengangkat wajahnya sambil mengepalkan tangannya di atas.

"Kalau begitu, aku juga akan menikahi Ahmed! Meskipun Ahmed sudah beristri, bukan berarti dia tidak bisa menikah lagi bukan? Fufufu."

Mereka terus bertengkar dan saling bersilat lidah, memperebutkan Ahmed saling mengolok dan membuktikan bahwa diri mereka lebih pantas menjadi pasangan Ahmed. Sedangkan yang dibicarakan hanya dapat memegangi kepalanya sambil geleng-geleng, tidak menyangka akan terjadi seperti ini.

Lagipula apa-apaan Cecilia itu? aku kira dia gadis kecil pendiam yang lemah dan lugu. Aku tidak menyangka bahwa setelah tenaganya kembali dia akan menunjukkan sifat aslinya yang seperti ini.

"Kapten?" Letnan Suleiman yang tiba-tiba berada di sampingnya memanggil ahmed.

"Ah, Letnan Suleiman, ada apa?"

"Kami sudah menghubungi markas di kota Orluire. Mereka akan mengirim dua helikopter Naqil di pagi hari setelah subuh jam 5 nanti. Aku sudah memberitahukan situasi kita terkait penyelamatan budak yang lain. Mereka bilang mereka hanya bisa mengirimkan dua helikopter di satu waktu pagi-pagi buta agar tidak menarik perhatian musuh. Helikopter gelombang pertama untuk mengangkut penduduk palestina dari bumi yang berhasil kita bebaskan, sedangkan helikopter gelombang kedua untuk mengangkut tahanan yang lain akan di kirim di hari kedua dan ketiga."

"Berarti kita harus bertahan di bangunan ini selama tiga hari ya."

"Benar kapten."

"Kalau begitu, tingkatkan pertahanan di gudang ini. pasang ranjau dan peledak remot jarak jauh di sekitar. Kirimkan permintaan ke markas untuk menerbangkan drone Ahzab dengan persenjataan lebih banyak. Aku ingin kita membagi kelompok patroli 24 jam."

"Dimengerti kapten."

###

Ahmed berjalan di tengah-tengah para tahanan dan budak yang sudah dibebaskan, mengamati kondisi para penduduk sipil. Para penduduk yang sudah diselamatkan ditempatkan di salah satu ruangan yang luas di dalam gudang, luasnya mungkin seluas aula.

Kebanyakan dari mereka memiliki bekas luka kering dan luka memar di tubuh mereka meskipun tidak sebanyak Cecilia. Ahmed sekilas membayangkan apa saja yang mungkin sudah dilalui oleh para budak-budak itu. Saat ini mereka tertidur dengan tenang di lantai. Tentunya lantai yang mereka tempati sudah diberi alas berupa karpet yang dibeli oleh anggota Ahmed di pasar sore hari sebelumnya karena karpet belum terpikirkan oleh Ahmed ketika di markas dan tidak masuk barang yang diperhitungkan.

Sylvania juga tertidur di antara mereka, si gadis Elf yang sekarang sudah menjadi "wanita" sekaligus istri Ahmed itu tidak berhenti mengobati dan merawat para penduduk yang baru dibebaskan bergantian di ruangan itu sebelumnya. Sylvania hanya berhenti ketika mendengar kabar kembalinya Ahmed yang dilanjutkan dengan pertengkarannya melawan Cecilia. Saat itu Ahmed juga menyadari kelemahan sihir Sylvania dimana Sylvania tidak dapat menyembuhkan orang yang terkena penyakit dan hanya luka fisik yang bisa disembuhkan.

Ahmed hanya bisa tersenyum bangga melihat istrinya kelelahan itu. Ahmed mendekati Sylvania yang tertidur sambil bersandar di tembok. Entah bagaimana dia tertidur di posisi itu, tapi yang pasti Ahmed tidak ingin mengganggunya. Setelah berada di depan Sylvania, Ahmed membelai pipi Sylvania dengan pelan meskipun di dalam hatinya dia sebenarnya takut membangunkan Sylvania. Merasakan sentuhan di pipinya, tangan Sylvania tiba-tiba bergerak menyentuh tangan Ahmed, namun dengan mata terpejam.

"Ahmed, kumohon jangan tinggalkan aku lagi!" Ucapnya dengan mata terpejam dan tangannya tetap menyentuh Ahmed.

Ahmed tahu kalau Sylvania sedang mengigau saja. dibelainya kembali pipinya sesaat sebelum Ahmed mendekatkan bibirnya ke dahi Sylvania dan memberinya kecupan singkat. Sylvania kembali bergerak sedikit setelah mendapat kecupan Ahmed, namun tak lama kemudian dia kembali diam seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ahmed?" Suara itu bukan berasal dari Sylvania.

Ahmed mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang luas itu mencari sumber suara. Suara yang memanggilnya jelas suara perempuan, karena itu Ahmed tahu kalau bukan prajurit bawahannya yang memanggilnya.

"Ahmed?"

Suara itu terdengar lagi, kali ini Ahmed akhirnya berhasil menemukan sumber suara. Di sana, Cecilia terduduk di tengah-tengah penduduk yang tidur sambil memegang erat selimut yang sama yang diberikan Ahmed dan membungkus tubuhnya. Matanya terlihat berkedip-kedip khas orang mengantuk. Ahmed pun menuruti panggilannya dan mendekati Cecilia, lalu berjongkok didepannya.

"Ada apa Cecilia?"

"Aku tidak bisa tidur, bisakah kau menemaniku disini? Entah kenapa aku terus terbayang tentara Leonia yang terus menyiksaku di mimpiku."

Wajah Cecilia tertunduk, Cecilia entah kenapa kembali menjadi orang yang sama ketika Ahmed pertama kali berbicara dengannya.

"Baiklah, aku akan menemanimu di sini, tapi… apa yang sebaiknya kita bicarakan?"

"Emm… Ahmed, apakah kau benar-benar sudah menikah, dengan gadis Elf itu?"

Ahmed mengangguk.

"Yah, kami baru menikah sekitar 4 hari yang lalu. Awalnya Sylvania hanya penduduk biasa yang kuselamatkan. Namun dengan berjalannya waktu, entah kenapa dia membuatku jatuh hati. Mungkin karena dia yang terus berusaha mendekatiku."

"begitu ya…apakah kau tidak ada niat untuk menikah lagi?"

"Entahlah, aku belum berpikir sampai kesana. Tapi bukan berarti aku akan menolak untuk menikah lagi, meskipun untuk saat ini aku hanya ingin bersama Sylvania."

"Syukurlah, setidaknya aku masih punya kesempatan."

Ahmed menatap Cecilia dengan tatapan heran. Penampilan Cecilia saat ini terlihat jauh lebih baik karena sebagian besar lukanya sudah dirawat dan disembuhkan oleh Sylvania meskipun sebelumnya Sylvania melakukan hal itu dengan ragu-ragu. Kalau boleh jujur, Ahmed berpendapat bahwa Cecilia sebenarnya memiliki wajah yang cantik, tidak kalah dengan Sylvania. Meskipun kecantikan Cecilia lebih seperti kecantikan khas bocah yang membuatnya lebih terkesan seperti "imut".

"Tapi… kenapa kau tiba-tiba membicarakan pernikahan? Selain itu kenapa harus aku? Bukannya kau terlalu muda untuk memikirkan hal seperti itu."

Cecilia terlihat sedikit bingung dengan pertanyaan Ahmed. Kenapa Ahmed bisa bilang bahwa dirinya terlalu muda untuk menikah? Bukannya di usianya saat ini merupakan hal yang wajar untuk para gadis menikah?

"Apa maksudmu terlalu muda untuk menikah? Bukannya usia 13 tahun merupakan waktu yang umum untuk menikah?"

Ahmed menghela napas mendengar Cecilia yang malah balik bertanya. Tentu saja kebiasaan di dunia ini tidaklah sama dengan dunianya sendiri. Memang di Daulah Islam tidak ada batasan dalam usia pernikahan, tetapi umumnya orang-orang menikah setidaknya di usia 18 tahun ke atas ketika mereka selesai mengenyam pendidikan. Kebanyakan orang ingin fokus dengan pendidikan mereka sebelum memasuki jenjang pernikahan, ditambah lagi pelajaran tentang bab pernikahan juga diajarkan di jenjang SMA. Umumnya orang-orang perlu untuk mempelajari bab tersebut sebelum dapat memantapkan diri mereka ke pernikahan.

"Di tempat asalku anak seusiamu umumnya masih fokus dengan pendidikan mereka dan baru menikah di usia 18 tahun."

Cecilia mengangguk paham sambil menyentuh dadanya yang tertutup selimut dengan kedua tangannya. Pekirannya menerawang ke masa lalu.

"Tampaknya kebiasaan di tempatmu memang sedikit berbeda ya. Bagi orang-orang di dunia kami, sudah biasa melakukan pernikahan di usia 13 tahun. Bahkan setahun yang lalu, aku sebenarnya sudah dijodohkan dengan salah seorang bangsawan. Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak perang pecah dengan Leonia, dari kabar yang aku dengar dia terbunuh di medan perang. Setelah aku tertangkap, aku terus disiksa, dipukuli, disakiti, dicambuk. Mereka benar-benar tidak kenal ampun. Salah satu hal yang aku syukuri adalah mereka tidak pernah sempat merebut kegadisanku hingga sekarang, mungkin karena aku seorang bangsawan tinggi, rencananya aku akan dikirim ke raja Leonia untuk dijadikan budak seks pribadinya. Tentunya raja Leonia menginginkan seorang perawan untuk dijadikan budak seks nya."

Cecilia berhenti sejenak, lalu mengusap matanya yang ternyata sedikit berair.

"hari demi hari, aku menunggu sambil melewati berbagai siksaan lainnya, mereka terus menanyaiku dimana lokasi sisa dari pasukan Scotia yang masih tersisa. Hari demi hari, aku melihat tempat itu semakin dipenuhi oleh penduduk yang ditangkap dan dibawa oleh orang Leonia, dari yang kudengar mereka adalah penduduk desa sekitar yang diculik oleh para penyerang Leonia. Desa mereka dibakar dan penduduknya banyak yang diperbudak, terutama mereka yang masih berusia muda, sedangkan mereka yang berusia lanjut, kebanyakan langsung dibunuh di tempat. Para laki-laki dipaksa untuk berperang menjadi tentara Leonia. Aku dengar mereka dikirim untuk melawan pasukan hitam yang tiba-tiba menjadi mimpi buruk kerajaan Leonia..

Sampai sekitar seminggu yang lalu mereka sudah berhenti bertanya tentang lokasi pasukan Scotia dan hanya menyiksaku untuk menyenangkan diri mereka. Meskipun aku tidak boleh diperawani secara langsung, mereka tetap melecehkanku dengan menelanjangiku, menyentuh dan mempermainkan tubuhku, hiks, aku sudah semakin putus asa. Aku bahkan bersumpah pada diriku sendiri untuk mau menikahi siapapun orang yang menyelamatkanku jika aku diselamatkan sebelum aku kehilangan kehormatanku yang terakhir. Rencananya mereka akan mengirimku ke Ibu kota Leonia besok."

Ahmed mengangguk mengerti, apa yang diceritakan Cecilia merupakan perjalanan panjangnya yang penuh dengan siksaan dan ujian hidup. Wajar saja Cecilia bersedia melakukan hal semacam itu.

"Tapi… Aku tidak ingin kau salah paham. Aku ingin menikahimu bukan hanya karena sumpahku, tapi itu karena aku memang menyukaimu. Saat pertama mataku terbuka waktu itu dan melihat penyelamatku, ketika itu hatiku sudah jatuh. Apalagi melihatmu berusaha menyelamatkanku sambil dikejar oleh banyak tentara Leonia. Rasanya hatiku berkata saat itu juga bahwa 'aku harus menghabiskan sisa hidupku bersama orang ini'."

"yah, lakukan sesukamu. Tapi aku tidak akan menjamin kau akan berhasil."

Ucapan Ahmed mungkin terdengar dingin bagi Cecilia yang baru saja menceritakan kisah kelamnya. Tetapi di sisi lain, Cecilia malah sedikit terkekeh mendengar jawaban Ahmed.

"Aku tidak keberatan, aku akan berusaha!"

Meskipun Ahmed menolaknya secara tidak langsung, Cecilia tetap tersenyum dan menyatakan dirinya untuk berusaha. Tentu saja menyukai seorang pria yang sudah beristri merupakan suatu kesalahan dan Cecilia juga sadar akan hal itu. Tetapi bagaimanapun menyangkalnya, Cecilia tidak dapat membohongi isi hatinya sendiri.

Lagipula aku tidak akan mungkin menikah dengannya selama dia bukan seorang muslim. Pikir Ahmed, namun Ahmed bertekad untuk tidak memberitahukan hal itu pada Cecilia. Dia tidak mau Cecilia nantinya menjadi muslim hanya untuk menikahi dirinya. Ahmed ingin Cecilia menjadi muslim melalui hatinya dan jalannya sendiri bila memang nantinya dia memilih untuk menjadi muslim.

"Tapi, kenapa kau sepertinya terlihat tidak menyukai Sylvania sejak pertama melihatnya?"

"Manusia dan Elf memang sudah sejak lama bermusuhan. Meskipun tidak sampai pada skala perang besar, selalu ada pertempuran atau percekcokan kecil diantara keduanya. Karena itu orang Elf tidak akan diizinkan masuk kerajaan manusia, begitu juga sebaliknya. Tidak ada yang benar-benar tahu awal dari permusuhan ini, tapi hal itu sudah berjalan semenjak ribuan tahun yang lalu. Seandainya terjadi pertempuran, Elf tidak akan dapat langsung menang melawan manusia. Karena muskipun Elf punya kekuatan sihir besar dan hidup lama, mereka tidak bisa berkembang biak secepat manusia. Karena itu manusia memiliki keunggulan jumlah dibanding Elf."

"Apa maksudmu, aku dan Sylvania akan sulit memiliki anak karena Sylvania seorang Elf?"

Ahmed tanpa sadar memicingkan matanya karena seolah merasa terancam dengan cerita Cecilia. Tapi jawaban yang diberikan oleh Cecilia hanyalah.

"Entahlah, fufufu, tidak ada yang tahu bukan. Pernikahan antara manusia dengan Elf sangat jarang ditemui dan hanya sebagian kecil orang saja yang dapat melihat hal itu seumur hidupnya. Ahmed, kenapa kau menyelamatkanku dan orang-orang lainnya?"

"Karena itu sudah menjadi tugas dan kewajiban kami sebagai pasukan Ghazi dan agama yang menjadi kepercayaan kami juga menyuruh kami seperti itu."

Mendengar jawaban Ahmed yang terakhir, tiba-tiba Cecilia menjadi tertarik dengan agama yang dibicarakan Ahmed. Belum pernah sebelumnya Cecilia mendengar orang-orang melakukan hal yang serupa dengan alasan yang sama. Memang meskipun ada agama resmi di Scotia, pada akhirnya agama hanya menjadi kegiatan spiritual saja tanpa ada banyak pengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Kebanyakan orang melakukan hal baik karena dorongan rasa kemanusiaan mereka.

Mereka berdua melanjutkan perbincangan terkait Islam dan pengetahuan dasar tentangnya karena ketertarikan Cecilia. Seiring mereka berbicara, mata Cecilia terlihat semakin berat. Terlihat jelas Cecilia mulai dikuasai rasa kantuknya. Tanpa sadar, Cecilia sudah tertidur sambil duduk. Ahmed yang melihat Cecilia tertidur hanya bisa tertawa kecil sambil membaringkan tubuh Cecilia dan membenarkan selimutnya.