Part 20 Evakuasi
Assalamualaikum para pembaca sekalian.
Maaf semuanya, akhir-akhir ini mungkin kalian menunggu waktu lama untuk mendapatkan kelanjutan dari ceritaku. Aku memulai cerita ini ketika aku masih berkuliah, jadi waktu itu aku masih memiliki cukup banyak waktu. Tapi semenjak lulus kuliah dan bekerja, waktu yang dapat aku luangkan untuk menulis cerita tidaklah banyak. Versi bahasa Inggris pun juga masih berhenti di bagian 1 saja dan melanjutkan yang versi original pun harus mencari banyak waktu luang untuk mematangkan konsep ceritaku. Sebenarnya cerita ini berpotensi untuk bisa menjadi cerita yang panjang. Yah, mohon doanya dari para pembaca sekalian untuk bisa mendapat keluangan waktu menulis cerita ini. Seperti biasa, komentar, kritik, dan saran saya tunggu di kolom komentar atau pun di inbox saya, termasuk permintaan atau ajakan untuk berdiskusi, entah itu menyangkut cerita yang saya tulis atau tidak.
Selamat membaca
###
Udara dingin dapat dirasakan oleh setiap orang yang bangun. Kebanyakan orang di waktu yang sama akan lebih memilih untuk meringkuk di tempat tidur sambil merapatkan selimut mereka. Tapi tidak dengan pasukan Ahmed dan para tahanan muslim lainnya. Mereka bangun dari tidur, mengambil air laut yang jaraknya sekitar 20 meter dari gudang untuk digunakan berwudhu, lalu menunaikan sholat Subuh.
Tentunya untuk para tahanan yang seluruhnya seorang wanita harus bergantian untuk menggunakan semacam "mukena darurat" yang dijahit secara kasar oleh mereka sendiri, sedangkan Ahmed dan pasukannya hanya bisa membantu mencarikan kain tak terpakai. Ahmed sedikit merutuki dirinya sendiri karena melupakan masalah perangkat sholat yang lupa mereka bawakan untuk bisa digunakan para tahanan wanita. Saat itu juga para tahanan yang dibebaskan oleh Ahmed untuk pertama kalinya bisa melakukan sholat dengan tenang setelah sebelumnya mereka tidak punya alat sholat dan juga sering dihalangi oleh tentara atau pun penjaga.
Salah satu yang bangun di hari itu adalah Cecilia, bukan karena dia ikut sholat, tapi karena mendengar dari luar suara langkah kaki yang berjalan kesana kemari yang membuatnya terbangun. Karena Cecilia penasaran, dia berjalan keluar dari ruangan di mana semua orang tertidur dan melihat orang-orang muslim yang melakukan sholat di pagi hari. Sesaat kemudian Cecilia mendapati Ahmed yang kebetulan baru saja selesai sholat. Tentu saja Cecilia yang penasaran akan langsung bertanya.
"Apa yang sedang kalian lakukan di pagi-pagi buta begini?"
"Singkatnya, kami sedang berdoa."
"Berdoa? Apakah harus di pagi-pagi buta seperti ini? bukankah itu merepotkan?"
"Ini sudah jadi perintah dari tuhan kami."
Dengan menjawab begitu saja, Ahmed berlalu untuk kemudian berbicara dengan bawahannya yang lain. mereka tampak mendiskusikan sesuatu yang penting. Cecilia kembali tertegun dengan ucapan Ahmed. Sambil kembali mengamati orang-orang yang sedang menjalani giliran sholat. Cecilia kembali mencoba membandingkannya dengan agama-agama yang ada di negerinya. Jarang sekali ada pengikut selain para pemuka agama yang begitu taat menjalani kegiatan ritual agama mereka. Apalagi dalam jumlah besar seperti ini.
Kali ini Cecilia mendapati Sylvania yang juga sudah selesai menjalankan sholatnya. Karena pakaiannya yang cukup tertutup dengan menggunakan semacam sarung tangan, Sylvania tidak perlu menggunakan sejenis mukena. Sebenarnya Sylvania ikut sholat bersama Ahmed, namun karena ada hal lain yang dilakukannya, Sylvania pun akhirnya lewat belakangan. Karena masih penasaran, Cecilia pun memanggil Sylvania.
"Hei kau telinga runcing!" Cecilia memanggilnya demikian, terlepas dari telinga Sylvania yang tertutup oleh sebuah kerudung.
"Apa?" Sylvania menjawab sambil sedikit memutar bola matanya. Sylvania yang dipanggil seperti itu tentu saja geram, tapi tetap memenuhi panggilan Cecilia dengan jengkel.
"Kenapa kau ikut berdoa bersama mereka? Kau seorang Elf bukan?"
Dengan masih menunjukkan wajah jengkel, Sylvania mengangguk.
"Tapi… bukannya Elf bangsa yang paling fanatik terhadap dewa Solus? Kalau tidak salah kalian juga memuja roh-roh nenek moyang bukan?"
Sylvania mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedikit melunak. Matanya tiba-tiba menarawang jauh ke masa lalu.
"kau benar, dulu aku juga termasuk pemuja dewa solus dan juga roh nenek moyang seperti para Elf yang lain. Kemudian Ahmed mengenalkanku dengan Islam, menunjukkanku sebuah eksistensi yang jauh lebih kuat dari pada dewa-dewa yang pernah aku kenal… tidak, bukan hanya dewa, tetapi lebih kuat dari apapun yang ada di dunia ini."
Cecilia kembali mendengarkan kata itu setelah mendengarnya dari Ahmed di malam hari sebelum dia tidur.
"Islam, apakah itu nama kepercayaan yang kau ambil sekarang? Ahmed juga sempat menyebutkannya tadi malam. Telinga run-, emm tidak… maksudku, Sylvania, bisakah kau ceritakan Islam dan eksistensi yang kau maksud itu?"
Membahas tentang Islam, wajah Sylvania pun akhirnya menghilangkan ekspresi jengkelnya dan merubahnya dengan sebuah senyuman hangat. Sambil mengajak Cecilia duduk di salah satu kotak kayu peninggalan gudang, Sylvania memulai penjelasannya.
"Kau tahu Cecilia? Setiap roh yang dipuja atau dewa yang dipuja oleh orang-orang di Scotia? Tidak hanya Scotia, tapi di seluruh Edela, di seluruh dunia. Kalau kau mendengar cerita dari masing-masing pemujanya, setiap dewa atau roh yang mereka sembah selalu memiliki kelemahan yang bahkan diakui oleh pengikutnya sendiri. Anggaplah dewa laut, pada akhirnya tidak memiliki kekuatan di darat, dewa gunung, yang hanya punya kuasa besar di daerah pegunungan, dan semacamnya. Roh yang dipuja oleh para Elf, mereka memiliki kekuatan terbatas dan hanya memihak pada Elf. Pada akhirnya semua memiliki kelemahan."
Sylvania menjelaskan lebih jauh terkait dasar-dasar Islam kepada Cecilia. Menjelaskan tentang kebesaran tuhannya, betapa lemahnya makhluk terhadapnya. Pada akhirnya meskipun keberadaan dewa atau roh yang dimaksud mungkin benar-benar ada, mereka mungkin hanya akan terhitung sebagai makhluknya yang selanjutnya disebut sebagai makhluk ghaib atau kasat mata.
Sylvania memang sering mendapat penjelasan-penjelasan tentang Islam dari Lusie atau Ahmed. Selain itu Sylvania juga mengetahui cerita tentang nabi Muhammad sebagai nabi terakhir yang menyempurnakan agam Islam yang dibawa oleh nabi-nabi terdahulu. Seketika itu juga nabi Muhammad menjadi seorang tokoh yang paling dikagumi oleh Sylvania. Bagaimana keteguhannya dalam menyebarkan Islam hampir dari nol sampai menjadi sebuah kerajaan besar, namun tetap memegang sifat rendah hati dan kemanusiaan yang sangat tinggi.
Karena itu Sylvania juga menjelaskan tentang Nabi Muhammad dan awal mula penyebaran Islam di negeri Arab yang ada di dunia Ahmed. Bagaimana dia dimusuhi oleh orang sebangsanya, mendapatkan pengikut sedikit demi sedikit, hingga akhirnya dapat berakhir menjadi sebuah negara yang besar dan berkembang seperti sekarang. Cecilia, hanya bisa tertegun dengan mulut yang sedikit terbuka, wajahnya menyiratkan rasa kagum yang amat tinggi.
Sebuah negara yang dibentuk dari sebuah agama dan kepercayaan?
Cecilia belum pernah mendengarnya. Selama ini apa yang dia dengar adalah, kepercayaan hanya akan berakhir sebagai kepercayaan biasa. Tidak akan bisa berakhir menjadi sebuah negara, tidak. Yang ada sebuah negara yang malah membuat sebuah kepercayaan agar negara bisa lebih mengendalikan penduduk-penduduknya melalui dewan gereja. Dengan menganggap raja sebagai wakil tuhan, maka perkataan raja dianggap sebagai perkataan tuhan yang wajib diikuti. Persis seperti yang dilakukan oleh sebuah negara kuno tertentu yang ada di bumi dan hilang sekitar hampir 6 abad yang lalu.
Penjelasan Sylvania begitu mengagumkan sekaligus masuk akal. Cecilia diam-diam kembali memikirkan kerajaannya sendiri. Memikirkan rakyatnya dan kepercayaan yang disebarkan oleh kerajaannya. Meskipun kerajaan Scotia bukan kerajaan yang "jahat" seperti Leonia, pada akhirnya Scotia juga kerajaan yang dikendalikan oleh raja sebagai bangsawan tinggi yang bekerja sama dengan dewan gereja untuk mengendalikan rakyatnya.
Selain itu, berbanding terbalik dengan Islam yang menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan. Kerajaan Scotia menyusun masyarakatnya dengan sistem kasta. Raja dan para bangsawan berada di kasta tertinggi, di bawahnya lagi akan ada kesatria, tuan tanah, biarawan, cendekiawan, dan rakyat jelata di paling bawah.
Kalau seperti itu kenyataannya. Maka tidak heran kalau rakyat akan lebih bahagia berada di bawah kekuasaan dan pemerintahan orang-orang Islam, yang menyebut diri mereka sendiri sebagai muslim.
Di sisi lain saat Sylvania dan Cecilia sedang sibuk berdialog terkait agama, Ahmed dan tiga bawahannya yang paling dipercaya, Suleiman, Fahmi, dan Karim, sedang mendiskusikan rencana singkat mereka untuk membawa diam-diam para warga mereka yang berhasil dibebaskan untuk dibawa keluar dari tembok kota dimana mereka akan menerima jemputan dari helikopter Naqil.
Pada akhirnya mereka memilih untuk kembali menyamar sebagai pedagang dan membawa 5 kereta keluar dari kota, tentunya kereta tersebut akan ditempati oleh penduduk masing-masing 10 orang. Karena kereta tersebut tipe kereta yang tertutup, maka seharusnya tidak akan sulit menyembunyikan para penduduk. Mereka akhirnya sudah hampir menyelesaikan pembahasan rencana mereka.
"Apakah menurut kalian, apa sebaiknya aku melaporkan keberadaan Cecilia, seorang putri sekaligus bangsawan tinggi dari Scotia yang terakhir?"
Ketiga bawahannya berpikir sejenak, mempertimbangkan keputusan apa yang sebaiknya mereka ambil terkait dengan Cecilia. Beberapa detik kemudian, salah dari mereka mengangkat tangan. Orang itu adalah Karim, wakil di regu Ahmed sekaligus teman terdekat Ahmed.
"Kapten, menurutku kita memerlukan bantuan Cecilia yang menjadi putri kerajaan ini. Kalau dia memang benar-benar punya pengaruh seperti halnya seorang putri, maka seharusnya dia bisa mengendalikan para penduduk yang kita bawa tanpa membuat mereka panik."
Fahmi dan Suleiman memandang kearah Karim sejenak, lalu mengangguk bersamaan ke arah Ahmed.
"Dia benar kapten, kita masih membutuhkannya di sini. Lagi pula bila kita melaporkan putri sekarang, markas mungkin akan langsung memintanya dikirm ke kota Orluire bersama warga kita." Fahmi mendukung pendapat Karim.
"Selain itu, kita juga masih perlu mewaspadai Cecilia. Bisa saja dia mata-mata atau semacamnya. Akan sedikit menyebalkan kalau dia tiba-tiba membuat masalah di markas bukan." Kali ini Suleiman menambahkan.
Mereka bertiga mengangguk bersamaan ke arah Ahmed, membuat Ahmed yang sempat berpikir sejenak akhirnya menyetejui urusan mereka.
"Baiklah, kalau begitu sudah diputuskan, kita akan menyembunyikan identitas Cecilia sampai kita tiba di markas. Suleiman, kau dan regumu akan menjadi penjaga markas kecil yang sekarang menjadi benteng kita. Perjalanan penduduk ke titik pendaratan akan di urus oleh reguku dan regu Fahmi."
"Dimengerti kapten!"
Mereka akhirnya membubarkan diri dan mengumpulkan pasukan mereka masing-masing untuk menyebarkan perintah pada tiap-tiap bawahan mereka mereka. Di saat yang sama, Sylvania juga sudah menyelesaikan penjelasannya ke Cecilia dan disaat itu juga Ahmed mendatangi mereka berdua.
"Sylvania, aku akan mengantar sebagian tahanan yang kita bebaskan ke lokasi penjemputan helikopter. Aku ingin kau bersama Cecilia di sini menjaga tahanan yang lain, kami tidak bisa membawa mereka keluar sekaligus, kau mengerti bukan?"
Sylvania mengangguk patuh.
"Mm, aku mengerti, berhati-hatilah Ahmed!"
Setelah itu Ahmed beralih ke para warga asli yang berasal dari bumi. Dengan menggunakan bahasa Arab, Ahmed mengarahkan mereka untuk bersiap meninggalkan gudang dan menaiki kereta yang sudah disiapkan di luar gudang. Anggota regu Ahmed dan Fahmi selain mengarahkan penduduk juga bersiap dengan pakaian penyamaran mereka, pakaian yang sama dengan yang mereka gunakan sehari sebelumnya.
Para penduduk menempati kereta yang didalamnya sudah terisi oleh beberapa kotak. Setiap kereta di isi oleh 8 - 10 orang. Kemudian setelah kereta sudah dinaiki oleh kesepuluh warga, bagian belakang yang dapat terlihat dari luar akan ditumpuki oleh kotak-kotak kayu yajg diisi buah-buahan.
Selesai memuat para penduduk dan menutupi mereka se aman mungkin, Ahmed dan pasukannya berangkat, setiap kereta akan ditunggangi oleh 2-3 orang pasukan Ahmed di depan untuk mengendalikan kudanya dan 2 orang lagi di belakang. Mereka membagi 2 rombongan kereta, setengah dipimpin oleh Fahmi dan sisanya dipimpin oleh Ahmed sendiri. Untungnya bagian barat kota memiliki 2 gerbang, itu artinya pasukan Ahmed tidak ada yang perlu memutar terlalu jauh hanya karena mereka harus berpisah.
Di gerbang kota, mereka kembali diperiksa oleh penjaga. Untungnya para penjaga tidak mau repot-repot membongkar kotak kayu dan hanya membukanya untuk melihat isinya yang tentunya hanya memperlihatkan setumpuk buah-buahan. Selesai melewati penjaga, mereka melanjutkan perjalanan ke barat sekitar 2 kilometer dari kota dan berhenti di sebuah wilayah padang rumput. Sebuah lokasi yang sempurna untuk pendaratan helikopter.
Ahmed menyalakan sebuah kotak kecil berukuran segenggaman tangan. Kotak itu tidak lain adalah pemancar. Setelah dinyalakan, sebuah lampu hijau di kotak itu berkedip-kedip, menandakan bahwa pemancar itu aktif. 5 menit kemudian, suara ketukan baling-baling helikopter mulai terdengar dari kejauhan, suara itu perlahan semakin keras dan di waktu yang sama, helikopter Naqil yang dikawal oleh 1 helikopter Saqr terlihat dari jauh.
"[Bzzz] Mubarizun 1, di sini Qomar 6, apakah kalian berhasil mengamankan para warga kita?"
"Kami berhasil mengamankan mereka Qomar 6, sayangnya sejumlah penduduk mendapatkan penyakit dan membutuh perhatian medis."
"[Bzzz] Tenang saja Mubarizun 1, kami membawa petugas medis dengan kami dan akan merawat mereka".
Setelah helikopter itu berada tepat di atas rombongan Ahmed, keduanya menurun dan mendarat ke darat. Tidak lama kemudian, pintu belakang helikopter terbuka ke bawah dan membentuk tangga masuk helikopter. 4 kru helikopter keluar dari dalam helikopter Naqil dan mulai mengarahkan para penduduk yang akan dibawa. Di dalam helikopter sudah menunggu beberapa petugas medis yang menggunakan arm band putih dengan lambang bulan sabit merah.
"Assalamualaikum kapten! Kerja bagus membawa mereka kembali pulang! Namaku sersan Farhan Morimoto, aku akan menjaga mereka sekarang. Kau bisa kembali ke kota orluire sekarang, kolonel sedang menunggumu di sana."
Salah seorang kru helikopter mendatangi Ahmed dan menjabat tangannya.
"Waalaikumsalam, terima kasih. Sayangnya aku tidak bisa kembali sekarang sersan, kami masih memiliki banyak orang lain yang perlu dibawa keluar dari kota."
Kru helikopter bernama Farhan itu menatap Ahmed dengan bingung.
"Bukannya kau sudah membawa mereka semua kesini? Aku hitung jumlah mereka sudah sesuai dengan jumlah warga hilang kita yang tersisa?"
Ahmed menggeleng, lalu menceritakan keadaannya dimana mereka menyelamatkan budak lainnya juga dan berniat mengamankan mereka semua ke kota orluire.
"Aku tidak tahu kolonel akan menerimanya atau tidak kapten! Semoga pilihanmu adalah pilihan yang terbaik di sisi Allah".
"Terima kasih sersan. Ngomong-ngomong namamu tadi Morimoto kan? Apakah kau berasal dari Jepang?".
Setelah diamati lebih teliti, Ahmed memang menyadari bahwa sersan Farhan memiliki mata sipit dan juga wajah oriental.
"Medan jihad di sini bukan hanya untuk orang Arab dan Turki kan kapten? Kami juga ingin ambil bagian. Baiklah kalau begitu, kami akan berangkat duluan. Jaga diri kalian baik-baik."
"Insyaallah."
Sersan Farhan kembali memasuki helikopter setelah semua warga masuk ke dalamnya. Pintu belakang kembali menutup dan helikopter pun mulai melayang ke atas sebelum bergerak menuju ke arah barat. Ahmed pun memimpin pasukannya kembali ke kota, kali ini mereka akan masuk dari gerbang selatan. Memutar sedikit jauh tidak masalah selama mereka tidak membawa warga sipil.
Ahmed, Fahmi, dan pasukan mereka kembali ke kota dengan menunggangi kereta yang sama. Memasuki gerbang kota, mereka melihat perbedaan suasana kota. Penyebabnya adalah jumlah tentara Leonia yang berpatroli ternyata bertambah banyak dari sebelum mereka meninggalkan kota. Dari pasukan Leonia itu, beberapa menghampiri rumah-rumah penduduk dan kios di pasar. Mereka terlihat sedang menginterogasi orang-orang yang mereka temui.
Ketika memasuki gerbang pun, kereta digeledah lebih teliti. Beberapa kotak dibawa dan diperiksa di luar sebelum dikembalikan. Tentunya dengan mengambil kotak itu, bagian belakang kereta akan terlihat dari luar. Untungnya kali ini mereka tidak membawa para penduduk di dalam kereta.
"Kapten, mereka menambah penjagaan mereka di kota."
"Hm, aku sudah menduga akan seperti ini. Bagaimanapun rencana kita awalnya adalah untuk langsung meninggalkan kota setelah mengantar penduduk dengan helikopter. Ini akan jadi semakin sulit."
Mereka mengendarai kereta kuda sambil mengamati keadaan sekitar mereka. Setiap jalanan kota akan diawasi oleh sekelompok tentara Leonia yang berpatroli. Sesekali pasukan berkuda melewati jalanan sambil terlihat terburu-buru. Ahmed dan pasukannya melewati jalanan sambil berusaha sebisa mungkin tidak terlihat mencurigakan. Untungnya tidak ada insiden apa-apa yang terjadi selama perjalanan menuju tempat persembunyian mereka.
Sampai di gudang, Ahmed mendapati gudang dan tempat wilayah mereka sembunyi terlihat sangat sepi dari luar, seolah tidak ada penghuninya. Hanya ada kotak-kotak kayu usang di sekitarnya. Akan tetapi Ahmed tahu benar bahwa Suleiman dan regunya bersembunyi di satu tempat. Setelah Ahmed mendekat ke gudang, Suleiman keluar dari belakang salah satu tumpukan kotak kayu.
"Suleiman, bagaimana situasi selama aku pergi?"
"Alhamdulillah, semuanya aman kapten. Tidak ada tentara Leonia yang mendekat kemari."
"Bagus, aku ingin kau meningkatkan penjagaan disini. Nampaknya orang-orang Leonia meningkatkan aktifitas militernya hari ini."
Ahmed kembali berjalan setelah sempat berhenti dan berbicara dengan Suleiman. Lalu memasuki gudang dan melihat bagian dalamnya. Berbanding terbalik dengan apa yang nampak di luar, di dalam gudang terlihat sangat ramai dengan adanya 200 penduduk sipil yang baru saja dibebaskan pasukan Ahmed dari perbudakan. Sebelumnya di pagi hari ketika Ahmed mengantarkan 40 warga asli Daulah Islamiyah yang diculik, 200 orang lainnya masih dalam keadaan tertidur. Wajar saja bila tidak seramai sekarang.
Meskipun mereka berusaha mengecilkan suara-suara mereka, suasana mereka tetap terlihat hidup. Ahmed bisa melihat beberapa kelompok wanita sedang berbincang-bincang, ada yang sedang makan makanan yang diberikan pasukan Ahmed, ada juga yang sedang merawat yang lainnya yang terlihat sedang sakit dan ada juga yang memiliki luka. Tentunya mereka juga menggunakan obat-obatan pemberian pasukan Ahmed dan didampingi anggota regu Suleiman.
Di tengah-tengah para tahanan yang baru saja dibebaskan itu, Ahmed dapat melihat 2 wajah perempuan yang dikenalinya. Sylvania terlihat sedang menyembuhkan salah satu gadis yang memiliki luka di lengannya menggunakan sihirnya. Sedangkan Cecilia sedang menyuapi gadis lain yang terbaring lemas, mungkin karena sedang sakit. Nyatanya sekitar 10 persen budak yang dibebaskan oleh pasukan Ahmed memang sedang sakit. Mulai dari demam, TBC, sampai pneumonia. Sayangnya kemampuan Sylvania tidak dapat menyembuhkan penyakit dalam dan hanya mampu menyembuhkan luka saja.
Melihat Ahmed memasuki gudang, Sylvania langsung bergegas menyelesaikan penyembuhannya, lalu setelah itu berlari kecil ke arah Ahmed, meraih dan mencium punggung tangan kanannya.
"Ahmed, syukurlah kau baik-baik saja."
"Hm, kelihatannya kau sibuk sekali ya di sini."
Ahmed mengangguk, lalu kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh isi ruangan. Mengamati seluruh aktifitas orang-orang yang ada di dalamnya.
"Iya, aku ingin berguna dan membantu sebisaku."
Ahmed tersenyum dan membelai kepala Sylvania yang tertutup kerudung. Sedangkan Sylvania menutup matanya menikmati belaian tangan Ahmed di kepalanya. Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang memandangi mereka dengan tatapan cemburu. Pemilik mata itu tanpa sadar menyodorkan sendok kosong ke orang yang seharusnya disuapinya.
"Emm, putri Cecilia?"
"Guh, tidak menyangka cinta pertamaku akan langsung menjadi tragis seperti ini!"
"P-putri Cecilia... s-sepertinya saya sudah...-"
"Aku harus bisa mendapatkan hati kesatria penyelamatku, tidak peduli bagaimana caranya."
Tanpa sadar Cecilia meremas sendok yang dibawanya, lalu beberapa detik kemudian sendok itu mulai mengeluarkan asap dan warnanya memerah. Tanpa sadar Cecilia mengaktifkan sihir apinya sendiri.
"Hiiihhh"
Karena ketakutan, gadis yang seharusnya disuapi oleh Cecilia mengeluarkan bunyi pekikan seolah baru saja melihat hantu. Suara itu untungnya menyadarkan Cecilia dan membuatnya meminta maaf sambil meletakkan sendoknya yang bengkok terkena panas. Tidak seperti malam sebelumnya, Cecilia kali ini memakai sebuah baju yang diberikan oleh anggota Ahmed. Sebuah gaun dengan panjang semata kaki dan lengan panjang. Ganu itu terlihat simpel berwarna abu-abu, sebuah gaun yang bisa ditemukan dimana saja oleh orang-orang yang hidup di abad pertengahan.
Gaun itu sendiri merupakan pakaian yang dibeli oleh pasukan Ahmed untuk para budak yang baru saja mereka bebaskan. Mereka membeli gaun simpel dan beberapa pakaian lainnya di pasar menggunakan koin emas yang menjadi bekal misi mereka. Saat ini bahkan hampir semua orang yang kemarin menjadi budak sekarang telah berganti pakaian dan terlihat seperti warga sipil biasa.
###
Siang harinya, Ahmed berunding dengan kedua bawahannya yang memimpin 2 regu lain, Fahmi dan Suleiman. Mereka sedang mendiskusikan cara untuk membawa penduduk sipil yang mereka selamatkan keluar dari kota Anteinde.
"Baiklah, seperti yang kalian tahu tentara Leonia saat ini sedang meningkatkan aktifitas militernya di kota. Pertanyaannya adalah apakah kita harus menggunakan cara yang sama atau mungkin kalian punya cara lain untuk dapat mengantarkan para budak keluar dari kota ini."
"Ini sulit kapten, kita tidak dapat menggunakan yang sama seperti kita mengantar penduduk Daulah pagi ini. Aku menganggap kita cukup beruntung bisa lolos dari pemeriksaan mereka, selanjutnya mungkin mereka tidak akan melakukan kesalahan yang sama mengingat kita digeledah lebih ketat ketika kita memasuki kota."
Ahmed mengangguk ke Fahmi, lalu beralih memandang Suleiman meminta pendapatnya.
"Yah, kurang lebih aku paham situasinya. Selain itu, awalnya aku kira mereka meningkatkan patroli dan jumlah pasukan mereka karena apa yang kita lakukan tadi malam. Tapi sepertinya bukan itu saja. Beberapa jam yang lalu, aku melihat pasukan bantuan Leonia datang dalam jumlah besar. Aku merasa mereka sedang merencanakan sesuatu dalam waktu dekat ini."
"Kau bilang pasukan dalam jumlah besar?"
"Benar kapten, aku perkirakan hari ini mereka mendapat tambahan sekitar 2000 pasukan dari luar. Aku mencoba menggerakkan drone kita ke arah timur dan mendapati ribuan lainnya sedang dalam perjalanan ke arah kota ini."
Ahmed menghela nafas berat sambil memegang kepalanya.
"Ini buruk, kita tidak akan bisa keluar dari kota kalau ini terus berlanjut."
Mereka terdiam beberapa saat, memikirkan jalan keluar dari situasi buntu mereka. Tidak mungkin mereka akan meninggalkan penduduk sipil begitu saja ketika mereka sudah bertekad untuk menyelamatkan dan membebaskan mereka.
"Suleiman, apakah ada perahu atau semacamnya di pelabuhan belakang gudang?"
"Tidak ada kapten, tapi aku ingat bahwa kita membawa perahu karet di kendaraan safir kita yang ada di tepi kota."
"Perahu karet? Kenapa kalian membawa perahu karet?"
"Aku pikir kita mungkin akan membutuhkannya mengingat misi kita berada di daerah yang dekat dengan perairan."
Ahmed pun mengangguk paham, lalu bertanya lagi.
"Berapa perahu karet yang tersedia?"
"Kalau tidak salah di safirku ada 3 perahu karet dan 3 lagi di safir milik Fahmi."
Ahmed mengangguk sambil bersyukur di dalam hatinya bahwa ada anggota lain yang membawa perahu karet. Bahkan dirinya sama sekali tidak ada pikiran untuk membawa perahu karet karena wilayah operasi mereka berada di darat tanpa membuat pertimbangan bahwa kota Anteinde merupakan kota pelabuhan juga.
"Baiklah, kalau begitu sudah diputuskan. Kita akan membawa mereka di waktu tengah malam sampai dini hari. Setidaknya kita bisa membawa 40 orang dalam sekali jalan. Fahmi, aku membutuhkan 3 anggota regumu untuk membantu reguku menyebrangkan para penduduk sipil dengan perahu, sisanya bawa mereka menyusup keluar kota dan tunggu kami disana. Seharusnya membawa 15 orang untuk menyusup keluar kota tidak akan sulit bukan."
"Siap kapten."
"Suleiman, seperti biasa, aku mengandalkanmu menjaga tempat persembunyian kita. Kalau ada apa-apa segera hubungi kami. Sepertinya kita harus menetap di sini 4 hari lagi."
"Mengerti kapten."
"Kita akan tunjukkan mereka perbedaan Islam dengan yang lainnya dan bagaimana Islam memanusiakan manusia. Niatkan semua ini sebagai ibadah dan jalan jihad untuk kita."
###
Malam itu, Fahmi dan anggota regunya menyebar ke seluruh kota dan menuju ke gerbang kota dari arah yang berbeda-beda. Fahmi membagi anggotanya menjadi beberapa kelompok kecil dimana tiap kelompok terdiri dari dua atau tiga orang. Dengan mudah mereka menghindari patroli dan penjagaan tentara Leonia. Menyusup dari balik bayangan, dari satu gedung ke gedung lain. meskipun dari luar mereka menggunakan jubah bertudung, mereka sebenarnya mengenakan seragam dan peralatan lengkap mereka di dalamnya, termasuk senapan MT5 mereka.
Di sisi lain, Ahmed dan anggota regunya mengarahkan para penduduk sipil untuk menaiki perahu karet yang sempat diambil oleh anggota Fahmi dan Suleiman di siang harinya. Dengan menggunakan kereta yang selama ini mereka gunakan, mereka berhasil menyusupkan perahu karet yang dalam keadaan belum dipompa ke dalam kota. Setiap perahu dinaiki 5 penduduk sipil yang ditemani 2 anggota pasukan Ahmed bertugas mendayung perahu.
Semua orang yang sedang sakit disertakan di 50 orang pertama yang akan menyebrang. Itu artinya dari 6 orang yang menaiki setiap perahu, dua diantaranya adalah mereka yang sedang sakit. Tentu saja menaikkan dan menurunkan mereka dari perahu nantinya akan ada kesulitan lebih mengingat sebagian dari mereka bahkan tidak mampu berjalan sendiri. Sebagian kecil sisanya akan dibawa dengan kereta melalui gerbang. Dengan jumlah penduduk yang sedikit di kereta, seharusnya tidak akan menarik banyak perhatian.
Selesai mengangkut para budak, Ahmed dan pasukannya mendayung perahu itu dengan perlahan, selain untuk meminimalisir suara. Tentunya butuh waktu lebih lama untuk membawa mereka dengan perahu dari pada kereta. Setelah mendayung selama kurang lebih 1 jam, mereka akhirnya sampai di titik pertemuan dengan Fahmi dan menurunkan para budak yang mereka bawa. Di dalam hatinya, Ahmed bersyukur karena musuh mereka tidak memiliki semacam lampu sorot sehingga di tengah kegelapan malam, akan sangat sulit menemukan mereka ditengah lautan. Pada akhirnya mereka berhasil menyebrangkan sekitar 50 orang dan memanggil 2 helikopter untuk menjemput mereka.
"Kurasa itu cukup untuk hari ini, sisanya akan kita pikirkan lagi nanti. Sebentar lagi subuh dan tentara Leonia akan dapat melihat kita bila menjelang pagi." Ucap Ahmed selesai menaikkan para penduduk sipil yang mereka selamatkan ke helikopter Naqil. Kali ini mereka semua kembali menggunakan perahu karet termasuk Fahmi.
Siang hari, tidak ada yang dilakukan oleh Pasukan Ahmed selain berjaga di daerah gudang. Seperti di hari sebelumnya, pasukan Ahmed yang berjaga akan bersembunyi di berbagai titik. Ada yang bersembunyi di celah-celah tumpukan kotak kayu, atap gudang yang ditutupi jerami, dan beberapa lubang-lubang kecil yang dibuat diantara tembok-tembok gudang. Dari dalam gudang itu sendiri, ada beberapa perangkat portabel dengan monitor yang dipasang di sana-sini.
Apa yang ditampilkan oleh monitor itu adalah kamera portabel yang disebar di dekat wilayah gudang dan juga video pengamatan dari drone yang mereka operasikan. Di sisi lain ada sebuah kotak dengan parabola kecil diatasnya, sebuah peralatan radio jarak jauh untuk dapat menghubungi markas terdepan para Ghazi yang saat ini berposisi di kota Orluire dan Longnard. Secara teknis, kota Orluire merupakan kota terdekat dari kota Anteinde dan karena itu juga markas yang mereka hubungi sekarang adalah markas di kota Orluire.
Ahmed mengamat monitor-monitor pengawasan yang ada di depannya. Dari monitor itu, tidak ada pergerakan yang mencurigakan atau pun tanda-tanda keberadaan tentara Leonia yang akan datang. Tentunya Ahmed tidak akan langsung melega dengan apa yang dilihatnya, karena itu Ahmed menghubungi pasukan lain yang sedang berjaga dengan meraih dan mengaktifkan radionya.
"Seluruh elemen Mubarizun yang sedang berjaga, silakan melapor."
Tepat beberapa detik setelah dia meminta laporan di radio, pasokan di luar sana mulai melapor balik ke Ahmed.
"[bzzz] di sini Mubarizun 1-3, semua aman."
"[bzzz] di sini Mubarizun 1-4, tidak ada tanda-tanda tentara Leonia di sini."
"[bzzz] di sini Mubarizun 1-5, aku tidak melihat pergerakan apa-apa di sini."
Ahmed menerima laporan lain yang serupa, pada dasarnya laporan itu menyimpulkan bahwa keadaan mereka sementara ini masih aman. Ahmed hanya bisa menghela nafas lega. Bagaimanapun bisa dibilang suatu keberuntungan bila posisi mereka saat ini ternyata masih belum ditemukan oleh para tentara Leonia.
"Kapten, coba lihat ini." Suleiman meminta perhatian Ahmed sambil menunjuk ke arah monitor yang menampilkan kamera dari drone mereka. Apa yang Ahmed lihat dari tampilan di layar monitor itu adalah tentara yang berbaris memasuki gerbang timur kota Anteinde. Jumlah mereka setidaknya ratusan, atau bahkan ribuan.
Suleiman mendekatkan tampilan kamera mereka untuk memperjelas orang-orang yang ada di tengah barisan itu. Diantara mereka ada sekelompok orang-orang yang menggunakan pakaian norak tanpa membawa senjata apa pun selain tongkat sihir. Jelas sekali bahwa orang-orang itu adalah sekelompok penyihir. Selain itu juga terdapat pasukan berkuda dengan baju zirah lengkap dan helm yang menutupi wajah mereka. Di pinggang mereka tergantung pedang yang disarungkan dan berbentuk runcing, jelas sekali seorang kesatria yang bisa menggunakan sihir.
"Pasukan bantuan lagi ya…." Gumam Ahmed sambil tercengang melihat tampilan kamera itu.
"Benar kapten, selain itu jumlah mereka terlihat lebih banyak dari bantuan kemarin. Mungkin jumlah mereka mencapai 3000 orang."
Kali ini Ahmed menghela nafas berat. Dengan bertambahnya pasukan Leonia yang berposisi di kota Anteinde, pelarian Ahmed dan pasukannya dalam rangka membebaskan para penduduk sipil akan menjadi semakin sulit. Ditambah lagi tentara Leonia juga memperketat patroli dan kelompok pencari mereka di kota. Kehilangan seluruh budak mereka sepertinya benar-benar membuat mereka jengkel atau mungkin penyebab mereka berusaha mencari dengan keras adalah karena putri Scotia yang mereka tangkap berhasil kabur?
Terlepas dari keduanya, mereka tetap saja membuat posisi pasukan Ahmed menjadi tidak aman. Sepertinya mereka sangat yakin bahwa budak-budak mereka yang hilang masih berada di dalam kota, mengingat mereka terlihat lebih serius mencari di dalam kota dari pada di luar kota.
"Bagaimanapun kita harus bisa keluar dari kota malam ini membawa orang-orang Scotia yang kita bebaskan."
Ahmed kembali terdiam, kepalanya memikirkan cara untuk dapat menghindari pertempuran dengan orang Leonia di kota ini sebisa mungkin dengan segera keluar dari sana. Rencananya mereka akan berangkat di malam hari dan melakukan hal yang sama di malam sebelumnya, menyebrangkan orang-orang melalui laut menggunakan perahu karet dan memanggil jemputan helikopter.
"Suleiman, laporkan ke markas terdepan dan kirimkan permintaan untuk menyiagakan pasukan. Aku ingin beristirahat sebentar dan menyendiri di dermaga belakang gudang. Tolong panggil aku lewat radio bila ada sesuatu yang penting terjadi."
"Siap Kapten!"
Ahmed berjalan keluar dari gudang, menuju ke dermaga kecil yang ada di belakang gudang. Disana terdapat 6 perahu karet yang di ikat di pinggiran dermaga dan juga kotak-kotak kayu kosong yang ditinggalkan. Ahmed duduk di salah satu kotak kayu itu sambil menghadap lautan. Memandang lautan serta merasakan terpaan angin yang menghembus ke arah Ahmed membuatnya sedikit rileks dan menenangkan pikirannya.
Suasana ini mengingatkanku dengan kota istanbul. Entah kenapa saat ini aku jadi ingin kembali mengunjungi kota itu.
Istanbul, sebagai ibu kota Daulah Islamiyah, kota itu sudah banyak berkembang selama hampir 100 tahun terakhir. Penduduk yang ramai, kerlap-kerlip lampu di malam hari, kapal pesiar yang berlalu lalang, dan juga terpaan angin di selat dardanela. Bibir Ahmed tanpa sadar tersenyum mengingat semua itu. terlepas dari keramaiannya, kota itu terasa damai dan tentram.
Entah berapa lama Ahmed berdiam, 5 menit, 10 menit, mungkin 1 jam, rasanya waktu sudah tidak terasa lagi ketika dia sudah tenggelam dalam pikirannya.
"Ternyata kau berada di tempat ini ya. Aku sedang mencarimu kemana-mana dari tadi."
Ahmed menoleh ke sampingnya dan mendapati Cecilia sedang berdiri di sampingnya mengikuti arah pandangan Ahmed.
"Bagaimana kau bisa menemukanku?"
Cecilia menunjuk ke arah salah satu jendela gudang yang ada di lantai dua, di sana ada Yusuf, salah satu anggota Ahmed yang sedang berjaga dengan senapan SKT 5 yang bagian moncongnya disandarkan di pinggiran jendela.
"Dia yang memberitahumu ya… jadi, apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Ahmed dengan nada sedikit kesal. Ahmed masih mengingat pertengkaran Cecilia dengan Sylvania 2 malam yang lalu dan itu membuat Ahmed sedikit menjaga jarak dari Cecilia.
"Jangan mencurigaiku seperti itu Ahmed, aku hanya ingin berterima kasih padamu." Cecilia tersenyum tipis. Selama ini dia menyadari kalau Ahmed menjaga jarak darinya dan itu membuatnya tidak nyaman. Cecilia sebenarnya ingin berbicara lagi dengan Ahmed sejak dia berada di gudang itu. Tapi Ahmed tidak memberinya kesempatan dan selalu terlihat sibuk.
"Berterima kasih? Untuk apa?"
Cecilia mengalihkan tatapannya dari laut dan memandang wajah Ahmed.
"Kau sudah menyelamatkanku dan juga para penduduk Scotia yang diperbudak bersamaku. Selain itu kalian sepertinya juga mendapati masalah karena menyelamatkan kami, tapi kalian tetap tidak meninggalkan kami semua. Untuk itu aku benar-benar berterima kasih."
Ahmed akhirnya ikut tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari Cecilia.
"Itu sudah tugas kami sebagai seorang muslim untuk menolong sesama manusia… 'Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.' (Ahmed mengutip QS. Al Maidah: 32) Setiap muslim memiliki kewajiban untuk menolong sesama manusia lainnya. Khususnya kami para Ghazi"
Cecilia hanya mengangguk saja. Jawaban Ahmed sudah tidak membuatnya terkejut lagi karena Cecilia sudah mendengarkan banyak hal tentang Islam dan Muslim dari Sylvania sebelumnya. Tapi tetap saja Cecilia tidak dapat berhenti mengagumi Ahmed dan orang-orang muslim lainnya.
"Cecilia, kau tadi sempat bilang penduduk Scotia yang diperbudak bukan? Jadi mereka sebenarnya bukan budak?"
Cecilia mengangguk. Sebenarnya dia masih ingin bertanya hal lain kepada Ahmed, namun sepertinya dia harus menjawab pertanyaan Ahemd terlebih dahulu.
"benar, dalam kekalahan kami bangsa Scotia melawan Leonia, orang-orang kami banyak yang ditangkap, pria-pria satu persatu diculik untuk kerja paksa, sedangkan wanita-wanita muda diculik untuk dijual sebagai budak. Yah mau bagaimana lagi, memang pada dasarnya seperti itulah yang terjadi kalau suatu negara kalah perang, itu sudah menjadi hal yang wajar bukan?"
Ahmed mengangguk
"Kau benar, di duniaku itu juga hal yang wajar, 1400 tahun yang lalu sebelum manusia di duniaku mengenal Islam. Akan tetapi semenjak Islam mulai tersebar, kami perlahan menghapus praktik perbudakan sampai benar-benar habis seperti sekarang."
Cecilia menatap Ahmed dengan terkejut. Dunia tanpa perbudakan terdengar terlalu bagus di telinganya.
"Dunia tanpa perbudakan? Begitu ya, sepertinya agamamu benar-benar memberikan dampak yang besar ya…"
Mereka terdiam beberapa saat, sambil kembali menatap Lautan. Cecilia diam-diam menatap tangannya sendiri, teringat dengan sihir apinya yang sudah lumayan lama tidak digunakan. Bahkan meski sudah terbebas seperti sekarang pun Cecilia tidak dapat menggunakan sihirnya tanpa tongkat sihir. Satu-satunya yang bisa dia lakukan tanpa tongkat sihir hanyalah menyalurkan panas. Berbeda dengan Elf yang dapat menggunakannya tanpa tongkat sihir, manusia harus menggunakan tongkat sihir untuk dapat memanfaatkan energi Mana di tubuhnya.
"Hei Ahmed, sihir apa yang kau miliki? Aku dengar pasukan dari negaramu sangat hebat dan mampu mengalahkan orang-orang Leonia dengan mudah. Kau dan pasukanmu pasti pengguna sihir yang sangat hebat bukan?"
Ahmed menggeleng pelan.
"orang-orang di duniaku tidak memiliki sihir seperti orang di dunia ini. yah mungkin ada sedikit sekali mereka, itu pun dengan menggunakan bantuan makhluk ghaib, dan itu tidak diperbolehkan dalam agama kami."
Cecilia sangat terkejut mendengar jawaban Ahmed yang jauh diluar dugaannya. Padahal mereka tidak memiliki sihir, tapi bisa memiliki kekuatan sebesar itu.
"Kalau begitu, bagaimana dengan kekuatan kalian?"
"Ah itu… singkatnya itu adalah perjalanan panjang. Islam menganjurkan pengikutnya untuk mengamati keadaan alam disekitar kita, mengagumi ciptaan tuhan kami sambil berpikir tentang fenomena-fenomena yang ada di baliknya. Dari situ orang-orang Islam mulai banyak belajar tentang ilmu alam yang kami sebut sebagai sains yang kemudian berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang memajukan peradaban kami jauh di depan peradapan-peradapan lain waktu itu. Dari situ juga memicu proses perkembangan ilmu pengetahuan di seluruh dunia dan dalam waktu 1400 tahun kami sudah mencapai seperti sekarang."
Cecilia masih tercengang dengan penjelasan Ahmed, tidak menyangka mereka bisa mencapai semua itu tanpa menggunakan sihir. Dan lagi-lagi semua itu juga disebabkan oleh agama yang mereka ikuti. Apakah yang dikatakan Ahmed benar terjadi, atau Ahmed hanya menutup-nutupi saja? selama ini hampir semua kerajaan di Edela memperlakukan orang-orang yang tidak memiliki kemampuan sihir sebagai masyarakat kelas bawah termasuk kerajaan Scotia.
Selama ini Cecilia meyakini bahwa tanpa pengguna sihir, mereka yang tidak memiliki kemampuan sihir tidak akan bisa berbuat apa-apa. Nyatanya manusia yang ada di dunia Ahmed malah memiliki pencapaian yang sangat jauh bahkan tanpa sihir sekalipun. Tanpa sadar tangan Cecilia memegangi kepalanya sendiri.
Cecilia memikirkan bagaimana kedudukan pengguna sihir sepertinya, apakah pengguna sihir akan dianggap tabu? Apakah mereka akan dikucilkan mengingat orang-orang tanpa kekuatan sihir ternyata masih bisa memiliki kekuatan lain yang sama hebatnya dan mampu melawan balik? Apakah ini akhir dari kekuasaan para bangsawan dan pengguna sihir? Berbagai pertanyaan terus bermunculan di kepala Cecilia sampai dahinya mengkerut.
"Ahmed, sepertinya kau baru saja menceritakan hal yang cukup berat untuk dia cerna dalam waktu yang sama."
"Ah, Sylvania, kau kesini juga ternyata."
Dari belakang, Sylvania menyapa Ahmed dan sekilas menatap curiga terhadap Cecilia yang mungkin mencoba mendekati Ahmed lagi. namun melihat ekspresi Cecilia, Sylvania melunakkan wajahnya dan mendekati Cecilia, lalu menepuk pundaknya.
"Aku paham kalau kau memikirkan tentang apa jadinya kedudukan pengguna sihir di negara Ahmed bukan? Aku juga dulu sempat memikirkannya, tapi di negara Ahmed, semua orang dipandang sama dan setara. Orang tidak dianggap istimewa hanya karena warna kulitnya, tempat kelahirannya, atau bakat seperti kemampuan sihir yang dimiliki sejak lahir. Apa yang membuatmu istimewa adalah perbuatan baikmu dan bagaimana kau bisa menjadi orang yang berguna di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, gunakanlah kemampuan itu dalam hal kebaikan."
Cecilia tersenyum mendengar nasihat Sylvania, lalu mengangguk mengerti. Nampaknya kebingungannya benar-benar sudah terjawab oleh Sylvania.
"Selain itu, usiamu masih sangat muda bukan? Kau seharusnya tidak perlu memikirkan hal-hal serumit itu."
Cecilia menggeleng.
"Tidak, aku sudah terbiasa… lagi pula aku juga seorang putri yang diajarkan tentang hal-hal politik dan kenegaraan di usiaku yang masih muda, karena itu hal ini bukan masalah untukku."
Mereka kembali berbincang-bincang, khususnya tentang Islam dengan Sylvania yang nampaknya sering memberikan Cecilia berbagai nasihat layaknya seorang kakak pada adiknya. Tentu saja Sylvania juga menceritakan dirinya yang juga menjadi seorang muslim dan alasan-alasan dibaliknya meskipun Sylvania tidak menyebutkan pernikahannya dengan Ahmed sebagai salah satu alasannya. Cecilia yang sudah tertarik dengan Islam, mendengarkan Sylvania layaknya anak kecil yang sedang diceritakan dongeng oleh ibunya. Ahmed hanya duduk saja mendengarkan pembicaraan mereka berdua meskipun sekali sekali dia juga ikut menimpali.
Apa yang terjadi pada mereka berdua? padahal kemarin mereka masih bertengkar bukan? Yah tapi tak apalah, setidaknya mereka tidak perlu bermusuhan lagi.
"[bzzz] kapten, situasi darurat, kami membutuhkan mu di sini, cepatlah kemari!" radio Ahmed tiba-tiba berbunyi, dari baliknya suara Suleiman dapat terdengar.
"Baiklah, aku akan segera kesana."
Mereka bertiga pun akhirnya menghentikan perbincangan mereka dan berjalan memasuki gudang. Tanpa mereka sadari apa yang mereka bertiga alami hari ini hanyalah sebuah "ketenangan sebelum badai".
