Part 21 Pertempuran Anteinde

Setelah membaca beberapa komentar, saya mencoba untuk mengupload story ini di salah satu platform novel yang juga sering saya akses, yaitu wattpad. Kabar baiknya di wattpad saya dapat mengupload gambar juga untuk dijadikan ilustrasi, sehingga cerita ini sedikit lebih menarik. Untuk yang berniat mencoba membaca di wattpad, silakan cari user wattpad saya fian88. Saya tunggu komentar dan tanggapannya di wattpad juga.

###

Ahmed berjalan memasuki gudang diikuti oleh Sylvania dan Cecilia. Melihat Ahmed memasuki gudang, Suleiman langsung menghampirinya dengan langkah tergesa-gesa sambil membawa radio di tangannya. Wajahnya menunjukkan ekspresi suram.

"Kapten, laporan dari tim pengintai kita. sepertinya orang-orang Leonia sudah menemukan posisi kita. mereka tengah mengumpulkan pasukan untuk menyergap posisi kita saat ini."

Ahmed meminta radio yang dibawa oleh Suleiman, lalu berbicara dengan orang yang ada di seberang radio.

"Laporkan situasinya."

"[bzzz] kapten, sepertinya tentara Leonia sudah menemukan keberadaan kita. Mereka mulai mengumpulan tentara di kota."

Rupanya yang berbicara dari seberang radio adalah Karim, wakil pimpinan Ahmed yang mengambil alih pimpinan regu Ahmed setelah Ahmed dipromosikan menjadi kapten.

"Karim, apakah kau bisa menahan mereka? Kami mungkin akan membutuhkan waktu tambahan untuk bersiap."

"[bzzz] dimengerti kapten, kami akan mengulur mereka sebisa kami.".

Ahmed mematikan koneksi radio dan kembali menatap Suleiman, lalu berganti menatap anggota pasukannya yang lain di dalam gudang. Mereka terlihat suram dan khawatir. Dengan jumlah yang sekarang, mereka tidak mungkin menang melawan pasukan Leonia satu kota yang berjumlah ribuan orang.

Ahmed berganti memandang Cecilia yang terlihat penasaran dengan situasinya, Sylvania yang juga memandang Ahmed cemas. Sesekali Sylvania mengarahkan pandangannya ke seluruh penduduk Scotia yang baru saja mereka selamatkan di belakangnya. Ahmed paham apa yang dipikirkan Sylvania. Meskipun situasinya berubah menjadi berbahaya, Sylvania tidak ingin meninggalkan mereka. Setelah mengangguk untuk meyakinkan dirinya sendiri, Ahmed berjalan mendekat ke Cecilia dan berhenti tepat di depannya.

"Cecilia, tempat ini akan dikepung dan diserang habis-habisan oleh pasukan Leonia. Kami sudah memanggil bantuan dari markas kami tapi itu akan membutuhkan waktu. Karena itu Cecilia, aku ingin kau membantu mengamankan para penduduk sipil di ruang bawah tanah yang ditemukan oleh salah seorang anggotaku. Dengar! Jangan keluar dari ruangan itu sampai pertempuran selesai kecuali aku dan pasukanku yang memintanya."

"Leo-Leonia… Me-Menyerang? Baiklah… aku lakukan apa yang kau minta, tapi boleh aku minta satu permintaan?"

Ahmed menaikkan sebelah alisnya sambil memiringkan kepalanya sedikit. Tidak menyangka Cecilia akan mengajukan permintaan.

"Apa itu?"

"Kumohon… jangan mati!"

Sesaat setelah mengucapkan kata-kata itu, dengan gerakan cepat, Cecilia berjinjit dan melompat sedikit, menyentuhkan bibirnya di pipi Ahmed. Cecilia memberikan kecupan kecil untuk Ahmed sebelum akhirnya berbalik menghadap penduduk Scotia dan menjelaskan situasinya ke mereka. Ahmed hanya diam saja mematung karena terkejut dengan perbuatan Cecilia. Salah satu tangannya menyentuh pipinya yang baru saja disentuh oleh bibir Cecilia dan kedua matanya melebar.

"Astaghfirullah…"

Ahmed menepuk dahinya dengan satu tangannya yang lain. Mulutnya menggumamkan istighfar karena dia baru saja mengalami hal yang kurang pantas. Tapi bagaimanapun itu bukan salah Ahmed yang tidak tahu apa-apa.

"Ahmed, apa maksudnya yang tadi itu?"

Suara Sylvania terdengar di telinga Ahmed. Saat ini Sylvania lah yang sudah ada tepat di depan Ahmed sambil berkacak pinggang. Mendengar pertanyaan Sylvania, Ahmed tahu bahwa Sylvania melihat itu semua dan kalimat yang dilontarkannya terdengar dingin. Ahmed menatap canggung ke arah Sylvania yang juga menatapnya dengan tatapan menusuk.

"Eh… Vania? Maaf itu tadi bukan salahku, aku bahkan tidak tahu sama sekali bahwa Cecilia akan melakukan hal seperti itu."

"Tapi kenapa kau tidak menghindar?" Sylvania menaikkan suaranya satu oktav, membuat Ahmed menjadi canggung. Namun Ahmed tetap berdalih.

"Aku tidak sempat, dia bergerak terlalu cepat."

"Begitu? Padahal aku istrimu Ahmed." Sylvania menunduk, nadanya berubah menjadi sedih.

"Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku akan berusaha agar hal itu tidak terulang lagi."

Sylvania mengangkat wajahnya, kembali menatap Ahmed dan menemukan kesungguhan di mata Ahmed. Sesaat kemudian setelah Sylvania meyakini kata-kata Ahmed, wajahnya dengan cepat didekatkan ke wajah Ahmed. Bibir Sylvania menyentuh bibir Ahmed dan Sylvania bahkan tidak perlu melompat seperti Cecilia karena tubuhnya masih cukup tinggi untuk mencapai Ahmed hanya dengan berjinjit.

Ahmed kembali melebarkan matanya, mendapat perlakuan yang tidak terduga dari Sylvania. Di sisi lain Sylvania masih belum menarik dirinya dan membiarkan bibirnya masih menempel di bibir Ahmed. Sylvania sudahmenjadi istri Ahmed, karena itu Ahmed merasa Sylvania berhak atas dirinya, tapi Ahmed masih tidak menyangka bahwa Sylvania akan menjadi semakin agresif seperti sekarang. Dengan begitu Ahmed menutup matanya menikmati ciuman itu seraya membalas ciuman Sylvania. Tanpa mereka sadari mereka sudah menjadi pusat perhatian di antara pasukan Ahmed dan juga penduduk Scotia yang sedang diarahkan oleh Cecilia.

Ahmed dan Sylvania akhirnya melepas ciumannya setelah beberapa detik mereka berciuman, saling memandang dengan tatapan hangat. Sebelah tangan Ahmed memegang pipi Sylvania dan satu tangan Sylvania memegang tangan Ahmed yang berada di pipinya.

"Berjuanglah, aku tahu kita tidak bisa menentukan kematian kita tapi… kumohon, berusahalah untuk tidak terbunuh."

Ahmed mengangguk sambil tersenyum.

"Aku mengerti…!"

Mereka berdua akhirnya berpisah setelah Ahmed menjawab permintaan Sylvania. Ahmed berjalan ke arah pasukannya yang sudah berkumpul dan Sylvania membantu Cecilia mengarahkan para penduduk sipil Scotia. Sepasang mata memandang keduanya dengan tatapan iri dan cemburu. Giginya bergemeletuk sambil kedua tangannya dikepalkan rapat-rapat.

"Huuhh…. Suatu saat aku pasti juga akan melakukannya dengan dia…tunggu saja!" Gumam pemilik sepasang mata itu.

Tentu saja pemilik sepasang mata itu adalah Cecilia yang juga baru saja mencium pipi Ahmed. Ciuman Cecilia tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ciuman Sylvania yang barusan. Dengan hati yang sedikit berat, Cecilia kembali mengalihkan perhatiannya ke arah penduduk sipil yang berusaha mereka arahkan ke bawah tanah untuk berlindung.

Di sisi lain, Yusuf sedang memanggil seluruh anggota Ahmed yang tidak bertugas dan mengumpulkan mereka di salah satu sudut gudang dimana peralatan pengawas dan radio dipasangkan. Mereka semua berkumpul, membentuk setengah lingkaran. Orang-orang yang ada di depan duduk dengan satu lutut sedangkan yang berada di belakang berdiri. Semua tatapan mereka terarah ke Ahmed yang sekarang berdiri di depan mereka.

"Kapten, bisa-bisanya kau bermesraan tepat di depan kami di saat sebagian besar dari kami bahkan masih belum memiliki pasangan hidup." Yusuf berkata dengan suara yang dibuat-buat agar terlihat seperti orang yang sakit hati.

Pasukan lainnya tertawa mendengar kata-kata Yusuf yang dianggap seperti lelucon. Padahal nyatanya mereka kebanyakan memang berstatus belum menikah. Tapi sebenarnya mereka semua tidak ada yang benar-benar keberatan dengan tindakan yang dilakukan Ahmed karena itu sepenuhnya hak pribadi Ahmed.

"Akan ada saatnya untukmu mengalaminya juga Yusuf! Aku yakin kau juga akan mendapatkan jodohmu nanti entah di dunia ini atau di bumi. Kau hanya perlu bersabar sedikit."

Ahmed tetap menjawabnya meskipun pertanyaan Yusuf terdengar seperti gurauan saja. Yusuf tertawa kecil sambil mengangguk ringan menyetujui perkataan Ahmed. Sedetik kemudian, semua orang di depan Ahmed menunjukkan wajah serius. Mereka siap mendengarkan kata-kata dan perintah Ahmed. Di depan mereka, Ahmed memandangi wajah mereka satu persatu. Ada sekitar 20 wajah yang dia kenali, sedangkan sisanya, Ahmed masih perlu mengenal mereka lebih jauh.

"Suleiman, apakah kau sudah menghubungi markas kita di kota Orluire?"

"Sudah kapten, mereka bilang mereka akan mengirimkan pasukan gerak cepat dari sana. Kolonel bilang kita akan melaksanakan rencana B untuk mengambil alih seluruh kota. Pasukan gerak cepat yang terdiri dari sisa kompi J yang lain akan tiba dalam waktu satu jam, sedangkan pasukan darat yang terdiri dari Battalion infantri ke 7 dan battalion lapis baja ke 10 akan membutuhan waktu 4 jam untuk sampai."

"Baiklah, kerja bagus Suleiman."

Ahmed kembali mengarahkan pandangannya ke pasukannya yang ada di gudang.

"Para Mujahidin, para Ghazi yang aku banggakan. Aku tahu selama bertempur di dunia ini kita menemui musuh yang mungkin terlihat mudah untuk dikalahkan, mudah untuk dijatuhkan. Tapi kalian tetap harus tahu bahwa itu semua adalah salah satu bentuk pertolongan Allah untuk kita. Tanpa pertolongan Allah, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Tanpa pertolongan Allah, musuh kita sekarang pasti sudah menemukan cara untuk mengalahkan kita dengan senjata ataupun sihir yang lebih berbahaya."

"""…""" Ahmed terdiam sejenak, tidak ada yang berani menyelanya. Semuanya menunggu kelanjutan kata-kata Ahmed.

"Kita tahu bahwa saat ini kita berada di dunia yang dipenuhi oleh sihir dan makhluk fantasi. Sangat banyak hal yang masih tidak kita ketahui di sini dan mungkin hal itu bisa menjadi ancaman besar bagi kita. Karena itu, hilangkan sikap sombong dalam diri kalian dan tetaplah mengharap pertolongan Allah. Karena tidak ada kemenangan dan kemudahan yang tidak berasal darinya. TAKBIR!"

"""ALLAHU AKBAR!…ALLAHU AKBAR!"""

Suara mereka menggetarkan seluruh gudang dan mencapai ke telinga para penduduk yang sudah bersembunyi di ruang bawah tanah. Cecilia dan yang lain hanya bisa mendengar dengan penasaran apa yang diteriakkan oleh pasukan Ahmed, mengingat mereka tidak memahami arti teriakan itu. Sedangkan di sisi lain, Sylvania yang mengetahui arti teriakan takbir itu hanya bisa memandang kosong ke arah atap ruang bawah tanah sambil tersenyum, tatapannya seolah dapat menembus atap itu ke Ahmed.

"Semuanya, kita sedang dalam kondisi darurat, harap ikuti saya berlindung di ruang bawah tanah."

Cecilia menuntun warga penduduk sipil ke ruangan bawah tanah. Setelah semua orang sudah masuk, Cecilia menutup pintunya. Beberapa penduduk sipil yang masih bingung dengan situasi mereka mendatanginya.

"Maaf, anda siapa? apa yang terjadi? Kenapa kita ke ruang bawah tanah?"

"Situasi darurat seperti apa yang terjadi?"

Cecilia tertunduk lemas sambil terdiam. Ekspresi Cecilia membuat orang-orang lain yang ada disana ikut khawatir. Karena Cecilia yang mengarahkan mereka masuk ruangan bawah tanah, Cecilia pun menjadi pusat perhatian saat ini. Kebanyakan penduduk sipil yang ada bersamanya tidak mengenal siapa Cecilia sebenarnya. Mereka hanya mengetahui jika Cecilia dekat dengan pasukan hitam dan saat ini pasukan hitam memerintahkan mereka untuk masuk ke ruang bawah tanah melalui Cecilia. Melihat para penduduk yang mulai panik di dalam sana, mau tak mau Cecilia pun harus menyusun kata-kata dan memberitahu mereka agar tidak panik.

"Semuanya, aku akan memberi tahu situasi kita saat ini. Tapi sebelumnya aku ingin meminta kalian semua untuk tidak panik, apa kalian mengerti?"

Semuanya mengangguk, lalu menunggu Cecilia melanjutkan kata-katanya. Cecilia mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.

"Saat ini, aku diberitahu oleh para pasukan hitam bahwa di luar sana, pasukan Leonia sedang dalam perjalanan kemari. Jumlah mereka ratusan, atau mungkin lebih. Setidaknya itu yang mereka beritahu kepadaku."

Cecilia dapat mendengar banyak suara nafas tertahan. Menandakan bahwa orang-orang di depannya jelas terkejut. Baru saja mereka terbebas dari Leonia, dan sekarang mereka terancam untuk kembali ditangkap lagi.

"Mereka datang untuk menyerang tempat ini. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan nantinya bila mereka menemukan kita di sini."

Kali ini Cecilia mulai mendengar bisikan dari para warga.

"Mereka akan menahan dan memperbudak kita lagi"

"Oh tidak, kita akan disiksa lagi oleh mereka."

"Oh dewa Solus, selamatkan kami".

Ruangan mulai bertambah ramai karena penghuninya yang mulai panik sambil membuat asumsi tentang nasib mereka bila mereka tertangkap.

"Semuanya tolong tenanglah."

Mereka kembali diam dan memusatkan perhatian mereka ke Cecilia.

"Aku percaya, bahwa rumor yang beredar tentang pasukan hitam bukanlah kebohongan. Aku percaya bahwa mereka sama kuatnya seperti yang dibicarakan oleh orang-orang dan tentara Leonia. Dan aku percaya, mereka akan mampu bertahan di sini dan menyelamatkan kita. Karena itu, aku ingin kalian juga percaya dengan mereka, aku ingin kalian juga bersedia mengikuti permintaan dan perintah mereka. Ini juga demi keselamatan kita semua. Aku tahu mungkin kalian masih merasa asing dengan mereka. Mereka adalah pasukan dari negeri yang tidak kita ketahui. Semua tentang mereka masih sangat misterius. Tapi untuk saat ini merekalah satu-satunya harapan kita."

Para penduduk pun akhirnya mulai tenang. Raut wajah kepanikan yang sebelumnya mereka tunjukan, kini berangsur menghilang.

"Anu, kalau boleh tahu, apa hubungan anda dengan pasukan hitam itu? Kalau tidak salah anda juga berasal dari tempat perbudakan juga seperti kami kan?" Tanya salah satu warga, membuat Cecilia sedikit bingung harus menjawab apa. Apakah mereka akan percaya jika dirinya bilang identitasnya adalah seorang putri Scotia? Cecilia juga khawatir jika hal itu malah akan berdampak buruk mengingat tidak semua warga menyukai pemerintahaan kerajaannya. Untungnya setelah beberapa detik berpikir matang, Cecilia menemukan jawaban yang mungkin akan menjadi jawaban terbaik baginya.

"Namaku adalah Cecilia, aku adalah tunangan dari salah satu pasukan hitam yang sedang melindungi kita di luar sana." Ucap Cecilia dengan percaya diri dan penuh senyuman.

Ahmed mengamati pelataran gudang dan jalan masuk gudang menggunakan kacamata taktisnya yang memiliki fungsi zoom in menggantikan teropong. Berdasarkan hasil pengamatan kamera drone yang ada di atas. Orang-orang Leonia sepertinya berniat untuk bertempur habis-habisan. Jumlah pasukan mereka mencapai ratusan atau bahkan ribuan orang mengingat seluruh pasukan yang ada di dalam kota dimobilisasi. Mereka membawa persenjataan lengkap untuk pasukan eropa abad pertengahan, terdiri dari infantri, pemanah, kavaleri, dan tentunya para pengguna sihir. Selain itu mereka juga memiliki kelompok penunggang wyvern meskipun penunggang itu masih belum terlihat beterbangan di udara.

Tempat yang digunakan untuk posisi Ahmed adalah gudang lantai dua, tepatnya di salah satu jendela gudang. Jendela itu sudah di beri perlindungan tambahan berupa tumpukan karung pasir. Begitu juga di daerah sekitar gudang yang digunakan oleh pasukan Ahmed, dipenuhi dengan tumpukan karung pasir sebagai tempat berlindung mereka.

"Seluruh pasukan silakan melapor."

"[bzzz] di sini Mubarizun 1 – 3, peledak sudah ditanam di area jalan masuk, pesta kejutan bisa dimulai kapan saja."

"[bzzz] di sini Mubarizun 1 – 5, kami berada di belakang gudang. Mortar sudah terpasang dan siap menghujani tentara Leonia."

"[bzzz] di sini Mubarizun 1 – 4, tim penembak jitu siap melubangi kepala tukang sihir mereka."

Laporan terus berdatangan dari pasukan Ahmed yang tersebar di area gudang. Tim pengintai mereka pun juga sudah kembali dan mereka bergabung dengan anggota pasukan lain yang sudah membentu garis pertahanan di sekitar gudang.

"Bagus semuanya… dengan pertolongan Allah, insyaAllah kita akan bertahan dan memenangkan pertempuran ini. Kerahkan semua kemampuan kalian! Kita akan bertahan di sini sampai titik darah penghabisan terakhir. Pilihan kita hanya dua, menang atau syahid, dan keduanya adalah sebaik-baik pilihan untuk kita."

"""[bzzz] Siap kapten!"""

Ahmed kembali menatap melalui teropongnya. Jarak antara bangunan gudang dengan gerbang masuk area gudang adalah 50 meter. Jarak yang cukup dekat untuk pasukan Leonia mendekat dengan cepat. Di samping Ahmed, Karim tidak melepaskan pandangannya dari bidikan senapannya.

"Kita tidak boleh memberikan mereka kesempatan untuk mendekat ke posisi kita."

"Apa kau tidak suka pertarungan jarak dekat kapten?"

"Jumlah kita sangat tidak diuntungkan dibanding jumlah mereka Karim. Kita akan dibanjiri oleh pasukan mereka sesaat setelah pasukan mereka berhasil mendekat ke posisi kita. Bila saat itu tiba, maka saat itu juga kita akan dikalahkan."

Mereka berdiam di sana beberapa menit sebelum akhirnya suara derap langkah kaki yang berbaris bisa terdengar oleh mereka.

"Mereka datang." Bisik Ahmed yang diangguki oleh Karim.

"Mubarizun 1 – 3, bersiap untuk meledakkan bomnya."

Tak lama kemudian mereka dapat melihat barisan tombak dan juga bendera pasukan Leonia yang bergerak dari balik tembok. Barisan itu bergerak dan mulai memasuki jalan masuk pelataran gudang dengan perisai terangkat dan tombak diarahkan ke posisi pasukan Ahmed.

"Tahan… tahan…"

Barisan Leonia yang sudah memasuki tembok mulai menyebar membentuk barisan lagi di dalam area tembok. Di belakang infantri, pasukan berkuda atau kavaleri juga mulai memasuki pelataran. Jumlah pasukan yang memasuki pelataran mungkin sudah mencapai angka ratusan saat ini. semua pasukan Ahmed mengarahkan senapan mereka dangan jari yang siap menarik pelatuknya kapan saja. mereka siap menarik pelatuk itu dan hanya menunggu perintah Ahmed untuk melakukannya.

"Mubarizun 1 – 3, ledakkan mereka"

"[bzzz] Dimengerti."

Click

BOOMM DUAARR

Dalam waktu sedetik, pelataran bagian depan yang sudah dipenuhi oleh pasukan Leonia tiba-tiba meledak, menghabisi ratusan pasukan Leonia yang berada di dalam pelataran area gudang. Setelah ledakan itu mereda, hanya sedikit sisa-sisa tubuh pasukan Leonia yang dapat terlihat. Pemandangan yang sungguh mengerikan dimana terdapat ratusan organ dan bagian tubuh manusia yang terlempar kemana-mana. Ledakan itu untungnya tidak sampai menghancurkan tembok gudang, sehingga tembok itu tetap menghalangi pasukan Leonia yang masih di luar.

"Semua pasukan, mulai menembak!"

"""ALLAHU AKBAR!"""

Di awali dengan takbir, anggota pasukan Ahmed pun mulai menembak ke arah pasukan Leonia. Dari belakang gudang, Ahmed bisa mendengar bunyi BUMPyang menandakan kelompok mortar mulai menembakkan mortarnya. Ada 6 anggota kelompok mortar yang mengoperasikan 1 mortar per dua orangnya.

Selanjutnya, suara ledakan yang saling susul menyusul mulai muncul di balik tembok. Ahmed yakin, Leonia sudah kehilangan salah satu pimpinan perang mereka di ledakan pertama. Namun tampaknya mereka tidak hanya memiliki satu pemimpin saja, terlihat dari pasukan Leonia yang tadinya panik mulai berbaris lagi dan memasuki jalan masuk pelataran sambil berlari kecil.

Baru saja mereka masuk, mereka langsung disambut oleh berbagai rentetan senapan. Pasukan infantri Leonia yang berbaris mulai berjatuhan layaknya domino. Pasukan paling depan mati tertembak di satu titik, lalu ketika pasukan di belakanya melangkah di titik yang sama, meraka juga akan mati di tempat yang sama, membuat mereka menciptakan tumpukan mayat sendiri.

"Semuanya berlindung."

Ahmed melihat anak panah beterbangan dari balik tembok dan meminta anggotanya untuk berlindung semua. Anak panah itu menghujani mereka beberapa saat.

"Ada yang terluka?"

"[bzzz] Di sini Mubarizun 1 – 4, tidak ada korban jiwa.

"[bzzz] Di sini Mubarizun 1 – 3, semuanya baik-baik saja.

"[bzzz] Mubarizun 1 – 6, rompiku terkena anak panah, untungnya anak panah itu tidak menembus ke dalam."

"Semuanya, kembali menembak!"

Pasukan Ahmed kembali menghujani peluru ke arah barisan Leonia. Kali ini tentara Leonia mencoba mengangkat perisai mereka untuk menangkis tembakan Ahmed dan pasukannya. Sayangnya perisai itu tidak cukup kuat untuk bisa menahan peluru 7.62 mm dari pasukan Ahmed. Peluru itu menembus perisai tentara Leonia bagaikan pisau panas membelah mentega. Barisan terdepan Leonia kembali berjatuhan. Mereka membayar setiap inci melewati pelataran gudang dengan belasan atau bahkan puluhan nyawa.

Belum lagi letupan dari mortir yang meledak di bagian belakang barisan mereka membuat mereka semakin kacau dan porak poranda.

"[bzzz] Di sini Mubarizun 1 – 2, aku melihat pasukan berkuda Leonia yang ada di belakang mulai maju ke depan."

"Diterima Mubarizun 1 – 2, setelah mereka memasuki zona merah kita, aku ingin kau meledakkan peledak gelombang kedua."

"Baiklah Mubarizun 1 – 1, kami akan membuat mereka menyesal untuk dilahirkan menjadi Leonia."

Ahmed terus menembak, mencoba membidik perwira dan tukang sihir Leonia atau pun infantri biasa yang mencoba bergerak maju lagi.

"[bzzz] kapten, tukang sihir Leonia mulai membuat golem raksasa!"

Benar saja, setelah mendapat laporan dari Fahmi, Ahmed dapat melihat golem raksasa setinggi lima meter yang merobohkan salah satu sisi tembok, memberikan jalan masuk untuk pasukan Leonia yang lain. Ada 4 golem raksasa yang melakukan hal sama di bagian tembok lain. Kali ini, tentara Leonia memiliki 6 jalan masuk melalui tembok untuk memasuki wilayah pelataran gudang.

"Ouh, sepertinya ini akan menjadi semakin seru saja. Mubarizun 1 – 2, bisakah kau menemukan tukang sihir yang mengendalikan golem itu?"

"[bzzz] aku hanya bisa menemukan 1 saja kapten, yang lainnya terlihat lebih pandai bersembunyi. Aku akan menembaknya sekarang."

Tak lama kemudian salah satu golem itu jatuh menjadi potongan batu-batu besar, menghalangi jalan masuk yang baru saja dibuatnya beberapa detik lalu.

"Ismail, Thariq, Gunakan AR3 dan ledakkan golem itu."

"[bzzz] baik kapten!"

Selanjutnya, dua roket kecil meluncur dari dua titik pertahanan yang berbeda. Meledakkan dua golem lainnya. Kedua golem itu meledak dan hancur menjadi tumpukan batu-batuan seperti golem pertama, menghalangi jalan masuk yang mereka buat. Kali ini tinggal dua golem yang tersisa dan mulai berjalan maju menjauhi runtuhan tembok yang dibuatnya. Ismail dan Thariq kembali menembakkan peluncur roket mereka, membuat dua golem terakhir bernasib sama menjadi tumpukan batu.

Sayangnya reruntuhan batu dari dua golem terakhir tidak menutupi lubang tembok yang dibuatnya. Golem itu sudah terlanjut melangkah cukup jauh dari lubang tembok sehingga sisa tubuhnya sendiri tidak menutupi tembok. Dari dua lubang tembok itu, pasukan berkuda Leonia mulai bergerak memasuki pelataran gudang. Pasukan Ahmed harus memecah fokus tembakan mereka ke dua lubang yang lain. Hal ini membuat pasukan Leonia yang berada di tengah memiliki sedikit kesempatan untuk mulai bergerak maju lagi meskipun mereka masih sangat kesulitan dan korban mereka masih banyak berjatuhan.

Terlepas dari korban mereka yang banyak berjatuhan, pasukan berkuda Leonia mulai bergerak maju. Mereka menggunakan baju besi yang lebih lengkap dibanding infantri atau pun pasukan berkuda lainnya. Ahmed dengan mudah dapat menyimpulkan bahwa mereka bukan pasukan berkuda biasa, mungkin anggota ordo "kesatria" atau semacamnya. Regu Ahmed sendiri pernah dikejar oleh salah satu dari mereka yang dijuluki "Chevalier de Mort". Mungkin yang satu ini berbeda dengan yang sebelumnya karena seragam mereka juga berbeda.

Beberapa di antara pasukan berkuda itu mengangkat pedang runcing mereka dan mengarahkannya ke posisi pertahanan pasukan Ahmed. Pedang runcing itu mulai mengeluarkan cahaya putih, lalu tak lama kemudian.

FLUSH FLUSH FLUSH

Mereka menembakkan tembakan sihir berupa kilatan cahaya, kilatan petir, atau bola api kecil.

"[bzzz] Awas serangan!"

Pasukan di salah satu titik pertahanan terkena hantaman bola api. Ledakan bola api itu setara dengan ledakan RPG.

"Semuanya baik-baik saja?"

"[bzzz] huh, kami baik-baik saja kapten. Itu tadi hampir saja. Semuaya kembali menembak dan habisi mereka."

"Mubarizun 1 – 2, ledakkan mereka sekarang!"

"[bzzz] baik kapten!"

Beberapa detik kemudian.

DUARRR DUARR

Para kesatria itu diselimuti oleh ledakan besar lainnya. Ahmed yakin tidak ada kesatria yang bisa selamat dari ledakan semacam itu, dan benar saja ketika asap ledakan mulai menghilang, yang tersisa hanyalah tumpukan mayat atau pun organ dan bagian tubuh manusia yang berceceran.

"[bzzz] kapten, pengguna sihir dan pemanah mereka mulai menembak balik ke arah kita. Mereka sepertinya sudah hampir menyerah untuk bergerak mendekat ke kita dan memilih bertempur jarak jauh saja."

"Mereka sepertinya mulai beradaptasi kawan-kawan. Terus tembaki mereka dan jangan berikan mereka kesempatan melawan balik! Pertarungan ini semakin lama semakin mirip dengan perang modern."

"[bzzz] siap kapten… ayo teman-teman, tembakan terus senjata kalian! Tidak perlu menghemat peluru, kita punya cukup persediaan untuk perang terus-terusan selama 3 hari. Tunjukkan pada mereka apa yang bisa kalian lakukan!"

"[bzzz] di sini Mubarizun 1 – 4, kaki Syarif terkena anak panah! Seseorang panggilkan medis!"

"[bzzz] Arrghh, tanganku! Medisss… medisss….."

"Kapten, pihak kita mulai mendapat korban. Serangan mereka sepertinya jauh lebih intens dari yang kita duga."

"Kau benar Karim… pemimpin mereka di kota ini sepertinya tidak sama dengan pemimpin perang yang pernah kita hadapi."

Keduanya menembak, membidik setiap tukang sihir yang bisa mereka temukan. Beberapa anak panah dan kilatan sihir juga mengarah ke posisi Ahmed dan Karim. Untungnya posisi keduanya tergolong memiliki perlindungan lebih kuat dibanding posisi lain.

"Awas bola api!" Teriak Ahmed.

Sebuah bola api ukuran sedang menuju ke arah mereka. Ahmed dan Karim berlindung di balik tumpukan karung pasir mereka. bola api itu menghantam ke karung pasir tanpa mencederai keduanya.

"Kau baik-baik saja kapten?"

"Aku baik-baik saja. Heheh, ini pertama kalinya aku merasa benar-benar berperang lagi setelah berbulan-bulan lamanya."

Cecilia dan para warga lainnya yang berlindung di bawah tanah hanya bisa duduk meringkuk sambil saling merapat satu sama lain. kedua tangan mereka melingkari kepala mereka sendiri-sendiri. Ini pertama kalinya mereka mengalami pertempuan yang menimbulkan suara-suara yang sangat nyaring dan keras hingga membuat telinga mereka sakit. Ditambah lagi tanah di sekitar mereka terus bergetar dan membuat gedung seolah akan runtuh.

Awal pertempuran saja sudah ditandai dengan ledakan besar, lalu ledakan-ledakan lainnya terus bermunculan dan saling susul menyusul. Cecilia sudah pernah melihat secara langsung bagaimana tentaranya berperang atau pun bergerilya melawan Leonia. Namun tidak pernah sebelumnya pertempuran-pertempuran itu menimbulkan suara-suara keras seperti ini meskipun di peperangan skala besar sekali pun dengan jumlah pasukan yang mencapai ratusan ribu.

Cecilia penasaran bagaimana jalannya pertempuran di atas sana. di samping itu Cecilia juga khawatir dengan keadaan "kesatria tanpa kuda"-nya. Tapi di sisi lain Cecilia ketakutan. Mendengar suaranya saja rasanya Cecilia bisa membayangkan betapa sengitnya pertempuran di atas sana. Pikiran Cecilia terus menimbang-nimbang, apakah dia harus pergi ke luar sana, atau dia tetap di sini?

Tapi aku tidak bisa diam saja di sini. Aku juga harus melakukan sesuatu. Ini juga demi rakyatku yang berada di sini. Aku ingin dapat melakukan sesuatu dan membantu pasukan hitam di pertempuran mereka.

Cecilia mencoba memantapkan perasaannya sekali lagi. kepalanya mengangguk setelah mendapat kemantapan dan akhirnya Cecilia membuat pilihannya. Tubuhnya yang tadi duduk meringkuk mencoba berdiri dan berjalan ke arah pintu ruangan. Orang-orang lain di dalam sana yang sempat memandang ke arah Cecilia tidak dapat memahami apa yang ingin Cecilia lakukan, pada akhirnya mereka hanya dapat meringkuk ketakutan lagi ketika terdapat ledakan bom lain yang lagi-lagi membuat tanah di sekitar mereka bergetar.

Di dalam gudang, Sylvania dan Faruq merawat anggota Ahmed yang terluka sekitar 5 orang yang dirawat di sana.

"Sylvania, aku ingin kau mengambil kain kasa dan menekan lukanya sebelum aku mencabut anak panahnya."

"Baik…!"

Sylvania mengambil kain kasa, lalu ditekannya kain itu untuk mencegah pendarahan Aryan, salah satu regu Ahmed yang terkena tembakan panah.

"Kau siap Aryan?"

"Lakukan Faruq! Aku ingin segera kembali bertempur!"

"Kau tahu seharusnya prajurit yang terluka tidak perlu kembali ke medan tempur sebelum pulih kan?" Ucap Faruq mencoba mencegah Aryan.

"Kau tahu istilah "mengejar syahid" kan Faruq?" Aryan membantah membuat Faruq tersenyum kecut.

"Baiklah, ini dia, satu, dua, tiga."

"Arrggghh".

Faruq mencabut anak panah itu sekali cabut. Seketika darah bercucuran dari luka dimana anak panah itu sebelumnya berada.

"Sylvania, cepat sekarang! Gunakan kemampuanmu untuk menghentikan pendarahannya!"

"Ah, baiklah!"

Sylvania mengarahkan telapak tangannya ke luka Aryan. Selanjutnya muncul cahaya putih samar yang membuat pendarahan Aryan berhenti.

"Maaf, Aku hanya bisa mengeringkan lukanya saja. membuat lukanya sembuh akan menguras banyak energi Manaku." Keluh Sylvania.

"Tidak apa-apa, itu sudah cukup. Yang penting kita bisa menghentikan pendarahannya. Sekaran ikat lukanya dengan kain perban."

"Baik!"

Sylvania mengikat luka Aryan dengan kain perban. Sejauh ini Sylvania memang masih belum berpengalaman dalam medis selain menggunakan kemampuan energi Mananya. Tidak banyak kesempatan di mana Sylvania bisa terjun langsung menangani luka korban perang. Yang pernah dia lakukan sebelumnya hanyalah merawat korban-korban lain yang sudah dirawat oleh petugas medis lain. Karena itu Faruq perlu banyak menuntunnya untuk memberi tahu apa yang harus Sylvania lakukan.

"Baiklah Aryan, usahakan jangan biarkan kakimu terkena anak panah lagi. Kau boleh kembali ke medan jika kau mau sekarang."

"Terima kasih Faruq!"

Aryan langsung berdiri dan mengambil senjatanya, lalu berjalan keluar dari gudang menuju pos pertahanannya sambil tertatih-tatih. Faruq hanya bisa menggeleng ketika Aryan berjalan sambil sedikit terpincang-pincang.

"Aku tidak mengerti, kenapa dia masih merasa kesakitan? Bukannya kamu memberikan obat pereda rasa sakit?"

"Aku memberinya dosis kecil, itu artinya dia masih bisa merasakan kesakitan meskipun rasa sakit itu tidak seburuk ketika tidak menggunakan obat, karena dia ingin segera kembali ke medan. Bila aku memberinya dosis standar, kakinya akan mati rasa dan dia bahkan tidak akan dapat berjalan selama beberapa jam ke depan."

"Oh, aku mengerti."

Keduanya berpindah posisi ke prajurit lain yang terluka.

"Baiklah, selanjutnya luka bakar di pinggang karena bola api. Sepertinya Zaid tidak sadarkan diri. Ini akan sedikit mempermudah kita."

Sylvania mengangguk.

"Baiklah, aku ingin kau mengambil-"

"SYLVANIA!"

Sylvania dan Faruq langsung menoleh ke sumber suara yang memanggil Vania di belakang mereka.

"Heh? Cecilia? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sylvania.

"Dimana Ahmed?"

"Ahmed ada di lantai dua 2, bukankah kau sedang-"

"Terima kasih!"

Cecilia langsung pergi ke lantai dua gudang tanpa mendengar kelanjutan kata-kata Sylvania.

"Hei tunggu! Dasar anak ituuu…!"

"Sepertinya kau baru saja mendapat saingan ya Sylvania." Ucap Faruq sambil sedikit terkekeh

Sylvania tertunduk murung.

"Huh, padahal kami belum lama menikah."

"Jangan khawatir, Ahmed tidak akan semudah itu berpindah hati. Lagipula seorang muslim juga tidak boleh menikah dengan non-muslim. Ayo, kita masih ada pekerjaan yang perlu ditangani."

"Karim, berapa lama lagi pasukan bantuan kita akan datang?"

"20 menit lagi kapten,"

"Jarak pertahanan kita dengan mereka hanya 20 meter. Kalau begini terus, pasukan jarak dekat mereka akan mulai merepotkan kita".

"Mubarizun 1 – 2, siapkan gelombang ke-tiga."

"[bzzz] siap kapten."

Ahmed kembali menembaki pasukan Leonia. Bidikannya mengarah ke seorang tukang sihir yang sedang mengarahkan tongkatnya. Tongkat itu bersinar dan tidak lama lagi akan mengeluarkan sihirnya. Sayangnya itu tidak pernah terjadi karena Ahmed lebih dulu melubangi kepala tukang sihir itu. Bidikannya terarah ke sisi lain, di mana banyak segerombolan pemanah yang berlindung di balik bebatuan bekas golem dan menembakkan anak panah mereka. Ahmed menembakkan rentetan pendek beberapa kali, menghabisi pemanah itu dengan cepat satu demi satu.

"AHMED!"

Suara yang memanggilnya dari belakang membuat Ahmed menolehkan kepalanya ke belakang.

"Cecilia?"

"Ahmed, kau tidak apa-apa? Apa kau terluka? Apa ada yang bisa kubantu?"

"Cecilia? Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tetap di bawah tanah dan menyerahkan ini semua kepada kami?"

"Aku… tidak bisa diam saja, aku ingin membantu, kumohon, biarkan aku membantu apa saja!"

"Cecilia, cepat, kembalilah ke-"

"Awas Serangan!" Teriak Karim yang berada di samping Ahmed.

DUARRR

Sebuah bola api mengenai posisi mereka, bola api itu hanya mengenai karung pasir tempat perlindungan Ahmed seperti sebelumnya. Ahmed memegangi pundaknya yang ternyata berdarah. Sepertinya ada serpihan kayu yang membuatnya terluka gara-gara ledakan itu.

"AHMED!"

Cecilia panik dan langsung menghampiri Ahmed.

"Arrggh, mereka terlalu dekat. Mubarizun 1 – 2, ledakkan mereka sekarang!"

"[bzzz] Baik kapten."

Beberapa detik kemudian, muncul 4 ledakan besar di pelataran. Peledak gelombang ke-3 sekaligus terakhir yang sudah mereka tanam. Cecilia meringkuk sambil menutupi telinganya. Suara ledakan itu benar-benar membuat telinganya berdengung. Cecilia tidak berani membayangkan bagaimana rasanya terkena ledakan sebesar itu. Sambil sempoyongan, Cecilia mencoba kembali berdiri dan menghampiri Ahmed.

"Ahmed, kau tidak apa-apa?"

Cecilia panik melihat luka Ahmed, namun tidak tahu harus berbuat apa. Tangan Ahmed mengambil sebuah perban di salah satu kantongnya, lalu berniat untuk membalut lukanya dengan satu tangan. Namun dengan tanggap Cecilia merebut perban itu dan langsung melilitkannya di luka Ahmed.

"Ugh, terima kasih."

Ahmed mengambil senjatanya lagi dan kembali menembak ke arah barisan Leonia. Karena ledakan itu, posisi pasukan Leonia kembali mundur 30 meter dari lokasi pasukan Ahmed.

"Hey, apa itu?"

Cecilia bertanya sambil menunjuk ke sebuah tongkat kecil yang diikatkan di pinggang Ahmed.

"Ah, awalnya aku berniat memberikannya ke Sylvania, tapi karena Sylvania tidak membutuhkan tongkat sihir, aku masih membawanya sampai sekarang."

"Berikan padaku!" Pinta Cecilia.

Ahmed terlihat ragu-ragu untuk memberikannya ke Cecilia. Namun akhirnya Cecilia mengambilnya dari pinggang Ahmed dengan tangannya sendiri, lalu mengarahkan ke luar di mana pasukan Leonia berada.

"FireBall!".

Dengan hanya mengucapkan itu, terbentuklah sebuah bola api yang ukurannya dua kali lebih besar dari bola api yang selama ini diarahkan ke Ahmed dan pasukannya. Bola api buatan Cecilia melaju ke arah posisi Leonia dengan cepat dan meledak membunuh sekitar 10 orang pemanah Leonia. Setelah mengeluarkan sihir itu, Ahmed dapat melihat Cecilia sedikit terengah-engah sambil berusaha menormalkan napasnya.

"Kau terlihat kelelahan." Ujar Ahmed.

"Sihir FireBall sebesar itu yang dikeluarkan dengan mantra pendek memiliki efek samping menghabiskan banyak energi sihir. Tapi tidak apa-apa, aku masih memiliki energi sihir yang cukup banyak."

Cecilia kembali mengarahkan tongkat sihir itu, kali ini menembakkan bola api kecil beberapa kali. Ahmed bangkit lagi dan kembali menembakkan senapannya.

"Sudah cukup Cecilia! Kembalilah bersama yang lain!"

"Tidak, aku ingin bersamamu di sini!" Cecilia meneruskan kegitannya menembakkan bola api, membuat Ahmed menghela nafas.

"Sylvania pasti akan marah lagi kepadaku." Gumam Ahmed.

Mereka bertempur kembali menahan gempuran pasukan Leonia. Kali ini pasukan Leonia yang membawa senjata jarak dekat berlari menghambur sambil menyebar. Mereka tidak lagi berbaris rapi seperti tentara abad pertengahan yang terlatih, tapi terlihat seperti orang barbar yang tidak disiplin dan bergerak secara acak. Namun hal itu lah yang menyulitkan pasukan Ahmed.

Pasukan Ahmed mau tidak mau harus memfokuskan tembakan mereka ke pasukan Leonia yang berusaha mendekat dengan cepat. Beberapa diantaranya bahkan sudah mencapai titik pertahanan pasukan Ahmed meskipun setibanya di sana mereka langsung ditebas oleh pisau dan pedang yang dibawa pasukan Ahmed atau ditembak dari jarak dekat.

"Mereka kembali beradaptasi lagi dan menemukan teknik baru. Ini semakin menyulitkan kita." Keluh karim sambil terfokus menjatuhkan sebanyak mungkin pasukan yang berlari ke garis pertahanan mereka.

"Sial, andai saja kita punya artileri."

Cecilia yang tidak tahu isi pembicaraan Ahmed hanya bisa mengabaikannya. Energi sihirnya mulai terkuras dan Cecilia juga mulai kelelahan dengan keringat yang terlihat mengucur deras dari wajahnya.

"[bzzz] disini Mubarizun 1 – 2, aku melihat penunggang naga musuh mendekat."

"Mereka benar-benar menggunakan senjata pamungkas mereka di waktu yang tepat. Ismail, Thariq, aku ingin roket anti udara menghajar mereka."

"[bzzz] di sini Ismail, Thariq terluka kapten aku akan meminta Hamzah untuk menggantikannya."

GROARRR

Dari langit, terlihat 10 pengendara naga Wyvern. Mereka melayang-layang di atas posisi pasukan Leonia.

"Mereka datang, Ismail, sekarang!"

Dua dari penunggang naga itu mengarahkan pedang runcingnya yang mulai mengeluarkan cahaya putih. Ahmed dapat melihat pedang itu mengarah langsung ke posisinya. Tapi belum sempat pedang itu mengeluarkan sihir, dua roket menghantam mereka, membuat naga dan penunggangnya terjatuh mengenai orang-orang Leonia di bawah mereka.

"Hebat, kalian bisa menjatuhkan penunggang naga secepat itu?"

2 naga lain memecah formasi dan kali ini mencoba menyerang posisi Ismail dan Hamzah yang berbeda. Tariq dan Ismail kembali meluncurkan roket dan menghantam keduanya. Tinggal enam tersisa. Salah satunya bergerak dan kembali membidik posisi Ahmed.

Cecilia yang menyadari itu segera mengarahkan tongkatnya sendiri ke arah penunggang itu, lalu merapalkan mantra yang sedikit panjang sebelum melepaskan bola api kecil. Penunggang itu membatalkan serangannya dan bergerak menghindari bola api Cecilia. Namun dengan tangan Cecilia yang masih terulur dan memegang tongkat, Cecilia mengendalikan bola api itu dan mengarahkannya langsung ke penunggang naga seperti rudal yang sudah mengunci sasarannya.

Penunggang naga ke-lima akhirnya jatuh menyisakan lima naga yang tersisa. Sayangnya tiba-tiba kelima naga itu tiba-tiba membentuk formasi di depan posisi Ahmed dan bersama-sama mengarahkan tongkat mereka.

"Ismail, kenapa roketnya belum datang juga?"

"[bzzz] kapten, pasukan berpedang Leonia mulai mencapai posisi kami. Salah satunya sedang beradu pedang denganku."

Di samping Ahmed, Cecilia jatuh terduduk sambil terengah-engah. Membuat bola api yang dapat diarahkan seperti itu menghabiskan lebih banyak energi dari pada bola api besar yang pertama. Mata Cecilia hanya dapat menatap nanar terhadap 5 naga yang sebentar lagi akan melepaskan sihir mereka.

"Maaf Sylvania, sepertinya kita harus berpisah lebih cepat dari yang aku duga." Ahmed merasa waktunya sudah tiba dan matanya pun dipejamkan, menyiapkan diri.

BRRTTTTTT BRRRTTTTT

BOOM BOOM BOOM

Ahmed mendengar suara ledakan dan suara rentetan yang tidak asing. Di samping itu serangan dari para penunggang naga pun juga tidak pernah datang.

"[bzzz] Di sini Qomar 4, kelihatannya kalian butuh bantuan di bawah sana."

Ahmed membuka matanya. Apa yang ada di depannya sekarang bukanlah naga, tetapi sebuah helikopter H-2 Ababil. Hal ini membuat Ahmed langsung menghela napas panjang. Padahal dirinya sangat yakin sekali jika waktunya di dunia mungkin telah habis, tapi ternyata dirinya masih diberi waktu untuk hidup lebih lama.

"Di sini Mubarizun 1, kami benar-benar membutuhkan bantuan, pasukan Leonia mulai beradaptasi dan berhasil memojokkan kami."

"[bzzz] baiklah Mubarizun 1, untuk sekarang beristirahatlah dan biarkan kami yang menangani sisanya."

Helikopter itu berbalik, lalu menembakkan senapan mesin dan juga roketnya ke arah pasukan Leonia. Beberapa serangan sihir bola api, es, dan batu runcing mulai beterbangan mengarah ke helikopter itu. Namun semuanya dihindari dengan mudah. Salah satu bola api berhasil mengenai sampingnya dan hanya meninggalkan bekas gosong tanpa adanya kerusakan. H-2 Ababil benar-benar menunjukkan reputasinya sebagai tank terbang.

Cecilia hanya dapat memandangi helikopter itu dengan mulut terbuka seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Aku dengar bahkan peluru 12,7 mm saja tidak dapat menembus helikopter itu." Ujar Karim yang juga terduduk lemas tidak jauh dari tempat Ahmed berada.

Tidak lama kemudian, pasukan Leonia yang tersisa benar-benar babak belur oleh serangan Ababil. Selanjutnya dari belakang gudang, 4 helikopter Ababil lain dan 10 Helikopter Saqr datang menyusul. Helikopter Ababil yang baru datang melayang di atas pelataran yang dipenuhi lubang-lubang bekas ledakan. Ke 4 helikopter ababil menurunkan tali dan dengan tali itu pasukan Ghazi turun ke bawah dari dalam helikopter.

Helikopter Saqr juga mengangkut pasukan seperti halnya Ababil, hanya saja helikopter Saqr harus mendarat untuk menurunkan pasukan yang diangkutnya. Pasukan Ghazi yang baru datang langsungmenyebar mengambil posisi dan mengamankan area gudang yang menjadi markas kecil Ahmed.

"Ahmed, apa mereka semua pasukan dari negerimu?"

"Benar."

"kenapa kalian tidak pernah bilang kalau kalian punya banyak naga yang lebih hebat bahkan dari Leonia sekalipun?"

"Karena kami memang tidak punya."

Cecilia memandang bingung jawaban Ahmed. Kalau yang melayang-layang di udara saat ini bukan naga, lalu apa mereka? Ahmed sendiri tidak mencoba menjelaskan lebih jauh dan hanya diam tersenyum sambil melihat bala bantuannya datang.

"AHMED! KAU TIDAK APA-APA?"

Dari belakangnya, Sylvania datang sambil memanggilnya. Ahmed menoleh ke Sylvania dan hanya mengangguk tanpa menghilangkan senyumannya. Melihat Ahmed tersenyum, Sylvania pun hanya bisa ikut tersenyum.

Hari itu pertempuran mereka telah usai. Atau setidaknya itu yang mereka pikir terjadi.