Part 22 Armada Laut
Pasukan Ghazi yang baru datang pun mengambil posisi membentuk perimeter di sekitar area gudang sambil menembaki pasukan Leonia yang masih tersisa. Helikopter Saqr dan Ababil yang ada di atas tidak berhenti memuntahkan peluru dan roketnya ke arah pasukan Leonia yang sudah kocar-kacir dan mulai mundur. Ahmed mulai menerima laporan-laporan kekalahan Leonia dari para bawahannya.
"[bzzz] pasukan leonia mulai mundur, pelataran gudang berhasil kita amankan kapten." Ujar Fahmi melalui radio yang dapat didengar oleh Ahmed.
"[bzzz] di sini Qomar 4, area udara sudah kami amankan dari wyvern."
"""ALLAHU AKBAR"""
Pasukan Ahmed yang melihat orang-orang Leonia mundur mengumandangkan takbir bersahut-sahutan sambil mengangkat senjata mereka.
Ahmed yang tadinya duduk berlindung di belakang karung pasir sekarang berdiri dan mengamati akhir dari pertempuran mereka di gudang ini. Ketika pandangannya terarah ke bawah, Ahmed dapat melihat sebagian anggota pasukannya memakai perban di beberapa bagian tubuh mereka. Mungkin pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran tersulit yang pernah dilaluinya semenjak mereka memasuki Al Jisr.
"Aku dengar kapten Ahmed Kuzey ada di sini?" terdengar seseorang mencari Ahmed dari belakangnya membuat Ahmed membalikkan badannya bersama Sylvania, Cecilia, dan Karim.
"Aku kapten Ahmed Kuzey, ada perlu apa letnan?" Ahmed bisa langsung tahu pangkat orang itu dari badge pangkat yang ada di seragamnya. Orang yang dipanggil letnan itu pun langsung menghormat ke arah Ahmed.
"Saya Letnan Malik melapor untuk dipindahkan di bawah pimpinan kapten Kuzey bersama dengan Letnan Zainudin, Letnan Abdurrahman, dan seluruh sisa dari kompi J yang baru datang kemari."
"Baiklah, untuk saat ini situasinya bisa kau lihat sendiri, orang-orangku sedikit kelelahan. Aku ingin regu kalian mengamankan area gudang dan mendaratkan helikopter untuk dapat mengangkut dan mengantar para pengungsi yang tersisa. Saat ini mereka ada di ruang bawah tanah yang akan ditunjukkan oleh Faruq."
"Baik kapten, akan segera saya laksanakan."
Letnan Malik pun menurunkan tangannya yang tadi menghormat dan hendak berbalik. Namun belum selesai berbalik, Ahmed kembali memanggilnya.
"Letnan, apa hanya ini pasukan Kompi J yang dikirim dari markas?"
"Ah, tidak kapten. Masih ada beberapa peleton yang dalam perjalanan kemari bersama sekitar 1 batalion lapis baja dan 2 batalion infantri. Mereka yang nantinya akan mengambil alih kota ini secara penuh. Untuk sementara perintah dari kolonel adalah mempertahankan posisi ini sampai mereka datang."
Ahmed pun mengangguk dan mempersilahkan letnan Malik pergi menjalankan perintah yang sebelumnya dia berikan. Mendengar kabar bantuan pun Ahmed menghembuskan napas lega.
"Karim, bagaimana laporan korban di pihak kita?"
"Separuh dari pasukan kita mendapatkan luka kapten. 20 luka ringan dan 5 luka berat."
"Luka berat ini, apa disebabkan oleh bola api musuh?"
"Benar, 4 orang terkena tembakan bola api langsung di posisi mereka. sedangkan 1 orang terkena anak panah di kakinya yang menyebabkan pendarahan banyak. Untungnya Faruq dan Sylvania berhasil menyelamatkannya tepat waktu."
Mendengar nama Sylvania disebut, Ahmed pun menoleh ke arah Sylvania yang hanya menampilkan senyumnya saja tanpa berkata apa-apa. Hal ini membuat Ahmed ikut tersenyum. Senyuman di bibir Sylvania adalah salah satu hal yang paling Ahmed sukai akhir-akhir ini dan Ahmed pun tidak pernah bosan melihatnya. Tangan Ahmed bergerak mengusap kepala Sylvania.
"Kerja bagus Sylvania. Kau benar-benar membantu kami. Tanpamu mungkin kami sudah mendapat beberapa korban jiwa."
Sylvania menggeleng kecil.
"Tidak masalah, ini bukan apa-apa. Lagipula semua ini juga bagian dari pertolongan Allah."
Tanpa keduanya sadari, Karim sudah pergi meninggalkan mereka yang tenggelam dalam suasana mesra karena tidak ingin mengganggu. Tapi sayangnya masih ada satu orang yang tersisa di ruangan itu sambil sedikit menggeram dan mengepalkan tangannya karena melihat dua orang yang tenggelam di dunia mereka sendiri. Cecilia yang tidak memahami bahasa Arab pun juga tidak dapat memahami apa yang dikatakan Ahmed.
"Apa-apaan mereka berdua, bermesraan di tempat seperti ini dan melupakan keberadaanku. Guh, padahal aku yang tadi lebih dulu kemari. Tapi malah…"
Beberapa menit setelah Ahmed dan Sylvania saling berpandangan, tiba-tiba Ahmed mengingat keberadaan Cecilia dan dengan sedikit terkejut menoleh ke arah Cecilia.
"Ah, Cecilia kau masih di situ ternyata!"
"Apa maksudmu 'masih di situ'? dari tadi aku sudah di sini!"
Ahmed dan Sylvania yang mendengarkan protes Cecilia tertawa kecil membuat Cecilia menggembungkan pipinya. Cecilia yang sekarang benar-benar terlihat seperti anak seusianya pikir Ahmed.
"Tapi, kemampuanmu ternyata hebat juga Cecilia, apalagi menggerakkan bola api seperti itu tadi. Semenjak berada di dunia ini, aku belum pernah melihat yang seperti itu." Kali ini Ahmed memuji membuat Cecilia terkejut dan sedikit tersenyum.
"Benar, aku juga belum pernah melihat teknik yang seperti itu, bahkan di daerah elf sekalipun." Sylvania ikut memuji membuat Cecilia semakin melebarkan senyumnya.
"Tentu saja, aku kan pengguna sihir api terhebat di Scotia. Yang seperti tadi memang sangat jarang yang bisa melakukannya selain aku." Cecilia memuji dirinya sendiri sambil bersendekap dada.
"Hou, aku baru mendengarnya itu. kenapa kau tidak bilang dari kemarin-kemarin kalau kau pengguna sihir api?" Ahmed bertanya sambil memicingkan matanya.
"Karena Ahmed dan yang lainnya tidak bertanya, jadi aku merasa tidak perlu memberitahu kalian." Jawab Cecilia enteng, lalu ditanggapi oleh Sylvania.
"Ah aku baru teringat tentang orang-orang yang pernah berbicara bahwa salah satu anak raja Scotia adalah pengguna sihir berbakat yang hanya muncul setiap 100 tahun sekali. Aku tidak menyangka bahwa itu kau Cecilia."
Mereka bertiga terus berbicara terkait sihir yang bisa digunakan oleh Cecilia. Ahmed membayangkan jika sihir seperti itu ada di pihak musuh, mungkin akan sangat berbahaya sekali mengingat mereka dapat menjatuhkan helikopter pasukan Ghazi. Tapi seperti kata Sylvania, Cecilia adalah salah satu tipikal yang sangat langka dan kemungkinan musuh mereka memiliki orang yang seperti Cecilia cukup kecil.
Tidak lama kemudian, letnan Malik kembali menemui Ahmed dan melaporkan helikopter yang sudah mengangkut penduduk dan siap berangkat.
"Cecilia, aku ingin kau ikut naik helikopter bersama penduduk yang lain dan pergi duluan." Pinta Ahmed ke Cecilia.
"Tapi, bagaimana denganmu Ahmed? Kau tidak akan ikut?"
"Masih ada beberapa hal yang harus aku lakukan di sini. Pasukanku juga membutuhkanku."
Mendengar jawaban Ahmed, Cecilia pun menggeleng.
"Kalau begitu, aku juga akan tetap di sini bersamamu."
Ahmed terkejut mendengar jawaban Cecilia. Memang Ahmed tahu jika Cecilia memiliki ketertarikan terhadap dirinya. Tapi tetap saja Ahmed tidak menyangka jika Cecilia bahkan meminta untuk tetap bersamanya di kota ini meskipun penduduk lain yang baru mereka bebaskan sudah siap di helikopter untuk mengungsi ke Orluire.
"Cecilia, untuk saat ini aku ingin memintamu tidak egois. Setidaknya untuk kali ini saja oke? Aku berjanji kita akan bertemu lagi."
Cecilia pun akhirnya tertunduk menyerah dan mengangguk bersedia, lalu mengikuti letnan Malik keluar dari gudang menuju salah satu helikopter Ababil yang mendarat di pelataran. Bahkan ketika sudah masuk di dalam helikopter, pandangannya tetap mengarah ke Ahmed yang masih di salah satu bangunan gudang meskipun pandangan itu tidak diketahui oleh Ahmed.
Di sisi lain, Ahmed dan anggotanya sibuk memperbaiki pertahanan mereka setelah serangan habis-habisan dari tentara Leonia. Alat-alat yang rusak diganti oleh pasukan yang baru datang. Karung-karung pasir yang menjadi titik perlindungan juga beberapa diganti karena terkena serangan sihir yang menimbulkan ledakan seperti bola api. Di dalam gudang, Sylvania juga sibuk merawat beberapa anggota yang terkena luka berat. Karena helikopter sudah penuh, mereka tidak dapat dibawa kembali ke kota Orluire.
"Yah, tidak menyangka pasukan gerak cepat kita benar-benar datang di waktu yang kritis. Kalau saja mereka telat, mungkin kita sudah dihabisi oleh orang-orang Leonia yang mendapat dukungan udara itu." Ujar Karim yang saat ini bersama Ahmed di ruang kontrol beserta perwira lain yang sekarang berada di bawah komando Ahmed.
"Malik, berapa lama pasukan darat bisa sampai ke kota ini?" Tanya Ahmed sambil mengamati tampilan kamera dari drone udara yang sekarang menampilkan pergerakan pasukan Leonia di kota.
"Perkiraanku mereka akan datang sekitar 3 sampai 4 jam lagi kapten."
"Begitu ya, sampai mereka datang, setidaknya kita perlu bertahan dan mengamankan tempat ini dari tentara Leonia yang ada di kota. Keberadaan kita di sini nantinya akan mempermudah penaklukan kota."
Tak lama kemudian salah seorang anggota Ahmed yang bertugas mengamati radar portabel mereka melapor ke Ahmed dengan nada panik.
"Kapten, aku mendeteksi ratusan titik yang datang dari arah utara!"
"Utara? Bukannya itu daerah laut?"
Ahmed langsung bergegas mendatangi anggotanya yang melapor dan ikut mengamati radar. Benar saja, di radar itu terdapat bintik-bintik yang jumlahnya ratusan. Ahmed ikut terkejut melihat objek yang posisinya berada di laut, tidak menyangka mereka akan mendapat serangan dari laut.
"Halim, arahkan tampilan kamera drone kita ke laut. Aku ingin lihat seperti apa musuh kita yang menyerang dari laut."
Halim mengangguk dan mengontrol drone untuk diarahkan ke utara posisi mereka. Pandangan Ahmed berpindah ke monitor lain yang menampilkan hasil tampilan kamera drone. Tak lama kemudian drone sudah berposisi di atas laut dan di sana mereka melihat ratusan kapal abad pertengahan yang sudah berjajar mengarah ke posisi mereka.
"Halim, coba kalkulasikan jumlah mereka."
Halim mengangguk dan menggunakan sistem drone untuk menghitung jumlah kapal yang menuju ke posisi mereka.
"Sekitar 150 kapal kapten."
"Ya Allah, ini bahaya. Jumlah mereka sangat banyak dan kita juga tidak memiliki persiapan untuk pertempuran melawan armada laut."
Ahmed memandangi satu persatu anggotanya yang ada di ruangan itu dan Ahmed dapat melihat pandangan mereka terpusat ke Ahmed, menunggu perintahnya untuk mereka jalankan.
"Kapten, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Fahmi yang juga memandangnya dan menunggu perintahnya.
Ahmed terdiam berpikir mencari jalan keluar untuk dapat bertahan di situasi mereka. Tidak banyak pilihan yang tersisa. Jika mereka mencoba keluar dari kota, itu akan sulit sekali karena seluruh kota masih dikuasai oleh orang Leonia dan helikopter mereka pun sudah kembali ke Orluire untuk mengantarkan penduduk sipil. Keluar dari kota berarti mereka harus melalui pertempuran urban yang kemungkinan besar akan menimbulkan banyak korban jiwa di pihak mereka karena pihak musuh yang sudah bersiap di luar sana. Belum lagi beberapa prajurit yang terluka pastinya akan menghambat pergerakan mereka di kota.
"Kita tidak punya pilihan lain selain bertahan dengan apa yang kita punya. Fahmi, aku ingin grup mortir disebar agar mereka tidak terkena sekaligus ketika lontaran batu dari ketapel musuh mengenai posisi mereka, grup mortir dan peralatannya saat ini akan menjadi vital dari kekuatan kita. Suleiman, perintahkan semua penembak jitu untuk membidik pengguna Mana atau pimpinan musuh seperti biasa. Yang lain, lakukan apa yang kalian bisa dengan senapan biasa. Usahakan membidik lambung kapal mereka jika kalian memiliki peluncur roket atau senjata berat lainnya agar dapat menenggelamkan kapal."
Seluruh isi ruangan itu mengangguk mendengar perintah Ahmed dan menyebar untuk menjalankan tugas mereka masing-masing. Karim Menghubungi seluruh pasukan melalui saluran radio tentang armada laut Leonia yang datang. Ahmed menetap di ruangan itu, mengamati pergerakan armada yang menyerang mereka sambil mencoba memikirkan langkah lain. Tetapi bagaimanapun Ahmed memikirkannya, situasi mereka benar-benar terdesak dan tidak ada jalan keluar lain. Sepertinya kali ini mereka hanya dapat mengharapkan pertolongan Allah.
"Ahmed, aku dengar pasukan Leonia menyerang dari laut, apa itu benar?"
Ahmed yang merasa dipanggil memutar badannya ke pintu ruangan dan di sana, Sylvania berdiri dengan wajah khawatir. Melihat Sylvania berdiri di sana, Ahmed jadi khawatir dengan nasib Sylvania. Bagaimana jika nantinya pasukan Ahmed dikalahkan? Apa yang akan dilakukan oleh orang-orang Leonia terhadap istrinya? Padahal belum genap sebulan mereka menikah dan mereka sudah diuji oleh keadaan yang seperti ini. Mungkin seharusnya tadi Sylvania ikut kembali ke kota Orluire.
"Itu benar Vania, kita mendapat serangan dari laut dalam jumlah besar."
Ahmed berjalan mendekat ke arah Sylvania, lalu tangan kanannya terangkat mengusap pipi Sylvania. Ahmed tidak ingin terjadi apa-apa terhadap Sylvania. Kalau saja Sylvania sekarang tidak sedang bersamanya, mungkin dia tidak akan sekhawatir ini.
"Mungkin harusnya kamu ikut dengan helikopter ke kota Orluire Sylvania, aku menyesal tidak memerintahkanmu ikut dan malah berada dalam situasi berbahaya seperti ini."
Kepala Sylvania menggeleng keras. Ahmed dapat melihat mata Sylvania tiba-tiba menjadi basah. Apa Sylvania juga menyesal sepertinya?
"Apa yang kamu katakan? Kamu ingin aku meninggalkanmu di sini dan pergi begitu saja? Itu adalah hal yang tidak akan pernah aku lakukan. Kita sudah berjanji kan untuk bersama dan saling melindungi?"
Ahmed terdiam dengan kepala tertunduk. Memang dirinya pernah berkata seperti itu, tapi tetap saja Ahmed ingin Sylvania hidup lebih lama. Tangan kanan Ahmed yang masih bertengger di pipi Sylvania tiba-tiba merasakan genggaman. Setelah dilihat, ternyata kedua tangan Sylvania meraih dan menggenggam tangan Ahmed.
"Menjadi syahid adalah salah satu kehormatan tertinggi bagi seorang muslim, itu kan yang pernah kalian katakan? Menjadi seorang syahid bersama Ahmed juga akan menjadi suatu kebanggaan terbesarku. Bukankah itu terdengar sedikit romantis? Hm, meskipun aku tahu kalau setiap nyawa seorang muslim juga berharga karena setiap nyawa muslim yang gugur akan mengurangi kekuatan seluruh umat muslim. Karena itu, aku akan ikut berjuang sampai titik darah penghabisanku, dan mengetahui jika aku berjuang bersama orang yang aku cinta akan memupuk semangat juang yang ada di dalam diriku."
Ahmed tertegun mendengar tuturan Sylvania. Padahal Sylvania merupakan penduduk asli Edela dan belum lama menjadi muslim. Tapi semangat juangnya tidak kalah dengan orang-orang muslim lainnya terlepas dari statusnya yang seorang wanita. Bibir Ahmed mau tak mau membentuk senyuman kecil dan kepala Ahmed mengangguk menyetujui perkataan Sylvania. Ahmed menoleh ke sekitarnya, memastikan anggotanya tidak ada yang memerhatikan Ahmed. Mereka semua sibuk dengan peralatan mereka masing-masing untuk bersiap dengan serangan Leonia yang akan datang.
Setelah yakin tidak ada yang memerhatikan, Ahmed kembali menghadap Sylvania dan dengan cepat dan singkat mengecup bibir Sylvania. Terkejut dengan tindakan Ahmed yang tiba-tiba, Sylvania melepaskan salah satu tangannya yang menggenggam tangan Ahmed dan menyentuh bibirnya sendiri. Tanpa Sylvania sadiri, pipinya sendiri memerah karena rasa malu sekaligus senang. Pasalnya Ahmed bukanlah tipe orang yang suka memulai duluan dan hal seperti tadi juga cukup jarang terjadi.
"Kamu membuatku semakin bersyukur karena sudah memilikimu sebagai istriku Sylvania. Kita akan berjuang sekuat tenaga bersama, menang atau syahid. Kamu boleh membantuku di sini, tapi setelah kamu memberitahu Faruq dan membantunya memindahkan pasukan yang terluka ke ruang bawah tanah tempat kita melindungi penduduk sipil sebelumnya. Aku akan menunggumu di sini."
Sylvania pun mengangguk antusias sebelum pergi meninggalkan Ahmed untuk menjalankan permintaannya. Ahmed sudah mendapat laporan jika pasukan yang terluka sudah dirawat dan menyimpulkan bahwa keberadaan Sylvania mungkin akan dibutuhkan di dekatnya untuk merawat pasukan yang terluka.
"Kapten, grup mortir sudah mulai menyerang armada Leonia."
"Sudah dimulai ya."
Ahmed kembali mendekat ke monitor yang menampilkan kamera drone dan mengamati hasil serangan tim mortir ke kapal-kapal Leonia. Ahmed tahu jika mortir yang mereka punya sekarang memiliki akurasi yang sangat tinggi. Karena itu tidak heran jika banyak tembakan mortir yang mengenai kapal Leonia dan menimbulkan ledakan di beberapa kapal terdepan.
Masalahnya ukuran kapal Leonia dapat dibilang cukup besar untuk kaliber kapal abad pertengahan. Karena itu kapal yang hanya tertembak sekali oleh mortir tidak akan langsung tenggelam dan hanya menimbulkan kerusakan biasa di geladak kapal. Belum lagi mortir biasanya akan mengenai kapal dari atas, itu artinya akan sangat sulit untuk mortir mengenai lambung kapal agar kapal itu dapat ditenggelamkan.
"Halim, berapa jarak mereka sekarang?"
"Sekitar 1 kilo meter kapten, ketapel abad pertengahan biasanya memiliki jangkauan antara 400 sampai 600 meter. Lebih dari itu batu yang mereka lemparkan tidak akan dapat menjangkau kita."
"Baiklah, tidak lama lagi gedung ini pasti akan dilempari batu juga. aku ingin kau memindahkan semua peralatan ini bersama tim pendukung teknis lainnya ke bawah tanah juga. Pasukan kita akan kacau jika kita kehilangan semua peralatan kita."
"Dimengerti kapten."
Ahmed berbalik dan berjalan ke arah pintu, berniat untuk pergi keluar mengamati langsung jalannya pertempuran. Ketika membuka pintu ruangan, tiba-tiba Sylvania ada di depannya. Sepertinya Sylvania sudah selesai menjalankan permintaan Ahmed. Ahmed pun meminta Sylvania untuk ikut dengannya keluar. Langkahnya tertuju ke arah Suleiman yang menemani salah satu tim mortir dengan pandangannya yang terarah ke armada Leonia.
"Ah kapten, kau kesini rupanya." Ucap Suleiman ketika menyadari keberadaan Ahmed. "Dan juga nona Sylvania."
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Ahmed setelah suleiman menyadarinya.
"Sejauh ini kami hanya dapat menenggelamkan 2 kapal kapten. 5 kapal lainnya masih terbakar dan aku dapat melihat kru kapalnya berusaha memadamkan apinya. Sayang sekali tim mortir tidak pernah dibekali amunisi tembus baja."
Ahmed ikut memandang ke arah armada Leonia. Dengan menggunakan kacamata taktisnya Ahmed dapat memperbesar pandangannya agar dapat melihat lebih jelas keadaan armada itu. seperti kata Suleiman, dua kapal tenggelam dan 5 kapal lain hanya terbakar saja. Tiba-tiba sebuah peluru mortir membuat ledakan di satu kapal lain yang kelihatannya belum terkena mortir sama sekali. Ledakan itu membuat tiang penyangga layar kapal roboh dan membakar sebagian geladak kapal. Tapi seperti kapal yang lain, kapal itu juga tidak langsung tenggelam dan tetap mengapung mengarah ke posisi Ahmed dan pasukannya.
"Suleiman, aku ingin kau mengoordinasikan serangan mortir dan memfokuskan serangan mereka ke satu kapal saja agar kita dapat menenggelamkan kapal mereka satu persatu dengan lebih cepat."
"Dimengerti kapten"
Suleiman segera meraih radionya dan menghubungi tim mortir lain untuk memfokuskan serangan mereka. Sementara itu Ahmed kembali mengamati armada Leonia. Tiba-tiba tangan kirinya yang di samping tubuhnya merasakan genggaman tangan. Menoleh sekilas, Ahmed dapat melihat tangan Sylvania yang menggandeng tangannya dengan genggaman yang cukup erat, sedangkan tatapan Sylvania sendiri masih tertuju ke armada Leonia.
"ini pertama kalinya aku melihat kapal sebanyak itu."
###
Count Gerald berdiri di atas geladak yang menjadi anjungan kapal dari salah satu armada kapal Leonia. Count Gerald sangat senang ketika dirinya akhirnya diberi kesempatan untuk melawan pasukan hitam. Sebelumnya dia hanya bisa mendengar kabar betapa kuatnya pasukan hitam ini dan bagaimana pasukan Leonia di darat dikalahkan terus menerus. Menurutnya bukan pasukan hitam lah yang kuat, tapi karena bangsawan Leonia lain di darat yang tidak becus memimpin pasukan dan menyebabkan kekalahan Leonia.
Count Gerald yang memang sedang dalam perjalanan ke kota Anteinde untuk menghimpun ulang pasukan Leonia dan melakukan serangan balik ke kota Orluire yang dikuasai pasukan hitam. Kota Orluire yang menjadi gerbang antara wilayah Scotia dan Gallinea membuatnya bernilai penting di mata petinggi Leonia. Rencananya memang setelah mengalahkan total kerajaan Scotia, Leonia akan bergerak menyerang Gallinea.
Karena tiba-tiba mendapat kabar bahwa sekelompok pasukan hitam menyerang Anteinde, Count Gerald menawarkan Duke Arnold yang menjadi penguasa kota Anteinde untuk menyerang pasukan hitam secara bersamaan dari dua arah. Sayangnya Duke Arnold yang terlalu keras kepala dan merasa berhasil memojokkan pasukan hitam di satu tempat malah memutuskan menyerang terlebih dahulu dan baru saja Count Gerald mendapat kabar kegagalan pasukan di kota yang dipimpin Duke Arnold.
"Lagi-lagi bangsawan yang tidak becus memimpin pasukan darat. Harusnya mereka diturunkan statusnya menjadi rakyat jelata." Ujar Count Gerald ketika menerima pesan itu melalui seekor burung merpati.
Saat ini Duke Arnold mengamati armadanya yang terus melaju mendekati sebuah dermaga bekas milik militer Scotia yang ditinggalkan dan berada cukup jauh dari keramaian kota. Kabarnya di dermaga itu tidak ada apa-apa karena pasukan Scotia sudah membawa semua barang-barang penting di sana ke kota Orluire sebelumnya yang kemudian membuat dermaga itu tidak terpakai. Count Gerald sedikit terkejut ketika melihat kapal-kapal terdepannya terkena ledakan terus menerus dari entah berantah. Tapi melihat ledakan yang sepertinya kurang efektif itu, Count Gerald malah tersenyum mengejek.
"Tuan, kapal-kapal terdepan kita diserang oleh sihir aneh yang tidak bisa kita temukan dari mana asalnya. Sepertinya sihir itu berasal dari pasukan hitam tuan." Lapor salah seorang prajuritnya.
"Hah, sihir lemah seperti itu tidak akan dapat mengalahkan armada kita. Maju terus, kalau perlu tambah kecepatan kapal."
"Siap Tuan!"
Prajurit itu langsung meneruskan perintah count Gerald. Sambil berjalan mengelilingi kapalnya, count Gerald mendatangi petugas yang menyiapkan ketapel di kapal mereka. Karena Kapal Count Gerald lebih besar dari kapal yang lain, kapalnya dapat mengakomodasi 2 ketapel. Tidak seperti kapal lain yang hanya dapat mengakomodasi satu ketapel.
"Apa ketapel itu sudah siap ditembakkan?"
"Maaf tuan, kita masih belum memasuki jangkauan tembak ketapel."
"Hm, aku ingin ketapel itu segera ditembakkan segera setelah memasuki jarak tembak. Biarkan mereka merasakan hujanan batu dari armada laut kedua Leonia."
"Siap tuan!"
###
10 menit berlalu dan sampai saat ini pasukan Ahmed hanya dapat menenggelamkan 10 kapal. Jumlah mortir yang dimiliki oleh anggota Ahmed memang tidak banyak dan pasukan bantuan yang datang pun juga tidak membawa mortir. Pasukan yang mengambil posisi di tempat lain sudah mulai menembakkan senapan mesinnya ditambah penembak jitu yang juga ikut terdengar suara tembakannya. Beberapa infantri yang membawa senapan biasa juga mencoba menembakkan senapan mereka meskipun kelihatannya kurang efektif karena jarak yang cukup jauh.
Seperti yang dikatakan oleh Ahmed, anggotanya mencoba semua yang mereka bisa untuk menghancurkan atau setidaknya memperlambat armada yang menyerang mereka. Ahmed dapat melihat beberapa orang meluncurkan roket dari AR5 yang mengarah dan mengenai lambung kapal Leonia. Terhitung dari 3 roket yang diluncurkan, tiga kapal Leonia pun meledak meninggalkan lubang besar di lambung kapalnya dan akhirnya tenggelam dengan cepat.
3 roket lainnya meluncur dari tempat yang berbeda mengenai tiga kapal lain. Sebenarnya anggota Ahmed sudah kehabisan amunisi roket AR5 di pertempuran sebelumnya. Untungnya pasukan bantuan yang baru saja datang membawa roket AR5 juga beserta amunisinya yang akhirnya digunakan di pertempuran sekarang. Terhitung sudah sekitar 15 roket yang diluncurkan dan setiap roket berhasil menenggelamkan satu kapal Leonia sekaligus sedikit menghambat kapal yang lain karena kapal yang tenggelam biasanya menghalangi kapal yang ada di belakangnya.
"Kapten, jarak mereka 700 meter."
"Gawat, kalau begini tidak lama lagi mereka akan-"
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, bola mata Ahmed menangkap objek yang terlontar dari kapal-kapal terdepan Leonia dan mengarah ke mereka.
"BERLINDUNG!"
Karena tangan mereka masih bergandengan, Ahmed secara otomatis langsung menyeret Sylvania untuk tiarap berlindung di balik tumpukan karung pasir yang ada di dekat mereka.
BLAM BLAM BLAM
Ahmed dapat merasakan guncangan akibat batu-batu yang berjatuhan di sekitar mereka. Dari suara jatuhnya, Ahmed juga dapat mendengarkan suara benturan dari gudang yang berarti beberapa batu mengenai gudang yang menjadi pusat operasi mereka. Untungnya Ahmed sudah meminta memindahkan orang-orang di dalam sana ke ruang bawah tanah, jadi Ahmed yakin seberapa hancurnya gedung itu, anggotanya yang ada di dalam tidak akan terkena dampaknya.
Setelah guncangan dari batu berhenti, Ahmed langsung berdiri mengamati sekitarnya melihat hasil kerusakan yang ditimbulkan. Anehnya Ahmed tidak melihat bongkahan batu besar yang seharusnya berasal dari kapal Leonia. Yang ada hanyalah pecahan batu dan kerikil yang berjumlah banyak.
"Sepertinya mereka menggunakan jenis batu yang mudah hancur ketika di lempar."
Sylvania di sampingnya sedikit bingung ketika mendengar pernyataan Ahmed.
"Memangnya kenapa jika menggunakan batu yang mudah hancur? Bukannya itu bagus?"
"Tidak, Batu seperti itu hasilnya akan mirip seperti ledakan bom. Meskipun kita tidak terkena langsung lemparan batunya, kita tetap bisa terluka karena pecahan batu-batu yang berasal darinya."
Ahmed mengaktifkan radionya dan berbicara ke seluruh anggotanya yang ada di area.
"Seluruh unit, cari tempat perlindungan yang solid seperti karung pasir dan tembok. Jangan berlindung di dalam gedung karena jika gedung runtuh kalian akan terjebak di dalamnya. Balas serang sebisa kalian, tim mortir, usahakan jangan menghentikan tembakan kalian kecuali jika kalian yakin posisi kalian akan terkena batu. Jaga diri kalian masing-masing dan semoga Allah segera menolong kita."
"[bzzz] Baik kapten."
"[bzzz] Dimengerti kapten."
"[bzzz] Ugh, yang tadi hampir saja."
Berbagai balasan terdengar di radio Ahmed. Tak lama kemudian suara tembakan yang tadi sempat berhenti kembali terdengar lagi mengarah ke Leonia. Ahmed menatap kembali kapal-kapal Leonia. Sepertinya mereka semakin mendekat. Jika mereka semakin mendekat, itu artinya akan semakin banyak kapal-kapal mereka yang melempari posisi Ahmed dengan batu.
Dari kejauhan, beberapa penunggang wyvern mulai terlihat beterbangan dari tengah-tengah deretan kapal Leonia. Wyvern itu berputar-putar membentuk formasi sebelum mereka terbang ke arah posisi Ahmed dan pasukannya. Serangan dari senapan mesin yang tadi mengarah ke kapal berpindah ke udara untuk menjatuhkan penunggang wyvern itu.
Beberapa jatuh karena tembakan senapan mesin, lalu sisanya menembakan bola api ke beberapa posisi pasukan Ahmed. Dari beberapa tempat, Ahmed dapat melihat roket meluncur dari posisi pasukannya mengarah ke Wyvern yang menyebabkan kematian Wyvern itu beserta penunggangnya. Di tengah serangan wyvern itu, kapal-kapal Leonia melontarkan batu-batuan lagi ke arah posisi Ahmed.
Tentunya Ahmed dan yang lainnya kembali berlindung dari lemparan batu itu. Sengitnya serangan dari kapal Leonia ditambah dengan serangan dari Wyvern membuat perlawanan dari pasukan Ahmed semakin tidak efektif. Laporan korban di pihak Ahmed mulai berdatangan. Bukan hanya pasukan yang terluka, tetapi juga laporan pasukan yang gugur.
"[bzzz] MEDIIIS! MEDIISS! KAMI MEMBUTUHKAN MEDIS!"
"[bzzz] Indra dan Rahman terluka, Dimana tim medis?!"
"[bzzz] Tim mortir 3 terkena lemparan batu kapten! Hamzah, Aryan, dan tim 3 lain yang mengoperasikan mortir gugur terkena lemparan langsung."
Kalau begini terus, kita tidak akan dapat bertahan.
Serangan Leonia seolah tidak ada hentinya, membuat pasukan Ahmed sama sekali tidak sempat membalas serangan mereka dan hanya dapat berlindung di balik tumpukan karung pasir, tembok, atau apapun yang bisa mereka temukan untuk berlindung. Bahkan Tim mortir 1, 2, dan 4 yang masih bertahan juga tidak dapat menembakkan mortir mereka karena sibuk menembaki wyvern atau berlindung dari serangan penunggang wyvern dan lemparan batu.
Ya Allah, apa ini waktunya kami semua menjadi syahid?
Pikiran itu yang terlintas di kepala Ahmed sebelum serangan Leonia tiba-tiba berhenti total. Suara teriakan wyvern terdengar menjauh dari mereka. Bebatuan yang tadinya jatuh sekarang tidak ada lagi yang jatuh. Ahmed yang tadinya dalam posisi tiarap perlahan berlutut melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa serangan Leonia tiba-tiba berhenti?
Ketika melihat ke arah laut, di sana sudah ada 6 kapal Leonia yang tenggelam sambil terbakar hebat. Kapal lainnya mengubah haluan mereka ke arah lain, lebih tepatnya ke arah barat. Bahkan wyvern yang tadi menyerang pasukan Ahmed juga terbang ke arah barat. Sylvania yang ada di dekatnya juga bangun dari posisi tiarap ikut melihat keadaan yang tiba-tiba berubah mendadak.
DUARRR DUARRR DUARRR
Tidak lama kemudian muncul ledakan besar yang datang berganti di antara kapal-kapal Leonia yang menenggelamkan 6 kapal lain.
"[bzzz] Untuk unit yang beroperasi di kota Anteinde, di sini ISS Barbarossa, sepertinya kalian butuh bantuan di sana. Tidak perlu khawatir lagi, sekarang kalian tinggal lihat dan perhatikan bagaimana angkatan laut Daulah Islam akan menghabisi armada Leonia."
Di barat sana, dari kejauhan Ahmed dapat melihat samar-samar bayangan kapal yang berlayar ke arah posisinya. Satu kapal yang berukuran cukup besar. Ahmed menggunakan kacamata taktisnya untuk memperbesar pandangannya dan melihat dengan jelas bayangan kapal itu. Di kacamatanya tertulis.
ISS Barbarossa
Kapal jelajah kelas Barbarossa
Ahmed hampir tidak percaya ketika melihat kapal angkatan laut dari negerinya berlayar di dunia ini, apalagi kapal jelajah. Selain itu, ISS Barbarossa bukan satu-satunya kapal yang dia lihat. Di sampingnya terdapat kapal jelajah dengan kelas yang sama, ISS Yusuf. Kapal jelajah ini memiliki dua turet di depan yang setiap turetnya memiliki 3 meriam kaliber 203 mm. Dua kapal jelajah itu dikawal oleh 4 kapal perusak. Dua di kanan dan dua di kiri.
Seharusnya angkatan laut masih membutuhkan waktu beberapa bulan lagi untuk beroperasi bukan?
Begitulah pikir Ahmed sebelum melihat 6 kapal Daulah yang sekarang berlayar di perairan Edela. Kapal jelajah ISS Barbarossa dan ISS Yusuf kembali menembakkan meriam utama mereka, meledakkan 6 kapal Leonia lain.
###
"Kapten Fadil, kita berhasil menenggelamkan total 12 kapal Leonia, tetapi pasukan udara mereka sepertinya mendekat ke arah kita."
"Siapkan persenjataan anti udara kita, beritahu kapal yang lainnya juga untuk bersiap dengan pertempuran anti udara."
Dari anjungan, kapten Fadil yang memimpin kapal ISS Barbarossa mengamati armada Leonia yang ditenggelamkan satu-persatu. Di atas armada itu Fadil dapat melihat objek-objek terbang yang mengepakkan sayapnya. Panel layar yang ada di depannya memperbesar objek itu dan mengidentifikasinya sebagai wyvern.
"[bzzz] Barbarossa, di sini Yusuf, kami melihat perhatian musuh terpusat ke arah kita."
"Baiklah, sesuai rencana, kita berhasil menarik perhatian musuh. Selanjutnya batasi serangan dengan menggunakan meriam saja. Untuk saat ini jangan tunjukkan semua kapasitas tempur kita pada musuh."
"[bzzz] Diterima Barbarossa, Yusuf kembali menyerang"
Kedua kapal jelajah menembakkan meriamnya lagi, bahkan kali ini jeda tembakan dengan yang sebelumnya lebih cepat, membuat kapal Leonia tenggelam lebih cepat. Tidak lama kemudian keempat kapal perusak juga ikut menembakkan meriamnya dan semakin mempercepat bertambahnya jumlah kapal yang tenggelam.
Penunggang wyvern yang di udara terus terbang ke arah kapal daulah. Meskipun melihat armada mereka dihancurkan dengan cepat, mereka yakin kapal-kapal itu tidak dapat menyerang ke arah udara. Setelah mereka memasuki jangkauan untuk menembakkan sihir-sihir mereka, kapal-kapal itu pasti akan mereka tenggelamkan. Setidaknya itu lah yang mereka pikirkan sebelum mereka diserang oleh cahaya merah panjang yang berasal dari kapal-kapal yang seharusnya mereka serang.
Cahaya merah tipis dan memanjang yang seolah membelah langit itu akan langsung menembus apapun yang dilewatinya termasuk wyvern dan penunggangnya. Salah satu penunggang wyvern bahkan hampir tidak sadar ketika perutnya terkena cahaya itu. Apa yang dia ketahui adalah tiba-tiba perutnya berdarah hebat dan wyvern yang ditungganginya sedang jatuh mengarah ke bawah di mana lautan menunggu. Jika diperhatikan dengan seksama, cahaya itu menimbulkan percikan api ketika mengenai objek sasarannya.
Apa yang saat ini menyerang penunggang wyvern dari Leonia adalah sistem CIWS terbaru dari kapal angkatan laut daulah, yaitu CIWS laser yang menjadi salah satu senjata anti udara dan anti misil. Serangan dari laser ini jauh lebih akurat dari pada CIWS biasa. Karena tembakannya menggunakan energi, CIWS laser tidak perlu prosedur pengisian peluru dan energi yang ditembakannya pun berasal dari sumber energi kapal yang berupa reaktor fusi dingin (cold fusion). Salah satu sumber energi alternatif terbaru yang tenaganya hampir menyamai reaktor nuklir. Kapal apapun yang dipersenjatai dengan senjata ini benar-benar bagaikan benteng mengapung karena hampir tidak dapat disentuh dengan misil atau unit udara manapun.
Sayangnya senjata laser ini hanya dapat dipasang di kapal jelajah, kapal tempur, dan kapal induk karena membutuhkan energi yang besar. Itu juga yang menjadi alasan kenapa saat ini keempat kapal perusak daulah tidak menembakkan CIWS laser, tetapi menggunakan CIWS dual gatling gun atau senapan putar dobel dengan barel 25mm. Tetap saja gattling gun ini juga masih terbukti sangat ampuh untuk menghadang wyvern karena gattling gun ini bahkan didesain untuk menjatuhkan jet tempur yang bergerak jauh lebih cepat dari wyvern.
###
Count Gerald hanya bisa terbengong melihat kapalnya ditenggelamkan dengan cepat. Hanya dalam waktu lima menit armadanya sudah kehilangan separuh dari keseluruhan kapal mereka. Di samping itu, Wyvern yang seharusnya menjadi andalan Leonia bahkan tidak dapat berbuat apa-apa dan mereka berjatuhan satu persatu bagaikan lalat yang disemprot racun serangga. Dalam selang waktu itu, kapal daulah pun sudah berjarak cukup dekat dengan armada Leonia.
Beberapa kapal Leonia sempat melemparkan batu ke arah kapal-kapal daulah sebelum ditenggelamkan. Tapi di tengah udara batu itu ditembak dengan cahaya merah sama seperti yang menembak wyvern, membuat batu itu meledak berkeping-keping di udara. Count Gerald saat ini dapat melihat dengan jelas bahwa kapal yang mereka hadapi saat ini ternyata hampir seluruhnya terbuat dari besi. Melihat hal itu, count Gerald paham jika bahkan batu yang mereka lempar mengenai kapal besi yang mereka lawan, batu itu hanya akan terpental saja. Kemungkinan terbaik batu yang mengenai kapal besi itu hanya akan meninggalkan goresan saja. Salah satu bawahan count Gerald mendatanginya dan melapor.
"Tuan, armada kita sudah kehilangan lebih dari setengah jumlahnya. Apakah kita akan terus menyerang?"
Count Gerald dapat menyadari sedikit nada ketakutan dari bawahan sekaligus awak kapalnya itu. Seharusnya kapal yang dinaiki oleh Count berada di barisan belakang, tapi dengan hilangnya sebagian besar kapal armadanya, bahkan kapal yang dinaikinya sekarang posisinya hampir berada di depan. Di kepalanya count Gerald memikirkan cara bagaimana dirinya bisa selamat.
"Putar balik kapal kita, tapi perintahkan kapal yang lain untuk tetap maju. Kita gunakan sisa armada kapal kita sebagai perisai agar kapal kita bisa mundur."
Awak kapal itu terkejut dengan perintah yang diberikan oleh count Gerald, tapi karena dirinya yang berstatus prajurit biasa tidak berani menentang count Gerald, awak kapal itu pun menurut saja.
###
"Kapten, kita hampir berhasil menghabisi semua armada musuh, tapi sepertinya ada satu kapal yang mencoba kabur menjauhi medan tempur. Apa yang harus kita lakukan kapten?"
Kapten Fadil hampir memberikan perintah untuk menembak dengan meriam biasa, tapi di dalam pikirannya kapten Fadil terbesit untuk menenggelamkan kapal yang kabur itu dengan sesuatu yang lain.
"Letnan, siapkan rudal Al Battar, kita akan menunjukkan ke mereka bahwa mereka tidak akan dapat kabur dari kita."
###
ISS Barbarossa dan kapal jelajah yang lain biasanya memiliki peluncur misil atau silo yang sebagian besar ditempatkan di bagian belakang kapal dan sisanya ditempatkan di beberapa tempat yang tersebar. Silo ini digunakan untuk menyimpan dan meluncurkan berbagai rudal yang berukuran besar dengan hulu ledak tinggi. Salah satu palka dari silo di belakang ISS Barbarossa terbuka. Tak lama kemudian dari dalam silo itu sebuah rudal jelajah meluncur ke atas meninggalkan asap tebal.
Siapapun yang belum pernah melihat roket atau rudal pasti akan berpikir jika itu adalah panah api raksasa. Seluruh awak kapal dari armada Leonia yang tersisa memandangi panah api raksasa itu dengan tatapan yang bercampur antara kagum, heran, dan ketakutan. Mereka mengamati panah api itu, melihat kemana panah itu terarah. Tentunya di dalam hati setiap individu berdoa agar panah itu tidak mengarah ke kapal mereka.
Panah itu terus terbang, melewati sisa kapal armada Leonia ke belakang menuju ke satu kapal yang berlayar menjauhi medan tempur yang jaraknya sudah cukup jauh dari kapal yang lain. Dari ukuran kapal dan juga bendera besar yang berkibar di atasnya, semua orang tahu bahwa itu adalah kapal Count Gerald yang memimpin serangan mereka. Kalau saja tidak ada panah api itu, kebanyakan orang pasti tidak akan mengetahui bahwa pemimpin mereka mencoba kabur meninggalkan mereka.
Panah itu terus terbang, mendekati kapal seolah memiliki kesadaran dimana letak kapal itu. Ketika sudah cukup dekat, panah itu mulai terbang menurun tepat ke arah geladak kapal Count Gerald. Detik selanjutnya kapal itu sudah diselimuti ledakan besar hingga tidak seujung jari pun dari bagian kapal itu terlihat. Ketika api dan ledakan dari panah api sudah menyusut dan hilang, hanya menyisakan asap dan puing-puing kayu yang mengambang.
Kapal itu tidak tenggelam, tapi hancur berkeping-keping. Awak kapal dari sisa armada Leonia mulai berbicara satu sama lain dengan kalimat keputus asaan.
"Ini kekuatan dewa, kita telah dihukum langsung oleh dewa."
"Kita tidak mungkin menang, kita pasti akan mati!"
"Sebaiknya kita menyerah saja."
"Tidak ada gunanya kita bertarung lagi, mereka pasti tentara yang diturunkan langsung oleh dewa!"
Kalimat-kalimat seperti itu terucap dari semua awak kapal. Hingga akhirnya satu persatu kapal yang tersisa menurunkan bendera mereka dan mengibarkan bendera putih, tanda mereka menyerah. Lagi pula di antara mereka sudah tidak ada bangsawan lagi yang tersisa. Bahkan bangsawan terendah yang bergelar baronet saja sudah dihabisi semua ketika mereka menyerang dengan wyvern. Jumlah kapal yang menyerah ke daulah ada 40 kapal jenis Galleon. Mereka tahu setelah melihat panah api yang menghancurkan kapal pimpinan mereka, mereka tidak akan dapat kabur kemana-mana lagi.
###
Di daratan, Ahmed dan pasukannya beramai-ramai meneriakkan takbir. Mereka memang hampir dikalahkan total oleh armada laut Leonia yang bahkan belum pernah masuk pertimbangan mereka dalam memikirkan strategi perang. Waktu itu, seluruh pasukan Ahmed sadar bahwa seperti apapun musuh yang mereka hadapi, mereka memang tidak boleh meremehkan musuh mereka, terutama di dunia yang belum setahun ini mereka pijak dan masih menyimpan banyak misteri.
"Hebat… hanya dengan enam kapal, seluruh armada Leonia dikalahkan." Gumam Sylvania di samping Ahmed yang diangguki oleh Ahmed. Bibir Ahmed sedikit terangkat ketika mendengar kekaguman dari Sylvania.
"Tunggu sampai kamu melihat kapal tempur kami."
"Kapal tempur? Jadi kapal yang berukuran sangat besar di sana bukan kapal tempur?" Sylvania terkejut ketika mendengar pernyataan Ahmed. Pasalnya jika yang dia lihat tadi masih belum dibilang sebagai kapal tempur, lantas seperti apa kapal tempur yang dimiliki oleh daulah Islam ini?
"Itu yang di sana hanyalah kapal perusak dan kapal jelajah. Kapal tempur memiliki ukuran yang jauh lebih besar."
