Part 24 Pertempuran Udara

Assalamu'alaikum semuanya, yah alhamdulillah beberapa minggu terakhir aku bisa sedikit meluangkan waktu untuk melanjutkan tulisanku. BTW mungkin judul di atas kurang begitu mewakili part ini, tetapi aku sendiri juga bingung mau kasih judul apa karena di part ini kita tidak hanya membahas satu hal saja. Mohon doanya dari para pembaca sekalian agar saya bisa meluangkan waktu lagi untuk terus melanjutkan cerita ini. Rencananya cerita ini akan aku bagi menjadi 2 atau 3 season mungkin dan InsyaAllah setelah season 1 selesai, saya akan coba menulis terjemahan bahasa Inggris agar saudara-saudara muslim yang bukan berasal dari Indonesia bisa memahami cerita ini dengan lebih baik. Seperti biasa saya tunggu komentar, kritik, dan sarannya dari pembaca sekalian agar cerita ini kedepannya bisa lebih baik. Selamat membaca.

###

Ahmed pun sadar bahwa kali ini yang memeluk dirinya bukan Sylvania, melainkan…

""Cecilia?""

###

Ahmed benar-benar terkejut melihat Cecilia yang tiba-tiba berada di kota Anteinde lagi. Padahal jelas-jelas Cecilia sebelumnya telah ikut menaiki helikopter yang telah meninggalkan kota Anteinde beberapa jam yang lalu.

"Cecilia! Bagaimana bisa ada di sini? Dan apa yang kamu lakukan di sini? Seharusnya kamu berada di camp pengungsian kan?"

Ahmed mencoba melepaskan pelukan Cecilia, tapi hal itu tidaklah mudah karena pelukan Cecilia ternyata cukup erat. Di sisi lain, Sylvania yang melihat Ahmed dipeluk oleh Cecilia mulai merasakan api cemburu yang kembali menyala di dalam dirinya. Tanpa banyak bicara Sylvania mencoba ikut melepaskan pelukan Cecilia. Nyatanya bantuan dari Sylvania tidaklah cukup untuk memisahkan Cecilia dari Ahmed yang melekat layaknya lem.

"Ahmed! Aku merindukanmu, aku kemari untuk menemuimu kesatria penyelamatku!" Ujar Cecilia sambil menenggelamkan wajahnya di punggung Ahmed.

"Cecilia, tolong lepaskan, ini tidak sopan. Orang-orang menatap ke arah kita."

Cecilia yang nyatanya tidak peduli hanya menggeleng sambil tetap mengeratkan pelukannya di tubuh Ahmed. Entah Cecilia memang menyukai Ahmed sebesar itu atau hanya terobsesi karena Ahmed adalah penyelamat hidupnya. Ahmed tidak dapat membedakannya. Pemandangan Ahmed, Sylvania, dan Cecilia sudah seperti romansa komedi yang bahkan membuat beberapa prajurit di sekitar Ahmed tertawa cekikikan.

Tak lama kemudian sebuah jip Jamal memasuki area gudang bersama dengan kendaraan tempur lain yang membuat Ahmed menghentikan kegiatannya mendorong Cecilia dan memusatkan perhatiannya ke rombongan jip itu. Tidak salah lagi mereka adalah bagian dari batalion yang ditugaskan untuk membebaskan kota sekaligus menjadi pasukan bantuan yang dikirim untuk membantu pasukan di bawah komando Ahmed.

Dari jip Jamal turun sosok individu yang seragamnya secara sekilas sama dengan prajurit yang lain. Hanya saja sosok ini mengenakan tanda pangkat dan juga baret hitam dengan logo kekhalifahan Utsmani di kepalanya. Sosok tersebut adalah kolonel Umar yang ditugaskan untuk membebaskan Anteinde oleh Jenderal Ayyub. Kolonel Umar berjalan menghampiri Ahmed selaku penanggung jawab pasukan yang ada di Anteinde saat itu.

"Assalamualaikum kapten Ahmed"

Cecilia yang mengetahui ada orang lain yang mengajak bicara Ahmed akhirnya dengan sendirinya melepaskan pelukannya dan ikut menatap orang tersebut.

"Waalaikumsalam kolonel, saya ingin melapor bahwa misi mempertahankan dan membebaskan kota Anteinde telah selesai dilaksanakan." Balas Ahmed sambil menghormat ke kolonel Umar. Tangan Ahmed yang berpose menghormat baru diturunkan setelah kolonel membalas hormatnya.

"Alhamdulillah, Kerja bagus kapten, aku dengar kau telah mempertahankan posisimu dari serangan tentara Leonia yang jumlahnya kurang lebih satu divisi ditambah dengan armada laut Leonia. Aku turut berduka dengan beberapa anggotamu yang gugur di tengah operasi. Kau dan pasukanmu berhak mendapatkan hari libur untuk beristirahat, menenangkan badan dan pikiran kalian."

"Terima kasih kolonel. Semua ini tidak lain adalah karena pertolongan dari Allah dengan tepat waktunya bantuan armada laut kita yang datang. Jika saja armada laut kita terlambat, mungkin kami semua sudah menjadi syahid di tempat ini."

Kolonel Umar mengangguk.

"Kau benar, semua ini adalah pertolongan dari Allah yang memudahkan kita membebaskan kota ini dengan korban jiwa yang sedikit. Baiklah kapten, kalau begitu aku akan mengurus hal yang lainnya di tempat lain. Tapi sebelum itu, boleh aku tahu siapa gadis muda yang bersamamu ini? Aku lihat kalian berdua sepertinya cukup dekat." Sambil memicingkan matanya, kolonel Umar mengarahkan pandangannya ke Ahmed dan Cecilia.

"Aku dengar kau telah menikah dengan seorang ras elf yang konon memiliki ciri khas telinganya dan aku yakin gadis ini bukanlah elf yang dimaksud." Tambah kolonel sambil menatap ke arah Cecilia. Tatapan itu kemudian berganti ke Sylvania. Sepertinya kolonel Umar menyadari identitas Sylvania yang juga berdiri di dekat Ahmed.

"Ah, maaf kolonel, akan aku perkenalkan ini adalah istriku, Sylvania Shafiel. Dia memang memiliki ras elf seperti yang anda maksud." Ucap Ahmed sambil menunjuk ke Sylvania yang kemudian menunduk sejenak untuk memberi penghormatan kepada kolonel Umar.

"Dan gadis ini adalah Cecilia Norma de Scotia, seorang putri dari kerajaan Scotia yang sudah runtuh sekaligus salah satu budak tahanan yang kami selamatkan juga di operasi penyelamatan kami." Lanjut Ahmed kali ini menunjuk ke Cecilia.

Mendengar kata "putri" dari Ahmed, kolonel Umar seketika terkejut. Bagaimanapun kolonel Umar juga mendapat rumor tentang terbunuhnya seluruh keluarga kerajaan Scotia.

"MasyaAllah, seorang putri dari keluarga kerajaan yang dirumorkan telah terbunuh. Khalifah Osman mungkin akan menginginkan pertemuan dengannya. Aku akan melaporkan hal ini pada jenderal Ayyub untuk kemudian diteruskan kepada sang khalifah. Aku juga akan menunggu laporan jalannya operasi darimu kapten."

"Siap kolonel."

Kolonel Umar mulai berbalik dan berjalan kembali ke jip Jamal yang tadi dia naiki. Belum sampai di jip Jamalnya, langkah kolonel Umar terhenti.

"Satu lagi kapten, kalau kau tidak bisa mengendalikan hubunganmu dengan sang putri, aku khawatir kau akan memiliki istri kedua tidak lama lagi." Ujar kolonel sambil tersenyum sedikit sebelum menaiki jipnya.

Ahmed dan kedua gadis di dekatnya hanya dapat berdiri kaku melihat kepergian kolonel. Ahmed tidak pernah terlintas di pikirannya untuk memiliki lebih dari satu istri. Mengurus satu istri saja akan terasa sulit, apalagi lebih dari satu, pikirnya. Cecilia sendiri berdiri kaku karena tidak memahami situasi dan pembicaraan yang dilakukan Ahmed akibat tidak memahami bahasa asal Ahmed. Karena itu Cecilia hanya berdiri saja menunggu penjelasan Ahmed.

Di sisi lain, Sylvania memikirkan perkataan kolonel Umar. Sylvania belum pernah tahu bahwa di Islam seorang laki-laki juga dapat beristri lebih dari satu. Awalnya kecemburuan Sylvania timbul karena ketakutan Sylvania jika ditinggal oleh Ahmed apabila Ahmed lebih memilih gadis lain. Sylvania sadar Cecilia yang meski di usianya sangat muda, tapi kecantikannya tidak dapat dipungkiri. Memang bagaimanapun juga Cecilia adalah seorang putri. Tapi setelah mendengar pernyataan kolonel itu, sepertinya pikiran Sylvania sedikit berubah.

"Apa mungkin aku harus membiarkan Ahmed menikah lagi?" Gumamnya tanpa dapat didengarkan oleh Ahmed dan Cecilia yang masih berada di dekatnya.

###

Khalifah Osman tidak pernah bersantai dalam menjalani tugasnya memimpin negeri Islam yang besar dan luas. Hari-harinya selalu dipenuhi dengan berbagai kesibukan dalam kepengurusan negara. Hanya di malam hari sang khalifah dapat sedikit bersantai bersama keluarganya. Ruang kerjanya di istana Yildiz selalu dipenuhi oleh berbagai laporan dan permintaan persetujuan dari para Amir di berbagai wilayah. Tentu saja khalifah akan bergantian dalam memfokuskan diri mengurus suatu bidang.

Kadang kala dalam satu hari khalifah akan berfokus dalam urusan perekonomian. Di hari selanjutnya fokusnya berpindah ke urusan pertanian dan urusan pangan. Di hari yang lain lagi khalifah mengurus urusan yang terkait dengan sumber daya alam termasuk pertambangan. Sang khalifah akan berusaha untuk tidak memindahkan fokusnya dalam satu hari agar pikirannya tidak pecah dan kacau dalam mengurus negeri yang besar ini, kecuali jika urusan tersebut dinilai darurat dan harus diselesaikan secepatnya.

Seperti hari ini, sang khalifah sedang menerima laporan dari divisi penelitian dan pengembangan militer. Selama berdekade, divisi penelitian dan pengembangan militer berjuang menyamai langkah dan bahkan mengungguli penemuan-penemuan militer dan senjata terbaru yang dilakukan oleh negara NATO. Hasilnya kebanyakan persenjataan dan teknologi militer daulah Islam pun selalu selangkah lebih maju dari negeri-negeri kapitalis. Memang ada pepatah yang mengatakan, "Jika kau menginginkan perdamaian, kau harus bersiap untuk perang." Begitu juga di sebuah ayat Al Qur'an pada Surah Al-Anfal ayat 60.

(Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).)

Tanpa adanya persiapan perang, negeri muslim akan kembali terjajah seperti yang terjadi di masa lampau oleh negeri-negeri kapitalis dan para khalifah pun selalu berupaya untuk mencegah hal itu terjadi lagi. Karena itu pengembangan di bidang militer menjadi salah satu prioritas yang diutamakan oleh para khalifah, terutama semenjak Perang Dunia 1 dan Perang Dunia 2.

Di depan khalifah berdiri dua orang ilmuan yang bekerja di dua bidang berbeda. Salah satunya adalah Basyir, seorang ilmuan yang meneliti tentang senjata kimia dan biologi. Memang di zaman modern ini senjata kimia dan biologi menjadi salah satu senjata yang kerap kali digunakan seperti penggunaan gas beracun di perang dunia 1. Terlepas dari adanya persetujuan tentang larangan penggunaan senjata semacam itu di PBB, tetap saja tidak menutup kemungkinan adanya pihak-pihak licik yang tetap menggunakannya.

"Sultan, saya ingin melaporkan hasil penelitian penting yang berhasil kami capai baru-baru ini." Ujar Basyir yang diberi giliran pertama untuk melaporkan hasil penelitiannya.

"Apa itu Basyir? Terakhir aku dengar divisimu sedang melakukan penelitian lebih lanjut tentang senjata nuklir bukan?"

"Benar Sultan! Selama setahun terakhir, tanpa henti kami terus melakukan penelitian dan uji coba senjata nuklir dan mencari sebuah solusi penangkal nuklir di dekat gurun sahara. Dengan perhitungan yang tepat, kami berhasil membuat senjata yang mampu menghentikan proses fusi nuklir dan mencegah peledakan nuklir."

Kedua mata khalifah Osman pun melebar setelah mendengar laporan itu. Nuklir adalah salah satu senjata andalan kartu truf yang selama ini dipegang oleh negara-negara NATO dan negara maju lainnya untuk menakuti negara lain. Keberadaan senjata nuklir di negara mereka seolah menjadi legitimasi bahwa negara lain yang tidak memiliki nuklir tidak akan mampu melawan mereka.

Tentu saja Daulah Islam juga memiliki senjata nuklir, tetapi hal itu hanya untuk berjaga-jaga saja dan untuk menakuti kembali negara-negara pemilik nuklir lainnya sehingga Daulah Islam pun juga memiliki legitimasi kekuatan militer. Sama sekali tidak ada niatan untuk menggunakan senjata itu di benak seluruh petinggi Daulah, kecuali di saat-saat yang paling mendesak.

"Senjata ini dapat diproduksi dalam bentuk roket ataupun senjata lainnya. Jika senjata ini diaktifkan, maka seluruh reaksi nuklir yang ada di dekat senjata tersebut dalam radius tertentu akan berhenti atau dibatalkan. Biaya pembuatan senjata ini pun jauh lebih murah dari pada pembuatan nuklir itu sendiri wahai sultan."

Khalifah Osman pun mengangguk dengan tersenyum dan langsung memberikan perintah.

"Kalau begitu aku ingin senjata ini dapat diproduksi massal secepatnya. Bagaimanapun nuklir adalah salah satu senjata yang paling tidak kita sukai keberadaannya karena efek perusakan alam yang ditimbulkannya. Dengan adanya penemuan ini, aku yakin era ketakutan yang ditimbulkan oleh nuklir pasti akan berakhir dan senjata nuklir akan hilang dari popularitasnya sebagai senjata pamungkas. Kau boleh mengajukan dana berapapun yang kau butuhkan untuk menyelesaikan proyek ini."

"Baik amirul mukminin." Basyir pun menunduk dan berpamitan sebelum berbalik meninggalkan ruangan. Kali ini giliran ilmuan lain yang sedari tadi menunggu gilirannya bernama Zahir Steiner, seorang peneliti muslim berdarah Jerman.

"Sultan, saya ingin mengajukan sebuah proposal pembuatan kendaraan tempur baru."

Khalifah Osman pun mengangguk dan memberinya isyarat untuk mendekat ke mejanya. Zahir pun menurut dan membawa koper yang tadi diletakkan di sampingnya. Koper itu dibuka dan Zahir pun mengeluarkan sebuah gadget tablet yang kemudian dinyalakan. Apa yang khalifah lihat setelah tablet itu menyala adalah sebuah desain yang terlihat tidak asing, tapi hal itu juga terbilang baru di waktu yang bersamaan. Hal ini membuat khalifah sedikit bingung dengan desain itu.

"Apa ini kapal perang?"

"Benar wahai sultan."

"Lalu, apa perbedaannya dengan seluruh kapal yang kita miliki saat ini?"

Zahir sedikit tersenyum sebelum menjelaskannya.

"Kapal ini dapat terbang dan mengambang di udara wahai sultan."

Khalifah pun kembali terkejut. Kapal perang yang terbang? Bukankah itu hanya ada di cerita fiksi dan novel? Tapi khalifah pun tidak menyela Zahir dan membiarkan Zahir melanjutkan penjelasannya.

"Divisi penelitian dan pengembangan senjata seringkali terinspirasi dari film dan cerita fiksi. Dari sana kami dapat mewujudkan senjata-senjata mutakhir yang selangkah lebih maju dari negara pesaing kita. Satu-satunya hal yang sering muncul di cerita fiksi dan belum dapat kami wujudkan hanyalah kapal perang yang dapat terbang. Desain kapal yang saya ambil terinspirasi dari film Amerika terbaru tentang superhero yang berlatar post modern dengan banyak teknologi futuristik. Sampai saat ini di saat Amerika dan sekutu mereka hanya dapat berkhayal melalui film mereka, kita lah yang berhasil mewujudkan khayalan mereka menjadi kenyataan."

Khalifah pun mengangguk setelah mendengar penjelasan Zahir sambil mengamati desain yang dibuatnya. Sebuah kapal yang seukuran kapal perang dengan empat baling-baling besar di sisinya. Bahkan di desain tersebut kapal-kapal yang ada juga dikelompokkan menjadi beberapa kelas seperti kapal penjelajah, kapal perang, dan kapal induk.

"Sangat menarik, tapi bagaimana dengan armada laut yang kita miliki sekarang? Dengan adanya armada udara seperti ini, armada laut akan kehilangan fungsinya bukan?"

"Memang kita akan memerlukan waktu beberapa tahun untuk beralih ke armada udara sepenuhnya secara bertahap. Untuk kapal lama, pilihan kita hanyalah memodifikasi besar-besaran atau melakukan pembongkaran dan penyusunan ulang menjadi kapal armada udara juga seperti yang selama ini sudah kita lakukan. Dengan adanya armada udara ini, kita tidak memerlukan angkatan laut lagi dan personel angkatan laut akan digabungkan dengan angkatan udara."

Khalifah pun kembali mengangguk-angguk dan akhirnya menyetujui usulan Zahir.

"Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk membuat satu kapal?"

"Karena ini adalah proyek pertama yang belum pernah dilakukan sebelumnya, saya rasa akan memerlukan waktu sekitar 2 sampai 4 tahun untuk membuat kapal baru dari nol. Tetapi jika hanya memodifikasi kapal yang sudah ada, mungkin 1 tahun cukup untuk pembuatan prototipe pertamanya."

Khalifah mengangguk lagi dan akhirnya memberikan perintahnya.

"Aku ingin kau mempercepat pembuatannya dalam waktu 6 bulan professor Steiner. Seharusnya dengan adanya operasi militer di dunia lain melalui Al Jisr, beberapa kapal kita akan dibongkar dan dipindahkan ke dunia itu. Ini kesempatanmu untuk melakukan modifikasi salah satu kapal itu selagi kita membongkarnya. Kau juga dapat mengajukan biaya dan sumber daya berapapun yang kau butuhkan. 6 bulan kedepan aku sudah harus mendengar bahwa salah satu kapal perang udara kita sudah ada yang terbang di Edela."

"Baiklah amirul mukminin, kalau begitu menurut Anda kapal mana yang sebaiknya menjadi objek dari proyek modifikasi pertama kita?"

"Yamato."

###

Beberapa jam semenjak pertempuran di kota Anteinde, di sebelah timur kota Anteinde beberapa kilometer dari gerbang kota, terlihat sekumpulan kolom rombongan yang berjalan menjauh dari kota. Rombongan itu berjalan menuju kota Charnau, kota terakhir dari kerajaan Scotia yang masih berada di bawah kendali Leonia. Rombongan itu bukan hanya berisi para prajurit yang mundur saja, tapi juga penduduk asli Leonia yang dulunya ikut pindah ke kota Anteinde ketika kota itu pertama kali ditaklukan.

Memang beberapa kota-kota Scotia yang ditaklukan oleh Leonia juga didatangi oleh penduduknya yang mencari kesempatan agar mendapat untung di kota itu. Kebanyakan dari penduduk itu adalah bangsawan pedagang yang berniat memonopoli perdagangan di kota baru itu. Tentunya mereka juga datang bersama seluruh keluarga mereka. Ada juga penduduk lain seperti tukang pandai besi, penjual senjata, atau bahkan penjual budak yang mencari budak baru di kota itu.

Rombongan itu berjalan dengan penduduk sipil berjalan di tengah sedangkan para prajurit berjalan di depan dan di belakang penduduk, seolah sedang mengawal mereka. Duke Arnold juga berada di tengah rombongan itu menaiki kudanya. Pikirannya sibuk membayangkan hukuman seperti apa yang akan dia terima dari raja Cheldric. Untung-untung kalau dia hanya diasingkan saja. Tapi raja Cheldric sayangnya bukan tipikal orang yang suka bermurah hati seperti itu. Kemungkinan Arnold akan menerima hukuman mati.

Lamunan Duke Arnold mendadak pecah ketika mendengar raungan wyvern. Kepalanya terdongak ke atas dan melihat puluhan, tidak mungkin ratusan penunggang Wyvern yang terbang melintas di atasnya dari timur. Sepertinya mereka terbang menuju ke arah barat di mana kota Anteinde berada. Salah satu dari wyvern itu berhenti dan turun ke tempat rombongan berjalan, lebih tepatnya ke posisi di mana duke Arnold berada.

Duke Arnold mengamati penunggang yang membawa tunggangannya turun dari langit itu. Baju zirahnya tampak berbeda dengan penunggang yang lain. Terlihat lebih mewah dan berkilau, jelas sekali dia adalah sosok yang mungkin memimpin para penunggang wyvern itu. Dari seragamnya pun juga terlihat bahwa mereka bukan penunggang biasa, tapi penunggang wyvern elit yang juga disebut Chevalier de Mort. Konon sekelompok dari mereka dikabarkan mampu melawan sekumpulan penunggang elf yang rumornya tidak dapat dikalahkan oleh sebagian besar pasukan manusia.

Penunggang itu pun akhirnya mendarat tepat di depan duke Arnold. Penunggangnya turun dari Wyvern dan berjalan ke arah Arnold dengan langkah yang terlihat congkak. Helm yang tadinya menutup seluruh wajahnya pun dibuka depannya untuk memperlihatkan wajahnya.

"Lord Sebastian?" Tanpa sadar Arnold menyebut nama penunggang itu. Penunggang yang rumornya belum pernah kalah di pertempuran apapun membawa pasukan elit wyvern.

"Duke Arnold? Apa yang sedang Anda lakukan dengan pasukan Anda di sini? Jangan bilang kalau Anda sedang menarik mundur pasukan dan meninggalkan kota."

Arnold hanya dapat mengangguk mendengar pertanyaan itu. Kenyataannya saat ini dirinya memang sedang meninggalkan kota.

"Kita memang sedang menarik mundur pasukan dan sekarang menuju ke kota Charnau. Pasukan kita sudah dikalahkan dan ini yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan sisa pasukan kita."

Mendengar itu, lord Sebastian pun langsung marah besar dan langsung memukul perut Duke Arnold sampai terjatuh dari kudanya. Seperti yang diharapkan dari pemimpin pasukan terkuat Wyvern. Satu pukulan darinya saja dapat membuat Arnold tersungkur.

"Apa yang kau katakan? Pasukan Leonia kalah dari orang barbar yang disebut pasukan hitam itu? Pasukan yang asalnya tidak jelas itu? Jangan main-main denganku! Kita sendiri seharusnya sedang mengumpulkan pasukan di Anteinde dan menyerang balik orang barbar itu kan?"

Duke Arnold diam saja sambil mencoba mendudukkan badannya yang kesakitan dibantu oleh beberapa pasukan dan ajudannya. Lord sebastian pun akhirnya melanjutkan bicaranya.

"Palingan itu hanya kau sendiri yang tidak becus melindungi kota dan malah lari meninggalkan kota seperti pengecut. Seorang bangsawan dan prajuritnya harus mau mengorbankan diri demi kerajaan, bukan malah lari layaknya pengecut sepertimu. Aku harap raja Cheldric nantinya akan memberimu hukuman yang berat jika kau masih berani berjalan menjauh dari kota. Kau lihat saja sendiri bagaimana aku dan pasukanku setelah ini akan berhasil merebut kembali kota Anteinde."

Setelah mengatakan itu, Lord Sebastian pun akhirnya berbalik dan berjalan mendatangi wyvern tunggangannya. Selesai menaikkan dirinya di atas wyvern, Lord Sebastian langsung menerbangkan wyvernnya ke arah rombongan wyvern lainnya yang tadi sempat berhenti menunggu pemimpin mereka. Sambil masih terduduk, Arnold mengamati rombongan pasukan wyvern di udara yang kembali terbang menuju kota Anteinde itu. Jika saja yang mereka hadapi adalah kerajaan lain yang sekelas dengan Scotia, mungkin Arnold akan percaya bahwa Lord Sebastian pasti dapat merebut kota itu meskipun hanya dengan pasukan wyvern miliknya saja.

Sayangnya kali ini musuh yang mereka hadapi berbeda. Arnold yakin orang-orang hitam ini bahkan jauh lebih kuat dari elf. Pasukan misterius yang rumornya datang dari terowongan misterius di ujung wilayah Scotia. Arnold masih setia memandangi pasukan wyvern yang mulai menyusun formasi itu. Bukan hanya Arnold, tapi juga pasukan Arnold dan para warga pengungsi lain. Mereka ingin menyaksikan secara langsung pertempuran yang mungkin akan terjadi tidak lama lagi.

Tiba-tiba, sekumpulan panah api yang bergerak cepat menghantam beberapa penunggang wyvern yang membuat mereka meledak di udara. Ledakan panah api itu kadang kala tidak hanya membunuh satu penunggang saja, tapi juga penunggang lain di sekitar ledakan. Arnold mencari tahu dari mana asal panah api itu dengan mengikuti tempat asal terbangnya. Di sana Arnold melihat sekitar 10 benda terbang yang terlihat seperti capung hitam. Jika capung biasanya mengepakkan sayapnya ke atas bawah dengan cepat, capung yang ini sayapnya tidak dikepakkan ke atas bawah, tapi terlihat berputar seperti kincir.

Capung itu jelas kalah jumlah dengan pasukan Lord Sebastian yang jumlahnya mungkin mencapai 200 penunggang. Seharusnya Lord Sebastian akan mengalahkan capung itu dengan mudah.

Sementara itu, di benda terbang capung raksasa yang tidak lain adalah helikopter Saqr.

Pilot dari helikopter itu awalnya memiliki misi untuk melakukan patroli mengamankan atau melaporkan jika ada pasukan Leonia lain yang terlihat hendak menyerang kota yang baru mereka taklukan. Satu skuadron helikopter tempur ringan Saqr yang berjumlah 10 berlalu lalang mengelilingi bagian luar kota Anteinde. Sejauh ini yang mereka lihat hanyalah sekumpulan prajurit yang berjalan menjauh meninggalkan kota.

Mereka tidak diizinkan untuk menyerang prajurit yang sedang mundur itu. Alasannya adalah pasukan itu berjalan bersama warga sipil. Jika saja mereka dapat menyerang prajurit itu tanpa mengenai warga sipil sedikit pun, tetap saja nanti warga sipil yang bersama mereka nantinya akan berisiko diserang oleh bandit atau sekumpulan perampok. Lagi pula kerajaan Leonia sudah jauh melemah dibanding dulu dan prajurit itu juga kemungkinan besar kehilangan semangat juang mereka. Tidak ada gunanya menangkap dan menjadikan mereka tawanan perang.

Tetapi di satu waktu, pimpinan skuadron Saqr dengan kode panggilan Qomar 1-1 itu tiba-tiba menemukan sekumpulan pasukan lain di radarnya yang bergerak mendekati kota. Kemungkinan besar pasukan itu berniat menyerang kota.

"Di sini pimpinan unit Qomar, aku melihat ada sekumpulan unit udara yang bergerak ke arah kota. Apa kalian melihat hal yang serupa?"

"[bzzz] Di sini, Qomar 1-2 saya melihat hal yang serupa."

"[bzzz] Di sini, Qomar 1-3, saya juga bisa melihatnya secara langsung, apa yang harus kita lakukan kapten?"

Pimpinan skuadron Saqr itu memutuskan menunggu sejenak, mungkin saja pasukan wyvern itu akan berbalik arah ketika mereka mengetahui kota Anteinde sudah tidak berada di bawah kendali Leonia lagi. Tapi sayangnya sekumpulan wyvern itu tetap terbang lurus ke arah kota. Tidak ada tanda-tanda mereka akan berbalik arah.

"Seluruh elemen Qomar, di sini pimpinan Qomar, apakah kalian memiliki amunisi yang cukup untuk melawan mereka?"

"[bzzz] Di sini Qomar 1-2, tidak masalah."

"[bzzz] Di sini Qomar 1-5 Amunisi kita mungkin lebih dari cukup insyaallah."

"[bzzz] Bismillah, mari hadapi mereka kapten! Jika nanti amunisi kita habis, kita dapat meminta bantuan dari unit darat."

Kapten skuadron pun mengangguk sebelum akhirnya memberi perintah untuk membentuk formasi tempur. Tidak lama kemudian, masing-masing helikopter saqr menembakkan 2 roket anti udara ke arah barisan Wyvern itu. Lebih dari 20 penunggang wyvern mati beserta wyvern yang mereka tunggangi. Entah mereka terkena roket secara langsung atau terkena dampak ledakannya.

Para penunggang wyvern pun sempat terkejut dengan serangan tiba-tiba yang menghabisi porsi besar pasukan mereka. Para penunggang yang masih hidup akhirnya memecah barisan dan menyebar agar tidak terkena dampak ledakan yang sama jika salah satu terkena panah api lain.

Kembali ke Arnold yang memandangi pertempuran yang sedang terjadi. Arnold tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya melihat orang-orang terbaik Leonia dengan mudah dijatuhkan. Dalam sekali serang, lebih dari 10 persen pasukan Chevalier de Mort habis terbantai. Capung itu kembali melemparkan panah api yang membunuh 20 penunggang lain. Para penunggang wyvern membalas dengan tembakan sihir mereka yang bermacam-macam, mulai dari sihir bola api, es runcing, tombak udara.

Ternyata serangan-serangan sihir penunggang wyvern itu dengan sangat mudah dihindari oleh para capung yang dapat bergerak ke kanan, kiri, belakang, atas, dan bawah dengan begitu mudah. Seolah angin bergerak bersama capung itu yang membuat capung itu terlihat bergerak sangat ringan. Memang helikopter tipe Saqr berbentuk kecil dan relatif mudah dihancurkan dari perangkat udara lain. Namun, kekurangan itu ditutupi dengan kemampuan manuvernya yang sangat lincah.

Berbeda dengan helikopter kelas berat Nahl yang memiliki manuver cukup lambat, tapi mampu menahan bahkan tembakan RPG sekalipun dan persenjataannya juga jauh lebih lengkap. Jika helikopter Saqr mampu membawa 2 senapan putar minigun 20 mm, 20 rudal udara, dan 10 rudal ledakan tinggi, maka helikopter Nahl mampu membawa 3 senapan putar minigun, 30 rudal udara, dan 20 rudal ledakan tinggi. Hampir dua kali lipat persenjataan Saqr. Sayangnya jumlah helikopter Nahl masih belum cukup banyak mengingat seri helikopter itu juga belum lama diproduksi. Sekitar 500 helikopter yang siap beroperasi di seluruh wilayah Daulah. 20 diantaranya sudah dibawa melewati Al Jisr dan berada di benteng Andalusia.

Helikopter saqr yang tadinya berhasil menghindari serangan para penunggang wyvern menghindar sambil kembali menembakkan senjatanya lagi. Kali ini Arnold melihat garis-garis kuning yang melesat cepat ke arah para penunggang wyvern. Siapapun yang terkena garis-garis kuning itu akan langsung mati seketika. Layaknya hujan deras, garis kuning yang ditembakkan oleh capung besi menghujani posisi para penunggang wyvern dan kembali membunuh banyak penunggang wyvern.

Hal ini terus terjadi berulang. Capung besi menembakkan panah api dan garis kuning sambil menghindari setiap serangan Wyvern Leonia. Hanya dalam waktu 5 menit, para penunggang Wyvern dari Leonia yang berjumlah sekitar 200 orang terbaik Leonia dihabisi bagaikan lalat yang diburu predator. Satu persatu jatuh dengan cepat sampai akhirnya Lord Sebastian yang menjadi penunggang terakhir pun mati terkena panah api yang anehnya terus bergerak mengejarnya meskipun Lord Sebastian berusaha menghindarinya berkali-kali.

Semua orang-orang Leonia yang ada di daratan hanya dapat melihat dengan takjub sekaligus ketakutan menyaksikan capung besi itu. Mereka tahu capung besi itu tidak hanya berjumlah 10 saja. Pasukan hitam masih punya lebih banyak capung hitam di luar sana dan 10 capung hitam saja mampu menghabisi pasukan terbaik Wyvern Leonia tanpa satu korban pun. Arnold tidak dapat membayangkan jika lebih banyak capung hitam menyerang mereka. Bahkan ibukota kerajaan pun dapat dipastikan jatuh dalam waktu dekat.

Selesai menghabisi pasukan wyvern, capung besi itu berpencar ke tempat yang berbeda. Salah satunya mengarah ke Arnold dan rombongannya. Suara kepakan bising aneh dari sayap capung yang lebih mirip suara "ketukan cepat" itu mulai terdengar keras seiring dengan mendekatnya capung itu. Seluruh pengungsi dan pasukan Leonia yang ada di sana ketakutan. Bahkan pasukan Leonia yang ada di sekitarnya langsung menjatuhkan senjata mereka dan berlutut pasrah, merasa bahwa ini adalah akhir hidup mereka.

Nyatanya capung yang mendekat itu ternyata hanya melayang di sana seolah mengamati mangsanya yang ketakutan tidak dapat berbuat apa-apa. Tanpa disangka, capung itu berbalik dan terbang menjauh kembali ke arah kota seolah puas menanamkan ketakutan di hati orang-orang Leonia. Semua orang di sana hanya dapat menatap dengan tatapan terkejut sekaligus lega, menyadari bahwa hari ini bukanlah hari akhir dari hidup mereka.

"Kenapa mereka pergi?"

"Apa mereka mengejek kita?"

"Apa kita sedang diampuni?"

Orang-orang saling bergumam satu sama lain, mengutarakan isi pikiran mereka masing-masing. Nampaknya orang-orang hitam mungkin tidak sekejam yang digambarkan oleh orang Leonia yang lain.

###

5 Juni 2029

Sylvania baru saja bangun dari tidurnya. Kepalanya menoleh ke samping dimana terdapat sebuah jam digital yang ada di atas meja kecil samping tempat tidur. Jam itu menunjukkan pukul 10 pagi. Badannya terasa pegal karena malam sebelumnya Sylvania baru saja melalui malam yang panas bersama Ahmed yang kemudian mereka lanjutkan lagi setelah subuh. Hampir seminggu lamanya mereka tidak melakukan kegiatan ranjang karena pertempuran kota Anteinde.

Akibatnya selama beberapa hari setelah pertempuran itu, keduanya selalu melewati malam yang panas sebelum beristirahat dalam tidur. Keduanya memang menyewa sebuah ruangan di penginapan setelah pertempuran kota meskipun sebenarnya pihak militer sudah menyediakan tenda sendiri untuk para prajurit. Masalahnya tenda prajurit ini dipisahkan dari tenda perawat dan petugas perempuan lainnya.

Lagipula pihak militer juga membolehkan prajuritnya yang sudah menikah untuk menyewa tempat di kota yang biayanya ditanggung oleh pihak militer itu sendiri. Tentu biaya ini dibatasi agar lebih adil. Contohnya jika ada prajurit yang menyewa di tempat yang terlalu mahal, mereka harus membayar sisanya biaya yang melebihi batas tanggungan militer dengan dana sendiri. Hal ini juga berlaku untuk prajurit-prajurit Ghazi yang sedang menduduki kota-kota yang lain.

Sylvania mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan memastikan bahwa di ruangan itu tidak ada siapa-siapa. Pandangannya menemukan Ahmed yang sudah mengenakan celana seragam dan juga kaos hitam polosnya di salah satu sisi ruangan sedang duduk di kursi dan mengerjakan sesuatu di meja depannya. Badan Sylvania didudukkan dengan tangannya menahan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Nyatanya Sylvania masih merasa malu di depan suaminya itu meskipun keduanya sudah cukup sering melakukan hubungan badan.

Diam-diam Sylvania turun dari ranjang dan mengenakan pakaiannya dengan sedikit cepat berupa gaun tipis selutut yang kemarin dibelikan oleh Ahmed di kota tempat mereka menetap sekarang. Tentu saja gaun itu hanya akan dikenakan ketika mereka hanya berdua seperti sekarang. Jika di luar, Sylvania akan kembali mengenakan pakaian tertutup seperti di hari-hari yang lain berupa semacam celana, baju lengan panjang, dan ditambah dengan kerudung. (Bayangkan saja seperti Tauriel di film the hobbit.)

Ahmed nyatanya masih sibuk dengan kegiatannya meskipun Sylvania sudah selesai berganti. Karena penasaran, Sylvania pun mendekati Ahmed dan melihat dengan jelas apa yang dilakukan Ahmed. Di meja depan Ahmed terdapat banyak sekali pecahan bagian-bagian benda yang tidak Sylvania ketahui. Nampaknya Ahmed sedang mengelap benda-benda itu satu persatu. Karena masih penasaran, Sylvania pun akhirnya memilih untuk bertanya.

"Ahmed, apa yang sedang kamu lakukan? Benda-benda apa ini yang ada di atas meja?"

Ahmed akhirnya menyadari istrinya yang baru saja terbangun dan menjawab sambil tersenyum.

"Oh, ini semua senapan yang biasa aku bawa untuk bertempur."

Sylvania terkejut mendengar benda-benda yang menjadi kepingan di meja itu ternyata adalah bagian-bagian dari senjata yang biasa dipegang oleh Ahmed.

"Apa yang terjadi dengan senjatamu Ahmed? Apa ada seseorang yang menyerangmu dan membuat senjatamu hancur menjadi berkeping-keping seperti ini?" Tanya Sylvania dengan sedikit panik membuat Ahmed tertawa kecil.

"Tentu saja tidak. Aku membongkarnya sendiri agar dapat aku bersihkan dan aku juga ingin memastikan senjatanya masih bekerja dengan baik."

Sylvania pun akhirnya manggut-manggut, tetapi masih ada hal yang tidak dia mengerti, membuatnya kembali bertanya.

"Aku pikir senjatamu sudah cukup sempurna. Apa senjata seperti ini masih membutuhkan perawatan?"

Sambil melanjutkan kegiatannya yang sedang mengelap potongan laras senapannya, Ahmed kembali menjawab.

"Ya, senjata senapan seperti ini memang masih membutuhkan perawatan. Layaknya pedang dan tombak yang harus diasah, layaknya busur yang harus dirapatkan talinya, senapan pun juga harus dirawat dengan membersihkan bagian-bagiannya agar tidak macet atau rusak di tengah pertempuran. Hal ini harus dilakukan dengan membongkar senapan itu. Tidak ada buatan manusia yang sempurna. Setiap buatan manusia pasti memiliki cela dan kelemahan. Yang harus kita lakukan hanyalah menutupi atau meminimalkan kelemahan dan kekurangan yang dapat kita temukan sebisa mungkin."

Sylvania kembali mengangguk paham. Perkataan Ahmed membuat Sylvania teringat dengan busurnya sendiri. Sylvania pun beranjak ke salah satu sudut ruangan di mana tempat dia meletakkan busurnya. Diangkatnya busur itu oleh Sylvania dan jari tangannya mencoba menarik-narik kecil tali busurnya. Kelihatannya tali itu sedikit mengendur. Sylvania pun ikut melakukan perawatan terhadap senjatanya sendiri seperti Ahmed. Dirapatkan tali busurnya dan dicek bidikannya.

Setelah memastikan tidak ada bengkokan di busur itu, Sylvania pun mengambil satu anak panah, lalu menarikkan anak panah ke busur dan membidik salah satu sisi tembok ruangan. Tangannya bergerak melepaskan anak panah dan membuat anak panah itu melesat ke tembok. Kaki Sylvania melangkah mendekati anak panah yang sudah menempel di tembok itu, mengecek hasil bidikannya. Hasilnya terdapat lalat yang ternyata terkena anak panah itu dan memang tadinya sengaja dibidik oleh Sylvania.

Di sisi lain, Ahmed juga sudah selesai membersihkan bagian-bagian senapannya dan mulai memasang kembali senapan itu menjadi satu bagian disaksikan oleh Sylvania yang kembali berdiri di dekat Ahmed. Bagaimanapun Sylvania mengagumi keterampilan Ahmed dalam memasang kembali senjata itu yang tadinya menjadi kepingan-kepingan tidak jelas. Dalam waktu yang singkat, senapan itu kembali utuh lagi ke bentuk yang Sylvania kenali. Ahmed mengecek fungsi-fungsi senapannya sambil sesekali menarik-narik pelatuknya yang menimbulkan bunyi 'click' karena tidak ada peluru.

Puas dengan hasil pekerjaannya sendiri, Ahmed pun mengangguk tersenyum dan meletakkan senapan itu di atas meja. Di sisi lain, Sylvania yang masih menatap Ahmed merasa bahwa masih banyak sisi lain dari Ahmed yang belum Sylvania ketahui. Sylvania bahkan belum pernah mendengar pembicaraan tentang bagaimana kampung halaman Ahmed, keluarga Ahmed, dan masa lalu Ahmed yang lain. Sudah lama Sylvania ingin membicarakannya dan sepertinya saat ini adalah waktu yang tepat.

"Ahmed, maukah kau bercerita tentang keluarga dan kampung halamanmu?"

Ahmed sedikit terkejut dengan permintaan Sylvania yang tiba-tiba. Namun, Ahmed tetap mengangguk dan mengajak Sylvania duduk di ranjang ruangan.

"Sepertinya, tidak banyak yang bisa aku ceritakan dari kehidupanku. Aku lahir dari keluarga menengah biasa dengan kehidupan seperti orang muslim pada umumnya. Aku suka sekali melihat film-film aksi, terutama film yang menceritakan tentang jihad dan perjuangan orang-orang muslim di zaman dulu. Sejak kecil aku ingin menjadi seorang Ghazi yang berjuang untuk Islam. Tepat di usia 18 tahun setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku, aku bergabung menjadi seorang Ghazi di militer angkatan darat."

"Aku sempat terlibat di pertempuran melawan negeri bernama Rusia yang melakukan agresi terhadap wilayah muslim lain. Itu adalah pertama kalinya aku terjun ke medan pertempuran. Tiga tahun setelahnya aku mengikuti akademi militer selama empat tahun yang akhirnya membuat pangkatku naik ke letnan. Ayah dan ibuku juga seringkali mendukung setiap keputusanku. Hanya saja adik perempuanku sedikit keberatan ketika mengetahui bahwa aku mendaftar menjadi seorang Ghazi."

Sylvania baru kali ini mengetahui tentang latar belakang Ahmed. Meskipun Ahmed mengatakan bahwa dirinya bukanlah seseorang yang istimewa, tetap saja bagi Sylvania hal itu adalah sesuatu yang istimewa.

"Kau memiliki seorang adik?"

"Yah, dia sudah menikah sekitar 3 tahun lalu. Terakhir aku dengar, saat ini dia juga sedang melanjutkan pendidikannya di universitas untuk menjadi dokter hewan."

Kali ini Ahmed pun berniat bertanya kembali ke Sylvania tentang latar belakangnya. Selama hampir sebulan keduanya menikah, Sylvania sendiri pun juga belum pernah bercerita tentang latar belakangnya.

"Bagaimana denganmu Sylvania? Ceritakan tentang kehidupanmu, bagaimana seorang bangsa Elf bisa berada di kerajaan manusia biasa? Aku juga ingin tahu bagaimana negeri bangsa Elf itu."

Sylvania berpikir sejenak menimbang-nimbang sebelum akhirnya memutuskan untuk bercerita juga.

"Ahmed, sebenarnya aku adalah seorang putri dari kerajaan Elf bernama Isylum."

Ahmed sempat menghentikan pekerjaannya dan matanya terbelalak kaget. Ahmed mengira Sylvania hanyalah elf biasa yang mengembara di negeri manusia. Sedikitpun tidak pernah ada tebakan bahwa Sylvania ternyata adalah seorang putri.

"Putri? Maksudmu seorang putri seperti Cecilia?"

Sylvania mengangguk, lalu melanjutkan ceritanya.

"Negeri kami Isylum merupakan negeri dengan sumber daya yang melimpah, pasukan yang sangat kuat, dan wilayah terluas di Edela. Hal ini membuat kebanyakan orang-orang elf menjadi sombong dan membuat kerajaan manusia lainnya iri. Akibatnya selama ratusan tahun kerajaan kami terisolasi di tengah benua Edela. Bangsa Elf dianggap ras sesat jelmaan iblis dan dimusuhi oleh ras manusia. Tapi selama ratusan tahun, kerajaan kami tidak melakukan apa-apa dan hanya menerima perlakuan ras manusia begitu saja. Kami mampu bertahan sendiri dengan sumber daya kami yang melimpah."

"50 Tahun yang lalu, pamanku yang tidak suka dengan manusia mendesak ayahku untuk menyerang negeri manusia. Ayahku menolak dan malah ingin berdamai dengan manusia, lalu tidak lama kemudian terjadi kudeta di kerajaan Isylum. Ayahku dibunuh oleh pamanku sendiri dengan tuduhan penghianat bangsa Elf. Ibuku mengajakku lari dari kerajaan sebelum kaki tangan pamanku membunuh kami berdua. Selama puluhan tahun kami berkelana, menghindari kejaran kaki tangan pamanku dan prajurit elf yang sudah dikendalikan juga olehnya. Ibuku pun memutuskan untuk keluar dari negeri Elf dan berkelana di negeri manusia. Kami hidup berpindah-pindah karena selalu terusir dari kampung-kampung manusia. Sering kali kami harus menyamar dengan menutupi telinga dan rambut kami."

Sylvania melanjutkan sisa ceritanya selama berkelana di negeri manusia, mulai dari kerajaan Greecia, Bizantius, Gallinea, dan terakhir Scotia. Bahkan Sylvania juga sempat bercerita tentang dirinya yang sempat berada di ibukota Scotia bersama ibunya dan melihat arakan keluarga kerajaan Scotia di arakan parade kerajaan merayakan kelahiran putri raja. Tentu saja putri yang dimaksud adalah putri Cecilia. Waktu itu Cecilia bahkan masih berupa bayi yang ada dalam gendongan permaisuri raja. Melihat Cecilia yang masih bayi waktu itu membuat Sylvania merindukan kehidupannya menjadi putri kerajaan dimana semuanya terasa mudah.

Ceritanya berakhir dengan terbunuhnya ibu Sylvania di hutan oleh serigala yang membuat Sylvania akhirnya berkelana sendirian selama masa penyerangan Leonia ke Scotia. Sylvania yang memutuskan untuk tinggal di sebuah desa yang berada di ujung wilayah Scotia agar terhindar dari serangan Leonia tetap saja mengalami serangan dari prajurit Leonia. Namun, di tengah serangan itu, Sylvania pada akhirnya diselamatkan oleh sosok yang menjadi cinta pertamanya dan menjadi suaminya.

Ahmed dapat melihat air mata Sylvania mulai menetes karena Sylvania harus mengingat masa-masa pedih dalam hidupnya. Ahmed tidak dapat membayangkan dirinya berkelana selama 50 tahun. Tentu saja itu adalah waktu yang sangat lama, terutama untuk manusia biasa seperti Ahmed. Jari tangan Ahmed bergerak mengusap air mata Sylvania yang mengalir di pipinya. Sylvania memandang wajah Ahmed yang mencoba menunjukkan senyum yang menenangkan. Sylvania ikut tersenyum dan memeluk Ahmed.

"Sylvania, aku berjanji selama aku masih hidup, kamu tidak akan sendirian lagi. Mulai sekarang mari kita buat banyak kenangan indah."

Sylvania hanya dapat mengangguk sambil masih memeluk Ahmed. Meskipun air matanya masih mengalir, tetapi bibirnya menunjukkan sebuah senyuman, menandakan bahwa air mata yang mengalir kali ini adalah air mata bahagia.

Keduanya melepas pelukan, senyuman yang ditunjukkan oleh Sylvania tiba-tiba luntur membuat Ahmed menjadi terheran dengan perubahan suasana Sylvania yang tiba-tiba.

"Ahmed, ada sesuatu yang harus aku beritahukan kepadamu. Seharusnya aku bahkan memberitahukannya dari awal, dari sebelum kita menikah."

"Apa itu, Sylvania?"

Sylvania sedikit bingung dan wajahnya menunjukkan raut khawatir.

"Maafkan aku Ahmed, sebenarnya kami dari bangsa Elf merupakan bangsa yang sulit memiliki keturunan. Para Elf biasanya harus menunggu puluhan tahun untuk dapat memiliki anak. Professor Abdurrahim dulu juga memberitahuku bahwa hal ini disebabkan oleh energi Mana yang aku punya yang mempengaruhi kesuburan kami para elf. Aku tahu ini akan membebani dirimu yang bukan Elf. Jika karena hal ini kamu ingin mengakhiri ikatan kita, mungkin aku bisa paham dengan itu."

Ahmed menghela nafas, entah apa arti helaan nafas itu. Kedua mata Ahmed tertutup sejenak, seolah sedang menimbang dan berpikir. Lalu beberapa detik kemudian, kedua mata itu kembali terbuka, seolah Ahmed sudah memutuskan jawabannya.

"Memang, keadaan itu sepertinya terlihat berat. Akan tetapi, bagaimanapun seorang anak adalah karunia Allah. Biarlah Allah yang memutuskan kapan kita berdua akan diberikan keturunan. Kita berdua hanya tinggal berdoa dan memasrahkannya kepada Allah sambil terus mengusahakan apa yang kita bisa."

Mendengar jawaban Ahmed membuat kedua mata Sylvania kembali berkaca-kaca dan kembali memeluk Ahmed sejenak.

"Ahmed, aku… aku… tidak tahu harus berkata apa."

"Sudahlah, yang penting sekarang adalah aku mencintaimu dan kamu mencintaimu. Itu sudah lebih cukup bukan untuk mempertahankan ikatan suci kita."

Sylvania mengangguk dalam diam. Pelukan keduanya kali ini lebih singkat dari sebelumnya. Setelah melepas pelukannya, Sylvania kembali berbicara.

"Ahmed, aku bahagia sekali menemukan pasangan sepertimu. Hanya saja, aku ingin mengajukan permintaan."

Ahmed mengangguk, memberi isyarat agar Sylvania mengutarakan permintaannya.

"Aku tahu seperti katamu tadi, semuanya adalah kehendak Allah. Hanya saja, bagaimanapun aku juga sangat menginginkan seorang anak. Karena itu, permintaanku untukmu adalah aku ingin kamu menikah lagi dengan seorang manusia."

Perkataan Sylvania membuat Ahmed langsung terkejut sambil melebarkan matanya.

"Sylvania, kamu tidak bercanda kan?"

Sylvania menggeleng tegas dan mengulang kembali permintaannya.

"Aku ingin kamu menikah lagi dengan seorang ras manusia. Dengan begitu mungkin kita akan lebih mudah dikaruniakan anak. Aku tidak keberatan meskipun anak itu bukan dari rahimku sendiri Ahmed."

"Sylvania, apa kamu tahu apa yang kamu minta? Memang poligami itu tidak dilarang di dalam Islam, tapi tetap saja aku tidak mau menyakiti hatimu dengan menikahi wanita lain. Kamu sadar kan? Jika aku menikah lagi, itu artinya wanita yang akan aku nikahi juga akan menjadi bagian hidupku sepertimu dan memiliki hak yang sama sepertimu. Sylvania, aku tidak keberatan kalaupun nanti aku tidak memiliki keturunan. Kamu tidak perlu memintaku melakukan sejauh itu."

Sylvania menggeleng dan tetap kekeh dengan permintaannya.

"Aku sadar dengan apa yang aku minta. Aku juga sudah mengetahui hal itu semua dari seperti yang pernah kamu ajarkan. Tapi aku sudah memikirkannya selama beberapa hari ini. Keputusanku sudah bulat untuk memintamu menikah lagi. Lagipula seorang putri sepertiku juga pernah diajarkan untuk terbiasa dipoligami. Seorang raja atau bangsawan seringkali memiliki lebih dari satu pasangan. Memiliki pasangan seperti Ahmed saja bagiku sudah merupakan keberuntungan terbesar dalam hidupku, karena itu aku juga tidak ingin menjadi egois dan mengambil semua kebaikan Ahmed sendirian."

Ahmed merasa dilema. Bagaimana pun wanita yang ada di dalam hatinya saat ini hanyalah Sylvania saja. Ahmed tidak dapat membayangkan dirinya membuka hati itu untuk orang lain selain Sylvania. Namun, di sisi lain, Ahmed sebenarnya juga menginginkan seorang keturunan. Selain itu, Ahmed juga merasa tidak mampu untuk menolak permintaan apapun dari wanita yang saat ini menjadi istrinya itu. Pada akhirnya Ahmed pun hanya dapat mengangguk kecil dan berkata.

"Aku akan memikirkannya, Sylvania."

Meskipun jawaban itu terkesan ambigu. Namun, Sylvania sudah cukup puas untuk mendengarnya.