Part 26 Sang Sultan
"Sultan Osman?"
Melihat sang khalifah pun Ahmed langsung berdiri dan menghormat ke sang khalifah. Cecilia yang masih duduk di samping Ahmed terkejut dan bingung melihat tingkah Ahmed. Pasalnya Cecilia memang masih belum mengetahui siapa Sultan Osman yang disebut Ahmed di depannya sekarang. Di sisi lain, Sultan Osman yang melihat Ahmed tersenyum membalas penghormatan Ahmed seraya memberikan salam.
"Assalamualaikum, Senang bertemu denganmu Kapten Ahmed." Tangan Sultan Osman terulur, tanda mengajak Ahmed berjabat tangan.
"Walaikumsalam, saya merasa terhormat untuk bertemu dengan Anda langsung sultan." Jawab Ahmed dengan senyum yang lebar sambil menyambut jabatan tangan sang Sultan.
Seumur hidup Ahmed bahkan tidak pernah terbesit di pikirannya sekalipun untuk dapat bertemu dengan sang Sultan secara langsung. Ahmed hanya pernah melihat Sultan Osman dari tayangan TV dan berita saja. Pidato-pidatonya seringkali menginspirasi dan memotivasi Ahmed. Tidak seperti pemimpin dari negara-negara lain yang hipokrit dan hanya mengucapkan omong kosong belaka di pidatonya.
Apapun yang diucapkan oleh Sultan Osman pasti akan berusaha diwujudkan olehnya cepat atau lambat. Ahmed bahkan teringat Sultan Osman pernah berkata di salah satu pidatonya bahwa jabatannya sebagai khalifah siap digantikan jika kebijakannya tidak selaras dengan syariat Islam ataupun dengan harapan rakyat.
"Duduklah kapten, kita berbincang sebentar, khususnya dengan gadis muda yang sekarang berada di sampingmu." Ajak Sultan sambil dirinya juga mendudukkan badannya sendiri di kursi seberang Ahmed diikuti oleh kolonel Umar di samping Sultan. Baret yang dipakai oleh keduanya pun dilepas dan diletakkan di meja depan mereka. Ahmed pun menurutinya dan ikut duduk di seberang kolonel dan Sultan. Di sisi lain, Cecilia yang tidak mengerti pembicaraan mereka dan tidak dapat menahan rasa penasarannya pun akhirnya bertanya ke Ahmed melalui bisikan.
"Ahmed, siapa orang ini?"
Mendengar pertanyaan itu, Ahmed tersadar bahwa ada beberapa hal yang mungkin belum diceritakannya ke Cecilia. Salah satunya adalah perihal seseorang yang menjadi pemimpin di negeri kaum muslimin. Lagipula Ahmed sendiri juga tidak menduga jika akan bertemu dengan sang Sultan dalam waktu dekat.
"Sultan Osman, seorang khalifah yang memimpin seluruh wilayah Daulah Islam."
"Khalifah?"
Kata khalifah masih terasa asing di telinga Cecilia karena Cecilia tidak pernah mendengar istilah tersebut sebelumnya. Membuat Ahmed harus menjelaskannya sedikit.
"Mungkin jika di tempatmu lebih seperti raja atau kaisar yang menjadi pemimpin seluruh negeri. Meskipun keduanya tidak benar-benar sama."
"HAH, RAJA? KAISAR?"
Cecilia yang terkejut pun tanpa sengaja mengeraskan suaranya sendiri, membuat dua orang yang berada di hadapannya langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan heran. Cecilia yang menyadari tingkah bodohnya langsung merasa malu dan menunduk sambil mencoba meminta maaf kepada sultan Osman. Orang yang ada di hadapannya adalah seorang raja dari negeri besar Daulah Islam dan tidak seharusnya dirinya mempermalukan dirinya seperti itu, pikir Cecilia.
"Maaf baginda raja, hamba tidak bermaksud berlaku seperti tadi, hanya saja hamba tidak berpikir dapat bertemu Anda seperti ini." Ucap Cecilia ke Sultan Osman dengan nada sopannya. Cecilia bahkan turun dari kursi yang didudukinya dan langsung berlutut di depan Sultan Osman. Tipikal pose penghormatan yang biasa dilakukan oleh orang-orang bangsaman di zaman feodal terhadap orang yang berada di atas status mereka.
Ahmed yang melihat Cecilia berbicara seperti itu sedikit terkejut. Benar-benar menggambarkan seorang putri kerajaan pikirnya. Di kehidupan sehari-hari, Cecilia biasanya berbicara layaknya gadis pada umumnya. Tidak pernah benar-benar menunjukkan sisi kebangsawanannya. Ini adalah pertama kali Ahmed melihat sisi kebangsawanan Cecilia.
Ahmed yang tadi sempat terkejut, sadar bahwa mungkin Sultan Osman tidak memahami bahasa Inggris yang diucapkan Cecilia dan hendak menerjemahkannya. Namun, ketika Ahmed hendak membuka mulut, Sultan Osman mencegahnya sambil mengangkat tangannya, lalu berbicara langsung ke Cecilia.
"Berdirilah putriku, tidak perlu memberikan penghormatan berlebihan, apalagi sampai berlutut. Aku hanyalah seorang pelayan dan manusia biasa sepertimu."
Ternyata Sultan Osman sendiri juga dapat berbicara bahasa Inggris dan tidak memerlukan penerjemahan dari Ahmed. Masih dalam keadaan berlutut, Cecilia yang sedikit bingung dengan pernyataan sang Sultan pun menjawab.
"Pelayan? Tapi, bukannya Anda adalah seorang khalifah? Raja dari seluruh negeri Daulah Islam?"
Sultan Osman sedikit terkekeh. Cecilia malah tambah bingung mengingat perkataannya tadi seharusnya tidak ada yang lucu.
"Raja ya. Kamu tidak sepenuhnya salah. Tapi khalifah bukanlah raja, khalifah adalah peran yang diamanahkan kepadaku untuk menjadi pemimpin dan pelayan dari seluruh negeri muslim beserta rakyatnya. Amanah paling besar yang meskipun tidak aku inginkan, tetap dijatuhkan kepadaku. Ayo berdirilah dan kembalilah ke tempat dudukmu."
Cecilia terkejut sekaligus terkagum dengan perkataan sang Sultan. Belum pernah dia mendengar seseorang yang memiliki kedudukan setingkat raja menyamakan dirinya dengan seorang pelayan. Padahal di sisi lain malah ada raja-raja yang membandingkan diri mereka dengan dewa. Sungguh rendah hati pikirnya, meskipun yang dia pimpin adalah sebuah negeri besar sekalipun. Cecilia menuruti sang Sultan dan kembali ke tempat duduknya. Melihat hal ini, Sultan Osman berinisiatif untuk langsung memulai pembicaraannya.
"Jadi, apa benar kamu adalah anggota keluarga kerajaan terakhir dari Scotia?" Tanya Sultan sambil pandangannya terarah ke Cecilia
Cecilia menatap Ahmed sejenak seolah mencari tahu apakah Ahmed yang memberitahu sang Sultan. Ahmed yang ditatap oleh Cecilia pun hanya tersenyum saja dan mengisyaratkan Cecilia untuk menjawab pertanyaan Sultan.
"Benar, saya adalah anggota terakhir yang masih hidup dari keluarga kerajaan Scotia. Namun, saat ini status saya hanyalah budak saja."
Sultan Osman pun bingung dengan jawaban Cecilia. Bukankah seharusnya Cecilia dan orang-orang yang bersamanya sudah dibebaskan oleh pasukan Ahmed?
"Budak? Bukankah kamu sudah diselamatkan dan dibebaskan oleh para Ghazi yang dipimpin oleh Ahmed?"
Pandangan Sultan Osman berganti ke Ahmed yang juga sama bingungnya, seolah meminta klarifikasi terhadapnya. Ahmed yang mengetahui arti tatapan sang Sultan pun hanya bisa menggeleng dan menjawab.
"Maaf Sultan, saya juga tidak tahu apa-apa mengenai hal tersebut."
Cecilia tersenyum melihat Ahmed dan Sultan Osman yang kebingungan. Pasalnya Cecilia memang sengaja tidak pernah membicarakan hal ini ke Ahmed.
"Memang benar, Ahmed dan pasukannya yang telah melepaskan saya dari tempat perbudakan itu. Orang yang menculik atau mengambil paksa seorang budak biasanya secara otomatis akan menjadi pemilik baru dari budak tersebut. Karena itu, Ahmed lah yang seharusnya menjadi pemilik baru dari saya. Memang benar Ahmed dan pasukannya telah membebaskan saya dan juga budak yang lain. Tapi, saya menolak untuk dibebaskan dan memilih untuk tetap menjadi budak Ahmed."
Tentu saja mendengar pernyataan seperti itu Ahmed terkejut bukan main. Tidak pernah terbesit sekalipun di dalam dirinya untuk memperbudak seseorang di dalam hidupnya. Namun, sekarang malah ada seseorang yang mengaku menjadi budaknya. Karena itu, mau tak mau Ahmed pun langsung memprotes tanpa menghiraukan keberadaan sang Sultan di depannya.
"Cecilia! Kita tidak pernah membicarakan ini sebelumnya, apa maksudmu menjadi budakku? Aku tidak pernah setuju untuk memiliki seseorang sebagai budak!"
"Maaf Ahmed, aku sengaja diam saja dan terus mengikutimu sampai sekarang. Jika aku mengatakannya kepadamu, aku tahu kau akan berusaha menjauh dariku atau malah membuangku."
Ahmed hanya dapat memijat kepalanya sambil berpikir apa yang harus dia lakukan terhadap Cecilia nanti setelah pertemuan dengan Sultan Osman. Tidak dapat dipungkiri bahwa Ahmed benar-benar merasa malu karena pertemuannya dengan Sultan Osman yang juga bergelar sebagai khalifah malah jadi seperti ini.
Di sisi lain, Sultan Osman yang melihat kejadian ini hanya bisa tersenyum sambil teringat dengan cerita di masa lampau. Memang banyak di masa awal Islam muncul di mana seorang budak menolak untuk dibebaskan dan lebih memilih untuk bersama tuannya. Mereka memilih demikian karena mereka adalah tipikal seseorang yang tidak dapat hidup sendiri di luar tanpa tuannya atau karena tuannya yang terlalu baik dan mereka lebih suka hidup bersama tuan mereka.
Hal inilah yang juga menjadi salah satu alasan kenapa Islam menghapus perbudakan secara perlahan, bukan secara langsung atau instan yang biasanya menyebabkan keguncangan sosial. Di sisi lain, sang Sultan pun yang tidak terlalu terkejut juga sudah mendengar laporan yang sama dari wilayah-wilayah lain di Scotia tentang sejumlah budak yang menolak untuk ditebus atau dibebaskan dan memilih untuk bersama majikan mereka yang lama.
"Cecilia kan namamu? Kenapa sepertinya kamu bersikeras sekali menjadi budak Ahmed? Di tempat asal kami, perbudakan sudah lama hilang dan kami sudah tidak menjalankan praktik perbudakan lagi."
"Saya tahu, Sylvania sudah pernah menceritakannya ke saya. Tapi, sebenarnya saya menyukai Ahmed dalam pandangan pertama. Mungkin rasa ini sudah sampai pada tahap cinta. Hal ini terjadi ketika Ahmed membawa saya pergi dari tempat perbudakan saya di tengah rasa keputus asaan saya. Saya tahu Ahmed sudah menikah dengan wanita bernama Sylvania ini. Tapi tetap saja perasaan saya membuat saya tidak ingin jauh dari Ahmed. Saya tidak memiliki cara lain untuk dapat tetap dekat dengan Ahmed selain dengan menjadi budaknya."
Pandangan Cecilia berpindah ke Ahmed. Menandakan bahwa saat ini Ahmed lah yang diajak bicara oleh Cecilia.
"Maafkan aku Ahmed karena membuat keputusan sepihak seperti ini. Sebenarnya aku juga ingin memberitahukannya kepadamu dalam waktu dekat. Hanya saja aku belum menemukan waktu yang tepat. Aku ingin bilang jika memang aku tidak bisa hidup bersamamu sebagai istrimu, setidaknya izinkan aku hidup di sisimu sebagai budakmu."
Kata-kata itu diucapkan dengan nada yang sedikit bergetar. Ahmed dapat melihat bahwa saat ini mata Cecilia terlihat berkaca-kaca. Mungkin Cecilia sedang berjuang keras menahan air matanya tumpah. Namun, usahanya sedikit gagal karena ternyata ada beberapa tetes air mata yang akhirnya menetes keluar. Cecilia yang menyadarinya pun langsung mengusap air matanya dengan canggung. Apalagi ketika dirinya teringat bahwa saat ini dirinya duduk di depan kepala negara dari Daulah Islam.
"Ah maaf, aku malah terbawa perasaan dan membicarakan hal pribadi seperti ini."
Sultan Osman malah tersenyum melihat Cecilia. Mungkin perkataan Cecilia sedikit menarik simpati dari sang Sultan.
"Masa muda memang menjadi masa yang sangat menarik, apalagi ketika membicarakan tentang romansa masa muda. Bukan begitu kolonel?"
"Saya tidak akan menyangkalnya Sultan."
Sang kolonel yang duduk di samping Sultan dan sedari tadi mendengarkan saja pembicaraan 3 orang lainnya hanya dapat mengiyakan perkataan Sultan.
"Namun, aku akan memberitahumu hal ini gadis muda. Kami para muslim hanya menikahi seorang muslim lainnya dan tidak diperkenankan menikah dengan seseorang dari agama lain. Jadi saya juga akan mengatakan bahwa selama kamu belum menjadi muslim juga, Ahmed tidak akan dapat dan tidak akan pernah menikahimu."
Cecilia mengangguk, hal yang juga pernah dia dengar sebelumnya dari Sylvania.
"Saya mengerti tuanku."
"Baiklah, mari kita kembali ke topik pembicaraan. Apa yang ingin aku bicarakan denganmu sebagai seorang anggota keluarga kerajaan Scotia adalah, apa yang kamu inginkan terhadap Scotia setelah perang ini usai?"
Ternyata selama ini, Sultan Osman jauh-jauh datang ke Edela menemui Cecilia hanya untuk membahas nasib kerajaan Scotia dengannya.
"Saya hanya menginginkan kehidupan yang damai serta kesejahteraan dan kebahagiaan untuk rakyat Scotia."
Sultan pun mengangguk. Sepertinya Cecilia adalah tipikal anggota kerajaan yang memikirkan nasib rakyatnya. Tidak banyak anggota kerajaan yang berpikir seperti itu di masa lalu. Kebanyakan dari mereka hanya mementingkan kekuasaan dan tumpukan harta mereka.
"Baiklah, ini yang ingin kutawarkan kepadamu sebagai anggota terakhir keluarga kerajaan Scotia. Setelah perang usai, kamu bisa kembali memimpin Scotia lagi, tentunya di bawah naungan Daulah Islam dengan beberapa aturan tertentu harus diterapkan di negerimu. Scotia nantinya akan dimintai pembayaran jizyah bagi rakyatnya yang memiliki harta berlebih. Sebagai gantinya, Scotia juga akan memiliki jaminan keamanan dari kami dan juga sebagian fasilitas lainnya seperti transfer teknologi selain persenjataan militer. Jika ada negeri lain yang menyerang Scotia lagi, Daulah Islam dan para Ghazinya akan menjadi yang pertama membela negeri ini."
Tawaran yang sangat menggiurkan pikir Cecilia. Sebelum tertangkap oleh pasukan Leonia, memang benar Cecilia selalu terpikir untuk mengambil alih kembali negerinya yang dikuasai oleh Leonia. Setelah mengalahkan Leonia dan mengusir mereka dari negeri Scotia, Cecilia juga berencana mengambil alih tahta dan memegang pemerintahan Scotia menjadi Ratu Scotia. Sebenarnya bukan hal yang lazim di kerajaan Scotia untuk dipimpin seorang Ratu, tetapi hal itu lah yang bisa dilakukan karena Cecilia adalah satu-satunya keluarga kerajaan yang masih hidup dan lolos dari pembantaian di kastil kerajaannya.
Akan tetapi, pikirannya langsung berubah total setelah bertemu dengan Ahmed dan juga pasukan Ghazi. Mengetahui identitas di balik rumor munculnya Pasukan Hitam dari barat. Cecilia sempat berpikir bahwa pasukan yang dimaksud adalah pasukan pemberontak biasa, sama seperti dirinya yang ingin merebut kerajaan juga atau bahkan pasukan dari kerajaan lain yang juga ingin menjajah Scotia.
Tapi setelah melihat apa yang dilakukan oleh pasukan hitam ini di Orluire dan Anteinde, Cecilia sadar bahwa pasukan hitam ini tidak akan menjajah Scotia. Pasukan hitam ini lah yang justru dapat mensejahterahkan rakyatnya jauh lebih baik daripada apa yang pernah dilakukan oleh pendahulunya sendiri. Pendahulunya yang hanya mau menarik pajak dari rakyat tanpa memikirkan kebahagiaan dan nasib rakyatnya. Yang hanya memikirkan nasib kaum bangsawan dan mengorbankan kehidupan rakyat.
"Apa Anda tidak ingin melakukan aneksasi terhadap wilayah Scotia dan menjadikannya sebagai bagian wilayah Daulah Islam?" Cecilia bertanya kembali ke sang Sultan.
Pertanyaan Sultan Osman sebelumnya membuat Cecilia berpikir bahwa pasukan hitam dan Daulah Islam berniat untuk melepaskan Scotia dari kepengurusan mereka saat mereka selesai dengan Leonia, termasuk kepengurusan kota Orluire dan Anteinde yang dilihat langsung oleh Cecilia. Apakah orang-orang dari Daulah Islam ini hanya mau memberikan kebahagian untuk sesaat saja untuk rakyat Scotia? Lalu kembali meninggalkan mereka lagi dengan nasib mereka sendiri?
"Tentu saja hal itu juga masuk pertimbangan kami sebelum kami menemukan adanya anggota kerajaan yang masih hidup. Berita tentang keberadaanmu membuat kami menyadari perlunya pembahasan ini. Di masa lampau, kebanyakan negeri yang baru saja kami ambil alih biasanya akan memunculkan pemberontakan yang dipimpin oleh sisa-sisa dari anggota kerajaan mereka. Mereka ingin memimpin dan mengatur sendiri negeri mereka hingga melakukan pemberontakan dan menyebabkan pertumpahan darah yang tidak perlu. Sejak saat itu setiap kali kami ingin melakukan perluasan wilayah, kami selalu meminta persetujuan dari pihak-pihak berwenang yang menjadi kepala pemerintahan di negeri tersebut, lalu melakukan referendum kepada seluruh warga yang ada di wilayah itu."
Jadi, orang-orang dari Daulah Islam tidak benar-benar berniat meninggalkan kami. Mereka hanya mencoba memberikan kami kebebasan untuk memilih nasib kami. Pikir Cecilia.
"Jadi, jika saya setuju dengan tawaran Anda, apa yang akan terjadi?"
"Kami akan melakukan referendum dengan warga Scotia untuk menentukan apakah mereka ingin kembali ke kerajaan Scotia lagi seperti dulu di bawah kepemimpinanmu atau menjadi bagian dari wilayah Daulah Islam."
"Dan jika saya menolak?"
"Kami tidak memiliki pilihan lain selain mengurus wilayah Scotia secara langsung sehingga menjadikannya sebagai bagian dari wilayah Daulah Islam."
Cecilia pun akhirnya dapat memahami sepenuhnya niat Sultan Osman. Pada dasarnya Sultan Osman dan seluruh Daulah Islam tidak memiliki niat buruk terhadap Scotia dan rakyatnya. Jika memang begitu, itu berarti sejak awal kedatangan Daulah Islam pun nasib Scotia sudah ditentukan. Pada dasarnya pilihan manapun yang diambil Cecilia, hasilnya akan sama saja. Dengan perlakuan seperti sekarang, tentu saja rakyatnya tidak akan segan-segan memilih untuk berada di bawah kekuasaan Daulah Islam jika nanti diadakan referendum seperti yang dikatakan Sultan.
"Saya rasa jawabannya sudah jelas, pilihan manapun yang saya ambil nantinya, saya rasa pada akhirnya Scotia akan menjadi bagian dari Daulah Islam." Jawab Cecilia dengan senyum kecut.
"Kenapa begitu?"
"Karena perlakuan dari negeri Anda terhadap warga Scotia jauh lebih baik dari pada negeri manapun, bahkan jauh lebih baik dari pemerintah Scotia sendiri yang menjadi pendahuluku. Karena itu, saya rasa rakyat Scotia akan lebih senang jika Anda yang memimpin negeri ini sebagai bagian dari negeri Anda."
Cecilia terdiam sejenak, sedangkan Sultan Osman masih menunggu sampai Cecilia memperjelas jawabannya yang masih sedikit ambigu. Dengan sedikit menarik napas, Cecilia menghembuskan kembali napasnya dan mempertegas jawabannya.
"Saya harus memohon maaf karena saya harus menolak tawaran Anda yang sangat rendah hati. Saya akan menyerahkan nasib Scotia di bawah pemerintahan negeri Anda. Selain itu, seorang budak tidak seharusnya menjadi pemimpin di suatu negeri bukan?"
Sultan Osman terkekeh karena pernyataan terakhir dari Cecilia. Rasanya aneh sekali ketika mendengar seseorang menyatakan dirinya sebagai budak dengan rasa bangga.
"Baiklah kalau itu memang keputusanmu gadis muda. Ternyata kamu cukup cerdas juga untuk seorang gadis seusiamu. Semoga warga Scotia dapat menerima keberadaan kami seperti yang kamu katakan."
"Aku yakin mereka memang sudah menerima keberadaan kalian."
Sultan Osman pun tersenyum singkat, lalu akhirnya berdiri, menandai bahwa pembicaraannya telah usai dan sang Sultan pun harus pergi ke tempat lain untuk mengerjakan tanggung jawabnya yang lain.
"Baiklah, itu saja yang ingin aku bicarakan. Boleh aku tahu siapa nama lengkapmu Cecilia?" Tanya sang Sultan sambil mengenakan baret perwiranya lagi yang digunakan sebagai samaran.
"Cecilia Norma de Scotia."
"Hmm, benar-benar terdengar seperti nama Perancis." Gumam Sultan dalam bahasa Arab, lalu pandangannya berganti ke kapten Ahmed.
"Kapten, aku rasa Cecilia adalah gadis yang baik, jaga dia baik-baik ya. Kalau kau bisa mendakwahkannya dan mengajaknya masuk Islam, aku juga menyarankan kamu untuk menikahinya saja daripada membiarkannya menjadi budakmu seperti yang dia inginkan."
Ahmed terkejut dengan pesan yang diberikan oleh sang Sultan. Padahal seharusnya Sultan tahu kalau Ahmed sudah menikah, tapi tetap saja berkata seperti itu.
"Anu, Sultan… kalau mungkin Anda sudah lupa, saya sebenarnya sudah menikah."
Sultan Osman terkekeh sejenak, lalu menjawab.
"Aku tahu itu, tapi tidak ada larangan untuk memiliki dua istri kan? Jika kau menikahinya, aku rasa itu akan memperkuat hatinya dalam Islam."
Ahmed pun tidak dapat memberi bantahan apa-apa dan hanya dapat mengangguk kecil sambil sedikit menghela nafas. Sebelum sang Sultan keluar dari tenda, Ahmed mencoba menyempatkan untuk memanggilnya.
"Sultan, boleh saya berpendapat tentang Anda?"
"Apa itu kapten?"
"Anda cocok sekali dengan seragam itu."
Sultan Osman tersenyum dan mengangguk sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju pintu keluar tenda sambil mengucapkan salam yang kemudian dibalas oleh Ahmed. Di sampingnya, kolonel Umar yang tadi juga ikut berdiri memperbolehkan Ahmed untuk keluar juga sebelum mengantarkan sang Sultan keluar dari tenda.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah menunggu sang Sultan telah keluar dari tenda, Ahmed dan Cecilia pun keluar tenda juga. Keduanya berjalan kembali menuju tenda kesehatan di mana Sylvania dan yang lainnya berada. Cecilia yang masih belum mengerti bahasa Arab pun tadinya hanya dapat mendengarkan saja pembicaraan Ahmed dan sang Sultan tanpa dapat mengerti apa-apa, termasuk saran dari sang Sultan agar Ahmed menikahi dirinya. Cecilia pun mencoba melupakannya saja, mungkin itu urusan privasi keduanya pikir Cecilia.
Di sisi lain, Ahmed yang baru saja bertemu sang Sultan masih merasa canggung. Pikirannya mengkhawatirkan jika saja tindakan dan perkataannya tadi ada yang salah atau menyinggung sang Sultan. Tidak semua orang memiliki pengalaman untuk bertemu sang Sultan langsung. Karena itu setidaknya Ahmed tidak ingin meninggalkan kesan buruk untuk Sultan Osman tentang dirinya.
Memikirkan tentang Sultan membuat Ahmed juga memikirkan perkataan Sultan. Apakah dirinya harus menuruti perkataan Sultan Osman? Tiba-tiba Ahmed teringat dengan pembicaraannya dengan Sylvania tadi pagi yang juga menyarankan Ahmed menikah lagi. Ahmed jadi penasaran apakah Sylvania akan menerima keberadaan Cecilia? Mungkin Ahmed harus menanyakannya langsung ketika bertemu dengannya nanti. Tapi sebelum itu, yang paling penting adalah Ahmed harus menunggu dan memastikan apakah Cecilia berniat masuk Islam atau tidak. Percuma kan memikirkan untuk menikahi Cecilia jika pada akhirnya Cecilia berniat untuk tetap mempertahankan kepercayaan lamanya.
"Ahmed."
Cecilia yang berjalan di samping Ahmed tiba-tiba memanggilnya, membuat lamunannya buyar.
"Ada apa?"
"Aku ingin bertanya, tentang raja dan khalifah, apa yang membuat keduanya berbeda? Bagiku keduanya terlihat sama saja sebagai pemimpin sebuah negeri dan memiliki kekuasaan mutlak."
Ahmed menggeleng, tanda menyalahkan pernyataan Cecilia.
"Keduanya tidak sama Cecilia. Seperti katamu, seorang raja memiliki kekuasaan mutlak untuk mengatur negeri, termasuk membuat peraturan dan memilih cara dalam berkuasanya. Tetapi khalifah hanya menjalankan aturan dari Islam yang disebut syariat Islam dalam memimpin dan tidak boleh mengubah aturan yang ada di dalam syariat. Aturan baru yang boleh dibuat adalah aturan yang memang belum ada di dalam syariat seiring dengan perkembangan zaman dan itu pun harus dengan pertimbangan dan persetujuan para ulama. Selain itu, tidak seperti raja yang juga mutlak berkuasa seumur hidup, khalifah dapat diturunkan sewaktu-waktu jika dirinya memang ingin pensiun atau dengan kehendak warga Daulah Islam akibat dari adanya keputusan yang dibuat khalifah yang tidak sesuai dengan Islam."
"Aturan dari Islam ya, lalu siapa yang membuat aturan Islam ini?"
"Syariat Islam diberikan langsung oleh Allah, melalui nabi kami Muhammad dalam bentuk kitab suci Al Qur'an dan As Sunnah."
Cecilia terkejut mendengar bahwa seluruh aturan dari negeri Ahmed ternyata diklaim berasal langsung dari tuhan mereka. Tidak pernah sebelumnya Cecilia mendengar suatu negeri yang diberikan peraturan dari tuhan langsung. Negeri paling religius seperti Bizantius saja tidak memiliki aturan seperti itu. Hanya sampai tahap para pendeta dan agamawan mereka yang ikut mempengaruhi keputusan raja dalam membuat peraturan dan keputusan tanpa ada keterkaitan dengan hukum atau aturan dalam agama mereka.
Di Scotia yang menjadi kerajaan Cecilia, pemerintahan dijalankan sepenuhnya oleh raja dengan beberapa penasehat saja. Para pembesar agama dan rohaniwan sama sekali tidak ikut campur dalam arus politik dan hanya menjadi tokoh rohani di tengah masyarakat saja. Hal ini juga disebabkan karena penduduk Scotia memiliki berbagai macam kepercayaan meskipun mayoritasnya adalah penyembah dewa Solus.
"Agamamu sangat menakjubkan Ahmed. Baru kali ini aku mengetahui ada agama yang dapat melingkupi seluruh aspek kehidupan dengan aturannya yang lengkap. Awalnya aku berpikir agama hanya diperuntukkan bagi setiap individu manusia saja di kehidupan pribadi mereka agar mereka menjadi individu yang baik dan memenuhi kebutuhan spiritual saja."
"Kamu benar, Islam bukan hanya diperuntukkan memenuhi kebutuhan spiritual saja. Islam adalah sebuah jalan hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, bahkan mulai dari tata cara makan dan minum, sampai kehidupan bernegara, sebuah ideologi yang memberikan tujuan hidup."
"Makan dan minum?" Cecilia sedikit terkejut dengan pernyataan itu. Tidak menyangka bahwa pengaturan agama yang dimaksud Ahmed bahkan meliputi salah satu hal paling sepele seperti makan dan minum di kehidupan ini.
"Iya, makan dan minum, aturan tentang bagaimana cara makan dan minum yang baik, makanan dan minuman apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi, dan hal-hal yang lainnya."
"Aku… bahkan tidak menyangka kalau aturan seperti itu juga ada."
"Masih sangat banyak yang perlu kau pelajari jika kau ingin memahami Islam." Ahmed sedikit terkekeh mendengar keterkejutan Cecilia. Tidak menyadari bahwa hal yang selama ini dirinya anggap wajar terdengar mengejutkan bagi orang yang masih belum mengenal Islam seperti Cecilia.
Tanpa sadar keduanya telah sampai di tenda yang tadi mereka tinggalkan. Sylvania dan Lusie ternyata masih berada di sana melihat video lain tentang sejarah Islam di internet. Tampaknya mereka berdua tidak bosan mendengarkan sejarah Islam. Kali ini video yang mereka tonton menceritakan tentang kisah penyerangan Mongol dan jatuhnya kota Baghdad, lalu dilanjutkan dengan peperangan dengan bangsa Mongol yang dimenangkan oleh Syaifudin Qutuz dari kesultanan Mamluk.
Ahmed pun pada akhirnya ikut duduk dan mendengarkan cerita itu sampai selesai. Melihat raut wajah kekaguman ketiga gadis Edela di depannya membuat Ahmed tersenyum. Ahmed teringat ketika masa kecil dulu, dirinya juga sering mendengar kisah tentang perjuangan orang-orang Islam di masa lalu yang akhirnya membuat Ahmed termotivasi untuk bergabung dengan para Ghazi di militer.
"Ahmed, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Cecilia ke Ahmed setelah selesai menonton video itu.
"Kau boleh bertanya apa saja tentang Islam, Cecilia." Jawab Ahmed.
Lusie dan Sylvania pun tampak penasaran juga dengan apa yang ingin ditanyakan oleh Cecilia.
"Bagaimana cara agar aku bisa menjadi seorang muslim?"
Pertanyaan itu membuat seluruh isi ruangan terkejut. Pasalnya tidak ada yang menduga bahwa pertanyaan itu akan terlontar saat itu juga dari mulut Cecilia. Melihat keterkejutan orang-orang di sekitarnya, Cecilia pun menjelaskan.
"Setelah seminggu lebih ini aku melihat dan mendengarkan ajaran agama kalian dan juga melihat kebaikan yang dihasilkannya, bagaimana bisa aku tidak tertarik dengannya? Belum pernah ada di dunia ini yang seperti Islam. Yang mampu mengatur manusia dan membawa manusia dalam kebaikan dan kedamaian seperti yang kulihat di kota Orluire dan Anteinde. Islam membuatku percaya bahwa tuhan itu memang benar-benar ada."
Ahmed pun akhirnya menjawab pertanyaan Cecilia.
"Untuk menjadi seorang muslim, yang perlu dilakukan hanyalah membaca dua kalimat Syahadat. Kalimat yang juga tertulis di bendera kami. Tapi, apakah kamu yakin dengan keputusan yang akan mengubah hidupmu ini? Tidak ada pemaksaan dalam Islam, jika kamu masih belum yakin, kamu tidak perlu memaksakan dirimu karena pemeluk agama lain pun tidak akan dilarang untuk tinggal di negeri kami dan kamu juga tidak akan diusir dari Scotia."
Ahmed mencoba memastikan kemantapan hati Cecilia karena tidak ingin Cecilia memeluk Islam dengan keterpaksaan.
"Aku yakin, semenjak Ahmed dan Sylvania menjelaskan tentang Islam selama seminggu ini, Aku akhirnya yakin bahwa ini adalah agama yang pantas menjadi jalan hidupku."
Mendengar jawaban Cecilia, Ahmed pun yang sebenarnya masih terkejut merasa lega dan bersyukur karena bertambahnya lagi satu orang yang akan menjadi saudara seimannya.
"Baiklah, ikuti aku. Aku akan mengantarmu ke seorang imam untuk menuntunmu membaca kalimat syahadat."
Ahmed pun mengajak Cecilia keluar tenda diikuti oleh Sylvania dan Lusie yang juga ingin menyaksikan proses masuk Islamnya Cecilia. Mereka pun tiba di tenda yang menjadi tempat sholat untuk para personil militer di area itu dan di dalamnya pun terdapat seseorang yang tidak asing bagi Ahmed. Seseorang yang sudah menuntun Sylvania membaca syahadat juga dan menikahkan Ahmed dan Sylvania. Seorang imam yang merangkap menjadi perwira militer, Mayor Farid.
"Mayor Farid? Saya tidak menyangka akan bertemu anda di kota ini." Ucap Ahmed sedikit terkejut sambil menghormat ke sang Mayor.
Mayor Farid yang merangkap menjadi imam di tempat itu pun membalas gerakan hormat Ahmed.
"Ah, rupanya kamu ya yang beberapa minggu lalu menikah dengan seorang Elf. Aku baru saja dipindahkan ke kota ini sehari yang lalu. Ada keperluan apa kalian kesini? Apakah kalian belum menunaikan sholat dhuhur?"
"Bukan begitu Mayor, saya membawa seseorang yang ingin masuk Islam agar dapat anda tuntun membaca syahadat."
Senyuman mayor Farid melebar mendengar hal itu.
"Ah begitu ya, apa gadis muda ini yang kamu maksud?" Ucap Mayor Farid sambil menunjuk Cecilia karena mengetahui bahwa dua gadis lain di ruangan itu sudah memeluk Islam dan hanya gadis itu yang masih tampak asing di depan Mayor Farid.
"Benar Mayor."
"Duduklah."
Mayor Farid pun meminta keempat orang di depannya duduk dan Cecilia diminta duduk di depan mayor langsung. Sebelum memulai prosesi pembacaan syadat, Mayor Farid pun bertanya serta menjelaskan tentang dasar-dasar dalam akidah Islam. Setelah itu Cecilia juga kembali ditanya tentang kebulatan tekadnya dalam memilih untuk masuk Islam dan dijelaskan bahwa setelah masuk Islam sangat tidak dibolehkan untuk berpindah lagi ke kepercayaan lain dan diminta menjauhi hal-hal yang memiliki unsur kesyirikan.
Barulah setelah menyanggupi semua penjelasan sang Mayor, Cecilia mulai dituntun membaca syahadat yang diawali dengan pembacaan dalam bahasa Arab. Cecilia yang masih tidak dapat berbahasa Arab pun berusaha mengikuti ucapan sang Mayor meski dengan kesulitan karena logat bahasanya. Baru setelah itu sang Mayor menuntun Cecilia mengucapkan syahadat dalam bahasa Scotia atau lebih tepatnya bahasa Inggris.
Ternyata apa yang tadinya dikhawatirkan Ahmed terkait Cecilia yang mau menerima Islam atau tidak malah terjawab lebih cepat dari dugaannya. Membuat Ahmed sedikit geleng-geleng karena uniknya takdir yang dialaminya. Ahmed mau tidak mau harus memikirkan tentang apa yang harus dia lakukan terkait dengan Cecilia. Apa dirinya benar-benar perlu menikah lagi dan apakah Cecilia adalah pilihan yang tepat untuk menjadi wanita keduanya?
3 Bulan yang lalu ketika dirinya pertama kali menginjakkan kaki di Edela, tidak pernah sedikitpun Ahmed terbesit untuk menikah dengan wanita lokal, apalagi menikahi dua wanita.
###
Flashback
Februari 1945
Konferensi postdam di bulan Februari menghasilkan keputusan tentang pembagian wilayah Jerman yang akan diduduki oleh negara pemenang perang. Sekutu dan Soviet mendapat Jerman barat dan Jerman Timur, sedangkan Daulah Islam mendapatkan wilayah Austria yang nantinya akan dianeksasi menjadi bagian dari Daulah Islam secara resmi.
Banyak sekali pengungsi dan juga tentara Jerman yang memilih mengungsi dan menyerah ke wilayah Daulah Islam daripada ke daerah sekutu Amerika yang kemungkinan menjadi korban bully atau diskriminasi dan daerah Soviet yang terkenal kekejamannya dan menjadi pelampiasan balas dendam. Sebagian besar pengungsi sebenarnya berasal dari Jerman Timur yang dikuasai Soviet yang sedang haus akan dendam karena wilayahnya yang diserang terlebih dahulu oleh Jerman.
Hasil lain dari konferensi postdam adalah Soviet dan Daulah Islam akan membantu Amerika menyelesaikan perang pasifik dengan Jepang. Sultan Abdul Qadir yang menjadi khalifah Daulah waktu itu awalnya tidak setuju untuk membantu Amerika karena bagaimanapun keduanya sebenarnya bermusuhan secara ideologi dan Daulah Islam pun juga tidak memiliki kepentingan lain di perang Pasifik. Lagipula pimpinan tertinggi di Daulah Islam itu juga tidak pernah mengumumkan aliansi dengan pihak manapun dan hanya menjaga sikap netral saja.
Namun, keputusan sang Khalifah berubah ketika Amerika memaparkan rencananya juga untuk menjatuhkan bom atom. Hal ini akan merenggut banyak warga sipil jika perang di wilayah pasifik tidak kunjung usai dalam waktu dekat. Sepertinya pihak Amerika benar-benar tidak ingin kehilangan jumlah pasukannya lebih banyak lagi dan akibatnya mereka lebih memilih untuk mengorbankan warga sipil.
Mereka sudah melakukannya sejak awal dengan melakukan pengeboman ke kota padat penduduk secara membabi buta. Hanya saja kali ini skalanya jauh lebih besar dan korban yang akan timbul tidak dapat diterima begitu saja oleh Sultan. Bagi Amerika dan sekutunya, korban warga sipil merupakan hal biasa dan mereka sama sekali tidak menahan diri. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan Daulah Islam yang berusaha untuk hanya menargetkan fasilitas militer saja dan tetap memprioritaskan keamanan warga sipil meskipun itu di daerah musuh.
Sultan Abdul Qadir pun bersedia membantu Amerika dengan syarat Amerika harus menghentikan rencananya untuk menjatuhkan bom atom yang dapat menelan ratusan ribu nyawa itu. Amerika yang kelelahan berperang sendiri di pasifik pun mau tidak mau harus setuju dengan persyaratan Sultan Abdul Qadir.
Penyerangan pulau utama Jepang pun akhirnya diserahkan ke pihak Daulah Islam dan Amerika hanya akan menyerang pulau-pulau yang lebih kecil saja. Alasannya adalah jumlah korban jiwa Amerika yang bagi mereka sudah terlalu membengkak di pasifik itu membuat mereka tidak ingin kehilangan lebih banyak pasukan lagi dari Jepang dengan menyerang pulau utama.
Sultan Abdul Qadir pernah melihat sendiri bagaimana tentara Amerika berperang. Moral tentara Amerika mudah jatuh ketika jumlah korban di pihak mereka melambung. Berbeda dengan tentara muslim yang moralnya tidak mudah goyah karena semangat jihad mereka dan bersedia untuk bertempur sampai akhir. Tapi sang khalifah juga paham bahwa tentara Jepang pun juga memiliki moral yang sama kuatnya dengan mereka. Penaklukan pulau Jepang tidak akan mudah pikirnya.
Pasukan pun dimobilisasi, khususnya yang sekarang berpangkalan di wilayah bekas Hindia Belanda. Warga lokal dari Nusantara pun juga ada yang direkrut untuk bergabung dengan pasukan Daulah. Kebanyakan dari mereka berasal dari Aceh yang memang memiliki ikatan kuat dengan Daulah Turki Utsmani sejak lama. Hanya saja warga dari daerah lain yang masih sedikit ragu dengan Daulah Islam pun tidak terlalu banyak yang bergabung sebelum akhirnya didorong oleh fatwa jihad dari para ulama setempat.
Maret 1945
Hanya perlu satu bulan bagi Daulah untuk menyiapkan pasukan di Indo-Malaya dalam penyerangan ke Jepang. Bahkan di bulan berikutnya, terdapat kabar bahwa akan ada pasukan tambahan dari pusat Daulah yang tergabung dari veteran perang eropa beserta mantan tahanan nazi yang memeluk Islam dan meminta bergabung menjadi prajurit Daulah Islam. Pasukan Daulah nantinya juga akan mendirikan basis di pulau Okinawa yang dalam kendali Amerika Serikat dan akan diserahkan ke Daulah Islam sebagai batu loncatan menuju pulau Jepang.
Terdapat satu operasi penting sebelum pendaratan ke Jepang. Angkatan laut Jepang masih memiliki beberapa kapal perang yang beroperasi di sekitar wilayah mereka. Pendaratan tidak akan lancar jika sisa angkatan laut Jepang tidak segera dinetralisir, khususnya kapal perang Jepang yang bernama Yamato dan menjadi lambang atau ikon kekuatan laut Jepang. Daripada menyerang kapal Yamato yang dinilai berbahaya ini secara terbuka, pimpinan angkatan laut Daulah memiliki rencana untuk mengirim pasukan khusus, menyabotase kapal itu, dan bila perlu mengambil alih kapal itu agar dapat dimanfaatkan oleh angkatan laut Daulah Islam.
Meskipun jumlah kapal perang daulah terbilang banyak, tetapi masih kalah jika dibandingkan dengan Amerika yang armada kapalnya jauh lebih besar. Pemimpin angkatan laut berharap dengan diambil alihnya kapal Yamato akan dapat memperkuat angkatan laut Daulah Islam dan juga pengaruhnya di Pasifik setelah perang nanti. Rencana pun dibuat dengan matang dan sekelompok pasukan khusus dilatih untuk operasi tersebut.
Berdasarkan intel yang diberikan dari pesawat pengamat Amerika, kapal Yamato ternyata selama lebih dari satu bulan ini berlabuh di pelabuhan Kure, prefektur Hiroshima, kota yang seharusnya menjadi sasaran dijatuhkannya bom atom Amerika. Namun, kota inilah yang awalnya menjadi titik pendaratan pasukan Daulah untuk perebutan Jepang. Mendengar keberadaan kapal Yamato di kota tersebut, disusunlah rencana baru. Angkatan laut dan angkatan darat akan berkolaborasi dalam hal ini. Operasi tersebut dinamakan Operasi Ghrub Assyamsi atau "Terbenamnya Matahari".
Di bulan Maret, pasukan daulah yang sudah berposisi di pulau Okinawa bagian selatan pun disiapkan. Petinggi dan pasukan Jepang pun tidak tahu-menahu tentang keikutsertaan Daulah Islam dalam penyerangan ke wilayah mereka, termasuk yang masih berada di Okinawa. Para petinggi Jepang berpikir bahwa Amerika masih sibuk menaklukkan pulau Okinawa dan mereka masih memiliki waktu untuk menyiapkan pulau utama Jepang untuk serangan Amerika selanjutnya. Beberapa dari mereka menggagas untuk melatih para penduduk sipil ikut serta mempertahankan pulau utama. Bahkan terdapat rencana untuk mengirim kapal Yamato ke Okinawa mendukung pasukan yang masih bertahan di sana.
Di satu hari, tepatnya pada dini hari, sejumlah kapal selam Daulah Islam menyusup ke dekat pelabuhan Kure dengan jarak kurang lebih 1 Km. Di dalamnya terdapat pasukan khusus berjumlah 100 personil yang diberi misi khusus menangani kapal Yamato. Di tempat lain, pasukan pendaratan Daulah Islam yang dikawal armada laut sedang dalam perjalanan menuju tempat yang sama dan saat ini berjarak 100 Km dari pelabuhan Kure.
Semua kapal mematikan lampu dan peralatan radio mereka kecuali lampu tertentu yang digunakan untuk komunikasi dengan kode morse. Gelapnya malam dengan awan tebal pada hari itu membuat armada laut Daulah hampir mustahil untuk dideteksi, apalagi orang Jepang sama sekali tidak tahu keberadaan dan rencana kedatangan Daulah. Pesawat patroli tidak dapat mendeteksi mereka karena awan tebal, sedangkan kapal patroli dihalangi oleh kegelapan malam. Di atas langit, sekumpulan pesawat pengebom daulah terbang melewati armada laut menuju ke tempat yang sama untuk menghancurkan pertahanan koastal Jepang.
Pasukan khusus yang tadinya berposisi di kapal selam diantarkan ke daratan terdekat dan mulai keluar dari kapal selam mereka. Mereka langsung berenang menuju ke daratan terdekat untuk mengamankan pasukan patroli dan penjaga, khususnya di menara-menara merkusuar dengan senapan dan peralatan yang dibungkus plastik di punggung mereka. Di antara mereka juga terdapat beberapa penembak jitu tentunya untuk memudahkan operasi penyusupan dalam menghabisi pasukan penjaga.
Setelah beberapa penjaga terbunuh, mulai ada kegaduhan di antara pasukan penjaga Jepang. Kebanyakan orang Jepang berpikir bahwa yang menyerang hanya kelompok perusuh atau pemberontak anti perang dan hanya mengirim sejumlah kecil personil untuk membantu pasukan penjaga. Pasukan khusus pun dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama untuk mengalihkan pasukan Jepang ke tempat lain, sedangkan kelompok kedua langsung menuju objek operasi.
Perhatian pasukan penjaga Jepang yang teralihkan pun membuat mereka tidak sadar bahwa ada kelompok lain yang menuju ke kapal Yamato karena terlalu sibuk dengan kelompok pengalih perhatian. Prajurit yang berpatroli di kapal dibunuh diam-diam satu persatu, tentunya tanpa menembakkan senjata agar tidak menarik perhatian pasukan penjaga lain. Bom-bom pun di pasang di berbagai tempat di kapal, khususnya gudang amunisi dan peledakannya menggunakan pemicu kabel.
Sang kapten pasukan terus melihat jam mereka untuk mensinkronkan operasi mereka dengan operasi pendaratan pasukan utama. Bila kapal tidak dapat direbut di waktu yang ditentukan, mereka diharuskan meledakkan kapal, tapi jika mereka dapat merebutnya, bom yang sudah dipasang akan dijinakkan lagi di lain waktu. Untungnya kebanyakan awak kapal tertidur, membuat operasi berjalan lebih mudah. Pasukan khusus pun mengunci pintu-pintu kamar awak kapal agar ketika mereka terbangun nanti tidak dapat mengganggu atau bahkan menyerang pasukan khusus.
Berbagai bagian kapal direbut satu persatu. Terjadi beberapa adegan tembak yang membuat penjaga lainnya mulai bersiaga, apalagi mengetahui kabar bahwa ada pasukan lain yang menyerang juga di luar. Namun, pasukan patroli di kapal pun tampaknya tidak dapat berbuat banyak ketika melawan pasukan khusus. 2 jam semenjak operasi dimulai bendera Jepang di kapal Yamato diturunkan, diganti dengan bendera Daulah Islam. Kelompok pengalih perhatian yang tadinya mulai kewalahan mendapat dorongan moral melihat bendera tersebut.
Di waktu yang sama, armada laut, pasukan pendaratan, dan armada udara yang tadinya membuat kebijakan kesunyian radio, kini memecah kesunyian tersebut dan menyalakan radio mereka. Kapten dari pasukan khusus pun yang baru saja berhasil merebut anjungan kapal menggunakan perangkat radio yang ada di kapal untuk menghubungi pasukan utama dan pasukan udara agar para pengebom menghindari kapal Yamato dalam upaya pengeboman mereka. Pasukan pengalih perhatian pun juga dihimbau untuk berlindung.
Tidak lama kemudian, pesawat pengebom yang mulai terbang rendah pun dapat dilihat dari pelabuhan. Pasukan Jepang pun benar-benar terkejut ketika melihatnya, seolah tak percaya bahwa hari itu mereka didatangi oleh sekumpulan pesawat pengebom tanpa peringatan di malam hari. Apa yang terjadi selanjutnya hanya dapat digambarkan sebagai kekacauan. Pasukan penjaga berlarian kalang kabut. Berbagai instalasi pertahanan koastal dihancurkan.
Awak kapal Yamato yang tadinya tidur mulai bangun dan panik, apalagi ketika menyadari bahwa pintu ruangan mereka dikunci semua dari luar. Beberapa pesawat tempur yang mengawal pesawat pengebom pun turun dan menembaki pasukan penjaga yang ada di pelabuhan. Pengeboman berlangsung sekitar 15 menit dan benar saja, kapal Yamato yang sudah dikuasai pasukan khusus tidak terkena bom dari pesawat. Namun, ketika pesawat tempur dan pengebom sudah mulai menghilang, kekacauan pun mulai reda dan pasukan Jepang yang ada di sana kini sadar bahwa kapal Yamato sudah dikuasai, apalagi dari bendera yang berkibar di kapal juga sudah diganti.
Meriam koastal pun mulai diarahkan ke kapal. Seluruh pasukan Jepang yang ada berganti mengepung dan menembaki kapal itu. Dengan persenjataan yang ada di kapal itu, pasukan khusus melawan balik. Beberapa tembakan dari meriam koastal pun meledakkan bagian tertentu dari kapal. Tentu saja pasukan khusus juga menggunakan meriam kapal Yamato untuk menembak balik ke meriam koastal. Kelompok yang tadinya bertugas mengalihkan perhatian kini mendukung dari belakang dan menyabotase titik penting seperti meriam koastal dan pos senapan mesin Jepang.
Tetap saja, 100 pasukan khusus melawan seluruh penjaga koastal dari pasukan Jepang membuat pasukan khusus semakin terdesak. Korban mulai berjatuhan dari pihak pasukan khusus. Di tengah desakan itu, mereka tetap melawan tanpa gentar sampai akhirnya sebuah tembakan meriam yang terdengar dari jauh mulai terdengar, menjadi bantuan artileri untuk pasukan Daulah. Dari arah laut, pasukan utama yang menggunakan perahu pendaratan pun datang.
Pasukan Jepang mau tidak mau harus membagi kekuatan dan sebagian pun mengarahkan tembakan mereka ke arah laut. Siapapun yang ada di pelabuhan itu sebenarnya sadar bahwa posisi mereka sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Pasukan daulah mulai membanjiri pelabuhan Kure dan pasukan penjaga Jepang yang tadinya diporak-porandakan oleh pasukan khusus tidak dapat berbuat banyak. Meski begitu, sebagian besar dari mereka tetap berperang sampai titik darah terakhir seperti yang dilakukan tentara Jepang lain pada umumnya di perang dunia 2. Hanya sejumlah kecil yang memilih untuk menyerah.
Bahkan ketika pelabuhan sudah diduduki pun, awak kapal Yamato yang terkurung di kamar mereka banyak yang masih memilih melawan ketika pintu-pintu kamar mereka akhirnya dibuka satu persatu. Pada akhirnya, kapal Yamato yang berhasil diamankan pun akhirnya dilucuti dari bom-bom yang sebelumnya dipasang. Orang-orang dari angkatan laut yang disiapkan sebagai awak kapal pun mengambil alih pengoperasian kapal untuk kemudian dijalankan. Hari itu, kalimat takbir digemakan di pelabuhan Kure. Para petinggi Jepang benar-benar dikejutkan dengan pendaratan pasukan Daulah Islam. Mereka lengah karena berpikir Amerika masih terfokus di Okinawa dan hanya berfokus pada armada Amerika saja.
Kapal Yamato akhirnya berlayar meninggalkan pelabuhan Kure untuk diamankan di wilayah Indo-Malaya dengan membawa bendera Daulah. Para petinggi angkatan laut dari Daulah paham jika orang-orang Jepang yang mengetahui hal ini akan melukai harga diri mereka. Mereka tidak akan terima dan akan berusaha menenggelamkan kapal itu sendiri daripada membiarkannya jatuh ke tangan musuh mereka. Hari itu juga menjadi awal peperangan berdarah antara pasukan Daulah dengan kekaisaran Jepang dalam usaha penaklukan Jepang.
6 Juni 2029
Pelabuhan sebelah utara benteng Andalusia, Darul Bahr.
Zahir yang ditunjuk oleh Khalifah sebulan lalu mengawasi langsung proses penyusunan ulang kapal Yamato yang sudah dibongkar sekaligus dimulainya proses modifikasi besar-besaran pada lambung kapal. Dr Zahir mengingat sejarah yang dibacanya tentang perebutan kapal tersebut. Jika saja waktu itu Daulah Islam sudah lama berperang dengan Jepang seperti Amerika, kapal itu mungkin tidak akan dapat direbut.
Selama 70 tahun kapal itu terus dioperasikan, dijaga, dan dimodernisasi, mulai dari sistem persenjataannya sampai dengan mesinnya yang sebelumnya menggunakan diesel, kini menggunakan reaktor nuklir. Dek-dek kapal di sekitar meriam utama juga dipasang peluncur rudal jelajah. Seluruh meriam menggunakan sistem auto loader. Di sisi lain, modifikasi yang dilakukan di lambung kapal berupa penggantian komposisi lambung dengan logam komposit dan ditambah sebuah baling-baling besar yang berjumlah 4 di kedua sisi lambung kapal.
AN:
Mungkin dari pembaca sekalian ada yang merasa ganjal bagaimana kapal perang Yamato yang memiliki awak kapal sekitar 2000 an orang dapat dikalahkan hanya dengan kurang dari 100 orang saja sehingga kalian merasa skenario ini terkesan dipaksakan. Tapi menurut saya hal ini tidaklah mustahil, apalagi jika kalian pernah melihat film "Under Siege" di mana film itu mengisahkan kapal perang "Missouri" yang dibajak dengan mudah oleh teroris. Lagipula jika sebuah kapal sedang berlabuh, kadang kala kebanyakan krunya tidak berada di kapal dan hanya sejumlah kecil saja yang masih berada di kapal untuk pemeliharaan.
Kapal Missouri memang kelasnya masih di bawah Yamato, tapi kapal itu tetap menjadi salah satu kapal terbesar yang dimiliki oleh Amerika dan seharusnya jumlah awak kapalnya juga tidak jauh berbeda dari awak kapal Yamato. Apalagi di skenario ini, kapal diserang pada waktu dini hari dan ketika itu kebanyakan awak kapalnya masih tertidur.
