Part 28 Cecilia dan Ahmed
7 Juni 2029
Sehari setelah serangan nuklir dari kapal selam misterius yang berhasil digagalkan.
Sultan Osman yang juga bergelar khalifah sebagai pemimpin Daulah Islam mengadakan konferensi pers untuk membahas serangan yang terjadi di hari sebelumnya. Acara ini tidak hanya didatangi oleh jurnalis dari dalam negeri Daulah Islam saja, banyak jurnalis dari luar Daulah yang datang untuk mencari tahu serangan yang diarahkan ke negara adidaya terbesar di dunia itu. Pertanyaan pertama datang dari jurnalis yang memegang mic dengan gambar bendera Rusia.
"Tuan Sultan, bagaimana serangan nuklir yang diarahkan ke wilayah negara anda berhasil dihentikan?"
"Kami menggunakan rudal prototip yang baru saja berhasil diuji coba dan berfungsi untuk menangkal ledakan nuklir."
"Apakah anda bisa jelaskan lebih spesifik terkait rudal prototip yang berhasil mencegah nuklir ini?"
"Maaf, karena rudal ini baru saja selesai uji coba dan masih dalam tahap pengembangan, saya tidak dapat memberikan info lebih jauh lagi sampai rudal ini benar-benar siap untuk dirilis. Tentu saja setelah rudal ini selesai rilis, harapannya dunia kita akan jauh lebih aman dari serangan semacam nuklir yang nantinya akan memberikan kerusakan besar bagi umat manusia."
Kali ini ganti jurnalis dengan mic bergambar bendera cina yang melontarkan pertanyaan.
"Bagaimana dengan pihak penyerang yang meluncurkan rudal nuklir ke wilayah anda?"
"Penyerang merupakan kapal selam tidak dikenal yang tiba-tiba muncul di samudera Hindia dan meluncurkan rudal balistik berhulu ledak nuklir dari sana. Tentu saja kapal selam itu telah dihancurkan di tempat seketika setelah meluncurkan rudal mereka oleh salah satu kapal tempur Daulah Islam."
"Apakah kapal selam yang meluncurkan rudal itu berhasil diidentifikasi?" Reporter dari Cina itu bertanya lagi.
"Kami berhasil mengidentifikasi kapal selam tersebut dan ciri-cirinya memiliki kemiripan 90 persen dengan kapal selam kelas Virginia milik Amerika Serikat. Karena itu sampai pemerintah Amerika Serikat memberikan klarifikasi terkait penyerangan ini, semua ekspor minyak bumi dan barang tambang lainnya yang mengarah ke Amerika Serikat dari negeri kami akan dihentikan secara total."
Pertanyaan pun terus dilontarkan oleh beberapa reporter jurnalis dari berbagai macam channel berita dan dari banyak negara. Pertanyaan-pertanyaan itu kebanyakan berkaitan dengan informasi-informasi spesifik tentang proses penyerangan kapal selam tak dikenal itu. Hal ini terus berlangsung selama kurang lebih 1 jam sampai akhirnya Sultan Osman menjawab pertanyaan terakhir sambil melihat jam tangannya, lalu mengakhiri konferensi pers dan meninggalkan podium.
Memasuki ruangannya, Sultan pun duduk di kursi kerjanya sambil sedikit menghela napas karena kelelahan menjawab pertanyaan di konferensi pers. Tak lama kemudian, salah satu staffnya masuk ke ruangan dan melapor.
"Sultan, ada panggilan dari Amerika Serikat."
"Siapa itu?"
"Presiden Dirrel, Sultan."
Sultan pun mengangguk, entah kenapa wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan seolah sudah memprediksi panggilan itu.
"Sambungkan ke dalam."
"Baik Sultan."
Sultan Osman pun mengangkat telpon yang ada di mejanya dan tak lama kemudian dari seberang sana terdengar suara yang menjadi milik Presiden dari negara Amerika Serikat itu. Presiden Dirrel yang tak bisa berbahasa Arab hanya dapat berbahasa Inggris, tapi itu tak jadi masalah untuk Sultan.
"Sultan Osman."
"Ada apa, Presiden Dirrel?"
"Aku melihat tayangan tentang konferensi pers mu. Anda tidak bisa menghentikan supplai energi dari negeri Anda. Amerika akan jatuh dalam krisis dan inflasi besar jika itu terjadi."
Sultan Osman tersenyum miring mendengar kata inflasi dan krisis dari balik telpon.
"Bukankah negeri anda sudah sering mengalami inflasi dan krisis presiden Dirrel?"
Presiden Dirrel terdiam karena memang itu yang menjadi fakta. Inflasi memang sebuah hal yang lumrah dalam sistem ekonomi kapitalis dan itu juga yang terjadi di Amerika Serikat. Butuh beberapa detik sebelum presiden Dirrel dapat memberikan jawaban dari pertanyaan itu.
"Kali ini berbeda tuan Sultan, negeri Anda menyuplai hampir 40 persen dari kebutuhan energi kami. Jika sampai terjadi krisis energi, Amerika Serikat akan bangkrut dan kemungkinan terburuknya akan terpecah seperti Uni Soviet."
"Begitu ya. Sayangnya jatuhnya negeri anda tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap negeri kami."
"Serangan kapal selam itu bukan berasal dari Amerika Serikat. Kapal kami dibajak oleh terroris dan desertir. Kami akan menanggung berapapun kerugian yang anda alami asalkan suplai energi dari negeri anda dapat tetap berjalan."
"Ah baiklah, tapi sepertinya anda tidak perlu menanggung kerugian apa-apa karena dari pihak kami tidak ada satu kerugian pun selain torpedo yang digunakan untuk meyerang kapal selam anda. Tapi sebagai gantinya, negeri anda harus membayar 10 persen lebih banyak untuk pembelian minyak bumi dan barang tambang yang berasal dari negeri kami selama setahun kedepan. Tentu saja kami hanya menerima pembayaran dengan emas seperti biasa."
Mendengar hal itu, Sultan Osman tahu bahwa presiden Amerika di balik telpon pasti menggigit bibir setelah mendengar pernyataan itu. Tapi mau tak mau sultan Osman tahu bahwa presiden Amerika harus menerima tawaran itu.
"Saya mengerti tuan Sultan. Terima kasih atas pengertian Anda."
Telpon pun ditutup setelah presiden Dirrel mengatakan hal itu. Tentu saja Sultan Osman tahu benar bahwa pelaku peluncuran rudal nuklir yang diarahkan ke Gaza jelas dari angkatan bersenjata Amerika Serikat, bukan dari teroris. Namun, Sultan Osman tidak ingin memperdalam konflik negerinya dengan Amerika mengingat sampai saat ini negara mereka pun sebenarnya dalam keadaan perang dingin. Tapi tetap saja, Amerika harus diberi hukuman kecil yang setidaknya akan sedikit mengguncang perekonomian negara mereka.
###
Ahmed berjalan menyusuri jalanan kota ditemani oleh dua wanita di kanan dan kirinya. Sekitar 2 jam yang lalu, Ahmed baru saja selesai menjalankan proses akad pernikahan dengan Cecilia di salah satu tenda militer. Ketika selama berhari-hari ini Ahmed berusaha meminimalisir sentuhan dengan Cecilia, sekarang dirinya harus membiarkan Cecilia berjalan sambil memeluk tangan kanannya. Di sisi lain, Sylvania pun juga tidak mau kalah sebagai istri pertamanya dengan menggandeng tangan kirinya.
Setiap laki-laki yang baru saja menikah, pasti akan menunjukkan wajah yang senang dan sumringah. Sayangnya hal ini tidak terlihat di wajah Ahmed. Malah wajah itu menunjukkan ekspresi seolah dirinya mendapat tambahan beban hidup. Hal ini wajar karena saat ini Ahmed baru saja berpoligami, itu artinya dirinya harus bisa berlaku adil terhadap dua istrinya. Dua istri itu berarti dua tanggung jawab yang harus dipikul oleh Ahmed.
"Ahmed, semangatlah, aku yakin semua akan baik-baik saja. Aku yakin kami berdua dapat menjadi pasangan terbaik untukmu."
"Aku tahu Sylvania, hanya saja ..."
Ahmed ingin mengutarakan keluhannya ke Sylvania, akan tetapi mulutnya terhenti ketika matanya menoleh ke Cecilia yang menunjukkan wajah bahagianya. Tangan kanan Ahmed dipeluknya dengan erat meskipun pandangan matanya lurus kedepan. Melihat hal ini, bibir Ahmed akhirnya ikut menyunggingkan senyum tipisnya juga. Dibalik beban yang harus dia pikul, setidaknya ada satu lagi wanita yang terlihat bahagia karenanya.
"Cecilia, kenapa kau menyukaiku?" tanya Ahmed tiba-tiba, membuat Cecilia sedikit terkejut, namun tetap menjawab dengan lugas.
"Tentu saja karena kau adalah kesatria penyelamatku dan aku menyukaimu dalam pandangan pertama."
Yah, memang itu yang selalu dia katakan dari berhari-hari yang lalu pikir Ahmed.
"Lalu, bagaimana jika seandainya aku masih tidak mau menikah denganmu?"
"Mungkin, aku akan menjadikan diriku sebagai budakmu, yah, setidaknya itu yang aku pikirkan dulu. Entah kenapa aku sangat ingin berada di dekatmu, tuan kesatria. Tapi setelah menjadi seorang muslim, mungkin aku akan mencoba untuk ikhlas sambil mengharapkan ksatria lain yang mau datang kepadaku."
Ahmed jelas melihat ekspresi murung dari Cecilia ketika mengatakan hal itu.
"Berhenti memanggilku kesatria, aku punya nama. Panggil aku Ahmed seperti yang lain. Lagipula aku bukanlah seorang kesatria, tetapi hanya seorang perwira mujahid."
"Baiklah Ahmed, yah asal kau tahu, Ahmed akan selalu menjadi kesatriaku di dalam sini." Cecilia menyentuh dadanya ketika mengatakan itu. Cecilia pun mengatakannya sambil mengembalikan senyum yang ada di bibirnya.
Di sisi lain Sylvania juga ikut tersenyum menyaksikan keduanya. Entah kenapa hati Sylvania juga ikut lega meskipun jauh di dalam sana, Sylvania sendiri juga tidak menampik fakta bahwa terdapat rasa cemburu. Hal ini wajar terhadap setiap wanita yang melihat pasangannya bersama wanita lain. Tetapi Sylvania berusaha melawan perasaan itu karena sejak awal dirinya juga yang menginginkan kebahagiaan untuk Cecilia dan mendorong Ahmed untuk menikahi Cecilia juga.
###
8 Juni 2029
Keesokan harinya, Sylvania dan Cecilia berjalan bersama di pasar kota untuk berbelanja kebutuhan harian. Tentu saja keduanya mengobrolkan banyak hal selama di jalan sambil melihat-lihat suasana kota. Entah kenapa kota terlihat sangat damai terlepas dari fakta bahwa lebih dari dua minggu yang lalu kota tersebut menjadi medan perang. Bahkan terlihat beberapa tentara Ghazi bercengkrama dengan orang-orang setempat yang penasaran, ada juga yang terlihat berbelanja di pasar membeli produk makanan lokal.
"Vania, lihat! Kau tau apa yang dilakukan orang-orang itu?" Tanya Cecilia sambil menunjuk beberapa prajurit Ghazi yang sedang mengulur kabel dengan truk dan banyak peralatan lainnya.
"Oh, aku pernah melihat mereka di jalanan yang lain beberapa hari yang lalu. Ahmed bilang mereka sedang melakukan instalasi listrik untuk kota."
"Listrik?"
Sylvania baru saja menyadari bahwa Cecilia belum banyak tahu tentang teknologi yang dibawa oleh orang-orang dari Daulah Islam ke dunia mereka. Mau tak mau Sylvania harus menjelaskannya ke Cecilia.
"Ehm kau tau, cahaya yang dibuat oleh peralatan mereka, kendaraan, dan semua perangkat yang dipakai orang-orang seperti Ahmed. Semuanya menggunakan energi yang disebut listrik."
"Begitu ya. Apakah listrik sama dengan sih- ehh maksudku energi Mana?"
"Emm, aku kurang begitu paham, tapi sepertinya Mana berbeda dengan listrik. Mungkin lain kali aku akan menanyakannya ke Ahmed. Tapi yang pasti Mana hanya digunakan untuk kita sendiri, sedangkan listrik dapat digunakan untuk banyak hal."
Cecilia akhirnya hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Sylvania. Obrolan mereka pun berlanjut sampai di titik dimana Sylvania melontarkan pertanyaan sensitif ke Cecilia.
"Jadi, bagaimana malam pertamamu dengan Ahmed?"
Mendengar pertanyaan itu, Cecilia pun menatap Sylvania dengan tatapan bingung.
"Apa maksudmu malam pertama kami? Tentu saja kami hanya tidur saja seperti biasa, hanya saja tidur di samping seseorang yang aku suka, itu terasa sangat menenangkan."
Sylvania terkejut mendengar jawaban Cecilia. Tidak menyangka jawaban seperti itu yang akan diucapkan olehnya.
"Kau yakin tidak ada kegiatan yang lain? Hanya tidur saja?"
"Hmm, sepertinya begitu… Ah iya, aku ingat Ahmed juga sempat mencium keningku sebelum tidur. Rasanya sangat romantis sekali, mengingatkanku pada cerita-cerita tentang seorang pangeran dan putri yang sering diceritakan oleh ibuku waktu masih kecil. Apa Ahmed juga melakukan hal itu kepadamu Vania?"
Sylvania yang kali ini mendapat pertanyaan dari Cecilia sebenarnya tidak tahu harus menjawab apa. Jelas-jelas perlakuan terhadap dirinya dan Cecilia sangat berbeda. Tidak mungkin kan jika Sylvania menceritakan pengalaman malam pertamanya dengan Ahmed? Bisa jadi nanti Cecilia malah sakit hati. Tapi di sisi lain, melihat respon Cecilia yang memperlihatkan bahwa apa yang dialaminya seolah wajar, memberikan tanda kalau bisa jadi Cecilia bahkan tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah.
"Ehmm, yah kurang lebih seperti itu eheheh." Yah Ahmed memang menciumku dan kami juga tidur bersama seperti Cecilia kan? Meskipun yang dilakukan Ahmed nyatanya tidak hanya itu.
Sylvania berencana untuk menanyakannya ke Ahmed, tentang kenapa Ahmed tidak melakukan hal "itu" dengan Cecilia di malam pertama mereka. Wajar memang jika Sylvania masih berpikir seperti itu mengingat bahwa dirinya masih belum banyak mengetahui norma-norma dan kebiasaan yang saat ini berlaku di dunia Ahmed.
Cecilia tiba-tiba tertunduk dan menghentikan langkah kakinya, membuat Sylvania sedikit bingung dan mau tidak mau harus bertanya.
"Cecilia, ada masalah apa?"
Cecilia masih tertunduk sejenak, tidak berani mengangkat kepalanya, apalagi menghadap ke Sylvania. Hal ini membuat Sylvania semakin bingung dan khawatir kalau saja kata-katanya ada yang menyinggung Cecilia.
"Maaf Sylvania." Ucap Cecilia tiba-tiba dengan nada pelan. Sylvania kembali terkejut, ternyata dugaannya meleset dan malah Cecilia yang tiba-tiba minta maaf.
"Cecilia? Kenapa minta maaf? Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa."
"Maaf Sylvania, aku sudah merebut Ahmed darimu. Aku memang mencintai Ahmed dari awal aku bertemu dengannya. Perasaan itu membuatku entah bagaimanapun tidak mau terpisah dengannya. Tapi kalau akhirnya begini, aku tahu aku yang salah, karena dari awal Ahmed seharusnya sudah menjadi milikmu. Tapi meski begitu, aku ingin kau tetap mengizinkanku memiliki Ahmed. Karena itu, maafkan aku, Sylvania."
Sylvania tersenyum mendengar perkataan Cecilia. Padahal Sylvania sendiri yang meminta Ahmed menikahi Cecilia, tapi Cecilia malah meminta maaf kepadanya.
"Sudah kuduga, kamu memang perempuan yang baik, Cecilia. Karena itu, aku tidak keberatan Ahmed menikah lagi jika itu denganmu. Meskipun kau sudah menikah dengan Ahmed, kau masih memikirkan perasaanku. Tidak apa-apa Cecilia, dan tolong jangan gunakan kata 'merebut', karena Ahmed juga masih menjadi milikku sampai saat ini."
Cecilia pun langsung memeluk Sylvania yang kemudian dibalas juga oleh Sylvania. Siapa pun yang melihat mereka berdua pasti akan mengira bahwa keduanya adalah dua bersaudara adik dan kakak. Lagipula di kota itu hampir tidak ada yang tahu bahwa Sylvania adalah seorang elf mengingat dirinya selalu mengenakan kerudung di luar sekarang. Selesai berpelukan, keduanya kembali berjalan menuju tempat penginapan mereka. Sambil berjalan, Sylvania pun berinisiatif mengubah topik agar dapat mengganti suasana.
"Cecilia, kau mau dengar cerita dariku?"
"Cerita apa?"
"Dulu, ada seorang putri dari kerajaan elf, putri itu hidup bahagia di tengah kemewahan keluarga bangsawan. Layaknya putri bangsawan lainnya, putri itu juga memiliki mimpi untuk bertemu pangeran yang dapat memikat hatinya suatu hari nanti. Kedua orang tuanya juga sangat menyayanginya, benar-benar sebuah kehidupan yang diimpikan setiap gadis muda.
Tapi, kebahagiaan itu tidak berlangsung selamanya. Di satu hari, paman dari gadis itu mengadakan kudeta. Ayahnya dibunuh dan untuk menghindari pembunuhan juga, gadis itu pun akhirnya melarikan diri bersama ibunya. Keduanya mengembara di berbagai negeri manusia. Setelah beberapa tahun mengembara, gadis yang menjadi mantan putri kerajaan itu bahkan juga kehilangan ibunya karena serangan binatang buas.
Hidup sendirian gadis itu pun memutuskan untuk menetap di sebuah desa terpencil yang mau menerimanya meskipun dirinya adalah seorang elf. Tetapi, seolah nasib tidak ingin memberikan ketenangan, tak lama kemudian desa itu diserang oleh pasukan dari negeri tetangga. Semua penduduk desa dibunuh dan wanitanya diperkosa. Gadis itu pun hampir menemui nasib yang sama dengan penduduk desa yang lain."
Sylvania berhenti sejenak, membuat Cecilia sedikit penasaran dengan kelanjutannya.
"Tapi, gadis itu berhasil selamat kan?" Tanya Cecilia yang dijawab dengan anggukan, lalu Sylvania pun melanjutkan ceritanya.
"Gadis itu diselamatkan oleh seorang prajurit dari negeri misterius dengan pakaian dan senjata yang misterius juga. Pakaian yang serba hitam dengan wajah tertutup kain dan senjata yang mampu membunuh musuh dalam sekejap, membuat gadis itu sempat ketakutan. Tetapi rasa takut itu hilang ketika prajurit itu membuka kain penutup wajahnya dan berkata, 'Tenanglah, kami di sini untuk menyelamatkanmu'. Seketika gadis itu jatuh cinta dengan orang yang menyelamatkannya, seolah orang itu adalah kesatria berkuda yang datang untuk menyelamatkan dan menjemputnya."
Cecilia pun berpikir sejenak, mencerna cerita dari Sylvania yang sepertinya sudah dia akhiri karena Sylvania tidak melanjutkan ceritanya lagi. Tetapi tak lama kemudian, Cecilia melebarkan matanya dan menoleh ke arah Sylvania dengan wajah terkejut.
"Jangan-jangan gadis itu adalah kamu Sylvania?"
Sylvania tersenyum dan mengangguk.
"Kau benar, aku adalah gadis itu. Kita memiliki banyak kesamaan Cecilia, kita sama-sama seorang putri yang kehilangan status, kerajaan, bahkan keluarga kita. Kita diselamatkan oleh orang yang sama dan jatuh cinta pada orang yang sama. Karena itu, aku yakin bahwa aku bisa memahami apa yang kamu rasakan."
"Jadi, kamu adalah putri dari kerajaan Isylum? Kerajaan elf yang terkenal kaya dengan sumber daya alamnya dan memiliki peradaban paling maju di benua Edela?"
"Yah, sekarang itu tidak perlu dipikirkan lagi, karena itu sudah menjadi masa lalu. Yang terpenting saat ini adalah kita bisa hidup bersama Ahmed, mempelajari Islam, dan menjalankan kewajiban kita sebagai seorang muslim."
###
Malam harinya, Ahmed berada di kamar yang sama dengan Sylvania karena di hari sebelumnya Ahmed sudah menemani Cecilia. Saat ini Cecilia sendiri juga masih menempati kamar yang sama sebelum keduanya menikah. Memang Cecilia tidak perlu berpindah kamar karena kamarnya sendiri sudah berada di samping kamar Ahmed. Yang perlu berpindah-pindah kamar di sini adalah Ahmed yang harus membagi waktunya untuk kedua wanitanya.
Keduanya terbaring sambil terengah-engah karena baru saja selesai melakukan hal yang sewajarnya dilakukan setiap pasangan di malam hari. Sylvania yang sudah merasa kelelahan hanya diam saja memeluk Ahmed sambil menenggelamkan wajahnya di dada Ahmed, sedangkan Ahmed juga memeluknya sambil mengusap-usap rambut Sylvania. Kadang kala Ahmed juga sedikit iseng bermain dengan telinga Sylvania yang runcing, membuat Sylvania kegelian, tetapi tetap tidak banyak bergerak karena rasa lelahnya.
"Ahmed..." Panggil Sylvania tiba-tiba, membuat Ahmed menghentikan kegiatannya dan memandang wajah Sylvania yang masih ditenggelamkan di dada nya.
"Ada apa Sylvania?"
"Kenapa kamu belum menyentuh Cecilia?"
Ahmed terkejut mendengar Sylvania menyebut nama istri keduanya. Tentu saja Ahmed tidak menyangka Sylvania akan mengangkat topik ini sekarang. Selama beberapa detik Ahmed terdiam memikirkan bagaimana dirinya harus menjawab, sampai Sylvania pun mulai tidak sabar dan kembali melontarkan pertanyaannya lagi.
"Kenapa Ahmed? Cecilia sekarang juga sudah menjadi istrimu bukan? Dia berhak mendapatkan apa yang juga kudapatkan seperti hal yang kita lakukan setiap malam."
Sylvania pun mengangkat wajahnya, menatap wajah Ahmed yang mengangguk pelan. Ekspresinya sulit ditebak membuat Sylvania kesulitan untuk membaca pikirannya. Karena masih tidak sabar, Sylvania pun mencoba mengganti pertanyaannya.
"Apa kamu tidak suka dengan Cecilia?"
Ahmed menggeleng cepat.
"Tidak, bukan begitu. Sejujurnya aku juga cukup menyukainya, Cecilia adalah gadis yang baik dan seharusnya aku bisa dibilang beruntung mendapatkan pasangan sepertinya juga. Hanya saja..."
Kali ini Sylvania mencoba bersabar menunggu kelanjutan jawaban Ahmed. Sedikit menghela napas, Ahmed pun melanjutkan jawabannya.
"Kau tahu, di duniaku gadis seusianya yang menikah bukanlah suatu kebiasaan. Normalnya setiap gadis menikah di usia 18 sampai 25 an. Mengingat usia Cecilia yang mungkin baru menginjak 13 tahun, aku merasa tidak sanggup melakukannya. Rasanya seperti akan ada perasaan bersalah yang akan menghantuiku jika aku melakukannya nanti."
"Apakah itu adalah suatu larangan jika kamu menyentuhnya di usianya yang sekarang? Apakah itu suatu dosa?"
Ahmed lagi-lagi menggeleng. Faktanya memang seorang wanita yang sudah memasuki akil baligh dan sudah menikah juga sudah boleh digauli oleh pasangannya dan hal ini tidak ada batasan usianya. Malah itu juga sudah menjadi hak dari wanita itu, terutama jika wanita itu menginginkannya dan bila dilakukan juga akan berbuah ganjaran pahala. Ahmed pun kehabisan kata-kata dan alasan yang sejak awal dia pakai juga terbilang sangat lemah.
"Aku yakin jika Cecilia mengetahui hal ini, dia pasti juga akan menginginkannya. Jika Cecilia tahu kamu menahan diri, dia pasti akan kecewa Ahmed. Lagipula jika kita membicarakan perlakuan adil, perlakuanmu terhadap Cecilia saat ini juga sudah bisa dibilang tidak adil."
Kata-kata terakhir itu semakin memojokkan Ahmed. Mau tak mau akhirnya Ahmed pun harus menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan membicarakan hal ini dengan Cecilia nanti."
Sylvania pun akhirnya tersenyum dan kembali menenggelamkan wajahnya ke dada Ahmed sambil kembali mengeratkan pelukannya. Ahmed tidak habis pikir dengan Sylvania, seharusnya Cecilia adalah saingan cintanya, tetapi kenapa Sylvania begitu membelanya? Apa mereka sudah menjadi sangat dekat? Tapi kalau itu terjadi, malahan hal itu perlu disyukuri bukan? Ahmed hanya dapat sedikit tersenyum sambil akhirnya menutup matanya dan pergi ke alam mimpi.
###
9 Juni 2029
Keesokan harinya di siang hari, Ahmed baru saja menyelesaikan shift patrolinya. Biasanya di waktu luang seperti ini Ahmed akan menjalani latihan kebugaran seperti lari, push up, dan semacamnya. Tapi kali ini ada hal lain yang ingin dilakukannya. Langkahnya mengarah ke sebuah lapangan tembak dengan salah satu tangan yang menenteng senjata kesayangannya T-7 yang selama ini selalu dia pakai. Di tempat itu ada beberapa prajurit lain yang juga melatih bidikannya dengan senapan.
Ahmed sedikit terkejut ketika melihat sebagian prajurit Ghazi yang berkulit hitam di tempat itu. Pasalnya beberapa bulan terakhir ini belum ada prajurit dari wilayah Afrika yang ikut bergabung di korps Edela. Ah aku baru ingat kemarin ada beberapa konvoi prajurit yang juga baru datang ke kota ini pikir Ahmed. Hanya saja Ahmed tidak tahu dari pasukan mana mereka, yah tapi itu tidak penting juga, mengingat bahwa mereka saat ini sudah tergabung di korps Edela.
Ahmed pun memutuskan untuk mengambil posisi tembak di dekat salah satu prajurit Afrika itu yang saat ini juga sedang menembaki sasaran, lalu menyapanya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Prajurit Afrika yang disapa Ahmed sempat mengalihkan pandangannya dari bidikan senjatanya ke arah Ahmed.
"Ah, senang bertemu dengan sesama pejuang ghazi di tempat ini." Ucap prajurit Afrika itu sambil meletakkan senjatanya dan mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat Ahmed yang kemudian disambut olehnya.
"Kapten Ahmed Kuzey dari kompi J, kudengar kalian baru datang kemarin, selamat datang di Edela." Ahmed memperkenalkan dirinya.
"Letnan Satu Musa Mansur, kebetulan sekali aku dan pletonku akan ditugaskan di bawah kompimu. Kompi J bukan?"
Ahmed sedikit terkejut sebelum akhirnya mengangguk. Setelah berjabat tangan, keduanya pun kembali ke kegiatan mereka masing masing sambil mengobrol. Ahmed sendiri mulai mengangkat senapannya dan melepas pengamannya. Sasaran pertamanya adalah sasaran terdekat yang akan dia tembak dengan posisi berdiri.
"Jadi bagaimana keadaan Afrika Letnan Musa?"
"Alhamdulillah, keadaannya membaik. Selama ini Afrika tengah dan Afrika selatan seringkali tidak stabil karena intervensi dari negara-negara eropa paska perang dunia 2. Kemiskinan, kelaparan, bahkan sampai kriminalitas. Kami menerima banyak pengungsi setiap tahunnya. Pemerintah Daulah melakukan apa yang mereka bisa untuk membuat keadaan lebih baik mulai dari bantuan logistik, makanan, bahkan sampai militer, tapi hal itu sangat sulit mengingat mereka tidak di bawah wilayah Daulah secara langsung."
"Begitu ya, aku turut berduka cita dengan keadaan di sana."
"Yah, setidaknya keadaan di sana berangsur membaik, meskipun kemarin sempat terjadi pandemi virus. Beberapa negara kecil di Afrika tengah bahkan mengajukan proposal untuk dianeksasi oleh wilayah Daulah dan pemerintah kita sedang dalam proses mengurus administrasi dan prosedur penggabungan wilayah mereka."
"Hmm, itu bagus, dengan berada di bawah naungan kita, orang-orang Eropa dan Amerika tidak akan berani macam-macam."
Mereka melanjutkan obrolan mereka sambil terus menembaki sasaran tembak bersama. Kemampuan menembak Ahmed sendiri sepertinya tidak terlalu menumpul. Setiap sasaran tembak berhasil ditembaknya 10 kali tanpa meleset, 5 kali di dada dan 5 kali di kepala. Bidikannya mulai beralih ke sasaran tembak yang lebih jauh dan beberapa juga ada yang bergerak. Posisinya berganti dari berdiri menjadi berjongkok.
TATATA TATATA TATATA
Lagi-lagi tembakannya tidak ada yang meleset, selalu mengenai jantung dan kepala. Ahmed pun sedikit tersenyum dengan kemampuannya sendiri meskipun ia sadar bahwa dia juga tidak boleh terlalu berpuas diri.
"Kapten, sepertinya ada seseorang yang mencarimu. Kurasa dia gadis lokal di kota ini." Ujar letnan Musa yang tiba-tiba mengarahkan pandangannya ke samping Ahmed.
Ahmed pun mengikuti pandangan Musa, mencari tahu siapa yang dimaksudnya.
"Cecilia?"
Tidak jauh di samping Ahmed, Cecilia berdiri sambil kedua tangannya menutup telinganya. Sepertinya Cecilia masih belum terbiasa dengan suara senjata api terlepas dari fakta bahwa dia pernah bertempur bersama Ahmed.
"Kau mengenalnya kapten?"
"Iya, dia istriku. Kami baru menikah 2 hari yang lalu."
"Hou, jadi rumor yang mengatakan bahwa beberapa Ghazi menikahi gadis lokal itu ternyata bukan hanya sekedar rumor ya. Bahkan salah satunya ternyata adalah kapten kami sendiri."
Ahmed hanya menanggapinya dengan tawa kecil. Dia pasti akan terkejut kalau tahu aku menikahi tidak hanya satu gadis lokal saja.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Sesi latihanku sepertinya sudah selesai dan aku akan memberikan brifing ke pasukanku. Assalamualaikum."
"Baiklah, Wa'alaikumsalam."
Letnan Musa pun yang tadinya juga berposisi jongkok akhirnya berdiri dan melangkah meninggalkan Ahmed dan Cecilia. Ahmed juga ikut berdiri dari jongkoknya dan melangkah sedikit mendekati Cecilia yang nampak kurang nyaman karena terus menutup telinganya.
"Ayo kita cari tempat untuk berbicara, Cecilia."
Cecilia pun mengangguk dan mereka berjalan meninggalkan lapangan tembak. Cukup jauh sampai akhirnya suara tembakan dari lapangan tembak hanya terdengar samar-samar. Mereka duduk di salah satu kotak kayu yang entah apa isinya dekat sebuat tenda.
"Jadi, ada apa tuan puteri?" tanya Ahmed sambil sedikit menunjukkan senyum menggoda. Hal ini membuat Cecilia tersipu dan pipinya pun memerah.
"Mou, jangan panggil aku seperti itu. Lagipula aku sekarang juga sudah bukan seorang putri lagi."
Ahmed pun terkekeh melihat reaksi Cecilia yang cukup lucu baginya, membuat Cecilia sedikit cemberut.
"Yah, kamu sendiri biasanya juga menyebutku kesatria bukan? Jadi, ada apa?"
Cecilia menghilangkan raut cemberutnya dan mulai berbicara sambil sedikit tertunduk.
"Aku berbicara dengan Sylvania pagi ini. Dia menanyakanku tentang bagaimana perkembangan hubunganku dengan Ahmed. Dia bilang, aku melewatkan sebuah kegiatan penting yang seharusnya dilakukan oleh suami istri dan dia menyuruhku untuk menanyakannya ke Ahmed."
Ahmed terkejut dengan perkataan Cecilia. Tidak menyangka bahwa Sylvania juga akan berbicara ke Cecilia terkait hal ini. Padahal Ahmed berencana membicarakan hal ini nanti malam di kamar Cecilia. Sepertinya Sylvania benar-benar serius ingin mendekatkan hubungannya dengan Cecilia.
"Baiklah, kalau kamu memang ingin tau, akan aku jelaskan. Awalnya aku berencana ingin menjelaskan hal ini ketika usiamu sudah lebih dewasa. Tapi kalau sudah begini kejadiannya, mau tidak mau, aku harus menjelaskannya juga, karena jika tidak, kamu mungkin akan merasa bahwa perlakuanku terhadapmu dan Sylvania tidak adil."
Ahmed menarik napas sejenak sambil menyusun kata-kata yang sebisa mungkin akan dapat dipahami oleh Cecilia. Selanjutnya, Ahmed pun menjelaskan bahwa kegiatan yang dimaksud Sylvania adalah apa yang disebut sebagai "hubungan badan". Ahmed menjelaskan bagaimana hubungan badan terjadi, apa tujuannya, dan apa akibatnya dari kegiatan tersebut. Cecilia mendengar penjelasan Ahmed dengan muka merah. Tentu saja kepala Cecilia juga membayangkan bagaimana kejadian itu nantinya bila dilakukan oleh Ahmed dan dirinya.
"Jadi, apa kamu sudah paham? Wanita di tempatku berasal, umumnya menikah di usia 18 sampai 25 tahun. Karena itu aku berencana melakukannya ketika kamu sudah berusia setidaknya 16 atau 18 tahun, tapi bukan berarti wanita seusiamu dilarang melakukannya. Hanya saja, ini bukan hal yang biasa bagiku dan orang-orang di tempat asalku sekarang dan aku tidak ingin memaksamu."
Cecilia pun mengangguk paham.
"Begitu ya, aku paham sekarang. Tidak heran selama ini tubuhku selalu merasa aneh ketika di dekat Ahmed, rasanya seperti ada dorongan tertentu untuk melakukan sesuatu, tetapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apalagi dorongan itu menjadi semakin kuat ketika kita berdua pertama kali tidur di ranjang yang sama. Kalau tidak salah, ibuku juga pernah mengatakan hal-hal seperti ini beberapa tahun lalu, tapi aku benar-benar tidak paham waktu itu. Mungkin karena aku yang memang masih terlalu muda dan belum pernah mengenal apa itu cinta. Meskipun orang tuaku berkali-kali mengenalkanku dengan berbagai bangsawan, tidak ada yang pernah bisa membuatku jatuh cinta seperti sekarang."
Setelah berbicara seperti itu, Cecilia tiba-tiba memeluk Ahmed dari samping dengan cukup erat.
"Ahmed, aku bersedia melakukannya, emm… bukan, lebih tepatnya aku ingin melakukannya. Aku ingin menjadi milikmu seutuhnya seperti Sylvania. Wanita elf itu benar, kalau saja aku tahu hal ini dan Ahmed tidak melakukannya denganku, aku pasti akan sedikit kecewa dan merasa diperlakukan tidak adil."
Setelah melakukan itu, Cecilia tiba-tiba bergerak cepat dengan berjinjit menarik leher Ahmed dan mencium bibir Ahmed. Hal ini membuat Ahmed terkejut dan matanya sedikit terbelalak. Ciuman itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum akhirnya Cecilia melepaskan ciumannya sambil sedikit terengah-engah.
"Oi oi! Cecilia! Kamu tahu kan kita sekarang sedang berada di tempat umum?"
Cecilia tertawa kecil mendengar reaksi Ahmed.
"Maaf, aku tidak dapat menahannya. Setiap kali bersamamu, aku selalu ingin melakukannya."
Ahmed hanya bisa menggeram sambil menggaruk kepalanya.
"Huh, setidaknya simpan itu untuk nanti malam. Tidak baik untuk mengumbar kemesraan, kau tau?"
Cecilia pun mengangguk sambil masih memperlihatkan senyumannya, membuat Ahmed juga ikut tersenyum. Ahmed pun melihat jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 2 siang. Itu artinya masih ada beberapa jam lagi sebelum masuk waktu Ashar. Ahmed memikirkan sesuatu yang mungkin bisa dia lakukan bersama Cecilia. Pandangannya sempat terarah ke area lapangan tembak yang membuatnya mendapat ide.
"Cecilia, salah satu kemampuan menyerangmu adalah menembakkan bola api menggunakan Mana kan?"
"Iya benar, kenapa?"
"Seberapa bagus bidikan tembakanmu?"
"Emm, aku tidak pernah benar-benar melatih bidikanku. Lagipula, kalau aku benar-benar ingin mengenai sesuatu atau seseorang, aku tinggal mengendalikan bola api yang aku tembakkan bukan?"
"Ah iya, aku ingat kamu juga memiliki kemampuan seperti itu. Aku dengar itu salah satu kemampuan langka yang hanya dapat dilakukan oleh sejumlah kecil pengguna Mana saja dan kamu juga salah satunya yang juga memiliki julukan si jenius. Tapi mengendalikan bola api seperti itu juga menghabiskan banyak energi Mana mu bukan?"
Cecilia pun mengangguk, memang benar tiap kali dia mengendalikan arah bola api, itu akan benar-benar membuatnya kelelahan karena energi Mana nya yang banyak terkuras.
"Yosh, kalau begitu ayo kita latih bidikanmu." Ucap Ahmed sambil beranjak berdiri dengan salah satu tangannya menggandeng Cecilia.
"Hah? Tidak mau, itu merepotkan! Aku lebih suka mengendalikan api yang aku tembakkan dari pada melatih bidikanku!" Protes Cecilia.
Sayangnya protes itu tidak digubris oleh Ahmed. Mau tidak mau Cecilia harus mengikuti langkah Ahmed yang menggandengnya, meskipun sebenarnya Cecilia juga senang ketika tangannya bergandengan dengan Ahmed. Beberapa jam selanjutnya, Ahmed melatih Cecilia menembakkan bola apinya. Entah berapa bola yang ditembakkan oleh Cecilia ke target yang hanya berjarak 50 meter dan meleset sampai akhirnya satu tembakannya dapat mengenai target itu meskipun hanya mengenai bagian bawahnya.
