Hyunjin pulang pukul tujuh malam saat rumahnya ramai oleh tetangga. Satpam kompleks bahkan berada tepat di gerbang rumahnya. Tampak menata beberapa kendaraan yang datang supaya terparkir rapi. Heran tentu hal pertama yang Hyunjin tunjukkan. Ada apa merupakan tanya pertama yang ada di pikiran.

Matanya berpendar ke sekitar. Menatap pemandangan tak wajar dari mereka yang tampak mengenakan pakaian serba hitam. Hyunjin tiba-tiba merinding saat beberapa orang menatapnya. Merasa sesak saat beberapa orang mendekat dan menepuk pundaknya. Merasa tercekik begitu dengar apa yang mereka ucapkan.

"Hyunjin, sabar ya. Kau masih punya kita,"

Hyunjin menggeleng tak mengerti. Coba singkirkan beberapa tangan yang masih bertengger di pundaknya. Sekali lagi, dia tatap sekitar yang entah mengapa nampak begitu kelabu. Semua tampak sendu. Dan untuk kali pertama, dia merasa ingin bertemu. Padahal dia tak tahu siapa yang ingin dia tuju.

Setelah mendapat kembali rasionalitasnya, Hyunjin perlahan mengambil langkah. Masih tertatih dan pelan. Karena benak masih belum temukan jawaban. Atas tanya yang ada di pikiran.

Hyunjin lihat. Beberapa kerabat dekat rumahnya ada disana. Duduk di ruang tamu dengan mata sembab serta tatapan sendu. Tapi Hyunjin masih belum temukan jawaban.

Barulah saat dia tatap sesuatu yang menjadi fokus dari seluruh atensi orang disana, Hyunjin tahu apa jawab yang dia cari. Kakinya mundur selangkah. Tubuhnya hampir tumbang jika saja tak ada Bang Chan yang menopang. Sepenuhnya Hyunjin berikan berat tubuhnya untuk Bang Chan tahan. Sedangkan retina masih menatap lurus pada bingkai foto yang menjadi fokus utama.

Bingkai foto dengan senyum sang mama yang tampak sangat bahagia ada disana. Sedang tubuh kakunya terbujur diam di dalam peti yang setengah terbuka. Wajahnya putih pucat. Seakan memberi keyakinan pada Hyunjin bahwa wanita hebat itu sudah tak lagi bernapas.

Untuk kesekian kali, retinanya menatap sekeliling. Fokusnya kini bukan lagi cari jawab. Namun coba cari entitas sang adik.

"D-dimana Jeongin?"

Bisiknya lirih begitu mata menatap Bang Chan yang berada disisinya.

"Dia ada di kamarnya,"

Hyunjin tak lagi buang waktu untuk ambil langkah pergi dari ruang tamu. Derap suara dari langkahnya seakan menggema di tengah suasana sendu rumahnya. Hyunjin abaikan beberapa sapa yang mencoba menghentikan langkahnya. Dia singkirkan satu dua tangan yang menepuk pundaknya. Hyunjin coba tak acuh pada segala hal yang mungkin dapat menahan langkahnya.

Begitu langkah berhenti di depan sebuah pintu, Hyunjin coba ambil napas. Coba kendalikan deru yang tampak tak terkendali. Masih coba bentengkan diri supaya tak mudah goyah saat melihat kondisi sang adik.

Pintu itu perlahan terbuka saat Hyunjin dorong daunnya. Berderit pelan dan berhasil curi atensi dari dua orang yang berada di ruangan.

Jeongin ada disana. Duduk bersandar pada tepian ranjang. Kakinya lurus menempel lantai dengan lemas. Satu kondisi yang sungguh ironi ketika adiknya itu masih saja sempatkan lempar satu senyum padanya. Seakan tak terjadi apapun, dia bertanya pada Hyunjin.

"Baru pulang, Kak?"

Hyunjin menatapnya sendu. Melangkah dengan ragu. Mendekat demi satu temu. Ingin rasanya merangkul atau bahkan jika bisa memeluk. Tapi Hyunjin sadar. Mereka tak sedekat itu. Terlebih setelah kondisi keluarga yang makin berantakan buat hubungan keduanya renggang.

Namun ada satu fakta nyata yang tak bisa diabaikan tentang hubungan keduanya. Ikatan sedarah itu masih ada. Tak akan terhapus atau pun berubah semu. Apapun yang terjadi, ikatan itu akan terus ada.

Hyunjin berlutut di hadapan Jeongin. Menatap langsung kea rah matanya. Entitas sang Bibi di samping Jeongin, Hyunjin abaikan. Fokusnya kini hanya adiknya. Atensi kini hanya pada Jeongin.

Tangan Hyunjin terulur maju untuk usap pelan puncak kepala Jeongin. Masih dengan mata yang saling tatap seakan coba sampaikan segala hal yang ada di benak. Lirih dapat Jeongin dengar ucapan sang kakak.

"Tak apa. Tak apa. Semua akan baik-baik saja,"

Hyunjin tak mengerti untuk siapa dia berkata begitu. Untuk tenangkan sang adik atau justru untuk dirinya sendiri. Mungkin sebenarnya Hyunjin tengah meyakinkan diri. Bahwa setelah ini, hidupnya akan baik-baik saja. Selama ada adiknya disisi, semua akan baik-baik saja.

Mungkin.

"Apa kau sudah makan, Kak?"

Tanya Jeongin berhasil buat gerakkan Hyunjin terhenti. Raut wajahnya terlihat sekali menanyakan maksudnya.

Belum sempat Jeongin jawab tanya dari tatap sang kakak, atensi keduanya terambil alih oleh sang Bibi. Hyunjin hampir lupa akan hadir wanita tersebut. Terlalu fokus pada sang adik.

"Bibi turun sebentar ya,"

Singkat. Setelahnya wanita itu pergi. Menutup pintu dengan pelan dan meninggalkan kakak-beradik itu dalam kesunyian.

"Kak?"

Tatap Hyunjin yang awal tertuju pada pintu, kini teralih pada Jeongin yang masih setia menatapnya.

"Sudah makan?"

Hyunjin tersenyum getir. Bahkan dalam suasana berduka seperti ini, Jeongin masih saja memperdulikannya. Kemana saja dia akhir-akhir ini sampai begitu tega meninggalkan sang adik?

"Belum,"

Masih terus dia coba berikan senyum terbaik pada sang adik. Tangannya kembali bergerak pelan mengelus puncak kepala Jeongin.

"Mama sudah buatkan makan. Ayo kita makan bersama. Mama pasti sudah menunggu,"

Senyum yang coba Hyunjin berikan, pudar begitu saja. Meski Jeongin berucap dengan raut wajah kelewat ceria, Hyunjin tahu dari getar matanya. Jeongin tengah menutupi satu kesedihan yang begitu nyata.

"Mama tadi masak. Di dapur. Sendirian. Seharusnya aku temani,"

Kalimat yang Jeongin ucapkan terucap dengan putus-putus. Kata yang dia sampaikan, terdengar begitu bergetar.

"Ayo, Kak. Mama pasti sudah menunggu di bawah,"

Hancur sudah pertahanan Hyunjin. Lihat kondisi sang adik yang begitu terpukul. Satu tetes liquid berhasil lolos dari lensanya. Bibirnya bergetar kala lihat Jeongin masih pertahankan raut ceria.

"Kenapa kakak menangis? Apa yang perlu ditangisi? Ayo kak, Mama menunggu di bawah,"

Seakan belum puas goyahkan pertahanan Hyunjin, Jeongin terus-terusan berucap. Berulang kali kata makan, Mama, di bawah, terucap dari lisan sang adik yang lama-kelamaan terucap dengan getar.

Hyunjin bawa Jeongin dalam pelukan ketika racauan sang adik semakin menjadi. Dari yang semula hanya seputar sang Mama, kini mulai merambat memanggil sang Ayah.

Hyunjin tahu, Jeongin tak sekuat itu. Hyunjin tahu, Jeongin masih sangat membutuhkannya. Hyunjin tahu fakta bahwa kini Jeongin hanya bisa bergantung padanya.

Dalam satu sisi, Hyunjin sadar dan sangat tahu bahwa dia harus jadi sosok yang bisa Jeongin andalkan. Namun disisi lain, dia juga tahu seberapa besar beban yang harus dia pikul di usia yang masih belum dewasa.

Dan Hyunjin hanya bisa tanyakan pada diri. Bisakah dia melewati semua ini?

••••TBC•••

Dear Sweetpanda,

Terimakasih sudah berkunjung. Terimakasih juga sudah beri aku masukkan. Review-mu sangat berarti buat aku. Semoga kedepannya penulisanku bisa lebih memperhatikan ejaan lagi.