Pagi pertama tanpa adanya sosok Mama maupun Ayah merupakan petaka yang tak bisa Jeongin hindari. Keadaan rumahnya sepi. Hanya ada dia dan Hyunjin yang tampak berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan.
Pagi di hari lalu mungkin Hyunjin akan pergi ke garasi. Membersihkan motor kesayangannya dan baru masuk ketika semua anggota keluarga telah berkumpul di meja makan.
Namun kali ini berbeda. Pagi ini tak lagi sama. Begitu bangun, Hyunjin langsung bawa kaki ke dapur. Coba tilik apa-apa saja yang mungkin dapat dia olah untuk jadi santapan pagi mereka. Masih dengan celana pendek serta kaos putih polos, dia siapkan beberapa bahan. Kocok telur dalam mangkuk, masukkan sedikit garam dan daun bawang, lalu siapkan wajan untuk dipanaskan.
Hyunjin tak bisa lakukan lebih untuk buat sarapan. Menyulap sebutir telur menjadi sepiring lauk tentu bukan hal yang mudah baginya. Dia biasa memegang kendali gas motor, bukannya wajan dan semangkuk telur.
Berkutat dengan minyak panas yang sesekali menyiprat, Hyunjin tak jarang mengumpat. Bukan sekali dua kali minyak itu menyapa kulitnya. Bahkan di beberapa titik mulai memerah. Perih terasa namun dia abaikan.
Biar saja minyak itu sebabkan tangannya perih, satu yang terpenting. Jeongin tak melewatkan sarapannya.
Setelah lima belas menit yang terasa sangat lama, akhirnya sepiring telur itu terhidang. Hyunjin tengah basuh tangan yang terkena minyak saat Jeongin turun.
Seperti biasa, adiknya itu tampak siap dengan seragam yang melekat rapi di badannya. Dan Hyunjin baru sadar kalau adiknya tampan. Pikirnya, kemana saja dia sampai tak sadar jika adiknya sudah sebesar ini?
Jeongin duduk di kursi yang biasa dia pakai. Diam menatap permukaan meja yang tampak sepi tanpa adanya masakan Mama. Sesuatu yang asing baginya. Dan Jeongin sangat tidak suka.
Lalu satu piring terangsur mendekat ke hadapannya. Hyunjin yang melakukan itu. Dengan raut wajah yang meringis hati-hati, Hyunjin berkata.
"Mungkin tampilannya buruk. Tapi aku berharap rasanya tidak,"
Satu kali saja, ingin rasanya Jeongin kembali menangis dan memeluk kakaknya seperti kemarin. Namun dia tahan. Bagaimanapun dia sudah berjanji pada diri. Dia tak boleh lemah. Jeongin harus bertahan. Karena bagaimanapun dia masih punya Hyunjin disisinya.
"Tidak apa. Terimakasih sudah buatkan sarapan,"
Lalu Jeongin ambil satu suap. Kunyak dengan perlahan. Rasanya aneh. Terlalu asin, pahit pula karena gosong. Tapi dia jaga raut wajahnya saat lihat Hyunjin menatapnya lekat seakan berharap. Jadi Jeongin tersenyum dan kembali ambil satu suap. Lagi dan lagi hingga sepiring nasi dengan telur gosong itu habis tanpa sisa.
Hyunjin tahu seberapa buruk makanan yang kini Jeongin kunyah. Dia tahu. Tapi dia masih tak sangka dengan respon yang Jeongin berikan. Adiknya itu benar-benar habiskan semua yang dia hidangkan. Tanpa ada sisa sebutir pun. Sungguh dia terharu dengan perbuatan Jeongin.
Keduanya sama-sama tahan haru. Ingin teteskan air mata namun gengsi melanda. Hyunjin dan Jeongin sama-sama tahu. Mereka tak terlalu dekat untuk berbagi air mata sambil berpelukan. Namun yang kemarin itu pengecualian.
Tak ingin tambah sesak yang mungkin saja bisa akibatkan luluhnya air mata, Jeongin segera bangkit dari kursi. Ucap terimakasih sekali lagi sebelum pada akhirnya berlalu pergi menuju sekolah.
Hyunjin ditinggalkan sendiri. Dengan kekosongan rumah, dengan sepinya pagi, dengan segala memori yang masih melekat di otak. Hyunjin tak mungkin lanjutkan pagi seperti biasa. Tak mungkin dia berlalu ke kampus dan melanjutkan hidup seakan tak ada apa-apa.
Jadi dia putuskan untuk ambil satu langkah yang mungkin ubah penuh masa depannya. Apapun itu resikonya, Hyunjin akan terima. Apapun. Asalkan masa depan Jeongin masih tetap terjamin.
Sedangkan Jeongin berjalan dengan langkah lungkai begitu turun dari kendaraan umum. Ini memang bukan kali pertamanya naik kendaraan umum namun kali ini terasa sangat asing. Seakan oksigen yang dia hirup tak lagi sama seperti kemarin. Kadang dia merasa sesak. Entah karena ingatan kemarin atau karena orang-orang yang terus menatapnya lekat.
Jeongin sadar. Sejak dia duduk di salah satu bangku kendaraan umum tadi, banyak mata yang melirik. Dia sadar beberapa orang berbisik. Mengucap sesuatu yang tak seharusnya dia dengar.
"Bukankah itu anak yang mamanya bunuh diri?"
"Kudengar ayahnya selingkuh jadi mamanya bunuh diri,"
"Kasihan sekali. Masih muda begitu sudah ditinggal orang tua,"
Dan masih banyak ucapan lain yang tak sepantasnya mereka ucapkan pada anak yang baru saja ditinggal orang tuanya. Jeongin ingin bungkam satu per satu mulut yang masih terus berbisik itu. Jeongin ingin berteriak untuk mengatakan pada mereka untuk berhenti. Tapi itu tak mungkin. Jadi satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah diam dan pura-pura tuli.
Begitu pula saat di sekolah. Jeongin hanya bisa diam, bungkam, juga alihkan pandang dari tatap siswa lain yang penasaran. Jeongin bukan tipikal siswa menonjol karena prestasi ataupun dikenal karena kenakalannya. Bukan. Jeongin hanya siswa biasa yang tak terlalu rajin namun juga tidak masuk ke kategori malas. Dia biasa saja.
Setidaknya sampai kemarin dia masih siswa biasa. Karena pagi ini, Jeongin mendadak dikenal. Mendadak diperhatikan. Mendadak bisik terdengar,
"Dia Jeongin yang itu?"
Semua orang perhatikan dia. Perhatikan langkahnya. Pindai semua yang melekat di badannya. Teliti raut wajahnya. Mendadak semua orang tertarik pada entitas Jeongin. Bukan karena ingin kenal. Mereka hanya penasaran. Sebatas kasihan. Masih tak sangka, teman satu sekolah mereka merupakan pemuda yang ditinggal bunuh diri mamanya.
"Are you okay?"
Jeongin tengok kanan kala bahunya di tepuk. Jeno disana. Salah satu teman baik yang selalu ada. Kapanpun dia butuh, Jeno ada di barisan kedua. Kenapa? Karena baris pertama ada Jisung. Sahabat yang dia kenal sejak menengah pertamanya.
"Aku baik,"
Jeongin jawab dengan satu senyuman. Senyum yang sama seperti hari kemarin. Setidaknya begitu menurut orang lain. Tapi bagi Jeno yang kelewat mengenal Jeongin, senyum itu berbeda. Binarnya redup. Tak seperti biasa yang sanggup buat dia ikut tersenyum juga.
"Katakan jika kau tidak,"
Pada satu sisi mungkin Jeongin ingin ungkap segalanya. Ingin curahkan segala keluh yang melanda. Tapi pada satu sisi lain, dia tak ingin buat Jeno semakin khawatir. Dia tak ingin kawannya itu berbelas kasihan padanya. Cukup mereka yang tak mengenalnya dengan baik yang lakukan itu. Jeongin tak butuh lebih banyak belas kasih lagi.
"Aku katakan jika aku sudah tak sanggup,"
Hanya itu yang mampu Jeongin ucap demi bungkam segala pertanyaan Jeno yang mungkin saja bisa buat dia kembali sesak. Kembali berjalan beriringan, Jeongin masih abaikan sekitar. Masih tenggelam dalam angan mengapa semua terjadi. Mengapa harus dia yang masih belum bisa apa-apa sendiri. Mengapa harus dia yang bahkan masih takut pada dunia.
Jeongin pikir, masa remajanya akan seperti biasa. Akan berjalan dengan dia yang masih fokus memikirkan nilai diselingi beberapa kisah manis mengenai seorang gadis yang curi perhatian.
Namun nyatanya salah. Semua berubah semenjak kemarin. Jeongin tak lagi bisa menganggap masa remajanya sama. Jeongin tidak bisa menganggap masa remajanya manis. Jeongin tak lagi bisa berpikir hanya sekadar tentang nilai.
Masa remajanya lebih dari itu. Kini dia mulai berpikir mengenai hari esok. Esok yang masih misteri. Masih semu. Masih abu.
Di otaknya selalu terlintas pertanyaan mengenai hari esok. Akankah esok itu ada? Kalaupun ada, dia dan Hyunjin akan makan apa? Kalaupun ada, esok itu akan seperti apa?
Semua misteri itu buat konsentrasinya pecah. Dia tak bisa berpikir jernih. Dia tak bisa tangkap pelajaran seperti biasa. Bahkan saat bel pulang, tangannya bergetar. Takut untuk kembali ke rumah. Takut jika apa yang dia temukan nanti adalah satu hal yang sama seperti kemarin.
Jeongin takut Hyunjin juga pergi tinggalkan dia. Jeongin takut.
Saat daun pintu itu terayun, lihatkan suasana ruang tamu yang lebih dingin dari biasanya, Jeongin mulai menggigil. Dia berteriak memanggil Hyunjin. Berlari menuju kamar kakaknya itu dan berharap dia tengah terbaring di sana. Nyatanya tidak. Kamar itu kosong. Tidak berpenghuni dan nampak sepi.
Jeongin semakin khawatir. Semakin takut. Masih dengan suara yang bergetar, dia panggil Hyunjin lagi dan lagi.
Barulah saat dia kembali periksa halaman depan, napasnya berhembus tunjukkan satu kelegaan. Hyunjin disana tengah memarkirkan motor kesayangannya. Nampak baru pulang dari suatu tempat. Hyunjin tersenyum saat Jeongin berlari ke arahnya dengan seragam yang masih melekat namun terlihat berantakan.
"Kenapa?"
Yang lebih tua bertanya. Meski raut khawatir sekilas terlihat, dia masih coba tunjukkan senyum khasnya.
"Aku kira kau pergi,"
Hyunjin menggeleng. Tanda menolak anggapan Jeongin. Perlahan dia turun dari motornya. Rangkul Jeongin untuk masuk ke dalam rumah. Di tangan kirinya ada kantung plastik yang dia bawa.
"Kita makan malam seadanya ya?"
Jeongin hanya bisa balas dengan senyuman. Setidaknya kakaknya ini masih peduli pada keadaannya. Itu saja sudah cukup baginya.
Di tengah denting piring di ruang makan, Hyunjin curi satu dua pandang pada adiknya. Seakan ingin berkata namun ragu. Seakan ingin sampaikan sesuatu.
Dan Jeongin tahu, ada satu hal yang ingin Hyunjin ucapkan. Jadi dia putuskan untuk bertanya.
"Ada apa?"
Hyunjin menggeleng, lagi satu senyum dia tunjukkan. Kemudian dia letakkan peralatan makannya. Raut wajahnya berubah serius namun senyum itu juga masih dia pertahankan.
"Kita pindah ke rumah Chan ya?"
Ucapan Hyunjin perlahan buat Jeongin berharap lebih. Berharap pada keadaan yang setidaknya membaik. Karena bagi Jeongin, rumah Chan sama hangatnya dengan rumah mereka berdua. Paman dan Bibi sama baiknya seperti Mama dan Ayah. Jadi Jeongin hanya bisa mengangguk saat Hyunjin usulkan hal tersebut.
.
TBC
.
Hay, semua. Maaf buat kalian menunggu ff ini. Karena bahasannya lumayan berat, aku perlu waktu untuk memikirkan plot supaya matang hehe.
Ngomong-ngomong, aku sedang bersedih. Aku gabisa dateng unveil tour :((
Dadakan banget pengumumannya si :((
Yang sedang bersedih, ayo mutualan di twitterku, cari aja baerryriana
Udah ya, mau lanjut bersedih.
Phay-phay
