Perjalanan itu memakan waktu dua puluh menit. Dengan berbagai usaha untuk membunuh bosan selama di perjalanan, akhirnya mobil mulai merangkak masuk ke halaman rumah Chan.

Mungkin rumah Chan hampir sama besarnya dengan rumah Jeongin dan Hyunjin. Yang menjadi pembeda hanyalah halaman yang lebih sempit. Tapi tak apa, setidaknya disini Jeongin tak tinggal hanya berdua dengan Hyunjin.

Jeongin masih mengamati halaman yang terakhir kali dia kunjungi dua tahun lalu saat suara mesin motor Hyunjin masuk ke pendengarannya. Hyunjin datang dengan satu kantung besar yang entah dia dapat darimana karena seingat Jeongin sebelumnya tak ada kantong yang Hyunjin bawa.

Chan merangkul Jeongin dari belakang secara tiba-tiba. Itu buat Jeongin sejenak tersentak. Sedangkan Chan hanya membalasnya dengan satu senyum tak bersalahnya.

"Ayo masuk,"

Hyunjin mengikuti Jeongin yang berjalan sambil dirangkul Chan. Sesekali matanya melihat sekeliling. Mengingat kembali betapa dulu dia sering berkunjung kemari bersama orang tuanya.

Daun pintu itu berayun terbuka seiring langkah membawa raga semakin masuk ke dalam ruangan. Ruang tamu itu masih seperti sedia kala. Yang berbeda hanya beberapa tambahan figura yang menunjukkan potret Chan dan keluarga yang mungkin saja diambil belum lama.

Jeongin masih terus dibawa Chan untuk masuk ke bagian lain rumahnya. Chan tampak melihat sekeliling seakan mencari. Sedang Jeongin dibiarkan larut dalam kebingungannya.

"Maa?"

Pada akhirnya Chan berteriak memanggil saat tak ditemukan sosok Mama di dapur dan ruang keluarga. Hyunjin di belakangnya mengernyit. Ikut penasaran mengenai keberadaan sang tante.

"Di samping,"

Sahutan itu datang dari samping ruang keluarga yang pintunya terbuka dan menampakkan kolam renang dengan ukuran sedang.

Chan membawa Jeongin dan Hyunjin untuk melangkah ke halaman samping. Hal pertama yang terlihat begitu kaki menjejak lantai teras adalah air kolam yang tampak mengundang untuk dijamah dan rumput hijau yang tampak menyenangkan untuk duduk bersantai.

Mama Chan ada di sana. Tampak sibuk dengan helaian kain yang dia ambil dari ember. Mengambilnya, memeras, lalu membiarkan helaian itu bersandar pada tiang yang sengaja dibuat di bawah sinar matahari.

Saat dengar langkah mendekat, Mama Chan membalikkan badannya. Tersenyum ramah pada Jeongin dan Hyunjin. Melangkah mendekat setelah pastikan semua kain telah terjemur.

"Siang, tante,"

Sapa Hyunjin hangat. Disertai anggukan Jeongin, keduanya menyapa secara formal.

Wanita itu tampak masih anggun meski usia telah memakan sebagian kecantikannya. Beberapa garis di wajahnya sudah tak bisa lagi disamarkan oleh riasan. Hanya hangat senyum keibuan yang masih bertahan.

Sang tante berjalan mendekat. Mengusapkan telapak tangan yang basah pada permukaan bajunya sendiri. Saat merasa tangannya telah kering sempurna, dia mendekap satu per satu dari keduanya. Menghantarkan kasih sayang yang perlahan hilang dari kehidupan dua pemuda tersebut.

"Maaf Hyunjin merepotkan tante,"

Jeongin menatap Hyunjin dengan selidik. Kali pertama mereka mengemas barang masing-masing, Jeongin sedikit tahu kemana ini akan berujung.

Kardus yang bertumpukan, Chan yang datang menjemput, bukanlah dua hal yang terjadi karena kebetulan. Semuanya sudah terencana dan paling tidak Hyunjin adalah dalangnya.

"Oh tidak apa. Kalian masih keluarga kami. Tidak ada kata merepotkan di sana,"

Benar, mereka keluarga. Jeongin harap kata itu tak hanya sekadar ucap belaka. Bukan hanya sekadar formalitas yang berujung keluhan di belakang layar.

Jeongin hanya berharap, keputusan keduanya untuk pindah seatap dengan keluarga Chan merupakan keputusan yang tepat. Keputusan terbaik yang semoga menghadirkan kebahagiaan pada hari selanjutnya.


TBC