Awalnya semua berjalan canggung. Keduanya tak begitu dekat dan erat antar satu sama lain. Belum lagi Jeongin dan Hyunjin juga harus menyesuaikan diri dengan segala ritme keluarga Chan.

Semua terlalu aneh bagi Jeongin. Dari yang semula jarang bertatap muka, kini dia pasti menemukan Hyunjin pada kali pertama matanya terbuka.

Sekamar berdua merupakan hal yang sangat baru. Kebersamaan yang dirasakan Jeongin biasanya hanya sebatas duduk berseberangan di meja makan. Saling bersisian untuk bermain playstation saja jarang terjadi.

Jeongin dan Hyunjin bisa dikatakan tumbuh sendiri-sendiri.

Jeongin yang banyak menghabiskan waktu bersama sang mama dan Hyunjin yang lebih sering diam dalam kesendiriannya.

Namun bukan berarti keduanya tak saling peduli. Jeongin amat sangat menyayangi kakaknya. Hyunjin pula sangat memperdulikan adiknya.

Mereka berdua hanya sibuk menjalani segala hal dengan caranya sendiri.

Jeongin sekali lagi berkedip. Menatap sekeliling. Kamar itu tak seberapa luas. Hanya ruangan berukuran empat kali empat meter. Satu ranjang berukuran sedang dan lemari yang tak seberapa luas. Tidak ada perabotan lain yang melengkapi.

Setidaknya mereka berdua diberi ruangan sendiri. Jeongin sangat berterimakasih akan hal tersebut.

Hyunjin masuk selepas mandi. Rambutnya setengah basah namun si empu tampak tak peduli.

Jeongin sudah siap dengan setelan seragamnya. Pagi itu berjalan sebagaimana rutinitas biasa. Bangun, mandi, dan bersiap untuk bersekolah.

Mungkin sejak seminggu kebelakang, tanpa sadar dia harus memasukkan list baru ke rutinitas paginya. Misalnya mempersiapkan mental untuk menjaga sikap dihadapan keluarga Chan.

Karena tidak mungkin Jeongin bisa bersikap seenaknya dihadapan orang yang meski masih keluarga, namun terasa asing di benaknya.

"Mungkin kita harus segera turun,"

Ucapan Hyunjin membuyarkan segala lamun yang mulai menggunung.

Jeongin mengangguk dan mengekor pada Hyunjin yang sudah lebih dulu berjalan keluar dari kamar mereka.

Tarik napas, Jeongin berusaha untuk pamerkan senyum ceria yang biasa dia tampilkan.

Biar hidupnya berat, senyumnya harus tetap terpahat.

Tak ada yang istimewa dari sarapan bersama keluarga Chan. Paman dan bibinya tampak masih menjaga sikap. Berhati-hati pada tiap gerak, seakan takut bila satu tindak bisa menyinggung dua pemuda yang masih diselimuti kabung.

Dua minggu telah berlalu. Kabut kehilangan masih menyerbu.

Jeongin berkali-kali mencoba untuk merelakan kepergian mamanya. Tapi tiap kali dia paksakan, kali itu pula sesak semakin menjadi.

Dia bukan lemah, bukan pula tak menyayangi mama dengan segala keputusannya. Dia hanya belum bisa berdamai dengan keadaan.

Sedang Hyunjin, barangkali dia punya sisi yang berbeda.

Kakaknya itu mungkin saja bisa lebih berdamai pada semua hal. Dia bisa mengerti keputusan sang mama. Mungkin pula sikapnya terbentuk karena tuntutan. Untuk mulai memikirkan masa depan dari keduanya.

Jeongin sangat tahu bahwa Hyunjin pasti terbebani. Kakaknya masih belum terbiasa untuk bertanggungjawab atas raga lain yang bukan dirinya.

Sebulan lalu Hyunjin masihlah sosok pemuda yang hanya berpikir soal dirinya dan dunianya. Lalu dua pekan kemudian, dia harus menjadi kepala keluarga dari dua nama yang tersisa pada akta keluarga.

Hyunjin bisa saja punya umur yang lebih tua. Tapi itu tak menjamin dia telah dewasa dan sikap. Barangkali dia masih merasa seperti remaja yang ingin bahagia untuk dirinya sendiri.

Apapun itu, Jeongin hanya coba mengerti. Selama Hyunjin masih di sisi, semua hal setidaknya menjadi ringan.

Dia tak sendiri. Masih ada Hyunjin yang siap berdiri merangkul keduanya kemanapun kaki berlari.


TBC


Aku mutusin buat nerusin ff ini setelah agak lumayan lama rest dari dunia per-ff-an.

Semoga kalian sabar ya nungguin hehe.

Phay-phay!