Apa Kau Bahagia?

Seperti biasa, Shinichi Kudo menyelesaikan kasus pembunuhan tanpa kesulitan. Ia telah membeberkan bukti serta cara pembunuhan beberapa menit lalu. Pelaku pun telah digelandang ke kantor polisi terdekat setelah mengakui semua perbuatannya.

Pria muda itu kini berjalan di tempat parkir bersama seorang wanita yang telah dinikahinya sejak lima tahun lalu. Sembari mendekati mobil, Shinichi merogoh kunci dari dalam saku. Ia memencet tombol alarm di kunci itu kemudian membuka pintu bagian penumpang untuk istrinya, lalu berjalan ke sisi lain mobil untuk mengisi kursi pengemudi. Tepat ketika ia akan menstarter mobil, ponsel pria ini berbunyi dan membuat gerakannya tertunda.

Shinichi menyempatkan diri membaca nama di layar sebelum mendekatkan ponsel ke telinga.

"Moshi-moshi?" Ia menyapa.

Lalu tidak lama kemudian suara Profesor Agasa terdengar,

"Shinichi, Ai-kun masuk rumah sakit. Dia pingsan sepulang sekolah tadi."

Saat rentetan pemberitahuan tidak menyenangkan itu terdengar, Shinichi Kudo merasakan telapak tangannya berkeringat lengkap dengan desiran tak nyaman di bagian dada kirinya.

"Aku minta tolong padamu untuk mengirimkan makanan dan beberapa barang Ai-kun ke rumah sakit."

Shinichi membasahi kerongkongannya yang terasa kering lebih dulu sebelum menjawab dengan suara berat,

"Baiklah, Profesor."

Shinichi mematikan sambungan telepon mereka, kemudian terdiam beberapa lama sambil menatap ke depan, sampai akhirnya ia merasakan seseorang menyentuh pundaknya.

"Ada apa, Shinichi?"

Pertanyaan itu diikuti gerakan Shinichi yang menengok ke pemiliknya.

"Tidak ada apa-apa..."

Ia menggeleng pelan sembari kembali menstater mobilnya, menjalankannya lalu menambahkan,

"Profesor Agasa meminta bantuanku..."


Haibara dibangunkan oleh suhu bandannya yang menurun, dan juga kerongkongannya yang terasa kering. Ia tidak langsung meraih gelas berisi air putih yang tersaji di atas meja dekat ranjang karena merasa ruangan ini asing. Temboknya berwarna putih gading dan bau antiseptik begitu menyengat.

Rumah sakit?

Setelah teringat kejadian sore tadi, gadis berbadan bocah SMP itu menengok ke samping untuk mencari tahu adakah air di sana. Lalu ia mendadak terdiam. Memang ada air di dalam gelas kaca di atas meja, namun ada satu hal lagi yang ia temukan.

"Kudo-kun..."

Ia berbisik pelan, nyaris seperti meyakinkan diri sendiri bahwa matanya tidak salah melihat bahwa pria yang sedang duduk sambil membaca buku di kursi tidak jauh darinya ini adalah Sinichi Kudo.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Entah mengapa, Shinichi Kudo sama sekali tidak terkejut. Ia justru dengan tenang menurunkan buku dari hadapan wajahnya dan meraih gelas di atas meja untuk diserahkan pada Haibara.

Haibara sendiri menerimanya tanpa suara, kemudian meminumnya sambil melirik sosok itu.

"Menjengukmu."

Meski terlambat, Shinichi tetap menjawab. Ia melipat buku dan meletakkannya di atas meja, dan tak lama kemudian Haibara juga meletakkan gelas di sana.

"Oh." Hanya itu tanggapan wanita berwajah belasan tahun ini.

Haibara kembali membaringkan badannya dengan mata terpejam. Mulai mengingat-ingat apa yang ia lakukan dan dimana ia sebelum pingsan. Kalau tidak salah, dalam perjalanan pulang sekolah bersama Ayumi, Mitsuhiko, dan Genta, ia merasa sakit kepala, lalu setelah itu tidak mengingat apa-apa. Kalau setelah itu ia dibawa ke rumah sakit, seharusnya Dokter Agasa adalah orang pertama dan satu-satunya yang diberi tahu tentang keadaannya.

Jadi bagaimana bisa Shinichi Kudo yang sekarang menemaninya?

"Aku menyuruh Profesor Agasa pulang karena ini sudah larut malam."

Shinichi seolah bisa membaca pikiran Haibara, menjawab sekaligus membuatnya kembali membuka mata.

"Dan karena dia tidak tega meninggalkanmu sendirian di rumah sakit, jadi aku menawarkan diri untuk menjagamu di sini." Lanjutnya, kemudian berdiri.

Tanpa menengok, Haibara bisa menduga bahwa Shinichi sedang berjalan menjauh dari suara tapak kaki sepatu pria itu. Yang tidak pernah ia duga, adalah suara yang datang berikutnya. Suara seperti kunci terkait, lalu diikuti langkah Shinichi yang kembali mendekat.

Haibara berusaha tetap tenang dengan tangan mencengkram selimut. Namun ia tidak dapat berbohong bahwa jantungnya berdetak kencang ketika pria yang sama naik ke ranjangnya dan menimbulkan suara 'kret' pelan.

"Aku sudah tidak tahan lagi, Haibara."

Suara itu terkesan dingin dengan sedikit nada benci. Tetapi jika pendengarnya jeli, ada rasa frustasi menyelip di dalamnya. Ketimbang menjawab, Haibara lebih memilih melirik jam dinding. Ia menyadari ini cukup larut sehingga tidak akan ada suster atau dokter, maupun orang lain yang bakal menyelamatkan mereka.

Karena ini sebuah bahaya. Bahaya yang amat besar yang mengintai keduanya. Dan Haibara benar-benar berharap akan ada orang yang menyelamatkan mereka.

"Lihat aku, Haibara..."

Shinichi memegang dagu wanita berwajah muda itu, dan secara bersamaan Haibara menyadari bahwa pria itu di atasnya. Hanya siku kanan serta kedua lutut Shinichi yang menyebabkan badan mereka tidak menempel sempurna.

"Apa aku terlihat bahagia?"

Haibara justru melihat bayangannya sendiri di dalam mata Shinichi Kudo. Setelah lima tahun, ini pertama kalinya Haibara dan Shinichi saling menatap tepat di mata. Mereka sudah tidak berani lagi saling menatap seperti ini, sedekat ini, semenjak mengetahui ada perasaan khusus di antara keduanya.

"Apa pengorbanan yang aku lakukan setidaknya membuatmu bahagia?"

Suara Shinichi lebih pelan, menatap mata tajam Haibara yang penuh kerinduan membuat tenaganya berkurang.

"Tidak ada yang bahagia di antara kita..."

Sebenarnya Haibara sudah terlalu biasa tidak bahagia, dan itu membuatnya tidak merasakan sakit sama sekali saat memendam rasa cintanya pada Shinichi. Tetapi ketika mendengar bahwa Shinichi pun tidak bahagia, ia merasakan sayatan tipis di hatinya. Hanya saja ia terlalu takut untuk tahu bagaimana cara membahagiakan pria itu, sehingga Haibara lebih memilih mengatupkan kembali kelopak matanya.

"Istrimu bahagia, tidak kah itu cukup?"

Ia tidak menggunakan nada apapun saat bertanya, seolah-olah itu bukan pertanyaan, sama seperti ekspresinya yang juga tidak menunjukan apapun.

"Anakmu bahagia, apa itu juga tidak cukup?"

Setelah kalimat tanya terakhir itu, Haibara membuka matanya, membiarkan lagi pandangan mereka beradu. Dapat dilihatnya dengan jelas bahwa Shinichi Kudo yang pintar mengendalikan tensi itu kini justru begitu marah, marah dan seolah bakal membunuhnya sekarang juga.

Namun tentu saja tindakan berikutnya bukan sebuah pembunuhan, Shinichi justru mencium bibir Haibara dengan brutal, menyesap saliva mereka yang bercampur, dan meremas kedua tangan Haibara yang berusaha mendorongnya.

"Mnh―Kudo-kun! Hent―"

Usaha Haibara untuk menyelesaikan sebuah kata terhenti berkat bibir Shinichi yang sempat menjauh kini kembali. Malah dirasakannya setelah itu sebuah tangan meremas payudaranya. Dan ketika bibir Shinichi menjamah turun ke lehernya, Haibara baru dapat kembali bersuara.

"Hentikan, Kudo! Apa kau sudah gila?!"

Ia juga berhasil menghentikan cumbuan Shinichi berkat satu tangannya yang bebas memukul kepala pria itu.

Shinichi terengah sembari bangkit dari atasnya. Pria itu tidak turun, hanya merubah posisi sehingga mata mereka bertemu lagi. Rasanya ia puas sekali melihat bengkak di bibir Haibara yang artinya ia sudah menyakiti seseorang yang telah menyakitinya selama lima tahun ini.

"Aku yang gila atau kau yang gila?" Nada Shinichi tidak seperti biasanya, mengintimidasi. "Manusia normal pasti merasa sakit jika orang yang dicintainya mengabaikannya selama lima tahun. Manusia yang normal pasti memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa bahagia. Sekarang katakan padaku aku yang gila atau kau yang gila, HAIBARA!"

Ketika suara Shinichi menggaung di ruangan itu, Haibara mulai ketakutan meski itu hanya terbukti dari sorot matanya yang redup. Ia merasa pria di hadapannya akan mencekiknya sekarang juga.

"K-Kudo... kun..." Ia mencoba menetralisir ketakutannya, membuat suara di antara hening yang sempat membungkam mereka. "Aku rasa kau sedang tertekan, kau perlu pulang untuk menenangkan pikiranmu."

Haibara segera memejamkan mata dan memalingkan muka setelah berhasil menyelesaikan kalimat itu tanpa gentar.

Namun pengalihannya tidak pernah berhasil ketika lagi-lagi ia merasakan bibir Shinichi mencium bibirnya, menyesapnya dengan brutal, diikuti dengan tangan pria itu yang lagi-lagi meremas payudaranya. Haibara tahu dari gerakannya, Shinichi merasa begitu frustasi. Rasanya percuma jika mencoba mengatakan apapun saat ini. Mungkin dengan membiarkan pria itu mendapat pelampiasan, mereka akan menemukan hal lebih baik besok pagi.

Hampir lima menit sudah bibir Shinichi memagut bibit Haibara namun tidak ada tanda-tanda pria itu akan berhenti. Malah tangan Shinichi yang baru lepas dari payudara Haibara kini memeluknya dengan erat, kemudian mengangkat tubuhnya perlahan-lahan sampai mereka bertukar posisi.

Haibara kini duduk di atas perut Shinichi dengan kepalanya ditekan kuat dari belakang oleh sebuah tangan sehingga mulutnya terus beradu dengan mulut pria itu. Ia mencoba tidak berontak namun juga berusaha keras untuk tidak membalas. Bibir Shinichi yang mencumbunya terasa begitu menggairahkan, Haibara nyaris tidak bisa mengendalikan dirinya.

"Haibara..."

Haibara merasa lega dan kecewa secara bersamaan ketika Shinichi berhenti memagut bibirnya. Ia menatap pria itu sembari mengatur napas, menjawab panggilannya dari tatapan mata.

"Katakan kalau kau menginginkanku..." Shinici berkata nyaris memohon, tapi nada itu terlalu monoton. "Katakan kau menginginkanku seperti aku sangat menginginkanmu..."

Tapi justru itu juga yang membuat Haibara dapat mengendalikan dirinya kembali. Ia berusaha bangun dari atas tubuh Shinichi meski lengan pria itu masih membekap pinggangnya. Terlebih dulu Haibara memejamkan mata, ia mencari kekuatan dengan mengingat senyum Kakaknya, senyum kakaknya yang mirip seperti senyum Ran.

Kemudian Haibara membuka matanya lebih dulu, setelah itu baru membalas Shinichi dengan nada dingin.

"Aku ingin kau pergi dari sini."

Dan hanya berjeda satu menit setelahnya, Shinichi melempar tubuh Haibara ke ranjang sebelum pergi tanpa sepatah kata pun.

2.