Akan Kuhancurkan Takdir Itu
Ketika bel pintu rumah berbunyi, Haibara tidak menyangka bahwa Ran beserta anaknya yang bertamu.
Wanita itu membawa bubur panas yang kini sedang disiapkannya sendiri di ruang makan sementara Haibara duduk tenang di balik meja. Ini adalah hal yang termasuk ke dalam alasan mengapa mantan anggota organisasi itu melepaskan Shinichi. Ran adalah seorang wanita yang baik, figurnya menyerupai Akemi yang penuh perhatian dan kasih sayang, juga seorang istri yang pasti akan memegang peran sempurna sebagai nyonya Kudo. Ai Haibara maupun Shiho Miyano tidak akan pernah bisa sebanding dengan wanita seperti itu.
Jika beberapa tahun yang lalu Haibara menerima Shinichi, mungkin hubungan mereka akan berjalan kaku dengan masing-masing sibuk mengurus diri sendiri. Haibara tidak akan berubah demi seseorang yang ia cintai. Ia tidak akan mau menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengurus rumah dan anak-anak. Ia bakal lebih suka melakukan eksperimen di laboratorium dari pada menunggu suaminya pulang sambil mempelajari resep masakan baru di dapur. Ia adalah tipe orang yang lebih suka membeli barang mewah dan tidak akan menerima barang murah dari Shinichi dengan wajah tersipu malu.
Ran dan Haibara bagai langit dan bumi, seperti malaikat dan iblis. Surga dan neraka. Dan karena itu Shinichi Kudo yang merupakan detektif tersebut bakal memiliki hidup lebih baik bersama seorang wanita biasa seperti Ran dari pada seorang ilmuan berdarah panas sepertinya.
Itulah mengapa Haibara tidak pernah menyesali keputusannya...
"Bodoh."
Mulut Shinichi terbuka seolah mengeja kata itu. Meski wajahnya nyaris tak berekspresi atau bahkan tidak acuh, Haibara yang merupakan salah satu dari pendengarnya bisa menebak bahwa pria itu menyembunyikan kekesalan besar.
"Kalau memang kau merasa bosan kau bisa berkunjung ke rumah Sonoko atau menyusulku, 'kan?"
"Tapi Shinichi, Sonoko sedang sibuk mempersiapkan pesta pernikahan, lagi pula aku juga sekalian menjenguk Ai-chan."
Ran menyanggah tanpa rasa tersinggung sambil mengangkat anaknya yang berusia tiga tahun ke gendongan dengan sangat hati-hati supaya tidak membangunkannya yang telah tertidur sejak tadi.
"Aku tidak mau menyusulmu karena itu bahaya untuk Ichigo."
"Ya sudah kalau begitu, ayo cepat pulang."
Shinichi seolah tidak betah berada di rumah profesor Agasa terlalu lama, ia segera mengambil alih Ichigo dari gendongan Ran dan memutar tumit.
"Wanita seperti itu diberi perhatian pun tidak ada gunanya..." tambahnya sambil berjalan.
Namun Shinichi sama sekali tidak memandang seseorang yang dimaksud, bahkan sejak pertama kali dirinya datang.
Ran yang mendengar hal itu langsung ber'Eh' spontan dengan pelan sembari menengok Haibara yang membaca buku dengan tenang di sofa. Keheranannya bukan karena mendengar gerutuan Shinichi yang tidak sopan. Ran menyadari sejak pertama Shinichi bertemu Haibara hubungan keduanya memang tidak baik, bahkan jelas sekali saling mengabaikan. Namun yang lebih membuat Ran heran adalah kata 'Wanita' yang dipakai Shinichi untuk menyebut remaja berusia 14 tahun seperti Haibara.
Dengan sengaja Ran menahan penasarannya sampai tiba di rumah mereka yang hanya berjarak satu tembok dari rumah Profesor Agasa. Setelah Shinichi menidurkan Ichigo di kamar, Ran yang mengikuti suaminya ke ruang makan memberanikan diri bertanya. Karena ini semakin aneh baginya. Shinichi jarang bersikap tidak ramah pada seseorang, terlebih sampai melarangnya bertamu ke rumah profesor Agasa.
"Shinichi?" Panggil wanita itu saat Shinichi duduk di kursi makan.
"Hm?" Balasnya yang kini mengambil mangkuk nasi.
Ran membantu suaminya mengambil makanan lebih dulu. Ia duduk di dekat Shinichi, kemudian melanjutkan pertanyaannya,
"Kenapa kau sepertinya tidak menyukai Ai-chan?"
Mendengar hal ini, gerakan Shinichi sempat berhenti lalu berlanjut melahap makanan lagi sebelum Ran menyadari.
"Meski terlihat pendiam dan dingin, Ai-chan adalah anak yang baik. Kau ingat Conan-kun 'kan? Anak lelaki yang pernah aku ceritakan sangat mirip denganmu itu? Dulu Conan-kun dan Ai-chan sangat dekat sampai-sampai saat mereka berdua mengobrol seperti memiliki dunia sendiri. Kenapa kau tidak mencoba mengobrol dengannya? Mungkin saja kalian juga akan cocok?"
"Aku sudah selesai."
"Eh?"
Shinichi tidak memperdulikan tatapan bingung istrinya dan segera beranjak dari kursi. Setelah meninggalkan Ran sendiri di ruang makan, detektif jenius itu menuju perpustakaan.
Ran memperhatikan nasi yang Shinichi tinggalkan belum berkurang setengahnya. Ia menatap meja beberapa lama sebelum mengikuti Shinichi.
Melihat suaminya membaca sebuah buku dengan wajah serius, Ran mengurungkan niat untuk bertanya lagi. Ia akhirnya kembali ke ruang makan untuk membersihkan meja sembari mengubur rasa penasarannya dalam-dalam.
###
Bibir Shinichi membentuk seringaian pahit sementara matanya menatap selembar foto lama yang terdapat di dalam buku Sherlock Holmes di hadapannya. Foto detektif cilik dimana ada potretnya dan Haibara.
Jari telunjuknya meraba wajah Haibara yang ada di dalam foto bersamaan dengan bibirnya membentuk garis lurus nyaris melengkung ke bawah.
Rasanya... Shinichi semakin merindukannya. Kenyataan bahwa hari ini mereka bertemu namun tidak bicara membuat Shinichi semakin merindukannya. Ia rindu kata-kata sarkatis wanita itu, caranya tertawa dan menyepelakannya, bagaimana Haibara memberinya perhatian-perhatian yang tak ketara, dan segala sesuatu darinya, semuanya... Semua dari Haibara membuat Shinichi sangat rindu.
Wajar saja ia bagitu karena ini telah bertahun-tahun berlalu. Haibara dulu sering bersamanya dan nyaris setiap hari keduanya mengobrol dengan cara yang berbeda. Orang-orang menyebut mereka memiliki dunia sendiri karena memang mereka berbagi rahasia hanya berdua saja. Mereka saling melindungi dengan mempertaruhkan nyawa. Selain itu Haibara juga begitu mengerti dirinya dan seolah dapat membaca pikirannya meski Shinichi sudah berusaha menyembunyikan rahasia dari mata ilmuan jenius tersebut.
Shinichi Kudo menghembuskan napas berat ke udara sembari mengalihkan pandangan ke jendela, memandang bintang-bintang yang menghiasi kegelapan langit malam tanpa memindahkan letak jarinya. Di saat yang sama pada tempat yang berbeda, Haibara mengalihkan mata dari buku pelajaran untuk menatap ke arah bintang. Bintang yang mirip dengan keadaan mereka. Menipu mata, mengagumkan, tetapi tidak dapat disentuh dan hanya dapat dipandang dari kejauhan.
###
Pesta pernikahan Sonoko Suzuki, dan acara baru saja berjalan setengahnya sebab kasus pembunuhan yang sempat terjadi. Beruntung Shinichi dan Hatori yang hari ini turut diundangan bisa mengungkap peristiwa pembunuhan terhadap salah satu pembantu Sonoko, sehingga satu jam setelahnya pesta pernikahan bisa berlangsung seperti rencana semula.
Melihat bagaimana Shinichi beraksi tadi, beberapa orang pasti menyadari bahwa seorang Shinichi Kudo akan sangat berbeda ketika memecahkan kasus serta saat menghadapi pelaku. Wajahnya berubah sangat serius dengan pancaran mata mengintimidasi, persis seperti cara Shinichi melihat Haibara saat ini.
Shinichi sendiri saja yang menyadarinya nyaris tertawa miris. Ia mendengus, teringat perkataan Hatori yang berbunyi, "Caramu menatap Kakak Kecil itu seperti menatap seorang penjahat."
Shinichi meneguk lagi minuman di gelasnya sebelum berjalan mendekati Haibara yang berdiri di belakang profesor Agasa. Ia berhenti tepat di belakangnya, dan sebelum Haibara sempat menengok, ia berbisik pelan,
"Pembunuh."
Jantung Haibara seolah dipukul palu mendengar itu, terlebih mengenali siapa sang pemilik suara.
"Kau adalah seorang pembunuh Haibara, seharusnya kau juga di bawa ke kantor polisi."
Bisikan Shinichi berusaha diabaikan oleh Haibara. Wanita itu mengambil langkah ke depan dan bertujuan berdiri sejajar dengan profesor Agasa, namun itu tidak pernah terlaksana karena Shinichi menahan tangannya.
"Kau membunuh cinta kita dengan keangkuhanmu. Kau lebih kejam dari pembunuh berdara dingin."
"Itu benar, aku memang orang yang kejam. Jadi lebih baik kau menjauh dariku sebelum aku benar-benar membunuhmu."
Haibara ikut berbisik sepelan yang ia bisa, namun memastikan bahwa seseorang di belakangnya mendengar.
"Lakukan kalau begitu, bunuh aku sekarang juga." Balasnya, tidak ada ketakutan sedikitpun, ia justru meremas tangan Haibara dengan sekuat tenaga.
"Kau pasti tidak bisa 'kan, Haibara? Kau tidak bisa membunuhku karena kau takut. Kau adalah seorang pengecut yang selalu lari dari takdir."
Merasakan hembusan napas Shinichi tepat di telinganya bersamaan dengan suara itu yang mendekat, Haibara segera menarik tangannya dan berusaha pergi. Hanya saja Shinichi bersikeras menahannya sehingga ia terjatuh ke belakang, diikuti beberapa pasang mata menatap ke arah mereka.
"Ai-kun!"
Profesor Agasa segera menghampiri Haibara yang berada di pelukan Shinichi.
"Sepertinya dia hampir pingsan lagi, Profesor." Ujar Shinichi sambil menyeringai saat membantu Haibara berdiri. "Mungkin lebih baik aku mengantarmu pulang?"
"Tidak, aku baik-baik saja." Haibara segera menepis tangan Shinichi dari tubuhnya.
"Ai-chan, kalau kau kurang sehat lebih baik biarkan Shinichi mengantarmu."
Kali ini suara itu dari Ran, entah sejak kapan istri Shinichi berada di dekatnya. Namun dari senyuman wanita itu yang terlihat prihatin dan (entah mengapa) terlihat sedikit lega, wanita itu sepertinya tidak mendengar perbincangan mereka.
"Aku baik-baik saja, Ran-san. Tidak perlu khawatir."
"Ai-kun, Ran benar... kau akhir-akhir ini kurang sehat. Lebih baik biarkan Shinichi-kun mengantarmu pulang." Timpal profesor Agasa dengan cepat.
Haibara paham dengan menyangkal, Profesor Agasa dan Ran malah akan semakin memaksa. Rasanya ia tidak memiliki pilihan lain jika begini.
"Baiklah, tapi aku akan pulang sendiri."
"Itu berbahaya." Ran langsung tidak menyetujuinya. "Lagi pula Shinichi juga akan pulang untuk mengambilkan Ichigo baju ganti. Iya, 'kan Shinichi?" Lanjutnya, kali ini menatap Shinichi penuh arti.
Tentu baik Shinichi maupun Haibara bisa tahu apa maksud Ran. Selama ini Shinichi dan Haibara memiliki hubungan sangat buruk, jadi tidak sulit menebak apa tujuan wanita baik hati itu.
"Hm, ayo, Ai-chan."
Sebelum Haibara sempat mengeluarkan penolakan lagi, Shinichi memegang kedua pundaknya dan membuatnya membalikan badan.
Secara ragu-ragu Haibara berjalan dengan Shinichi mendorongnya dari belakang, meninggalkan Ran dan Profesor Agasa yang tersenyum senang. Kontras, raut Haibara justru ketakutan. Firasatnya buruk ketika Shinichi memberinya panggilan sambil menyeringai.
"Aku akan pulang sendiri."
Haibara segera menepis tangan Shinichi begitu mereka telah keluar dari ruang pesta.
"Kenapa kau begitu takut?"
Shinichi mengantongi kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia juga tidak menatap Haibara secara langsung melainkan hanya meliriknya.
"Aku tidak seperti akan membunuh atau memperkosamu, 'kan?"
Mata Haibara memincing, seketika.
"Aku sebenarnya hanya ingin bicara denganmu."
Pria itu kembali berjalan, menuju lift yang tak jauh dari mereka.
"Aku ingin kita membicarakannya baik-baik dan menyelesaikannya." Katanya sambil memencet tombol lift.
Haibara perlu waktu untuk berpikir sejenak sebelum akhirnya mengambil langkah mendekat. Dulu mereka juga sudah pernah membicarakan masalah yang sama dan berhasil mencapai kesepakatan untuk saling melupakan. Mungkin saat ini Shinichi sedang banyak beban pikiran sehingga perasaannya semakin buruk dan mengakibatkannya berubah. Menimbang semua itu, Haibara memutuskan untuk menepis kecurigaan. Rasanya, yang mereka perlukan memang berbicara empat mata.
Akan tetapi, Haibara luput memperhatikan seringaian Shinichi yang terbit kembali ketika pintu lift tertutup.
###
Ai Haibara tidak begitu yakin bagaimana bisa mereka malah berakhir dengan keadaan begini. Rasanya belum ada lima menit lalu ia membuka pintu depan rumah profesor Agasa, lalu tahu-tahu saja pria itu sudah menindihnya di atas ranjang dengan gaun pestanya robek pada bagian atas dan bagian bawahnya tersibak naik sampai ke pusar.
Ia mencoba memanggil pria berusia 24 tahun itu di tengah pagutan pada bibirnya. Kedua tangannya yang ditahan di samping kepala oleh kedua tangan Shinichi berusaha bergerak tapi gagal. Mengingat fisik Haibara sekarang adalah bocah berusia 14 tahun, memang mustahil ia bisa melawan kekuatan fisik Shinichi. Bahkan jika Haibara adalah Shiho Miyano yang setahun lebih tua dari Shinichi, rasanya ia juga bakal kewalahan karena tidak mempunyai keahlian bela diri.
"Kudo-kun!"
Akhirnya Haibara bisa mengeluarkan suara ketika bibir Shinichi beralih menyerang lehernya.
"K-Kudo! Kita harus bicara! Hentikan ini!"
Di antara hisapan dan gigitan Shinichi, Haibara berusaha menyelesaikan kalimat itu tanpa mendesah. Namun ketimbang menghentikan, kenyataannya lelaki berambut hitam itu malah menyelipkan tangan ke dalam gaun Haibara, meraba setiap inchi tubuhnya, sampai akhirnya berhasil meraih sesuatu di dalam brahnya. Namun berkat itu juga Haibara sadar bahwa tangan kanannya telah bebas, membuatnya langsung mengambil kesempatan untuk menjangkau apapun di atas meja dekat ranjang lalu menghantam kepala Shinichi dengan benda itu.
"HENTIKAN, KUDO!"
Shinichi sepertinya beruntung karena sesuatu itu bukan vas kaca yang pasti bakal menghancurkan tengkoraknya, sesuatu itu hanya ensiklopedia tebal yang kini masih di pegang Haibara sementara Shinichi perlahan-lahan mengangkat kepala.
Tangan Shinici menarik buku yang Haibara pegang untuk kemudian dilempar ke lantai, sementara mata mereka terus bertemu. Di sini, Ai Haibara baru menyadari ada yang berbeda pada Shinichi. Matanya merah, namun bukan merah karena menangis, itu seperti merah karena pengaruh minuman keras.
"K-Kudo-Kun... Kita perlu bicara..."
"Bicara denganmu sama sekali tidak akan ada gunanya, Haibara. Kau hanya akan terus berlari dari kenyataan."
Shinichi menatapnya tajam seolah memberi penghakiman.
"Jadi kau pikir dengan seperti ini bisa menyelesaikan masalah?" Balas Haibara dengan mengimbangi nadanya. "Kau hanya akan membuat masalah baru kalau kau terus bertindak sesuka hatimu."
"Aku selalu bisa menyelesaikan masalah dengan caraku."
"Tidak dalam hal ini, Tantei-san!" Haibara menyahut balasan Shinichi dengan emosi, menatap pria itu geram dan menggertakan gigi. "Kau mungkin ahli mengungkap kasus pembunuhan, tapi kau sama sekali tidak tahu isi hati perempuan. Dalam kasus pembunuhan semakin kau mengejarnya kau akan menemukan kebenaran, tapi tentang hati perempuan, semakin kau mengejarnya kau akan menyakiti hati banyak orang."
Shinichi terdiam menatap mata biru yang menatapnya balik penuh keyakinan itu.
"Jika kau mengejarku dan suatu hari aku memutuskan berhenti berlari, yang terluka adalah istrimu, lalu anakmu, orang tua dari istrimu, dan lama-lama semua orang."
"Lalu kau?" Shinichi tidak membiarkan jeda mengambil alih berlalu lama dari suara Haibara yang berhenti. "Apa kau yang sedang berlari tidak terluka? Apa aku yang mengejarmu juga tidak terluka?"
Haibara sukses dibuat kehabisan kata-kata.
"Kenapa kau tidak memikirkan dirimu sendiri, Haibara? Apa kau tidak ingin bahagia?" Lanjutnya dengan nada lebih pelan.
"Tidak, Kudo-kun." Haibara bergumam tegas. "Aku hanya tidak bisa melawan takdir. Kau dan Ran-san sudah ditakdirkan bersama sejak kalian terlahir."
Justru yang membalas perkataan itu adalah seringaian geli Shinichi dan suara ikat pinggang pria itu yang terbuka. Melihat hal itu Haibara tersentak dengan kelopak mata melebar. Setelah pembicaraan panjang mereka, ternyata Shinichi sama sekali tidak merubah niatannya.
"Kalau begitu akan aku hancurkan takdir yang sering kau sebut-sebut itu."
"B-baka!" Haibara merasakan jantungnya kembali berpacu kencang. "Kau tidak mengerti juga?"
"Aku justru sangat mengerti, Haibara."
Shinichi melepas jasnya dan melemparkannya ke lantai, diikuti dengan resleting celananya yang perlahan-lahan terbuka.
Haibara paham betul apa yang hendak pria itu lakukan kali ini. Bukan sekedar pelampiasan seperti sebelumnya, ini sesuatu yang lebih berbahaya. Maka dari itu, Haibara segera berlari ketika Shinichi beranjak dari atasnya. Hanya saja dengan cepat tubuhnya kembali terlempar ke ranjang oleh Shinichi.
"Kudo-kun!" Teriaknya sambil memejamkan mata.
Ia tidak sanggup menyaksikan bagaimana Shinichi telah menelanjanginya dan meraba setiap inchi tubuhnya. Detik berikutnya Haibara bahkan telah melepaskan desahan bersamaan dengan mulut Shinichi yang menyesap payudaranya. Bahkan itu belum bisa disebut payudara mengingat tubuh Haibara baru memasuki masa pubertas.
Dan desahan kedua Haibara nyaris berupa teriakan saat tangan Shinichi mengusap kewanitaannya. Tidak memberi waktu, dalam menit yang sama jari pria itu masuk dan membuat gerakan kasar di sana.
Secara hormon Haibara sebenarnya sudah siap dengan sentuhan dewasa Shinichi. Tidak membutuhkan waktu lama bagi wanita ini menemukan sensasi nikmat dari semua yang ia dapat, berkhianat dari nurani dan mendesah mengiringi pekerjaan jari Shinichi.
Tapi Haibara terus berkata pada Shinichi untuk berhenti, yang hanya menjadi sia-sia ketika ia merasakan sesuatu yang lebih besar menerobos lubang kewanitaannya dan kali ini membuatnya benar-benar berteriak.
Guncangan serta desahan menjadi satu, dan semua sudah terlalu terlambat sehingga Haibara hanya dapat memejamkan mata erat-erat sambil mencakar tubuh Shinichi yang terus memimpin mereka mencari kepuasan.
Yang Haibara sesali ketika gerakan mereka berhenti dengan tubuh masing-masing kaku, adalah ia lupa mengingatkan Shinichi. Saat pria itu jatuh di atasnya tanpa tenaga, Haibara bisa merasakan sesuatu yang basah mengalir di selangkangannya, sesuatu yang kemungkinan besar adalah sperma bercampur darahnya.
"Pervert little brat..." Ia memaki di tengah deraan napas keduanya yang memburu, lalu tak lama setelah itu disambung kekehan pelan Shinichi.
"Lihat, 'kan? Aku berhasil menghancurkannya." Katanya sambil memeluk Haibara dengan erat. "Kau tidak bisa lari lagi, Haibara."
Haibara memandang langit-langit dari bayangan matanya yang memburam, dan juga suara kekehan Shinichi yang diiringi napas beratnya sendiri. Tangannya yang yang masih mencakar kedua pundak Shinichi kini terangkat lagi, bergerak ragu-ragu membakap balik tubuh pria itu.
Tentu saja...
Tentu saja Haibara sudah tidak dapat lari karena Shinichi sudah membuatnya meneteskan darah. Dan ini mengingatkan Haibara pada saat Shinichi menyelamatkannya dari bus yang akan meledak di waktu lalu. Waktu itu Shinichi memberikan darahnya pada Haibara dan membuat Haibara tidak bisa lari lagi.
Shinichi Kudo memang memiliki cara tersendiri untuk memaksa Ai Haibara berhenti berlari. Dan itu selalu berhasil.
3.
