Jangan Dibuat Rumit.

Malam itu adalah malam yang menandakan akhir musim panas dimana gemercik hujan merayap tanpa pemberitahuan karena mendung sama gelapnya dengan langit malam, sementara, Shinichi Kudo memandang Ai Haibara yang berada di samping jendela, memunggunginya. Petir menyambar sesekali dan membuat ruang tamu profesor Agasa yang terang semakin benderang, menerangkan bagaimana wajah pemuda itu dilumuri kekecewaan.

Tidak bisa Shinichi lupa kalau malam itu adalah awal dari sebuah akhir. Malam itu Shinichi telah mengetahui alasan apa yang membuat Shiho Miyano ingin terlahir kembali sebagai Ai Haibara, dan itu adalah alasan yang sama yang membuat Shinichi begitu kecewa.

Selama hidupnya, Shinichi Kudo hanya dekat dengan dua wanita secara istimewa. Satu adalah Ran Mouri, teman masa kecilnya yang ia cintai karena kebiasaan, dan satu lagi adalah Ai Haibara yang baru-baru ini Shinichi sadari telah menjadi sebuah kebutuhan baginya. Sebagai seorang ilmuan yang jenius dan terbiasa dengan kasus kejahatan, Ai Haibara bagai kepingan puzzle terakhir yang bakal melengkapi hidup seorang detektif macam Shinichi Kudo. Namun ketika Shinichi telah sampai pada satu keputusan, wanita mantan organisasi hitam itu melepaskan diri dari cinta yang mengikat mereka.

Shinichi kecewa dengan keputusan Haibara yang bahkan tidak memberinya kesempatan untuk berjuang. Haibara telah memilih terlahir kembali untuk menjalani hidup sebagai gadis biasa, berharap jatuh cinta pada pemuda lain yang belum dimiliki siapa-siapa, menolak cinta Shinichi, dan menyuruh Shinichi melupakan semua yang pernah mereka lalui bersama.

Di malam itulah, Ai Haibara menjadi wanita pertama dan satu-satunya yang pernah menghancurkan hati Shinichi, sekaligus menjadi sosok yang paling Shinichi benci hingga hari ini.


"Aku mencintaimu..."

Pernyataan menyentuh romantisme itu diikuti dekapan dari belakang yang membuat Haibara tersentak dari konsentrasinya di depan komputer yang menyala serta gelas kopi setengah isi.

Sebenarnya wanita ini tidak perlu menengok untuk tahu bahwa Shinichi Kudo adalah pemilik suara, namun ia tetap melakukannya hanya untuk mendapati cengiran sang detektif. Cengiran itu terlihat sangat cerah mungkin karena sudah lama sejak terakhir kali Haibara melihatnya. Selama lima tahun ini Shinichi seperti kehilangan sosok periang. Meski sering tersenyum kesan bahagia itu tidak menghiasi wajah Shinichi, tetapi hari ini sosok itu telah kembali. Haibara sampai-sampai berhasil dibuat terpesona.

"Baka, jangan mengagetkanku."

Sejujurnya di dalam hati, Haibara merasa lega dan bahagia karena bisa melihat kebahagiaan di wajah orang yang ia cintai, tetapi kalimat culas itu lebih mudah meluncur menyempurnakan ekspresinya.

"Oi... Oi... seharusnya kau berkata kau juga mencintaiku."

Trade-mark ini, Haibara juga merasa bahagia bisa mendengarnya lagi, apalagi dengan wajah masam Shinichi dan nada kesal lelaki itu.

Akhirnya kau kembali Kudo-kun, pikirnya dalam hati.

"Biasakan dirimu dengan kenyataan bahwa selingkuhanmu ini bukan tipe wanita romantis, Kudo."

Haibara menyentak lengan di sekitar tubuhnya, lalu kembali memperhatikan layar komputer dan mengetik sesuatu.

"Kenapa kau masih memanggilku dengan Kudo?"

Pria muda itu mendengus kecil sebelum menyandarkan diri di bagian samping meja komputer.

"Dan, HEI! Apa-apaan bagian selingkuhan itu?" Ia memprotes sedikit terlambat dengan mata memincing pada wanita berwajah muda di depannya.

"Aku memanggilmu Kudo atau Baka sekalipun kau juga sudah tahu kalau aku mencintaimu, jadi apa masalahnya?" Balas Haibara tak acuh dengan jari-jari menari di atas keyboard lagi.

Shinichi yang mendengar hal itu sembari menatap wajah datar Haibara dari samping hanya bisa menghela napas pelan. Kedua tangannya disimpan ke dalam saku lalu kedua pundaknya terlihat turun. Mungkin memang Ai Haibara adalah sebuah misteri bernyawa yang tidak bakal bisa Shinichi pecahkan, dan itu juga yang membuat pemuda ini jatuh cinta semakin dalam.

Memikirkan ini, tiba-tiba sebuah senyum kecil membentuk bibir Shinichi. Kenyataannya misteri yang tidak bisa dipecahkan memang membuat seorang Kudo terus berhasrat untuk mengejarnya. Hubungan mereka terasa menggairahkan dengan Haibara yang seolah menarik-ulur situasi di antara mereka. Mungkin saja kalau Haibara bersikap romantis dan manis terhadapnya, seorang detektif macam Shinichi Kudo tidak akan merasa tertarik.

"Kau tahu, Haibara?"

Suara pemuda itu dikeluarkan bersamaan dengan tangannya yang bergerak, keluar dari saku lalu menarik kursi beroda yang diduduki Haibara untuk membuat wajah gadis itu berhadapan dengan wajahnya.

"Aku tidak bertujuan menjadikanmu sebagai selingkuhanku."

Tepat setelah Shinichi mengatupkan bibir, Haibara memincingkan mata.

"Apa yang ingin kau katakan?" Tanyanya.

Dan pertanyaannya seperti sebuah pemberitahuan bahwa ia telah membaca isi otak Shinichi. Ah, ini juga alasan yang membuat jantung Shinichi berdebar jika berhadapan dengan sang ilmuan muda. Ai Haibara entah bagaimana selalu bisa membaca isi otaknya.

"Aku menunggumu sampai kau siap menikah denganku." Ia menjawab dengan begitu mudah.

Namun bagi Haibara tentu itu bukan pekara mudah karena masalah langsung menjabar di dalam pemikirannya. Menikah dengan Shinichi bukan tujuannya meski telah memutuskan untuk tidak lagi melarikan diri. Haibara hanya ingin mengulur waktu sembari mencari jalan keluar yang tepat bagi mereka. Jalan keluar yang tidak perlu merusak kebahagiaan rumah tangga seseorang. Jalan keluar yang juga tidak perlu membuat Shinichi merasa sakit hati sehingga dapat menerima kepergian Haibara. Cukup Ai Haibara sendiri yang menjadi korban dalam kasus ini. Karena baginya, dirinya sendiri adalah pengorbanan terkecil di antara semua orang.

"Ngomong apa kau?"

Ia memutuskan tidak menanggapi ketimbang menanggapi dengan sesuatu yang bakal membuat Shinichi merasa emosi.

"Usiaku masih empat-belas tahun, kalau aku mau menikah itu mungkin sepuluh atau dua-puluh tahun lagi."

"Hei! Itu terlalu lama!" Sahut pemuda ini dengan segera.

Sementara Haibara kembali berekspresi tak acuh sambil memutar kursinya.

"Memang apa yang kau inginkan dengan menikah denganku?"

Ia melempar pertanyaan saat berhasil menghadap layar komputer, kemudian sebelum Shinichi mampu membalas, Haibara sengaja melanjutkan,

"Kau 'kan sudah berhasil memperkosaku kemarin."

"Kalau alasanku hanya ingin menidurimu, aku bisa menyeretmu ke ranjang kapan pun."

Haibara mendengar nada berbeda dari Shinichi sehingga meliriknya. Bukan perkara Menidurimu, melainkan kenyataan bahwa seorang Kudo jadi lebih cepat terbakar emosi. Sifatnya yang tenang dan berkepala dingin seperti telah hilang.

"Aku ingin memberimu kebahagiaan."

"Aku bahagia seperti ini."

"Dengan menjadi selingkuhan seorang detektif terkenal?"

"Kau yang bilang bukan aku."

Shinichi dan Haibara berakhir saling melirik tajam seolah memberi ancaman setelah sahut-menyahut itu. Keduanya belum merubah posisi, masih dengan Shinichi berdiri menyandar di depan meja komputer dan Haibara duduk di kursi.

Akhirnya Kudo pun menemui kegagalan dalam memprediksikan situasi. Ia datang kemarin dengan tujuan mengobati rasa rindu, namun yang didapatinya justru perdebatan baru. Jangka waktu lima tahun ternyata cukup kalau hanya untuk merubah dua orang. Dulu mereka bisa berbagi pikiran dengan tenang, jauh dibanding sekarang dimana obrolan mereka selalu berakhir dengan perdebatan.

"Apa sebenarnya kau bermasalah dengan status pernikahanku? Kalau memang itu masalahnya aku akan mengajukan perceraian hari ini juga."

Perkataan Shinichi yang berubah nada menjadi tenang justru menimbulkan gejolak besar di hati Haibara.

"Kudo-kun!"

Haibara bergumam tegas, lalu berdiri dari duduknya.

"Apa? Kau pikir aku tidak serius dengan perkataanku?"

Tidak. Tidak.

Haibara seolah lupa cara bicara dan menatap pria muda di depannya penuh penyangkalan. Bukan tidak percaya, wanita ini malah tahu betul seberapa besar keseriusan Shinichi. Keseriusan Shinichi membuat Haibara takut jika itu akan terlaksana dalam bentuk aksi suatu hari nanti.

"Aku hanya belum siap membicarakan hal terlalu jauh."

Ia kembali mengguman tegas sembari berusaha menetralisir kegelisahannya. Namun yang ia dapati berikutnya justru sebuah tawa sinis dari Shinichi diikuti perkataan pria itu yang bernada sama,

"Belum siap? Kau bahkan lebih tua dariku."

Dan beruntung Haibara tidak dalam tinggi emosi yang sama. Kali ini wanita 14 tahun itu memilih tidak menjawab dan mengambil satu helaan napas. Ia kembali duduk namun masih menatap lawan bicaranya. Haibara tahu harus menghentikan obrolan mereka sebelum terjadi hal buruk. Ia meraih mouse untuk menyimpan hasil pekerjaannya, lalu mematikan komputer sembari menatap kabur ke arah layar.

"Aku hanya ingin menjalani hidup tenang lebih lama. Menikah denganmu artinya aku akan menjadi bahan pembicaraan, dan itu merepotkan." Katanya.

Ia menengok Shinichi samar sambil mengabaikan gemelitik sakit di dalam dada.

"Kapan kau akan berhenti jadi pengecut?"

Sahutan ini berhasil membakar kesabaran Haibara. Gadis itu sampai-sampai mencengkram erat mouse di tangannya.

"Dan sejak kapan kau berubah menjadi begitu egois?"

Untuk ukuran seseorang yang menahan tensi, perkataan Haibara terluncur cukup tenang.

"Kita tidak tinggal di hutan, Kudo. Terlebih kau cukup terkenal." Ujarnya sembari menatap kosong.

Tangan Haibara melepaskan mouse dengan hati-hati sebelum memutar kursi sehingga pandangan mereka bertemu lagi. Ia telah menemukan bagaimana wajah pria yang ia cintai melunak.

Jujur, Shinichi juga mengerti, ia tidak sebodoh itu. Hanya saja rasa sakit yang dideritanya bertahun-tahun membuatnya tidak ingin perduli perasaan orang lain. Shinichi Kudo tidak terlatih menjadi seorang korban. Sejak lahir ia memiliki segalanya, berbanding terbalik dari Ai Haibara yang selalu kehilangan orang-orang yang dicintai. Jadi wajar saja jika mereka memiliki pendapat yang berbeda untuk menyelesaikan situasi ini.

"Kudo-kun, seperti ini saja dulu, jangan dibuat rumit." Suara Haibara meminta.

Butuh waktu sampai satu menit lebih sampai akhirnya lawan bicara Haibara mengangguk pelan seolah mengaku kalah. Namun justru hal itulah yang membuat Haibara dapat bernapas lega. Meski ia tahu bahwa Shinichi tidak akan menyerah untuk mewujudkan keinginannya, setidaknya Haibara mendapat waktu untuk menyusun rencana.

"Kau kemari tidak hanya untuk menyatakan perasaanmu atau bahkan hanya ingin mengajakku bertengkar, 'kan?"

Haibara melempar pertanyaan untuk mengalihkan perhatian secepat mungkin sebelum mereka kembali berdebat.

"Hm."

Pria itu sedikit kehilangan selera, namun tetap menanggapi dan masih ingin melanjutkan rencana yang ia bawa kemari.

"Aku akan keluar kota untuk beberapa hari dan berencana mengajakmu."

Haibara tersentak sekali lagi, dengan pelan. Namun ia bertahan untuk memendam komentarnya dalam hati karena lelah jika harus masuk lagi ke dalam pertengkaran. Gadis itu memutuskan menyilangkan kedua kaki menjadi satu tumpukan sembari mengulur waktu untuk mencari jawaban yang bisa dijadikan alasan untuk menolak.

"Aku seorang siswa SMP yang harus masuk sekolah kalau kau lupa."

Ia cukup puas dengan otaknya yang cemerlang sehingga berhasil menjadikan sekolahnya sebagai senjata.

"Maksudku hari minggu, dan kebetulan senin hari libur nasional."

Shinichi membalas tak acuh seraya membuang pandangan ke arah almanak di dinding, sementara Haibara berusaha keras untuk tidak mengumpat karena telah terjebak.

###

Hari minggu minggu ini datang lebih cepat ketimbang saat Haibara menantikannya untuk menyelesaikan beberapa penemuan baru. Bahkan sebenarnya (dengan bodoh) ia berharap akan ada keajaiban dimana kaisar Jepang tiba-tiba mengubah hari libur nasional ke hari selasa. Tapi tentu saja itu tidak pernah terjadi, karena kenyataannya ini sudah delapan jam sejak memasuki hari minggu dan Ai Haibara sudah berada di Okinawa bersama si detektif.

Untungnya laut Okinawa sangat indah dan memiliki kemisteriusan dari segi sains yang membangkitkan ketertarikan pribadi bagi Haibara. Setelah meletakkan barang-barangnya di kamar hotel yang bakal ia dan Shinichi tinggali untuk dua hari ke depan, wanita bertubuh remaja itu melangkah dengan kaki telanjang di atas pasir putih sambil menatap jauh ke lautan, ke arah hamparan birunya yang terlihat seperti menyatu dengan biru langit di ujung sana.

Haibara menarik napas perlahan selagi langkahnya semakin pelan dan akhirnya berhenti. Meski sudah sejak tujuh tahun lalu hidupnya tidak digentanyangi oleh organisasi hitam, tapi rasanya baru kali ini Ai Haibara merasakan kebebasan yang sebebas ini.

Bebas menikmati pemandangan indah alam tanpa mengkhawatirkan statusnya sebagai buronan.

Bebas berdiri sebagai dirinya sendiri tanpa perlu berpura-pura sebagai gadis berusia 14 tahun di depan orang.

Bebas membiarkan tangan Shinichi Kudo menggenggam tangannya tanpa harus mengkhawatirkan apapun.

Dan bebas berkata,

"Aku juga sangat mencintaimu, Kudo."

Mendengar hal itu, rasanya bibir Shinichi tidak tahan untuk tidak menyeringai. Satu tangan pria ini masuk ke saku, satunya lagi mengeratkan genggaman pada tangan Haibara. Shinichi Kudo sudah menduga bahwa kekasihnya memang membutuhkan suasana seperti ini setelah begitu banyak tekanan yang mereka lalui.

"Kau harusnya juga mengakui bahwa aku berhasil merubah takdir."

Ia melirik gadis di sampingnya selagi bicara, kemudian beralih ke belakangnya untuk memberi pelukkan tanpa melepaskan genggaman tangan mereka. Tapi yang pertama kali membalas ucapannya justru sebuah dengusan.

"Aku akui kau selalu berhasil memaksakan kehendakmu." Ia sedikit menggumam.

Karena bagi Haibara perubahan ini tidak benar-benar berhasil. Baginya, mereka hanya sedang menunda takdir.

"Oi... oi... jangan bilang kau masih!"

"Aku masih di sini, tantei-kun, masih di dalam pelukanmu... Jangan paranoid, kau akhir-akhir ini mudah sekali emosi."

Haibara menyela, lalu mengambil jeda sesaat untuk menunjukan seringaiannya.

"Kelihatan sekali kau frustasi karena terlalu lama memendam rasa cintamu padaku."

"Dasar!"

Pendengarnya langsung tidak tahan untuk tidak mendesis.

"Tidak bisakah kau berhenti mengatakan hal-hal yang menyebalkan?"

Alis Haibara naik sedikit. Ia melepaskan diri dari pelukan Shinichi agar dapat mempertemukan pandangan mereka, dan berkata,

"Bisa!"

Disusul senyum termanisnya dan satu kalimat yang sukses membuat Shinichi bergidik ngeri,

"Pacarku yang tampan, sayangku, setelah ini kita belanja, ya?"

"... Menjijikkan." Dengan spontan Shinichi melepas komentar.

"Nah." Haibara malah menyeringai puas.

Setelah Ai Haibara kembali memunggunginya satu menit setelahnya, Shinichi menarik senyuman sekaligus menarik Haibara ke dalam pelukannya lagi, dan membiarkan waktu berjalan dalam keheningan.

4.