Mimpi Dengan Mata Terbuka.

Ai Haibara terbangun lalu menemukan diri di dalam dekapan, dan ia merasa hangat dan aman.

Di suatu ketika wanita manta anggota organisasi hitam ini juga pernah bermimpi menjadi seorang istri, memiliki suami yang menjaganya sepanjang malam, lalu diesok pagi ia diminta membuatkan sarapan dan secangkir kopi. Tapi mimpi itu terlalu semu, sebuah mimpi indah yang juga menakutkan karena terasa tidak bakal terwujud selamanya. Sehingga Ai Haibara membiarkan mimpi-mimpi itu memudar dari keyakinannya.

Namun kali ini dengan matanya yang terbuka Ai Haibara menyentuh ujung mimpinya, merasakan lengan kekar Shinichi Kudo melingkari perutnya di balik selimut tebal yang membungkus tubuh telanjang mereka.

Dari sela gorden jendela Haibara bisa melihat malam hari belum berakhir, meski ia sendiri tidak yakin sekarang ini pukul berapa, namun ternyata memang seorang pria telah menemaninya semalaman, memberinya kehangatan, dan juga membuatnya merasa aman. Rasa-rasanya bibir Haibara berada di ambang senyum setelah menyadari ini semua adalah kenyataan.

Kemudian seraya memejamkan mata kembali, ia mengapit jari-jari Shinichi di dalam jari-jarinya sendiri.

Hanya malam ini, Ai Haibara memberanikan diri untuk bermimpi, membiarkan logikanya terhanyut ke dalam angan-angan sebagai istri Shinichi.

Benar-benar hanya untuk malam ini saja.


Ai Haibara terbangun lalu menemukan dunia sudah terang, dan ia harus menghadapi kenyataan.

Lengan Shinichi tidak memeluknya, malah dari sudut mata Haibara menemui sosok itu baru keluar dari kamar mandi. Mengherankan sekali detektif itu masih terlihat bugar setelah kegiatan malam mereka yang menguras tenaga. Haibara menguap lebar dengan tangan kanan menutup di depan mulut, berhenti memperhatikan Shinichi lalu menyadari sarapan serta dua gelas kopi yang masih berasap tersaji di satu set meja yang terletak di sudut ruangan.

Butuh tambahan waktu bagi Haibara untuk benar-benar memijak realita. Kemudian masih sambil menguap wanita bertubuh remaja itu mencari keberadaan baju-bajunya yang kemarin dilempar seorang pria mesum yang menelanjanginya.

"Apa kau akan lama?"

Haibara melempar pertanyaan sembari meraih kaos Shinichi yang tergeletak di lantai, memutuskan memakai itu saja karena toh ia hanya butuh menutupi tubuhnya untuk pergi ke kamar mandi.

Sementara Shinichi menghentikan gerakan, merentang tangan hendak memakai kemeja. Ia mengancingkannya dulu sambil melihat bayangan Haibara yang tertampil di cermin. Bayangan di cermin memperlihatkan Haibara yang sedang merapikan ranjang mereka, dan Shinichi jadi ingin menyeringai ketika ingat apa yang menyebabkan ranjang mereka berantakan.

"Apanya?" Ia bergumam pendek, lalu berbalik untuk mempertemukan pandangan.

"Kau akan pergi menangani kasus, 'kan?"

Haibara mendongak ke arah Shinichi, kemudian menunduk lagi, kali ini untuk meraih gelas kopi di atas meja.

"Ah..."

Eksklamasi kecil dari sosok lain itu membuat Haibara menunda keinginan menengguk kopi panas dan mendongak.

"Sebenarnya aku bohong soal itu." Tuntasnya.

Tak elak, pendengarnya memincing seketika. Haibara melempar pandangan mencela, sementara yang ditatap memamerkan seringai menyebalkan. Rupanya alasan tugas ke luar kota itu hanya kedok agar mereka bisa berlibur bersama. Harusnya Haibara sudah curiga semenjak kemarin Shinichi tidak lekas memulai pekerjaannya tapi malah mengajaknya jalan-jalan menikmati pantai Okinawa.

"Idiot."

Pada akhirnya ia hanya dapat mengumpat seperti itu sebelum menikmati kopinya.

"Kau akan sakit perut kalau minum kopi sebelum sarapan, Silly."

Shinichi memilih kembali memandang cermin dan melanjutkan ganti bajunya, sekaligus mengawasi gerak-gerik Haibara yang baru saja meletakan cangkir ke meja. Wanita itu berjalan menuju pintu kamar mandi sambil menguap, lalu membalasnya dengan suara malas-malasan,

"Kau benar-benar perhatian, Kudo-kun."

Ia mengambil jeda untuk menarik knop pintu.

"Sayangnya perutku sudah sakit karena ulahmu semalam." Lanjutnya sebelum menghilang ke dalam kamar mandi.

Yang Shinichi Kudo bisa lakukan selanjutnya hanya mengeleng pelan. Setelah menyelesaikan acara ganti bajunya, ia menikmati sarapan lebih dulu.

Beberapa menit kemudian Haibara baru keluar dari kamar mandi. Belum ada lagi percakapan di antara mereka membuat kamar itu sunyi, dan yang berinteraksi lebih banyak adalah matahari pagi bersama hembusan angin laut Okinawa di balik jendela.

"Kau jadi berbelanja?"

Shinichi bertanya sambil menggeser gelas kopi ke dekat Haibara ketika Haibara sudah mendudukan diri di sofa seberang meja.

"Tidak."

Gadis itu bergidik pelan seraya meraih cangkir kopi, menyesap isinya dan menaruhnya kembali lalu ganti mengambil roti isi.

"Aku tidak mau bertemu mayat di mall." Katanya, mengingat acara belanja mereka tertunda karena kasus pembunuhan yang tiba-tiba terjadi di pantai kemarin.

Sungguh, Shinichi Kudo pun tak tahu kenapa selalu dibuntuti kasus-kasus kriminal. Tapi seharusnya tidak separah itu juga sampai-sampai di mall pun bakal menemui hal yang sama.

"Jadi kau mau tinggal di kamar seharian?" Ia sedikit menyindir, juga mencibir.

"Begitulah..."

Dengan mengejutkan Ai Haibara membenarkan tebakan Shinichi. Wanita itu membuktikan omongannya melalui tindakan. Setelah menyelesaikan sarapan, ia membuka laci di bawah meja dan mengeluarkan sebuah majalah. Shinichi hanya dapat mengikuti gerak-gerik Haibara dari sudut mata, dan menemukan wanita itu berakhir duduk di tepi ranjang dengan punggung menyandar ke belakang. Sepertinya Haibara berencana menghabiskan hari dengan bersantai sambil membaca.

"Sungguh, Haibara?"

Pemilik marga Kudo itu sedikit sangsi dengan satu alis terangkat, sementara Haibara melempar tatapan malas sebelum membuka majalah di hadapannya.

"Karena aku pikir kau memang akan bekerja, jadi dari awal aku berencana bermalas-malasan hari ini."

Haibara membalas santai sambil membolak-balik halaman.

"Lagi pula belum ada barang yang ingin aku beli."

Sebuah dengusan kesal membalasnya, dari Shinichi. Kalau begini rasanya percuma saja mereka pergi jauh-jauh ke Okinawa. Tapi terlepas dari apa yang Haibara inginkan, Shinichi Kudo pun tidak memiliki rencana untuk mengisi waktu liburan mereka. Selama ini jika ia berlibur ke pantai, ia pasti berenang atau lebih banyak menangani kasus. Atau jika pergi bersama keluarganya, Shinichi dan Ichigo bermain-main di pantai. Dan berhubung ia dan Haibara sudah melakukan semua itu kemarin, rasanya bersantai-santai di atas ranjang adalah ide yang bagus.

Shinichi Kudo bangkit dari duduk dan membawa serta cangkir kopinya yang masih setengah isi. Diletakannya cangkir kopi itu ke meja di sebelah ranjang, sementara dirinya merangkak naik ke kasur dengan mengaibakan tatapan bertanya dari Haibara. Pria muda itu membaringkan kepalanya di paha Haibara dan menatap sepasang mata yang memincing ke arahnya.

Jika mengingat tahun-tahun yang berlalu itu, rasanya sedikit lucu karena Shinichi Kudo pernah mengatakan bahwa tatapan Ai Haibara terlihat jahat , namun sekarang justru mendapati diri mengagumi tatapan itu.

"Keberatan kalau kau menjelaskan apa lagi hal bodoh yang ada di dalam otakmu?"

Haibara melipat majalahnya, lalu mengapitnya dengan kedua lengan terlipat di dada.

"Aku pikir kau bisa membaca pikiranku?"

Bukan sebuah pertanyaan, Shinichi melempar pernyataan iseng masih sambil mengagumi mata biru di depannya. Biru itu bukan karena warnanya, tapi biru itu seperti biru lautan yang menggambarkan kedalaman. Dan ia jadi merasa masih ada banyak rahasia tersimpan di sana.

"Omongan bodoh macam apa lagi itu?"

Haibara mengalihkan pandangan seraya menggeleng pelan, sengaja menghindari mata biru yang terus menatapnya. Karena biru mata Shinichi seperti birunya langit tak berawan, birunya menggambarkan ketinggian. Haibara takut menggantungkan harapan di sana.

Kemudian Shinichi Kudo memutuskan memutus pertemuan pandangan mereka dengan menghadap ke internit ruang. Ia perlahan-lahan memejamkan mata dan membiarkan senyuman membentuk bibirnya.

"Aku ingin bermalas-malasan juga." Katanya sambil menyamankan kepala di paha Haibara.

"Dan aku bukan bantal, Kudo-kun."

"Bantal itu terlalu mainstream, Haibara, kreatiflah sedikit..."

Hanya satu hembusan napas setelahnya, Haibara mendesah pelan dengan tampang tak habis pikir. Namun setelah itu ia juga tidak berusaha menyingkirkan Shinichi. Justru beberapa menit kemudian ia kembali menyandarkan punggung ke belakang.

Akui saja hubungan mereka berjalan membosankan bagi pasangan pada umumnya. Mereka nyaris melakukan segala hal sendiri kecuali bagian bercinta yang setara pasangan suami-istri. Namun selalu ada hal-hal sederhana yang mengungkap rasa cinta mereka seperti ini, seperti Shinichi yang tadi menyisihkan ham dari dalam roti isinya untuk diselipkan ke roti isi Haibara, atau, seperti halnya sekarang Haibara mempergunakan majalahnya untuk menghalau terik sinar matahari yang menyilaukan tidur Shinichi.

Mereka memang contoh pasangan paling tidak mesra di dunia, namun mereka memahami kebutuhan satu sama lain tanpa harus menggunakan kata-kata.

###

Ai Haibara dan Shinichi Kudo terbangun bersamaan lalu menemui suara dering ponsel memanggil.

Dengan sedikit enggan Shinichi melepaskan dekapannya dari tubuh Haibara, kemudian masih dalam keadaan setengah sadar meraih ponselnya dari atas meja. Setelah menemui nama seorang wanita di bagian pemanggil, lelaki ini justru menolak panggilan tersebut lalu kembali menyelipkan kedua lengannya di sekitar pinggang Haibara dan berencana melanjutkan tidur siangnya. Namun tentu saja rencananya tidak pernah terjadi karena ia merasa sesuatu memaksa kelopaknya terbuka. Sesuatu itu ternyata tak lain adalah jari-jari Haibara.

"Naze...?"

Ia bergumam pelan, menatap Haibara yang mendudukan diri di sebelahnya, lalu terlentang.

"Siapa?"

Haibara sebenarnya cukup bisa menebak siapa yang barusan menelpon Shinichi, tapi ia hanya ingin melihat reaksi pria itu sehingga bisa yakin akan dugaannya.

"Nomer tidak di kenal."

Jawabnya sambil melipat satu tangan ke belakang kepala dan menguap lebar.

"Aku bisa membaca pikiranmu, Kudo-kun."

Pemilik marga Kudo ini langsung menyeringai dan meraih tubuh Haibara sehingga wanita itu jatuh ke pelukannya.

"Oh ya?"

Ia bertanya saat Haibara mendongak wajahnya.

"Kalau begitu katakan padaku dari angka satu sampai seratus angka mana yang aku pikirkan?"

Butuh waktu beberapa lama bagi Haibara untuk memalingkan muka dari mata Shinichi dan membalas seperti ini,

"Idiot!"

"Silly!"

Shinichi Kudo terkekeh ketika Haibara bangun dari dekapannya tanpa lupa memberinya pukulan pelan.

Sang detektif menguap lagi seraya melirik arlojinya yang menunjukan ini sudah cukup siang, selagi itu Haibara turun dari ranjang untuk membuka jendela kamar. Angin laut yang berhembus lurus ke arah Shinichi membuat pemuda itu merasakan sejuk dan nyaman, sekaligus membuatnya menatap ke arah jendela lalu melihat sosok Haibara begitu indah dengan hembusan angin dan cahaya matahari menerpanya.

"Kau sangat cantik."

Haibara menengok pemilik suara, seketika.

"Heh? Apa rayuanmu itu akan berujung dengan ajakan bercinta, Tantei-kun?" Ia sedikit menyeringai.

"Sebenarnya tidak," Tanggapnya terdengar malas-malasan. "Tapi kalau kau menginginkannya aku siap kapan saja."

Shinichi melanjutkan sembari turun dari ranjang. Kemudian pria muda itu meraih telpon hotel dan menekan beberapa angka di sana, menenempelkan ponselnya ke telinga kanan sambil berjalan menuju kamar mandi. Haibara dapat mendengar samar-samar suara Shinichi sedang memesan makan siang, yang membuat wanita ini menggeleng pelan dari posisinya.

Sepertinya Shinichi Kudo benar-benar mengikuti rencana Ai Haibara yang ingin bersantai-santai di kamar seharian.

Ah, si Idiot itu...

###

Ai Haibara terbangun untuk ke empat kalinya dalam satu hari ini lalu menemui langit terlihat gamang disentuh cahaya senja.

Wanita itu tertegun beberapa lama selama menatap punggung Shinichi yang duduk bersila tepat di ranjang bagian sebelahnya. Shinichi Kudo sedang menonton pertandingan sepak bola, memasang tampang antusias dengan tangan mengepal-ngepal gemas seolah ingin ikut berlari di dalam pertandingan yang sedang disiarkan secara langsung di televisi. Lalu pemuda itu berjengit sedikit sambil megumpat pelan.

Secara perlahan Ai Haibara mendudukan diri dan ikut menonton televisi, sementara Shinichi baru saja menyadari bahwa wanita itu sudah terbangun. Namun tetap saja tidak ada obrolan di antara mereka karena pertandingan sepak bola yang sedang berlangsung sangat seru bagi keduanya. Beberapa kali terdengar seruan senang atau desisan kecewa dari Shinichi, sedangkan Haibara hanya mengelampiaskan perasaan melalui ekspresi yang beganti-ganti.

Setelah 90 menit berlalu dan pertandingan yang mendebarkan itu berakhir, Shinichi melompat turun dari ranjang untuk merayakan kemenangan tim yang ia idolakan. Haibara hanya menyeringai kecil dari atas ranjang menyaksikan tingkah Shinichi. Ini seolah membuktikan bahwa Shinichi Kudo benar-benar telah kembali menjadi diri sendiri.

"Haibara! Ayo kita makan di luar untuk merayakannya!"

Dengan antusias pria muda itu menatapnya, dan suara ajakannya pun menggambarkan hal yang sama.

"Ne..." Jawab Haibara santai masih menahan tawa geli. "Tapi kau harus membawaku ke restoran mewah, Kudo." Lanjutnya sebelum turun dari ranjang.

Meski ada sedikit gerutuan dari Shinichi setelah mendengar perkataan Haibara, namun pria muda itu tidak pernah menyatakan penolakan. Dengan malas-malasan justru Shinichi menyanggupi, membuat Haibara terkikik senang saat melangkah ke kamar mandi.

5.